Author Note :Pada bab ini, akan muncul krisis terbesar yang akan mengawali klimaks cerita, menulis bab ini dan beberapa bab yang akan datang adalah hal yang sulit, karena akan lebih banyak tentang menggambarkan perasaan baekhyun terhadap chanyeol dan meraba-raba perasaan chanyeol padanya. Bab yang menggambarkan hubungan fisik sangatlah mudah ditulis tapi untuk menggambarkan perasaan dan pergolakan hati membutuhkan beberapa kali tulis-hapus karena saya khawatir pembaca tidak akan bisa merasakan perasaan baekhyun di sini. bab ini sangat panjang karena sebenarnya adalah gabungan dari dua bab yang dijadikan satu.

Saya sangat senang membaca review dari pembaca, terima kasih banyak untuk semangat dan saran yang teman-teman beri. :)

untuk yang mudik mohon hati-hati di jalan.

PERINGATAN : dimulai di bab ini chanyeol dan baekhyun akan menjadi sangat basah dan panas. Semua hal ini bisa saja membatalkan orang yang sedang puasa, jadi harap pembaca membaca ff nya sebelum imsak saja. Tangan ini gatal ingin publish lebih awal bareng sama maljum. haha.

selamat membaca :)

THE EXCEPTION

.

..

...

chanbaek

...

..

.

Bab IV : The Light and Nightmare

-the exception-

Park Yoora, umurnya empat tahun lebih tua dari Park Chanyeol, wajah, caranya bersikap, dan kepribadiannya adalah versi perempuan dengan sedikit lebih ramah serta lebih lembut dari Park Chanyeol. Baekhyun yang awalnya takut dan sedikit terkesima tentang keberanian dan betapa kasarnya Park Yoora menghadapi chanyeol sekarang hanya terpesona pada pribadi seorang Park Yoora. Perempuan itu sangat baik dan baekhyun bahkan sekarang berteman dekat dengan kakak iparnya itu.

Setelah pagi senin dramatis yang dialami baekhyun dan chanyeol karena kedatangan park yoora, baekhyun melihat sebanyak apa chanyeol dan yoora saling menyayangi. Setelah tamparan, teriakan, umpatan, dan luapan kemarahannya, park yoora meledak pada tangis karena merasa kecewa pada chanyeol. Chanyeol saat itu tetap tenang dan hanya memeluk park yoora dan membisikkan kata-kata maaf. Baekhyun melihat kehangatan dan rasa bersalah di raut chanyeol walau itu sangat sulit untuk dilihat, namun baekhyun tahu kalau Chanyeol sangat perduli pada kakak perempuannya.

Baekhyun merasa sangat iri pada chanyeol karena Park Yoora adalah seorang kakak perempuan yang sangat baik. Hubungan baekhyun dan kakak laki-lakinya dipisahkan oleh sebuah dinding tebal yang tinggi, jadi Baekhyun tidak benar-benar merasa memiliki seorang kakak. Namun sekarang baekhyun sangat bahagia saat Park Yoora meminta baekhyun untuk memanggilnya noona. Park Yoora bahkan mengatakan kalau ia adalah orang pertama yang ada di belakang baekhyun jika Chanyeol sampai menyakitinya.

"Hanya kumohon bahagiakan Chanyeol, dia memang anak yang menyebalkan, aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Dia pasti sangat menyukaimu tapi aku juga tahu kalau kamu orang yang baik baekhyun, Chanyeol sudah melalui banyak hal buruk, dia dan kamu juga pantas bahagia. " Park Yoora mengatakan itu pada Baekhyun dengan sangat tulus dan terkesan sedih.

"Kami sedang mengusahakan itu noona, noona tidak perlu khawatir, mungkin saya tidak bisa membuatnya bahagia, setidaknya saya tidak akan membuatnya merasa sedih. ", Baekhyun bersungguh-sungguh.

"Terima kasih baekhyun", kelegaan terdengar jelas dalam setiap kata yang dia ucapkan.

"Boleh aku bertanya tentang Tuan dan Nyonya Park? Chanyeol tidak suka membicarakan tentang mereka sedang ini sangat aneh, aku bahkan sangat merasa tidak enak karena belum pernah bertemu keluarga Park. " Baekhyun memberanikan dirinya bertanya pada Park Yoora, namun Baekhyun merasa bersalah dan takut pada ekspresi wajah Park Yoora, mengingatkannya pada ekspresi Chanyeol saat ia membawa topik yang sama. Wajahnya mengeras, matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak baekhyun tahu, sesuatu, kemarahan, kekecewaan, kebencian, atau kebencian, Baekhyun sama sekali tidak tahu. Namun Park Yoora segera mengendalikan ekspresinya dan berusaha tersenyum walau senyum itu tidak sampai pada matanya.

"Maafkan aku Baekhyun, jika Chanyeol tidak mengatakan padamu tentang orang tua kami, berati bukanlah hakku untuk memberi tahumu. Kamu hanya perlu tahu kalau hubungan kami dengan orang tua kami sangat buruk, kamu pasti tahu kalau hubungan buruk orang tua anak di kalangan kita adalah hal yang biasa kan. Kamu tidak perlu khawatir kalau kamu belum bertemu atau saat Chanyeol menghalangi kamu untuk bertemu mereka. " Park Yoora meraih tangan baekhyun dan menggenggamnya lembut sambil mempertahankan senyumnya.

Baekhyun yang mendengar jawaban Park Yoora membenarkan dugaan hubungan buruk Chanyeol dengan keluarganya. Sangat jelas kenapa bahkan pernikahannya tidak dihadiri oleh satupun keluarga Park. Tapi tidak ada alasan Chanyeol untuk tidak memberitahu kakaknya, karena hubungan mereka yang sangatlah dekat. Baekhyun akan mengingatkan dirinya untuk memarahi Chanyeol tentang kedatangan Park Yoora pada pernikahannya. Memikirkan itu hati baekhyun menghangat, ini benar-benar seperti sebuah keluarga. Baekhyun merasakan sebuah kepedulian tumbuh untuk chanyeol.

"Bagaimana dengan masa kecil dan remaja Chanyeol? Seorang anak yang seperti apakah dia noona?", baekhyun tersenyum dengan ide memikirkan chanyeol kecil, anak kecil bermata besar coklat tua dengan rambut hitam legam yang suka memberontak dan berlarian.

"Dia anak yang sangat baik, dia anak yang sangat sangat baik, tapi bukankah masa lalu tidak penting baekhyun, bukankah kita hanya harus melihat ke depan dan menerima apa yang sudah kita miliki? "

-the exception-

Baekhyun harus lagi-lagi mengerjakan pekerjaannya dari rumah karena kedatang Park Yoora senin itu, baekhyun kadang berpikir kalau dia bekerja sekeras chanyeol yang sering tak pernah pulang ke rumah, perusahaan merk fashionnya pasti akan lebih berkembang dari ini. Tapi senin itu Chanyeol juga hanya pergi selama tiga jam menghadiri rapat di kantornya dan sudah berada di rumah lagi saat tengah hari. Pembicaraan empat mata antara Park Yoora dan Baekhyun selama tiga jam itu menghasilkan sebuah ide tentang sebuah pesta resepsi pada Park Yoora yang sama sekali tidak bisa ditolak oleh baekhyun dan chanyeol sebera keraspun mereka menolak. Baekhyun hanya mendengus berkali-kali, tapi entah mengapa dia tak benar-benar membenci ide itu. Dia suka pada ide memberitahu dunia kalau dia dan park chanyeol sudah menikah. Dia suka ide semua orang tahu kalau park chanyeol adalah miliknya.

Pesta resepsi itu akan diadakan hari minggu akhir minggu ini. Park Yoora dengan senyum yang sangat lebar, sukarela mengurus semuanya. Baekhyun yang melihat senyuman lebar Park Yoora malah membayangkan bagaimana jika Park Chanyeol lah yang tersenyum seperti itu, baekhyun rasa Chanyeol tidak pernah tersenyum selebar itu, bahkan dia tidak pernah melihat Chanyeol tertawa, ada sesuatu tentang itu yang membuat hati Baekhyun berdenyut sakit.

Baekhyun terkesima pada kecepatan persiapan seorang Park Yoora, sepertinya perempuan itu memiliki bakat sebagai Event Organizer. Ada seribu undangan yang akan disebar, daftarnya kebanyakan adalah kolega bisnis perusahaan Chanyeol. Baekhyun hanya meminta beberapa undangan untuk sedikit orang yang ia ingin undang. Pastinya ayah, ibu, baekbom dan kyungsoo yang akan sepaket dengan tunangannya, beberapa desainer yang bekerja padanya, beberapa penanam modal, dia juga ingin mengundang beberapa temannya yang kebanyakkan adalah pemilik usaha kecil, dan pegawai biasa tapi baekhyun tidak boleh melakukan itu karena orang-orang itu pasti merasa sangat tidak nyaman pada jenis pesta seperti ini. Pesta itu nantinya akan dipenuhi dengan warna merah tua seperti darah sebagaimana desain undangan. Baekhyun sedikit tersenyum saat tahu kalau Chanyeol juga tak membenci pesta ini.

Baekhyun akan berusaha, resepsi pernikahan mereka akan menjadi pengaruh yang besar, perwujudan komitmen dimana setiap orang akan dijadikan saksi. Dan baekhyun juga senang karena setelan dari salah satu hasil desainnya akan dijadikan setelan utama oleh mereka. Ini pemasaran yang luar biasa baik untuk bisnisnya.

Park Yoora meninggalkan rumah Chanyeol pukul sebelas malam setelah memaksa baekhyun dan chanyeol memilih hal-hal tentang resepsi pernikahannya. Baekhyun terkesan pada pilihan Chanyeol bahkan di saat Chanyeol melakukannya setengah hati. Semua euforia batin yang dialami Baekhyun memang tidak separah euforia saat pernikahan mendadaknya dulu tapi semuanya benar-benar menguras tenaga baekhyun sehingga dia jatuh tertidur saat melihat ranjangnya, bahkan baekhyun tidak perduli kalau belum makan malam atau mengucapkan selamat malam pada chanyeol.

-the exception-

Baekhyun bangun dengan rasa tidak nyaman pada selangkangannya. Sialan, dia mimpi basah lagi. Baekhyun merasa kalau dirinya harus memeriksakan diri pada dokter karena hal ini terjadi setiap hari setiap kali menghabiskan beberapa waktu dengan chanyeol. Sejak chanyeol datang pada hidupnya. Baekhyun sempat berfikir bagaimanakah hidupnya jika saat itu chanyeol juga menolak untuk datang di pesta debutannya, siapakah lelaki yang lamarannya akan diterima oleh ayah baekhyun, apakah perasaannya pada chanyeol saat ini juga akan sama pada orang itu, tapi baekhyun tidak mau memikirkan itu. Baekhyun melihat chanyeol meringkuk di kursi tidur, berjalan berjinjit ke kamar mandi.

Baekhyun melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya merah padam, matanya dipenuhi oleh kilatan nafsu, dan kejantanannya sudah tegang meminta untuk dibebaskan. Bahkan hanya dengan melihat atau berada disekitar chanyeol membuat dirinya dipenuhi gairah, baekhyun merasa dirinya akan segera mati jika apapun hal yang terjadi pada dirinya saat ini tidak segera berhenti. Membuka baju tidurnya, baekhyun melangkah ke bawah pancuran di kamar mandi.

Air menyala, baekhyun memejamkan matanya membayangkan sosok Park Chanyeol berdiri di depannya, mencium leher, dada, perut, pusar, dan terus kebawah. Tubuh baekhyun menggeliat dan tangannya ia bawa ke kejantanannya, memainkan itu sembari membayangkan kalau tangan park chanyeol lah yang menyentuhnya. Dia memakai sabun milik chanyeol agar melengkapi fantasinya dengan bau nikmat yang biasa melekat di tubuh chanyeol. Kejantanan baekhyun menegak, keras, baekhyun mengurutnya, menjalankan tangannya naik turun, menggenggam, menikmati kenikmatan atas fantasinya. Membayangkan seorang park chanyeol berlutu di depannya, mengarahkan mulutnya ke kejantanan baekhyun lalu menjilatnya.

"oh tuhan, chanyeol.", baekhyun melenguh dan mendesah dengan keras. Saat itulah dia membuka matanya dan melihat seorang chanyeol berdiri membeku di depan pintu kamar mandi yang terbuka dengan ekspresi wajah sama terkejutnya dengan baekhyun. Sial, baekhyun lupa mengunci pintu kamar mandi.

-the exception-

Rasa terkejut baekhyun segera berubah menjadi rasa malu. Baekhyun mengalihkan matanya dari Chanyeol karena tak berani melihat reaksinya. Kejantanannya masih keras, wajahnya semakin merah, tubuhnya basah, rambutnya lepek karena air, air dari pancuran masih mengalir, dan baekhyun berdiri seperti sebuah patung yang sangat jelek. Emosinya bercampur, ia malu pada dirinya sendiri, merasa frustasi secara seksual, dan marah pada chanyeol, marah karena chanyeol harus melihatnya dalam keadaan seperti ini, meledaklah semua emosi baekhyun, merosot duduk memeluk kakinya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, baekhyun menangis tersedu-sedu. Saat itulah ia merasakan Chanyeol mematikan air lalu menyejajarkan diri dengan baekhyun lalu membawa baekhyun ke dalam pelukannya. Hanya terdengar suara tangisan baekhyun, Chanyeol hanya diam namun tetap memeluk tubuh telanjang baekhyun yang basah, mengabaikan pakaiannya yang sekarang basah karena air dan air mata baekhyun.

"Kenapa kamu menangis baby," Chanyeol membuka suara saat tangisan baekhyun sedikit mereda, menjalankan jari-jarinya di pipi baekhyun. Baekhyun tidak bisa menemukan kata-kata di kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Lihat aku baekhyun, jangan menghindari mataku, katakan padaku. " Chanyeol berkata-kata sangat lembut. Dan mengangkat dagu baekhyun agar mau melihatnya.

"Aku sangat malu, marah dan kacau. Aku... Aku.. ", baekhyun tersedak tangisnya.

"Tidak apa-apa, Apa kamu malu aku melihatmu menyentuh dirimu sendiri? ", Baekhyun mengangguk.

"Kamu tidak melakukan kesalahan. Itu normal untuk laki-laki melakukan itu sayang. Apa kamu juga marah karena aku masuk ke kamar mandi? Maafkan aku, kukira tadi kamar mandinya kosong karena tidak terkunci. ", mendengar kalimat itu dari chanyeol seakan menyulut kemarahan baekhyun.

Chanyeol bersikap seakan ia tidak mendengar namanya disebut baekhyun saat ia menyentuh dirinya sendiri. Chanyeol tidak ingin membuatnya semakin malu. Tapi ia malah meminta maaf karena ketololan baekhyun sendiri karena lupa mengunci pintu kamar mandi. Melihat dirinya telanjang, terangsang membayangkan chanyeol sedang chanyeol seakan tidak terpengaruh pada kehadirannya. Mungkin tubuhnya tidak sebagus milik chanyeol, mungkin chanyeol pernah melihat banyak tubuh telanjang yang lebih baik dari miliknya.

"Aku marah padamu! Semua ini karena kamu! Setiap aku ada didekatmu aku menjadi terangsang seperti kucing liar di musim kawin! Aku sekarat menginginkan sentuhanmu dan hampir mati karena menahannya. Aku marah karena seberapa besarpun aku menginginkanmu kamu tidak merasakan hal yang sama padaku, semua gairah sialan ini.. ", baekhyun menjauhkan dirinya dari chanyeol dan ingin meninggalkan kamar mandi tanpa berani melihat reaksi chanyeol.

Hanya dua langkah yang baekhyun ambil saat tangan chanyeol mencengkeram tangannya kuat lalu menarik dan menghimpit tubuh baekhyun ke keramik hitam dinding kamar mandi. Mata Chanyeol terbuka lebar, tangannya tiba tiba dirambut baekhyun dan bibirnya ada di bibir baekhyun. Baekhyun tidak tahu bagaimana untuk bereaksi. Bibir Chanyeol lembut tapi menuntut saat ia menjilat dan menggigit bibir bawah baekhyun. Lalu ia menarik bibir atasku kemulutnya dan menghisapnya lembut.

"Aku sudah lama ingin mencicipi bibir merah muda yang manis ini sejak lama. " gumamnya sebelum menggelincirkan lidahnya kedalam mulut baekhyun.

Saat Baekhyun tersentak mendengar kata katanya. Chanyeol terasa seperti mint dan sesuatu yang kaya. Lutut baekhyun lemas dan mengulurkan tangan meraih bahu Chanyeol untuk tetap berdiri. Kemudian lidahnya membelai baekhyun seakan meminta baekhyun untuk bergabung dengannya. Baekhyun melakukan usapan kecil dimulut Chanyeol dan kemudian menggigit lembut bibir bawahnya. Sebuah erangan kecil keluar dari tenggorokannya. Tangan Chanyeol sudah berada di mana-mana di tubuh Baekhyun, erangan, decakan, hasrat.

"Manis, dirimu terlalu manis baekhyun." Chanyeol melepaskan ciumam mereka sejenak lalu membawa bibirnya ke perpotongan leher baekhyun, mencium seluruh tubuh baekhyun. Ini sejuta kali lebih menggetarkan daripada fantasi baekhyun.

"Tidakkah kau rasakan seberapa kerasnya milikku untukmu baekhyun? Bisakah kau merasakannya? " Chanyeol menggenggam tangan baekhyun menangkupkannya pada tonjolan besar di antara kakinya, celana piyama yang chanyeol pakai tidak bisa menyembunyikannya dan baekhyun bisa merasakan kejantanan chanyeol sekeras batu, membuat kejantannya sendiri berdiri dan lubangnya berkedut.

"Oh, lihat benda kecil nakal ini juga keras untukku. Kurasa aku tidak akan bisa mengendalikan diri. Jika aku tidak ini adalah saat pertamamu aku akan memasukimu saat ini keras dan kasar. " chanyeol menangkup kejantanan baekhyun dan meremasnya, lalu menggoda dengan membelai puncaknya dan memainkan itu membuat baekhyun harus menutup matanya sejenak agar tidak pingsan karena banyaknya kenikmatan yang ia rasakan.

Perpaduan tangan dan mulut chanyeol yang menyentuhnya membuat baekhyun menangis karena nikmat. Semua ini benar-benar sangat intens hingga baekhyun tidak lagi bisa menggunakan otaknya.

"Kamu salah jika berkata kamu menginginkanku tapi aku tidak menginginkanmu, setelah ini aku akan meyetubuhimu dan mendengar teriakanmu meminta lebih sampai kamu tidak bisa meminta lagi. " ancaman Chanyeol membuat Baekhyun waspada namun anehnya membuat Baekhyun semakin larut dalam gairah.

"Santai. Aku hanya ingin melihat betapa manis nya di ujung tubuhmu," ucap Chanyeol parau. baekhyun mencoba mengangguk tapi ia tidak bisa mengingat apapun selain bernafas. Baekhyun menatap mata milik Chanyeol yang terlihat seperti sinar yang berkabut.

"Oh, Chanyeol, kumohon, aku butuh, aku butuh.." Mendesah, Baekhyun tahu dia butuh pelepasan. Chanyeol membungkam baekhyun dengan ciuman lagi, tangannya tidak berhenti bergerak di kejantanan baekhyun dan mata baekhyun berputar.

"Itu dia. Datanglah untukku, Baekhyun yang manis. Datanglah di tangan ku dan aku ingin merasakannya. Aku ingin melihatmu klimaks." Kata-katanya membuat baekhyun terasa berputar di tepi tebing yang berusaha keras untuk ia capai.

"CHAANNYEOOLL!! " Baekhyun mendengar teriakan keras dari suaranya sendiri saat ia sepenuhnya tenggelam dalam kenikmatan. Baekhyun tahu ia menangis untuk Chanyeol, meneriakkan namanya bahkan mencakarnya tapi Baekhyun benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia benar-benar meledak si tangan Chanyeol. Ia jatuh ke dalam pelukan Chanyeol, sama sekali tidak bisa merasakan kakinya. Kegembiraan ini luar biasa.

"Ahhhh, yeah. Itu dia. Sialan. Kamu sangat cantik." Baekhyun mendengar kata-kata Chanyeol tapi rasa nya begitu jauh.

Baekhyun merasakan dirinya terangkat dan memaksa matanya untuk terbuka, jadi ia bisa melihat apa Chanyeol mengangkatnya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Baekhyun berantakan dalam orgasme dan Chanyeol masih mengenakan pakaian lengkap.

Chanyeol merebahkan tubuh Baekhyun di ranjang. Seprei putih dari satin itu menggesek halus kulit baekhyun. Baekhyun melihat Chanyeol yang juga menatapnya dengan jari di dalam mulut chanyeol. Butuh beberapa saat untuk untuk mengerti persis kenapa Chanyeol menjilati jari-jarinya. Baekhyun terkesiap setelah menyadarinya, membuat Chanyeol tertawa saat dia menarik keluar jari-jari itu dari dalam mulutnya lalu tersenyum.

"Memang benar. Kamu terasa manis di dalam sama seperti bagian tubuhmu yang lain."

Mungkin jika baekhyun tidak klimaks, ia tidak akan memerah malu seperti sekarang ini. Dari semua hal yang bisa ia lakukan, baekhyun hanya bisa menutup mata erat-erat. Suara tawa Chanyeol terdengar kencang. "Ayolah, Baekhyun yang manis. Kau baru saja klimaks dengan cara yang liar dan seksi di tangan ku dan bahkan meninggalkan beberapa bukti cakaran di punggung ku. Jadi, jangan merasa malu padaku sekarang. Karena sayang, akan kupastikan selama satu kita tidak akan keluar dari kamar ini, dan kamu tidak membutuhkan pakaian apapun."

Tubuh Baekhyun segera bereaksi pada perkataan Chanyeol. Dia bisa merasakan wajahnya memanas, dia telanjang, terekspos di depan Chanyeol.

"Aku sangat butuh untuk tenggelam dalam tubuhmu Baekhyun, aku tidak akan sanggup menahannya lebih lagi. " pergi ke laci di sisi ranjang, Chanyeol mengeluarkan sebuah lube dan meletakkannya di atas laci.

Chanyeol menanggalkan pakaiannya dan Baekhyun menghembuskan nafas dengan keras saat melihat tubuh telanjang Chanyeol. Dan kejantanan Chanyeol yang terbebas sangatlah besar dan tegang. Baekhyun berpikir apakah pipinya bisa lebih memerah lagi.

"Kamu sangat indah Chanyeol," Baekhyun melihat tubuhnya yang kecil dan sama sekali tak istimewa dan merasa rendah.

"Kamulah hal paling indah yang pernah kulihat Baekhyun." Chanyeol menyusuri wajah Baekhyun dengan jari-jari besarnya lalu mempertemukan bibir mereka lagi. Baekhyun begitu panas hingga kulitnya sekarang sudah kering.

Saat ini Baekhyun punya ruang untuk menjelajahi Chanyeol. Ia menjalankan tangannya di sepanjang lengan Chanyeol dan tonjolan keras otot bisepnya.

Baekhyun menggerakkan tangannya dan ke dada Chanyeol lalu menjalarkan jari nya di sepanjang otot perut Chanyeol, dan menghela napas dengan nikmat pada setiap riak keras. Meluncurkan tangannya keatas, Baekhyun menyusurkan ibu jari pada otot dada Chanyeol yang keras dan merasakan putingnya menegang di bawah sentuhan Baekhyun. Astaga, ini sangat seksi.

Chanyeol menjulurkan lidahnya dan menjentikkannya pada salah satu puting Baekhyun Dia pindah dari satu ke yang lain dan melakukan hal yang sama sebelum dia merendahkan kepalanya dan menarik ke dalam mulutnya dengan satu tarikan keras.

Tubuh Baekhyun menempel pada Chanyeol dan dua benda keras di antara paha mereka saling menekan dengan keras. "Ah! ", Baekhyun berteriak menggesekkan kejantanannya pada kejantanan Chanyeol, menginginkan lebih.

"Kamu telanjang di ranjangku lebih cantik dari yang pernah aku bayangkan... dan percayalah aku telah memikirkannya. Berulang kali." Chanyeol tidak memberhentikan usapan lidahnya di leher dan dada baekhyun.

Dengan sedikit keras, Chanyeol tiba-tiba membalik tubuh Baekhyun lalu melakukan sesuatu yang masih baru menurut baekhyun.

"Oh tuhan, lihat pantat seksimu ini sayang, ini begitu indah, kita harus mempersiapkannya karena aku harus benar-benar tenggelam di sana. " Yang bisa dilakukan baekhyun hanyalah mendesah.

"Benar, mendesahlah dengan keras sayang.", Baekhyun merasakan Chanyeol menjilat dan menyelinap masuk di lubangnya.

Baekhyun meneriakkan nama Chanyeol dan mencengkeram kuat selimut untuk menjaga dirinya agar tetap berada di ranjang. Baekhyun merasa seperti bisa terbang tinggi melesat keluar dari jendela yang luar biasa besar.

"Tuhan, kau begitu manis," Chanyeol terengah saat dia merendahkan kepalanya untuk menyapukan lidahnya lagi pada lubang Baekhyun. Baekhyun pernah mendengar tentang ini sebelumnya tapi ia tidak pernah membayangkan rasa nya akan begitu nikmat.

"Chanyeol, kumohon," Baekhyun merintih. Chanyeol berhenti sejenak di atas tubuhnya. Kehangatan nafasnya membasuh denyutan yang dia ciptakan.

"Mohon apa, baby. Katakan padaku apa yang kau inginkan."

Baekhyun menggelengkan kepalanya erulang-ulang dan menutup rapat matanya. Ia tidak bisa mengatakan pada Chanyeol. Baekhyun tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.

"Aku ingin mendengar kamu mengatakannya Baekhyun." ujar Chanyeol dengan bisikan tertahan.

"Kumohon, jilat aku lagi," Baekhyun terbata-bata.

"Sial," Chanyeol mengumpat sebelum menjalankan lidahnya maju mundur pada lipatan pantat baekhyun.

Chanyeol berhenti menyiksa baekhyun untuk melumuri kejantanannya dengan cairan lubricant.

"Lube-nya sudah kupakai, Aku harus berada di dalam," Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun saat dia menarik kaki baekhyun agar terbuka dengan tangannya dan baekhyun merasa ujung dari batang kejantanan Chanyeol mememasukinya.

"Holy fuck, ini semua begitu basah. Akan sulit untuk tidak tergelincir masuk ke dalamnya. Aku akan mencoba untuk perlahan-lahan. Aku berjanji." Suara Chanyeol mengejang dan pembuluh darah di lehernya muncul ke permukaan kulit saat dia menekan lebih jauh ke dalam Baekhyun. Dorongannya meregangkan Baekhyun tapi rasanya begitu nikmat. Rasa nyeri yang Baekhyun bayangkan tidak ada. Baekhyun mengangkat tubuhnya membuka kaki lebih lebar dan Chanyeol menelan keras dan membeku.

"Jangan bergerak. Tolong baby, jangan bergerak," Chanyeol memohon, menahan dirinya agar tetap diam. Kemudian dia mendorong lebih jauh didalam keketatan Baekhyun sebelum rasa sakit menghantam. Baekhyun menegang dan begitu pula dengan Chanyeol.

"Itu dia. Aku akan melakukannya dengan cepat tapi kemudian aku akan berhenti saat aku sudah berada di dalam dan membiarkanmu agar terbiasa denganku."

Baekhyun mengangguk dan memejamkan matanya dan mengulurkan tangannya untuk memegang lengan Chanyeol.

Chanyeol menarik diri dan kemudian pinggangnya bergerak ke depan diiringi dengan satu hujaman yang kuat. Rasa ngilu yang panas mengiris Baekhyun dan baekhyun berteriak, mencengkeram lengan Chanyeol erat dan menahannya sementara gelombang rasa sakit melanda tubuh Baekhyun. Baekhyun bisa mendengar nafas kasar Chanyeol saat dia menahan dirinya. Chanyeol seperti sedang kesakitan.

"Oke. Aku oke," bisik Baekhyun saat rasa sakitnya mereda.

Chanyeol membuka matanya dan menatap Baelhyun. Matanya berkabut."Apa kamu yakin? Karena baby, aku sangat ingin bergerak."

Baekhyun mengangguk dan terus memegangi lengan Chanyeol saat rasa sakit kembali datang lagi ketika Chanyeol bergerak. Pinggang Chanyeol bergerak mundur dan rasanya seolah dia meninggalkan Baekhyun kemudian dia menghujam kedepan dengan perlahan dan mengisi Baekhyun lagi. Tidak ada rasa sakit kali ini. Baekhyun hanya merasa meregang dan penuh.

"Apakah itu sakit?" Tanya Chanyeil ketika dia menahan dirinya lagi.

"Tidak. Aku menyukainya," Baekhyun meyakinkan dia.

Chanyeol memundurkan pinggangnya lagi dan kemudian bergerak maju menyebabkan Baekhyun merintih nikmat. Rasanya nikmat. Lebih dari baik.

"Kau menyukainya?" Chanyeol ertanya dengan kekaguman.

"Ya. Rasanya begitu nikmat."

Chanyeol menutup mata nya dan menghempaskan kepalanya ke belakang dan mengeluarkan erangan saat dia mulai bergerak lebih cepat. Baekhyun bisa merasakan tubuhnya naik lebih tinggi lagi. Apakah itu mungkin? Bisa kah baekhyun mengalami orgasme dengan cara ini? Tapi penisnya sendiri menegak. Yang baekhyun tahu, ia ingin lebih. Baekhyun mengangkat pinggangnya untuk menyelaraskan hujaman Chanyeol dan itu sepertinya membuat Chanyeol hilang kendali.

"Yeah. Ya Tuhan, kamu menakjubkan. Begitu ketat. Baekhyun, kamu sangat ketat," sahut Chanyeol diantara engahannya saat dia bergerak di dalam baekhyun.

"Apakah kamu sudah dekat, baby?" Tanyanya dengan suara tertahan.

"Kupikir begitu," balas baekhyun merasa sesuatu terbangun didalam dirinya. Baekhyun belum sampai kesana. Rasa nyeri yang muncul di awal perlahan menghilang. Chanyeol menyelipkan tangannya diantara kami hingga ibu jarinya menggosok tepat pada denyutan Baekhyun.

"AH! Ya di sana," Baekhyun menjerit dan berpegangan pada Chanyeil saat gelombang memecahnya. Chanyeol mengeluarkan geraman dan menjadi kaku dan tetap diam kemudian dia memompa Baekhyun sekali lagi untuk terakhir kalinya.

-the exception-

The heart will open

-the exception-

Perkataan Chanyeol kalau Baekhyun hanya akan berada di dalam kamar seharian benar-benar bukanlah sebuah ancaman. Baekhyun masih makan tiga kali karena dia benar-benar dibuat lapar. Beberapa kali ia terlelap entah pingsan atau tidur, Baekhyun bahkan tidak tahu. Chanyeol memberi Baekhyun setidaknya sepuluh atau sebelas kali orgasme. Frustasi secara seksualnya sudah menghilang, dan dia merasa sangat kering hingga tidak akan ada mimpi yang akan membuatnya membasahi celananya. Chanyeol mematikan telepon genggamnya dan mengumumkan kepada seluruh pelayan di rumah jika tidak ada yang boleh mengetuk pintu kamarnya dengan alasan apapun bahkan kebakaran atau banjir bandang.

Baekhyun sempat terkejut saat melihat punggung Chanyeol yang dipenuhi bekas luka. Bekas luka itu menggambarkan seberapa dalam luka-luka itu. Ketika Baekhyun bertanya, raut wajah Chanyeol mengeras, kesakitan dan emosi yang tidak diketahui baekhyun, Baekhyun menebak kalau luka-luka itu pasti sangat sakit. Dan setelah diperhatikan dengan baik, di pipi kiri Chanyeol juga ada segaris, tipis, harus dilihat dengan teliti oleh Baekhyun untuk tahu kalau itu juga adalah sebuah bekas luka. Chanyeol memberi tahunya kalau luka itu sudah lama sekali jadi Baekhyun tidak perlu khawatir lalu membuat baekhyun berhenti berpikir dengan memulai satu ronde seks hebat lain.

Baekhyun berantakan dan lelah, ia bergelung di dalam selimut, tubuhnya masih telanjang di rabu pagi. Tapi lihatlah Chanyeol berdiri di depannya dengan setelan kerja segar, indah, dan kokoh.

"Aku bertanya-tanya kalau kamu seorang mesin, " Suara serak Baekhyun membuat Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun.

"Percayalah kalau sehari jauh dari cukup untukku, aku bisa menjadikan hari ini sebagai bagian kedua tapi aku punya perusahaan yang harus dijalankan, dan lubangmu yang nikmat itu butuh istirahat. Aku telah membentuk kamu dari seorang bayi polos menjadi lelaki dewasa yang liar di ranjang. Kamu harus tinggal di tempat tidur, aku sudah meminta jongdae si depan kamar, minta padanya apa saja yang kamu butuhkan, tapi berpakaianlah. " seringai Chanyeol sangatlah tidak senonoh namun baekhyun sama sekali tidak tersinggung karena dia sudah biasa dengan kata-kata kotor yang keluar dari mulut Chanyeol, tak terhitung sebanyak apa kemarin.

Pipi baekhyun memerah dan hatinya menghangat, baekhyun benar-benar jatuh semakin dalam pada pesona Chanyeol.

"Oh ya, aku akan meminta noona yoora untuk tidak datang lagi hari ini, tapi dia pasti akan menelpon, kata penjaga di depan kemarin dia seperti kesurupan karena kita berdua tidak menerima tamu. Aku akan mengatakan padanya kalau secara teknis kita masih pengantin baru. ". Chanyeol mengecup ringan bibir Baekhyun lalu pergi untuk bekerja.

-the exception-

Hari itu dihabiskan Baekhyun di atas ranjang, menerima telpon dari yoora, lalu baekhyun juga menelpon kyungsoo dan harus mendengar ocehan kyungsoo tentang kyungsoo yang mengira baekhyun telah dibunuh chanyeop karena tidak pernah menghubungi kyungsoo sejak ia menikah. Pikiran Baekhyun tetap dipenuhi oleh Chanyeol, bahkan baekhyun masih bisa merasakan tangan dan lidah Chanyeol menyentuh seluruh tubuhnya. Baekhyun tidak akan menceritakan kehidupan seksnya pada kyungsoo karena ia ingin menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Baekhyun juga menelpon ibunya dan menceritakan tentang resepsi pernikahannya di hari minggu. Ibunya lebih banyak diam dan Baekhyun tahu kalau tujuannya menelpon ibunya hanyalah sebuah basa-basi.

Walau sudah melakukan seks yang luar biasa, Baekhyun masih tidak mengenal seorang Park Chanyeol. Park Chanyeol masihlah laki-laki asing, tapi Baekhyun sudah melihat kebaikan dalam diri Chanyeol, ia sudah melihat kelembutan Chanyeol saat bercinta, melihat seorang pria dominan, melihat Chanyeol yang kuat, kasar, namun tidak ingin menyakitinya. Baekhyun bertanya tanya selama apa pernikahan ini akan berjalan. Juga ide tentang sebuah anak, Baekhyun lupa kalau walaupun dia laki-laki, dia adalah carrier. Chanyeol tidak menggunakan kondom saat penetrasi dan salah satu dari mereka tidak ada yang melakukan kontrasepsi. Ide tentang anak akan ia bicarakan dengan Chanyeol nanti. Apakah Chanyeol cukup dengan dirinya saja? Baekhyun sudah menumbuhkan rasa peduli untuk Chanyeol dan dia hanya berdo'a untuk kebahagiaan saja yang ia rasakan. Selama dua puluh tahun hidupnya, Baekhyun belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Park Chanyeol benar-benar sebuah pengecualian untuk segala hal.

Chanyeol pulang sekitar pukul lima. Ia berkata pada Baekhyun kalau ia tidak bisa berkonsentrasi bekerja seharian ini karena bayangan Baekhyun yang telanjang memenuhi pikirannya. Baekhyun memerah mendengar kata-kata itu. Chanyeol berkata kalau ia ingin melakukan seks lagi tapi dia mengurungkannya karena Baekhyun butuh istirahat. Jadi sore itu Baekhyun dan Chanyeol hanya duduk dan berbincang-bincang membicarakan hari mereka masing-masing. Baekhyun membicarakan tentang bertelepon dengan Park Yoora dan Chanyeol bercerita tentang bagaimana beberapa kepala bagian si perusahaannya membuat kesalahan.

Sebuah telepon masuk dari telepon genggam Chanyeol menyela perbincangan hangat di antara Chanyeol dan Baekhyun. Baekhyun melihat wajah Chanyeol yang mengeras saat melihat ID penelepon yang muncul di layar. Entah kenapa Baekhyun merasakan kalau ada hal buruk yang akan terjadi. Hati baekhyun berdenyut saat Chanyeol keluar dari kamar untuk menjawab telepon itu supaya baekhyun tidak mendengar perbincangannya di telepon. Baekhyun tidak ingin menduga-duga akan sesuatu, tapi Chanyeol sebenarnya tidak perlu menyembunyikan apapun dari dia, karena Baekhyun adalah suaminya, tapi lalu seakan ada sebuah pisau menyayat hatinya, baekhyun sadar bahwa dirinya saat ini berstatus sebagai orang asing untuk Chanyeol.

Hampir lima belas menit Chanyeol menerima panggilan entah dari siapa itu, Chanyeol memasuki kamar dengan suasana hati yang membuat baekhyun bergidik. Ketakutan, kekhawatiran, rasa sakit terukir jelas di wajah Chanyeol. Mengikuti instingnya, Baekhyun bangun dan membawa Chanyeol pada pelukannya.

"Apa semua baik-baik saja? ", Baekhyun bertanya.

"Hmm... " Chanyeol menenggelamkan kepalanya di ceruk leher baekhyun, tinggi mereka yang beda sangat banyak harusnya membuat Chanyeol tidak nyaman dengan posisi ini.

"Boleh aku tahu siapa yang menelepon? ", Baekhyun mendengar dengusan Chanyeol dengan jelas.

"Tidak perlu, ini tidak ada hubungannya dengan kamu, " Hati Baekhyun sakit, melepaskan pelukannya ia menatap Chanyeol, mencoba menahan air mata di sudut matanya yang berusaha keluar. Ia ingin berteriak pada Chanyeol, tapi ia urungkan karena melihat mata Chanyeol yang sedang tersesat.

Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi. Apa ada masalah dengan kantornya? Baekhyun ingin Chanyeol berbagi dengannya. Ia ingin membantu apapun yang ia bisa. Ia ingin menghilangkan kerutan diantara dahi Chanyeol, ia ingin mengangkat ketegangan itu meninggalkan wajah Chanyeol, ia ingin Chanyeol tahu Baekhyun peduli padanya dan akan melakukan apapun untuk melenyapkan rasa khawatir dan takut Chanyeol. Menutup jarak mereka, baekhyun menjalankan jari jari di wajah Chanyeol, membelainya lembut. Alis kiri Chanyeol terangkat heran.

"Chanyeol, aku menginginkanmu sekarang." suara rendah menggoda Baekhyun membuat Chanyeol mengeluarkan sebuah erangan dan mereka berdua menambah beberapa putaran seks lain, ya, Baekhyun ingin Chanyeol melupakan masalahnya dengan tenggelam di dalam dirinya. Setelah beberapa kali klimaks, mereka berdua jatuh pada kegelapan dan tidur dengan telanjang.

-the exception-

The storm will break a part the weak ship

-the exception

Ketika Baekhyun bangun, keadaan masih gelap didalam kamar dan Baekhyun bergeser dari sisinya ke sudut ranjang. Baekhyun bangun untuk melihat jam digital yang terpampang di dinding kamar dan mendapati bahwa jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Biasanya baekhyun tidur sepanjang malam dan berpikir mungkin ada keanehan yang terjadi saat ia sedang tertidur lelap; lalu Chanyeol mengerang dan bergeser dengan gelisah dan Baekhyun menyadari apa yang telah mengusiknya. Suara yang dibuat Chanyeol penuh kesakitan, suara yang berikutnya berupa desisan napas yang tersiksa.

"Jangan! Hentikan! ," Chanyeol berbisik dengan kasar. "Jauhkan tangan sialanmu dariku!"

Baekhyun membeku, debaran jantungnya berpacu. Kata-katanya membelah melalui kegelapan, diisi dengan amarah.

"Kau bajingan sialan." Chanyeol menggeliat, kakinya menendang selimut. Punggungnya melengkung dengan cara yang aneh. "Jangan. Ah, Tuhan...sakit." Chanyeol pun mengejang, badannya berputar-putar, Baekhyun tidak kuasa melihatnya.

"Chanyeol, " Baekhyun mengguncangakan tubuh Chanyeol. "Chanyeol... "

"TIDAAKKK!!! " teriakan Chanyeol itu menggema di seluruh kamar, semuanya terjadi sangat cepat, Chanyeol menelindih tubuh Baekhyun lalu mengarahkan pukulan bertubi-tubi dengan brutal.

"Jangan sentuh dia bajingan! Jangan sentuh milikku! Brengsek! " Chanyeol mendaratkan pukulannya beberapa kali di bantal tapi lebih banyak yang mengenai wajah baekhyun. Teriakan baekhyun tenggelam dalam umpatan Chanyeol.

"Sialan Chanyeol! Bangun!" Mata Chanyeol masih berkabut, Chanyeol masih tidur. Baekhyun gemetar dan merasakan sakit di wajahnya saat Chanyeol masih memukulnya, baekhyun tidak pernah dipukul siapapun seperti ini.

Mengumpulkan tenaganya, mengingat teknik hapkido yang pernah ia pelajari, memukul Chanyeol di pipi kanannya lalu berputar menjatuhkan Chanyeol dari atasnya walau Chanyeol lebih berat darinya.

Mata Chanyeol terayun membuka dan dia tersentak bangun, matanya melesat dengan panik.

"Apa?" Chanyeol terkesiap, dadanya berat. Wajahnya memerah, bibir dan pipinya memerah dengan amarah, "Ada apa ini?"

Bergulir ke sisi samping, Baekhyun menangis tersedu-sedu, matanya yang dialiri air mata mengaburkan pandangannya sehingga ia tidak bisa melihat Chanyeol. Baekhyun meringkuk dalam posisi seperti janin, gemetar dengan keras.

"Ada apa Baekhyun? Kenapa? Kamu... Wajahmu... Aku... ", Suara Chanyeol serak, tertekan.

Menelan ludah melewati tenggorokan terbakarnya, Baekhyun mendorong diri ke posisi duduk. Tatapannya terkunci dengan Chanyeol dan ia menyaksikan kabut tidur meninggalkan mata Chanyeol digantikan oleh kesadaran atas kondisi yang menakutkan sekarang.

"Mimpi," baekhyun tersedak, "Kamu m-mimpi."

"Ya Tuhan," desahnya. Baekhyun melihat sebuah lebam di pipi kanan Chanyeol yang ia pukul, ia tidak mau membayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Adrenalin mulai meninggalkannya dan Baekhyun merasakan sakit pada wajahnya.

"Maafkan aku Baekhyun, aku, ini salahku, aku membuatmu seperti ini. " Chanyeol juga terluka, tapi secara batin, Baekhyun bisa tahu itu pasti, mimpi buruk macam apa yang bisa membuat seseorang menjadi seperti itu.

Turun dari tempat tidur, Baekhyun berdiri dengan kaki gemetarnya, mual dengan rasa takut yang masih tersisa. Lututnya menyerah lalu Chanyeol menangkapnya, merosot ke lantai dengannya dan memeluknya saat Baekhyun menangis.

Suara Baekhyun terguncang. "kamu baru saja bermimpi buruk. kamu membuatku ketakutan."

"Baekhyun." Chanyeol menyentuh luka baekhyun lalu mengernyit dan warna dirinya menjadi gelap dengan rasa malu dan bersalah.

Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol lalu menatap Chanyeol dan menjaga jarak di dekat jendela, mengikat ban pinggang jubahnya dengan sentakan.

"kau bermimpi tentang apa?", Baekhyun bertanya, tak perduli pada luka di wajahnya.

"kita harus mengobatimu dulu Baekhyun. " ujar Chanyeol.

"Tidak, aku juga memukulmu tadi, jadi katakan padaku dulu, wajahku tak apa." Baekhyun jujur soal ini, sakit wajahnya tidak ada apa-apanya dibanding sakit yang nampak di wajah Chanyeol.

Chanyeol enggelengkan kepalanya, menurunkan pandangannya karena kehinaan, postur rentan yang tidak Baekhyun kenali dari Chanyeol. Seakan orang lain telah mengambil alih tubuh Chanyeol.

"Aku tidak tahu."

"Omong kosong. Sesuatu dalam dirimu, sesuatu yang meresahkanmu. Apa itu?"

Chanyeol nampak berhimpun saat otaknya berjuang membebaskan dirinya dari rasa kantuk. "Itu hanya mimpi, Baekhyun. Orang-orang juga bermimpi buruk. "

Baekhyun menatap Chanyeol, rasa sakit berkembang saat Chanyeol seperti meneriakiku, bahwa Baekhyun sedang berpikir tidak rasional. "Sialan kau.", Baekhyun mengumpat.

Bahu Chanyeol menjadi sejajar, dan dia menarik seprei untuk menutupi dirinya. "Tidak penting apa yang ada di mimpiku. Kamu terluka karena itu, kita harus mengobatinya"

"Kamu berbohong."

Dada Chanyeol membesar dalam tarikan nafas yang dalam; lalu dia melepaskannya dengan cepat, terluka.

"Maaf aku menyakitimu."

Baekhyun mencubit batang hidungnya, merasa sakit kepala bertemu kekuatan. Matanya tersengat karena ingin menangis untuk Chanyeol, menangis untuk penderitaan yang pernah dia lewati dalam hidupnya. Dan menangis untuk mereka berdua, karena jika Chanyeol tidak membiarkan Baekhyun memasuki kehidupannya, hubungan mereka tidak punya tujuan.

"Sekali lagi, Chanyeol, apa yang kau mimpikan?"

"Aku tidak ingat." Chanyeol melarikan tangannya melalui rambutnya dan menggeser kakinya ke ujung ranjang.

"Aku ada beberapa bisnis yang sedang kupikirkan dan kemungkinan ini yang membuatku terjaga. Aku selalu bermimpi buruk jika kurang tidur, aku tidak pernah tidur dengan seseorang jadi tak tahu dampaknya seburuk ini seperti ini."

Hati Baekhyun semakin sakit. Mereka berdua sudah menikah.

"Ada beberapa jawaban yang benar dari pertanyaan itu, Chanyeol. 'Ayo kita bicarakan ini besok' adalah yang pertama. 'ayo bicarakan masalah ini saat akhir pekan' adalah jawaban yang lain. Dan meskipun 'aku belum siap untuk membicarakan tentang ini' juga tidak apa- apa. Tapi kamu sudah bertindak lancang bagai orang yang tidak mengerti apa yang aku bicarakan saat kamu seperti mengatakan padaku bahwa aku ini tidak masuk akal. Kita sudah menikah Chanyeol, kamu bisa mengatakan apapun padaku. "

"Baekhyun-" Chanyeol mencoba meraih Baekhyun.

"Jangan." Tangan Baekhyun membungkus pinggangnya. Baekhyun tidak bisa mengatakan apapun dalam pikirannya dan berjalan keluar meninggalkan kamar.

"Baekhyun!, sial, kembali kemari. Biarkan aku mengobati lukamu. "

Suara bersalah Chanyeol memanggil hati Baekhyun. Tapi kenapa dia tak mau memberi tahu Baekhyun saat merasa bersalah? Baekhyun berjalan dengan cepat, ia tahu perasaan Chanyeol, kesakitan di dalam usus yang menyebar seperti kanker, kemarahan yang tak tertolong, dan kebutuhan untuk melekuk dalam kesendirian dan menemukan kekuatan untuk mendorong kembali memori ke lubang dalam dan gelap dimana mereka tinggal. Baekhyun membuka pintu kamarnya sebelum ia pindah ke kamar Chanyeol, menutup lalu mengunci pintunya. Jatuh ke ranjang mengabaikan wajahnya yang sakit dan mulai membengkak, Baekhyun menangis tersedu-sedu sendirian.

TBC

sepertinya ff ini tidak akan tamat sebelum exo debut karena mereka sudah sangat dekat dan ff ini baru akan tamat di bab 10, jadi, yah, maaf.

bab V dan bab VI akan dipublish minggu depan.