Ahaha…

Chappie three datang dengan kenistaannya!

Enjoy

Disclaimmie BLEACH © Taito-sensei

WINTER DISCIPLIN © Kurochi Agitohana

p.s: balasan review always on the bottom

.

.

.

Kilas balik chappie 2

Rukia yang sering terlambat datang ke sekolah mulai menjalankan hukuman yang diberikan oleh Kurosaki Ichigo, ketua komite kedisiplinan sekolah. Saat akan menjalankan hukuman pertama, Ichigo membawanya ke UKS. Apa yang direncanakan oleh Ichigo?

.

.

.

Chappie 3

"Kau pikir aku akan melakukan hal tak senonoh padamu? Yang benar saja!" Ichigo berteriak padaku-yang reflek melindungi dadaku dengan kedua tangan. Saat ini, yang perlu dilakukan adalah defense. Aku tak mau hal-hal aneh terjadi padaku.

Si jeruk mesum berbalik dan berjalan menuju meja kecil di dekat kasur yang kududuki. Aku tak tahu apa yang diambilnya. Aku harus benar-benar waspada. Tak akan kubiarkan dia menyentuh tubuhku walau seujung jaripun!

Plukk...

Sebungkus roti rasa melon-yang terlihat menggoda-jatuh di pangkuanku. Aku yang sama sekali belum makan apa-apa sejak tadi hanya menatap bungkusan roti itu dengan air liur yang sedikit menetes dari ujung bibirku. Sebungkus roti ini mulai menggodaku!

Ayo Rukiaaa... Bukalah aku... Sobek ujung badanku dan nikmati sensasi luar biasa dari krim melon yang akan lumer di dalam mulutmu.

Aku menelan ludah melihat tarian menggoda sang roti melon dalam pikiranku.

"Buh... Bwahahaha... Hahaha..." gendang telingaku menangkap suara tawa nan menyebalkan yang ternyata berasal dari si jeruk mesum. Seketika itu pula aku tersadar dari lamunan tarian roti melon dan melihat ke arahnya.

Dia... Dia sudah menghinaku! Tidak bisa dimaafkan!

"Apa yang kau tertawakan jeruk?" aku mengacungkan jari telunjukku kepadanya-yang masih saja tertawa sambil memegang perutnya. Wajahku memerah karena marah dan menahan malu.

"Buh... Hehehe..." dia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya karena tertawa terbahak-bahak.

"Hei! Cepat jawab! Apa yang kau tertawakan?" aku semakin tak sabaran menghadapi orang macam dia.

"Hmmp... Wajahmu itu..." wajahnya yang tadi tampak sedikit konyol kini berubah serius. Dia menatapku tajam. Jeda yang dia berikan di ujung kalimatnya membuatku penasaran.

"..." aku masih menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Wajahmu itu..." keheningan mulai menyeruak diantara kami berdua. Aku tersihir dengan kata-katanya yang menggantung lagi. Entah apa yang ingin dikatakannya. Saat ini aku merasa seluruh perhatianku terpusat pada kedua matanya yang terlihat tenang.

Aku melupakan semua kemungkinan bahwa dia akan melakukan hal-hal aneh padaku. Yang ada dalam pikiranku sekarang, hanya wajah seriusnya yang berbeda dari biasanya. Tatapan itu melembut seiring dengan langkah kakinya yang berjalan mendekat ke arahku.

Aku tak bisa mengalihkan pandangan mataku dari matanya. Seolah-olah aku tersedot dalam pesona mata amber miliknya. Mata musim gugur itu semakin membuatku jatuh dalam jurang perasaanku sendiri. Aku bimbang.

Aku sedikit menelan ludah ketika dia menundukkan sedikit badannya ke arahku, menaruh tangan kirinya di atas kasur dekat dengan posisiku duduk dan samar-samar kulihat dia mengangkat tangan kanannya. Sedikit tersentak, aku terkejut tangannya kini menyentuh pipi kiriku. Tangannya yang besar dan hangat menelusuri lekuk pipi kiriku. Aku terhanyut dalam sentuhannya.

Kedua tanganku tergenggam erat di atas rok sekolahku. Aku menggenggam erat ujung rok itu ketika dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Reflek yang bisa kulakukan hanya memejamkan mata, menunggu apa yang akan dilakukan.

Jantungku berdegup kencang ketika kurasakan nafasnya menyapu bibirku. Biasanya bila dalam posisi seperti ini, aku sudah memastikan orang yang ada di hadapanku terkapar mengenaskan karena merasakan tendangan mautku. Tapi di hadapannya... Aku tak bisa berpikir sama sekali.

Nafasnya kini beralih di pipi kananku, bisa kusesap harum tubuhnya yang maskulin. Ternyata berada di dekat seorang laki-laki seperti ini rasanya. Selama ini laki-laki yang dekat denganku hanya Renji baboon dan nii-sama. Walau aku aktif di ekskul Taekwondo sekolah-yang kebanyakan anggotanya laki-laki, aku tak pernah merasa seperti ini saat dekat dengan seorang laki-laki.

Orang ini, membuatku tak waras. Padahal baru serius bicara tadi pagi. Pada hari-hari sebelumnya saja, saling menyapa pun tidak. Karena memang aku tak mengenalnya. Tapi entah kenapa, aku menurut saja padanya kali ini.

Saat nafasnya kurasakan berhenti tepat di telinga kananku, dia membisikkan sesuatu dan aku langsung membuka mataku. Pada awalnya aku tak sadar apa yang dikatakannya. Setelah dia melepaskan tangan kanannya dari pipi kiriku dan berjalan menjauh sambil menutupi mulut dengan tangannya,

CTEKK...

Urat-urat di kepalaku berkerut karena ucapannya. Rahangku kukatupkan rapat hingga gigi-gigiku bergemeletuk. Aku ingin membunuhnya sekarang! Lupakan semua yang terlintas di kepalaku tadi karena itu semua kubatalkan! Kuulangi lagi, KUBATALKAN!

Orang ini benar-benar ingin merasakan tendangan mautku di wajahnya. Seenaknya saja dia berkata seperti itu padaku! Awas kau!

"Apa maksudmu bodoh?" aku menatapnya dengan tatapan membunuh tingkat tinggi dengan mengeluarkan aura hitam sepekat mungkin-yang biasanya sudah cukup untuk membuat seorang preman jalanan lari tunggang langgang karena merasakan hawa membunuh yang terlalu kuat.

Dia berbalik ke arahku, dan duduk di pinggir meja kecil di depan kasurku.

"Tentu kau tahu apa maksudku" dia menjawab enteng dengan ujung bibir yang terangkat sedikit. Evil smirknya itu membuatku tambah jengkel. Urat-urat kepalaku yang tadi sudah berkerut, kini tambah berkerut.

Sebungkus roti melon yang masih tergeletak tak berdaya di pangkuanku kubuang begitu saja ke arah sampingku-mengenai dinding dan terjatuh. Aku segera berdiri, kuremas selimut yang menutupi kasur dan membuatnya seperti bola-untuk menyerang sang jeruk mesum di hadapanku.

Seketika itu pula bulatan selimut itu kulemparkan ke arah wajahnya yang masih saja menampakkan evil smirknya.

SRATT...

Sial! Dia berhasil menghindar. Kulirik benda-benda lain yang berada di sekitarku-untuk dilempar. Kuraih bantal yang berwarna putih di bagian atas kasur dan langsung kulempar ke arahnya. Dia menghalaunya hanya dengan sebelah tangan.

Aku semakin bernafsu untuk menyerangnya. Tak akan kubiarkan dia menginjak-injak harga diriku! Aku mengambil ancang-ancang untuh melakukan serangan berikutnya. Aku sedikit berlari ke arahnya, memutar tubuhku dan melompat ke arahnya dengan kaki kanan teracung di depan.

Kali ini seranganku tak akan bisa dihalaunya.

TAP... PLAKK... BRUUKK...

"Hwaaa..."

"Huooo..."

Aku jatuh terduduk karena tadi kakiku tersangkut selimut yang terjulur dari kasur yang satunya. Benar-benar ceroboh. Tapi aku sama sekali tak merasakan sakit. Saat celingak-celinguk melihat sekeliling, aku menyadari ada sesuatu yang sepertinya menghilang.

Oh! Jeruk mesum! Kemana perginya dia?

"Cepat turun dari atasku midget!" aku mendengar suara yang berasal dari bawah. Seketika itu aku melihat ke bawah dan menemukan seonggok jeruk yang terkapar karena kududuki. Cepat-cepat aku berdiri dari atas tubuhnya.

Posisiku terjatuh tadi membuatku sedikit merona. Bagaimana tidak? Aku jatuh terduduk di atas dadanya. Dan kalau tidak salah, tadi aku merasakan degup jantungnya yang kencang. Halusinasi! Pasti itu hanya halusinasiku saja! Tak mungkin jeruk mesum itu berdebar-debar. Aku mulai gila sekarang!

Kulihat sekarang dia duduk di lantai sambil memegangi belakang kepalanya-yang sepertinya terantuk pinggiran meja ketika terjatuh tadi.

"Rasakan itu jeruk! Berani-beraninya tadi kau menyebut wajahku konyol!"

"..." dia kembali tak meresponku.

"Hei jeruk! Kau dengar aku tidak?"

"..."

"Benar-ben-" aku menghentikan ucapanku ketika kulihat di tangannya-yang tadi memegang kepalanya-terdapat cairah merah kental.

"Hei, Ichigo. Apa kau baik-baik saja?" aku mulai panik saat melihat darah dari belakang kepalanya ketika aku mendekat ke arahnya.

Dia melihat ke arahku-yang sudah berjongkok di sampingnya-dengan tatapan kosong. Dan dia limbung, terjatuh tepat di pelukanku. Banyak darah yang keluar dari kepalanya. Aku semakin panik. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar saat dia melihat darah di tangannya.

"Hei... I-Ichigo..." aku semakin panik saat kurasakan setetes air yang jatuh di tangan kananku.

Dia menangis?

"I... Ibu... Tidak... Jangan... Jangan pergi..." aku merasakan air matanya mengalir begitu saja di kedua pipinya. Sebenarnya ada apa dengannya? Aku sama sekali tak mengerti.

"Ichigo..." suaraku tercekat di tenggorokan saat kudengar isak tangisnya. Tatapan matanya kosong. Tangannya terkepal erat. Saat dia menutup matanya, dia benar-benar jatuh. Jatuh dalam dua arti. Dia pingsan dan terjatuh membebani tubuhku-walau aku harus susah payah menopang tubuhnya yang berat-dan juga jatuh meruntuhkan semua benteng ketahanan hatinya yang menyembunyikan siapa dia sebenarnya.

"H-hei... Ichigo? Bangun! Bangun Ichigo! Jangan membuatku panik," aku mengguncang pelan kedua bahunya. Kepalanya yang bersandar di dadaku membuat seragamku kotor terkena darahnya. Ah! Itu nanti saja! Sekarang aku harus menolongnya. Lagipula semua ini terjadi gara-gara aku juga, walau dia yang memulai duluan.

"TOLONG! SESEORANG TOLONG!" aku berteriak sekencang mungkin. Tak peduli dengan tenagaku yang sudah limit. Reflek aku memeluknya. Entah kenapa aku melakukan hal itu. Dalam keadaan seperti ini, aku sama sekali tak peduli dengan diriku sendiri.

"Ada apa?" tiba-tiba pintu UKS terbuka lebar. Ada beberapa orang yang datang karena mendengar teriakanku.

"Tolong! Tolong dia! Dia pingsan! Darah! Ada darah!" kata-kataku sama sekali tak bisa dikontrol. Aku terlalu panik. Aku semakin mempererat pelukanku kepadanya. Yang tak aku sadari, sedari tadi air mataku mengalir.

"H-hei, tenanglah! Dia tak akan apa-apa! Ah! Itu Unohana-sensei datang!" seseorang masuk dari pintu UKS yang sudah disesaki oleh murid-murid yang penasaran. Orang itu berperawakan sedang dengan rambut hitam panjang yang dikepang rapi di arah depan. Dia mengenakan coat putih panjang yang terlihat serasi dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda yang ada di dalamnya. Unohana Retsu, dokter yang bertugas setiap harinya di sini.

Jalannya agak tergesa-gesa ketika tadi dia mendapat kabar bahwa ada seorang murid yang terluka. Kemudian dia berjongkok di sampingku. Memegang bahuku dengan sedikit senyum di bibirnya.

Aku melepaskan pelukanku pada Ichigo. Membiarkannya dibopong oleh Renji-yang datang ke UKS setelah mendapat kabar kalau Ichigo terluka-dan seorang murid lain yang tak kukenal untuk dibaringkan di atas kasur.

Unohana-sensei bergerak cepat untuk segera menangani luka Ichigo. Murid-murid lain sudah pergi ketika pintu UKS ditutup untuk melakukan pengobatan. Aku masih berdiri di samping kasur dimana Ichigo berbaring tertelungkup.

Badanku sedikit gemetar. Saat itu, aku merasakan tangan seseorang di pundakku. Renji. Kali ini dia tak bicara apa-apa. Padahal biasanya dia selalu cerewet.

Aku sedikit tenang ketika Unohana-sensei selesai menangani Ichigo.

"Bagaimana keadaannya sensei?" Renji bertanya pada Unohana-sensei yang sedang merapikan alat-alatnya tadi.

Unohana-sensei tersenyum sedikit sebelum menjawab pertanyaan Renji. "Dia akan baik-baik saja. Lukanya tidak parah. Begitu sadar, pasti sudah baikan." Unohana-sensei kembali berkutat dengan alat-alat medisnya.

"Syukurlah." Aku merasa lega kalau dia baik-baik saja.

"Hei Rukia. Kembalilah ke kelasmu."

"Tidak usah Renji. Aku akan menemaninya di sini. Kau saja yang kembali."

"Tapi-" sebelum dapat melanjutkan kalimatnya, aku menyelanya.

"Aku tak apa-apa Renji. Aku akan menemaninya."

"Haaah... Dasar keras kepala. Ya sudah, aku kembali ke kelasku. Aku duluan ya!" Renji langsung berbalik meninggalkan UKS. Tapi saat dia sudah mencapai pintu,

"Oh ya Rukia! Apa kau mulai suka pada Ichigo? Kelihatannya kau khawatir sekali padanya!"

BLUSHH...

Aku merasa kalau wajahku memerah saat ini. "Ti-tidak mungkin aku menyukai jeruk mesum seperti dia!" aku mengalihkan pandanganku dari Renji, berusaha menyembunyikan rona merah wajahku yang sudah akut.

"Hahaha... Tidak apa-apa kalau kau menyukainya." Kemudian Renji menutup pintu UKS. Sedangkan aku? Aku hanya menatap wajah tidur Ichigo dengan wajah memerah.

"Kau akan menemaninya di sini?" seseorang berbicara padaku. Saat aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara, aku mendapati Unohana-sensei yang sudah tak memakai coat putihnya. Aku lupa kalau sejak tadi Unohana-sensei masih ada di UKS.

"I-iya sensei."

"Kalau begitu, tolong dijaga ya. Saat ini, sensei harus pergi mengurus sesuatu."

"Hai sensei. Aku akan menjaganya dengan baik."

"Baiklah. Kalau begitu, sensei tinggal ya. Nanti tolong sampaikan padanya untuk banyak istirahat agar cepat sembuh."

"Hai sensei." Unohana-sensei kemudian menghilang dari balik pintu.

Aku melihat Ichigo yang terbaring di ranjang UKS. Ekspresi wajahnya terlihat tak nyaman. Apa dia bermimpi?

Eh? Tunggu! Memangnya orang pingsan bisa bermimpi ya?

Haaa… Orang ini benar-benar membuatku susah!

KRUUKK…

Wajahku memerah. Walau di UKS tak ada orang lain, tetap saja malu! Bayangkan saja! Bunyi perutku mengggema di seluruh ruangan.

Aku celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, berharap ada makanan di suatu tempat di sini. Kedua mataku tertumbuk pada sebongkah roti melon yang tergeletak tak berdaya di lantai tak jauh dari tempatku duduk.

Itu kan roti yang diberikan Ichigo padaku tadi. He? Aku tak sadar kalau aku memanggil si jeruk mesum itu dengan namanya. Apalagi nama kecilnya!

BLUSHH…

Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ichigo kalau tahu aku memanggilnya dengan nama kecil.

Tidaaaakkkk… Jangan dipikirkan Rukia! Fokus! Tapi aku tak bias fokus kalau perutku lapar.

Segera saja aku beranjak dari tempatku duduk dan mengambil roti yang tadi kubuang.

Menyebalkan! Sepertinya kalau aku memakan roti ini, aku terjebak dengan permainan si jeruk mesum.

KRUUUKK…

Ah! Siapa peduli! Yang penting makan.

Aku membuka bungkus roti itu dan segera memakannya dalam gigitan yang cukup besar. Tak usah bersikap malu-malu kalau memang lagi lapar! Bisa-bisa aku sekarat.

CRIIING…

Ah… Aku melayang. Roti ini enak sekali. Aku menatap dengan mata berbinar pada roti yang sudah kugigit itu.

Gigitan demi gigitan kulalui dengan senang hati. Setelah roti itu habis, aku membuang bungkusnya di tempat sampah tak jauh dari pintu masuk.

Aku kembali mengamati Ichigo yang masih saja tertidur dengan ekspresi mengkhawatirkan. Melihatnya begitu, membuatku menjadi khawatir juga!

Aku melihat jam yang terpasang di sudut ruangan UKS di atas lemari pinyimpanan. Jam setengah dua rupanya. Menunggu orang seperti ini membuatku menjadi mengantuk.

Di luar, angin musim dingin berhembus pelan. Menggerakkan ranting-ranting kosong pohon Sakura yang berjejer di sepanjang halaman Karakura High School.

Sepi. Yang kudengar hanya suara detak jarum jam dan suara rintihan kecil Ichigo yang pingsan di atas ranjang.

Mataku mulai berat. Aku tak bias menahan kantuk lagi. Tidur saja.

Aku pun meletakkan kepalaku di samping Ichigo yang tertidur-atau pingsan. Tak berapa lama, akhirnya kegelapan dating menghampiriku. Sepertinya tidurku kali ini akan menyenangkan.

TBC

.

.

.

YA-HA~

Selesai… Selesai… *nari-nari gaje*

Wohooo~~

Ceritanya jauh dari dugaanku! Kayaknya sinetron banget ya! *readers: Emang!*

Apa gak ada yang nyadar Inoue di mana? Aku juga bingung Inoue yang pingsan dilarikan ke UKS ato ke tempat lain!

.

.

.

Waktunya balas ripiu! Aku kapok ngajak Ichi! Ntar kepalaku benjol. Kali ini sendirian aja dah! Chappie depan, bakalan balas ripiu bareng Ruki-nee!

arlheaa

Yap! Setelah membaca chappie kali ini, silahkan menyimpulkan sendiri! *digetok arlheaa* Aduh cin, jangan nangis darah donk! Ntar kalo ko-it kehabisan darah gimana? *ditendang*

Sudah apdet! Ayo R&R!

Aika Ray Kuroba

Hyahaha… Kali ini siapa yang patut dikasihani? Ichi ato Ruki? *ngajak main tebak-tebakan*

Updated! R&R soon! *maksa*

NaraHatake

Yo! Salam kenal juga! Hwehehe… Gomen tak bisa apdet kilat! Aku ini terlalu sibuk! *dikemplang gara-gara besar kepala*

R&R lagi ya!

So-Chand 'Luph pLend'

Haha… Ternyata ada kembaran yang gak ngerti typo juga! Sixth sense ntuh indra ke-enam. Aku kaget setengah mati kalo Ichi punya intuisi kuat!

Dah apdet! R&R! R&R!

Yanz Namiyukimi-chan

Yang mau diomongin si Baboon, RA-HA-SI-A *dilempar batu bata*. Ntar kalo tak beri tahu, ceritanya abis dong!

Hehe… Bener nih suka Ruki yang kayak gitu? Suka juga gak ama Ichi yang mesum? *dijitak Ichi*

Updated! Review lagi!

ZaRukoSiiStoicAlone

Hwehehe… aku yang ngeliat Ichi di komiknya aja kepengen pingsan saking kerennya! *gubrak*

Ruki kayaknya kekurangan gizi ya! Makanya kuntet gitu! *disambit Ruki*

Tak bisa apdet kilat! Gomen! Apdetnya diusahakan seminggu sekali.

bl3achtou4ro

Oh… Pengennya dipanggil Naoto? Naoto-chan ya?

Nyahaha… Silahkan disimpulkan sendiri! Aku juga bingung kok apa maksud Ichi bawa Ruki-nee ke UKS *ditendang rame-rame*

Ayooo R&R…

aRaRaNcHa

Jalan pikirannya Ichi tak bisa ditebak! Dia kan mesum!

Updated! R&R!

eri-lovekyosohma

Kekeke… *ketawa ala Hiruma* Dirimu ini suka yang mesum ya? Berarti suka Ichi yang mesum dong?

R&R lagiii….

Mae Otsuka

Ha? Ada apa? Ada apa? *ikutan gak jelas*

Ehehe… makasih dibilang keren. Jadi malu aku. ^/^

Tak apa kalau baru ripiu. Yang pemting ada ripiu.

Sorayuki Nichan

Apa nih chap bisa dibilang lucu ya? Rada somplak nih yang buat. Kayaknya nih chap ganti genre deh! Tapi tenang saja! Chap depan kubanyakin humor and romancenya!

Uhoo… bagus-bagus kalo mau di-fave adikku! *SKSD* Hehehe…

.

.

.

Yap kali ini, mohon ripiunya lagi! Yang banyak biar semangat nglanjutin!

Bubai next chap!