Karena diriku gak mau ngebacot di bawah, langsung di sini aja biar ena, oke silahkan disimak.
Pertama, saya mengucapkan banyak terima kasih buat para readers yang bersedia meninggalkan jejak-jejak manis di kotak review. Serius, aku semangat sendiri liat review-review kalian. Aku sayang kalian, chuu~ ;*
Kedua, mohon maaf kalau aku baru bisa update sekarang, dan lebih parahnya lagi chapter ini mungkin 'tidak berperasaan' sama sekali. Sedikit curhat dan sedikit jujur juga(?), aku patah semangat saat ngeliat kotak review yang sepi cem pasar yang barusan digusur(?:" Yah, salahkan diriku yang terlalu baperan ini, yang gara-gara dikit reviewnya langsung patah semangat. I'm so sorry buat readers yang udah nunggu cerita ini.. I wish you'll forgive me, hiks-
'Kay, daripada kalian bosen duluan gara-gara bacotan tidak bermutu ini, silahkan nikmati hidangan di bawah, chu~ ;* /digampar
Thank You
.
[Chapter 4]
.
.
Sejak kepergian ayahnya, tidak ada lagi Jungkook yang ceria. Tidak ada lagi Jungkook yang bersemangat. Tidak ada lagi Jungkook yang tersenyum manis sembari menyapa semua orang yang lewat di koridor. Jungkook benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dan hal ini membuat Taehyung panik, bingung setengah mati.
Bagaimana caranya mengembalikan Jungkook yang dulu? Bagaimana caranya membuat Jungkook tersenyum? Bagaimana caranya menghibur Jungkook?
Taehyung pernah mengajak Jungkook makan siang bersama Jung Hoseok, anak kelas 3-C yang dinobatkan sebagai moodbooster terampuh di kelasnya. Saat Hoseok melontarkan lelucon yang membuat Taehyung terbahak, Jungkook hanya memasang ekspresinya seperti biasa; kosong, datar, seolah tak ada kehidupan di sana. Dada Taehyung berdenyut nyeri. Kenapa harus Jungkooknya?
Percobaan kedua, Taehyung mengajak Jungkook ke rumahnya. Omong-omong, rumahnya dengan milik Jungkook hanya berjarak kurang lebih sepuluh meter. Saat pertama kali menjajakkan kakinya lagi di rumah Taehyung sejak ayahnya meninggal, Jungkook merasa hatinya menghangat. Terlebih saat melihat kedua kakak kandung Taehyung yang duduk di ruang tamu. Sepertinya mereka sudah tau jika Taehyung akan membawa Jungkook ke sini.
"Seokjin hyung, Namjoon hyung, ini Jungkook. Jungkook-ah, ini Seokjin dan Namjoon hyung."
"Oh, Jungkookie? Jadi kau yang namanya Jungkook? Astaga, kau manis sekali! Duduk di sini, ya?" Itu Seokjin dengan wajah berseri-serinya sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Jungkook tersenyum kecil—untuk yang pertama kalinya—seraya duduk di sebelah Seokjin. Sedangkan Taehyung sudah duduk di tempat yang tersisa. Sekilas, ia melihat senyum kecil Jungkook tadi. Dalam hati Taehyung berterima kasih kepala hyungnya yang selalu membawa kebahagiaan untuk semua orang itu.
"Astagaa, Jungkook manis sekali!" Seokjin berseru gemas. "Boleh aku mencubitnya? Boleh ya? Ya ya ya?" Pintanya bak anak kecil.
Taehyung meringis pelan. "Hyung.."
"Boleh kok." Tak tau-tau, Jungkook menyahut dengan senyuman yang tertera di bibirnya.
Taehyung merasa seperti melihat surga, astaga. Jungkook tersenyum. Tadi Jungkook tersenyum. Ya Tuhan, Jungkooknya tersenyum.
Tanpa banyak bicara, Seokjin langsung mencubiti pipi Jungkook gemas. Ia memekik tertahan saat melihat tawa kecil Jungkook. "Aaaaaa! Manisnyaaa!"
Iya hyung. Manis. Manis sekali. Gumam Taehyung dalam hatinya.
"Seokjin hyung.. Sudahlaah. Kasihan pipi Jungkook." Ucap Namjoon sebelum Seokjin benar-benar gemas dan akan meminta izin untuk menggigiti pipi teman adiknya itu.
Dengan ekspresi cemberut, Seokjin menghentikan kegiatan mencubit pipi Jungkook yang dari tadi ia lakukan. "Benci Namjoon."
"Astaga, Seokjin hyung.."
Jungkook terkikik tanpa sadar. Dalam hati ia bertanya-tanya, keberuntungan macam apa yang diperoleh Taehyung sampai-sampai memiliki dua saudara seperti Seokjin dan Namjoon?
Taehyung terdiam. Terperangah. Matanya menatap Jungkook tak percaya. Ia tidak salah lihat, kan? Matanya masih berfungsi dengan baik, kan? Astaga, astaga, astaga. Taehyung memekik senang di dalam hati. Jungkooknya tertawa, Jungkooknya tersenyum!
"Hey, hey?" Namjoon melambaikan tangannya di depan wajah Taehyung. Ia khawatir saat melihat Taehyung tersenyum tanpa sebab dan pandangan matanya kosong. Adiknya tidak gila, kan? Oke maaf, hanya bercanda.
"Oh?" Taehyung tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum kikuk saat melihat semua orang di sana—termasuk Jungkook—memandangnya heran.
"Taetae hyung sering menceritakan tentang kalian," Jungkook mulai buka bicara. Kali ini, senyumnya tak terlepas dari bibirnya.
"Oh, benarkah?" Kata Namjoon.
"Dia tidak menceritakan yang tidak-tidak tentang kami, kan?" Timpal Seokjin curiga.
Jungkook tertawa lagi. Ia mengibaskan tangannya sambil menggeleng. "Tentu saja tidaak!" Ucapnya dengan nada gembira yang sudah lama tak digunakannya.
"Lalu dia bercerita apa saja? Ayo ceritakan pada kami!" Desak Seokjin tak sabaran. Ia gemas sekali saat tau adik nakalnya, Kim Taehyung, menceritakan sesuatu tentangnya dan Namjoon ke orang lain.
"Mm, apa ya.." Jungkook berpikir sebentar. "Oh iya, Taetae hyung bilang kalian itu baaiiik sekali." Lagi-lagi, Jungkook tersenyum saat mengatakannya. "Tapi kalian sibuk.. Jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan kalian sebagai seorang… Dokter, iya?"
Seokjin mengangguk mengiyakan.
"Naah, ternyata hyungie tidak berbohong." Ia terkikik geli. "Pantas saja kalian pasti tidak ada di rumah saat aku berkunjung di sini, dulu."
"Jadi kau pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Namjoon.
Yang ditanya mengangguk cepat. "Pernah. Bahkan seriiing sekali." Cengiran lucu tertera di bibir manisnya. "Rumahku kan, tepat berada di depan rumah ini.."
Seokjin memandang Jungkook tak percaya. "B-Benarkah?"
"Serius, Seokjin hyung!"
"A-Ah, maaf.. Aku tidak tau.."
Melihat Seokjin berkata seperti itu, sontak saja Jungkook merasa tidak enak hati. "Eh, eh— tidak apa-apa kok hyung.. Lagi pula kan, kalian baru pindah ke sini tidak sampai satu tahun.. Kalian juga sibuk, jadi wajar saja hyung. Tidak apa-apa kok, aduuh.."
Seokjin menggaruk tengkuknya seraya melirik Namjoon. Sungguh, ia merasa tidak sopan karena tidak mengenal Jungkook yang jelas-jelas tinggal di depan rumahnya.
Sebelum Namjoon membuka mulutnya, Taehyung terlebih dahulu bicara, "Sebenarnya ini salahku juga, sih.. Aku tidak memberi tau Seokjin hyung dan Namjoon hyung kalau Jungkook sering main ke sini.. Jadi.. Yah, ehehe.." Taehyung tertawa canggung sambil mengusap tengkuknya. "Maafkan aku ya, hyung."
"Seokjin hyung, di dapur ada makanan tidak? Aku lapar."
Bang. Rusak sudah suasananya.
Ternyata, selain pandai merusak barang, Namjoon juga pandai merusak suasana, ya.
Setengah tertawa, Jungkook berkata, "Taetae hyung bilang, Seokjin hyung pintar memasak, kan? Aku mau mencicipi masakan Seokjin hyung, boleh?"
Tanpa banyak bicara, Seokjin langsung mengiyakan permintaan Jungkook dengan begitu semangat.
.
Jungkook melahap masakan Seokjin dengan bersemangat. Matanya berbinar, lalu ia melahapnya lagi. Taehyung tertawa melihat kelakuan temannya yang satu ini. Namjoon diam menikmati hidangan di hadapannya. Sedangkan Seokjin memandang ketiganya dengan tatapan was-was, menunggu respon ketiganya atas masakannya.
"Seperti biasa, hyung. Ini yang terbaik." Itu Namjoon.
"Enaaak sekali. Kapan-kapan ajari aku memasak ya, hyung. Aku tidak enak kalau Jungkook selalu memasak untukku jika kalian tidak ada." Itu Taehyung.
Dan Jungkook, "Aaaa! Masakan hyung terbuat dari apa? Kenapa rasanya lezat sekali, ya ampuunn! Serius, hyung. Ajari aku memasak, ya? Taetae hyung nanti saja, pokoknya ajari aku memasak! Ya, hyung? Serius ini lezaaat sekali! Aku baru merasakan masakan seenak ini, ya ampuun!"
Seokjin tersipu mendengar respon Jungkook. Ia mengangguk sambil berkata, "kapan-kapan kita masak bersama, oke?" Yang dibalas anggukan semangat dari Jungkook yang sibuk mengunyah makanannya.
Sedangkan Taehyung tiba-tiba menghentikan kegiatan makannya. Ia memandang Jungkook setengah tak percaya. Apa benar, Jungkooknya sudah kembali? Sejak ayahnya meninggal, Taehyung baru mendengar Jungkook berbicara sepanjang itu. Sejak ayahnya meninggal, Taehyung baru melihat Jungkook tersenyum dan tertawa sebahagia itu. Taehyung merasa luar biasa bahagia. Akhirnya Jungkooknya kembali. Akhirnya Jungkook tersenyum lagi. Akhirnya Jungkook tertawa lagi.
Sekitar jam delapan pagi, Taehyung sudah duduk di ruang tamu Jungkook. Jangan tanya, semenjak kepergian ayahnya, Jungkook memberikan kunci cadangan rumahnya pada Taehyung. Katanya untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, atau jika Taehyung merindukannya. Oke, alasan yang kedua itu bohong, Jungkook tidak mengatakan hal itu. Saat Jungkook keluar dari kamarnya, ia langsung duduk di sebelah Taehyung. Sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Taehyung.
"Ada apa, hyung?" Gumamnya dengan suara parau khas orang yang baru saja bangun.
"Kau sibuk? Ada tugas dari gurumu yang belum diselesaikan?"
"Tidak kok. Kenapa?"
"Jarang-jarang aku terbebas dari tugas, mau jalan bersamaku?" Tawar Taehyung seraya merapikan anak rambut Jungkook dengan jemarinya. "Aku bosan di rumah. Seokjin hyung dan Namjoon hyung di Rumah Sakit. Padahal ini hari libur, tapi mereka tetap saja bekerja."
"Mm, mau tidak ya.." Gumam Jungkook sambil menahan seyumnya.
"Ayolaah, aku bosan sekali."
"Tapi masakkan sarapan untukku, ya?"
Taehyung mengangguk cepat. "Aku memasak, dan kau siap-siap di atas, oke?" Lalu ia berlari ke dapur.
"Aku mau mandi dulu, hyung." Ujar Jungkook setengah berteriak.
"Jangan lama-lama!"
"Oke!" Dan Jungkook tertawa senang setelahnya.
.
Taehyung dan Jungkook, keduanya duduk di kursi taman setelah menghabiskan dua jam—atau bahkan tiga jam—untuk mengelilingi taman ini. Jungkook menggenggam satu cone es krim stroberi kesukaannya, dan Taehyung tertawa melihat bagaimana cara anak itu memakan es krimnya. Belepotan, seperti anak kecil. Dengan tissue yang sudah disediakannya dari rumah, Taehyung membersihkan noda es krim yang berlelehan di sekitar bibir Jungkook.
"Hyung, aku bukan anak kecil.. " Protes Jungkook.
"Iya, bukan anak kecil," Taehyung tersenyum setelah membersihkan noda es krim tadi. "Tapi kau bayi, Jeongguk-ah."
Dan Jungkook melanjutkan acara makannya dengan wajah tertekuk.
"Bagaimana?"
Jungkook menoleh ke arah Taehyung sambil menjilati es krimnya. Ia bertanya dengan nada ketus yang dibuat-buat, "Apanya?"
"Kau senang?"
"Sangat," Lalu ia tersenyum lucu, melupakan bahwa ia sedang merajuk pada Taehyung. "Es krimku enak, hyung. Mau coba?"
Taehyung menggeleng pelan, ia balas tersenyum. "Akhirnya kau kembali, ya." Gumamnya pelan. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman yang mereka duduki ini.
"Kembali?" Tanya Jungkook keheranan.
"Jantungku hampir melompat dari tempatnya saat melihat senyuman, apalagi tawamu tadi. Astaga." Kekehan pelan meluncur dari bibirnya.
"Jangan berlebihan, hyung. Memangnya aku tidak—" Jungkook terdiam sebentar. Ia baru sadar, baru hari ini sejak kematian ayahnya ia bisa tertawa begitu lepas. "Ah, pantas saja.." Tawanya terdengar sumbang.
"Jangan." Sanggah Taehyung setelah menegakkan posisi duduknya. "Jangan bersedih lagi, kumohon."
"Tenang saja." Jungkook tersenyum tipis. Ia menjilat es krimnya yang mulai melelehi conenya. "Aku sudah merasa lebih baik," gumamnya disela kegiatan menjilat es krim tadi. "Dan semua itu berkat hyung."
Taehyung kembali menyandarkan punggungnya. "Aku tidak melakukan apa-apa.."
"Dasar idiot.." Satu jitakan mendarat di kening Taehyung. "Hyung pikir aku bodoh atau apa, eh? Hyung pikir aku tidak tau? Hari itu saat hyung tiba-tiba mengajakku makan siang dengan Hoseok sunbaenim, lalu sunbaenim melontarkan lelucon lucunya, itu agar aku merasa lebih baik, kan? Dan kemarin saat hyung mengajakku ke rumah, bertemu dengan Seokjin hyung juga Namjoon hyung, itu juga untuk membuatku terhibur, benar kan? Lalu.. Hari ini," Jungkook terkikik. "Hyung memasakkan sarapan untukku, mengajakku ke taman dan membelikanku es krim kesukaanku, juga untuk membuatku kembali, kan?"
Taehyung mengacak gemas surai kelam Jungkook. "Pokoknya jangan bersedih lagi."
"Saat itu ayah tiba-tiba ambruk," Jungkook ikut menyandarkan punggungnya. "Aku baru saja ingin menyiapkan sarapan untuk ayah, untukku, dan untukmu. Tapi aku melihat ayah terbaring lemas di lantai. Aku berlari, duduk di samping tubuh ayah yang menggigil, memanggil namanya agar ia tetap terjaga. Tapi ayah malah berkata begini, 'Jeongguk-ah, maafkan ayah,' dan akhirnya ayah pingsan."
Taehyung terdiam. Ia memandang langit, namun telinganya tetap menyimak cerita Jungkook.
"Panik, aku menelepon ambulans. Mereka membawa ayah dan aku ke Rumah Sakit, dan dokter bilang, ayah koma. Aku terkejut bukan main. Ayah sehat, ayah tidak pernah mengeluh sakit. Saat dokter memberitahu suatu rahasia yang selama ini ayah sembunyikan dengan baik, aku menangis. Dia bilang, ayah mengidap kanker otak stadium akhir. Penyakit itu sudah lama dideritanya, tanpa sepengetahuanku." Jungkook tertawa miris. Air matanya menetes lagi.
Jantung Taehyung seolah berhenti berdetak. Apa Jungkook bilang? Kanker otak?
"Aku membenci ayah dan merindukan ayah disaat yang bersamaan, hyung. Aku tersiksa. Aku tidak ingin siapapun tau, termasuk kau. Jadi aku diam saat kau bertanya, aku menjauh saat kau mendekat. Kenapa? Karena aku takut mulutku ini mengatakan semuanya padamu, karena kau adalah satu-satunya orang yang membuatku ingin mengeluarkan seluruh keluh kesahku, hanya kau. Aku membenci ayah karena ayah tidak pernah bercerita, aku benci saat siapapun yang sudah kupercayai ternyata menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi rasa benciku kalah telak dari rasa rinduku, sial—" Air matanya mengalir sempurna. Jungkook mendongak, mencoba menahan air matanya agar tidak mengalir lagi.
Taehyung masih mendengarkan, masih menyimak perkataan Jungkook. Entah mengapa, jantung Taehyung berdenyut nyeri saat Jungkook mengatakan hal tadi. Apa Jungkook akan membencinya juga?
"Aku merindukan ayah seperti ingin mati. Sepulang sekolah aku bergegas ke Rumah Sakit, berbicara pada ayah yang masih tertidur. Aku ketakutan setengah mati. Kanker otak itu bukan penyakit yang main-main, kan hyung? Aku takut sekali. Dan satu hari setelah aku dapat mengusir rasa benciku yang awalnya masih tersisa, pihak rumah sakit meneleponku dan mengatakan hal itu." Ia tertawa disela isakan samarnya.
Perlahan, Taehyung menarik pergelangan tangan Jungkook. Menggenggam telapak tangan Jungkook yang sudah sedingin es. "Lanjutkan," katanya saat Jungkook menatapnya terkejut.
"Awalnya aku tidak percaya, hyung. Sungguh. Tapi entah mengapa, saat itu hatiku rasanya sakit sekali. Aku ingin segera pergi ke sana, tapi aku tidak sanggup. Dan aku tidak tau kenapa, kakiku malah berlari ke rumahmu, kenapa tanganku malah memelukmu tanpa permisi, kenapa tangisku pecah di pelukanmu. Aku tidak tau. Setelah itu, kau pasti sudah tau apa yang terjadi."
Genggaman Taehyung pada tangan Jungkook sedikit mengerat. Ia mengusap punggung tangan Jungkook dengan ibu jarinya, lalu berkata, "aku di sini."
Jungkook menoleh, menatap Taehyung dengan heran.
"Aku akan selalu berada di sini jika kau ingin mencurahkan semua isi hatimu. Aku di sini, Jeongguk-ah. Tidak perlu diam, tidak perlu menjauh. Dan kau tidak perlu takut. Karena aku ada di sini."
"Puitis sekali, ya," Ia tertawa ringan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung.
Taehyung ikut tertawa, "tapi aku serius."
"Aku tau, kok," Jungkook memejamkan matanya.
"Jangan bersedih lagi."
"Tenang saja," Tangannya balas menggenggam erat tangan Taehyung. "Aku sudah kembali."
"Kau juga, tenang saja. Aku akan selalu ada untukmu." Taehyung mengecup puncak kepala Jungkook.
Sedikit tersentak, Jungkook merasa jantungnya berdebar begitu keras. "Hyung—"
"Aku mencintaimu, Jeongguk-ah."
Jungkook terdiam. Jantungnya benar-benar berdebar sangat keras, sangat cepat. Perutnya terasa seperti dihinggapi beribu kupu-kupu. Sangat pelan, Jungkook membalas, "aku juga, hyung."
Saat itu Jungkook merasa senang, sangat senang. Namun ia tidak tau mengapa hatinya berdenyut sedikit nyeri di saat yang bersamaan.
"Apa kau tau? Di balik janjiku pada saat itu, aku menyimpan ketakutan yang teramat besar."
.
To Be Continued
.
One more 'bacotan' yaxD Mm, sorry aku ga bales review kalian satu-satu:" Aku bingung mau ngebales apa:" Tapi janji deh, di chapter ini semua review bakalan aku bales;v Andd, special thanks for: anna imelfishy | adhakey2309(satu requestnya udah terkabulkan yaa?xD Maaf baru bisa bikin full Vkook moment, tapi chapnya masih kurang panjang:" Otakku ngadat ehe/?_) | cllmearay(ihihi loveyousomuch kentangnim;* /?) | tae2kyung | nitanit | Hirahirama |cypher3001 | jungcocktrash
