Venezia


Pairing : Alan Humphries & Eric Slingby

Genre : Romance

Rating : M

Warning: Boys pairing. Read at your own risk.

Summary : Aku tidak peduli kita berada di mana. Aku hanya ingin kau berada di sisiku, selamanya...

Disclaimer : All characters belong to Toboso Yana-sensei.


Chapter 03

Alan melepaskan mantelnya yang basah dan menggantungkannya di dekat perapian agar cepat kering, sementara ia memutuskan untuk menyelesaikan laporan-laporannya sampai tiba waktunya untuk pulang.

Tak sengaja ditatapnya meja tempat Eric biasanya bekerja disebelahnya, yang membuat kerinduan kembali menyerangnya.

Ia tersenyum sedih.

Bagaimana ia bisa sampai jatuh cinta sebegitu dalamnya pada bekas gurunya itu?

Sementara kenangan-kenangan mereka kembali menghantuinya, Alan meraih lembar pertama dari tumpukan laporannya….

Awalnya, tidak ada cinta di antara mereka. Hari itu, Eric hanyalah guru yang ditunjuk untuk mengajari segala sesuatu tentang kehidupan shinigami mereka oleh William untuknya. Waktu itu ia hanyalah seorang shinigami muda yang sama sekali tidak punya pengalaman dan pengetahuan tentang hidupnya yang baru.

Karena mereka guru dan murid, mereka banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Eric mengajarinya bagaimana caranya mencabut nyawa manusia, menyimpan cinematic record, dan menyusun laporan-laporan manusia yang sudah dicabut nyawanya.

Di hari-hari pertama mereka bersama, rasa kagum dan hormat kepada shinigami yang lebih tua itu mulai bertunas dalam hati Alan. Rasa itu dirawat dengan baik, dipupuk dan disiram setiap hari, hingga tumbuh menjadi rasa senang.

Sebulan setelah mereka saling mengenal, Eric sudah menjadi teman baiknya. Alan sangat senang jika mereka menghabiskan waktu untuk makan malam bersama setelah mencabut nyawa sepanjang hari, atau bahkan hanya sekadar pulang bersamanya karena rumah mereka searah.

Rasa senang itu tumbuh menjadi rasa suka.

Awalnya Alan merasa bingung karena ia menyukai Eric. Selama ini ia memang suka pada Eric, tapi kali ini rasa suka itu berbeda. Sejak ia menyadari bahwa ia menyukai Eric, ia mati-matian menahan diri agar tidak menunjukkannya karena takut Eric akan menganggapnya aneh dan menjauhinya.

Dijauhi Eric, hal yang paling menakutkan baginya.

Ditutupinya rasa suka itu dengan hal-hal remeh yang tidak berarti, agar Eric dan shinigami yang lain tidak menyadari perasaannya. Apapun dilakukannya asalkan Eric senang, biarpun ia harus menanggung derita karena tidak bisa mengungkapkan rasa suka yang semakin subur berkembang di dalam dirinya.

Kadang-kadang Alan menumpahkan air matanya untuk melegakan rasa sakitnya ketika ia mandi di malam hari, agar butir-butir garam itu tersamarkan oleh air hangat yang mengalir. Kadang-kadang matanya basah ketika ia sudah akan tidur, sehingga ia terpaksa mengubur dirinya rapat-rapat di dalam lapisan selimut yang tebal agar suara tangisannya tidak terdengar oleh dunia luar.

Ia sungguh tidak tahu, sejak kapan rasa suka itu berbuah menjadi cinta. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.

Betapa sakitnya mencintai seseorang tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya….

Ia pernah hampir menyatakan cintanya kepada Eric, suatu hari, dalam perjalanan mereka ke rumah.

"Eric, aku…."

Eric menatapnya dengan ingin tahu, menanti kelanjutan kalimatnya.

Ia sudah berniat untuk memberitahu Eric bahwa ia sangat, sangat mencintai dirinya.

Belum sempat kata-kata itu meluncur dari bibirnya, bayangan Eric yang membenci dirinya dan menganggapnya aneh menghinggapi pikirannya.

"Ada apa, Alan?" Tanya Eric bingung. "Kenapa denganmu?"

Ketakutan yang amat sangat kembali menghantui dirinya, membuat tubuhnya gemetar hebat.

"Alan?"

"Ti, tidak ada apa-apa, Eric!"

Setelah itu, ia langsung berlari meninggalkan Eric menuju rumahnya. Ia semakin panik dan ketakutan ketika mendengar langkah kaki Eric yang mengejar di belakangnya, sehingga ia semakin menambah kecepatan dan berhasil mengunci pintu sebelum Eric sempat mendobrak masuk.

"Alan! Alan! Kau kenapa, Alan? Biarkan aku masuk!" teriak Eric dari balik pintu, kepanikan jelas terdengar dari suaranya.

Sementara itu di sisi lain pintu, Alan bersandar pada kayu dingin itu karena kakinya sudah tidak sanggup menahannya agar ia dapat berdiri tegak. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, menghadap ruangan yang gelap gulita. Dibenamkannya giginya ke kepalan tangannya agar suara tangisnya tidak terdengar, tanpa mempedulikan darah segar yang mengalir dari kulitnya yang robek. Air matanya bebas mengalir sementara tubuhnya gemetar keras, dikuasai teror bahwa Eric akan meninggalkannya kalau ia pernah mengetahui rasa yang demikian besarnya, yang membuatnya begitu menderita.

Dari balik pintu Eric masih memanggil-manggil namanya sambil menggedor pintu. Bagaimana pintu rumahnya tidak hancur waktu itu tetap menjadi misteri hingga saat ini.

Di sisi lain, air mata dan darah Alan terus mengalir. Bukan hanya fisiknya, hatinya pun ikut menangis dan terluka...

Entah berapa jam kemudian, Eric berhenti memanggil-manggil namanya. Berhenti menggedor pintunya. Sementara itu Alan tertidur di balik pintu, di antara ceceran darah dan air mata, dan tangisan yang terhenti karena dirinya terlanjur menggembara ke dunia mimpi.

"Alan Humphries."

Pena bulu yang dipegangnya sampai terjatuh saking terkejutnya. "W-William…."

"Kau sudah boleh pulang hari ini. Terima kasih untuk kerja kerasmu," kata William tanpa ekspresi, sebelum berbalik dan melangkah keluar dari kantor yang kosong itu.

Pandangannya kabur oleh air matanya, yang mengalir entah sejak kapan.

Alan merasakan wajahnya memanas. Ya ampun, William melihatnya menangis!

Dikeringkannya sisa-sisa air matanya dengan saputangannya, lalu dibereskannya laporan-laporan yang sudah selesai dan yang belum, sebelum ia mengambil kembali mantelnya yang kini sudah kering dan meninggalkan kantor itu.

Laporan terakhirnya dipenuhi bercak air mata dan tinta. Alan menghela nafas dan menutup pintu ruangan itu. Laporan itu jelas sekali harus dibuang dan diulangnya besok.