It All Begins and Ends with You

Disclaimer :

Eyeshield 21 punya Riichiro Inagaki-sama dan Yusuke Murata-sama. Nama-nama pemain & tim NFL, juga nama-nama lain (misal : nama senapan, nama universitas, dll) juga bukan milik saya dan hanya digunakan sebagai referensi. Yang saya punya cuma para OC dan plot cerita ini.

Pairing(s) : Hiruma x Mamori, Fem Sena x ?, dll

Warning :

OCs, OOC (Terutama Hiruma), Fem Sena, Manga & Anime spoiler (mungkin), typos, rambut Hiruma hitam (inspirasi dari fic 'The Black Hair Hiruma').

Rating : T (ada kemungkinan naik jadi M)


Chapter 3: On Deimon Square

.

YH-MA

"Mamo . . .?"

DEG!

Entah mengapa, Mamori merasakan kehangatan yang akrab menyapanya ketika ia mendengar pria itu memanggilnya 'Mamo'.

.

Mamori POV

'Apa?' batinku. 'Kenapa cara orang ini memanggilku terasa sangat akrab?'

"Umm, maaf. Apa . . . kita pernah bertemu?" tanyaku sopan.

" . . . Tidak," jawab pria itu singkat. Meski suaranya tenang, namun aku dapat melihat mata hijaunya itu berkilat kecewa mendengar pertanyaanku.

Aneh sekali. Kenapa rasanya pria ini sangat akrab? Mata hijaunya yang tenang, rambut hitamnya yang keren, wangi mint tubuhnya, sosoknya yang tinggi dan kurus, hingga suaranya yang kalem. Semua tentang pria ini membuatku merasa tenang dan hangat, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Bukan, bukan berarti aku tidak merasakan kehangatan dari keluarga maupun sahabatku, tapi rasa tenang dan hangat yang kurasakan ini lebih seperti kehangatan yang kau rasakan ketika kau bertemu lagi dengan seseorang yang sangat kau sayangi setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

Tanpa sadar, bibirku sudah siap untuk meluncurkan pertanyaan lain ketika aku mendengar Sena-chan berkata, "Eeh, Youichi-nii?"

Hiruma POV

Gadis yang kutolong tadi mengangkat wajahnya untuk memandangku. Aku sangat terkejut ketika mendapati mata biru safirnya menatap langsung ke mataku. Mata itu sangat kukenal. Ya, tidak salah lagi. Dia Mamori.

"Mamo . . .?" bisikku sangat pelan. Aku bisa melihat kedua mata birunya menampakkan sinar keterkejutan.

"Umm, maaf. Apa . . . kita pernah bertemu?" tanya gadis itu sopan.

Aku dapat merasakan kekecewaan menusuk hatiku. Dia tidak mengingatku. Gadis yang sangat kusayangi telah melupakanku. Aku ingin sekali memeluknya, mengingatkannya tentang semua kenangan yang sudah kami lalui. Ketika tubuhku hampir melaksanakan dorongan itu, bagian kecil dari hatiku malah menahannya, seolah mengatakan kalau waktunya tidak tepat.

" . . . tidak," tanpa sadar, bibirku bergerak sendiri mengucapkannya.

Mata biru gadis itu balas menatapku dengan keraguan. Tampaknya ia tidak terpancing oleh jawabanku. Tampaknya ia sudah akan mengajukan pertanyaan lain ketika aku mendengar suara lain yang kukenal memanggilku.

.

Normal POV

"Eeh, Youichi-nii?" sesosok gadis bertubuh mungil dengan rambut coklat sepunggung dan mata coklat besar yang ramah memanggil Hiruma.

"Chibi? Ngapain kau di sini?" tanya Hiruma balik.

"Aku ke sini mencari gaun untuk pesta dansa valentine di sekolahku tanggal 14 nanti. Youichi-nii sendiri sedang apa ke sini?"

"Cuma jalan-jalan biasa," jawab Hiruma singkat.

Rick, yang sedari tadi hanya menonton dalam diam, tiba-tiba berkata, "You recognize 'em, Satan?"

"Nope. Just one of 'em," jawab Hiruma yang tentu saja bohong.

"Youichi-nii?" tanya Mamori, Sara, dan Ako bingung. "Sena-chan, kau kenal cowok itu?"

"Uhm," kata Sena sambil mengangguk singkat. "Mm, sebenarnya kami baru kenalan tadi pagi," tambah Sena.

"Ketika aku sedang lari pagi, si Chibi ini muncul dari depan dan hampir menabrakku," sahut Hiruma.

Diam-diam, Sara berbisik pelan pada Sena, "Kyaa! Kenalkan dia ke kita, Sena-chan! Dia keren banget!" diikuti anggukan penuh semangat dari Ako.

Sena melirik Hiruma dengan ragu, tapi akhirnya ia tersenyum dan mengangguk pada Sara. "Eer, Youichi-nii?" panggil Sena.

"Hnn."

"Umm, kenalkan ini teman-temanku. Mamori-neechan, Sara-nee, dan Ako-nee. Teman-teman, ini Youichi Hiruma," kata Sena memperkenalkan mereka.

"Halo, namaku Sara Fuji. O genki deska, Hiruma-san," kata Sara. Hiruma tidak membalasnya. Hanya mengalihkan pandangannya ke arah Ako.

"Aku Ako Suetomo. Salam kenal," kata Ako, yang tentu saja tidak dijawab apa pun oleh Hiruma. Sekali lagi Hiruma mengalihkan pandangannya. Kali ini ke arah Mamori.

"Mm, watashi wa Mamori Anezaki desu. Yoroshiku ne, Hiruma-san," kata Mamori sambil membungkukkan badannya. Sama seperti sebelumnya, Hiruma tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Mamori lekat-lekat.

BLUSH!

Wajah Mamori merona merah akibat tatapan mata hijau Hiruma yang, mm, mempesona. Mamori ingin mengalihkan pandangannya, namun mata biru safirnya seolah terperangkap oleh pesona kedalaman iris hijau zamrud milik Hiruma. Hiruma sendiri tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap mata biru safir Mamori yang indah.

Ketika kedua insan itu sedang asyik tenggelam dalam dunia mereka berdua, tiba-tiba terdengar siulan pelan yang menyadarkan mereka berdua.

"Cih . . ." Hiruma mengalihkan pandangannya dan mendecih kesal, namun tetap stay cool. Dalam hati, Ia sudah merencanakan pembunuhan untuk Rick yang tadi bersiul.

Mamori sendiri tersentak ketika mendengar siulan itu. Ia menundukkan wajahnya yang sudah sangat merah. Sara dan Ako tersenyum jahil melihat tingkah sahabatnya sementara Sena hanya tertawa kecil.

"Ehm, kami mengganggu, ya, Mamo-chan?" tanya Sara jahil dengan memasang ekspresi bersalah yang tidak meyakinkan.

"Kami bisa mencari gaun bertiga saja, kok. Biar kamu di sini, berdua sama Hiruma-san," tambah Ako.

"Ka-kalian ini!" ujar Mamori salah tingkah dengan rona merah yang masih tampak di wajah cantiknya.

Sena masih tertawa kecil melihat tingkah nee-channya itu. Sebelumnya, Ia tidak pernah melihat Mamori salah tingkah seperti itu di hadapan seorang cowok. Apalagi Mamori dan Hiruma baru ketemu hari ini. Sena menoleh ke arah Hiruma, ingin melihat bagaimana ekspresinya. Hiruma terlihat kesal terhadap laki-laki di sebelahnya yang mengenakan grey hoodie dan jaket kulit hitam.

"Wow, I never thought that you could attracted to a girl that easy, Satan."

Hiruma mendelik ke arahnya. "Shut the fuck up, Frost. You saw nothing about this. Or else . . ."

"Or else what? Your little threat book won't work on me," ujar Rick. Tak sengaja, Ia menangkap tatapan Sena yang menatapnya dan Hiruma dengan penuh rasa ingin tahu.

"By the way, who's that girl who's lookin' at us now? You know her, right?" Tanya Rick pada Hiruma.

"Aah, her. She's the one I'm talking about this morning. The third player, Sena Kobayakawa," jawab Hiruma kalem.

"The hell? For real?"

"Yeah. That's her."

Rick menoleh ke arah Sena lagi, tatapannya seperti sedang menilai Sena dengan datar. Kemudian ia menoleh kembali pada Hiruma. "You really sure that's her?" tanya Rick memastikan.

"Duh, how many times I have to tell ya? Yeah, I'm 100% fucking sure, damn it," kata Hiruma.

Rick hanya menatapnya datar. "If you say so . . . Honestly, I'm a bit surprised, since it's this girl is the one you mean."

"Come on, Frost. You've already seen how Z's played all those old days. Why the hell you need to surprise?"

"Well," Rick melirik ke arah Sena yang sekarang menatap mereka dengan campuran bingung dan penasaran. "She's not Z's kind of girl."

Kali ini giliran Hiruma yang sekarang melirik ke arah Sena. "You're right. That Chibi's definitely not THAT kind of girl."

Sena yang mendengar percakapan antara Hiruma dan Rick sekarang makin bingung dan penasaran. Bukannya ia tidak mengerti bahasa Inggris, tapi levelnya cuma sampai sebatas percakapan yang mudah, sementara mereka berdua (Hiruma dan Rick) berbicara dengan cepat dan aksen yang kental. Kedengarannya Hiruma dan cowok itu sedang membicarakan tentang dirinya karena Ia sempat mendengar namanya disebut.

Sena kemudian mendatangi Hiruma dan Rick. "Youichi-nii, dia siapa?" tanyanya polos sambil berdiri di samping Hiruma.

Mendengar seniornya dipanggil 'Youichi-nii' oleh gadis itu, Rick menoleh ke arah Hiruma. "She's your sister?" tanya Rick.

Hiruma menggelengkan kepala. "Nope. I told her to call me that," jawab Hiruma singkat. Lalu Ia menoleh ke arah Sena. "Orang ini juniorku dari klub amefuto SMP-ku di Amerika dulu. Namanya Riku."

Rick hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar namanya dipelesetkan oleh Hiruma, namun Ia tidak protes.

Sena menoleh ke arah Rick. "Uum, hello Riku-san. My name is Sena Kobayakawa. Pleasure to meet you," katanya sopan sambil membungkukkan badannya. Rick hanya tertawa pelan melihat tingkah Sena yang menurutnya terlalu formal.

"The name's Richard Cody. Back in the States, everybody call me Frost, but I don't mind you call me that. My pleasure too, Kobayakawa-san," balas Rick.

"A-ano . . . just call me Sena, Riku-san. I'm more comfortable with it," kata Sena.

"If you say so, Sena-chan," sahut Rick sambil tersenyum kecil.

Wajah Sena memerah ketika melihat Rick tersenyum kecil ketika memanggil nama kecilnya dengan santai.

Kali ini, giliran Hiruma yang mengganggu mereka berdua. "Well, well, well. The once cold-blooded army boy is a flirt, now. Unbelievable."

"Tch, like hell I care. I'm not gonna fall in your trap, Satan. I know you too damn well, in the field and off the field," balas Rick.

" . . . Jadi, apa kalian bertiga juga satu sekolah dengan Chibi?" tanya Hiruma pada Mamori.

"Mm, iya. Kami berempat sekolah di Deimon. Hanya saja Sena-chan masih kelas satu, sementara kami bertiga kelas dua," jawab Mamori.

"Wah, kebetulan. Aku dan Youichi-san juga akan masuk Deimon mulai Senin besok," celutuk Rick.

"Eeh! Yang benar, Riku-san?" tanya Sena.

"Ya. Aku ke Jepang untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun ini. Kalau Youichi-san bilang dia bakal pindah dari Shinryuji ke sini, tapi entah alasannya apa," jawab Rick.

"Bosan dengan si dread sialan dan suasana di sana, plus aku ada urusan juga di sini," sahut Hiruma pendek.

"Dread sialan?" tanya Sena mengernyit. "Maksudnya Agon-nii?"

"Hee, jadi kau kenal si Dread sialan itu?"

"Mouu, jangan panggil dia seperti itu, Youichi-nii! Agon-nii dan Unsui-nii itu sepupuku!" jawab Sena sambil menggembungkan pipinya.

"APA?" teriak Hiruma keras, membuat orang-orang menoleh ke arahnya.

"Kau sepupu si Dread si-, Dread itu dan Unsui?" tanya Hiruma tidak percaya. Sena hanya mengangguk. Ia masih kesal pada Hiruma karena sepupunya dipanggil dengan sebutan kasar.

"Cih, nanti pasti si Dread itu bakal mulai cuap-cuap soal kau. Tch, merepotkan." kata Hiruma pelan.

.

Well I won't be caught living in a dead-end job

Or praying to a government guns and gods

And now it's us against them

We're here to represent

And spit right in the face of the establishment[1]

.

Tiba-tiba terdengar suara HP berbunyi. "Damn, itu HP-ku. Maaf, ya," kata Rick sambil menatap layar HP-nya. "Jean? What the hell she want?"

Rick langsung menjawab panggilan kakaknya itu. "Speak up, Jean."

"Humph! You can't be a little more polite to your own sister, can you?" Tanya Jean sebal. Adiknya itu memang akan bersikap menyebalkan kalau urusannya diganggu.

"Whatever. What's up, huh?"

"I just want to ask how my little brother is doing in Japan, but judging from your speaking, guess you're just fine 'till you receive my call. Anyway, how 'bout Grandpa? Is he fine?" Tanya Jean.

"Don't worry,he's fine. Still working on his cafe, but his fine. He missed his little 'Miss Jeanie', you know," jawab Rick sambil menggoda Jean.

"Shut up! And don't call me that!" seru Jean kesal.

"Why not, 'Miss Jeanie'? You still don't married to anyone, do you? Therefore, you're still technically a 'Miss'."

"Fine, whatever. And how 'bout Youichi's?"

"That devil's fine. He's about to show up in Deimon, too. Anyway, he's here with me. You wanna talk to him?" tanya Rick.

"Give him the phone."

Rick kemudian melempar HP-nya ke arah Hiruma yang menangkapnya dengan pandangan bertanya.

"Jean." jawab Rick pendek.

Hiruma kemudian mengangkat HP Rick ke telinganya. "Speak." perintahnya dalam bahasa Inggris.

"Konichiwa, Youichi!" seru Jean memakai bahasa Jepang.

"What do you want, huh?" And no need to use Japanese. Your speaking's suck."

"Humph, you're still as annoying as ever! I just want to ask you how you doing in Japan! And don't you mock my Japanese! I've learned it for a month since I know that Rick's going to Japan for the program!"

"I'm fine. I'm about to show up in Deimon High School, too. Too much heat in Kanagawa is killing me, and I got some business to settle up here. And I speak the truth. Your Japanese is suck, a lot."

"Urgh, you're still damn annoying devil as before! I thought Japan's gonna change your way!"

"You wish, Jean. I gotta go now. I'll call you later."

"Alright, take care yourself and watch Rick for me, okay? He's running in for at least six fights last year and almost killed one man if the cops didn't made it there in time. He's lucky they don't throw him to prison for the last case since the CCTV video shows that it was self – defense. Gezz, Uncle John's really taught him how to be a SEAL [2] with all those trainings he gave. Anyway, don't let him out of your sight, okay?" pinta Jean.

"You got it. Oh, yeah. Thanks for that wrist band. I love it."

"No big deal. I know that you're a Tom Brady fan, so I wanted to give you a little surprise. Nowgive the phone to Rick, will you?" perintah Jean.

Hiruma melempar HP Rick kembali pada pemiliknya. "I thought you had stop yourself from running into a fight," kata Hiruma pelan.

"It was self – defense," jawab Rick singkat. "What, Jean?"

"I want you to do me a favor," jawab Jean serius.

"Depends. What kind of favor?" Tanya Rick.

"One that you won't get yourself running into fights and troubles."

" . . ."

"Promise to me, Rick. Losing our parents is hard enough for me. I don't want to lose you, too."

bisik Jean pelan.

" . . ."

"Rick?"panggil Jean.

" . . . I promise." jawab Rick akhirnya.

"Alright, then. I gotta go. Take care yourself and Grandpa, okay?"

"Got it."

"Alright. Bye, Rick."

"Bye." balas Rick lalu mematikan HP-nya. Ia lalu memejamkan matanya dan menghela nafas pelan untuk menenangkan suasana hatinya yang sempat terombang-ambing ketika sang kakak menyebut tentang kedua orang tua mereka yang sudah lama meninggal.

Rick tidak pernah mengenal orang tuanya sejak kecil karena mereka meninggal dalam kecelakaan mobil ketika Ia masih berusia satu tahun. Rick sendiri hampir tidak bisa mengingat tentang kecelakaan itu. Yang Ia tahu, menurut cerita kakaknya, mereka sekeluarga sedang naik mobil menuju Houston untuk liburan musim panas ketika tiba-tiba sopir truk yang mabuk menerobos lampu merah dan menabrak mobil mereka dari samping. Mobil mereka terpental dan rusak parah. Kedua orang tua mereka meninggal dan Jean yang ketika itu berumur tujuh tahun harus dirawat di rumah sakit selama sebulan. Rick sendiri selamat berkat kursi bayinya dan bantal yang ia gunakan untuk tidur di dalam mobil melindunginya dari benturan. Sejak saat itu, Jean dan Rick dirawat oleh paman mereka, John, dan istrinya, bibi Claire.

Merasa lebih tenang, Rick membuka matanya dan bertanya kepada Hiruma, "Hei, Youichi-san. Kita pergi, tidak?"

"Hmm, benar juga. Sudah mau jam 10," gumam Hiruma.

"Eeh, kalian mau ke mana?" tanya Sena.

"Kami mau ke shooting range," jawab Rick.

"Shooting range?" kata Sena bingung.

"Itu tempat untuk latihan menembak, Sena-chan. Biasanya di toko senapan banyak menyediakan shooting range sebagai tempat bagi para pembelinya untuk menguji senapan yang mereka beli," jelas Mamori. "Tapi aku tidak tahu kalau di sini ada shooting range."

"Kenalanku memiliki toko senapan di sini. Letaknya di lantai paling atas, sama seperti bioskop. Hanya saja, tempatnya di belakang toko Apple. Kalian harus jalan lewat lorong di sampingnya yang memang jarang dilalui orang. Makanya hanya orang tertentu saja yang tahu kalau ada toko senapan di situ," kata Hiruma.

"Eeh? Tapi aku tidak pernah mendengar suara senjata api atau pun orang yang keluar membawa senapan dari lantai atas," kata Mamori bingung.

"Shooting range di toko itu dilengkapi fasilitas sound proof. Lagipula di sebelahnya ada jalan pintas menuju tempat parkiran. Biasanya orang mengunjungi toko ini paling akhir supaya tidak repot membawa senapan mereka di tempat umum, sekalian langsung pulang," jelas Hiruma.

"Ooh."

"Hei, bagaimana kalau kalian ikut kami saja ke shooting range? Kalian pasti belum pernah mencobanya, kan?" ajak Rick tiba-tiba.

"Eeh? Tapi-"

"Boleh saja! Kami ingin mencobanya!" perkataan Mamori keburu dipotong oleh Sara dan Ako.

"Eeh, Sara-chan, Ako-chan! Kita ke sini untuk membeli gaun baru, kan? Nanti tokonya keburu tutup!" bisik Mamori pada kedua sahabatnya itu.

"Ini baru jam sepuluh, Mamo-chan! Toko itu tutup jam setengah lima sore, kita masih ada waktu! Toh, kau juga pasti senang bisa sama-sama dengan . . . " balas Ako sambil melirikkan matanya ke arah Hiruma.

"Kau pasti senang bisa sama-sama dengan Hiruma-san," Sara menyelesaikan perkataan Ako ditambah seringai jahil yang ditujukan untuk Mamori.

Wajah Mamori kembali merona merah mendengar perkataan kedua sahabatnya. Seringai Sara dan Ako makin lebar melihat wajah sahabat mereka itu.

"Jadi, kalian ikut atau tidak?" suara Hiruma mengagetkan mereka bertiga. Tampaknya Ia bosan menunggu terlalu lama.

"E-ehm, i-iya," jawab Mamori gugup.

Diam-diam Hiruma tersenyum tipis mendengar jawaban Mamori, tapi langsung digantikan dengan poker face-nya yang biasa.

"Kalau begitu, ayo," ujar Hiruma datar sambil mulai berjalan. Rick, Mamori, Sena, Sara, dan Ako mengikutinya dari belakang.

.

End Of Chapter 3


Author note(s) :

Gomen, update-nya ngaret banget! Saya nggak punya alasan untuk diberikan kepada para Readers sekalian, jadi silakan kalau mau protes atau nge-flame (pasrah). Bikin satu chapter lamanya minta ampun, jadi juga belum tentu bagus (T_T). Mohon review-nya, minna-san!

.

[1] : Lirik dari lagu Underclass Hero by Sum 41. Lagu ini juga soundtrack-nya game Madden NFL 2008 dari EA.

.

[2] : US Navy SEAL (Sea, Air, and Land). Salah satu pasukan khusus terbaik di dunia dan bagian dari AL AS (US Navy/USN). Sejak pembentukannya (1962)

hingga sekarang, SEAL memiliki pengalaman tempur dari perang Vietnam (1960-an) hingga Afghanistan (Sekarang). Unit SEAL yang paling terkenal adalah

SEAL Team Six yang juga dikenal dengan USN Special Warfare Development Group (DEVGRU). Unit ini pula yang menjadi eksekutor operasi Neptune Spear yang

berujung pada tewasnya Osama Bin Laden 2 Mei 2011 lalu di sebuah rumah di Pakistan.