Author Note : Haloha! Chapter 4 telah tiba XD Aria gatau harus ngucapin apa nih disini selain maaf karena telaaaaaat update, banyak sekali godaan di dunia ini -.- #plak Aria coba memperpanjang chapter sebagai ucapan minta maaf… ternyata nulis chapter panjang itu gak gampang ya ._.lll Pokoknya selamat baca!

Disclaimer : Kayaknya sih udah pada tau ya soalnya gaada yang nanyain XD

Summary : Nyawa bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Betapa pentingnya arti sebuah nyawa bagi orang lain. Bersyukurlah kalian yang masih memiliki nyawa dengan utuh, karena ditempat lain, seseorang baru saja menyadari bahwa separuh nyawa nya telah diberikan demi menyelamatkan orang yang paling berharga baginya.

Words : 5.787

The Innocent Life

Chapter 4 : Flower Girl

Sudah sekitar dua minggu sejak Akasuna Sakura terbangun dari komanya. Selama dua minggu masa pemulihan, Sakura melakukan rehabilitasi ringan. Wajar saja, selama 10 tahun Ia tidak pernah menggerakkan tubuhnya sama sekali dan hal itu membuat tubuhnya kaku dan sulit digerakkan. Berkat bantuan rehabilitasi, akhirnya sekarang Sakura sudah mulai terbiasa menggerakkan tubuhnya kembali, tentu saja semua itu juga berkat bantuan dari Akasuna Sasori yang selalu menemaninya selama proses rehabilitasi.

Seperti hari-hari sebelumnya, di siang hari yang lumayan terik ini Sasori kembali menemani adik kembarnya yang sedang menyantap makan siangnya. Namun kali ini ada yang berbeda.

"Waaaaiiii! Akhirnya setelah dua minggu selalu makan makanan-lembut-aneh-rasanya itu sekarang Sakura bisa makan bento buatan Sasori-nii!" teriak Sakura girang sambil mengangkat kotak bento di tangannya tinggi-tinggi.

Sasori tersenyum tipis melihat kelakuan saudara kembarnya itu, melihatnya bahagia seperti itu tentu saja membuat dirinya bahagia juga. Baru saja tadi pagi Sakura diizinkan untuk memakan makanan lain selain bubur, dan atas keinginan Sasori sendiri Ia membuatkan bento untuk Sakura. "Bento ada untuk dimakan, Sakura. Bukan untuk diangkat dan diteriaki seperti itu."

"Ffffuuuuu…~ Biar saja Sasori-nii. Sakura sedang senang saat ini," balasnya sambil menggembungkan kedua pipinya, kebiasaan.

"Iya, iya. Cepat makan bento nya."

"Itadakimasu!" dengan semangat Sakura membuka kotak bento dari Sasori dan senyumnya semakin melebar saat melihat isi bento tersebut, "Waaaa… warna-warni sekali isinya. Dan ada apel berbentuk seperti kelinci, lucu sekali Nii-chan," Sakura memiringkan kepalanya ke arah Sasori, "Terima kasih banyak Sasori-nii!"

Ah, entah mengapa melihat senyum Sakura yang menyilaukan itu rasanya Sasori tidak mampu menatapnya lama-lama. Masalahnya Ia merasa wajahnya memanas, mana mungkin Ia mau menunjukkan wajahnya yang sedang seperti itu, maka Ia memalingkan wajahnya ke samping dan jari telunjuknya menggaruk sebelah pipinya canggung, "Unn…"

Sakura sudah membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap melahap tempura, namun seolah teringat sesuatu Ia kembali menatap kembarannya. "Oh iya, Sasori-nii sudah makan siang, kah?"

Yang ditanya menjawab dengan anggukan, "Ya, tadi di rumah setelah membuatkan bento aku sempat makan siang dulu." Setelah mendengar jawaban Sasori, Sakura langsung dengan mantap melahap tempura yang tadi sempat tertunda. Dan kegiatan makan siang pun berakhir dalam 15 menit.

SREEEK

Suara pintu geser ruangan 404 terbuka dan menampakkan sepasang suami-istri berusia sekitar akhir 30 atau awal 40, pasangan Akasuna sekaligus orang tua Sasori dan Sakura. Yang pria, Akasuna Haru, berambut merah dengan selingan rambut berwarna putih yang lumayan berantakan, dan mata coklat yang menyiratkan ketegasan. Sedangkan yang wanita, Akasuna Karen, berambut coklat muda yang sama-sama memiliki selingan rambut putih—tetapi lebih sedikit dibandingkan suaminya, dan mata indah bagaikan jade yang mengilap dengan pancaran kasih sayang.

"Sakura, dokter Tsunade bilang kau sudah boleh keluar rumah sakit besok sore," ucap Karen sambil tersenyum.

Mata Sakura membulat sempurna dan senyum lebarnya kembali mengembang di wajah manisnya, "Benarkah? Horeeee!"

Haru mendekat, menghampiri kasur Sakura dan menatap kedua anak kembarnya secara bergantian, "Sasori, malam ini tolong kau jaga adikmu ya. Otou-san dan Okaa-san akan mempersiapkan kamar untuk Sakura," kemudian Ia berbisik pada Sasori, "Sekalian membuat pesta penyambutan kecil-kecilan untuk adik kembarmu itu," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya usil. Sasori tersenyum mendengar ucapan ayahnya tersebut.

Setelah kedua orang tuanya meninggalkan ruangan, Sakura langsung mengoceh panjang lebar, "Huwaaaaa… akhirnya Sakura bisa keluar dari rumah sakit! Itu berarti Sakura sudah sehat, iya kan Sasori-nii? Sakura juga sudah bisa bergerak seperti biasa lagi, ingin rasanya cepat bermain di luar bersama Akatsuki!"

"Kau bersemangat sekali, Sakura," ucap Sasori sambil tersenyum tipis. Ya, sejak dua minggu Sakura sadar dari komanya, Akatsuki menjenguknya setiap hari pada minggu pertama. Bayangkan bagaimana berisiknya ruangan 404 setiap kali mereka datang. Atas saran, atau lebih tepat paksaan, dari Sasori akhirnya mereka hanya bisa mengunjungi Sakura seminggu tiga kali.

Sakura mengepalkan kedua tangannya dan berpose layaknya petinju, "Tentu saja, Nii-chan. Siapa yang tidak senang kalau bisa keluar dari rumah sakit yang makanannya tidak enak ini dan bisa bermain lagi di luar hehe…"

"Sudah, sudah, jangan terlalu banyak bergerak begitu. Onii-chan tidak mau kondisimu menjadi drop besok dan tidak jadi kembali ke rumah," kalimat Sasori dibalas dengan gembungan pipi Sakura.

"Tapi masa Sakura harus tidur terus seharian? Sakura tidak menga…huaaaam…"

"Lihat, kau mengantuk. Istirahatlah dulu," kemudian Sasori membantu Sakura untuk tiduran di kasurnya. Tidak lama Sakura pun tertidur nyenyak seperti bayi. Melihat wajah adik kembarnya yang sedang tertidur seperti itu selalu saja bisa membuat hati Sasori terasa nyaman dan tentram, meski sudah berkali-kali Ia melihatnya. Dengan catatan, tertidur, bukannya koma 10 tahun selama ini. Tentu saja koma dan tidur berbeda, bukan?

Pandangan matanya yang semula ada pada kelopak mata Sakura yang tertutup, perlahan berubah fokus menjadi ke arah dahi lebar Sakura. Entah karena dorongan apa, dengan lembut Sasori menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi dahinya. Perlahan tapi pasti Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura sampai sisa jarak diantara keduanya tinggal 5 cm, Sasori terdiam sebentar, merasakan wajahnya memanas lalu kembali memajukan wajahnya. Akhirnya bibir Sasori mencium lembut dahi Sakura dengan penuh kasih sayang, setelah itu Ia pun kembali menarik wajahnya.

Sela beberapa detik Sasori masih terpaku menatapi adik kembarnya, "A—apa yang baru saja kulakukan?" pikirnya dalam hati. Ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam, "Kurasa… sekali-sekali tidak apa-apa… mungkin?" apakah ini perasaan yang wajar dirasakan oleh seorang kakak kepada adiknya? Entahlah Sasori pun tidak mengerti, yang jelas dorongan untuk mencium dahi Sakura tadi sangatlah kuat.

"Ehem!" setelah mencoba untuk memfokuskan kembali pikirannya, pria berambut merah itu pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana jeans nya. Melirik gadis yang baru saja Ia cium keningnya sekali lagi, Sasori pun memutuskan untuk berjalan menuju teras kamar 404 dan membuka flip ponsel nya.

To : Deidara

Subject : Aku minta tolong

Deidara, aku mau minta tolong padamu dan Akatsuki. Besok sore Sakura boleh keluar dari rumah sakit dan rencananya keluargaku akan membuat pesta penyambutan kecil-kecilan. Kalian bisa hadir?

Setelah mengirimkan pesan tersebut, Sasori menyandarkan punggungnya pada pintu kaca dan menatap pemandangan kota. Dari teras ini Konoha Senior High School, tempat Sasori menuntut ilmu, dapat terlihat. Senyum Sasori mengembang mengingat kemarin Sakura dengan semangatnya berkata bahwa Ia ingin cepat bersekolah disana bersama dirinya.

Merasa ponselnya berdering tanda adanya telepon masuk, Sasori kembali membuka flip ponselnya. Belum sampai di telinga, sudah terdengar teriakan seseorang dari sebrang sana.

"SASORI! Kau tiba-tiba mengirimiku pesan bahwa Sakura akan keluar rumah sakit, apa itu benar, un?" siapa lagi kalau bukan si lelaki pirang berkucir alias Deidara.

Setelah merasa teriakan Deidara mereda, Sasori mendekatkan ponselnya ke telinganya, "Jangan teriak, bodoh! Sakura baru saja tertidur tadi."

"Ah, iya. Maaf, un," balasnya sambil setengah berbisik.

Menghembuskan nafas sekali, Sasori pun menjawab pertanyaan sahabatnya tadi, "Mana mungkin aku berbohong. Besok sore Sakura benar akan keluar dari rumah sakit."

"Wah! Konan pasti akan senang mendengar berita ini, un. Aku pun yakin Akatsuki yang lainnya akan sama gembiranya sepertiku," jawabnya antusias.

"Maka dari itu, besok pagi bisa ke rumahku? Bantulah orang tua ku mempersiapkan pestanya. Aku tidak bisa membantu mereka, aku harus menjaga Sakura disini."

"Hehe…" Sasori yakin saat ini sahabat blonde nya itu pasti sedang mengacungkan kedua jarinya membentuk V, "Serahkan saja pada Akatsuki!"

Tanpa sadar, Sasori menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Terima kasih." Kemudian sambungan pun terputus.

Tanpa terasa waktu pun berlalu dan sekarang jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.48. Suasana rumah sakit semakin sepi, yang terdengar hanyalah samar-samar suara klakson mobil, suara seseorang yang sedang minum, dan suara televisi yang sedang menyiarkan acara komedi. Baru saja Sasori dan Sakura selesai memakan bekal yang dibuatkan oleh ibu mereka, dan saat ini Sakura sedang menonton televisi yang terletak di sebrang kasurnya.

"Onii-chan, lihat itu lihat! Kepalanya botak begitu, hahaha…" ucap Sakura sambil menunjuk-nunjuk layar televisi dengan jari telunjuknya. Suara tawanya lepas sekali, ini memang acara komedi kesukaan Sakura sejak dua minggu yang lalu.

Sasori menarik kursi untuk duduk disamping kasur Sakura dan menemaninya menonton acara komedi tersebut. Saat iklan menyelingi acara tersebut, Sasori melirik jam dinding dan menepuk-nepuk ujung kasur Sakura dengan lembut, "Lihat jam, Sakura. Sudah hampir pukul 9 malam, saatnya kau istirahat."

Sakura menendang selimutnya sampai ke ujung kasur, "Tidak mau! Sakura masih mau menonton acara ini, Onii-chan. Om om botaknya belum berhasil menemukan obat penumbuh rambut…" balasnya sambil menggembungkan pipinya seperti biasa. Benar-benar kebiasaan.

Melihat kelakuan adik kembarnya tersebut, Sasori tidak bisa menghentikan dirinya untuk menghela nafas, "Dengar ya, Sakura. Besok kan kau akan keluar dari rumah sakit, usahakan saat penge-cek-an terakhir kondisimu prima," melihat tatapan Sakura yang tidak berubah Sasori pun mendapatkan sebuah ide, "Onii-chan janji, besok Sakura pasti akan bertemu dengan om om botak yang lebih tampan daripada yang ini."

Wajah Sakura kembali cerah, senyumnya mengembang sambil menunjukkan jari sebelah jari manisnya pada Sasori, "Benarkah? Janji ya, janji ya Onii-chan!"

"Jangan bilang kau memiliki ketertarikan pada om om botak, Sakura…" balas Sasori sambil menatap adiknya dengan tatapan aneh.

"Tentu saja tidak!" teriaknya dengan penuh emosi. "Ayo Onii-chan lakukan Pinky Swear dengan Sakura supaya Onii-chan tidak bohong besok." Sasori pun menautkan jari kelingkingnya dengan milik adiknya, "Oke, kalau begini Sakura tidak takut Onii-chan akan berbohong." Dasar anak ini, memangnya kapan seorang Akasuna Sasori pernah berbohong?

Setelah Sakura berbaring di kasurnya, Sasori menarik selimut yang tadi ditendang untuk menutupi Sakura sampai dagunya, "Istirahatlah, Sakura," ucapnya sambil mengelus-elus puncak kepala Sakura lembut.

"Umm... Sasori-nii tidur dimana?"

"Di sofa, seperti biasa. Ada apa?" tanya Sasori.

"Aa… etto… Onii-chan," Sakura menutupi wajahnya dengan selimut, "bisa disini dulu sampai Sakura tidur? Aa—itu maksudnya… err… etto…"

Sasori meraih sebelah tangan Sakura dan menggenggamnya lembut, "Onii-chan paham. Tidurlah, besok akan jadi hari yang melelahkan untukmu."

Muncul sedikit warna pink dari balik selimut, "Kenapa melelahkan? Bukannya menyenangkan?"

"Tidur saja, lihat sendiri besok," lalu Sakura pun tertidur hanya dalam hitungan detik.

Sasori memerhatikan tangannya yang sedang menggenggam tangan adik kembarnya tersebut. Rasanya sudah lama sekali. Jangan tanya kapan terakhir kali Ia menggenggam tangan mungil yang lembut ini, Ia sendiri tidak mengingatnya. Yang jelas itu sudah lama, lama sekali, lebih dari 10 tahun yang lalu. Ah, kalau dipikir-pikir, saat mereka berusia 5 tahun pun jarang sekali Sasori menggenggam tangan adiknya seperti ini. Setiap kali mereka jalan bersama, Sasori selalu berjalan di depan Sakura dan tidak mau menggandeng tangannya, dan sekarang Ia menyesalinya. Kenapa penyesalan selalu datang belakangan?

Setelah menghela nafas, yang lumayan berat, tiba-tiba Sasori memikirkan hal lain. Setelah 10 tahun menunggu, akhirnya Sakura bisa kembali sadar dari komanya. Sejujurnya Ia masih belum bisa memercayai hal ini. Rasanya ini tidak masuk akal. Tidak, bukan berarti Sasori tidak mensyukurinya, justru sebaliknya. Ia sangant bersyukur dan berterima kasih pada Kami-sama yang telah memberikannya dan adiknya kesempatan kedua.

Tapi… sebenarnya ruangan serba putih itu apa? Ruangan, atau bahkan dunia, yang dipenuhi cahaya putih menyilaukan dimana Sasori mendengar suara seseorang—atau sesuatu. Suara siapa itu? Bagaimana bisa suara itu benar-benar membuat Sakura tersadar dari komanya? Suara itu juga berkata untuk menghilangkan penyesalan Sakura. Apa maksudnya itu? Dan lagi kalau tidak salah dengar, suara itu mengatakan bahwa dirinya akan mengambil 'sesuatu' darinya dan Sakura. Apa yang sebenarnya diambil? Sejauh ini Sasori tidak merasa ada yang diambil. Ukh, rasanya semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan tak terjawab yang membuat kepalanya sakit.

Tanpa terasa setelah terlarut dalam pikirannya sendiri, Sasori pun tertidur di kursi sebelah kasur Sakura sambil tetap menggenggam tangannya.

Location : ?

Mata Sasori kembali terbuka dan menemukan dirinya lagi-lagi berada di dunia serba putih, sama seperti waktu itu. Dengan segera Ia berdiri dari posisi tidurannya semula dan mengedarkan pandangan ke seluruh wilayah yang dapat Ia lihat. "Ada apa lagi ini?" geramnya dalam hati.

"Akasuna Sasori," suara yang sama seperti waktu itu terdengar lagi, "aku yakin kau mempunyai banyak sekali pertanyaan di otak kecilmu itu," tapi rasanya suara ini agak berbeda. Terdengar lebih… santai? Tidak se-serius saat pertama kali Ia mendengarnya.

Tidak menghiraukan hal sepele itu, Sasori pun menjawab dengan membentak, "Ya! Tentu saja banyak sekali pertanyaan di otak kecilku ini! Maka dari itu tunjukkanlah sosokmu, hei!"

Setelah hening beberapa saat, terdengar suara hembusan nafas, "Huft… kau tidak perlu membentak seperti itu, Akasuna Sasori-san. Padahal sudah susah-susah kupanggil kau kesini, kau kira ini tidak mengabiskan tenagaku apa?"

"Kh, jangan mempermainkan aku. Tunjukkan dirimu sekarang!"

Tiba-tiba muncul seperti sekumpulan asap di hadapan Sasori dan… 'PLOP'.

Sasori ternganga melihat apa yang muncul dari balik asap tersebut. Apa benar makhluk kecil itu adalah suara yang Ia dengar tadi?

Asap tersebut perlahan-lahan menghilang dan menampakkan sosok kecil berukuran sekitar seukuran kepala orang dewasa. Sosok kecil tersebut berambut pirang panjang sampai ke lutut yang diikat ponytail dengan sebuah bunga Camellia putih sebagai hiasan kepalanya, bermata hijau-kebiruan yang besar, dan berpakaian one-piece tanpa lengan berwarna putih polos. Secara keseluruhan makhluk ini lucu, tapi… makhluk apa itu?

"Huft… sudah kuduga pada akhirnya aku harus mememperlihatkan wujudku," gumam makhluk kecil itu. Suaranya terdengar kekanakan, sangat jauh dari yang Ia dengar sebelum-sebelumnya.

Mata Sasori hanya mengedip-ngedip perlahan tanpa henti, jelas sekali saat ini Ia sedang kebingungan—ralat, sangat kebingungan. Melihat ekspresi Sasori yang aneh, makhluk kecil itu kembali bicara.

"Hei, sekarang aku sudah menunjukkan wujud asliku dan kau hanya diam begitu? Tidak sopan ya pada seorang Lady," lalu makhluk itu pun melipat kedua tangannya di depan dada.

1 detik… 2 detik… 3 detik… "A—apa-apaan ini? Bagaimana bisa? Kau ini sebenarnya apa?" Sasori bertanya dengan tidak sabaran. Siapa yang bisa menyalahkannya kalau tiba-tiba saja muncul makhluk aneh yang beberapa minggu lalu mengancam nyawa adikmu?

"Huft… seharusnya kau menyebutkan namamu dulu sebelum menanyakan nama orang lain. Yah, lagipula aku sudah tahu namamu." Lalu makhluk itu pun menyimpan kedua tangannya di pinggangnya, "Namaku Sena, dan aku adalah salah satu dari sekian juta 'roh penjaga anak kembar'."

Sasori masih menatap makhluk itu—Sena, dengan tatapan tidak percaya, "Ha?"

"Jangan menatapku seperti itu."

"Biarkan aku menenangkan diri sejenak," ucap Sasori kemudian Ia berjalan menjauh dari Sena dan duduk bersila. Sena menatap tajam ke arah Sasori namun membiarkannya menenangkan diri terlebih dahulu.

Lima menit pun berlalu dan kesabaran Sena mulai habis, "Hei Akasuna Sasori-san, mau sampai kapan kau duduk disana?"

"Aku masih tidak memercayai ini. Terlalu banyak hal aneh disini…"

Sena datang menghampiri Sasori dan memukul kepalanya dengan keras, "Maka dari itu aku disini! Aku kan memanggilmu untuk menjelaskan segalanya." Karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, Sasori pun hanya menatap Sena, menandakan bahwa Ia akan mendengar.

Sena pun mengambil nafas dalam-dalam dan menghemembuskannya sekaligus, "Huft… biar ku ulang, namaku Sena. Aku adalah roh penjaga anak kembar yang ditugaskan untuk menjaga Akasuna Sasori dan Akasuna Sakura. Tugas kami adalah memastikan agar anak kembar selalu terhubung. Banyak kejadian anak kembar bisa telepati, kan? Itu juga salah satu tugas kami. Pasti kau bertanya mengapa anak kembar memiliki roh penjaganya, bukan? Yah, bagaimana pun anak kembar itu spesial, selalu ada hal unik diantara mereka, maka dari itu roh penjaganya satu berdua. Oh iya, manusia yang bukan kembar pun memiliki roh penjaganya, lho. Tapi tugas kami tentu saja lebih berat," Sena terus berbicara panjang lebar, tidak peduli tampang Sasori yang sudah seperti orang depresi berat.

"Stop!" Sasori mengangkat sebelah tangannya ke udara, "Setidaknya jelaskan pelan-pelan supaya aku mengerti. Apa-apaan penjelasanmu tadi? Tidak masuk akal sama sekali."

"Huft… setidaknya bagian pembuka sudah ku ucapkan semua. Silakan kalau kau masih ada pertanyaan."

Tatapan tajam pun mengarah ke Sena, "Banyak sekali pertanyaan di otakku ini. Tapi pertama-tama biar kutanya ini. Apakah kau yang pertama kali memanggilku waktu itu dan mengancam akan mengambil nyawa Sakura?"

"Benar."

"Tapi kenapa suaramu berbeda sekali?"

"Waktu itu aku hanya mengubah suaraku saja, supaya lebih meyakinkan, mungkin?"

"Aku masih tidak mengerti… baiklah selanjutnya. Kenapa kau mengancam akan mengambil nyawa Sakura jika kau benar adalah roh penjaga. Bukankah itu tugas roh atau Dewa Kematian?"

"Huft… biar kuberi tahu satu hal. Kau itu beruntung."

"Maksudmu?"

Sena kembali melipat kedua tangannya di depan dada, "Kau dan Sakura-san adalah manusia pertama yang pernah diberi keringanan macam ini."

"Ha?"

"Berhenti bertingkah seperti itu! Menyebalkan!" teriak Sena, "Huft… aku hanya tidak tega melihatmu yang tersiksa dan menyesal atas keadaan Akasuna Sakura-san. Seharusnya Sakura-san benar-benar meninggal waktu itu, tapi aku melakukan penawaran dengan Dewa Kematian. Kau harus tahu, dia sangat mengerikan."

Sasori langsung berdiri karena terkejut mendengar kalimat tersebut, "Penawaran? Maksudmu?"

"Ya, penawaran supaya Sakura-san bisa tetap hidup. Tapi tentu saja itu tidak gratis, makanya aku bilang aku akan mengambil 'sesuatu' dari kalian. Yang berarti itu adalah bayaran yang diminta dari Dewa Kematian."

"'Sesuatu' itu… sebenarnya apa?" tanya Sasori gugup. Siapa yang tidak gugup kalau harus berurusan dengan Dewa Kematian, kan?

"Bagaimana pun nyawa Sakura-san harus tetap diambil hari itu. Maka penawaranku adalah untuk membagi nyawamu untuk Sakura-san," kali ini suara Sena terdengar lebih serius daripada sebelum-sebelumnya.

"Membagi…? Nyawaku? Apa maksudnya itu?" tangan Sasori sudah mengacak-acak rambut merahnya yang sejak awal memang sudah berantakan. Sejak kapan nyawa bisa dibagi-bagi?

"Huft… Dewa Kematian menyetujui permohonanku dan akhirnya Ia mengambil satu perempat nyawamu untuk diberikan pada Sakura-san. Dan tentu saja itu berarti nyawamu tinggal tiga perempat nya lagi."

"Kenapa nyawa bisa dipermainkan seperti itu? Dan sejak kapan nyawa dalam bentuk satuan? Kau tidak sedang bercanda, kan?" bukannya Sasori tidak senang mengetahui nyawanya digunakan sebagian untuk adik kembarnya, tapi bukankah nyawa itu tidak bisa dipermainkan?

"Huft… candaan macam apa yang bisa membawamu masuk ke dimensi lain?" balas Sena sedikit emosi. Tidak bisakah anak berambut merah ini memercayainya? "Kami tidak mempermainkan nyawa. Dan ini pertama kalinya hal ini dilakukan. Sebenarnya ini dilarang sih, kukira awalnya ini takkan berhasil," ucap Sena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambut pirangnya bergoyang mengikuti gelengan kepala.

"Lalu apa yang akan terjadi pada Sakura? Maksudku, nyawanya kan hanya ada satu perempat dari milikku. Apa ada efek sampingnya?"

"Huft… karena kau masih memiliki lebih dari setengah nyawa, maka tidak akan ada efek samping padamu. Tapi, karena Sakura-san hanya memiliki satu perempat nyawa…" kalimat Sena terhenti sebentar, "kau akan mengetahui sendiri apa itu efek sampingnya. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu, Dewa Kematian merahasiakan ini dariku sebagai salah satu bayaran yang Ia minta."

"Ck, begitu kah. Tapi aku tidak peduli. Apa pun yang terjadi aku akan selalu melindungi Sakura," kemudian Sasori membungkukkan badannya kepada Sena, "Dan terima kasih padamu, Sena-san. Berkat bantuanmu aku jadi memiliki kesempata kedua. Aku tidak tahu bagaimana caraku berterima kasih."

Sena panik saat melihat Sasori membungkukkan badannya, "E—eh, Sasori-san kau tidak perlu seperti itu! I—ini hanya karena aku kasihan pada kalian ya, bukan karena hal lainnya!"

Sasori pun kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Sena dengan tatapan serius, "Meski sebenarnya aku masih belum bisa menyerap dan memercayai semua informasi dadakan ini. Terlalu banyak yang aneh terjadi dalam satu malam."

"Begitulah hidup. Penuh misteri, terima dan percaya saja. Mana mungkin seorang Lady Sena berbohong."

"Sekali lagi kuucapkan terima kasih."

Sena tersenyum manis sambil melambaikan tangannya ke arah Sasori, "Kalau kau benar-benar berterima kasih, jangan kau sia-sia kan kesempatan ini. Jagalah Sakura-san dan selesaikan lah misimu," kemudian tubuhnya perlahan-lahan menghilang, "Huft… tenagaku sudah habis. Saatnya berpisah, dan tolong rahasiakan ini dari siapa pun ya, Sasori-san."

Dengan begitu dunia putih itu pun menghilang dari pandangan mata Akasuna Sasori.

Location : Konoha Hospital inside room 404

Gadis berambut merah muda itu tampak berusaha membuka kedua matanya yang berat karena masih mengantuk, namun cahaya matahari yang menyinarinya membuat gadis musim semi tersebut tidak bisa kembali menikmati tidur pulasnya. Mimpi indahnya tentang Onii-chan nya benar-benar menggoda untuk kembali dilanjutkan dan menolak bangun.

Setelah menggeliat pelan di kasurnya, Sakura pun mencoba duduk dan mengusap-usap mata kirinya dengan sebelah tangan. Rasanya tangan kanannya berat… saat mencoba untuk melihat apa yang membuat tangan kanannya berat, Sakura terkejut menemukan kakak kembarnya sedang tertidur di kursi samping tempat tidurnya sambil menggenggam tangan kanannya erat dengan kedua tangan sang kakak yang dilipat di atas kasur.

Setelah sekian tahun, Sakura akhirnya bisa kembali melihat wajah tidur sang kakak. Selama Sasori menginap di kamar 404 Ia selalu bangun terlebih dahulu, jadi Sakura tidak pernah mendapat kesempatan langka seperti ini.

"Lucky!" pikir Sakura saat ini.

Iseng, Sakura menyentuh pipi Sasori dengan lembut. Ia terus memaju-mundurkan tangannya untuk menyentuh pipi Sasori. Tidak, Sasori tidak memiliki pipi yang chubby, tapi tetap saja wajahnya yang baby face sangat mengundang siapa pun untuk menyetuhnya, kan? Ah, betapa beruntungnya Sakura saat ini.

Sakura keasyikan dengan kegiatannya, sampai Sasori mulai mengerang pelan tanda bahwa Ia akan terbangun. Dengan segera Sakura menarik tangan kirinya.

"Selamat pagi, Sakura," ucap Sasori yang masih setengah tertidur.

Wajah Sakura memerah melihat Onii-chan nya seperti itu, "A—aa… selamat pagi, Sasori-nii," malu sekali kalau Ia sampai ketahuan tadi sedang memainkan pipi kembarannya. Bisa-bisa Sasori semakin membencinya… dan Sakura tidak menginginkan hal itu.

Sasori celingukan mencari jam dinding, dan melihat sekarang sudah pukul 07.15 Ia pun berdiri dan merenggangkan tubuhnya seperti seekor kucing. "Mimpiku panjang sekali tadi malam…" gumamnya.

Sakura memiringkan kepalanya, "Wah! Apakah Onii-chan masih ingat mimpinya? Sakura mau dengar!"

"Err…" mengingat kalimat Sena maka Sasori pun menggelengkan kepalanya, "Sayangnya nii-chan tidak ingat dengan jelas." Aah… rasanya Ia bersalah sekali telah berbohong pada Sakura, tapi mau bagaimana lagi…

Sakura memerhatikan kakak kembarnya yang berjalan menuju lemari kecil tempat Ia biasa menyimpan pakaian gantinya, "Onii-chan mau madi?"

"Hm? Tentu saja."

"Sudah lama Sakura tidak mandi bersama nii-chan. Sakura mau mandi bareng, boleh?" tanya Sakura dengan polosnya.

Waktu seolah terhenti sejenak. Wajah Sasori pun memerah seolah menyaingi warna rambutnya, "Sa—Sakura apa maksud kalimatmu tadi? Kita su—sudah SMA, tahu!" Oh betapa paniknya Ia saat ini.

Disaat kakak kembarnya panik seperti itu,Sakura tampak santai dan memiringkan kepalanya, "Kenapa? Memangnya kalau sudah SMA kenapa?" Sakura menatap langit-langit kamar seperti sedang menerawang, "Padahal kan dulu Sakura pernah mandi sama Onii-chan."

Rasanya seperti ada batu yang terlempar ke kepalanya. Betapa bodohnya Sasori, tentu saja Sakura tidak mengerti. Otak dan pola pikir Sakura kan layaknya seorang anak berusia 5 tahun! Pantas saja Sakura tidak mengerti maksud kalimat ambigunya tersebut. Sepertinya Ia harus mendidik adiknya dari nol lagi.

"Ya, nii-chan, ya?" secara otomatis Sakura mengeluarkan tatapan puppy eyes mautnya. Untung saja Sakura tidak pernah memanfaatkan tatapan itu untuk kepentingan sendiri, kalau iya, Sasori tidak akan pernah bisa berkata 'tidak' padanya.

Untuk menghindari tatapan maut tersebut, Sasori pun memalingkan wajahnya dan melangkah cepat ke arah kamar mandi, "Pokoknya ku bilang tidak boleh, ya tidak boleh!" kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras karena gugup.

Sakura menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup tersebut, perasaan apa ini? Rasanya dadanya tidak enak… Sakura menundukkan kepalanya. Memang dulu waktu mereka masih kecil pun Sasori bisa dibilang jarang mandi bersama dengannya karena alasan yang sampai sekarang belum Ia ketahui. Mungkin karena rasa benci itu?

Untuk sedetik tadi Sakura berharap Onii-chan nya akan mengijinkannya mandi bersama, karena perlakuan Sasori pada dirinya jauh lebih baik dibandingkan dahulu. Tapi rupanya, tingkat kebencian Sasori masih jauh, jauh, jauh lebih besar dibanding perkiraannya.

Setelah mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, Sakura kembali menegakkan posisi duduknya dan menepuk kedua pipinya, "Sakura, Sakura, jangan berburuk sangka," kemudian Ia tersenyum miris, "Onii-chan sudah sangat baik padamu, Sakura, jangan menyusahkan Onii-chan terus," ucapnya menyemangati diri.

Location : Inside a taxi

Saat ini kedua anak kembar Akasuna sedang didalam sebuah taxi menuju ke rumah mereka. Langit sudah berubah warna menjadi agak oranye saat Tsunade selesai mengecek ulang keseluruhan kondisi Sakura dan menyatakan bahwa Sakura sudah sehat sepenuhnya. Betapa senangnya Sakura saat itu dan langsung refleks memeluk Sasori, tentu saja Sasori turut senang mendengar kabar tersebut.

Di dalam taxi mereka berdua tampak sedang berbincang-bincang ringan dan diselingi tawa, tawa dari pihak Sakura tentunya. Meski respon Sasori hanya tersenyum, itu lebih dari cukup bagi sang adik. Kedua orang tua mereka tidak bisa menjemput dengan alasan masih sibuk men-dekorasi kamar anak bungsu mereka.

"Onii-chan tidak akan membohongi Sakura, kan?" tanya Sakura sambil melirik pria berambut merah di sampingnya.

"Hm? Bohong apa?"

Sakura menggembungkan pipinya seperti biasa, tanda bahwa dirinya sedang sebal, "Om-om botak itu lho! Onii-chan kan sudah janji pada Sakura kalau hari ini Sakura akan bertemu dengan om-om botak tampan menggantikan acara tadi malam."

Sasori melemparkan pandangan ke jalanan yang cukup padat karena sudah jam pulang kantor, "Ah, semoga saja om-om botaknya ada."

"Harus ada! Kemarin sudah Pinky Swear lho sama Sakura. Masa mau berbohong?" terdengar nada kecewa di kalimatnya.

Mendengar nada kecewa dari adiknya, maka Sasori pun kembali menatap Sakura, "Iya, iya. Onii-chan janji," ucapnya sambil mengusap-usap puncak kepala Sakura. Mendengar jawaban Sasori, maka Sakura pun kembali tersenyum cerah sambil menutup kedua matanya.

Selama sisa perjalanan pun dihabiskan dengan Sakura yang sibuk berceloteh mengenai berbagai macam hal pada boneka kelinci putihnya, Usagi-chan. Meski sudah 10 tahun, boneka itu masih tampak putih bersih karena Sasori selalu merawatnya. Bukannya Sasori hobi mengurus boneka, tapi itu Ia lakukan demi adiknya jika suatu hari nanti bangun dari komanya.

Sasori duduk diam sambil dagunya bertumpu pada sebelah tangannya dan menatap ramainya jalanan sore hari. Meski matanya menatap ke arah keramaian lalu lintas, tapi pikirannya berada di tempat lain. Pembicaraannya dengan Sena kembali berputar di otaknya.

"Kalau kau benar-benar berterima kasih, jangan kau sia-sia kan kesempatan ini. Jagalah Sakura-san dan selesaikanlah misimu."

"Misi ya… misi untuk menghilangkan penyesalanku dan penyesalan Sakura," Ia menatap pantulan adiknya dari jendela mobil, "Penyesalan Sakura itu… apa?"

Perhatiannya teralihkan ketika supir taxi memanggilnya, "Tuan, kita sudah sampai di tempat tujuan Anda."

Si kembar Akasuna pun turun dari taxi setelah Sasori memberikan beberapa lembar uang kertas pada sang supir. Bawaan mereka tidak banyak, hanya tas sekolah Sasori yang berisi pakaian kotor kemarin, dan Sakura hanya memeluk Usagi-chan di depan dadanya dengan erat.

Mata Sakura melebar ketika melihat rumahnya dari dekat, "Huwaa… tidak berubah sama sekali! Kecuali rasanya dulu rumah ini lebih tinggi."

"Tentu saja, kau sudah bertambah tinggi sekarang, Sakura. Ayo masuk," ajak Sasori sambil menunjuk pintu depan rumahnya dengan senyum usilnya. Eh, perasaan Sakura sedikit tidak enak setiap kali kakaknya tersenyum seperti itu.

Mengabaikan perasaan itu, Sakura pun dengan mantap melangkahkan kakinya dan membuka pagar rumah, kemudian memutar kenop pintu rumah. "Sakura pu—!"

"SELAMAT DATANG KEMBALI, SAKURA-CHAN! (un)" terdengar suara teriakan dari sana-sini.

Mata emerald sakura membulat dan mulutnya terbuka lebar melihat apa yang ada di hadapannya. Okaa-san dan Otou-san menyambut kepulangannya, bahkan Akatsuki ada disini! Seluruh anggota Akatsuki!

"Sakura-chan! Aku sangat merindukanmu!" teriak seorang gadis berambut biru dengan hiasan bunga berwarna putih di kepalanya dan langsung memeluk Sakura erat tanpa ampun.

"Ko—konan senpai!" pekik Sakura.

"Wah, Tobi juga mau ikut pelukan! Karena Tobi anak baik!" kemudian Tobi pun memeluk Sakura dan Konan sekaligus. Namun sedetik kemudian kerah bajunya ditarik oleh seseorang, menjauhkannya dari kedua gadis tersebut.

"Jangan kau peluk Konan," suara berat Pein cukup membuat Tobi merengek minta maaf dan berjanji takkan mengulanginya lagi.

"Hei, hei, Konan, lihat itu Sakura bisa-bisa masuk rumah sakit lagi jika kau terus memeluknya seperti itu, un!" teriak Deidara sambil menunjuk ke arah Sakura yang wajahnya sudah tampak membiru karena kehabisan pasokan oksigen.

"Waaa… maafkan aku, Sakura-chan," dengan cepat Konan pun melepaskan pelukannya.

"Ahaha… tidak apa-apa, Konan senpai," balas Sakura sambil tersenyum.

Sasori menatap betapa riuhnya rumahnya saat ini. Sebenarnya Ia tidak suka keramaian seperti ini, tapi melihat senyum Sakura yang mengembang sejak pertama menginjakkan kaki di gerbang rumah sampai sekarang, rasanya Ia bisa memberikan toleransi. Ya, apa yang bisa diharapkan dari sebuah perta kejutan selain keramaian dan canda tawa?

Location : Akasuna's house -living room-

Sudah 2 jam berlalu dan keadaan rumah keluarga Akasuna masih saja ramai. Tentu saja, 2 jam pasti tidak cukup bagi mereka untuk saling melepas rindu setelah 10 tahun tidak bermain bersama. Memang Akatsuki sering menjenguk Sakura saat Ia di rumah sakit, tapi pasti rasanya berbeda antara menjenguk dan bermain, bukan?

Ditengah kehebohan, Sakura tiba-tiba saja teringat akan sesuatu, "Ah! Sasori-nii!" dan orang yang dipanggil hanya memberikan respon seadanya, "Janjinya mana? Om-om botak tampan nya mana?" teriak Sakura sambil memutar-mutar kedua tangannya di udara.

"Ah, tunggulah 10 menit," kemudian Ia menatap Deidara dan mengacungkan ibu jarinya. Sebuah kode rupanya. Deidara mengerti kode tersebut kemudian segera membalikkan badan dan seolah mencari sesuatu.

Konan sedang asyik-asyiknya memeluk Sakura saat tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan Deidara yang sangat kencang, "Oke, nona Sakura, kami semua akan mempersembahkan sesuatu padamu! Silakan masuk wahai tamu spesial, un!"

Kemudian muncul lah 2 orang pria dengan kepala botak kedalam ruangan. Kami-sama, Sakura bersumpah matanya benar-benar terasa silau saat pantulan cahaya lampu dari kepala botak kedua pria tersebut mengenai matanya! Setelah merasa silau nya menghilang, Sakura kembali membuka mata, penasaran siapakah kedua orang dengan kepala paling mengilap di seluruh dunia ini.

Siapa yang menyangka bahwa kedua orang tersebut adalah Itachi dan Hidan. Mereka berdua berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi sebal yang jelas terpampang di wajah mereka. Melihat pemandangan 'langka' tersebut, seluruh isi ruangan tertawa terbahak-bahak, bahkan Karen dan Haru ikut tertawa. Seorang preman seperti Hidan, dan seorang Uchiha Itachi berkepala botak? Ada apa dengan dunia?

Disaat semua orang sedang tertawa, Sakura menghampiri keduanya dengan tatapan mata berbinar dan antusiasme tinggi. "Whoaaa! Benar-benar kepala botak! Meski Hidan senpai dan Itachi senpai bukan om-om, tapi ini keren!" ucapnya sambil lompat kegirangan.

Hidan menatap heran ke arah Sakura, "Keren? Hei bocah, gara-gara kalah suit kita harus dipermalukan seperti ini tahu."

Sakura menggelengkan kedua kepalanya secepat yang Ia bisa, "Tapi Sakura suka! Hidan senpai dan Itachi senpai keren, lho! Botaknya keren! Lucu! Berkilau!"

Itachi menatap tajam ke arah Kakuzu, "Tumben sekali kau mau membuang uang untuk membeli wig aneh tak berguna seperti ini. Apa yang merasukimu?"

Kakuzu menyeringai licik, "Sasori bilang Ia akan membayar dengan tambahan 20%!"

"Dan aku kebetulan melihat wig ini saat jalan-jalan kemarin," timpal Kisame dengan bangga, "Bagaimana, Sakura? Wig nya bagus kan? Berkilau kan?" dan Sakura mengangguk dengan penuh antusias.

"Untung aku tidak kalah suit…" gumam Zetsu pelan sambil menatap miris ke arah kedua sahabatnya yang bernasib malang.

Disampingnya, Sasori mengangguk, "Untung saja aku tidak ikut suit."

"Hehe… Itachi senpai, Hidan senpai, terima kasih banyak ya! Terima kasih banyak sudah mau memakai wig botak itu. Sekarang Sakura benar-benar senang!" ucap Sakura sambil tersenyum lebar sampai matanya tertutup.

Mau marah pun rasanya tidak bisa, begitulah kira-kira perasaan Itachi dan Hidan saat ini. Mau bagaimana lagi, mana mungkin mereka tega marah pada Sakura yang sedang bahagia seperti ini. Begitulah sifat Sakura, disaat Ia senang maka orang lain yang melihatnya pun akan ikut senang, begitu pula sebaliknya.

"Dasar bocah, tapi syukurlah kalau kau senang," ucap Hidan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Itachi melirik Hidan dari sudut matanya, "Hidan… kau botak, aneh. Boleh kulepas sekarang wignya?"

"Sakura! Sakura mau pakai, boleh?"

Pesta kejutan pun terus berlangsung hingga pukul 9 malam dan semuanya tertawa.

Location : Akasuna's house –Sakura's room-

Jam sudah menunjukkan pukul 21.20 dan pesta sudah berakhir 20 menit yang lalu. Saat ini sebenarnya seluruh Akatsuki sedang membereskan sisa-sisa pesta, kecuali Sakura yang tampak sudah sangat kelelahan pun dibantu oleh Sasori menuju kamarnya di lantai 2. Saat Sasori menawarkan diri untuk menggendongnya, Sakura menolak dan berkata bahwa Ia bukan anak kecil lagi.

"Onii-chan, maaf ya Sakura tidak ikut bersih-bersih," gumam Sakura dari balik selimut merah muda bermotif bunga sakura. Ia menarik ujung selimut sampai menutupi hidungnya.

Sasori yang sedang duduk di ujung kasur menatap Sakura khawatir, "Kau baru saja keluar rumah sakit. Seharusnya kau tidak berpesta sampai semalam ini," Ia pun berdiri dan berniat untuk berjalan menuju pintu kamar, "Istirahatlah, tidak usah pedulikan beres-beresnya. Biarkan Hidan dan Tobi bekerja keras mengingat mereka lah yang paling berulah disini."

Sebelum Sasori melangkah jauh, Sakura menarik sebelah pergelangan tangan Sasori. "Etto… Onii-chan…"

"Ya?" Sasori membalikkan badannya dan menghadap Sakura.

"Besok… besok Sakura mau mandi dengan Sasori-nii!"

Sasori membatu. Lagi-lagi ini… "Tidak bisa Sakura. Aku kan sudah bilang tidak bisa."

"Kenapa? Sasori-nii sangat membenci Sakura kah sampai menolak seperti ini?" sekilas Sasori dapat melihat mata adiknya mulai berkaca-kaca.

"Sakura, ini tidak ada hubungannya dengan benci atau tidak," Ia pun menghela nafas dan menutup wajahnya dengan punggung tangannya yang tidak digenggam oleh Sakura, berusaha menutupi rona merah yang menjalari wajahnya, "Yang jelas mulai sekarang kita tidak boleh mandi bersama, mengerti?" ucapnya sambil mengalihkan pandangan kemana pun asalkan bukan menatap Sakura.

"Tapi, kenapa?"

"Kujelaskan lain waktu. Sudahlah, kau kelelahan. Cepat tidur, Sakura."

Sakura menggigit bibir bawahnya, Ia merasa sedih namun tidak ingin menangis. Ia pun mengangkat kepalanya dan memaksakan seulas senyum tipis, "Baiklah Sasori-nii. Selamat tidur."

Senyum itu. Sasori tahu bahwa Sakura sedang memaksakan diri untuk tersenyum. Bisa-bisa masalah mandi bersama ini menjadi kesalahpahaman, dan Sasori tidak mau itu terjadi. Tapi bagaimana lagi, ini sudah malam dan Sakura sudah kelelahan. Tidak mungkin menjelaskannya sekarang, kan? "Selamat tidur, Sakura." Ia pun melangkah dan menutup pintu kamar Sakura setelah mematikan lampunya.

"Un… selamat tidur, Sasori-nii…"

Dibalik selimut, Sakura menggulung dirinya sendiri sambil memeluk Usagi-chan dengan erat. Meski merasa sedikit sebal pada kakak kembarnya, tapi kantuk lebih menguasainya dan Ia pun tertidur.

To be continued…

Hwaaaaa! Akhirnya selesai juga ini chapter 4 X'D Capek juga ya nulis sampai 5k words nya, gak kebayang capeknya author rajin yang suka nulis sampai 7k words per chapter! *malah curhat* Ini sebagai ucapan minta maaf Aria karena telat banget update, gomen na no ;n;)

Ohiya, untuk penjelasan usia ya… Aria yakin minna-san bingung, soalnya aku sendiri bingung awalnya XD Baru kepikiran kemarin-kemarin hehe… intinya sih Sakura, Sasori, Deidara, dan Tobi mereka seangkatan masih kelas 1 SMA. Pein, Konan, Itachi, Kisame, Kakuzu, Zetsu, dan Hidan mereka seangkatan kelas 2 SMA. Untuk karakter-karakter lainnya, nanti Aria pikirkan dulu ya –w-)a

Dan pasti banyak yang gak ngerti sama kemunculan Sena dan sistem roh penjaga anak kembar ya disini. Kalau ada pertanyaan, tulis aja di review, nanti Aria jawab deh kalau yang gak menuju ke spoiler ;) Oh, dan ada yang sadar kah kalau deskripsi Sena disini mirip sama Kashiwazaki Sena yang dari Boku wa Tomodachi ga Sukunai? Memang referensi nya Aria ambil dari situ sih XD Lagi suka ma Sena hehe…

Special thanks untuk minna-san yang udah review chapter 3 ya: Rosachi-hime, mako-chan, hanazono yuri, Kumi Usagi, Somewhere, Sakura Hanami, adross, aeon sealot lucifer, UchiHarunoKid, dan untuk para silent reader juga gausah malu-malu untuk review XD Aria gaakan gigit kok, yang ada Aria seneng kalau semakin banyak yang review hehe… mohon maaf kalau ada yang belum tertulis atau salah penulisan nama (_ _)

Yosh! Untuk chapter ini judulnya "Flower Girl" lagunya Shijou Takane [CV: Yumi Hara] sebagai insert song dari The iDOLM STER episode 19 XD Iseng liat-liat list lagu iM S dan ngerasa sreg sama judul lagu ini jadi kupinjem deh –w-)b Lagunya juga enak lho! Ada yang udah nonton anime nya kah? Aria udah XD *gaada yg nanya*

Duh rasanya Aria banyak cuap-cuap banget ya di chapter ini ;w;) Maklum, kangen nulis fanfic nih #plak Setelah dipikir-pikir kayaknya fic ini beneran harus ubah genre deh :( Soalnya romance nya masih belum muncul malah lebih ke drama ya… tapi Aria tetap usahakan akan ada romance nya deh di chapter depan :3

Dimohon review nya ya senpai-tachi XD Bukan flame nya o3o See you next chapter!