Maaf update agak lama. Gak ada pulsa XD. Ini aja minjem wifi dari kakak XP. Di chapter ini aku agak kejam sama Draco :v. Thanks buat Staecia, aquadewi, dan myuu. Di chapter ini aku gak balas review dulu ya...
Terlalu Banyak Rahasia Hogwarts
Chapter 4: Pensieve
Disclaimer: J.K. Rowling
.
.
.
Happy Reading! ^_^
.
.
.
"Aku pulang!" seru Lily. Dia melihat Hermione sedang memandang jendela sambil tersenyum-senyum.
"Mione?" Lily mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Hermione.
Lamunan Hermione membuyar. Dia tersentak."Draco!" sentaknya.
Lily tertawa.
"Ooh, kau sedang memikirkan Weather... Kukira kau mulai tidak waras,"
Wajah Hermione merona sedetik.
"Mmh, tidak. Aku hanya… apa ya? Memikirkan reaksinya saat menerima suratku," ucap Hermione. Dia tertawa sendiri.
"Ada apa?" tanya Lily penasaran.
"Begini…" Hermione menceritakan rencananya.
Mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Draco menatap botol kecil ditangannya. Dia bingung.
"Apa yang membuat Hermione yakin aku memiliki pensieve?" gumam Draco.
PLUK!
Sebuah surat terjatuh diatas kepalanya. Dengan kesal, Draco menoleh ke atas. Dan… mendapat hadiah berupa kotoran burung di pipi mulusnya.
"Burung sialan!" umpat Draco kesal sambil membersihkan kotoran di pipinya.
Sebuah sapu tangan terjatuh diatas wajahnya. Lalu burung itu pergi.
"Oh, uh, yeah, ternyata kau cukup berperasaan," ucap Draco. Dia membersihkan pipinya dengan sapu tangan itu. Lalu membuka perkamen surat itu.
DM, atau DW? Kau sudah mendapat hadiah dariku? Maksudku dari burungku? Aku yakin sudah. Tenang. Aku masih cukup berperasaan untuk memberi hadiah lainnya kok. Aku yakin kau juga pasti sudah menerima kedua hadiah dariku.
Draco mendengus.
Kau sudah menemukan pensieve? Aku yakin kau punya pensieve. Ayolah, apa yang tidak dipunyai oleh seorang Malfoy? Bukankah kau pernah berkata itu padaku? Kalau kau tak punya, aku yakin ayahmu, Lucius, memilikinya. Tunggu apalagi ferret musang albino pirang? Haruskah aku mencatumkan inisial nama pengirim? Aku yakin kau pasti tahu. Kalau begitu, You Know
Draco rasanya ingin sekali mencakar Hermione dan menggunduli burungnya.
Bagaimana dia bisa mengetahui pengirim surat itu adalah Hermione? Mudah saja. Pertama, kata-kata ejekan disetiap goresannya. Kedua, panggilan khas Hermione untuk Draco —ferret musang albino pirang—.
Dia pun bergegas ke kamar Lucius. Yang tepat berada di samping kamarnya.
Kebetulan Lucius sedang berada di luar kamar. Jadi Draco tak perlu mengetuk pintu kamarnya dan mencarinya bila Lucius sedang tak ada.
"Malfoy," panggil Draco canggung. Bagaimana sih, rasanya memanggil orang lain dengan Malfoy, sementara diri kalian sendiri adalah seorang Malfoy?
"Ah, Weather, ada apa?" tanya Lucius angkuh.
"Boleh aku meminjam pensieve?" tanya Draco enggan. Dia tak terbiasa meminjam. Seorang Malfoy meminjam? Tak mungkin!
Lucius kaget. Alisnya berkerut ke atas."Bagaimana kau bisa tahu, aku punya pensieve?"
"Ayolah, apa yang tak dimiliki seorang Malfoy?" tanya Draco. Mengutip kata-kata di surat Hermione.
Lucius berpikir. Kemudian…
"Baik. Ayo masuk," Lucius membuka pintu kamarnya.
Kamar Lucius sangat rapi. Cocok untuk ukuran seorang Malfoy.
"Aku tak tahu bagaimana kau bisa tahu aku memiliki pensieve. Tapi yang jelas, ini adalah benda terlarang di Hogwarts. Mengingat Goyle dan Nott saja tak kuberitahu tentang keberadaan benda ini. Jadi kau yang pertama, Weather," ucap Lucius sambil menunjukkan jalan untuk sampai ke pensieve.
Draco hanya mengangguk mendengarkan ayahnya —yang kini sebaya dengannya.
Sampailah mereka di sebuah tempat.
Terdapat meja yang tepat terletak di tengah ruangan. Di atasnya terdapat baskom batu berisi air yang biasa disebut pensieve.
"Kau boleh menggunakannya. Aku akan pergi. Aku tahu ini privasi,"
Lucius pun pergi.
Draco lagi-lagi hanya mengangguk patuh. Setelah Lucius pergi, dia menuang cairan perak dalam botol kecil ke pensieve.
Sejenak air dalam baskom bergejolak. Berputar seperti puting beliung. Lalu Draco terhisap ke dalamnya.
Draco tiba di perpustakaan Hogwarts. Tempat saat dia mengerjakan detensi bersama Hermione.
"Oh, yeah. Aku kena detensi karena dirimu lagi," terdengar suara dengus Hermione. Tangannya gesit merapikan buku dengan cepat. "Ya, setidaknya tanganmu menjadi lebih gesit kan?" sindir Draco. Hermione menghela napas. "Yang ini di rak belakang. Kau kerjakan dulu saja yang disini," ucap Hermione sambil berjalan ke rak belakang membawa setumpuk buku. Draco mengangguk.
Draco mengikuti Hermione.
Hermione bergegas ke rak belakang. Dan merapikan buku sesuai abjad. "Hai!" Hermione menoleh. "Hei, James. Bukankah ini masih pelajaran? Ramuan kan?" tanya Hermione tanpa menoleh. "Sudah selesai. Karena ada rapat," Hermione mengangguk mengerti. Dia menaiki tangga. "Kau mau kubantu, Hermione?" tanya James. "Tidak per—Ouch!" Hermione terjatuh dari tangga. Cukup tinggi. Hermione memejamkan mata. Tapi tak ada tanda-tanda dia akan jatuh. Hermione membuka mata. "J-James?" Wajah Hermione memerah. Wajahnya sangat dekat dengan wajah James. James tidak menjawab. Dia hanya mendekatkan kepalanya ke kepala Hermione. Kini jaraknya menyusut. Tinggal se-inci lagi jarak wajah mereka.
Draco melihat siluet dirinya.
"Herm-," kata-kata Draco terputus begitu melihat pemandangan di depannya. Wajahnya yang panik berubah datar. Atau dingin?"Maaf menganggu kalian," ucapnya datar. Lalu pergi. Hermione turun dari tangkapan James."Thanks, James. Tapi mungkin aku harus mengejar Draco dulu," ucap Hermione cepat. Lalu secepat kilat pergi. James melihat Hermione dengan tatapan kecewa.
Memori itu berhenti sampai disitu dan Draco kembali ke kamar Lucius. Dia bergegas pergi dari sana dengan hati yang penuh tanya. Ia baru saja melihat hal yang tidak diinginkannya di memori itu.
Hal yang sangat tidak dia inginkan.
To Be Continued
