Sejujurnya Taehyung tak terlalu memusingkan kehadiran Jimin saat ini, walaupun sudah pasti ia terkejut. Hanya saja Taehyung kelewat penasaran untuk tahu maksud Jimin datang ke tempat ini secara tiba – tiba. Tidak ada kaset patah atau semacamnya, hal ini membuatnya berpikir mungkin saja Jimin datang untuk berkunjung.
Posisinya saat ini adalah wilayah paling strategis untuk memantau ketiga objek lain yang berdiri berjajar di hadapannya. Pegawai baru itu berdiri paling ujung di antara ketiganya, berjarak tiga langkah dari Jimin. Taehyung tak terlalu memedulikan kedua sosok itu yang saling bersengit menyandang gelar oponen masing – masing, membayangkan keduanya sebagai bingkai lanskap untuk sosok sentral di antara ketiganya. Itu Jeon Jungkook, terlihat kebingungan.
Jungkook memalingkan wajahnya ke arah jendela toko, menelisik gradasi langit di luar sana. Taehyung tetap memperhatikannya, Jungkook pun belum mengalihkan arah pandangnya.
"Ah, Hyung, kenapa kau di sini?" ketika kalimatnya selesai, Jungkook baru berbalik dan menghadapnya.
Taehyung baru saja ingin menjawab, namun suara lain sudah lebih dulu menyelak.
"Tentu saja bekerja, bodoh," itu si pegawai baru.
"Bukan kau, Hyung."
Akibat perkataannya, sosok si pegawai baru menjadi pusat atensi dirinya serta Jimin. setelahnya, Jimin berteriak bersamaan dengannya.
.
.
Antitesis by feearch
.
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
.
.
Park Jimin tak pernah tahu jika saja banyak kemungkinan yang terjadi dalam hidup. Ini salah satunya. Ketika kau membenci seseorang karena telah menggantikan posisi orang yang kau sukai, ada kemungkinan seseorang itu yang akan menjadi kakak iparmu. Semoga saja.
Jimin saat ini terlihat sangat bodoh. Bibirnya terbuka dagunya turun ke bawah, matanya melebar dan terus melebar, meminta penjelasan. Dilihatnya, wajah Taehyung pun sama bodohnya dengan dirinya.
Selain bodoh, ia juga murka. Sosok si pegawai baru di seberang sana menatapnya dan mencemooh. Dan puas, entah karena apa. Jimin mengalihkan pandangannya ke arah Taehyung, sahabatnya itu menunggunya berteriak dan memaki. Tapi jika di hadapan orangnya langsung, Jimin tak berani. Maka ia diam, dan Taehyung ikut puas.
Sahabatnya berkhianat, Jimin tersakiti. Jadi hanya suara Jeon Jungkook yang menenangkannya saat ini, bukan sahabatnya sendiri atau bahkan si pegawai baru.
"Ada apa?" tanya Jungkook, lagi – lagi kebingungan.
"Dia ingin menerorku."
Si pegawai baru berkata dan melirik ke arahnya. Selain mencemoohnya, orang itu juga suka berdusta. Jimin tak terima, lagi – lagi ia murka. Dimaki pendek oleh orang pendek bukanlah sesuatu yang baik baginya, namun setidaknya ia tidak senekat itu untuk meneror seseorang. Baru saja ia ingin berteriak dan memaki, Taehyung sudah lebih dulu berbicara.
"Aku hanya menanyakan namanya!"
Sahabatnya ini benar – benar pengkhianat. Dirinya bahkan belum tahu nama si pegawai baru tapi justru Taehyung sudah lebih dulu mengambil langkah jauh.
"Nama? Namanya Min Yoongi," Jungkook berujar tiba – tiba.
Di saat Jimin dan Taehyung sama – sama terpukau akibat kalimat Jungkook yang tiba – tiba, si pegawai baru memaki dan berteriak dan memukul kepala Jungkook begitu saja. Taehyung kagum, selain ibunya, Jimin dan si pegawai baru memiliki beberapa kesamaan.
"Dasar bodoh, jangan beritahu namaku!"
Jungkook meringis dan berkata, "memangnya, apa pentingnya namamu?"
Kali ini Jimin senang, sangat senang. Ia ingin tertawa seperti orang degradasi mental. Tapi ia masih tahu malu, apalagi di hadapan si pegawai baru. Jadi ia hanya tertawa kencang, dan harus terdengar elegan. Taehyung memukul kepalanya karena telinganya sakit, tapi Jimin tak peduli. Kali ini, ia yang puas.
Si pegawai baru meliriknya tak terima, murka. Jimin semakin mengeraskan tawanya, melihat Jungkook terganggu, ia meredakannya sedikit. Sejujurnya, ia tak tahu apa yang lucu.
Merasa mengetahui penyebab tawa Jimin yang bereksplosi, si pegawai baru kembali memukul kepala Jungkook. Kali ini Jungkook tak meringis, ia ikut tertawa. Lelaki tinggi yang menanyai namanya pun ikut tertawa sekejap setelah Jungkook tertawa. Lalu, hanya lelaki pendek yang menjadi propokator dari tawa massal ini diam dan alisnya menukik. Sedetik setelahnya, ia merasa lengan kanannya ditarik. Ia meringis.
"Jangang memukul kepalanya!" Jimin berteriak, ia pelakunya.
"Aish, apa urusanmu!"
"Kau tahu, kecerdasan berkurang ketika kau dipukul!"
"Tidak tahu!"
"Kalau begitu cari tahu!"
"Tidak peduli!"
"Kau tak berhak memukulnya!"
"Aku berhak! Aku kakaknya!"
Jimin terdiam, kalimat yang terakhir belum bisa ia terima. Sosok si pegawai baru di hadapannya menatap dengan wajah menantang, Jimin tak terima. Ia berbalik ke arah Taehyung dan Jungkook yang saat ini telah duduk bersampingan, meminta pertolongan.
"Ya, kakak sepupu," keduanya mengangguk dan menjawab bersamaan. Jimin benar – benar dikhianati, entah oleh sahabatnya atau pujaan hatinya.
"Ya! Sudah kubilang jangan beritahu!"
Si pegawai baru kembali berteriak dan bergegas akan memukul kepala Jungkook lagi, namun Jimin telah sigap menahan lengannya lebih dulu, sama – sama murka. Dari sudut matanya, Jimin mampu menangkap sebelah tangan Taehyung yang menutupi kepala Jungkook.
"Sudah kubilang jangan memukulnya!"
"Dia anak pintar, jadi kupukul sesekali juga tak apa!"
"Mana mungkin!" Jimin melirik Taehyung, bukan untuk meminta pertolongan, tapi untuk mengajaknya pulang. "Lebih baik aku pulang! Di sini terlalu berisik. Dan, rambutmu! Sama sekali tidak bagus!" timpalnya.
"Kau yang membuat keributan, bodoh. Bagus kalau begitu, tak perlu datang lagi kesini!"
"Mana mungkin!"
Jimin menarik Taehyung ke mulut pintu, bergegas pergi dengan tubuh bersinggung di depan pintu. Selagi melirik Jungkook di dalam sana, Taehyung mendengar Jimin berbisik.
"Min Yoongi, siapa yang peduli namanya."
.
.
Di perjalanan pulang, Taehyung teringat sesuatu. Langkah mereka yang awalnya besar – besar terhenti sepihak. Jimin menatapnya bingung dan bertanya, ada apa.
"Kupikir, aku pernah melihat Min Yoongi itu sebelumnya," ujarnya.
"Dimana?"
Taehyung menggedikkan bahunya dan menggeleng lalu mereka kembali berjalan dengan langkah yang lebih lebar dari sebelumnya, "tak tahu, lupa."
Taehyung teringat sesuatu, lagi. Ia menghentikan langkahnya, Jimin berteriak geram. Taehyung tak peduli makian Jimin, ia hanya penasaran dengan satu hal.
"Jadi, kenapa kau datang ke toko itu?"
Kembali, Jimin diam yang kesekian kali dan Taehyung puas. Ketika ia ingin tertawa, Jimin sudah lebih dulu menyelak dan berbicara.
"Jadi, kenapa kau bisa tahu kalau Min Yoongi itu kakak sepupunya?"
.
.
Taehyung tak yakin apa ia harus bercerita tentang pertemuannya dengan Jungkook di sekolah lama mereka kepada Jimin, bukan karena ia tak mau berbagi hanya saja ia tak tahu harus menjawab apa jika ditanya lebih dalam. Ia tak ingin jika saja nantinya Jimin tahu dirinya juga menyukai Jeon Jungkook.
Sejak pertemuannya dan Jimin dengan Jungkook dan si pegawai baru yang nyatanya kakak sepupunya, Jimin tak lagi memuntahkan liur ke atas hidungnya. Teman sekelasnya pun satu persatu berhenti bertanya mengenai Jimin kepadanya, ia turut senang.
Di jam – jam luang Jimin akan datang ke rumahnya, melewati ayahnya yang sedang membaca koran dengan teh hitam tanpa menyapanya. Ayahnya dan Jimin sama – sama bosan saling bertukar sapa akibat kedatangannya yang kelewat sering. Tapi tidak dengan ibunya, ia akan tetap menyambut Jimin dengan nada – nada bergema sampai bawah meja makan. Jimin senang, setelahnya ia akan mendapat kue kukus.
Pernah satu kali Jimin bertandang ke rumahnya hanya untuk bertanya apa dirinya sudah ingat mengenai dimana ia pernah bertemu sosok Min Yoongi. Taehyung menggeleng, ia belum ingat.
Lima hari setelahnya, Jimin datang lagi dan menanyakan hal yang sama. Lagi – lagi Taehyung menggeleng, ia belum ingat dan belum sempat mencoba mengingat.
Tujuh hari setelahnya Jimin datang lagi, duduk di samping ayah yang membaca koran pagi. Di sampingnya teronggok kopi robusta yang mengepul, sembari meniup asapnya, Jimin kembali bertanya.
"Apa kau sudah ingat?"
Taehyung bisa jadi geram, tapi ia tahan. Jika sosok Park Jimin yang berteriak kalut akibat si pegawai baru kini hilang, Taehyung tetap diganggu oleh sosok Park Jimin yang terus bertanya mengenai Min Yoongi. Ia tetap menggeleng dan berpikir, ada baiknya juga Jimin bertanya terus – menerus mengenai Min Yoongi. Dengan begitu Jimin tak akan menanyainya tentang Jungkook kepadanya.
Dua hari setelahnya, Jimin datang dan bertanya lagi. Taehyung bosan menjawab hanya dengan menggeleng atau bergedik, ia menjawab dengan kalimat yang lain.
"Kau selalu bertanya, jadi, apa kau mulai menyukainya?"
"Ah, mana mungkin."
"Berhenti berbohong, kita telah berteman lama."
"Bukan begitu, aku hanya ingin menemuinya dan memberitahunya kalau ia perlu tahu bahwa rambutnya sangat jelek," Jimin tertawa.
"Kupikir rambutnya bagus, dan sepertinya kau juga harus mewarnai rambutmu," Taehyung mampu melihat sudut mata Jimin yang memicing, berpikir dan kemudian mengangguk.
"Kalau begitu, mana warna yang bagus. Merah, cokelat, atau oranye."
Taehyung belum sempat menjawab, Jimin sudah lebih dulu pergi untuk menghampiri ibu dan memakan kue kukus. Ayahnya yang sedari tadi berdiam di beranda dengan koran pagi dan ditemani teh hitam serta kopi robusta secara bersamaan masuk ke dalam rumah, meletakan koran pagi di atas meja.
Sembari mengunyah, Jimin melintas di hadapannya. Matanya melirik ayahnya dan Taehyung secara bergantian kemudian bertanya.
"Jadi, bagaimana dengan dirimu dan Jungkook?"
.
.
TBC
.
A/N
Oh demi apapun sya reflek nulis ini, klau kurang memuaskan hasrat jd tolong dimaafkan. Dan, soal tiap chapterny yg pendek – pendek saya blm bs ngatasinny smp saat ini tp bakal saya usahain untuk memperpanjang lagi kedepannya.
Terima kasih atas reviewnya, dan feel free to PM me haha, ok if u want to.
–feearch.
