Hoolllaaaa Saku kembali ni….

Updatenya lama ya? Hehe Gomen, Saku lagi males ngetik karna gak ada ide. Ide sebenarnya ada tapi susah buat ditulis dalam kata-kata dan juga cara penulisan Saku yang bisa dibilang SANGAT HANCUR ini. Gomenne *bow*.

Maaf ya karakkternya jadi OOC kaya gini. Naru juga kenapa sentiment banget sich sama sasu -.-" Tentang Gaara dan Naruto? Kalian pasti udah ngerti gimana perasaan Gaara. Arigatou buat yang suka sama ShikaKiba ^^. Terus baca cerita yang ancur ini yuaaaaa Chu Chu Chu ^3^

DON'T LIKE

DON'T READ

Disclaimer : Masashi Kishimoto

INSPIRED FROM PRINCESS PROTECTION PROGRAM

WARNING : OOC, ALUR CEPAT, TYPO(S) AU

Prince Protection Program

.

.

.

Chapter 4

3 hari telah berlalu sejak Sasuke masuk ke BHS. Di hari kedua maupun ketiga berlalu seperti biasa. Bahkan mungkin lebih heboh dari hari pertama, dengan adanya sebuah fansclub baru yang muncul, yaitu Sasuke fansclub dan tentu saja anggotanya adalah para gadis yang selalu setia membuntuti dan meneriaki nama Sasuke kemanapun ia pergi.

Semakin meningkatnya popularitas Sasuke di BHS ada satu orang yang sangat membenci hal itu, yaitu laki-laki bersurai pirang, Naruto Namikaze. Naruto sangat membenci popularitas Sasuke. Saat pertama menginjakkan langkah kaki di sekolah mereka langsung disambut dengan teriakkan para fansgirl Sasuke, dan kemanapun mereka pergi selalu saja mereka di ikuti, dan bahkan Naruto sering terjatuh dengan tidak elitnya akibat perbuatan para fansgirl Sasuke yang mencoba untuk mendekatinya.

Begitupun pagi ini. Sesampainya Naruto dan Sasuke di kelas mereka, seketika juga mereka langsung mengerubuni Sasuke dan alhasil akibat perbuatan para gadis itu Naruto yang tadinya berjalan di depan Sasuke kini telah terdorong dan terjatuh dengan tidak elitnya bahkan tangannya telah menjadi korban langkah kaki dari para fansgirl Sasuke.

Naruto yang terduduk dilantai melirik ke arah para kerumunan gadis itu, kemudian ia berdiri.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH." Teriak Naruto dengan seluruh tenaga yang ia miliki.

Teriakkan yang berhasil membuat seluruh siswa yang berada di sekitarnya langsung menutup telinga dan menjauh.

Nafas Naruto terengah-engah sambil menatap sinis ke arah para Fansgirl dan juga ke arah Sasuke.

Semua orang hanya bisa menatap Naruto dengan tatapan aneh. Naruto mengambil tasnya yang terjatuh di lantai, kemudian berjalan mendekati Sasuke mendengus di depan Sasuke kemudian pergi dari kelas itu dengan menabrak bahu Sasuke.

Sasuke terdiam beberapa saat, sementara para fansgirlnya masih shock dengan teriakan Naruto, Sasuke langsung memanfaatkan keadaan untuk langsung berjalan kearah mejanya.

"ada apa sih dengan Naruto? Kenapa dia sering marah akhir-akhir ini? Dan kenapa juga ia harus berteriak seperti itu." ujar Kiba

"dia hanya cemburu." Ujar Shikamaru menanggapi perkataan Kiba.

"eh?"

"karna dia itu sangat bodoh."

" huh? Apa maksudmu sih?"

"Naruto selalu berusaha untuk menjadi pusat perhatian, benarkan?" Tanya Shikamaru

"ya, dia selalu bersikap konyol dan melakukan keributan."

"dia hanya cemburu karna Sasuke bisa menjadi pusat perhatian tanpa melakukan hal-hal konyol sepertinya. Jangan terlalu dipikirkan." Ujar Shikamaru kemudian mengacak-acak rambut kiba lembut.

"akan ku cari dia." Sambung Shikamaru sambil pergi keluar kelas.

'ck, benar-benar seorang bocah. Dia bersikap seperti itu hanya karna hal sepele. Dan dia juga bersikap kasar padaku hanya karna aku lebih keren darinya? Ck ck ck, sungguh tidak bisa di percaya.'

.

.

.

Saat jam istirahat makan siang, seperti biasa Naruto dan juga Sasuke makan bersama dengan Kiba, Shikamaru dan juga Gaara.

Dan seperti hari-hari kemarin Naruto tidak banyak bicara bahkan menghindari kontak mata dengan teman-temannya, hanya menjawab 'hmm' saat Kiba dan juga Gaara mengajaknya bicara.

"Jadi bagaimana dengan band yang akan kau buat untuk acara festival sebelum kelulusanku itu huh?"Tanya Gaara memulai kembali pembicaraan.

"Kita hanya tinggal berlatih, aku akan menjadi lead vocal dan juga rhythm guitaris, Shika pada bassist dan kau bermain drum. Kita hanya perlu mencari lagu yang tepat saja. Lagi pula festivalnya masih beberapa bulan lagi, kita bisa memikirkannya nanti." Jawab Naruto dengan nada malas-malasan sambil terus mengaduk-ngaduk ramennya yang jika biasanya sudah habis ia lahap.

Suasana kembali tenang di antara mereka

"Haaahhh, aku merindukan Naruto yang dulu." Ujar Gaara sambil menghela nafas.

Naruto langsung melihat aneh kearah Gaara

"Apa maksudmu?" Tanya Naruto

"Kau tahu semenjak kedatangan Sasuke kau berubah menjadi menyebalkan. Sama sekali tidak seperti kau yang biasanya." Celetuk Kiba

"jadi kau pun lebih memilih membela Sasuke dari pada aku? Kau lebih senang bersama dengan Sasuke dari pada aku huh?" Tanya Naruto dengan nada emosi

"Bu,bukan itu maksudku."

Naruto berdiri dari duduknya sambil mendengus ke arah Kiba.

Tapi tiba-tiba saja datang seorang gadis bersurai soft pink ke arah meja mereka.

"A, anoo." Ujarnya tiba-tiba.

"Sa, Sakura-chan?" kata Naruto sedikit kaget begitu melihat gadis bernama Sakura itu ada di dekatnya.

" Hai, naru. Hai teman-teman." Sapa gadis berambut soft pink itu sambil melambaikan tangannya

Wajah Naruto yang tadi terlihat sangat masam kini berubah. Ia tersenyum bahkan pipinya dipenuhi dengan rona merah. Dan Sasuke melihat dengan jelas perubahan ekspresi wajah Naruto itu.

"Ada apa Sakura-chan? Apa kau mencariku?" Tanya Naruto dengan wajah yang tersipu

Naruto melirik kearah tangan Sakura yang sedang memegang sebuah bungkusan.

"Apa itu untukku?" Tanya Naruto tetap dengan senyuman lebarnya sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Eh, itu…" ujar Sakura diam menundukan kepalanya

Kemudian tiba-tiba ia menyerahkan sebuah bungkusan cookies dengan pita diatasnya ke arah Sasuke.

"Aku Sakura Haruno dari kelas A, aku ikut kelas memasak dan hari ini aku membuat beberapa cookies. Aku ingin memberikannya padamu. Dan aku juga ingin bisa berteman baik denganmu Sasuke" ujar Sakura

Sasuke melirik kearah gadis itu selewat kemudian, dan kembali menatap Naruto.

Ekspresi wajah Naruto kembali berubah. Wajahnya menatap datar kearah Sasuke kemudian mendengus.

"Aku kekelas duluan, Gaara tolong bayarkan makananku." Ujar Naruto masih tetap menatap Sasuke kemudian pergi dari tempat itu.

Seperti halnya Naruto yang masih terus menatap Sasuke, Sasukepun begitu ia terus menatap kearah Naruto bahkan setelah Naruto pergi.

Sasuke ikut bangkit dari duduknya dan menatap Sakura.

" Aku tidak suka makanan manis." Ucap Sasuke kemudian pergi.

"Haahhh, dia pasti tambah kesal." Ujar Shikamaru menghela nafas.

Gaara yang melihat Sasuke pergi juga bangkit dari duduknya dan menyusul Sasuke.

" Tunggu," ujar Gaara mencengkram lengan Sasuke

Sasuke menatap kearah tangan Gaara, Gaara yang menyadari melepaskan tangannya.

"Ada yang ingin aku bicarakan sebentar denganmu." Ujar Gaara

"Aku tidak tertarik." Kata Sasuke sambil kembali berbalik dan berjalan.

"Ini tentang Naruto, kau pasti merasa sikap Naruto padamu sangat kasarkan. Dia mempunyai alasan untuk itu semua, karna itu aku ingin menjelaskannya padamu."

Sasuke menghentikan kembali langkahnya dan terdiam.

.

.

.

Sasuke membolak-balik buku pelajaran yang ada di tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 20:30 tapi Minato belum juga kembali kerumah, sementara perutnya sudah keroncongan karna belum mendapatkan makan malam.

Dengan menghela nafas dan langkah berat ia turun dari tempat tidur dan berjalan kearah dapur.

Tapi setelah sampai di dapur ia hanya diam sambil menghela nafas.

'Haaahhh, apa yang aku coba lakukan disini. Aku bahkan tidak bisa masak sama sekali'. Batinya

Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga, Sasuke berbalik dan mendapati Naruto yang melirik tidak peduli padanya dan hanya melewatinya saja kearah kulkas.

Sasuke sudah terbiasa dengan sikap Naruto yang selalu kasar dan mencoba untuk mengacuhkannya.

Dengan helaan nafas ia kembali ke kamarnya deng perut kosong, tapi baru saja sampai di tangga tiba-tiba perutnya yang keroncongan berbunyi.

'Shit!'

Sambil terus berjalan kekamarnya Sasuke tidak berhenti merutuki segalanya yang telah terjadi hari ini, di mulai dari perkataan Gaara tadi siang sampai dengan kepergian Minato yang tidak meninggalkan makanan yang bisa langsung ia santap.

"Sebaiknya aku tidur saja." Desah Sasuke sambil menghempaskan tubuhnya keatas kasur.

10 menit berlalu tapi Sasuke masih belum bisa memejamkan matanya karna perutnya.

KLEK

Pintu kamar terbuka dan terlihat sosok bersurai pirang masuk.

Sasuke meliriknya dengan ujung matanya

"Apa?" Tanya Sasuke sambil pura-pura membaca buku yang tadi ia pegang

Naruto melangkah mendekat ke arah meja belajar Sasuke dan menaruh sepiring omurice.

"Makanlah, masakanku mungkin tidak sesuai dengan selera bangsawanmu itu. tapi bukankah ini lebih baik dari pada kau kelaparan." Ujar Naruto tanpa melihat kearah Sasuke dan pergi keluar begitu saja

Sasuke meletakan buku yang ia pegang dan melangkah kearah meja belajarnya. Ia melihat sepiring omurice dan juga segelas minuman di samping piring itu.

Kemudian ia tersenyum.

"Dobe." Ujarnya lirih kemudian memakan omurice sambil tersenyum, Walaupun hanya senyuman tipis.

" Lumayan" kata Sasuke sambil terus melahap makannya

Dan hanya dalam waktu beberapa menit omurice itu telah habis ia makan ia kembali kedapur untuk meletakan piring.

Saat hendak kembali ke kamarnya langkahnya terhenti di depan sebuah foto yang terpajang di dinding ruang keluarga. Foto Minato dengan seorang wanita bersurai merah panjang yang tersenyum ramah dan di sebelahnya lagi ada sebuah poto anak laki-laki bersurai Pirang berusia kira-kira 8 tahun yang sedang naik ayunan.

Flashback

"Jadi apa yang ingin kau katakan" Tanya Sasuke pada Gaara

"Bukankah sikap naruto selalu kasar padamu, sangat berbeda dengan sikapnya kepadaku, Shikamaru dan juga Kiba." Jawab Gaara mendekat kearah jendela dan menatap keluar

"Hm, aku tahu kalau Naruto sangat tidak menyukai diriku. Kau tidak perlu mengingatkanku akan hal itu, karna setiap orang yang melihatpun akan tahu kalau dia sangat membenciku."

"Tidak, dia sama sekali tidak membencimu. Dia hanya iri padamu, sangat iri." Kata Gaara, nada bicaranya mulai pelan

"Dia iri padaku? Karna aku lebih keren dan lebih popular dari padanya? Hahh, sungguh kekanakan."

"Hm, kau benar dia sangat iri padamu. Kau orang asing disini, semua orang disini tidak mengenalmu, tapi hanya dalam waktu yang sangat singkat kau bisa menjadi pusat perhatian seluruh penghuni sekolah ini. Banyak orang yang ingin sekali dekat dan berteman denganmu, banyak orang yang selalu mengajakmu bicara, bahkan banyak sekali wanita yang jatuh cinta padamu hanya dalam hitungan hari. Kau juga sangat pintar, dia snagat iri padamu."

"Hm, tapi itu semua bukanlah kemauanku. Aku tidak berharap di sukai oleh banyak orang disini. Dan Naruto itu sungguh kekanak-kanakan. Hanya karna dia iri padaku, dia selalu bersikap tidak sopan dan kasar padaku."

"Ini semua bukan salahmu, dan juga jangan menyalahkan Naruto. Dia hanya takut dan juga kesal pada dirinya sendiri."

Sasuke terdiam sambil menatap tajam kearah Gaara. Takut dan juga kesal pada dirinya sendiri? Tapi apa alasannya?.

"dia sangat iri padamu. Dulu, dia selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain. Dia selalu melakukan hal konyol agar orang lain tertarik padanya dan di perhatikan oleh orang lain."

"Aku tidak mengerti."

"Saat pertama kali pindah kemari, saat itu ia baru berusia 8 tahun. Dia masuk ke sekolah yang sama denganku. Saat pertama kali melihatnya, dia begitu di senangi oleh teman-temannya yang lain. Dia anak yang selalu ceria, dan tersenyum ramah kepada siapapun yang ia lewati bahkan menurutku dia bagai sinar matahari bersinar dengan terang. Tapi seiring berjalannya waktu, senyuman di wajahnya menghilang. Semua teman-temannya mulai menjauhinya. Walau Naruto mengajak mereka untuk bercanda ataupun bicara, tak ada satupun yang meu mendekati Naruto.

Mereka takut karna Orang tua mereka menyuruh mereka untuk tidak mendekati Naruto. Hanya karna dia tidak memiliki Ibu, dan Ayah yang tidak tinggal bersamanya. Hanya karna dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Dan di sekolah mulai muncul gossip aneh yang beredar. Banyak orang yang mengatakan bahwa Naruto hanyalah anak haram yang tidak di inginkan oleh kedua orang tuanya, bahwa Naruto adalah anak pembawa sial yang dibuang oleh orang tuanya.

Setelah mendengar gossip tak jelas itu Naruto hanya diam, dan mulai menutup diri pada semua orang dan ia juga tidak berani untuk mengatakan apapun pada kakek dan neneknya, ia lebih memilih untuk diam.

Lalu saat naruto kelas 3, aku sering melihatnya di kerjai oleh anak-anak nakal, karna tak tahan melihatnya selalu seperti itu akupun membantunya bahkan melaporkan semua yang terjadi pada kakek neneknya juga pada paman Minato. Dari situlah kami mulai dekat dan slalu bersama." Jelas Gaara panjang lebar.

Sasuke yang mendengar penjelasan Gaara hanya diam, mulai mengerti dengan maksud perkataan Gaara.

"Jadi.." ujar Sasuke

"Ya, kau yang baru beberapa hari disini sudah disukai oleh banyak orang, dia sangat iri padamu. Karna dia harus melakukan banyak hal hanya untuk menarik perhatian orang lain, sangat berbeda denganmu. Dan dia juga sangat takut. Mungkin Naruto berpikir bahwa teman-teman yang ia miliki saat ini tidak akan pernah melihatnya lagi dan hanya memperhatikanmu, termasuk aku, Shikamaru dan KIba, terutama Kiba yang selalu memujimu."

"Dobe." Kata Sasuke

"Hm, dia memang bodoh. Tapi jangan salahkan dia. Dia hanya takut kejadian buruk di masa kecilnya akan kembali terulang. Dia sangat takut di tinggalkan."

Flashback end

NARUTO POV

" Naruu,, smapai kapan kau akan tidur huh? Ayo cepat bangun, atau kita bisa terlambat." Teriak suara yang tak asing lagi di telingaku.

Perlahan kubuka mataku, sinar matahari Nampak menembus gorden kamarku. Dengan langkah yang berat kulangkah kan kakiku menuju lantai bawah.

" Kapan Tou-san pulang?" tanyaku saat melihat tousan sedang menyiapkan sarapan kami.

" Tou-san pulang tengah malam. Cepat mandi sana. Lihat Sasuke dia sudah siap untuk berangkat sekolah."

Kualihkan pandangan ku kebelakangku. Disana sudah berdiri sosok Pangeran Teme dengan seragam sekolah yang sangat pas sekali dengan tubuhnya itu.

Sempurna.

Mungkin satu kata itu yang bisa mendeskripsikan tampilannya.

Dengan badan yang tinggi, bahu lebar, badan yang tegap, dan terlihat bahwa otot-otot tubuhnya mulai membentuk, dia pasti sangat rajin berolahraga. Dan juga wajahnya yang selalu stoic itu seakan menyembunyikan banyak rahasia. Terutama matanya yang berwarna hitam bagai langit malam itu, seakan membuat orang yang melihatnya ingin terus menyelami keindahan hitamnya langit malam tersebut.

Tu, tunggu.

APA YANG AKU PIKIRKAN SIHHHHHH!

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat. Aku pasti sudah gila untuk apa juga aku memikirkan tentang pangeran Teme itu bahkan sampai memujinya seperti itu. haahhhh, sebaiknya aku lekas mandi sekalian mencuci otakku ini.

Setelah selesai mandi aku kembali turun untuk sarapan bersama dengan Tou-san dan juga pangeran Teme.

"Naru." Ujar Tou-san.

Akupun mengalihkan pandanganku kearah Tou-san. Tou-san membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu ATMnya.

"Apa kau ingin membeli pakaian baru?" Tanya Tou-san sambil tersenyum kearahku

"Tentu saja. Tapi ada apa ini? Tumben sekali Tou-san menawariku hal seperti itu. biasanya kan Tou-san selalu menyuruh untuk berhemat, bahkan mengeluh hanya karna biaya listrik tiap bulan." Jawabku sambil mengerucutkan bibir.

"HAHAHA, memangnya kapan Tou-san seperti itu? dan.." ujar Tou-san dan tiba-tiba menjitak kepalaku." Kau tinggal dirumah sendiri, tapi biaya listrik tiap bulan selalu besar dan naik, memangnya apa yang kau lakukan selama Tou-san pergi bekerja HUH?"

Aku mengusap-usap kepalaku yang menjadi korban jitakan Tou-san.

"Iya, iya aku tahu aku akan lebih berhemat. Lalu.." ujarku sambil menatap kartu penuh uang ditangan Tou-san.

" Sepulang sekolah pergilah belanja beberapa baju untuk Sasuke dan au. Kasihan Sasuke dia tidak punya banyak pakaian yang di bawa, beli juga sepatu dan juga sandal dan barang lainnya yang ingin dia beli." Kata Tou-san sambil menyerahkan kartu itu padaku.

Chee.

Sasuke lagi, Sasuke lagi.

"Jadi Tou-san ingin menghambur-hamburkan uang hanya untuk dia?" ujarku sambil menunjuk Teme dengan daguku.

"Lagi pula itu tidak sepenuhnya uang Tou-san. Apa kau tau semua biaya selama Sasuke tinggal disini ditanggung oleh Anbu. Jadi kau tidak perlu khawatir uang kita habis hanya karna belanja. Kau juga bisa membeli barang-barang yang kau inginkan Naru."

"Hmmmmm, apa aku juga boleh membeli sepatu baru? Sebentar lagi akan ada pertandingan sepak bola dan sepatuku juga sudah mulai usang."

"hm, tentu belilah apapun yang kau butuhkan. Ingat, hanya beli barang yang sekiranya sangat kau butuhkan. Jangan membeli barang-barang tidak berguna kau mengerti."

.

.

.

Dan disinilah aku sekarang.

Berada di salah satu pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Akihabara. Kenapa aku bisa sampai di Akihabara? Salahkan Kiba yang ngotot untuk ikut dan menyarankan kami untuk pergi ke Akihabara.

"Kenapa kita harus jauh-jauh ke akihabara sih?" tanyaku pada Kiba.

"Karna di Akihabara ada toko langgananku. Kau puas? Sudah lah kalau begitu kita berpisah disini. Aku harus cepat-cepat ke pet shop untuk membeli barang-barang keperluan Akamaru. Ayo Shika kita pergi." Ujar Kiba sambil pergi menarik Shikamaru sambil terus mengoceh.

Kini hanya tinggal aku dan Pangeran Teme.

"Huh, lihatlah dia, selalu saja mementingkan Anjingnya itu dari pada sahabatnya sendiri. Yoossh, baikalh ayo kita mulai belanja agar kita bisa cepat-cepat pulang. Pilihlah yang cepat kau mengerti." Kataku dengan nada malas.

"Aku selalu memakai pakaian yang telah dipilihkan oleh desainerku." Jawabnya dengan Nada datar

Chee.

Aarggghh tuhan lihatlah gayanya yang sangat angkuh itu. benar-benar menyebalkan.

"Ya aku tahu itu. tapi sekarang cobalah untuk memilih sendiri pakaian yang sekiranya cocok denganmu. Kau mengerti!" kata ku dengan nada yang kesal. Bagaimana aku tidak kesal jika melihat sikapnya yang angkuh itu. sungguh menyebalkan.

Aku pun berjalan kearah sebuah toko pakaian yang hanya menjual beragam pakaian pria.

"Cari beberapa pakaian yang cocok untukmu, dan cobalah disana, setelah itu perlihatkan padaku cocok atau tidaknya." Ucapku sambil menunjuk bilik ganti.

"Hm"

Sementara pangeran Teme itu mengambil beberapa pakaian, akupun ikut melihat-lihat. Lihat saja, aku juga akan membeli banyak pakaian, bahkan lebih banyak dari pakaian pangeran Teme itu hahaha, lagi pula sangat jarang kesempatan seperti ini muncul, bukankah aku harus memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh.

Saat sedang asik memilih sweater tiba-tiba pangeran Teme itu memanggilku.

"Bagaimana dengan ini?" tanyanya.

Dheg.

Tiba-tiba saja jantungku berdegup makin cepat.

Lihatlah dia menggunakan kaos panjang garis-garis bermotif abu dan putih yang dipadukan dengan bleazer berwarna biru dongker dan juga jelana jeans yang sewarna. Oh tuhan dia sungguh sangat terlihat keren, mungkin orang yang melihat akan salah mengira bahwa dia adalah seorang model.

"Bagaimana?" Tanya pangeran Teme

"O, oh. Bagus. Cari juga Sweater, kaos dan beberapa celana lagi." jawabku dengan cepat lalu langsung membalikan badanku memunggunginya.

A, ada apa denganku. Bukankah aku tidak menyukai Pangeran Teme yang sangat menyebalkan itu , tapi kenapa aku selalu terpesona setiap kali melihatnya. Aku memegang dadaku. Dan kenapa jantungku berdetak lebih cepat setiap kali aku terpesona melihatnya. Aarrgghhh aku pasti sudah gila. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan belanja ini dan cepat pulang.

Setelah kami membeli beberapa pakaian selanjutnya kami berkeliling kembali melihat-lihat. Dan langkahku berhenti di depan sebuah toko.

"Woww.. tebayou. Ini sungguh keren." Ucapku takjub melihat sepatu bola yang ada dihadapanku.

Sepatu bola berwarna orange bercampur biru yang sangat indah menurutku

"Warnanya terlalu mencolok." Sela Pangeran Teme.

"Ini seni kau tahu?" kataku dengan nada sewot.

Aku membalikan kepalaku kearahnya.

"Aku akan membelinya." Ujarku sambil tersenyum lebar kearahnya.

Aku masuk kedalam toko itu dengan semangat dan langsung mengambil sepatu bola yang tadi aku lihat.

"Aku pasti akan menang dalam pertandingan nanti." Kataku semangat sambil melihat sepatu yang kini sudah terpasang dengan manis di kakiku.

"pertandingan apa?" Tanya Sasuke.

"Pertandingan sepak bola yang akan berlangsung seminggu lagi. oh iya kau pasti belum tahu bahwa aku ini adalah kapten tim sepak bola di sekolah kita. Kau tahu aku ini sangat hebah mengendalikan bola dengan kakiku ini, tendanganku juga sangat hebat, Hampir semua tendangan yang aku lakukan pasti akan menciptakan sebuah Gol. Sangat sulit di jelaskan dengan kata-kata, kau harus melihat sehebat apa aku ini di lapangan baru kau bisa mengerti." Jelasku dengan semangat menggebu-gebu.

Bukan maksud untuk menyombongkan diri, tapi aku ini memang sangat hebat.

Tersenyum.

Sasuke tersenyum.

"hm, aku akan menantikannya dan sepatu itu juga terlihat sangat cocok denganmu." Ujarnya sambil tersenyum.

Ap, apa-apan dia? Kenapa dia tersenyum seperti itu padaku? Kenapa dia terlihat berbeda dengan Sasuke yang aku lihat di sekolah, Sasuke yang bersikap menyebalkan dan sangat aku benci.

"Kalau begitu ayo cepat beli, bukankah kau bilang ingin cepat-cepat pulang." Ujar Sasuke memecah lamunanku.

"Oh? Oh iya aku akan membayarnya bagaimana dengan mu? Kau juga harus membeli sepatu." Ujarku

Kemudian dia melihat-lihat sekitar kemudian mengambil sepatu sneaker berwarana biru tua.

"hm." Ujarnya sambil memperlihatkan sepatu itu.

.

.

.

Saat ini aku sedang duduk di taman belakang rumahku sambil melihat bunga-bunga yang selalu aku rawat dengan hati-hati.

"Kau sedanga apa?" tiba-tiba sebuah suara mengusik keheningan malam

Suara orang yang menurutku sangat menyebalkan. Suara Pangeran Teme.

"Tidak ada, hanya mencari udara segar" jawabku

"Bunga yang cantik, apa kau yang menanamnya?"

"Ya, aku peringatkan kau jika berani menyentuh tanamanku sedikitpun kau akan aku bunuh. Kau mengerti!" ancamku sambil menunjuknya tepat diwajahnya

Dia hanya tersenyum kecil.

Lagi-lagi dia tersenyum. kenapa dia selalu tersenyum padaku akhir-akhir ini? Biasanya dia selalu menampakan wajahnya yang sedingin es kutub utara itu.

"Kenapa kau mau memelihara bunga- bunga ini? Kau tidak terlihat seperti orang yang suka merawat sesuatu." Tanyanya sambil ikut duduk di sampingku

"Memangnya kenapa huh? Apa tidak boleh aku merawat bunga? Memangnya aku orang yang seperti apa huh? Kau bicara seakan-akan kau mengenalku saja." Ujarku sedikit sewot karna ucapannya, dia kembali menjadi menyebalkan.

"Hanya ingin tahu saja. Setiap pagi aku selalu melihat kau menyempatkan waktu untuk menyiram bunga dulu sebelum brangkat sekolah. Aku berfikir mungkin ada alasan Khusus sampai-sampai kau melakukannya."

Aku terdiam sesaat.

"Alasannya karna ibuku." Jawabku sambil melihat kearah bunga-bunga itu

Sasuke berpaling kearahku dan memperhatikanku.

"Tou-san bilang kalau ibuku sangat menyukai bunga. Tou-san pernah bercerita Cara untuk membuat ibuku tenang saat dia marah cukup hanya dengan membelikannya bunga, dan ibuku akan melupakan kemarahannya dan kembali tersenyum saat sudah melihat bunga. Kakek dan nenek ku juga bilang selama ibu mengandungku setiap hari yang dia kerjakan selalu saja merawat bunga yang ada di halaman rumah nenekku." Ucapku sambil mengingat cerita tentang ibuku.

Ya, itulah alasanku mengapa aku merawat bunga-bunga ini. Karna aku juga ingin bisa membuat ibuku bahagia.

"oh iya, aku mendengar dari Tou-san bahwa ibumu kini ditahan oleh pamanmu." Ujarku teringat tentang kondisi ibu pangeran Teme yang Tou-san ceritakan padaku.

Sasuke memalingkan kembali wajahnya ke arah bunga-bunga.

"hm" gumamnya pelan

Kuperhatikan wajahnya. Terlihat dari matanya raut kesedihan yang sangat dalam. Dan dia hanya terdiam.

Aku memegang kedua pipinya dan meamaksanya untuk menatapku.

"hei Pangeran Teme, dengarkan aku. Walaupun saat ini ibumu sedang ditahan oleh pamanmu yang jahat itu, tapi aku sangat yakin bahwa keadaanya baik-baik saja. Tou-san ku juga pasti akan menemukan cara untuk menyelamatkannya. Kau tahu Tou-sanku itu sangat hebatkan? Dia pasti akan menyelamatkan ibumu juga kembali merebut kerajaanmu kembali untukmu. Karna itu kau harus kuat. Kau mengerti!" jelasku padanya

Mata kami saling bertatapan. Kemudian Pangeran Teme menghela nafas.

Dan tiba-tiba saja sebelah tangannya menyentuh keningku dan mendorong kepalaku pelan dengan telunjuknya.

"Aku sudah tahu itu Dobe." Ujarnya sambil tersenyum kemudian kembali menatap kearah bunga- bunga.

"YAAA! Beehenti memanggilku Dobe, dasar Pangeran Teme menyebalkan." Bentakku sambil menyentuh keningku.

Dia hanya diam sambil tersenyum.

Dheg

Dia tersenyum lagi, kenapa dia sering tersenyum padaku.

"La, lalu orang yang bagaimana ibumu?" tanyaku berusaha mencarikan suasana.

"hhmm, dia orang yang sangat lembut, dan selalu mementingkan diriku dari pada dirinya sendiri. Dia selalu barada di sampingku dan memperhatikanku. Kami lebih sering melakukan hal berdua saja, karna hanya dia yang aku miliki."

"aku iri padamu." Ucapku pelan.

" Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanyanya.

Ibuku?

Aku terdaiam sambil berfikir orang yang seperti apa ibuku

"Aku tidak mengenal Ibuku. Dia meninggal karna telah melahirkanku. Mungkin Ibuku hanyalah wanita yang terlalu baik yang dengan senang hati rela menukar nyawanya dan juga kebahagiannya hanya demi melahirkan anak bodoh sepertiku. Seandainya saja dia tidak melahirkanku, mungkin saja dia saat ini berada di sini, menemani Tou-san dan hidup bahagia, tapi gara- gara aku, ibuku…"

Tes tes.

Tanpa ku sadari air mataku telah jatuh ke pipiku. Haahh, apa yang aku lakukan. Kenapa aku harus menangis di hadapan Pangeran Teme ini. Kenapa aku harus terlihat lemah dihadapannya.

Greb.

Sepasang tangan kini telah merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Tercium aroma mint dari tubuh orang yang memelukku kini

"Karna ibumu telah menukar nyawanya yang berharga demi si anak bodoh ini. Bukankah seharusnya anak bodoh ini sadar dan mengerti seberapa besar rasa cinta dan sayangnya untukmu. Bukankah kau harus membalasnya, dengan hidup bahagia, untuk membuktikan kepadanya bahwa pengorbanannya tidaklah sia-sia." Ucap Pangeran Teme sambil memelukku semakin erat

Membalas Ibuku dengan hidup bahagia.

Aku terdiam sambil terus menangis. Selama ini aku selalu saja menyalahkan diriku sendiri atas kematian ibuku. Dan entah kenapa saat ini aku merasa sangat senang karna aku merasakan sebuah kehangatan di dalam hatiku. Aku menyentuh punggung Sasuke dan memeluknya dengan erat.

Tbc

.

.

.

Wah akhirnya update juga. Hehe gomen atas keterlambatannya..

Wah cerita ini makin lama makin gaje aja yah. Karakternya juga makin OOC. Aduh Gomen gomen.

Tapi saku berharap masih ada orang yanga mau baca cerita gaje ini.

Dan Saku juga berharap (banget) ada yang mau review. Karna review kalian adalah sumber semangat saku.

Kalo gitu…..

Mind to review?