"Cukup hyung! Ini sudah melewati batas, hentikan!"

Sebuah gelas kecil berisikan air memabukan –segelas soju dirampas secara kasar dari tangan Baekhyun oleh Sehun. Adiknya itu gerah melihat tingkah kakaknya yang benar-benar sudah keterlaluan –dalam artian terlalu memusingkan masalahnya dengan Chanyeol. Dalam benak seorang Oh Sehun, hanya satu saran terbaik untuk Baekhyun sang kakak, yaitu meninggalkan Chanyeol dan menghapus kehadiran lelaki itu dengan menikahi seseorang yang baru di luar sana.

Tapi bukan Baekhyun jika ia langsung mengangguk dan patuh pada saran orang lain. Lelaki bermarga Byun itu hanya akan tertawa pahit sembari berlinangan air mata, tak lupa segelas soju yang juga ia tenggak menambahkan kesan menyedihkan pada diri Baekhyun dan itu fakta. Ia terlihat benar-benar menyedihkan, amat-sangat. "Tsk! Hyung, hentikan lah! Kau tidak wajib menangisi si bodoh Richard itu, hentikan hyung!" tegas Sehun tepat didepan wajah Baekhyun yang memerah karena mabuk sembari menangis.

"Kau salah Sehun, aku menangis bukan karena lelaki itu, bukan." Katanya sambil menggerakan telunjuknya tanda 'bukan itu' pada adiknya, Sehun. "Aku menangis karena aku begitu bodoh dan juga menyesal karena berhasil dilahirkan dengan selamat kemari. Mengapa aku tidak mati saja ya?" lanjutnya lagi sambil tertawa begitu masam.

Bibir Sehun melengkung kebawah, ditambah sedikit linangan diekor matanya yang meleleh begitu melihat kakaknya begitu lemah bagaikan seonggok cahaya lilin ditengah serbuan rintik salju. Mungkin ia memang bukan adik kandung Baekhyun, mungkin ia juga tidak selama Kyungsoo yang melihat bagaimana kerasnya hidup yang Baekhyun lalui sebelum ia datang, tapi ia tetap adiknya.

Tetap adik dari seorang Byun Baekhyun. Sehun dapat tersenyum karena Baekhyun, Sehun mampu membacapun karena Baekhyun, semuanya karena Baekhyun sang kakak yang begitu ia sayangi melebihi dirinya sendiri. "Oh Sehun, tidak kah kau merasa ada yang salah pada rasi bintang ku?" tiba-tiba saja Baekhyun bertanya dengan suaranya yang begitu parau.

"Mengapa begitu hyung? Semuanya tidak ada yang sakah, ini hanya sebuah kecelakaan kecil, its gonna be alright, Hyung." Sahut Sehun dengan senyuman kecil dibibir tipisnya. Dalam hati ia begitu mengumpat pada lelaki bernama Chanyeol itu. Beraninya dia mengepakkan sayap kakaknya tapi dia juga yang mematahkannya, dia fikir karena dia bangsawan dia bisa melakukannya?

"Tenang saja Hyung, aku akan selalu ada disini. Jangan lupakan adikmu ini, jika si brengsek itu mengapa-apakan kau lagi, sebut saja namaku maka aku akan datang." Baekhyun tertawa begitu mendengar penuturan Sehun yang terkesan main-main.

Sehun mengerucutkan bibirnya sebal, menatap kakaknya dengan wajah kesal dan marah. "Aku sungguh-sungguh, jangan ragukan ini hyung. Jika kekasih brengsek mu itu memiliki sebuah Meriam semacam yah aku tidak tahu namanya karena begitu rumit, maka aku punya diriku untuk menumbangkan semua senjata yang ia punya demi membawamu membakar habis semua diatas kepala Chanyeol." Jelasnya serius.

"Oh Sehun, aku tidak memintamu untuk melakukan itu. Cukup biarkan dia, ada saatnya dia akan sadar lalu aku akan pergi meninggalkannya." Baekhyun berujar dengan lemah, menumpu dagunya diatas meja bar dengan kedua tangannya yang sama lemahnya. Matanya sudah merem-melek ibarat lampu yang hampir 5 watt. "Jangan lakukan itu, Sehunna. Aku membencinya, jangan jadi orang jahat karena kau ingin menjadi orang baik. Cukup diam maka kau akan dapatkan jawabnya." Finalnya lalu Baekhyun benar-benar terlelap karena mabuk.

Sehun hanya bisa berdiam. Ia sudah terlanjur menyukai untuk melakukan tindak keji pada Chanyeol, ia tidak bisa berhenti. Walaupun Baekhyun melarangnya, ia akan tetap menghajar Chanyeol habis-habisan demi bisa membuat anak bangsawan itu sadar dari guna-guna sialan yang membuat Baekhyun tercemplung dalam kolam rasa sakit. Sehun benci orang itu. Ya, Chanyeol dan juga isterinya Elizabeth.

Bar sudah mulai menyepi, dilihat dari jarum jam yang menunjukan pukul 5 pagi sudah dapat dipastikan jika pasti semuanya sedang bergegas untuk beres-beres ataupun pulang kerumahnya. Begitu pula dengan Sehun. Lelaki kelahiran tahun 94 itu berusaha mengangkut tubuh kakaknya menuju rumah mereka yang tak jauh dari sana –karena hanya dipisahkan dengan dua kali naik tangga- Sehun langsung melangkahkan kakinya agar kakaknya dapat tidur dengan nyenyak.

"Hyung, jangan khawatir. Rasa sakit itu ada obatnya dan itu adalah aku. Biarpun Chanyeol dan segala kegoisannya menelan seluruh perasaannya, maka aku akan jadi penawar untukmu dan kita akan membuat keluarga bahagia bersama Luhan di Beijing. Hyung, saranghae. Bertahanlah, Luhan akan sangat menyayangimu selayaknya aku menyayangimu." Bisiknya ketika Baekhyun sudah jatuh lelap diatas kasur kamarnya.

Badanya begitu ringan, batin Sehun meringis. Ingatan betapa kejam orang tua mereka membuat Sehun semakin ingin melindungi kakaknya ini. Ia tidak peduli jika harus membunuh seseorang demi bisa melindungi Baekhyun bahkan orang itu adalah dirinya sendiri.

Kakinya melangkah melawan arah saat ia masuk kedalam kamar untuk pergi menuju kamarnya sendiri. Sudah cukup lama ia menimbun rasa rindu pada Luhan di Beijing sana. Begitu khawatirnya ia pada Baekhyun membuatnya mengesampingkan Luhan.

Meskipun lelaki kelahiran 91 itu tidak mengeluh, tapi tetap saja ada perasaan bersalah dan tidak enak meskipun Luhan sudah berkata tidak apa-apa dengan wajah tersenyumnya yang bagaikan dewi dewi angkasa.

"Halo, Lu? Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya begitu sambungan video call diangkat seseroang diseberang sana dengan bibir berlukis cantik.

"Ya, Shixun-ie. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Luhan tersenyum pada Shixun –Sehun dilayar ponselnya yang membuat Sehun sedikit bernafas lega.

"Bagaimana kabar Beijing? Apakah, kau masih menghitung hari-hari?"

"Tentu, berhitung sampai kau meminangku disini. Jika janji itu kau tepati, maka aku akan berhenti berhitung. Shixun, Baixian baik-baik saja?" wajah Luhan terlihat khawatir, terbukti air wajahnya berubah menjadi keruh dan senyumnya luntur. Teringat akan cerita Sehun padanya beberapa waktu lalu tentang keadaan kakanya itu –Baixian alias Baekhyun.

"Aku senang mendengarnya, Lu. Dia tidak apa-apa, kau tenang saja. kekasihmu ini adalah adik yang tangguh dan lelaki sejati, dia pasti akan baik-baik saja. kau tumben sudah bangun, menungguku?"

Luhan tertawa disana, biarpun tidak begitu lepas tapi cukup membuat Sehun gemas dan rindu. Andai saja ia bisa membawa Baekhyun semudah menggotong seekor sotong kebandara menuju Beijing, pasti sudah lama ia lakukan.

"Shixunie, jangan lupakan pesanan ku ya!" pinta Luhan begitu Sehun menyeriuskan wajahnya pada Luhan. Sehun menaikan alisnya bingung –lupa barangkali. Luhan tersenyum misterius diujung sambungan sana dan dimata Sehun, kekasihnya yang bahkan lebih cantik dari wanita tulen sebangsa dengan Puteri Fionna pun mampu membuatnya mengukir senyum dibelah bibirnya.

"Pesananku itu sangat penting, Shixun! Kau lupa? Ini bertautan dengan keadaan silsilah keluarga Richard dan juga keluarga Rondolff dari Elizabeth, kau benar-benar melupakannya eoh!?" Luhan sedikit berteriak guna membuat Sehun ingat, dan itu berhasil. Terbukti kekasihnya itu menyeringai dan semakin tampan.

"Itu urusan gampang, Xiao Lu~ sudah ya, aku ingin tidur. Dari pukul 11 malam aku menemani Baekhyun hyung mabuk, aku lelah. Selamat pagi buta rusakku." Sehun mengecup layar ponselnya lalu Luhan membalasnya dengan hal yang sama.

Ia memutar knop pintu kamarnya dengan gontai. Merebahkan dirinya senikmat mungkin lalu memjamkan matanya. menenangkan gejolak khawatir yang terus menerus datang dan membuat emosinya teraduk secara dadakan dan terkesan tidak terkendali –contohnya penyerangan Chanyeol.

Sudah tidak sanggup lagi, akhirnya ia memejamkan matanya. melayangkan angannya keawang-awang demi bisa bermimpi indah bertemu dengan rusanya dialtar gereja. Berciuman mesra, adegan ranjang sampai mereka tua adalah mimpi terindah miliknya. "Nite little deer, wo ai n–"

"Arghhh! Lepaskan, bajingan sialan! Lepaskan aku, argh!" teriakan keras tak jauh darinya mengganggu gendang telinga seorang Sehun yang baru saja menutup kedua kelopaknya.

Mata Sehuh membulat cepat, reflek ia langsung bangkit dan berlari kearah luar menuju kamar Baekhyun yang tidak jauh darinya. Bibirnya mengumpat dan daranya mendidih menahan emosinya yang meluap-luap. "Bajingan sialan itu, tidak kapok juga ya, huh!?" batinya memaki pada Chanyeol.

Brak!

Sehun menendang pintu kamar Baekhyun dengan nafas naik-turun, matanya nyalang memandangi siapa yang sedang berada didalam kamar kakaknya. Giginya bergemeletak dan tanganya mengepal keras, Sehun benar-benar marah sekarang. Mungkin sesuatu yang dulu berhasil tertidur kini dengan sengaja dibangkitkan oleh seorang asing yang benar-benar Sehun benci sampai kedalam sum-sum tulangnya.

"Oh Sehun, akhirnya datang juga." Sebuah seringaian mengukir indah pada belah bibir tebal seorang wanita yang dengan teganya menginjak kepala Baekhyun dengan sepatu wedges beratnya. Seakana-akan kepala itu adalah sebuah sanggahan sepatu ala bangsawan kerajaan yang biasa digunakan ketika sedang santai. "Ingin melihat kakakmu 'tertawa' bukan? Kemari, bantu aku 'bermain' dengannya." Ujar wanita itu sambil mengulurkan tanganya pada Sehun.

"Ternyata kau kuman juga rupanya, baiklah. Kita nikmati ini bersama-sama. Oh Sehun dan Byun Baekhyun, keluarga sampah yang memang harus dibersihkan secara kasar agar tidak menodai yang lain. Haih, tanganku akan kotor." Kata wanita itu dan beranjak dari Baekhyun menuju sebuah meja dengan tas besar diatasnya yang berwarna hitam hampir tak beda jauh dengan tas dokter.

Mata Sehun membulat begitu melihat apa yang wanita itu keluarkan dari dalam tas tersebut. Sontak ia berlari kearah Baekhyun dan menyeretnya keluar. Namun naas, wanita itu sudah melakukan persiapan lebih matang dari gerakan reflek Sehun yang secepat angin. "Sayang sekali, anak muda. Aku sudah memprediksi ini jadi jangan remehkan aku karena aku terlihat seperti wanita kerajaan lainya yang lemah dan lemut." Ujarnya dengan intonasi rendah, begitu mengintimidasi dalam pendengaran Sehun.

"Sialan sekali kau, kufikir hanya Elizabeth ternyata kau juga. Tapi jangan sedih, Nyonya besar. Sebuah hadiah terbesar dalam hidupmu akan meledak dan membakar tulangmu menjadi abu sebentar lagi, mungkin." Ucap Sehun sambil mengedikan bahunya lengkap dengan wajah datar dan ekspresi meremehkan ala nya.

Wanita itu memicingkan matanya kesal. Ia melangkahkan sepatunya kearah Sehun dan menginjak tepat diperutnya, namun Sehun diam dan menahan pergelangan wanita itu agar tidak mendarat tepat diperutnya. "Kau fikir aku anak kecil, Nyonya? Kau salah. Aku lahir sudah begini, dengan cara seperti ini. Siap-siap kalah, aku sarankan itu padamu agar tidak sedih dan menangis sambil memohon pada siapaun yang berniat kau adukan." Sehun menyeringai, lalu mendorong kaki itu hingga membuat wanita itu ikut terjatuh dengan keras.

"Ibu dan anak sama saja. fikiranmu itu terlalu dangkal sampai orang semacam menantumu itu bisa memutar dan membalikannya secara mudah. Sudah tua tapi bodoh, apakah kau benar dari keluarga Richard? Aku meragukannya." Oceh Sehun membuat wanita yang terjatuh didepannya itu semakin panas terbakar emosi. "Wah sekarang sudah jam setengah enam pagi. Ingin melihat kembang api tidak?"

"Cih, jangan bermain-main denganku Oh Sehun! Kau hanya anak kecil, jangan berlagak dewasa!"

Wanita itu merangkak menuju sebuah palu yang tadi ia ambil dari dalam tasnya. Mata lelaki berkulit pucat itu mebelalak terjekut, sekaligus panik. Sontak ia mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, hendak ia seret ataupun dorong keluar agar kakak kesayangannya itu tidak tergores barang sepukul oleh palu berat itu. "Lari Hyung!" teriak Sehun kalap, ia sudah setengah berdiri lalu dengan cepat mendorong tubuh Baekhyun agar menjaih dari jangkauannso wanita gila yang bersampulkan indah bagaikan dewi yunani.

"Hahaha! Lihat, lihat! Kau tidak akan bisa lari lagi! Rasakan ini kotoran!" wajah wanita itu berubah bahagia, seram sekaligus menjijikan disaat yang bersamaan. Sehun bahkan tidak bisa meraih dengan benar pergelangan tangan Baekhyun. "Hyung, mianhae!" bisik Sehun pelan.

Wanita itu menyeringai, rasanya ada ribuan uang yang berjatuhan diatas kepalanya; begitu bahagia ia rasakan saat ini. "Melihat ekspresi orang yang akan mati alangkah indahnya." Ucap wanita itu lalu mengayunkan palu dengan sekuat tenaganya, lalu menjatuhkan beban palu itu tepat kearah sasarannya; Sehun. "Selamat tinggal, hiduplah dengan tenang di alam baka sana! Ahaha!"

Brak!

"Haha li –astaga!" mata wanita itu membulat setelah ia melihat apa yang telah ia lakukan. Genangan darah yang begitu banyak mentes dari ujung palu hingga dasar lantai. Menetes deras dari kepala seseorang yang begitu berharga untuknya. "Be-berhenti.. eo-eomma, eomm –"

Bruk.

Hening. Bau anyir dan juga menyedihkan. Sudut pandang mereka bercampur. Bahkan Sehun tidak bisa bergerak, seakan semua sendinya kaku tertancap oleh paku beton. "Tidak mungkin, Chanyeol hyung." Gumam Sehun terkejut. Bibirnya menganga, sementara tanganya sudah bergerak melawan ketakutannya pada darah untuk mengangkut Chanyeol menuju rumah sakit.

"D-dia tidak mati 'kan?" suara wanita itu memecah keapnikan Sehun yang sudah melenggang kalap menggotong tubuh berat Chanyeol mati-matian. Sementara Baekhyun, ia hanya bisa terbengong dengan mata lurus yang tak memancarkan apa-apa. Kesedihannya terlalu dalam. "Chanyeolie ku, tidak akan mati.. tidak akan." Ucapnya berulang-ulang.

Baekhyun hanya terus berdiam pada bibirnya. Namun, Baekhyun meraung-raung dalam hatinya. Rintikan air mata akhirnya jatuh dan berlinang dibelah pipi Baekhyun. bohong jika Baekhyun tidak kehilangan, itu bohong besar. Ya, Baekhyun pernah perfikir dan pernah berharap jika Chanyeol mati saja.

Tapi, itu bukan untuk menjadi nyata. Hanya sebuah ucapan untuk waktu kesal saja. apakah Tuhan terlalu baik sampai keinginan burukpun ia kabulkan? Jika iya, Baekhyun ingin meminta agar dirinya mati juga. "Kau, kenapa diam saja!?" wanita itu mencoba membuat Baekhyun bersuara. Namun nihil. Baekhyun tetap diam dalam tangisnya yang tanpa suara.

"Seharusnya kau tahu jika akan terjadi seperti ini, seharusnya kau tidak usah mengenal anak ku! Ini salah mu, kau sudah masuk dalam hidup anak ku dan membuatnya jadi rela berkorban untuk kotoran hina seperti mu!" ibunya menangis. Park Go Eun, ibu Chanyeol sekaligus, yang membuat kepala Chanyeol mengalami pendarahan hebat karena palunya. "Kau bajingan, Baekhyun. tidak bisa kah kau lari dari dunia ini dan berpura-pura lupa pada dia? Campakan saja dia! Campakan saja Chanyeol agar dia jera dan melupakanmu! Aku membencimu dekat dengan anak ku, jalang!"

Baekhyun tersenyum dalam tangisnya, matanya tetap sunyi. "Anggap saja ini awalan, Nyonya." Ujarnya santai lalu berjalan keluar pintu kamarnya tanpa mengatakan hal lebih atas ucapannya yang barusan. "Kau bicarapa apa? Tidak bisakah aku sopan sedikit pada bangsawan!? Heh!"

Kakinya sudah semakin jauh, dan wanita bernama barat Zoey Park itu tidak tahu lelaki berwajah feminism itu pergi kemana. Yang terpenting sekarang adalah, keselamatan anaknya, Park Chanyeol. "Bagaimana bisa dia menukar tempat dengan anak kotor itu?"

Dahinya berkerut bingung, sedangkan dadanya berdetak cepat karena takut dan panik. Dilihat darimanapun, ia salah. Ketidak sengajaan tidak akan mampu membuat tuntutan padanya melayang. Kecuali ia rela membongkar brangkasnya dan membayarkan uang untuk kesalahannya. "Ya, benar. Uang, semua bisa diatasi dengan uang."

Bibirnya tersenyum, tanganya melemparkan palu yang tadi ia genggam entah kemana. Tanganya meraih sebuah benda pipih yang ia sengaja ia letakan diatas meja lalu menghubungi seseorang dengan santai; mengabaikan bau anyir darah dan juga lalat yang mengitarinya.

"Chester, datang kerumah Baekhyun sekarang, aku ada disini. Bawa uangku dan juga beberapa orang untuk membereskan pembunuhan, kau mengerti? Kutunggu dalam 20 menit, jika kau telat akan ku bawa kau kebawah tanah."

Pip

Sambungan ia putuskan, lalu mulai berdiri lalu duduk didepan jendela yang menghadap langsung dengan rumah sakit besar daerah. Matanya tidak bisa mengehntikan air mata yang meleleh begitu saja, rasanya ia benar-benar bodoh. Sebegitu bencinya kah dia pada Baekhyun dan Sehun?

"Maafkan aku, Chanyeolie. Eomma, eomma tidak sengaja.. kau percaya padaku bukan? Jadilah anak pintar, Chanyeolie. Saranghae." Tanganya meraba kaca jendela yang menghubungkan dalam kamar dengan daerah luar; rumah sakit. Tanganya mengusap-usap kaca jendela dengan air mata yang terus berderai. "Mianhaeyo, Chanyeolie." Isaknya lagi.

"Nyonya, saya sudah disini. Mobil anda sudah ada dibawah, ingin ganti pakaian dulu?" suara berat lelaki yang ia kenal memecah isakannya yang pilu. Matanyapun sudah merah dan sembab, padahal ia belum menangis terlalu lama. Apakah karena perasaan bersalah? Entah. "Ya, siapkan pakaian ku. Tunggu aku dibawah dan bereskan ruangan ini sebersih mungkin, jika ada sidik jari, hilangkan. Aku tidak ingin ada berita miring disini tentangku ataupun anakku. Mengerti?"

Laki-laki yang berlutut dibelakangnya mengucapkan kata 'Iya, Nyonya' dengan halus lalu berlalu menuju bawah setelah meninggalkan paper bag yang berisi pakaian majikannya. Banyak pertanyaan dikepala orang bernama Chester itu, namun ia hanyalah pelayan. Ia tidak ada hak untuk tahu.

Namun ini benar-benar janggal baginya. Sekian lama ia mengabdi pada Nyonya muda bernama Zoey itu, ia baru pertama kali melihat majikannya itu menangis dan terlihat biasa saja begitu bersinggungan denga darah dan hal-hal tidak bersih seperti itu. Ia mengedikan bahunya tidak ingin tahu, lalu kembali berjalan menuju limousine putih yang sudah terparkir apik dipintu masuk apartemen.

"Yah, sifat orang tidak ada yang tahu." Ujarnya asal.

.

Seluruh mata memperhatikan Sehun yang berlari terengah-engah menuju lobi rumah sakit. Membaringkan Chanyeol yang tak sadarkan diri diatas ranjang dorong yang sudah disiapkan siaga oleh para perawat yang standby didepan pintu masuk gawat darurat.

Tidak peduli si sialan Chanyeol itu siapa sekarang, yang penting ia selamat. Itu prioritasnya sekarang, lalu Baekhyun. apakah ia baik-baik saja?

"Dokter! Tolong tangani dia, cepat! Pendarahannya hebat sekali, tolong selamatkan dia!"

"Keluarga dari pasien?" tanya seorang dokter yang baru keluar dari UGD. Sehun beranjak dari duduknya, wajahnya was-was, beberapa orang memandanginya aneh dan ia sendiri tidak tahu kenapa. Apa karena mereka sudah tahu kalau Chanyeol sedang ada didalam? Entah. "Ya, saya keluarganya. Bagaimana keadaanya?" tanyanya khawatir.

Dokter bernamtag 'Martine Grey' itu melepaskan kaca matanya lalu memfokuskan iris biru lautnya pada mata Sehun. "Dia terkena hantaman keras, tempurungnya retak, dan kepalanya bocor. 32 jaitan sudah kami lakukan pada kepalanya, namun sepertinya kami mengkhawatirkan keadaan otak dan syarafnya. Kepalanya terbentur benda keras kemudian terbanting sama kerasnya diatas lantai, kemungkinan pasien akan mengalami gegar otak."

"Apa?" Sehun bahkan tidak bisa sekedar menelan ludahnya dengan benar. "Apakah separah itu? Bisakah disembuhkan?" wajahnya semakin acak-acakan, Sehun kacau. Jika Baekhyun tahu kondisi Chanyeol, ia bisa-bisa melakukan hal nekat selevel dengan bunuh diri dan melukai diri. "Usai pasien siuman dan kondisinya stabil, kami akan melakukan check pada keadaan kepalanya. Kau bisa mengunjunginya sekarang, aku tinggal."

Usai dokter wanita berambut kuning itu pamit, Sehun langsung menarik gagang pintu dan mendudukan diri didepan Chanyeol yang mendapat banyak perban dikepalanya. "Kasihan sekali kau. Kau kaya, tapi hidupmu menyedihkan. Orang tuamu kacau sekali, hidupmu pun sama. Menyakiti hati kakakku, melukai para orang bawahan, kau fikir dirimu hebat, hah?" ujar Sehun dengan intonasi sebal.

"Lihat kau sekarang ini Richard yang belagu, kau terbaring tak sadarkan diri dengan 32 jahitan. Menyedihkan, kau benar-benar menyedihkan!" ejek Sehun semakin jadi. "Jika Baekhyun hyun tidak menangisimu, sudah aku lakukan ini sedari dulu. Aish, orang kaya selalu saja semena-mena."

Sehun menendang kaki kasur dengan pelan, mengguncang ranjangnya lalu ia kembalikan lagi begitu mendengar suara pintu ruangan Chanyeol terbuka. "Oh! Baekhyun hyung, kau mau apa kemari? Jangan kemari, pulang lah. Nanti kau bisa –"

"Aku baik-baik saja, Sehun. Aku hanya ingin melihat keadaanya, hanya itu." Sahut Baekhyun yang sudah duduk didepan Chanyeol sama seperti posisi Sehun. "Bagaimana kondisinya? Ada kerusakan yang fatal?"

Sehun meraih tubuh Baekhyun dalam pelukannya, "Jangan khawatir. Chanyeol mu itu, bukan lelaki lemah. Dia pasti akan bertahan, jangan khawatir." Dapat ia rasakan jika bahunya basah, dan itu ulah Baekhyun. "Tidak apa-apa Hyung, keluarkan saja. tangismu bisa memberikan perasaan lega pada Chanyeol bajingan itu jika kau peduli padanya, dia pasti baik-baik saja." ucap Sehun sambil terus mengusap surai lembut kakaknya itu.

"Aku takut dia pergi." Isaknya, bibirnya bergetar dan matanya semakin membengkak karena terlalu keras menangis dan terlalu lama menangis. "Aku tida bisa ditinggal begitu saja usai ia menancapkan duri pada tangkaiku, Sehuna. Aku tidak bisa, hiks.. Chanyeol." Tangisnya semakin menjadi. Begitu terdengar menyedihkan pada gendang telinga Sehun, begitu pilu dan menyedihkan.

Tangan mungil berjari lentik kakaknya terus meremas punggung dan tak henti menyerukan nama Chanyeol yang kini terbaring tak berdaya diatas ranjang rawat. Sehun tidak bisa berbuat banyak selain ini. Pertolongannya akan berakhir usai Chanyeol sadar.

Ia bersumpah, benar-benar bersumpah. "Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, Hyung."

Baekhyun tidak akan dengar suara Sehun yang begitu overprotective yang ditujukan untuknya. Suara tangisnya menenggelamkan bisikan lembut Sehun yang begitu menyayangi Baekhyun. kata itu berlaku untuk siapapun. "Yang menyakitimu akan mati, Hyung." Bisiknya lagi, dan Baekhyun tidak bisa mendengarnya lagi.

Perasaannya begitu besar pada seorang kakak. Tidak untuk cinta terbalas, tidak juga untuk pasangan. Seperti sebuah telur dengan kuningnya, itulah mereka. Tidak tahu mengapa Sehun menyimpulkan dan mengibaratkannya seperti itu namun yang jelas, Sehun tidak akan membiarkan lolos siapapun yang menyakiti Baekhyun.

"Tidak akan pernah." Gumamnya.

.

Brak!

Pintu berbahan jati itu didobrak dengan mudah oleh Yura. Tidak peduli itu pintu ruangan milik siapa, yang jelas ia sedang kesal dan sangat kesal sekarang. "Eomma!" teriak wanita berambut pendek sebahu itu dengan lantang.

"Oh, Yura. Pekerjaan mu sedang sedikit, eoh? Tumben sekali kau kemari, rindu pada eomma?" goda Go Eun. Matanya tidak menatap anak sulungnya itu, namun pada lima jarinya yang meriah dengan cutex silver dengan glitter yang gemerlapan. "Eomma, bisa lihat anakmu?"

Goeun mendongakan kepalanya, sontak matanya langsung bersitatap dengan dua bola kembar berkilat milik anak sulungnya. "Ada apa dengan sorotmu itu, Yura? Hm?" bukanya menatap lebih lama seperti biasanya, ia lebih memilih untuk kembali fokus pada jari kukunya yang berkilauan. "Mataku? Tidak, mataku baik-baik saja. Apa eomma benar-benar tidak inin melihat anaknya?" tanya Yura lagi.

"Ck, kau ingin mengerjai ku, eoh? Lihat, aku sudah melihat anakku, lihat aku sudah meli –"

"Chanyeol. Bukan aku." Potong Yura dengan cepat. "32jahitan, apa itu tidak keterlaluan eomma? Bagaimana bisa kau melakukan itu pada anakmu sendiri? Hah!? Astaga, Tuhanku. Eomma, dia –"

"Diam! Tahu apa kau selain suamimu dan kotoran itu!? Sudah cukup aku malu karena kau menikah dengan anak jalanan itu, Yura! Jangan berlagak kau orang baik dengan membiarkan adikmu menikah dengan Baekhyun! Kau telah kehilangan akal Park Yura!" teriak ibunya dengan emosi meluap-luap. "Pergi! Jangan kembali lagi kemari! Pergi!" usirnya pada Yura.

Anak sulungnya itu hanya diam dan terus memandangi ibunya dalam sorot matanya yang seakan ingin membekukan ibunya. "Kau bisa masuk penjara, eomma. Kau tidak malu? Bukankah ini lebih memalukan dari status suami ku yang hanya seorang manager bank daerah? Apakah aku sungguhan seorang ibu, eomma?" tanya Yura dengan setetas air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

"Aku tahu eomma sulit menerima jika appa berselingkuh dengan dua orang sekaligus, aku mengerti. Tapi, apakah dengan menyiksa orang lain kau merasa hidupmu menjadi baik? Tidak, eomma. Mungkin mereka semua salah, tapi sebagai orang dewasa kau dan aku seharusnya memerikan saran yang baik, bukan membuat terror semacam ini!"

"Aku kecewa padamu, eomma. Perasaan sakit hati tidak perlu kau jadikan belati! Lihat, anakmu sendiri terluka karena kau! Aku, pergi eomma. Seperti yang aku inginkan sedari dulu, melihat aku pergi jauh dari hidupmu." Suara debuman pintu yang tertutup dengan keras membuat perasaan Goeun selaku ibu menjadi semakin hancur dan hancur.

Apa yang Yura katakan benar, semuanya benar. Tapi tentang keinginan yang Yura ucapkan ingin anak sulungnya itu pergi dari hidupnya adalah salah besar. Sejahat-jahatnya dirinya, menginginkan anaknya pergi dari hidupnya adalah kesalahan besar. Mungkin ia senang meneror orang hanya karena kasta dan selera mereka berbeda, namun jika itu darah dagingnya apakah itu bisa ia relakan begitu saja?

"Tidak, Yura!"

Dalam kamus seorang ibu, kasih sayang adalah segalanya. Ikatan seorang ibu dengan anak, tidak akan terputus. Dan itu terbukti. Goeun mengejar Yura hingga luar tanpa alas kaki. Mungkin perasaannya keluka karena luka yang ayah mereka tuaikan padanya seorang, namun tidak untuk dua anaknya.

Kusunya untuk Yura, anak sulungnya yang tangguh. Begitu banyak ia mendengar pertengkaran antara dia dengan suaminya dahulu, melihat kejadian yang seharusnya tidak ia saksikan dan semuanya yang tidak sesuai dengan seharusnya, begitu ia sayangkan telah terjadi begitu saja pada anak sulungnya itu.

Mungkin Yura berhati tegar dan kuat, tapi Yura tetaplah perempuan. Yura tetaplah anak manisnya yang butuh sosok seorang ibu yang memperhatiannya.

saat-saat usianya memerlukan dukungan seorang ibu tergantkan dengan pertengkaran dan usaha keras untuk bangkit emmbuat Yura berubah menjadi anak mandiri yang bahkan tak pernah Goeun bayangkan dalam hidupnya.

Kini, saatnya ia untuk menebus semuanya. Yura, ia harus merasakan sebagaimana yang Chanyeol rasakan. Halusnya jemari seorang ibu yang mengusak manis rambutnya, omelan dan saran. Yura melewati semua itu karena dirinya.

"Yura, maafkan eomma!"

Kini hanya kata maaf yang terlontar dari bibirnya. Faktanya ia tidak tahu kemana Yura sekarang, ia tidak tahu kondisi Yura atau bahkan anak bungsunya yang bisa dibilang sekarang karena ulahnya sendiri. Fikirannya kacau balau. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakuakn sekarang.

Ia telah melukai perasaan anak sulungnya, ia sudah melukai raga anak bungsunya dan juga melukai jiwa dan raga Baekhyun yang tidak salah apapun. Ia ingin melarikan diri dari semuanya tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Kehidupannya semakin abstrak semenjak ia mengetahui jika cintanya dipermainkan bagai sebuah papan monopoli oleh suaminya sendiri.

Lelah sekali ia menjadi seseorang yang begitu jahat. Tidak terfikirkan olehnya untuk sadar lalu memulai kehidupan baru bersama kedua anaknya dan juga dengan Baekhyun dan juga adiknya yang bernama Oh Sehun itu. Tapi apakah mereka akan menerimanya? Menerima permintaan maaf seorang monster seperti dirinya yang bahkan bahagia ketika melihat orang lain tersiksa karenanya?

"Jawabannya adalah tidak." Ucapnya sesegukan

Tbc

.

Nnyeong! /nongol/
maap ya ending chapter ini begitu doang, maaf /deep bow/
.

Yang kemarin tanya Sehun itu siapanya Baekhyun udah kejawab ya.
tapi kalo misalkan masih ada yang kurang jelas, biar aku jelasin nih.
ekhem.
jadi, Sehun itu adalah adik angkat Baekhyun. kasarnya dipungut lah ya –mianhae Sehunnie.

.

Saaa!
ayodong rebiew buat chap yang ini mueheheh
.

See you in next chapter!
nnyeong! /ppyong/

Review juseyok