Previous

"Ini terlalu cepat, tapi kenapa aku merasa sudah mencintaimu begitu lama?" tanyanya berbisik, membuat Luhan berbalik arah padanya, merangkulkan lengan di sekitar leher kekasihnya untuk asal menjawab "Mungkin ini takdir kita."

Setelahnya yang lebih mungil berjinjit, memiringkan kepala untuk mengecup bibir tipis kekasihnya, rasa malunya entah hilang kemana digantikan rasa cinta yang menggebu, keduanya terlalu mabuk akan sentuhan satu sama lain dan memutuskan berbagi hangat melalui ciuman mereka yang memabukkan, keduanya pun samar mendengar bisik dari orang yang berlalu lalang tapi sungguh, suara ombak di lautan lebih indah dan membuat mereka mengabaikan segalanya, segalanya

Karena untuk Sehun hanya ada Luhan yang memenuhi seluruh isi hati dan kepalanya, begitupula Luhan, hanya Sehun yang sungguh membuat Luhan untuk kali pertama merasa sangat diinginkan dalam hidup seseorang.

Hanya Sehun.

.

.

.

.

.

The Allergo

.

Fantasy, Romance

Mature content

Hun-Han

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tapi Sehun apa perlu kita membeli ini semua? Apa kita bisa membayarnya?"

Setidaknya sudah dua jam sejak keduanya resmi menjadi sepasang kekasih, dan selama dua jam berlalu itu Sehun seolah ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya termasuk dengan bahan makanan berkualitas dan lezat seperti daging mentah, ikan segar, dan beberapa potong sayuran yang entah akan diolah oleh siapa nantinya.

"Kenapa kita tidak bisa membayarnya?" yang lebih tinggi menoleh pada yang lebih mungil, bertanya-tanya hingga hanya bahu terangkat yang diterima sebagai jawaban "Mau bagaimanapun kita tersesat."

"Kau lucu sayang."

"huh?"

Luhan masih belum terbiasa dengan panggilan sayang untuknya, dan setiap kali Sehun melakukan itu pacu jantungnya akan berdegup lebih cepat hingga membuat keringat wajahnya terlihat diiringi rona merah khas di wajahnya yang membuat Sehun gemas dan menarik pipinya "Kita memang tersesat tapi sudah kubilang aku tidak membiarkan kekasihku kelaparan."

"Tapi bagaimana kita akan membayarnya."

"ah, tunggu sebentar."

Sehun merogoh saku di mantelnya, mencari sesuatu hingga benda persegi panjang kecil itu terlihat disertai pekikan Luhan yang tak percaya kalau lelaki asing yang baru dua jam lalu resmi menjadi kekasihnya memiliki credit card tanpa limit yang biasa digunakan Kai atau Xiumin.

"daebak, aku tidak menyangka kau memiliki benda ajaib ini."

"Benda ajaib? Memangnya kartu kecil ini memiliki kekuatan?" tanya Sehun polos hingga seringai kecil terlihat di wajah Luhan "yap-….Kau bisa membeli apapun dengan ini, apapun." Jawabnya berbinar seraya mengambil kartu kecil itu dari tangan Sehun "Aku bisa menggunakannya untuk membeli sepatu?"

"Kenapa sepatu?"

"Taeyong berulang tahun minggu depan, aku pinjam ya?"

Malas mendengar nama penyebab dirinya mengeluarkan pheromone sebagai seorang Alpha, Sehun hanya mendengus dan bergumam malas "Taeyong lagi, haha." Dibalas kerucut bibir Luhan yang kini mengembalikan kartu Sehun "Baiklah, aku akan membelinya dengan bekerja keras."

Buru-buru Sehun menggeleng lalu bertanya "Sepatu mana yang kau inginkan?"

"mmh…Ada di store di depan sana, tapi harganya mahal."

"Baiklah, kita bayar kebutuhan kita lebih dulu lalu pergi kesana."

Setelahnya Sehun kembali menautkan jemarinya pada jemari Luhan dengan satu tangan yang bebas mendorong trolley untuk membayar apa yang mereka beli "Ada lagi yang bisa kami bantu?"

Sehun menyerahkan card yang didapatnya dari salah satu Indigo kaya raya di Jepang untuk menggeleng berterimakasih "Tidak perlu, terimakasih." Katanya mengambil satu bag plastic yang diserahkan penjual lalu membawa Luhan pergi darisana "Siapa yang akan memasak? Lagipula di tempat kita tidak ada dapur."

Satu hal yang baru disadari Sehun setelah berada seorang diri dengan Luhan di Negara asing, Luhan adalah tipikal yang banyak bicara dan bertanya, dia akan selalu penasaran tentang semua hal dan menurut Sehun itu sebuah keunikan karena setiap kali dia tidak menjawab, lelakinya tidak akan marah dan hanya mengangguk seolah dia memaklumi jika pertanyaanya tidak dijawab.

"Aku lupa bilang padamu malam ini kita tidak tinggal di rumah sewa yang sama."

"wae?"

"Aku sudah menyewa apartement, aku tidak bisa pulih jika tempatnya sesak dan pengap seperti malam tadi."

"Apartement? Apa kau gila?"

Mengabaikan nada suara yang sama setiap kali Luhan menyindirnya, Sehun hanya merangkul pinggang si mungil lalu mengecup sayang surai kepalanya "Sebenarnya tidak masalah untukku tinggal di tempat kecil itu, tapi aku tidak mau melihat kau kedinginan saat tidur jadi sudah diputuskan kita pindah malam ini, mengerti?" Ujarnya berbisik hingga membuat wajah Luhan merona merah diiringi rasa bersalah karena sempat berfikir Sehun sangat boros untuk ukuran lelaki single sepertinya "hmmh, aku mengerti." Ujarnya mengangguk lalu tetap bertanya "Tapi siapa yang akan memasak?"

Saat hendak menyebrang ke store sepatu, Sehun tiba-tiba berhenti melangkah karena kehadiran seseorang didepan mereka, kekasihnya bahkan sempat memekik terkejut karena lelaki yang kini berdiri didepan mereka sedang tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya yang berkilauan

"astaga!"

Luhan membekap bibirnya terkejut sementara Sehun menggeram kesal melihat wajah Indigo Jepang yang malam tadi dia temui dan memberikan card tanpa batas ini padanya "Master." Dia menyapa dan Luhan menoleh pada Sehun, bertanya "Master? Kau mengenalnya?"

"haha…" Sehun tertawa gugup, tak lama dia melepas genggaman di tangan Luhan lalu meminta kekasihnya untuk mengunjungi store sepatu lebih dulu "Kau pergi kesana lebih dulu, aku akan menyusul."

"Tapi-…."

"Tidak akan lama sayang."

"Baiklah."

Sehun kemudian memberikan card nya pada Luhan, memastikan kekasihnya bisa menyebrang dengan aman walau sesekali Luhan masih menoleh ke belakang dan mencari tahu siapa lelaki idiot yang tiba-tiba datang pada mereka.

"Darimana kau tahu aku ada disini?"

Dan untuk Luhan, samar sebelum dia menyebrang jalan dia sempat mendengar Sehun berbicara dengan bahasa jepang dengan lelaki yang tiba-tiba datang pada mereka, hal itu membuatnya bertanya-tanya sebab dia merasakan aura yang sama dengan aura milik Xiumin dan Johnny teman Kai yang kini menjadi temannya.

"hehe, Aku mengikuti core milikmu."

Refleks, tangan Sehun memegang dadanya, dia yakin sekali tanda kependudukan yang kerap disebut core di Planet EXO miliknya telah disembunyikan, lalu saat indigo di bumi ini mengatakan mengikuti core miliknya hanya membuat Sehun bertanya "Apa maksudmu?"

"Aku rasa kehadiranmu disini terlalu mencolok dan menarik perhatian kaumku, maksudku, bahkan Aeris pun tersebar disini jadi sebaiknya kau menyembunyikan tanda bahwa kau tidak berasal dari bumi."

"Tapi aku sudah menyembunyikannya."

"Mungkin lelaki yang bersamamu tadi."

"Tidak mungkin-…." Sehun ingin mengelak, tapi melihat Luhan sedang memilih sepatu dari kejauhan hanya membuatnya berfikir ulang mengenai kekasihnya, Luhan memiliki aura yang tak bisa ditebak Sehun hingga saat ini, dia juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, sesaat dirinya yakin menebak bahwa Luhan juga berasal dari EXO, namun perkiraan itu dihilangkan Sehun saat dua jam lalu Luhan membuat perisai dengan cahaya merah yang tak pernah dimiliki Exodus atau seluruh bangsa EXO sekalipun.

Lalu bagaimana Luhan bisa memiliki kemampuan yang menyerupai bangsa EXO namun memiliki elemen berbeda saat dirinya marah, darimana asal kekasihnya? Sehun bertanya-tanya hingga menyadari satu hal, lelakinya tampak berbicara akrab dengan salah satu penjaga toko dan itu mengundang pertanyaan lain darinya.

"Ikut aku."

Lelaki berdarah asli Jepang itu tampak bingung, tapi kemudian mengikuti Sehun untuk menyebrang jalan dan masuk ke toko mendekati lelaki cantik yang sebelumnya bersama sang pangeran.

"Luhan."

"Kau sudah selesai?" tanyanya riang, dan penjaga toko tampak meninggalkan Luhan membawa nomor dan warna sepatu yang diinginkan kekasihnya "Apa penjaga toko itu berasal dari Seoul?"

"Sepertinya tidak, kenapa?"

"Dan kau tidak kesulitan berkomunikasi dengannya?"

"mmmh…Aku hanya mengerti apa yang dia bicarakan, tapi tidak bisa membalasnya jadi aku menunjukkan apa yang kumau."

"Sejak kapan?"

"Apa?"

"Kau bilang kau belum pernah datang kesini, kau juga tidak berbicara dengan bahasa Jepang sebelumnya, bagaimana bisa kau tiba-tiba mengerti apa yang mereka katakan."

Sehun terlihat cemas, masalah terbesarnya adalah jika Luhan tiba-tiba mengerti bahasa asing tanpa berlatih sebelumnya menjadikannya semakin mirip dengan bangsa EXO yang menguasai seluruh bahasa hampir di seluruh bumi yang mereka datangi, entah gugup, entah cemas tapi Sehun berharap mendengar jawaban lain dari Luhan, apapun, selain

"Entahlah…itu terjadi begitu saja."

Dan benar saja Sehun mulai memperhatikan Luhan dengan cara yang berbeda, kepolosannya menunjukkan bahwa dirinya tidak mengerti apapun dan Sehun tidak bisa lebih banyak bertanya jika tidak ingin memancing rasa penasaran lain pada Luhan.

"eoh, temanmu ikut?"

"huh?—ah, aku lupa."

Sehun menoleh pada Yuta, memintanya untuk berkenalan dengan Luhan dan lelaki Jepang itu mengerti untuk mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri "Watashiwa no namae Nakamoto Yuta desu-…"

Ragu akan kepahaman yang dimiliki, Luhan melirik kekasihnya dan Sehun mempersingkat "Namanya Yuta." Katanya memberitahu dan Luhan bergegas mengangkat satu tangan kanannya seraya berkata "Aku Luhan." Sebelum Sehun menarik lengannya dan mendekap sang kekasih untuk berbisik "Apapun yang terjadi jangan sampai bersentuhan dengannya."

"Kenapa?"

"Dia bisa melihat masa depan dan kebiasaan buruknya itu berlanjut saat seseorang bersentuhan dengan mereka."

Mengira Luhan akan bertanya lebih banyak adalah kesalahan, karena nyatanya si lelaki cantik justru mengangguk dan bergumam "Seperti Indigo maksudmu?"

"daebak, Kau mengetahui tentang Indigo?"

Dan Luhan justru lebih terkejut saat teman Sehun berbicara Korea dengannya, dia sedikit mundur kebelakang untuk memastikan "Kau mengerti bahasaku?"

"Tentu saja, aku memiliki keluarga di Korea."

"Lalu kenapa sedari tadi kau berbahasa Jepang denganku?"

"Itu karena…." Dia ingin mengatakan Sehun yang memintanya namun segera dialihkan menjadi "Hanya ingin, jadi darimana kau tahu tentang Indigo?"

"Ada beberapa orang yang kukenal memiliki kemampuan sepertimu."

"Siapa?" kini Sehun yang bertanya dan Luhan menjawab tanpa berfikir "Teman-temanku."

"Siapa namanya? Mungkin aku mengenal mereka." Yuta kembali penasaran dan Luhan mengatakan "Aku tidak yakin kau mengenalnya, Xiumin dan Johnny."

"Johnny? Seo Johnny temanmu?"

"Kau mengenalnya?"

"Aku bertanya lebih dulu."

Sehun bahkan sedang menahan kesal karena ternyata Johnny lebih dulu mengenal Luhan darinya, hal itu membuatnya semakin ingin tahu tentang Luhan dan siapa saja orang yang ada disekitarnya "Dia bukan temanku, dia teman Kai."

"Kai?"

Menurut Luhan semua yang ditanyakan Sehun kini tak hanya sekedar karena dia ingin tahu, tapi kekasihnya seperti sedang mencari tahu dari semua jawaban yang diberikan dan itu membuat Luhan tak nyaman karena pertanyaan ini tidak ada hubungannya sejak awal "Kau sudah bertemu dengannya, lelaki yang ada di club malam terakhir sebelum kita berpindah tempat."

"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?"

"Apa aku harus menjawabnya?"

"huh?"

Meletakkan sepatu yang sedang digenggamnya, Luhan mulai merasa pertanyaan Sehun tidak berkaitan dan itu membuatnya kesal "Aku tidak jadi membelinya." Setelahnya Luhan melewati Yuta dan meninggalkan toko sepatu sementara Sehun meringis menyadari telah membuat kesalahan dengan bertanya seolah mencurigai kekasihnya "Jika kami bertengkar aku tidak akan melepaskanmu!"

"Memangnya kenapa jika kalian bertengkar?" Yuta bertanya bingung dan tiba-tiba instingnya bekerja untuk menebak sang pangeran dan lelaki yang bersamanya adalah "Astaga-…Apa mereka sepasang kekasih?" tandasnya, dan tak lama mengambil sebuah brosur sebelum mengejar Sehun yang sedang mengejar lelaki cantik yang bersamanya.

"Sayang maaf jika aku banyak bertanya."

"Aku tidak keberatan jika kau bertanya, tapi itu bukan pertanyaan, kau mendesakku seperti ingin mencari tahu hal lain, aku benar?"

Luhan memastikan, tatapannya kesal dan hendak beranjak pergi sampai Sehun memegang lengannya lagi "Aku benar-benar hanya bertanya."

"Lalu kenapa tiba-tiba? Kau bisa menanyakan hal itu sebelum bertemu dengan temanmu!"

"Aku-…."

"Dia sebenarnya hanya ingin mengajakmu kesini, Luhan? Aku benar kan? Namamu Luhan?"

Kedua pasangan itu berhenti bersitegang saat Yuta menyela, lalu lelaki Jepang itu menyerahkan selebaran yang diambilnya dari toko sepatu kepada Luhan "Ini lihatlah."

"Apa ini?"

"Hanabi festival, semacam pesta kembang api, Prince—maksudku, Sehun ingin mengajakmu kesana malam nanti, bersiaplah, kalian juga harus mengenakan Yukata."

"Yukata?"

"Itu pakaian tradisonal yang biasa digunakan warga sekitar saat melihat Hanabi festival."

Masih tak mengerti, Luhan kemudian bergumam "Jangankan Yukata malam ini kami bahkan tidak tahu akan menetap dimana."

"Kau tenang saja Luhan, kekasihmu sudah menyiapkan segalanya untuk malam nanti, kebetulan apartement tempat kalian tinggal hanya berjarak dua meter dari festival diadakan."

"Benarkah?"

Menyadari perubahan suara Luhan menjadi bersemangat dan tak kesal membuat Sehun mengambil alih keadaan secara tergesa dan membenarkan "Tentu saja benar, aku ingin mengajakmu kesana malam nanti, mau lihat kembang api bersamaku?" katanya menawarkan, membuat Luhan menggigit cemas bibirnya antara ragu dan mau sebelum kembali menunjuk toko sepatu dibelakang mereka.

"Aku mau, tapi apa sepatunya masih berlaku?"

"hahaha. Tentu saja, cepat beli yang kau inginkan, aku tunggu disini."

"gomawo Sehunna."

Setelahnya Luhan kembali berlari masuk kedalam toko, Sehun bisa melihat kekasihnya sudah menentukan pilihan untuk adiknya sementara diam-diam Yuta terkikik geli menyadari kali pertama pangeran Exodus yang diberitakan tegas dan dingin sempat dibuat cemas karena kekasihnya marah dan tersinggung akibat pertanyaanya.

"oi prince."

Tatapannya sedang berbunga memperhatikan Luhan sampai dirinya menoleh saat Yuta memanggil "Apa?" balasnya dingin dan itu sangat berbeda dengan caranya berbicara pada Luhan "Apa benar kau calon raja yang sering kudengar?"

"ish!"

"Dia kekasihmu?" tanyanya serius, dan Sehun menjawab lebih dari sekedar yakin untuk terlihat sangat bahagia "Aku sangat beruntung bukan?"

.

.

.

.

.

.

Di tempat berbeda

.

DUAR!

Jika kalian menyangka itu adalah suara ledakan atau petir yang terdengar di cuaca cerah Seoul hari ini, maka kalian salah, itu bukan suara yang terbilang menganggu karena suara itu terjadi saat sebuah portal terbuka dan mengantarkan keempat pria yang sepertinya berhasil sampai ke bumi tanpa memakan waktu satu minggu seperti yang diperkirakan.

"Putra mahkota kau baik-baik saja?"

Yang bertanya adalah Kyungsoo, wajahnya tak kalah pucat dan shock saat tiba-tiba mereka terlempar dengan kecepatan cahaya untuk sampai dan menginjakan kaki di rerumputan hijau di sekitar mereka "eoh, Aku baik Soo." Balas putra kedua Raja Siwon dan Ratu Yoona, dirinya memang terlihat pucat tapi sepertinya dia akan-baik saja terlebih saat udara yang dihirup membuatnya merasa relax dan lelaki termuda diantara mereka itu benar-benar takjub dengan pemandangan yang untuk kali pertama dilihatnya.

"Apa ini bumi? Kita sudah sampai?"

Setelah memastikan Jaehyun baik-baik saja, kini tugas Yifan adalah memastikan mereka tidak diikuti oleh siapapun, dia memasang perisai di sekitar mereka untuk membenarkan bahwa mereka sampai di tempat yang dituju "Ini Seoul, kita sampai."

"whoa….Aku tidak tahu mereka memiliki pemandangan seindah ini."

Sementara Jaehyun sibuk mengagumi bumi, terlihat Myungsoo bergegas pergi meninggalkan mereka, hal itu membuat Yifan geram dan mengeluarkan panahan, membidik Allergo itu dan sesuai dugaannya, anak panah yang dia tembakan berhenti tepat didepan kaki Myungsoo hingga dirinya berhenti melangkah, terkejut dan terlihat marah.

"APA YANG KAU LAKUKAN?"

Menyimpan kembali panahan miliknya, Yifan ikut menghampiri Myungsoo dan baku hantam diantara mereka tak terelakan lagi, Kyungsoo memekik karena takut sementara Jaehyun harus bersusah payah menengahi perkelahian antara dua panglima perang dari exodus dan Allergo yang tampak mengerikan jika sudah mengadakan duel seperti ini.

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MONSTER SEPERTIMU BERKELIAN DI BUMI!"

"DIAAAAM!:

Myungsoo mengeluarkan tongkat yang memiliki runcing naga di ujung tombaknya, disusul Yifan yang mengeluarkan cahaya biru untuk mendapatkan pedang miliknya, keduanya pun berduel menggunakan senjata mereka, saling menyerang tanpa menyadari bahwa mereka berada jauh dari Planet EXO dan Aeris bisa kapan saja datang membunuh mereka sekaligus di tempat kekuasaan mereka.

"Hentikan!"

Jaehyun berusah menengahi namun percuma, karena keduanya justru menyerang dirinya dan membuatnya jatuh terlihat seperti orang bodoh, hal itu membuat Jaehyun geram dan tanpa sadar berteriak "AKU BILANG HENTIKAAAN!"

Masing-masing cahaya birunya ditujukan untuk Yifan dan Myungsoo, kini keduanya tersungkur dengan senjata mereka yang menghilang karena pemiliknya terdesak, masing-masing dari menatap marah pada Jaehyun dibalas senyum innocent keturunan langsung raja dan ratu Exodus "Sudah, aku bilang cukup, mengerti?"

"Sial!"

Myungsoo lebih dulu beranjak dari jatuhnya, terhuyung berjalan pergi sementara lagi-lagi Yifan geram melihat monster itu berjalan seolah bumi adalah tempat yang familiar untuknya "L!" teriaknya mengejar Myungsoo namun terhalang Jaehyun yang kini berada didepannya "Aku bilang cukup, apa kau sedang mengabaikan perintahku?" tanyanya menantang dan Yifan tertunduk karena tahu dirinya sudah melewati batas.

"Nah bagus."

"Tapi dia tidak bisa berkeliaran sendiri di bumi, harus ada yang mengawasinya Putra Mahkota!"

"Aku yang akan melakukannya."

Yifan dan Kyungsoo membelalak terkejut sementara Jaehyun dengan santai menunjuk kemana arah Myungsoo pergi "Ratu bilang dia yang bertanggung jawab atasku, jadi selagi kalian mencari Sehun aku akan bersama dengannya."

"Tidak Jaehyun itu berbahaya!" Kyungsoo mengajukan suaranya disusul Yifan yang geram menolak "Lebih baik tidak menemukan Sehun daripada harus membiarkanmu berkeliaran dengan monster."

"eyy…Kenapa kau sangat kasar Yifan? Berhati-hatilah dan jangan terlalu membenci Allergo."

"Dan kenapa aku tidak boleh membenci Allergo."

Mengangkat kedua bahunya, Jaehyun bergumam asal "Siapa yang tahu nantinya kau akan jatuh cinta pada kaum yang selalu kau sebut dengan monster itu!"

"tidak akan!"

"Sudah diputuskan aku akan pergi dengan L, aku juga akan mengaktifkan core milikku. Kalian bisa melacak aku kapan saja dan merasakan tandaku jika aku dalam bahaya, jadi segera temukan Sehun dan jemput aku."

"Putra mahkota / Jaehyun!"

Remaja tujuh belas tahun itu hanya tersenyum menunjukkan cacat lesung di pipinya untuk bergumam, menenangkan dua orang yang tak pernah gagal menjaganya dan sang kakak "Aku akan baik-baik saja."

.

.

.

"L!"

Lelaki yang juga memiliki lesung di wajahnya itu sekilas menoleh, jujur dia sudah jengah bersama dengan para Exodus selama hampir lima hari, lalu remaja diantara mereka tampaknya belum menyerah dan justru berlari ke arahnya dengan wajah tersenyum

"Ada apa? Kenapa kau mengikuti aku?"

"Kau berniat melanggar janji dengan Ratu Yoona?"

"Apa yang kau bicarakan-…." Awalnya Myungsoo ingin mengelak, lalu seketika suara Jaehyun memotong seolah mengingatkannya "Aku adalah tanggung jawabmu selama di bumi."

"yang benar saja!"

"Jika kau seorang ksatria kau seharusnya menjaga janjimu bukan?"

Jaehyun tersenyum seolah menggoda Myungsoo hingga membuat ksatria perang Allergo itu mendengus marah tak menyangka bahwa kelicikan Exodus benar nyatanya.

"Terserahmu saja!" tegasnya kesal, lalu kembali berjalan dengan Jaehyun berada disampingnya "Ini akan menyenangkan." Jaehyun bersemangat tak menyangka bisa berjalan bersama dengan Allergo saat jauh dari rumah.

"Harusnya kau takut berjalan dengan monster."

"Aku tahu kau seorang Keeper."

Sontak Myungsoo berhenti melangkah saat adik lelaki dari saingan pangerannya mengetahui istilah yang hanya diketahui bangsa Allergo, bahkan Keeper adalah rahasia diantara bangsa Allergo dan tak ada seorang pun di Planet EXO yang mengetahui arti dari Keeper termasuk Exodus sendiri.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Seorang Allergo yang bisa menguasai Gigant mereka disebut Keeper, aku benar?"

Myungsoo terdiam tak menyangka remaja disampingnya tahu banyak hal tentang dunia Allergo dan membicarakannya seolah dia adalah bagian dari bangsanya, Jaehyun juga terlihat mengingat sesuatu untuk bergumam "Dan rata-rata Keeper berasal dari keluarga ksatria dan panglima perang Allergo, benar lagi bukan?"

Tak bisa berkata Myungsoo hanya memandang Jaehyun sementara remaja disampingnya terus berbicara "Jadi bukan tanpa alasan kau dipilih menjadi panglima perang bangsa Allergo, ya, untukku itu sangat masuk akal walau usiamu tak jauh dari kakakku, kau adalah panglima perang karena kau bisa menguasai gigantmu."

"tsk!"

"Aku benar semua tentangmu bukan?"

"Kau bicara seolah kau mengetahui apapun tentang kami."

"Aku memang mencari tahu banyak hal tentang kalian."

"Atas dasar apa?"

Menjawab sangat jujur dan polos, Jaehyun mengatakan "Aku suka bangsa Allergo."

"Omong kosong! Bagaimana bisa kau menyukai bangsa kami bahkan disaat ayahmu ingin menghabisi kami?!"

"Aku memang putra seorang raja, tapi aku tidak memiliki sifat seperti raja Exodus saat ini, untuk informasimu saja-…" Jaehyun berbisik di telinga Myungsoo seraya bergumam "Aku mirip dengan Ratu Yoona."

Myungsoo tertawa geram lagi, rupanya dia jengah menghadapi sifat Jaehyun yang tidak seperti Exodus kebanyakan, jadilah dia kembali berjalan sementara remaja itu terus mengejarnya "HEY AKU SERIUS! AKU BENAR-BENAR MENYUKAI BANGSA KALIAN!"

"Atas dasar apa kau menyukai kami setengah monster."

"Karena untukku, menjadi kalian adalah hal yang menyenangkan, kalian cenderung berubah menjadi wujud gigant saat orang terdekat kalian disakiti, kalian bisa membalas mereka dengan wujud mengerikan yang ditakuti di hampir seluruh Planet EXO dan tanpa ragu membalaskan dendam kalian, aku suka."

"bodoh, saat menjadi gigant kami tidak mengingat apapun."

"ya, Pengecualian untuk keeper."

Myungsoo sempat berhenti berjalan, perasaanya berkecamuk antara marah dan rindu, ingin rasanya dia menutup mulut besar Jaehyun yang terus berbicara mengenai Keeper hingga sosok mendiang sang ayah terlintas dalam benaknya, sampai saat ini Myungsoo tidak beranii membayangkan bagaimana rasa sakit yang harus diterima ayahnya ketika maut menjemput, bagaimana menderita sang ayah yang tewas dalam wujud gigant saat pertempuran tiga tahun lalu di bumi.

Entah karena apa, tapi ayahnya berbohong pada Raja Kwon hingga kabar kematiannya tidak diterima oleh Allergo, Raja Kwon sendiri bahkan menyebutnya seorang penghianat karena kedatangan ayahnya ke bumi tanpa perintah dari sang raja.

Hal itu membuat Myungsoo harus menanggung beban untuk menggantikan posisi panglima perang dan melindungi Pangeran Chanyeol dengan nyawanya, namun begitu dia tak berhenti mencari tahu alasan ayahnya turun ke bumi hingga satu cerita dari seorang Indigo membuatnya yakin bahwa kedatangan ayahnya ke bumi tiga tahun lalu untuk mencari putra ratu Ailee yang kebetulan mengalami insiden penyerangan saat itu.

"Bisakah kau tutup mulutmu?"

Alih-alih menutup mulutnya, Jaehyun justru mendekat pada Myungsoo dan menepuk lembut pundak lelaki yang sepertinya sudah mengalami banyak hal di dalam hidupnya "Aku turut berduka atas kematian ayahmu."

"Kau-….."

"Jasanya dikenang oleh Ratu Yoona bersamaan dengan mendiang Ratu Ailee di taman Aster, sebelumnya Goon datang dan mengatakan akan mencari putra Ratu Ailee."

"Anak kecil sepertimu rupanya tahu terlalu banyak."

"Sebenarnya daripada kalian semua aku jauh lebih jenius."

"omong kosong!"

"Tapi aku senang kau datang mencari putra Ratu Ailee, siapapun dia, sepertinya dia sangat berharga untuk ibuku, aku akan membantumu L!"

"haha, kau salah."

"Mengenai apa?"

"Aku tidak datang untuk mencari putra Ratu Ailee."

"Apa maksudmu?"

"Alasanku memohon pada ibumu hanya karena satu hal, mencarinya, lalu membunuh putra Ratu Ailee, disini, dengan tanganku sendiri!"

Langkah Jaehyun sedikit mundur saat Myungsoo mengatakan tujuan berbeda dengan yang dijanjikan bersama ibunya, dia menatap tak percaya pada Myungsoo sebelum lelaki itu bergumam "Tapi aku membutuhkannya untuk sesuatu terlebih dulu."

"Kau tidak bisa melakukan itu! Dia tidak bersalah-…."

"DIA BERSALAH KARENA DIA BERNAFAS! DIA BERSALAH KARENA DIRINYA AYAHKU TEWAS DALAM BENTUK MONSTERNYA!"

"L-…."

Sejak pertama kali bertemu dengan Myungsoo, Jaehyun selalu menganggap lelaki didepannya adalah sosok yang begitu tenang dan berwibawa, yang tidak pernah meluapkan emosinya untuk hal apapun kecuali peperangan.

Berbeda dengan hari ini, lelaki yang dianggapnya lebih dewasa dari sang kakak tengah memperlihatkan sisi lemahnya, sorot bola matanya menampilkan luka yang begitu dalam dipenuhi kebencian, hal itu membuat Jaehyun berfikir mungkin akan lebih baik jika Ratu Ailee tidak pernah melahirkan putranya.

Kelahiran pangeran berdarah campuran itu membuat banyak pihak terluka, dirinya diincar oleh banyak pihak, mereka saling membunuh untuk bisa menemukan putra kandung Ratu Ailee, rela melakukan apapun untuk mendapatkan kekuasaan dan paling buruk, dia tidak bersalah tapi harus menanggung semua kekejaman dari orang yang mengenal ibunya dan ingin menjadikannya target untuk sebuah tujuan.

"JANGAN COBA MENGHALANGIKU!"

Jaehyun berfikir keras, dia ingin Myungsoo tetap mempercayainya hingga berakhir untuk bergumam menyetujui "Baiklah, aku tidak akan menghalangimu, sebaliknya, aku akan membantumu mencari Putra Ratu Ailee, lagipula aku tidak terlalu menyukainya, dia membuat ibuku terus bertengkar dengan ayahku, aku—Aku juga ingin menghabisinya" tutunya berbohong dan berbicara cepat, berharap Myungsoo mempercayai ucapannya dan benar saja Allergo didepannya terlihat tenang karena tak ada lagi yang menentangnya, matanya yang perlahan berubah merah kini kembali normal berwarna kecoklatan, panglima perang Allergo itu bahkan tertarik dengan tawaran Exodus untuk menemukan pangerannya yang lain dengan bertanya "Apa kau bersungguh-sungguh?"

"y-Ya, tentu saja, tapi apa kau tahu darimana kita harus mulai mencari?"

Tersenyum sedikit mengerikan, Myungsoo menggangguk seraya mengatakan "Kau tenang saja, aku mengetahui tempat dimana aku bisa menemukannya, pangeranku yang lain."

.

.

.

.

.

.

"Luhan cepat keluar, biar aku melihatmu."

"aniya, pakaian ini sangat aneh denganku, aku tidak mau pakai Yukata ini."

"Sayangnya kau harus."

Baiklah perdebatan kecil itu kembali terjadi pada kedua pasangan yang belum dua puluh empat jam sejak mereka meresmikan diri sebagai pasangan kekasih masing-masing, dan bukan tanpa alasan mereka terlihat berdebat karena setelah dibuat takjub pindah ke rumah sewa yang sangat besar dilengkapi dengan pemandangan yang sempurna, Luhan, lelaki cantik yang sudah berada di kamar mandi hampir empat puluh menit lamanya tak mau keluar dari sana karena sedang mengenakan Yukata, pakaian tradisional yang akan mereka gunakan untuk melihat Hanabi festival di sekitar taman dekat Apartement mereka.

"Aku akan memakai kaos biasa."

"Tidak perlu pakai kaos, pakai piyama saja."

"Benarkah?"

"eoh, kita pergi tidur saat kau keluar."

Hening sesaat, sampai suara Luhan bertanya memastikan "Tidak jadi melihat fireworks?"

"Jika kau mau melihatnya maka kenakan Yukata."

Sehun sendiri sudah sempat dibuat kesal sejak sepuluh menit terakhir, bagaimana tidak dia kesal, dia sudah mengenakan Yukata berwarna hitam dengan sedikit bunga di motif Yukatanya, merasa begitu tak sabar melihat Luhan dengan Yukata merahnya namun sial, kekasihnya bahkan tidak mengijinkannya mengintip hingga berakhir tidak ingin memakai Yukatanya saat ini.

"Baiklah." Terdengar Luhan pasrah menjawab, hal itu membuat Sehun mengantisipasi apa yang akan terjadi pada jantungnya saat Luhan keluar dan benar saja, Sehun dibuat terpana melihat bagaimana si pengguna Yukata merah itu berjalan keluar dari kamar mandi.

Yukata mereka serupa, tapi entah mengapa dipakai Luhan memberikan kesan seksi karena ternyata Yukata miliknya sedikit lebih kecil dan membuat panjang Yukata tersebut hanya sebatas sampai lututnya.

"Ini ukuran wanita, kenapa temanmu menyiapkan ukuran wanita?" Lihatlah saat dia menggerutu bahkan terlihat sangat menggemaskan, ikatan disekitar pinggangnya terlihat sesak dan itu adalah sebuah keuntungan bagi Sehun karena dia bisa melihat dengan jelas bentuk lekuk tubuh kekasihnya yang terlihat sangat menggoda.

"Tidak tahu, mungkin dia berfikir kekasihku seorang wanita."

"hrhhh~"

"Apa kau sulit bernafas?"

"Tidak, hanya saja aku benar-benar terlihat seperti seorang wanita saat ini."

Hanya tertawa ringan, Sehun justru mengulurkan tangannya untuk mengingatkan Luhan "Kita sudah terlambat, ayo berangkat." Katanya menawarkan diri dan Luhan menggigit cemas bibirnya, dia ragu terlebih saat melihat dua pasang sandal kayu yang juga merupakan sandal khas orang Jepang saat memakai Yukata.

"Lu-…"

Jadilah Luhan menerima uluran tangan Sehun, walau sempat ragu karena sangat tidak nyaman pakaian yang dia kenakan, si lelaki cantik berusaha untuk tidak mengecewakan kekasihnya dan menggenggam tangan kasar khas dengan rasa panasnya untuk gugup berkata "Jangan lepaskan."

"Tidak akan."

Setelahnya mereka berdua keluar dari dalam rumah yang disewa Sehun secara khusus, saling menautkan jemari tangan dengan Yuta yang menunggu mereka dan tampak senada menggunakan Yukata hitam seperti milik Sehun.

"Syukurlah itu cocok untukmu." Yuta sebenarnya takjub karena Luhan terlihat sangat mempesona menggunakan Yukata merah bercorak bunga yang indah, hanya saja ketika matanya tak berkedip, Sehun masuk ke dalam pikirannya dan sengaja berteriak untuk memberi perintah

Berhenti menatap kekasihku!

Pada akhirnya Yuta sedikit merasakan sengatan di pikirannya, jangan tanya siapa yang melakukannya karena sang pangeran pasti jawabannya, mau tak mau dia pun berkedip lalu menyampaikan permintaan maafnya pada Luhan "Awalnya kukira dia bersama seorang wanita, aku hanya asal memesan ukurannya, maafkan aku."

Luhan tidak terlihat marah tapi dia juga tidak terlalu menyukainya, jadi dia hanya tersenyum untuk menghargai Yuta seraya berkata "Tidak apa." Sebelum suara yang cukup besar terdengar dan letupan api berbentuk sangat indah sudah dimulai "astaga…."

"Mereka sudah memulainya." Yuta memberitahu dan mereka semua mendongak menatap langit, menikmati suara khas dan banyak bentuk indah dari fireworks yang tengah dinyalakan sementara mata rusa Luhan menatap berbinar seolah dirinya terhipnotis

"indah sekali."

Luhan mengagumi keindahannya, sebenarnya ini seperti mimpi bisa datang ke Negara lain tanpa harus mengeluarkan uang, terlebih dia datang bersama lelaki yang kini berstatus kekasihnya, jika dia tanya apakah dirinya bahagia?

Maka tegas Luhan mengatakan "Ya!" dia sangat bahagia, memikirkannya saja sudah membuatnya sangat bahagia hingga tanpa sadar dia melepas genggaman jemari tangan Sehun dan mulai mencari tempat dimana pemandangan festival kembang api itu bisa dilihatnya lebih dekat.

Dia setengah berlari menggunakan sandal kayu berbentuk seperti bakiak itu dan refleks Sehun berteriak "HATI-HATI LU!" walau terlambat karena Luhan sudah terjatuh, suara debuman jatuhnya cukup kencang dan Yuta bersumpah melihat darah di lututnya namun dalam sekejap hilang hingga membuat Indigo itu memekik "Ba-Bagaimana bisa? Aku melihat darahnya dan kini menghilang?" tanyanya menuntut dan Sehun kehabisan kata untuk menjelaskan karena kini kekasihnya terlalu mencolok dengan kemampuannya menyembuhkan diri.

"Akan kujelaskan nanti."

"Tapi kenapa dia bisa-…"

"Akan kujelaskan nanti, kau dengar?"

Diam-diam Sehun mengangkat satu tangannya, membuat gerakan lingkaran diikuti cahaya biru kasat mata yang kini menjadi perisai untuk Luhan "Jangan bertanya langsung pada Luhan, aku melarangnya."

"Baiklah." Yuta menjawab dan mengajukan satu permintaan terakhir ketika melihat Sehun berjalan menghampiri kekasihnya "Prince."

"Ada apa?"

"Berjanjilah kau akan melindungiku dan seluruh Indigo yang ada di sekitarmu saat ini."

"huh?"

"Kami mempertaruhkan nyawa kami hanya untuk memenuhi panggilanmu, jadi bisakah kau berjanji untuk melindungi kami? Setidaknya lindungi keluargaku jika kau mendapat tanda Aeris datang mendekat."

"Mereka tidak bisa melukai kalian itu melanggar hukum."

"Dan menjawab panggilanmu adalah sebuah pelanggaran, ini bukan planet EXO."

Kini Sehun mengerti sepenuhnya, merupakan tindakan yang sedikit gegabah saat dia mengaktifkan core miliknya untuk memangil Indigo terdekat yang berada di sekitarnya, pertama Johnny lalu Yuta dan keduanya tampak terlihat cemas dan Sehun baru mengetahui alasannya.

"Baiklah, aku akan melindungi kalian." Katanya menenangkan dibalas senyum cerah wajah Yuta "Kau seperti yang mereka katakan, prince, sekarang bersenang-senanglah aku akan pergi."

Tak menjawab Sehun hanya sekedar mengangguk, lalu tak lama Yuta berlari melewati kerumunan sementara disana Luhan terlihat sedang mengagumi banyak kembang api yang dinyalakan.

"Aku juga akan melindungimu." Ujarnya memastikan tak hanya Indigo di bumi tapi kekasihnya yang hingga saat ini masih belum diketahui darimana dia mendapatkan kemampuan yang hampir serupa dengan planet EXO namun sedikit berbahaya karena memiliki kemampuan lain yang terasa sangat berbahaya untuk Sehun.

Jadilah dia berjalan mendekati kekasihnya, masuk kedalam perisai yang dia buat untuk berdiri di samping Luhan "Kau menyukainya?" tanyanya dan Luhan menoleh dengan mata berbinar "Sangat, ini sangat indah." Katanya memberitahu diiringi ucapan "Tapi akan lebih indah jika kau menghilangkan perisai ini."

Sehun terkekeh mendengar ucapan sang kekasih, mengagumi ketelitian Luhan dalam berinteraksi untuk bertanya "Kau tahu aku membuat perisai?"

"Aku tidak bersentuhan dengan orang disampingku, apalagi?" tawanya sarkas namun tak lama dia menautkan jemarinya diatas jemari kasar Sehun yang terasa pas saat menggenggam tangannya "Tapi aku suka caramu." Bisiknya perlahan hingga membuat Sehun terkekeh gemas menyadari apapun tentang kekasihnya adalah hal yang sangat menggemaskan hingga ingin membuatnya mengenal Luhan lagi, lagi dan lebih banyak lagi.

"whoaaa…"

Ketakjuban Luhan terjadi saat kembang api itu membentuk bunga di langit, dia ingin bertepuk tapi tangan Sehun tak ingin melepasnya, jadilah dia hanya menatap tak berkedip cahaya api dilangit sementara lelaki disampingnya hanya sibuk menatap sosok mungil yang dalam sekejap mencuri hatinya, seluruhnya mungkin, bahkan kehadiran dewi Artemis tidak pernah berhasil membuat Sehun menatap selama ini pada seseorang.

Jadilah mereka melewati diam memukau selama beberapa menit dengan dua pandangan berbeda, Luhan hanyut dalam indahnya kembang api yang sedang menyala diatas langit sementara Sehun hanyut pada kesempurnaan Luhan bahkan saat dirinya hanya menatap dari samping.

"Indah bukan?" Luhan bertanya tanpa melihat dan Sehun menjawab tanpa berkedip menatap Luhan "hmhh….Indah, terlalu indah."

.

.

.

.

.

"Temanmu sudah pulang?"

"Ya."

"Kapan?"

"Saat mereka menyalakan pertunjukannya beberapa saat tadi."

Terlihat berfikir, lelaki cantik yang kesulitan membuka Yukatanya itu mengangguk seraya bergumam "Baiklah, aku kira dia akan bermalam bersama kita." Katanya asal dan belum menemukan pola tali dari ujung Yukata yang sepertinya diikat kencang hingga dirinya kesulitan membuka pakaian tradisional tersebut.

"Aku tidak bermalam dengan orang asing."

"Tapi kau bilang dia temanmu."

"Ya memang-…."

Tiba-tiba Sehun, lelaki yang baru saja menghabiskan kencan pertama mereka dengan melihat festival kembang api tersebut datang mendekat, sengaja dia menarik pinggang yang lebih mungil hingga membuat Luhan menatap tegang karena demi apapun degup jantungnya sangat cepat dan jika terdengar akan sangat memalukan.

"Sehun-…."

"Tapi aku ingin berdua dengan kekasihku, jadi tidak ada teman untuk saat ini."

Rasanya seluruh tenaga Luhan terserap saat Sehun menatapnya tak berkedip, terlebih saat tangan kasar kekasihnya turun dari pundak hingga ke pinggangnya untuk menemukan dua ujung tali Yukata yang sedang kesulitan dia buka, tangan lihainya bekerja dibawah sana tanpa sementara matanya tetap mengunci mata Luhan hingga tiba-tiba si lelaki cantik merasakan sensasi dingin ketika tali Yukata yang dikenakannya terbuka, mengekspos seluruh tubuh polosnya yang kini hanya bersisa celana ketat hitam yang dikenakannya.

"Jangan lihat-…"

Buru-buru Luhan menutupi dadanya, mencegah dua mata memangsa Sehun menelanjanginya hingga yang lebih tampan dan jauh lebih tinggi darinya menyunggingkan senyum kecil yang entah mengapa seribu kali lebih membuat Luhan meremang takut daripada saat Sehun mengunci matanya seperti saat ini.

"Tidak apa sayang, pada akhirnya aku akan tetap melihat tubuhmu juga." Suara berat Sehun mendominasi, satu tangannya bertumpu pada tangan Luhan lalu menariknya ke bawah, memaksa Luhan untuk memperlihatkan tubuh halusnya yang membuat gairah Sehun semakin menjadi tatkala melihatnya.

"Kau cantik."

Dan lucunya kini Luhan membiarkan Sehun mengusap lembut wajahnya, jari telunjuknya bermain di bibirnya dan memaksanya terbuka, sesekali Luhan menghisap ketiga jari Sehun bergantian, membuatnya bertekstur basah hingga tangan kasar itu kian turun menuju bagian tubuhnya yang lain, menyetuh lehernya sensual, lalu semakin turun mengusap kasar namun dengan gerakan sensual pada dada Luhan

"Sehun-…."

"sshh….relax."

Sehun memimpin adegan intim mereka, memberi instruksi pada Luhan tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan Luhan, kedua mata mereka masih saling menatap satu sama lain, kini gairah menyelimuti terutama untuk Luhan.

Usapan tangan Sehun didadanya berhasil membuat sesuatu dibawah sana merespon dengan cepat, tubuhnya meremang karena sentuhan sementara bibir Sehun terlihat sangat menggoda untuk dikecup dan dilumat, ah, dia hampir gila, dan Sehun membuatnya semakin gila saat tangannya bermain dan memelintir dua tonjolan kecil miliknya.

"haah~"

Luhan tak kuasa berdiri tanpa sandaran, kini dua tangannya sudah memegang dada Sehun, meminta bantuan untuk berdiri sementara Sehun diam-diam tersenyum menyadari dia sudah setengah jalan menguasai gairah kekasihnya.

Dan sementara Luhan menyandarkan keningnya di dada Sehun, lelaki itu terus bermain di nipple nya, kadang mengusap dengan telapak tangan, kadang membuat gerakan menggunting dan yang paling membuat Luhan bernafsu adalah saat kedua tangan nakal itu menarik sensual kedua tonjolan kecil miliknya.

"Sehun, cukup….ini terlalu banyak." Ujarnya bergumam dan alih-alih menghentikan gerakannya, Sehun justru berbisik seraya menggigit cuping telinga Luhan "Aku menginginkanmu."

Seperti sihir yang tak ditolak akal sehat Luhan, lelaki cantik itu pun hanya membalas dengan deru nafas tersengal tanda tak kuasa lagi menahan sentuhan, jadilah dia mengangguk, membiarkan Sehun menjatuhkan kimono yang dikenakan hingga kini setengah tubuh polosnya dinikmati mata memangsa Sehun yang semakin membuat Luhan tak fokus dibuatnya.

"Sehun-…."

Tak membalas, lelaki tampan itu hanya sibuk mengeksplor tubuh setengah polos didepannya, tangannya yang awal berada di bahu kini semakin turun mengagumi kesempurnaan manusia bumi di depannya, semua tak terlewat dari tatapannya, hingga tanpa izin dari Luhan, Sehun mulai mengecup leher kekasihnya, membuat tubuh yang lebih mungil sedikit bergedik takut terlebih saat kecupannya berubah menjadi gigitan yang meninggalkan bekas keunguan disana.

"ah~"

Luhan pun mendesah, Sehun menyeringai mendengarnya, kenyataan bahwa sesuatu dibawah sana memberikan reaksi adalah yang paling menyenangkan, dia pun sengaja menggenggam kasar milik kekasihnya dan Luhan mengejang terkejut dibuatnya.

"Sehun-…."

"Fokus, aku belum mau membawamu ke tempat tidur."

Semburat merah terlihat di wajah Luhan, dia berusaha terbiasa dengan tangan kekasihnya yang sedang bermain dengan miliknya dibawah sana, walau masih terhalang celana hitam ketat yang digunakannya, Luhan bisa merasakan betapa panas tangan Sehun jika menggenggam miliknya dengan tangannya langsung, dia benar-benar dibuat gila lalu Sehun berbisik

"Lakukan hal yang sama padaku."

Luhan yang sedang menikmati pijatan kasar di penisnya mengangguk, dia mulai melepas tali kimono yang digunakan Sehun, melepasnya dan menjatuhkannya kebawah hingga lelaki perkasa didepannya juga berada dalam keadaan sama dengannya, setengah telanjang dengan kondisi yang sangat berbeda.

Sehun memiliki beberapa lipatan eksotis di abs-nya, sementara Luhan rata walau hobinya adalah olahraga, lalu saat tangan mungilnya memegang bahu Sehun terasa otot kencang yang bisa melindungi siapa saja, berbeda lagi dengan miliknya yang jika disenggol sekali akan segera terjatuh karena lemah.

Semua hal itu membuat Luhan merasa malu, dia sangat berbeda dengan Sehun, tekstur tubuh Sehun tidak sama dengan pria kebanyakan yang sering dilihatnya saat berganti pakaian olahraga di sekolah, Sehun memiliki sesuatu yang seperti berkilauan di tubuhnya hingga membuat Luhan menyadari satu hal saat membelai tubuh perkasa didepannya.

"Apa ini?" tanyanya menyadari ada sebuah symbol yang terlihat samar di dada kekasihnya, awalnya tidak terlihat tapi setelah dia bertanya tanda itu menjadi jelas, sebuah tanda berbentuk segi lima dengan gambar lima elemen yang terdapat disana, Luhan memperhatikan dengan jelas, dia seperti melihat tanda ini, tapi dimana? Hingga tanpa sadar dia bertanya "Bukankah ini sebuah tanda?"

"eoh…Di tempatku berasal kami semua memiliki tanda ini."

"Dengan kelima element ini?"

"Tidak, hanya beberapa yang memiliki element ini."

"beberapa?"

Sehun mengabaikan pertanyaan Luhan, dirinya lebih memilih untuk mengusap wajah lembut kekasihnya seraya berkata "Ditempatku semua memiliki tanda yang dinamakan tanda kelahiran, tapi hanya beberapa yang memiliki lima element ini di tubuh mereka, aku salah satunya." Katanya membelai wajah Luhan sensual, Sehun kembali mengecupi tubuh Luhan, satu tangannya menelusup ke balik tengkuk Luhan dan bisa merasakan tanda kasar disana, dan saat hendak melihat, Luhan tiba-tiba merangkulkan lengan di lehernya, berjinjit dan mencium kasar bibirnya.

Sehun terbuai karena kekasihnya yang agresif, keduanya kini saling menjulurkan lidah dan bertukar saliva disela ciuman mereka yang begitu intens dan memabukkan, tangan Sehun kemudian refleks memegang pinggang Luhan.

Lagi-lagi dia merasakan kasar di tubuh kekasihnya, dia meliriknya sekilas dan melihat bekas luka disana, Sehun menyadari sesuatu, beranggapan bahwa luka di sekitar pinggang Luhan terlihat seperti goresan bowie, belati yang bisa memancing monster dari Allergo keluar menguasai, tapi bagaimana mungkin? Pikirnya, hingga dia melupakan sejenak rasa ingin tahunya, berniat untuk menanyakan bekas luka itu pada Luhan nanti, setelah mereka berbagi cinta, semua ini sangat memabukkan terlebih ketika suara Luhan mendesah disela ciuman kasar mereka, lelaki mungil itu juga mendorong tubuhnya, terus mendorong hingga membuat Sehun tak sabar dan mengambil alih tubuhnya, digendongnya bridal tubuh Luhan dan tanpa ragu Sehun membaringkan kekasihnya di tempat tidur.

Sontak hal itu membuat Luhan terkejut, dia pun menutupi lagi tubuh polosnya karena saat ini Sehun berada diatasnya, sedang membelai kasar tubuhnya lagi hingga satu gerakan cepat dia melepas pakaian terakhir yang menutupi bagiat ter-intim milik Luhan.

Luhan terbuai dengan cara Sehun membuatnya tanpa sehelai pakaian, dia juga memuja skill kekasihnya yang pandai mencari titik nikmat hingga membuatnya terlena dan menginginkan lagi, lagi dan lebih dari apa yang dilakukan kekasihnya.

"Kau pernah melakukan ini sebelumnya?" Sehun bertanya, memasukkan jari telunjuknya kedalam bibir Luhan dan dihisap kasar oleh kekasihnya, bergantian dengan dua jemari lainnya hingga Luhan menggeleng sebagai jawaban "Ini pertama untukku." Derunya mendesah saat Sehun menjauhkan jemari tangannya, dan seolah puas dengan jawaban Luhan, Sehun menyeringai, dia pun segera mengecupi lagi seluruh tubuh Luhan, leher, dada, dengan kedua tangan yang diam-diam melebarkan kedua paha kekasihnya.

Sehun menyiapkan Luhan dengan baik, memasukkan jemarinya yang basah dan mencari dimana lubang kecil itu berada, dengan kedua matanya dia bisa melihat Luhan merintih kesakitan namun berakhir mendesah dan membuatnya gila karena tak sabar mengambil kekasihnya.

Jadilah dia kembali menindih Luhan, melepas seluruh pakaiannya dengan cepat dan memposisikan penisnya tepat didepan hole Luhan yang sudah disiapkannya, dia terus mencium bibir Luhan untuk menenangkan sebelum beralih ke telinga Luhan, menggigitnya lalu berbisik "Aku akan melakukannya."

Luhan dibuat tegang karena ucapan Sehun, tapi lelakinya tahu bagaimana cara membuatnya tenang, dia terus memaksakan sesuatu masuk dibagian bawahnya sementara bibirnya tak henti melumat kasar hingga satu hentakan terakhir Luhan memekik dalam ciuman Sehun disertai air mata yang mengalir karena rasa sakit yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

"akh~Hrrghhhh~"

Dia berusaha mendorong tubuh Sehun menjauh, tapi Sehun menekannya semakin kuat, lelaki itu terus menyerangnya dengan ciuman dan sentuhan di bagian sensitive miliknya, dia berusaha mengalihkan rasa sakit tapi pinggulnya mulai bergerak keluar masuk dan Luhan merasa dirinya tercabik karena rasa sakit berulang saat milik Sehun masuk kedalam tubuhnya.

"Sehun—akh~Sehunna."

Luhan masih belum terbiasa karena dirinya terasa sangat penuh dan sesak, terlebih saat Sehun menghentaknya semakin kuat seolah mencari sesuatu, Luhan ingin berteriak marah tapi disaat bersamaan Sehun mendorong masuk dan mengenai satu titik yang membuat Luhan mengejang hingga kakinya berjengit karena rasa nikmat.

Kedua nafas mereka memburu hebat dan Sehun akhirnya membiarkan Luhan beristirahat sejenak seraya berbisik "Aku menemukannya." Katanya berbaik hati membiarkan Luhan beristirahat sebelum menyerangnya lagi dan lagi

Membuat refleks tangan Luhan mencakar dada dan pundak Sehun seolah menyerahkan segalanya pada sang kekasih, dia bahkan tak lagi merintih kesakitan, semua itu terganti dengan rasa nikmat yang baru kali pertama dirasakan, Luhan membiarkan Sehun terus bergerak diatasnya hingga satu hentakan terakhir Sehun berhasil membuat seluruh pandangannya berwarna putih bersamaan dengan kenikmatan yang datang menjemputnya.

"Sehun~akh-…."

Dan suaranya samar bersahutan dengan geraman tertahan Sehun saat mencapai nikmatnya dan mengeluarkan seluruhnya didalam tubuh Luhan, nafas mereka kini bersahutan dengan deru yang menaik-turunkan dada mereka, tak ada yang berbicara sampai Sehun menyatukan kening mereka dan mengecup hidung Luhan untuk berkata "Jadilah milikku selamanya."

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu

.

"Bagaimana? Apa kabar kakakku di dalam sana?"

"Kakakmu masih berusaha sekuat tenaga keluar dari mantra yang dibuat ayahmu."

"haha, bodoh, dia harusnya tahu itu hanya menghabiskan kekuatannya, lalu bagaimana dengan monster itu" tanyanya penasaran dan Seokjin, kaki tangan ayahnya yang ditugaskan melayaninya mulai hari ini berkata "Mereka menemukannya."

Yang sedang tersenyum penuh kemenangan adalah Ravi, adik kandung Kai yang sedang merayakan bahagianya karena sang ayah membuat keputusan tepat dengan memenjarakan kakaknya di penjara keluarga, dia kini juga diberi kepercayaan untuk memburu langsung keturunan putra Ratu Ailee yang tak lain adalah kakak tirinya.

Dan jangan katakan dirinya seribu kali lebih cerdik dari sang kakak, jika menemukan kakak tirinya tidak bisa dilakukan karena lihatlah, hanya dalam hitungan hari dia bisa menemukan monster yang tak lain adalah kakak tirinya "Dimana monster itu?"

"Tokyo, Japan."

Ravi menyeringai lagi, lalu memberi perintah "Bagus, lakukan sesuai dengan perintahku, hubungi Max dan katakan padanya untuk membawa monster itu hidup-hidup, ke hadapanku."

Seokjin mengangguk, dia tidak menampilkan ekspresi apapun dan hanya membungkuk sebagai persetujuan "Baik, tuan muda."

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi,

.

Bohong jika malam tadi bukan menjadi malam terbaik sang pangeran selama dua puluh tahun hidupnya, malam dimana pada akhirnya dia memutuskan untuk meng-claim Luhan sebagai pasangan hidupnya, semua terjadi begitu cepat, begitu membahagiakan disertai rasa panas di hatinya, namun semakin dia menyadari, Sehun tahu rasa panas itu bukan karena dia bahagia melainkan tanda lahirnya sebagai bangsa EXO sedang memberikan sinyal bahwa sesuatu terjadi, dia kemudian membuka mata, bertanya-tanya dimana Luhan karena kekasihnya sudah tidak berada di tempat tidur.

"Lu—argh~"

Namun rasa sakit ditanda lahirnya semakin kuat, Sehun menyingkap selimut dan melihat bahwa core EXO miliknya berwarna merah tanda seseorang memanggilnya dalam keadaan terdesak, jadilah dia memakai seluruh pakaiannya dengan cepat sebelum menyadari bahwa satu-satunya yang bisa memberi sinyal padanya saat di bumi hanya kaum Indigo, Yuta.

"Luhan." Dia terus memanggil kekasihnya, tak ada jawaban, lalu dia menuruni tangga lantai dua dan rumah yang disewa terlihat sangat sepi, dia terus mencari hingga membuat keputusan mungkin kekasihnya sedang bersenang-senang dan akan segera kembali setelah bertemu dengan Yuta.

Jadi wajar jika tujuan Sehun adalah pintu utama rumah, dia berniat segera kembali setelah memastikan Yuta baik-baik saja, namun saat tangannya memegang knop pintu seseorang memegang lengannya hingga membuat Sehun menoleh dan menemukan Luhan disana, terlihat berkeringat dan pucat entah karena apa.

"Jangan pergi." Pintanya terengah, kekasihnya seperti ketakutan akan sesuatu namun Sehun tidak bisa menyimpulkan apa yang membuat Luhan ketakutan seperti ini "Sayang, aku hanya sebentar."

"Jangan tinggalkan aku." Katanya lagi, dia semakin mencengkram kuat lengan Sehun dan sialnya Sehun semakin merasa tanda di dadanya terbakar karena sinyal yang diberikan terlalu kuat untuk diatasi, jadilah dia berusaha tenang tanpa harus membuat Luhan mencemaskannya untuk menenangkan "Aku akan segera kembali, hmh?"

"Sehun-…."

"Tunggulah disini."

Setelahnya Sehun bergegas keluar dari rumahnya, dia menghampiri keberadaan Yuta sesuai dengan instruksi kali pertama saat mereka bertemu, sebagai seorang pangeran dirinya sudah berjanji akan melindungi Yuta dan kaumnya, jadi wajar jika Sehun mulai fokus mencari walau sedikit bertanya karena rasa sakit di dadanya berkurang dan tak sekuat saat dia berada di rumah.

"PRINCE!"

Dan langkahnya terhenti saat melihat Yuta berlari kearahnya, terlihat baik-baik saja walau raut cemas juga terlihat di raut wajahnya "Yuta? Kau disini?"

"eoh, Aku merasakan panggilanmu prince, apa sesuatu terjadi?"

"Panggilanku?"

Buru-buru Yuta memperlihatkan sebuah giok khas milik Indigo untuk berkoneksi dengan Planet EXO, dan jika seseorang pemilik core dari EXO memanggil atau meminta bantuan giok itu akan berwarna menjadi merah dan saat ini Yuta sedang menunjukkan perubahan warna hijau menjadi merah dari giok yang sering disebut dengan Mile pemberian bangsa EXO pada Indigo di bumi.

"Aku menggantungnya di kamar saat kau memanggilku, apa yang terjadi?"

Tak menjawab, Sehun justru bertanya "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya frustasi, berusaha menyadari ada yang salah dari keadaan saat ini hingga Yuta bertanya "Dimana kekasihmu?"

Sehun diam seribu bahasa saat Luhan ditanyakan, tiba-tiba hatinya menghimpit sakit saat mengingat bayang ketakutan wajah Luhan beberapa saat tadi, Sehun tidak berani menoleh ke arah rumah yang disewanya bersama Luhan, tidak berani mengakui bahwa tanda lahirnya yang terasa panas terjadi karena seseorang memanggilnya dalam jarak dekat, terlalu dekat, dan satu-satunya orang yang dekat bersamanya hanya, Luhan.

"tidak-….Itu bukan Luhan."

Sehun mengelak, tapi langkah kakinya kembali berjalan ke rumah tempat kekasihnya berada, tiba-tiba ucapan Luhan yang memintanya agar tidak pergi menjadi beban dalam hatinya, Sehun sedang berdoa kuat-kuat agar pikirannya salah, memohon agar Luhan masih ada disana, sedang menunggunya dan tidak terjadi sesuatu padanya.

"kumohon-…Kumohon—"

.

.

.

.

PRANG!

Tepat setelah kepergian Sehun, beberapa orang datang memecahkan jendela kaca dan mendobrak kasar pintu rumah yang disewa kekasihnya, Luhan tahu mereka bukan orang biasa karena bahkan menyerangnya dalam mimpi.

"MONSTER KECIL KAU DIMANA?"

Dan alasan mengapa dirinya terbangun lebih dulu adalah karena dirinya berkali-kali dibawa ke tempat gelap dibawah alam sadarnya, seseorang menariknya disaat tidur, ini seperti kejadian tiga tahun lalu saat kali pertama dirinya diserang di dalam mimpi.

Namun tidak seperti tiga tahun lalu, kali ini kekuatan yang menyeretnya ke alam bawah sadar cukup kuat, Luhan hampir tidak bisa kembali jika tidak bisa mengimbangi kekuatan yang mencoba membawanya entah kemana.

"KAU TIDAK AKAN BISA BERSEMBUNYI!"

"arghh-…."

Rasanya menyakitkan terlebih saat tanda di belakang tengkuknya terasa panas seolah mengaktifkan sesuatu dan memberi sinyal entah pada siapa, semua terasa menyakitkan dan hampir membuatnya menyerah, beruntung suara Sehun terdengar dan membawanya kembali ke sebuah ruangan gelap di salah satu rumah yang mereka sewa.

Saat itu terjadi dia melihat Sehun hendak pergi, berniat untuk memintanya tinggal tetapi sesuatu mendesak juga terjadi pada Sehun, jadilah dirinya ditinggal seorang diri hingga dan sekumpulan pria berjubah hitam itu datang dan menemuinya di dunia nyata.

"KELUARLAH! ATAU SESEORANG AKAN MATI KARENAMU!"

Luhan sedang bersembunyi di lantai dua, membuat perisainya sendiri namun sepertinya percuma karena langkah kaki itu mendekatinya seolah bisa mendeteksi keberadaannya, dan keuntungan Sehun pergi adalah dirinya tidak perlu menunjukkan diri seperti tiga tahun lalu, saat Taeyong terluka dan Yoon hampir meregang nyawa karena melindunginya.

Ya, setidaknya dia bisa lebih tenang menghadapi orang-orang yang menemukannya bahkan saat dirinya tidak berada di hutan, dia tidak perlu berubah menjadi hal yang tidak diinginkannya lagi, dia hanya perlu bersembunyi dengan perisainya sampai lagi-lagi cahaya merah terlihat dan menghancurkan semua benda di lantai dua.

"tidak…."

Luhan berusaha menangani rasa takutnya dengan bersembunyi, dia tidak ingin dipaksa berubah wujud lagi seperti tiga tahun lalu, itu sangat menyakitkan, sangat menakutkan dan sepertinya terlambat karena tiba-tiba seseorang berjongkok didepannya seraya menyeringai

"got you….lil monster…"

Luhan terkejut, dia kehilangan kendali atas perisainya dan dibiarkan bertemu secara langsung oleh lelaki dengan luka bakar di wajahnya, dia terlihat mengerikan dan tiba-tiba mengeluarkan sebuah belati kecil yang sangat ditakuti Yoon dan Elena saat melihatnya.

"Aku tidak akan membunuhmu, hanya dengarkan aku dan kau akan baik-baik saja."

"diam—"

Luhan berangsur menjauh tetapi lelaki mengerikan itu semakin mendekat padanya, hal itu membuatnya sangat ketakutan dan tanpa sadar mengayunkan tangannya seraya berteriak "JANGAN MENDEKAT!"

Cahaya merah pun terlihat, membuat lelaki mengerikan itu terpental cukup jauh dan Luhan cukup terkejut melihat apa yang terjadi, ini hal baru untuknya, begitupula lelaki yang sedang berusaha menangkapnya, sekilas ada raut ketakutan di wajah pemburu itu hingga membuatnya berteriak "TANGKAP MONSTER INI SEGERA!"

Setelahnya semua terjadi dengan cepat, mereka bisa berpindah tempat karena dua yang lain sudah berada di belakang Luhan, tapi tak seperti lelaki dengan luka bakar di wajahnya, kedua yang lain mendekati Luhan dalam diam dan

Sret….

Tengkuk dan lengannya digores dalam, seketika darah keluar membanjiri namun tidak seperti sebelumnya, luka ditubuhnya tidak langsung menutup dan Luhan bisa merasakan panas di seluruh tubuhnya.

"argh—AARGGHHH"

Terakhir yang dirasakan Luhan sesuatu seperti ingin mengambil alih tubuhnya, bagian kirinya sudah menunjukkan perubahan bentuk dengan warna matanya yang samar kini berwarna merah, ini bukan kali pertama Luhan merasakan hal mengerikan ini, sebelumnya dia akan segera berubah menjadi monster mengerikan dengan satu goresan kecil, tapi entah mengapa kali ini dia bisa menahannya sedikit lebih lama dan ketiga orang didepannya mulai berteriak panik

"TANCAPKAN BOWIE PADANYA! SEKARANG!"

"bowie?"

Luhan mengingat nama benda itu, yang selalu dikatakan Yoon agar mereka menjauhi benda mengerikan itu, hal itu membuat Luhan memaksakan diri pergi sebelum membuat kehancuran lebih banyak, jadilah dia terhuyung, berusaha melewati tiga orang sialan yang membuatnya kesakitan dan melihat salah satu dari mereka mendekat dengan belati itu ditangannya.

"jangan lagi-…..JANGAN LAGI!" Teriaknya, Luhan mengeluarkan lagi cahaya merah dari tangannya, mereka menyerang bergantian hingga satu tangannya ditarik dan

Slash~

Luhan merasa mual karena sekelilingnya berputar, hal terakhir yang diingat mereka berada di ruang kamar namun kini dirinya sudah dibawa ke tempat gelap lagi, ini seperti di mimpi sebelumnya, tempat ini adalah hutan yang dikelilingi dengan aura jahat, dan saat dia membiasakan diri sesuatu menggoresnya lagi hingga membuat Luhan berteriak kesakitan

ARGGHHHH!

Di tempat yang sama di belakang tengkuknya, Luhan bisa merasakan darahnya semakin deras, hal yang membuatnya bisa bertahan hanya dua, menyembuhkan diri atau membiarkan wujudnya yang lain menguasai, namun pilihan pertama tak bisa dilakukan, jadilah sesuatu dalam dirinya terus memaksa keluar namun Luhan menahan sekuat tenaga dan berusaha berlari sejauh mungkin diiringi tawa mengerikan di setiap langkah saat dirinya berlari

HAHAAHA MENYERAHLAH PADA KAMI! KAU TERLAHIR SEBAGAI MONSTER DAN MATILAH SEBAGAI MONSTER YANG MELAYANI KAMI

"DIAM!—HARRGHH~"

Satu kilatan cahaya merah membuat Luhan tersungkur, pandangannya mulai samar dikuasai rasa panas didalam tubuh, dia tidak tahu akan bertahan sejauh apa menahan mahluk lain yang hidup didalam tubuhnya, dia kesakitan, dia ketakutan dan dia membutuhkan kedua pengasuhnya hingga membuat Luhan bergumam putus asa

"yoon, elena—siapapun, tolong aku-…."

.

.

.

.

.

"LUHAN!"

Sehun membeku di tempatnya tatkala melihat rumah yang disewanya bersama Luhan hancur berantakan, seluruh benda di ruangan ini terpecah dan berserakan, perasaannya cukup kacau hingga tanpa sadar mengeluarkan pedangnya, berjaga-jaga dan mencari Luhan yang tak kunjung menjawab panggilannya.

"LUHAAAN!"

"prince…"

"CARI LUHAN!"

Yuta mengangguk, berlari ke lantai dua sementara Sehun terus menyusuri ruangan yang dibuat hancur dalam kedipan mata, hatinya sakit tak berani membayangkan siapa yang menyerang Luhan, bertanya-tanya apakah tanda lahirnya yang terasa panas terjadi karena Luhan yang memanggil, tapi bagaimana bisa? Hanya bangsa EXO yang bisa mengaktifkan core dalam keadaan terdesak, meminta bantuan pada siapapun yang bisa melindungi mereka saat mereka dalam bahaya.

Hanya bangsa EXO, dan Luhan bukan salah satunya "Luhan bukan—" Sehun berhenti berfikir panjang, dia mengambil satu pengecualian jika kekasihnya memang berasal dari Planet EXO, hal pintas yang terlintas dibenak Sehun yang kini berusaha dihilangkannya namun gagal karena disaat yang sama Yuta berteriak membawa sesuatu di tangannya

"PRINCE!"

"Apa?" tanyanya cemas, dan Indigo itu menunjukkan sebuah belati dilumuri darah yang bisa memancing wujud gigant seorang Allergo, belati yang ditakuti oleh bangsa Allergo dan diketahui Sehun sebagai "Bowie?"

"eoh…Ini ada di kamarmu."

"Tapi bagaimana bisa benda itu ada disini? Tidak ada Allergo yang tinggal—" nafas Sehun terhimpit lagi, semuanya seolah menjawab tentang pertanyaan darimana Luhan bisa memiliki kemampuan menyembuhkan luka, bisa membuat perisai, mengapa auranya terasa familiar dan mengapa Luhan memiliki bekas luka Bowie di sekitar pinggangnya saat malam tadi mereka bercinta.

Sehun enggan mengakui, dia juga tidak ingin menebak lebih jauh karena keinginannya hanya satu saat ini, menemukan Luhan, kekasihnya.

"Luhan."

"Prince!"

"Aku harus menemukanmu, aku akan menemukanmu sayang."

"Prince kemana kau akan pergi?"

Sehun berlari ke tempat dimana portal membawanya sampai ke Jepang, menoleh pada Yuta lalu memperingatkan "Aku akan mengaktifkan kekuatan core, bersiaplah."

"Tidak, kau tidak bisa melakukannya, itu melanggar peraturan!"

Dan ketika Yuta memperingatkan Sehun dengan senang hati mengacuhkan, dia tahu resiko yang harus ditanggungnya kelak, tapi katakan dia tidak memiliki pilihan karena dia harus menemukan Luhan

"Pergilah!"

Slash~

Sehun mengeluarkan pedangnya, membuat lingkaran dengan senjata terkuat yang dimilikinya untuk tiba-tiba menancapkan pedang tersebut kedalam tanah hingga membuat gemuruh terjadi secara mendadak.

Pedangnya yang tertancap kini mengeluarkan sinar biru yang jika disentuh oleh Sehun akan terkoneksi pada core miliknya yang aktif, dia sudah tercatat sebagai salah satu yang terkuat di EXO, dia akan melindungi planetnya, bangsanya, segala yang berarti terutama cintanya, jadi keraguan itu dihilangkannya, tekadnya bulat untuk menemukan Luhan dan tanpa keraguan Sehun mendekati pedangnya, menggenggamnya erat diiringi teriakan memilukan saat tangannya dan pedang akan terkoneksi pada core yang kini bisa merasakan gemuruh dari salah satu element kehidupan yang dikuasain Sehun.

AAARGHHHHH~

"PRINCE!"

Sehun memutar pedangnya, kini kekuatan inti core nya aktif dan membuatnya terkalahkan, matanya menunjukkan cahaya biru dikelilingi kekuatan tak tertandingi hingga membuat pagi yang cerah ini menjadi gelap gulita, kekuatan ini terlalu besar untuk ditanggungnya seorang diri, mungkin jika diteruskan Sehun akan mati karena energi berlebihnya, dia tidak bisa menahan lebih lama hingga terlihat satu bulatan hitam yang diketahui Yuta sebagai portal kini terbuka dan membuat Indigo tersebut berteriak

"HENTIKAN PRINCE KAU BISA MATI!"

Sehun memang akan mati jika terlalu lama menyatukan inti core dengan kekuatan besar ini sendirian, dan semua itu diabaikan Sehun karena dia harus fokus dan memberi perintah pada seluruh penduduk EXO yang berada di bumi "SIAPAPUN EXO YANG MERASAKAN KEKUATAN INI, BERLUTUT!"

Suara gemuruh terdengar, perintahnya bekerja karena Sehun bisa merasakan seluruh energi dari seorang EXO yang berada di bumi, dia bahkan bisa merasakan energi adiknya, Yifan dan bahkan Chanyeol, mengabaikan hal terakhir akan kedatangan pangeran Allergo itu, dia juga merasakan beberapa energi asing yang mengganggunya.

Hal itu membuatnya ragu, namun jika dia ingin sampai pada Luhan terpaksa dia harus memperjelas perintahnya "Luhan-EXO—" Lalu matanya terpejam, berharap dugannya salah namun dia tetap berteriak "ALLERGO!"

Yuta terjatuh karena cahaya yang dibuat Sehun terlalu menyilaukan, terakhir saat matanya terbuka, pagi kembali cerah namun Sehun, dia menghilang entah kemana.

"PRINCE!"

.

.

.

.

Sementara itu

.

"L, sebenarnya dimana tempat putra Ailee tinggal? Kau yakin dia tinggal di dalam hutan?"

"Diamlah."

"Kenapa kau terus menyuruhku diam?"

"Karena kau menggangguku."

"oh ayolah!"

Jelas sang putra mahkota menggerutu, seluruh kakinya hampir mati rasa tapi Myungsoo memintanya terus berjalan tanpa henti, sejujurnya dia hanya bisa merasakan kemarahan di setiap ucapan yang keluar dari Myungsoo, lalu dia memutuskan diam sampai suara gemuruh terdengar dan hutan yang cerah ini tiba-tiba berubah menjadi gelap mencekam

DUAR~

Sontak hal itu membuat Myungsoo mengeluarkan pedang sementara Jaehyun membuat perisai untuk mereka berdua, keduanya juga terlihat waspada terutama Myungsoo yang bertanya curiga "Apa yang kau lakukan?"

"aku—aku tidak tahu apapun."

Detik berikutnya kepala mereka berdua terasa pusing, lalu samar keduanya mendengar perintah

"SIAPAPUN EXO YANG MERASAKAN KEKUATAN INI, BERLUTUT!"

Dan mereka pun berlutut, lemas, seolah kekuatan mereka terserap, Jaehyun kehilangan perisainya, Myungsoo kehilangan pedangnya, seluruh energi mereka terserap entah karena apa tapi Myungsoo mengetahui ini sebagai "Kakakmu, dia mengaktifkan inti core."

.

.

.

.

Di lain tempat

.

Terlihat Yifan yang berwajah gusar berjalalan bersampingan dengan Kyungsoo si pendiam yang ingin banyak berbicara, keduanya bahkan sudah banyak beragurmen karena Kyungsoo membiarkan Jaehyun pergi bersama Myungsoo sementara mereka masih harus mencari Sehun dalam rasa cemas.

"Bagaimana jika Ratu tahu putranya berjalan dengan seorang monster." Dia menggerutu dan Kyungsoo terkekeh mendengarnya "Kau bahkan lebih tahu bahwa ratu tidak pernah menganggap Allergo sebagai monster."

"terserahlah….Kita harus segera menemukan Sehun lalu membawa Jaehyun bersama kita, aku tidak bisa membiarkan anak itu berkeliaran dengan monster."

"Kau terlalu protektif pada dua bersaudara itu Yifan."

"Aku serius Kyung!"

"Oke, baiklah, tapi dimana kita akan mulai mencari?"

"Aku akan menghubungi beberapa Indigo sementara kau mencari informasi di keramaian, jangan sampai terluka, aktifkan tandamu dan kita akan berkumpul disini, dengar?"

Tak terlalu mendengarkan Kyungsoo hanya menjawab asal "Baiklah."

Setelahnya mereka berdua pergi berlawanan arah, Yifan ke sisi kanan sementara Kyungsoo mengambil sisi kiri, keduanya berniat menyelesaikan segera tugas mereka dan kembali pulang sebelum

DUAR!

Untuk satu alasan mengerikan, pagi di tempat ini berubah menjadi gelap gulita, gemuruh yang terdengar membuat baik Yifan dan Kyungsoo mengeluarkan senjata mereka berjaga-jaga, keduanya pun menoleh, bertanya-tanya sampai kepala mereka dibuat sakit mendengar perintah

SIAPAPUN EXO YANG MERASAKAN KEKUATAN INI, BERLUTUT!

Senjata mereka menghilang, Kyungsoo lebih dulu berlutut sementara Yifan yang merupakan setengah Indigo masih bisa menahannya beberapa saat hingga dia merasakan setengah energinya terserap, di sela rasa sakit kepalanya, Yifan sempat mengambil salah satu energi dan melihat Sehun di bayangannya.

"Yifan apa yang terjadi?" Kyungsoo ketakutan, dan Yifan menjawabnya singkat "Ini Sehun, dia mengaktifkan inti core-miliknya."

.

.

.

Disaat yang bersamaan terlihat kilatan cahaya yang mengantar seorang pangeran Allergo diikuti oleh pengawalnya yang lain memasuki bumi, keduanya segera mencari dimana keberadaan panglima perang mereka, mengikuti tanda Allergo yang dimilikinya, tangan kedua sang pangeran berkata memberitahu "Myungsoo tidak jauh dari tempat ini, prince."

Menunjukkan lesung pipi dengan seringai menyertai di wajahnya, Chanyeol hanya menjawab "Jangan menyerang hingga aku tahu siapa putra Ailee."

"Baik, prince."

Keduanya pun bergegas mengikuti tanda kerajaan Allergo yang diberikan pada Myungsoo, mereka lebih cepat sampai ke bumi karena Chanyeol melakukan jump secara langsung, kecepatannya berbeda dengan menggunakan portal, jadi wajar jika dia terlihat baik-baik saja karena tidak perlu melalui perjalanan yang membuat sakit kepalanya.

"Kemana arahnya?"

"Dia masih berjalan lurus-…."

Ucapan kaki tangannya yang lain tiba-tiba terhenti, hal itu membuat Chanyeol menoleh dan bertanya-tanya mengapa Guan Lin, orang kepercayaannya, tiba-tiba berlutut dan wajahnya pucat seolah energinya diserap "Guan! Ada apa denganmu-…."

Barulah Chanyeol menyadari apa yang terjadi, suasana di sekitarnya menjadi gelap dan tak lama sesuatu memaksanya ikut berlutut, reaksinya baru terjadi setelah Guan berlutut tanpa alasan, sesuatu seperti menyerap energinya dan Chanyeol tahu seseorang sedang menggunakan inti core dan orang itu pastilah Sehun karena hanya petinggi kerajaan yang bisa dan mampu menggunakan kekuatan dari core EXO milik mereka.

"prince…ada apa?"

"seseorang…Seseorang mengaktifkan inti core."

.

.

.

.

Kembali pada perintah Sehun, saat dia memfokuskan untuk mencari seorang EXO di bumi, dia fokus pada Luhan, seorang Allergo yang kini sedang berjuang dengan hidupnya karena sedang bertarung menahan sisi lainnya, lelaki mungil itu sudah kehabisan hampir seluruh energi manusia miliknya.

Dia tidak bisa menyembuhkan luka, tidak pula bisa berlari di tempat para penyihir itu membawanya, lagipula ini terlalu gelap dan cahaya merah terus tertuju seolah mengejeknya yang sekarat dan dalam kondisi kritis.

"MENYERAHLAH! KAMI AKAN MENGELUARKANMU DARISINI SETELAH KAU BERUBAH MENJADI MONSTER."

"diam-…."

Luhan terus mendengar suara tanpa wujud, dia juga berusaha membuat perisai namun gagal karena energinya terkuras habis, walau percuma yang dilakukannya kini hanya berlari, terus berlari hingga tiba-tiba semua berputar, kepalanya sakit dan tanda di belakang tengkuknya terasa panas seolah mendengar perintah

SIAPAPUN EXO YANG MERASAKAN KEKUATAN INI, BERLUTUT!

Tiba-tiba Luhan terjatuh, berlutut, kakinya tak lagi memiliki tenaga untuk berlari, energinya yang habis seolah terserap tanpa sisa, suara yang memerintahkannya terdengar familiar namun disaat yang sama tanda di belakang tengkuknya seolah terbakar karena seseorang menginginkannya bersamaan dengan langkah kaki mendekat diiringi tawa mengerikan.

"kenapa? Tidak bisa berlari lagi-…"

"hrrhhggh~"

Luhan tidak bisa melakukan apapun lagi, bukan dia menyerah, dia akan menjawab jika tanda dibelakang tengkuknya tidak terasa membakar, dia bahkan berniat untuk bertahan walau harus mati saat dia berusaha, dia hanya tidak ingin mati dalam wujud mengerikan yang sering diceritakan Yoon padanya, dia ingin menjadi dirinya, bahkan jika mati dia harus menjadi Luhan, hanya Luhan.

"Tamat riwayatmu sebagai manusia, setelah ini, kau hanya akan menjadi monster mengerikan yang melayani kami."

Tapi sayang ketiga penyihir keji didepannya tak berbaik hati membiarkannya mati dalam wujud manusia, mereka bersamaan memegang belati mengerikan itu dan hendak memancing keluar wujud monsternya dengan menggores tubuhnya bersamaan, membiarkan luka terus membuka hingga memancing sisi yang lain dalam dirinya murka dan menguasai.

"Lakukan bersamaan."

Luhan bisa mendengar perintah yang diberikan, membuatnya tertunduk karena tak bisa menggerakan tubuhnya, dia hanya bisa menjerit dalam hati sementara satu dari mereka berteriak

"SEKARANG!"

"argh-…."

Satu belati itu berhasil menghujam perutnya, Luhan tersungkur ditanah dengan luka yang menggores dalam tubuhnya, tak ada darah yang mengucur keluar, hanya rasa panas yang begitu menyakitkan hingga membuat si pemilik tubuh menggeliat sesekali mengejang kesakitan.

"HAHAHAHA~"

Suara tawa keji itu semakin memancing sosok lain di tubuh Luhan murka dan menggeram marah, hal yang nyaris tak bisa lagi ditahan Luhan jika satu goresan lagi mengenai tubuhnya, satu goresan lagi, dia akan menjadi monster tiga tahun lalu, dan untuk mencegahnya Luhan harus dalam keadaan sadar walau setengah tubuh bagian kirinya mulai menunjukkan perubahan mengerikan.

Luhan menyadari bahwa mahluk didalam tubuhnya akan segera menguasai, hal yang tidak diinginkan Luhan mungkin akan segera terjadi terlebih saat dua dari mereka mengarahkan belati itu ke leher Luhan, Luhan meringis, memohon, dia tidak ingin berubah menjadi monster namun sepertinya percuma saat satu dari mereka berteriak

"HABISI WUJUD MANUSIANYA SEKARANG!"

"andwae-…"

Luhan bertanya-tanya apa yang akan terjadi padanya setelah mereka menggores tubuhnya lagi seperti hewan buas, entahlah, dia ingin bertahan lebih lama tapi hal itu tak mungkin terjadi, terlebih saat tubuhnya di tendang dan disudutkan ke salah satu pohon besar sementara yang lain mendekatinya seraya berteriak

"MATILAH KAU!"

"eoh, kalian benar, matilah aku."

Luhan memejamkan pasrah matanya, hanya bisa meratapi nasibnya yang akan mati sebagai wujud monster mengerikan seperti yang dialami mendiang ibunya, ah, setidaknya itu yang dikatakan Yoon, Luhan tidak pernah tahu rasanya akan sangat menyakitkan seperti ini, jadilah dia hanya tersenyum lirih hingga tanpa sadar untuk kali pertama dalam hidupnya, bibirnya mengatakan

"eomma….mari bertemu untuk kali pertama, aku menunggumu."

Setelahnya hanya ada kilatan cahaya menyilaukan, Luhan tidak tahu apakah rasa goresan kali ini tidak sakit atau dirinya sudah tidak berwujud manusia, entahlah, seluruh tubuhnya mati rasa karena mungkin dia memang sudah mati, itu yang ada di pikirannya, sampai suara teriakan terdengar memanggil namanya, menariknya dari jurang kematian untuk membuatnya sadar, setidaknya membuka mata

"LUHAN SADARKAN DIRIMU!"

Itu suara lelaki yang malam tadi menghabiskan waktu bersamanya, yang mengatakan cinta padanya, yang sosoknya dimohon agar tidak pergi meninggalkannya beberapa saat lalu, rasanya seperti mimpi, Luhan ingin memejamkan mata lebih lama tapi lelaki itu terus memanggil namanya, memintanya untuk tetap sadar hingga perlahan Luhan membuka mata dan melihat sosok sang kekasih sedang memeluk tubuh setengah monsternya tanpa rasa takut.

"Sehunna."

"SADARKAN DIRIMU LU! TERUS BUKA MATAMU!"

Tak kuasa memenuhi permintaan kekasihnya, Luhan justru tersenyum dengan mata kembali terpejam, seolah merasa aman karena Sehun kini memeluknya sementara sang kekasih tanpa rasa takut mendekapnya erat seraya berbisik "Aku disini, aku tidak akan pergi lagi, sadarkan dirimu sayang, buka matamu, tetap buka matamu, oh tidak."

Tatkala tangan Luhan terkulai lemas, Sehun tak sengaja memegang bagian tengkuknya, terdapat sebuah tanda disana, dia melihatnya dan menyadari bahwa dibagian tengkuk Luhan terdapat tanda EXO yang aktif, semua seolah menjawab bahwa bukan Yuta melainkan Luhan yang meminta tolong karena dirinya terdesak hingga berakhir mengenaskan seperti ini.

Entah mengapa kenyataan kekasihnya adalah seorang Allergo tidak membuat Sehun menyesal, sebaliknya, kekasihnya adalah seorang Allergo yang tidak mengetahui identitasnya, yang tidak mengerti mengapa dirinya diserang seperti saat ini, menyadari hal itu membuat Sehun sangat menyesal hingga berakhir membawa Luhan ke pelukannya, mendekapnya erat dan untuk kali pertama dia begitu takut kehilangan seseorang dalam hidupnya.

"—LUHAN!"

.

.

.


.

tobencontinued

.


.

.

Seeou soon

.

Rain and Tears ch 2

.

Happy readings dan yang mau tanya2 seputar FF, DM Kuy, kkk~