Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : sibum, kyumin
genre : romance, family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
-Sibum-
.
Dengan nafas terengah, akupun berlari dari dalam mobilku menuju rumah sakit yang dimaksudkan umma.
Aigoo, kenapa Minho bisa jatuh dari kasur? Apa tak ada yang menjaganya?!
Segera saja kulajukan kakiku ini menuju ruang rawat anakku.
"Mamamamammmm" saat aku memasuki kamar bernuansa anak kecil itu, seketika terdengar rengekan seorang yang benar-benar kukenal.
Ya, Minho tengah merengek manja, sepertinya minta makan. Loh? Bukankah tadi dia sudah sarapan?
"MINHO-YA!" segera saja kuterjang tubuh kecil yang tengah duduk di atas kasurnya itu.
"Aigoo, ini apa, hmm?" tanyaku lembut seraya mengelus pelan perban yang melingkari kepalanya.
Minhopun mengikuti arah tanganku yang bersarang di kepalanya.
Dia menyingkirkan tangan besarku itu.
"Sepertinya masih sakit Wonnie" ujar umma memberitahu.
Akupun menatap anakku ini kasihan, pasti dia tidak tahan rasa sakit.
"Maafkan daddy, ne" ujarku merasa bersalah.
Akupun naik keatas ranjang Minho, kemudian memangkunya. "Minho lapar?" tanyaku seraya menatapnya.
Anak itu terlihat kurang paham dengan apa yang kutanyakan, terlihat dari ekspresi bingung yang ditampakkannya.
"Mam?" tanyaku lagi.
"Mamamamammmm" jawabnya bersemangat.
"Umma, Minho ingin makan" seruku pada umma yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Umma menatapku dan Minho bergantian, "Tadi umma sudah menyuruh babysitter Minho untuk pulang dan membuatkannya makanan" ujar umma.
Ah, begitu. Memang sih, jarak rumah kami dengan rumah sakit tak begitu jauh, bahkan bisa dibilang dekat.
"Tunggu sebentar ya, Minho sayang" kuelus perut kecilnya itu.
"Umma, bagaimana Minho bisa jatuh?" tanyaku pada umma. Ah, hal ini yang ingin kutanyakan dari tadi.
"Bagaimana lagi, karena anakmu yang terlalu hyperaktif" jawab umma singkat.
Umma mengelus lengan kecil Minho sayang. Ah, aku beruntung sekali umma bisa menerima Minho, bahkan menyayangi Minho begitu dalam.
"Begitu ya... Lalu kemana babysitternya?" tanyaku lagi.
"Katanya dia tadi tengah membuatkan susu formula untuk Minho di dapur, dan saat dia kembali, Minho sudah ada dibawah dan menangis kencang" terang umma mengenai kronologi terjatuhnya Minho dari atas kasur.
Akupun menatap gemas akan bayi yang ada didekapanku ini, "Lain kali jangan terlalu banyak bergerak" ujarku padanya.
Cklek
"Permisi nyonya, tuan muda, ini makanan tuan kecil" ujar seorang babysitter dengan sopan.
"Ah, ne. Kemarikan. Kau bisa pulang dulu untuk istirahat. Jika aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu" ujar umma lembut.
"Ye, terima kasih nyonya" ujarnya sopan kemudian menyerahkan sebuah kotak makan serta tas bayi yang kuyakin isinya adalah perlengkapan dan mainan Minho.
Babysitter itupun keluar dari ruang rawat Minho.
"Mamamamamammmmm!" seru Minho semangat saat umma membuka tutup kotak makannya.
"Sudah tak sabar eoh?!" akupun mengelus pelan pipi tembam yang bergerak-gerak lucu itu.
Ummapun menyuapi Minho, sedangkan aku hanya memangkunya saja. Sesekali aku juga membersihkan makanan yang bertebaran di sekitar mulutnya dengan menggunakan kain yang sudah disiapkan.
Anak itu semangat sekali makannya, pantas saja dia gemuk begini.
.Tok
Suara ketukan pintu itu mengalihkan pandangan kami, aku dan umma, yang semula menatap intens pada Minho.
"Siapa yang datang umma? Appa?" tanyaku.
"Kalau appa, kenapa mengetuk pintu segala?" sanggah umma. Ah, benar juga.
"Masuk!" ujar umma.
Cklek
Pintupun terbuka dan menampilkan sosok yang begitu kukagumi.
Mataku sontak membulat lebar, benar-benar terkejut akan kedatangannya. Kenapa dia kemari? Dan bagaimana bisa?
Ummapun menampakkan ekspresi yang tak jauh beda denganku. Namun, sepertinya ada sesuatu yang berbeda.
"Ah! Teman Siwonnie ya? Sini-sini duduk!" ujar seorang Choi Heechul bersemangat.
WHAT!? Ada apa dengan umma?! Apa umma menyadari sosok Kibummie?
Kibummiepun menurut dan duduk disamping umma.
"Kenapa kau tak pernah cerita kalau punya teman secantik ini Wonnie?" tanya umma dengan seringai andalannya.
Choi Heechul benar-benar!
"Eum... Sebenarnya kami juga baru mengenal, ahjumma" ujar Kibummie membenarkan.
"Ah, jangan panggil ahjumma. Terdengar sangat aneh! Panggil saja umma, seperti teman-teman Siwonnie yang lain" pinta umma.
Ya! Kebohongan apa ini? Tak ada satupun temanku yang memanggilnya umma selain temanku yang benar-benar dekat, Kyuhyun misalnya.
"Ne, ahju... ah umma" jawab Kibummie sedikit gugup. Ah, umma yang salah!
"Mamamamamammmm" Minho yang merasa dirinya diabaikanpun berujar.
Aigoo! Lihatlah pipi bulatnya yang belepotan ini. Pasti anak ini makan sendiri tadi sejak Kibummie datang.
Kubersihkan pelan pipi bulat itu menggunakan kain yang kupegang.
"Oh ya, siapa namamu cantik?" tanya umma dengan nada sedikit centil.
"Kibum, Kim Kibum, umma" jawab Kibummie.
'Choi Kibum lebih tepatnya' tambahku dalam hati.
"Ah, lebih cocok juga Choi Kibum" goda umma.
APA YANG UMMA KATAKAN?!
Lebih baik aku pura-pura tak mendengar saja, atau pura-pura memperhatikan Minho kurasa lebih baik.
Kusuapi pelan anak semata wayangku itu.
"Ini yang namanya Minho ya?" tanya Kibummie tiba-tiba.
Darimana dia tahu nama anakku? Jangan bilang Kibummie juga tahu status Minho! Pupus sudah harapanku memilikinya kalau benar. ANDWE!
"Ne, namanya Choi Minho. Dia anak..."
"angkat, ya anak angkatku" potongku cepat sebelum umma melanjutkan perkataannya. Ah, kalau aku mengatakan dia keponakanku, lalu bagaimana kalau Minho memanggilku? Tak mungkin bukan aku menyuruhnya memanggilku samchon atau ahjussi?
Kibummiepun hanya menganggukkan kepalanya.
Terlihat raut wajah umma yang tidak terima, namun aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
"Oh... Dia benar-benar lucu ya?" ujar Kibummie seraya mengelus pipi bulat anakku.
YANG BENAR SAJA! KAU BENAR-BENAR BERUNTUNG CHOI MINHO! DADDY JUGA MAU SEPERTIMU!
Minhopun terlihat tersipu ketika tangan halus nan putih itu menyentuh kulitnya.
YA TUHAN! Kau benar-benar ya, Choi Minho!
"Ah, lihatlah! Bahkan dia malu saat yeoja cantik sepertimu mengelus pipinya" ujar umma gemas akan tingkah cucunya.
Berbeda denganku yang terlihat kesal pada makhluk kecil di pangkuanku ini.
Minhopun dengan tak tahu malunya mendorong kotak makannya pada Kibummie dan mengambil sendok yang kupegang, kemudian menyerahkannya pada Kibummie.
Aigoo! Choi Minho! Kau benar-benar membuat daddy malu! Sebenarnya sikap siapa yang kau tiru, hah! Jangan sampai sifat dan sikap ibumu yang kau tiru!
Kulihat, Kibummie malah terkekeh pelan saat sendok kecil itu ada di tangannya.
"Sepertinya Minho ingin disuapi Kibummie" ujar umma diiringi nada menggoda.
Aku juga mau disuapi Kibummie, umma!
"Ah, appamu menyuruh umma datang ke kantornya. Sepertinya ada yang penting" ujar umma setelah melihat handphonenya.
Dan aku tahu, ITU ADALAH BOHONG!
"Umma pergi dulu ya. Ah, Kibummie, titip Siwonnie dan Minhonnie dulu ya!" pamit umma disertai ejekan didalamnya.
"Kau tidak sedang terburu-buru, kan?" lanjutnya.
"Tidak, umma. Saya tidak ada kuliah hari ini"
Bahkan aku hafal semua jadwal kuliahmu Kim ah CHOI KIBUM. Dan aku tahu hari ini kau ada jam kuliah pagi, kau melewatkannya.
"Kebetulan sekali. Bye Minho!" ujar umma setelah mengecup pelan kening Minho.
Pintu kamarpun tertutup, dan keheninganpun mulai tercipta.
"Mamamamammmmm" ujar Minho tak sabar memecah keheningan yang sempat terjadi.
"Minho mau makan ya?" tanya Kibummie lembut. Disuapkannya makanan yang ada di kotak makan itu dengan sabar.
Akupun menatap Kibum takjub. Darimana dia bisa menyuapi seorang bayi dengan sangat telaten begini? Benar-benar istri idaman.
Minhopun menerimanya dengan sangat gembira, berlebihan memang. Anak itu makan dengan begitu lahap.
"Minho belum makan ya?" tanya Kibummie halus. Ah, suaranya itu begitu menyejukkan.
"Bahkan tadi pagi dia sudah sarapan" jawabku sedikit malas.
Ah, anak kecil ini benar-benar mengganggu saja. Apa dia juga menyukai Kibummie sama sepertiku? Sepertinya iya. Lihat saja, daritadi pandangan mata kecil bulatnya itu tak pernah lepas dari sosok cantik Kibummie. Choi Siwon tak akan kalah darimu, Choi Minho!
"Ah, begitu ya. Nafsu makannya benar-benar besar ya" ujar Kibummie.
"Ya, sampai-sampai dia jadi gemuk begini" ujarku mengejek Minho.
"Justru karena Minho gemuk, jadi menggemaskan" kata Kibummie.
Minhopun menyeringai kearahku sekilas. Hei, Kibummie itu milikku, bocah!
"Aaaa!" merasa diabaikan sejenak, Minhopun melebarkan mulut kecilnya.
Aigoo, kenapa denganmu Choi Minho?
Waktupun bergulir, dan kini kotak makan Minho telah bersih tak bersisa.
"Oh ya, Siwon-ssi. Sebenarnya kedatanganku kemari ingin mengantarkan tas dan ponselmu yang tertinggal" ujar Kibummie seraya menunjuk tasku yang tadi diletakkannya di sofa.
"Ah, aku melupakannya. Terimakasih, Kibum-ssi" ujarku.
Aih, aku bahkan melupakan tas dan ponselku. Ceroboh sekali Choi Siwon!
"Boleh kutahu darimana kau mengetahui aku ada disini?" tanyaku.
Minho kini tengah sibuk dengan mainan-mainannya, apalagi dengan segala jenis mainan kodok yang digemarinya. Jangan sampai calon menantuku nanti seekor kodok.
"Eum, sebenarnya tadi aku mendengarkan saat kau menelpon menyebut nama Minho, kemudian Kyuhyun menelfon seseorang dan memberitahuku tempat ini. Sebenarnya, aku juga sudah menyuruh Kyuhyun saja yang kemari, tapi dia memaksaku" terang Kibummie.
Aigoo! Kyuhyun lagi, dan lagi. Apa yang ada diotak anak itu sebenarnya?
"Begitu rupanya" tanggapku. Hening kembali menyelimuti kamar ini.
Apa yang harus kukatakan sekarang? Apa aku harus , ah aku bingung sekarang!
Kami sekarang tengah duduk dilantai yang diselimuti karpet tebal. Sedangkan Minho, bermain didepan kami.
"Berapa umur Minho?" tanya Kibummie.
"9 bulan lebih" jawabku.
"Diusianya yang masih kecil ini, perkembangannya pesat sekali" ujar Kibummie menanggapi.
"Ne, kau benar. Anak ini bahkan terlalu hyperaktif" ujarku membenarkan.
"Maksudnya? Bukankah di umur-umur seperti Minho ini memang masa-masa banyak bergerak?" tanya Kibummie bingung.
"Tapi, hyperaktifnya keterlaluan. Sampai-sampai sekarang ada perban membalut kepalanya" jawabku.
Memang anak ini terlalu hyperaktif. Atau mungkin itu hanya caranya saja agar mendapatkan perhatian?
"Memangnya apa yang membuat Minho diperban begini?" tanya Kibummie seraya menatap Minho simpati.
"Dia terjatuh dari kasur tadi pagi" jawabku singkat.
Apa aku juga harus menceritakan kronologis bagaimana Minho terjatuh? Kurasa jawabanku tadi sudah cukup.
"Aigoo, kasihan sekali" ujar Kibummie, kemudian memeluk lembut tubuh kecil itu.
AAAAHHH! AKU JUGA MAU DIPELUK! Anakku ini benar-benar membuatku iri saja.
Sesaat, Kibummiepun melepas pelukannya. Sontak, Minhopun merengek dan mengulurkan lengan kecilnya pada Kibummie. Bahkan dia melupakan kodok-kodoknya.
Choi Siwon, kau harus sabar! SABAR!
Kibummiepun kembali memeluk sayang anakku itu. Andaikan saja aku yang dipeluk!
Bahkan sekarang Minho sudah berada dipangkuan Kibummie. Benar-benar tak tahu malu!
"Sepertinya Minho menyukaimu" ujarku.
"Apa terlihat begitu?" tanyanya yang kujawab dengan anggukkan.
"Andai saja Minho sudah besar, akan kujadikan dia suamiku" ujar Kibummie frontal.
APA TADI?! SUAMI?! YANG BENAR SAJA! CHOI KIBUM AKAN MENJADI ISTRI SAH CHOI SIWON BUKAN CHOI MINHO!
"Untungnya dia masih bayi" lirihku pelan.
"Ne?" tanya Kibummie.
"Bukan apa-apa" jawabku dengan senyuman jokerku.
"Oh iya, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyaku agak sungkan.
"ah, lebih tepatnya permintaan. Bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel ssi?" tanyaku hati-hati.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya balik Kibummie.
Apa ya? Nama panggilan, nama panggilan... Wonnie? Ah itu terlalu manis, eum... Oppa? Benar, oppa saja. Diakan lebih muda dariku.
"Bagaimana kalau oppa?" ujarku memberi pendapat.
Kibummiepun terlihat tengah berfikir.
"Memangnya setua apa kau?" tanya Kibummie diluar dugaan.
Hampir saja aku mengeluarkan tawaku, namun kutahan yang akhirnya senyumlah yang keluar.
"Lebih tua darimu pastinya" jawabku santai.
Kibummie mengernyit heran. "Kau tahu umurku?" tebaknya.
"Tentu saja" jawabku lancar.
Kibummiepun semakin terlihat heran. "Ah, terserah. Kupikir oppa bukan panggilan yang buruk" ujarnya pada akhirnya.
Tapi, kalau dipikir-pikir panggilan 'chagi' atau 'yeobo' kurasa lebih romantis. Hahaha...
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?" tanyaku. Tak mungkinkan aku menyebutnya 'panggilan sayang'?
"Panggil saja seperti yang lainnya, Kibummie" jawab Kibummie santai.
Yah, padahal yang kuinginkan adalah panggilan spesial yang berbeda.
"Kau tak menyukainya?" tanya Kibummie setelah melihat raut wajah kecewa yang kutampakkan.
Buru-buru kuganti wajah kecewaku dengan tersenyum. "Tidak, aku menyukainya"
'Menyukaimu lebih tepatnya' lanjutku dalam hati.
"Dengan begini, kita seperti orang yang sudah lama mengenal" ujar Kibummie.
Aku memang sudah mengenalmu sejak lama Kibummie.
"Ne, kau benar" ujarku membenarkan.
"Bolehkah aku pamit sekarang?" tanya Kibummie.
Kenapa harus pamit sekarang Kibummie? Padahal aku berharap kau bisa lama disini.
"Tentu saja" jawabku dengan nada setenang mungkin.
"Minho-ya, immo pulang dulu ne?" ujar Kibummie pada Minho yang masih tenang dipangkuannya.
Setelah Kibummie menurunkan Minho dari pangkuannya, barulah Minho bereaksi. Bayi kecil itu kembali merangkak keatas pangkuan Kibummie. Ah, kau memang pintar Choi Minho! Daddy mendukungmu!
Kembali Minho berada dalam pangkuan Kibummie. "Minho-ya, immo mau pulang" ulang Kibummie dan kembali menurunkan Minho dari pangkuannya.
Sebelum anak itu kembali ke pangkuannya, Kibummiepun berdiri, menghasilkan pecahnya tangis Minho.
"HUEEEEEEE!" Minhopun menangis keras seraya memeluk kaki jenjang milik Kibummie.
Sebenarnya aku ingin membiarkan saja Minho seperti itu, tapi apa yang akan dipikirkan Kibummie nanti kalau aku diam saja?
Kugapai tubuh kecil itu kemudian memeluknya kedalam dekapanku. "Ssstttt... Immo mau pulang, Minho tidak boleh menangis" ujarku menenangkannya.
"HUEEE!" Bukannya mereda, tangisan Minho semakin kencang saja.
Good, Minho-ya! Kau memang anak daddy yang paling daddy sayangi!
Kulihat, tatapan Kibummie pada Minho kini. Ah, kurasa Minho melakukan pekerjaan yang bagus.
Kibummiepun mengambil alih bayi gemuk itu dari pelukanku, kemudian menimangnya pelan.
"Minho tak boleh menangis, nanti immo sedih loh" ujar Kibummie seraya menghapus pelan air mata Minho dengan jarinya.
Minhopun kini hanya terisak, tak seperti tadi. Bayi tembam itu mencengkram kuat pakaian yang dikenakan Kibummie.
Akupun kembali menatap takjub akan yeoja itu, benar-benar memiliki jiwa keibuan yang besar.
"Bisa oppa buatkan susu formula untuk Minho?" tanya Kibummie membangunkan lamunanku.
Ya Tuhan! Choi Minho!
Sekarang Minho tengah menepuk-nepuk dada Kibummie yang tertutup pakaiannya. BENAR-BENAR TAK TAHU MALU!
Entah sudah berapa kali aku mengatakan kalau Minho itu tak tahu malu untuk hari ini.
"Ne" ujarku patuh.
Kuambil susu bubuk yang tadi dibawakan baby sitter. Jujur saja, aku tak tahu bagaimana takaran untuk membuatnya. Biasanya baby sitter yang membuatnya.
Kibummie yang melihatku kebingunganpun mulai mengintruksikan takaran yang benar.
Hebat! Bagaimana dia bisa tahu hal-hal seperti ini?
"Ini" ujarku sembari memberikan sebotol susu formula untuk Minho.
Minhopun dengan semangat meminum susu formula itu. Ah, kalau seperti ini, kami seperti keluarga saja. Ayah, ibu, dan anak. Benar-benar sempurna bukan? Hahaha, memikirkannya saja membuatku tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian, Minhopun tertidur dalam pelukan Kibummie.
Minho-ya! Kenapa kau harus tidur sekarang!
Kibummie membaringkan Minho diatas kasur, kemudian menyelimutinya dan mengecup dahi Minho pelan.
"Aku pulang dulu, oppa" pamit Kibummie.
"Ne. Hati-hati di jalan!" ujarku.
Kibummiepun keluar dari ruang rawat Minho dan aku menatapnya sedih. Andai saja Minho tidak tidur dan terus merengek, Kibummie pasti masih disini.
.
TBC?/END?
FULL SIBUM! Mian kalo mengecewakan.
Ditunggu RnRnya!
