UPDATE SETIAP HARI SABTU/MINGGU

Fiksi ini mengandung OC, OOC, dan pairing sesuka author.


Season I: Somewhere the Wind Is Blowing

29/06/18 & 21.07

All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

This story does not make any profit.

"SLOW DANCE WITH YOU"

By Kohan44

Chapter 3: Kamu Jadi Aku


.

.

"Dia yang paling populer di sekolah," Saki menunjuk salah seorang anak berkacamata yang tengah mendapat pelajaran olahraga di lapang serbaguna. Naruto mengernyit, lalu menaikkan sebelah alis. Sudah hampir sebulan Naruto bersekolah, tapi tak pernah dengar kabar soal anak populer selain Fukushi Saki sendiri (dan Rock Lee).

Obrolan antara keduanya menjadi natural, tidak melulu tentang bagaimana pengalaman Naruto di SMA X, bagaimana Temari, dan bagaimana di SMA MM atau sebagainya. Kini mereka membicarakan siapa yang paling bodoh di antara siapa, siapa yang paling malas, siapa yang paling di-bully (dalam konteks bercanda), guru mana yang paling wajib dibercandai, trik mencotek, dan sebagainya. Perempuan? Tidak. Naruto belum pernah mendengar seseorang membahas tentang perempuan, selain tentang Temari di antara klub basket.

"Siapa namanya?"

Tak mendengar jawaban, kepala Naruto berputar menemukan Saki yang mengerut melawan silau matahari dan berusaha menonton isi lapang. Pelan-pelan Saki menjawab, "gak inget."

"Katanya populer." Naruto mendesis sebal.

"Orang-orang sering manggil karakternya, ketimbang namanya."

"Oh, memangnya dia terkenal karena apa? Kelihatannya biasa-biasa saja."

"Biasa-biasa." Saki mengulangi, diakhiri dengusan lucu sambil memain-mainkan botol minum.

"Aku melihat penampilannya. Meskipun berkacamata, dia gak terlalu kelihatan pintar, dan dia… letoy. Mana mungkin bisa menyaingi populernya anak-anak klub basket. Fisik kayak gitu, mana bisa gesit juga. Lee lebih cocok jadi anak populer."

"Oh, seleramu Lee?"

Naruto melirik Saki lalu berkata, "selera? Kita gak lagi ngomongin makanan, kan?"

"Anak SMA X emang… hahaha…" Saki tertawa renyah, entah bagian mana yang lucu, Naruto berusaha mencari tahu.

"Aku gak pernah ngerti Kakak." Naruto menggaruk-garuk belakang kepala.

"Apa gara-gara itu kamu gak pakai papan nomerku?"

"Ha?"

Naruto hampir melupakan kehadiran papan itu.

"Oh," Naruto terbata. "Buat apa, Kak? Aku gak jadi keren Cuma karena pakai papan nomer."

Sekarang Naruto sedikit tahu. Papan tersebut hanya dipakai anak tahun ketiga yang masuk ke dalam 100 peringkat nilai latihan ujian paling tinggi. Naruto sedikit malu karena sempat menyepelekan Saki, dan juga bangga kembali mengingat papan putih yang ada di lacinya itu bernomor seri 1 dari 100.

Saki tertawa lantang, terdengar amat renyah. "Papan itu punyaku, lho…"

"Nih," Naruto mencabut papan namanya sendiri, lalu dia simpan di telapak tangan Saki dengan paksa. "Kakak pakai papan namaku, apa Kakak bisa jadi aku?"

Saki menyeringai lebar menggenggam papan nama itu.

"Oke." Lalu berdiri menuju ruang ganti, tak sabar ingin cepat-cepat mengganti pakaian olahraga dengan seragam lalu menempel papan nama itu di dada.


.

.

Belum satu jam berlalu, Naruto dipanggil pihak OSIS. Entah urusan apa. Guru pun memberi izin meninggalkan ruang kelas. Naruto bertanya-tanya ada apa gerangan. Apakah karena dia melepas papan namanya? Ah, tidak. Anak lain pun banyak yang mencabutnya. Lagipula, yang wajib itu emblem sekolah. Apa karena Naruto melakukan kesalahan? Naruto berpikir keras sampai dia tiba di depan pintu ruang OSIS.

Naruto mengetuk pintu pelan-pelan, "Permi—"

"NARUTO!" Lee menyahut dari dalam, menarik Naruto buru-buru masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Lee seret Naruto ke dalam ruangan yang bersekat, lalu memojokkannya di sudut.

"Naruto," katanya makin menyudutkan. "Apa… ini… kamu dan… AHH!"

Lee membanting diri ke meja yang dipenuhi tumpukan berkas. Di sebelah kotak pensil ada papan nama dari besi mengkilau bertuliskan PRESIDEN OSIS.

"Apa?" Naruto bertanya panik setengah takut.

"Aku gak tahu gimana ngomongnya!" Lee menggeram.

"APA?!"

"INI!"

Lee mencengkram kerah seragam Naruto dan menunjuk sisi bagian yang seharusnya papan nama Naruto berada di sana.

"Apa gak pake papan nama itu dosa besar?"

"Nggak, kampret! Tapi masalahnya, kenapa papan nama yang harusnya di sini, malah ada di dada orang lain?!"

"Di dada orang lain gimana maksu—HAH?!" Naruto tercekat, baru ingat pagi tadi dia memberikan papan namanya kepada Saki, dan benar-benar tak mengira Saki bakal mengenakannya. "BOHONG!"

"NGGAK, G*b**K! AAAAKKKHH!"

Sementara Lee menjerit-jerit histeris sambil meremas rambut dan berguling ke sana-kemari, Naruto mempermasalahkan hal yang berbeda. Entahlah apa yang ada di kepala Lee, tapi kini Naruto mengubah pikirannya tentang Saki yang keren dan kalem sebenarnya Cuma anak sedikit pendiam sehingga disalahartikan sebagai cool, dan dia berotak lawak. Buat apa berjalan-jalan di sekolah mengenakan papan nama orang lain? Terlihat konyol. Bagai memberitahu orang-orang bahwa baju yang dikenakannya itu dipinjam dari orang lain, dan kelupaan mencabut papan namanya.

"Narutoooo…. Kenapa kamu gak pernah cerita apa-apa?" Lee merengek, bergelung di kaki Naruto. "Kita ini temen, kan?"

"Apa yang perlu diceritain?"

"Bener-bener kampret…. Aku bener-bener kaget… kita ini teman, kan?"

"Apa sih, Lee?!"

"OY!" dalam gerakan cepat, Lee berdiri menampar Naruto.

"Hey!" Naruto balik menyembur.

"Gak sopan tahu ngebentak-bentak Presiden OSIS. Kedua, kita ini teman. Ya aku tahu sih kamu pernah suka sama Sasuke, meskipun bukan dari kamu langsung, tapi kali ini aku benar-benar merasa gak dianggap set—"

"Woy! Woy! Ngomong apa barusan?"

"Makanya, jangan dipotong! Harus kukatakan, demi persahabatan kita, aku benar-benar sakit hati kamu gak ngasih ta—"

"Bukan! Soal kalimat pertama! Yang ada…. Yang… ada…"

Lee menarik napas. "Kamu tahu kenapa Kiba dan Shikamaru yang awalnya sohiban sekarang berantem?"

Naruto tak yakin, apakah harus menjawab jujur atau tak menjawabnya dengan berpura-pura tak tahu. Jadi, Naruto berakhir diam dengan sorot mata penuh keraguan.

"Yah… yaudah. Kami juga tahu apa yang sebenernya terjadi. Bahkan Gaara sebenernya mau bantuin, tapi kamu kayaknya gak mau Sasuke tahu, jadi… yaa… ya udah."

Naruto diam termenung.

"Santai aja. Aku paham soal hal begitu. Di sini pun, sebenarnya ada banyak. Malah kalau harus kukatakan, yang paling banyak. Hahaha…"

"Terus apa urusannya sama papan nama?"

"Nah! Hampir aja lupa! Denger, pertama Kak Saki ngasih kamu papan nomer. Sekarang, kamu yang ngasih papan nama! ASDFGHJKL! #$%^&*()!"

"Apa sih, Lee?"

"Naruto, meskipun kamu anak baru, apa kamu gak ngerasa aneh ada orang yang ngasih papan identitas dirinya buat dipake orang lain? Itu kayak ngasih separuh tentang dirinya! Ngerti gk, sih?"

Naruto tercekat.

"Maksud kamu…"

"Satu sekolah, Naruto! SATU SEKOLAH TAHU! Dan ini Kak Saki, lho! Siapa yang nggak tahu Fukushi Saki?! Dia pakai sepatu baru aja semua orang langsung tahu! Apalagi kalau dia punya pacar!"

"PA... PA! P-P-PA-CAR?!"

"BANG**T! MASIH GAK NGERTI?!"

"Nggk woy! Mana bisa pacaran! Gua gak kayak gitu!"

"Terus jelasin antara lo dan Sasuke maksudnya gimana?!"

"Ya gak gimana-gimana!"

"Jangan bohong, ya! aku masih denger kabar, kamu masuk SMA X demi Sasuke, kan? Kalian berantem gara-gara Sasuke punya pacar cewek, kan? Dan kamu pindah pun karena Sasuke, kan? Dan jangan kamu kira aku gak tahu, kamu dan Sasuke sering jalan bareng pas SMP!"

"Tapi… gak gitu… aku… iya, aku emang suka dia, tapi… dia itu selurus rel kereta api."

"Oh, aku gak pernah paham sih sama isi kepalanya Sasuke. Tapi, aku yakin bener Kak Saki ini baik buat kamu."

"Karena kamu kagum sama dia, kan?"

"Bukan! Tapi dia suka sama kamu sejak SMP."

"Lucu, Lee… lucu. Ha-ha-ha."

"Serius! Waktu kamu belum masuk sini, sering banget dia nanyain tentang kamu. Awalnya sih, aku kira dia Cuma penasaran tentang teman-temanku. Yaa… sedikit GR juga sih, aku kira Kak Saki suka aku hahaha… sayangnya, aku selurus rel."

"Eh? Kok dia tahu aku pas SMP?"

"Kan kita bertiga emang satu SMP!"

"HAH?"

"Sekarang, aku pengen tahu, hubungan kayak apa sebenernya antara kamu dan Kak Saki? Dan apa urusan kamu sama Sasuke udah beres?"

"Nggak, Lee! Aku gak pernah punya hubungan apa-apa dengan siapapun. Aku gak tahu, kalau papan nama… papan nomor… itu… akh!"

"Aku Cuma bisa ngasih saran, kalau emang gak ada apa-apa, sebaiknya kamu kembalikan papan nomer Kak Saki, dan kamu ambil papan nama kamu sebelum semuanya terlambat. Karena… kalau urusannya dengan OSIS atau yang pernah berkaitan dengan OSIS, Nona Tsunade biasanya ikut campur."

Naruto termenung mendengar nama Bu Kepala Sekolah disebut. Tanpa jeda lama, Naruto langsung menjawab yakin, "Iya, makasih Lee."

.

.

.