Disappointed in You

By: Dark Aquarelle

Warning : OCC, AU, Typo(s)

Enjoy:)

Previous

Kami berjalan terus menelusuri gang tersebut yang semakin dalam semakin gelap membuatku bergidik ngeri. Aku pun semakin menyamakan langkah kakiku dengan Yaya. Meskipun perkataan Yaya tadi sedikit menenangkanku, tetapi tetap saja sekelebat bayangan kejadian di begal atau dibunuh tetap menghantui pikiranku. Hingga akhirnya ku putuskan untuk mempercepat langkahku mendahului Yaya.

"Ying, jangan cepat-cepat lahh.. nanti kau jatuh bagaimana?" Aku tidak menghiraukan Yaya dan terus mempercepat langkahku hingga jalan itu buntu dan yang tersisa hanyalah sebuah belokan ke arah kanan. Tanpa pikir panjang, aku melangkahkan kaki ku ke belokan tersebut dan menjumpai sebuah pintu gerbang tua yang berumur ratusan taun, besinya berwarna kecoklatan dan karatan akibat pengaruh suhu dan kelembapan.

Aku mendekati pintu gerbang tersebut yang aku asumsikan sebagai gerbang belakang sekolah, membuka nya sedikit hingga menimbulkan suara berderit seram dan aku dibuat terkejut dengan apa yang aku lihat.

Hamparan kuburan yang tak terawat dan tak terurus terpampang jelas di hadapanku. Mataku membelalak melihat ini semua dan sebelum sempat aku berteriak, mulutku tiba-tiba saja dibekap oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah samping.

"Mmmphhh… " jeritku berusaha meronta ketika diseret ke arah sebuah tempat tersembunyi.

"Sshhh…" Cowok yang menyeretku ini mengisyaratkan dengan jari telunjuknya agar aku diam dan tidak banyak protes. Aku tidak mengindahkannya, dan tetap berusaha meronta sebisaku. Tenaga ku yang tidak mampu menandinginya ini, membuatku mengambil alternatif lain agar bisa lolos darinya. Dengan sangat keras kugigit tangannya yang masih membekap mulutku hingga berdarah.

"AWww.. " Jerit cowok itu kesakitan, lalu mengibas-ngibaskan tanggannya yang terluka. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan berniat untuk kabur tetapi lagi-lagi tanganku dicekal olehnya.

" WOoii.. ini aku, teman sekelas kamu, Boboiboy." Aku cowok itu dengan sesekali meringis kesakitan. Aku pun terkejut mendengar pengakuannya. Sejak tadi aku memang tidak terlalu memerhatikan siapa yang sedang membekapku, selain di sini gelap,pikiranku juga sedang kacau saat ini. Yang kuinginkan hanya lolos dari tempat mengerikan ini.

"Jadi kamu yang nyeret sama mbekap mulutku? Hebat sekali! Kupikir kau begal tadi..akting yang sangat bagus!" Ejek Ying lalu melenggang pergi. Boboiboy pun membuntutinya dari belakang.

"Hei.. heii.. kau ini kenapa? Tiba-tiba saja kau tidak jelas dan mengejekku seperti itu. Aku tidak sedang berlatih akting atau apapunn ta—"

"O ya, kalau begitu buat apa kau datang ke sini pagi-pagi buta, kau pasti ingin menjahiliku bukan. Aku tahu… aku tahu, sejak kejadianku dengan Kak Fang yang menyebar ke seantero sekolah aku jadi sering dijahili dan dibully. Dan apakah kau sekarang sedang mencoba menjahiliku dengan tindakanmu barusan hah?! Kau sedang berusaha membuatku ketakutan hah?! Begitu caram—.."

"YING! Kau dimana?!" teriakkan Yaya menghentikan percakapanku sekaligus menyadarkanku kembali.

"DISI—.. mmmphh.." Lagi-lagi tangan Boboiboy yang besar membekapku dan menyeretku lebih jauh lagi ke sebuah loteng yang tak jauh dan memaksaku menaiki satu per satu anak tangganya.

"YING! Kau dimana?!" Yaya yang kebingungan terus berjalan dan mencariku hingga suaranya tidak terdengar lagi.

"MMMPHH!" Setelah aku tiba di puncak tangga, dengan satu gerakan, tanganku berhasil menyentak tangannya hingga terlepas dari wajahku. "Mau kamu apa sih?! Hah?!" Tanganku terkepal di sisi tubuhku dan tidak sabar untuk menghajarnya. Kali ini tak akan kubiarkan di menang dari ku.

"Sudah ngomelnya, berisik tahu!" dia berjalan melewatiku dan menghampiri sebuah bangku panjang di dekat balkon. Lalu dengan santainya dia merebahkan diri dengan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.

Aku sangat bingung dengan sikapnya dan bertanya-tanya dalam benakku apakah cowok ini waras.

"Duduk dulu, santai-santai aja di sini, nggak usah tegang begitu." Ucapnya masih dengan posisi sama, dan kedua matanya terpejam. Entah karena hipnotis macam apa yang dikerahkannya kepadaku, aku berakhir mengikuti segala instruksinya dengan patuh layaknya seorang hamba kepada tuannya. Aku duduk di samping nya, dan memainkan kakiku sambil menikmati pemadangan yang disuguhkan pagi hari. Emosi ku yang tadinya meluap-luap sekarang mulai menyusut seiring dengan munculnya matahari di ufuk timur.

Setelah beberapa menit, kami sama-sama bergeming menikmati suasana di pagi hari. Sinarnya yang mulai tampak menyapu helai-helai rambutku dengan warna keemasan, membelaiku wajahku dengan lembut, membawa kedamaian tersendiri di dalam hatiku.

Boboiboy mulai merenggangkan badannya, matanya mengerjap-ngerjap akibat sulur-sulur cahaya yang menyilaukan. "HOAMMM.." Ia menoleh padaku. "Sudah berapa lama aku tertidur di sini?" Tanyanya dengan suara serak.

"Tidak lama .. sekitar 20 menit" jawabku sambil tetap melihat ke arah jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tanganku.

"Cukup lama rupanya.." Boboiboy mengambil sikap duduk di sebelahku dan mengulurkan sebuah benda kecil dari sakunya. Benda tersebut berwarna kuning yang kukenali sebagai jepit rambutku.

"Ini punyamu.. ketinggalan dan aku menemukannya saat sedang piket." Ucapnya asal lalu menambahkan.. "Dan itu yang menjadi alasanku membekapmu tadi."

"Jangan tanyakan padaku mengapa aku perlu membekapmu kalau hanya ingin mengembalikan jepit itu. Bercerminlah dahulu sebelum menanyakan hal tersebut." Ucap Boboiboy kembali seolah tahu apa yang aku pikirkan lalu dengan gerakkan cepat menuruni loteng tersebut dan meninggalkan aku sendiri.

Cih!Dasar aneh! Umpatku dalam hati.

-oOo-

"YING! Kemana saja kau? Aku mencari mu sejak tadi, kau tidak apa apa kan? Apakah kau tersesat? Saat aku mendengar teriakkanmu tadi, aku panik dan langsung mencarimu ke seluruh gedung." Beber Yaya panjang lebar.

"Aku tidak apa-apa. Sudah jangan khawatirkan aku" Aku berjalan mendahului Yaya yang masih tampak bingung dengan kelakuanku.

"Apakah ada yang menjahilimu? Atau membullymu lagi? Mana orangnya biar kuhajar sini!" Tangan Yaya mulai dikepalkan seiring dengan matanya yang mulai berkilat-kilat, siap memangsa siapa pun yang mendekat.

"Sudahlah Yaya, kalau kau mengatakan itu sekarang, kurasa sudah terlambat. Tidak akan ada gunanya lagi." Jawabku dengan nada mendesah lalu melangkahkan kaki ke kelas. Dari ambang pintu, bisa kulihat Boboiboy sedang membaca sebuah buku dalam keadaan tenang, sadar ada yang memerhatikannya, Ia mendongakkan kepalanya dan tatapan kami bertemu.

Matanya yang hitam legam itu memancarkan aura misterius yang tak biasa. Dia seolah-olah sedang menyimpan sebuah rahasia besar nan kelam. Di sisi lain, entah kenapa tatapannya punya efek hipnotis yang bisa menenangkan siapa pun itu yang menatapnya.

Selama beberapa detik, aku hanyut dalam duniaku sendiri, terbawa oleh arus, sebelum suara Yaya yang cempreng memulihkan kesadaranku. Aku mengerjapkan mataku sebentar lalu melangkahkan kaki ke tempat duduku.

"Ying, jadi kau mengatakan bahwa ada yang membullymu tadi saat kau berteriak?" Tanya Yaya yang diikuti gerakannya duduk di sampingku.

"Tidak.. aku tidak mengatakan bahwa ada yang membullyku. Aku hanya kaget tadi karena melihat banyaknya kuburan di sana. Kau seharusnya memberitahuku terlebih dahulu bahwa sebelum mencapai gedung sekolah aku harus melewati kuburan." Jawabku dengan kesal dan memelotot ke arah Yaya.

Yaya hanya meringis meminta maaf lalu mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapanku yang mematikan.

Gopal yang sedari tadi memperhatikan kami hanya bisa bengong dengan tatapannya yang tidak mengerti dengan percakapan kami. Sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dan berpura-pura memperhatikan Mama Zola.

Aku menatap ke depan, memperhatikan Mama Zola, sebelum perhatianku sepenuhnya teralih pada sebuah kertas yang diselipkan ke dalam laci mejaku. Aku membuka kertas itu dan membacanya perlahan.

Kecewa boleh, tetapi jangan berlarut-larut hingga kau tidak bisa melihat yang lain.

Halo guyss! v

Come back with me again! (Yuhuu!) *abaikan tingkah laku saya yang gaje ini* (ehehe)

Thank You semuanya yang udah mau luangin waktu kalian untuk membaca part ke-4 dari fic gaje ini. Maaf ya mungkin masih banyak typo(s) atau kesalahan kata. (maklumin aja, author masih belajar) *author juga manusia wkwkw*. Kalau kalian ada saran atau masukkan bisa tinggalin aja di kolom review jika berkenan. Apapun review atau kritik dari kalian sangat membantu untuk kelanjutan fic ini.

kalian bisa panggil aku Dark/Aqua, terserah kalian aja. Sesuka dan senyamanya*

Dark disini mau beri tahu readers sesuatu *hihihi*. Untuk kedepannya Dark berencana untuk mengusahakan update fic ini setiap hari Sabtu/ Minggu mengingat tugas yang mulai berkurang saat ini. So, pantengin fic ini terus ya guyss!

Salam .. *author*