Disclaimer : Vocaloid - Yamaha & Crypton

Naglfar

Chapter 4 – The Beginning

.

.

Yuuma tidak mengira bahwa ia akan dibawa ke tempat seperti hutan tropis sebelum menantang Lost Island. Ia dan seluruh pasukan ekspedisi yang berjumlah sekitar empat puluh orang dipaksa melakukan pelatihan yang amat berat. Tujuannya sudah pasti, ia dan seluruh rekannya harus bisa terbiasa dengan keadaan sekitar Lost Island. Mereka diberikan pelajaran tentang ilmu bertahan hidup di alam liar serta ilmu botani dari ahlinya. Mereka dipaksa berlatih secara satu kelompok, Kaito benar benar mengecam keras jika mereka semua bergerak secara individu dan berbuat seenaknya. Tak peduli mereka berasal dari daerah mana.

Kharisma Kaito benar benar berperan besar di sini. Hal itu terbukti dari sebagian besar pasukan yang mematuhi perintahnya walaupun belum mengenalnya dengan baik, meskipun beberapa dari mereka tidak. Termasuk Len Kagamine. Yuuma termenung sesaat, untuk apa orang orang keras kepala seperti Len Kagamine diikut sertakan dalam ekspedisi? Mungkinkah mereka hanya digunakan sebagai tubuh ekstra untuk dikorbankan Kaito? Ia benar benar tidak bisa menebak isi kepala temannya itu.

Yuuma kembali mengedarkan pandangannya yang kosong. Ia benar benar tidak peduli dengan seluruh rekan rekannya. Mau teknik dan kemampuan mengesankan apapun yang diperlihatkan rekan rekannya selama latihan, ia benar benar tidak peduli. Yuuma melihat semua rekannya bagai orang mati. Ekspedisi mematikan seperti ini pastilah mendatangkan korban jiwa. Maka dari itu, ia tidak ingin merasakan sakit hati bila kehilangan.

Sebulan kemudian, Yuuma dan seluruh rekannya dibawa menuju pelabuhan rahasia kerajaan Shion di mana sebuah bahtera sedang menunggu mereka di sana. Seluruh barang bawaan pasukan di cek satu persatu oleh para prajurit Kerajaan Shion sebelum diizinkan oleh prajurit prajurit itu untuk dibawa ke atas bahtera. Pendengaran Yuuma menangkap sekelompok pembicaraan yang mengatakan tempat tujuan mereka. Sebagian besar pasukan memang tidak tahu, dan yang tahu lebih memilih diam. Termasuk Yuuma. Untuk kerahasiaan, mereka yang bukan kesatria dan prajurit Kerajaan Shion serta orang orang yang dipercaya seperti dirinya tidak diberitahu mereka akan pergi ke mana. Mereka yang tidak termasuk dalam kategori sebelumnya hanya diberitahu bahwa mereka akan menempuh misi yang amat berbahaya.

Ada yang menyebutkan Eevenia. Ada pula yang menyebutkan mereka akan dibawa ke Dataran Edenia. Dan yang lebih lucu lagi, ada dari mereka yang membisikkan akan melakukan ekspedisi ke neraka mengingat latihan keras yang telah mereka alami. Memang sesi pelatihan dibuat sekeras mungkin agar para pasukan mendapat gambaran kasar mengenai tempat tujuan mereka, tetapi melakukan ekspedisi ke neraka nampaknya sangat berlebihan. Kesempatan mundur selalu diberikan, tetapi tidak pernah ada yang menerimanya. Mereka terlalu terpikat dengan imbalan yang luar biasa mengaggumkan yang ditawarkan Keluarga Shion jika misi ini berhasil. Tetapi beberapa dari mereka lebih mengharapkan tantangan yang akan disajikan.

Para pasukan ekspedisi terpaksa menunggu sampai tengah malam tiba di pelabuhan. Hal ini dilakukan agar tidak ada pihak luar yang melihat sehingga menimbulkan kecurigaan. Sebagian besar dari mereka nampak bernafas lega karena mereka bisa mengistirahatkan tubuh dan mental mereka. Sedangkan sisanya mengeluh tidak sabaran. Kesempatan untuk mundur telah ditawarkan untuk yang terakhir kalinya. Tetapi tetap saja tidak ada yang mengindahkannya.

Selama jam jam kosong ini Yuuma memilih untuk menjauhkan dirinya dari yang lain. Ia berdiri agak jauh dari yang lainnya sementara memperhatikan mereka. Beberapa dari mereka sudah akrab satu sama lain, dan beberapa dari mereka lebih memilih bercengkrama dengan orang orang sesama wilayah mereka sendiri. Sekilas pandangannya menangkap sosok Kaito, pangeran muda itu nampak tengah mendiskusikan sesuatu dengan seseorang yang tampak tak asing lagi baginya. Dialah salah satu ahli strategi Kerajaan Shion: Gumiya. Umurnya benar benar masih muda, tetapi pola pikirnya yang luar biasa mengaggumkan pantas membuatnya disandingkan dengan para petinggi yang lain. Selain itu, Gumiya juga menguasi beberapa teknik berpedang. Sesuatu yang jarang bagi para pemikir seperti ahli strategi yang selalu mengandalkan otaknya, mungkin karena hal itu Kaito sengaja memilihnya dari pada yang lain karena Gumiya tidak akan merepotkan pasukan ekspedisi yang lainnya. Orang itu, Gumiya… benar benar dibutuhkan dalam ekspedisi ini. Yuuma merasa… ia cukup mengagumi orang itu.

(-)

Len merasa sedikit menyayangkan petualangannya yang sedikit tertunda. Sambil menunggu, ia berdiri di area yang cukup tidak terlihat dengan yang lainnya. Ia benar benar tidak merasa nyaman diusik dengan yang lainnya, sehingga ia lebih memilih menyendiri. Sejenak benaknya memainkan segenap imajinasi akan misinya kali ini. Sesungguhnya ia cukup penasaran akan tempat yang akan ditujunya, apa yang akan ia temui di sana benar benar membuat benaknya sering kali bertanya tanya. Ia hanya merasa penasaran… tentang apa saja yang mendiami Lost Island, dan apa yang diincar oleh keluarga Shion, sementara ia tidak peduli dengan yang lainnya. Ia bahkan tidak peduli akan nyawanya yang bisa saja terenggut dalam misi ini. Jika ia memang harus mati maka biarlah ia mati. Toh ia sudah menganggap misi kali ini adalah petualangan terakhirnya.

Sekali lagi Len melihat kesiapan dirinya. Ia mengenakan perlengkapan sederhana dengan baju sederhana, dan mantel perjalanan. Sebagai perlindungan tambahan, ia mengenakan pelindung lengan dan lutut dari besi. Senjatanya hanya berupa pedang besi biasa yang disandarkan di sebelahnya. Setelah merasa cukup yakin, ia mulai mencoba untuk kembali menenangkan dirinya, sebelum 'Si Tuan Muda' datang mengusiknya. Derap langkahnya terdengar mantap bersamaan dengan zirah ringan yang dikenakannya.

"Ini untukmu. Buang saja pedang jelek di sampingmu itu." Kaito memberi sesuatu berupa benda panjang yang dibungkus dengan kain. Sebuah pedang, Len menebak.

Len membuka lilitan kain yang membungkusnya. Dikeluarkannya bilah pedang dari sarungnya seraya ia melihat dengan cermat pedang itu sambil menimba nimbanya. Pedang ini tidak terlalu berat, namun bisa dipastikan sangat kokoh. Hanya dengan melihatnya, Len bisa tahu bahwa kekuatan dan daya tahan pedang ini di atas rata rata.

"Kau memberiku hadiah yang menarik. Apa ini sebuah sogokkan?"

"Pedang dari metal Varanium, metal terbaik sejauh yang kuketahui. Kau membutuhkannya untuk bertahan hidup."

"Aku yang butuh pedang ini… atau kau yang sangat butuh kemampuanku? Ah lagi pula aku tidak peduli. Lihat pedang ini, benar benar mengagumkan. Membuatku lebih mudah dalam menghabisimu." Ancam Len.

Kaito menatapnya dengan tajam sebelum berlalu menjauhinya. Len memasang tali dari sarung pedang melintasi bahu dan pinggangnya sehingga pedang itu bertengger di punggungnya. Sekali lagi telinga Len menangkap kehadiran seseorang. Ia mengeluh sesaat kepada siapapun yang telah mengusiknya lagi. Dilihatnya dua orang wanita tengah berjalan menghampirinya. Yang di depan adalah seorang wanita berambut pendek berwarna coklat dengan pakaian yang cukup nyentrik dengan zirah berwarna merah dan tengah memegang pedang. Sedangkan di belakangnya wanita berambut pendek pirang dengan tabung panah di punggung dan sedang memegang busur tengah menatapnya malu malu dari balik tubuh si wanita berambut coklat.

"Halo!" Sapa wanita berambut coklat seraya melambaikan tangan. Len bersikap acuh tak acuh berharap mereka menyerah untuk mencoba berinteraksi dengannya. Namun usahanya gagal.

"Perkenalkan! Namaku Meiko. Dan yang ini Rin." Ucap wanita berambut coklat itu lagi dengan ceria, "Senang bertemu denganmu. Tuan Len Kagamine dari organisasi pembunuh bayaran, Malaikat Pembalas."

Len sedikit terlonjak mendengar ucapannya. Ia memang terdaftar sebagai Len Kagamine dalam misi ini. Tetapi identitas sebenarnya sangatlah rahasia, bagaimana bisa orang ini mengetahui dirinya. Mungkinkah Kaito? Tidak, ia tidak yakin dengan itu. Untuk apa Kaito melakukan hal yang bisa memecahkan kelompoknya. Entah dari mana wanita itu mendapatkan informasi darinya, Len mulai menaruh sedikit perhatian kepadanya.

"Kau nampaknya sedikit terkejut. Tenang, tenang… tidak ada yang membocorkan indentitasmu. Kami memang mengetahuinya." Ucap Meiko dengan nada santai.

"Meiko… kurasa kita mengganggunya. Mungkin lebih baik kita pergi… aku merasa… tidak enak." Kini Rin berucap dengan malu malu. Nadanya sangat pelan bahkan seperti sedang berbisik. Len sangat mengiyakan perkataan Rin. Orang orang ini memang mengganggunya! Tetapi wanita berambut coklat— Meiko, tetap saja tak mau menyerah.

"Oh ayolah Rin! Dia ini Len! Kau sendiri cukup penasaran dengannya kan. Akui saja kalo kau cukup tertarik dengannya!" Meiko menepuk bahu Rin dengan cukup keras sambil tertawa.

"Siapa kalian?" Ucap Len dingin.

"Wow, wow… kau nampak sangat muram sobat! Apa sesuatu terjadi padamu?"

"Aku benar benar akan marah jika kau terus mengangguku. Jawab pertanyaanku."

"Ehem…" Meiko berdehem pelan, "Kami juga anggota dari organisasi pembunuh bayaran kok."

"Malaikat Pembalas?"

"Bukan... Jejak Merah. Pernah dengar?"

"Sepertinya pernah." Len sedikit familiar dengan nama tersebut, "Lantas… apa yang kalian inginkan?"

"Kau tahu… aku benar benar kaget ketika melihatmu berada di sini. Bagaimana tidak?! Kau itu Len! Reputasimu benar benar mengagumkan, dan sangat terkenal di antara organisasi bayangan. Tetapi satu yang membuatku heran… kau sempat menghilang. Dan setelah itu kau muncul dengan mencoba membunuh petinggi utama Shion secara terang terangan, seorang diri pula! Apa yang terjadi?"

"Kau hanya ingin bertanya tentang hal itu?"

"Sepertinya begitu…" Jawab Meiko enteng.

"Pergilah. Aku tidak akan membahasnya dengan kalian."

"Hei! Tidak usah bersikap dingin seperti itu, aku sudah bersikap ramah!" Meiko terkikik, "Kalau begitu ya sudahlah… maaf Rin. Dia tidak ingin membicarakannya."

"Tidak apa Meiko… kurasa kita sudah cukup mengganggunya…. Sebaiknya kita—"

Tak lama kemudian, Akaito Shion datang dengan didampingi beberapa kesatria andalannya. Semua mata kini tertuju kepadanya. Para prajurit dan kesatria dari Kerajaan Shion langsung membungkuk memberi hormat pada kepala keluarga. Akaito berjalan menuju tempat yang lebih tinggi, seperti panggung, yang nampaknya sudah disiapkan sebelumnya. Tanpa diperintah, Kaito dan kedua saudaranya— Taito, dan Nigaito segera menghampiri Akaito dan berdiri di samping ayahnya.

Darah Len mendesir hebat. Ia benar benar dikuasai amarah tatkala melihat petinggi utama Shion. Ia mencabut pedangnya secara tak sadar dan mulai akan membunuh orang tersebut. Ia benar benar dikuasai insting sekarang. Len sudah akan menerjang Akaito jika Meiko tidak segera menghentikannya.

"Sabar sobat! Kau kehilangan dirimu! Kau bisa mengacaukan segalanya tahu! Kami membutuhkan misi ini sobat! Kau baru bisa melakukan apapun yang kau inginkan setelah misi ini berakhir!" Secara perlahan Len dapat kembali mengendalikan dirinya. Ia sebisa mungkin menahan emosi yang meluap luap… meskipun ia sendiri tidak rela melakukannya.

Akaito memperhatikan sekeliling, mengamati dengan seksama para pasukan ekspedisinya. Kemudian ia berbicara, "Wahai para pasukanku yang telah bersumpah dan mengikat takdir dengan keluarga kami! Sebentar lagi, kalian akan memulai misi yang dapat mengubah sejarah dan peradaban di dunia ini. Sebuah era baru bagi kita semua!

"Kalian pasti bertanya tanya di mana kalian semua akan memenuhi tugas kalian yang penuh bahaya itu. Kami dengan terpaksa harus menyembunyikannya kepada kalian. Misi ini sangatlah rahasia. Kebocoran informasi sangatlah berpotensi menyebabkan kerugian bagi kami. Aku juga tidak ingin melakukan pembunuhan untuk mengendalikan keadaan yang merugikan itu.

"Para pasukanku yang terhormat… maaf sekali, kesempatan bagi kalian untuk mundur sudah tidak ada lagi. Karenanya, dengan tegas kukatakan kemana kalian akan dikirim... pulau yang terlupakan. Lost Island!"

Tak sedikit yang terperangah mendengar hal tersebut. Termasuk Meiko dan Rin. Meiko tertawa pelan sambil mendesis kepada Rin. "Benar benar mengejutkan. Semuanya diluar dugaanku."

"Sebuah prasasti yang telah ditemukan di bawah tanah wilayah kerajaan kami, membawa kami ke tempat Naglfar berada. Ya… Naglfar, Sebuah senjata maha dahsyat yang bisa memberi kekuatan apapun!

"Dan bagi kalian yang berhasil melewatinya. Akan menguasai dunia bersama kami, di bawah panji panji keluarga Shion! Katakan yang kau inginkan? Maka dengan mudah kami memberikannya kepadamu! Jadilah bagian keluarga kami, wahai para pasukanku yang berhasil! Nah, nah… sekarang, apakah ada pertanyaan?" Akaito menunggu dengan sabar, akan tetapi seluruh mulut bungkam. Merasa tidak ada yang bertanya, maka ia melanjutkan lagi.

"Yang harus diingat! Orang orang yang menerima kekuatan Naglfar adalah salah satu dari mereka. Seperti kedua putraku." Akaito menunjuk Kaito dan Nigaito, "serta keponakanku." Kemudian Akaito menunjuk Taito yang berdiri di sebelah Kaito dan Nigaito. "Kalau mereka semua tewas… Kami akan menghancurkan segala yang kalian miliki, kerabat, kekasih, atau… keluarga, ingatlah… Semua. Yang. Kalian. Miliki." Akaito menekankan setiap ancamannya. " Jadi… tolaklah jauh jauh keinginan memberontak kalian."

Sebagian peserta ekspedisi nampak terhenyak. Mereka tidak menduga adanya ultimatum seperti ini. Tapi tidak akan pernah ada kesempatan untuk protes. Mereka harus fokus. Keberhasilan misi inilah yang utama.

"Hei… apa kau pikir kita dapat melakukannya?" Tanya Meiko kepada Len.

"Entahlah…"

"Bagaimana menurutmu, Rin?"

"Aku akan berusaha… tetapi… jika aku harus mati… aku tidak mau mati begitu saja…"

"Dan sekarang lah waktunya tela tiba… tuan tuan dan nona nona…" Akaito merentangkan kedua tangannya, kemudian berteriak dengan penuh semangat. "… MISI EKSPEDISI KE LOST ISLAND, TELAH DIMULAI!"

TO BE CONTINUED

.

.

Pojok Author :

Bener bener agak mirip sama novel Hailstorm.

Fokus cerita bakalan ke Yuuma atau gak ke Len. Dan sedikit ke Kaito. Jadi cerita ini punya tiga tokoh utama.

Saya sedikit cantumin tempat seperti Eevenia, dan Edenia. Kedua tempat itu gak akan ngaruh di sini, itu diambli dari fic saya yang lainnya. Dan fic saya yang lain ga ada hubungannya dengan fic ini

.

.

Saya akan berterima kasih atas masukan dan review yang telah diberikan.

Sampai bertemu di chapter depan!