I swear to protect you from any harm.


Such A Story

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Such A Story © Aoko Himawari

Enjoy!


Pemuda berambut biru langit itu terletak tidak sadarkan diri di sebuah kasur untuk satu orang. Wajahnya pucat, keringat mengucur deras seolah tak ada habisnya. Bibirnya menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Orang lain yang ada di ruangan bertembok putih polos itu duduk dengan tangan disilangkan di depan dadanya. Alis orang tersebut terangkat sebelah melihat pemuda bersurai biru itu terlihat sangat menderita.

Orang tersebut menekan headset yang sudah tertempel di telinganya dan mengarahkan sebuah mic kecil ke depan bibirnya. "Oi, Akashi."

Tak perlu waktu lama menunggu, pintu besi di ruangan itu terbuka. Seorang pemuda dengan surai merah masuk, berjalan perlahan dengan elegan. "Ada apa memanggilku, Daiki?"

"Kau tidak lihat hah? Tuh pacarmu," orang bernama Daiki yang tadi memanggil Akashi menunjuk ke arah pemuda bersurai biru muda itu. Akashi dengan santainya menaikkan kedua alisnya lalu berjalan ke samping kasur yang ditiduri pemuda berwajah pucat itu.

"Daiki, kau keluar," sebuah perintah yang diterima dengan baik oleh seorang Aomine Daiki yang sebenarnya malas kalau hanya disuruh duduk diam saja menjaga orang yang bahkan tidak sadar. Itupun karena dipaksa, oh bukan, diancam lebih tepat. Dengan senang hati, Aomine berjalan keluar dari ruangan membosankan itu.

Begitu pintu itu berdebam tertutup, Akashi mengeluarkan saputangannya dan mengambil es dari kulkas yang ada di sana. Membungkus es dengan saputangan sampai saputangannya terasa sedikit basah dan dingin, ia meletakkan saputangan itu di dahi pemuda yang dalam keadaan tak sadar itu.

Tangannya bergerak pelan mengelus surai biru langit pemuda itu, mencoba agar pemuda bersurai biru langit itu tenang.


"Tetsu-chan," suara yang halus dan lembut menggelitik telinga Kuroko. Kepalanya menoleh ke sekelilingnya, mencoba menebak dari manakah suara indah itu berasal.

"Tetsu," kali ini suara berat yang terasa menyejukkan. Kepala Kuroko berputar lagi ke sekelilingnya. Wajahnya mulai terlihat takut.

"Tetsu-chan, kami di sini," suara pertama datang lagi, suara seorang wanita yang mulai memasuki usianya yang ke 40. Dalam sekelilingnya yang berwarna putih, muncul siluet dua manusia. Yang satu adalah seorang wanita dan yang lain adalah seorang pria. Keduanya menampik senyuman tulus dan hanya itu yang dapat ditangkap oleh Kuroko. Lainnya terlihat tidak jelas di matanya.

Namun tiba-tiba, sekelilingnya menjadi berwarna hitam. Kedua orang itu masih dapat dilihatnya namun mereka berbalik dan berjalan menjauhi Kuroko. Kaki kecil Kuroko berlari, mengejar keduanya. Ia takut, dadanya berderbar kencang, tangannya terulur berusaha menggapai, air mata mulai menggenang.

"Otou-san, okaa-san," bibirnya menggumam dengan gemetar, kemudian tubuhnya serasa lemas. Tubuhnya yang tadi terasa panas, kini mulai terasa nyaman seperti sebelumnya dan yang dapat ia lihat setelahnya adalah langit-langit berwarna putih dengan lima orang dengan surai berlainan warna mengelilingi tempat ia terbaring.


"Atsushi ambil termometer," Akashi memerintahkan dengan nada absolutnya, seperti biasa.

"Hai," Murasakibara Atsushi, yang sedari tadi asik berkutat dengan makanannya, mengulurkan termometer yang dia ambil dari sebuah kotak P3K.

"Daiki cari cara menangani orang demam sampai mengigau," lagi, dengan absolutnya.

"Nih," Aomine mengulurkan hasil carinya dengan sebuah kertas. Sungguh cepat, tentu saja sambil misuh-misuh.

"Shintarou praktekkan apa yang harus dilakukan. Ryouta bantu Shintarou dengan mengambilkan barang-barang," lagi-lagi. Dan tentu saja sebagai 'anak buah' yang baik, semua melakukan apa yang diperintahkan. Atau lebih tepatnya, belum ada yang mau mati muda. Apalagi harus berhadapan dengan Akashi yang sedang terburu-buru seperti ini.

Salah langkah, mereka bisa kehilangan nyawa. Tidak ada yang berani protes di depan Akashi. Tapi kalau di belakang, hanya ada satu yang berani, Aomine Daiki. Bahkan seorang Kise Ryouta yang biasanya bawel pun sekarang jadi sangat diam. Nyalinya ciut kalau harus berhadapan dengan Akashi. Baik untuk dijadikan kawan, tidak baik untuk dijadikan lawan.

Sebenarnya Aomine ingin memprotes mengapa Akashi hanya perintah-perintah sambil duduk enak di sebelah ranjang yang ditiduri pemuda yang mereka 'rawat', sedangkan dia harus susah payah demi seorang yang bahkan tidak ia kenal. Tapi ya mau bagaimana lagi. Sebenarnya, walaupun tidak mengerti mengapa Akashi sampai begitu terobsesi dengan pemuda bersurai biru langit, yang ia ketahui bernama Kuroko Tetsuya, ini tapi toh ia tetap menghargai keputusan leader mereka itu.

Memang Akashi hanya memerintah sambil tetap mengelus surai biru langit Kuroko, menenangkan pemuda itu. Sementara yang lainnya mengerjakan perintah-perintah egois yang dikeluarkannya.

"Ne, Aka-chin, kita sudah lama tidak 'keluar'." Gumaman malas Murasakibara membuat Akashi sedikit melirik ke arahnya. Akashi terlihat diam namun berpikir sebentar.

"Baiklah, malam ini kita 'berburu'."


A/N:

Fiuh, Kuroko mimpi orangtuanyaa hahaha

Duh maafin author karena kesibukan RL yang menghalangi otak author jadi baru aja beberapa waktu lalu author dapet ide langsung diketik deh

Maaf banget author update lamaa

review?

Finished by Aoko Himawari [20.09.14]