WARNING: fanfic ini dibuat berdasarkan riset yang abal-abal dan pikiran saya yang sangat terobsesi dengan benda alam gaib /slapped.

Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Peter Pan © J. M. Barrie & Universal Studios and Coloumbia Pictures.

AS STARK AS OUR REMINISCENCE

-azureveur

© 2011

.

.

.

Chapter 4: The Escapade

.

.

.

"Tuan Roland!" Tiba-tiba saja seseorang memanggil dari dalam kereta pemburit.

Pemuda itu dapat membaui kemenyan aromatik yang menabiri sekujur tubuhnya. Perlahan, celah terang di antara ceruk pintu tersingkap. Memperlihatkan seraut wajah kesah yang menyembul keluar.

"P-peter? Kaukah itu?"

Wujud Peter Roland bukan lagi seorang manusia. Amarah terlanjur menguasai dirinya. Memaksa kardiaknya berpacu lebih cepat. Berdesir-desir seolah ia hendak memuntahkan seluruh dendamnya pada wanita iru.

Wendy Darling bergerak senyap, hingga ubun-ubun kepalanya berhasil mendongak. Ekor matanya mengerling, hendak mencari tahu apa yang tengah terjadi.

"Tuan Roland?" sekali lagi wanita itu memanggil. Satu per satu entakan slipper-nya mengantuk batuan pakis. Tanah lembap di sekitar tak ayal membuat langkahnya tergelincir; tak sengaja menyapu sentuhan di ujung jaket satin pemuda itu.

Bak sebonggol pasak, lengan perkasa menopang tubuhnya. Tatapan mereka bertemu; biru dan abu. Wendy sadar manik biru berkelebat di sana. Batuan akuamarine yang seharusnya milik Peter—terpatri pada kelopak cekung, di antara paras berbalut bulu kasmir.

Wendy beringsut mundur. Alih-alih kakinya tak sempat menandak, tubuh itu ambruk; menimpanya.

Wanita itu mengumpat. Sekujur punggungnya memar. Berdenyut-denyut, seolah tulang belakangnya hancur menjadi serpihan.

"Wendy?"

Mata teduh itu mengerjap. Peter memandangnya dengan mata yang sama. Belahan dagunya tepat terpahat di bawah bibir. Dan tangan lembut itu mengelus pipi bersemburat merah jambunya dengan buaian kasih sayang.

"Tuan Roland?" Wendy menekur. Pipinya bersemburat.

"O, Miss Darling? Apa yang terjadi?" Peter bangkit, sembari memegangi pelipisnya yang berdenyar.

Wendy Darling membungkam. Dengan berurai air mata, tatapan itu tertuju pada Peter yang berdiri di sisinya.

"Apa aku menyakitimu?" Peter kembali membungkuk. Bersimpuh di samping wanita itu.

Ia menggeleng; gerakan yang amat lemah. Sampai tangis itu menganak-sungai, menyisiri pipi rembulannya. "Aku—"

"—baiklah," potong Peter, gegas membantu tubuh itu bersandar.

"Punggungku memar," tukas Wendy, salah tingkah.

"Apa karena perbuatanku tadi?" Peter melepas jaket satinnya, lalu meletakkan kain tebal itu di atas bahu Wendy. "Aku menyesal atas segalanya."

"Aku sudah mengetahui rahasiamu sejak awal."

Peter terhenyak. "Sejak kapan kau mengetahui hal itu?"

"Para Quileute; sewaktu di kedai kopi. Michael sudah cukup banyak membumbui diriku dengan segala mitos takhayulnya."

"Aku mengerti. Dan apakah kau menyesal pernah mengenalmu? Dan sekali lagi, aku minta maaf atas punggungmu."

Wendy terkekeh.

"Tenang saja, Sir. Lagi pula aku tak serapuh yang kaubayangkan." Tangan pucat itu kembali merapatkan celah jaket yang menganga. "Bicara soal transformasi, bagaimana kau dapat menemukan dirimu kembali? Maksudku, kau hampir menerkamku tadi."

"Okay, sorry untuk tindakan bodohku itu. Aku hanya mendengar suaramu. Dan agaknya, aku harus mengatakan yang sesungguhnya di kala pertemuan pertama kita."

"Pertemuan kita di gerai Tuan Jones?"

Peter mengangguk. Pemuda itu tersenyum. Genggaman hangatnya menangkap kedua tangan mungil Wendy, lalu memasungnya di antara jemari, sementara itu mata birunya berbinar-binar. Menguntai sebuah titian harap.

"Entah apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Aku merasa ter-imprint dengan dirimu. Di kala aku murka, seharusnya berlari seperti orang gila. Tapi aku bertemu denganmu. Suaramu membuat kesadaranku kembali. Dan kurasa, aku mencintaimu, Miss Darling."

Wendy terperangah. Bahkan saat deburan angin memberus kulitnya. Ringisan itu menguar seperti tetes air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"O, dear. Mengapa kau menangis?" Peter Roland sengaja membiarkan jemarinya basah. Membasuh rinai-rinai tangis itu.

Wendy merengkuh tubuh di sampingnya. Melingkarkan kedua lengannya di antara leher Peter dan berbisik, "Aku mencintaimu juga."

Entah hantu apa yang tengah merasuki intuisinya. Jiwanya seakan bergelenyar. Seperti halnya, tujuh belas tahun lalu—kala keduanya berpegangan tangan, menembus kumulus awan yang berimpel pada langit kelam.

Peter berhasil memagut bibir itu. Kedua lipitan mungil yang nampak ranum, berwarna merah cerah seperti sepasang buah persik yang silih bertaut.

Kecupan itu tak seharusnya membuat mereka merasa gusar, namun sebuah anak panah sekonyong-konyong menembus bahu kanan Peter.

"Wen—" pemuda itu tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Kesadarannya raib seketika.

Michael Darling tak menyangka bahwa kakak perempuannya tengah bercumbu dengan makhluk yang dianggapnya paling hina. Wanita itu masih menggerung. Menangisi kekasih werewolves-nya yang kontan terkapar di atas tanah.

"Apa yang kaulakukan padanya, Mike?" Sepasang kaki renik itu menegak. Dan bibir pucat Wendy mulai memberondongi adik laki-lakinya dengan sejuta pertanyaan.

"Apa yang kulakukan padanya? Seharusnya aku bertanya hal sebaliknya padamu?" tanya Michael dengan nada suara meninggi.

Kakak perempuannya membungkam. Ia tak berani menatap kedua manik mata kelabu itu. Peter masih bergelung di atas dedaunan, sementara bahu kananya terasa dihantam godam.

"Hentikan, Mike!" Buku-buku jarinya mengepal.

"Aku tak bisa. Sebaiknya kau masuk ke dalam kereta," Michael berdecak.

"Kau tidak bisa seenaknya menyuruhku untuk meninggalkan semua ini. Rasa sakit itu menyiksanya, Mike. Hentikan." Napas Wendy terogok, Pandangannya sudah mengabur, bercampur dengan air mata yang tak kuasa mencecah pangkal pipinya.

Michael sempat kehilangan akal.

"Bagaimana dengan wanita bernama Adeline itu? Apa kau telah mengurusnya?" tanya Michael pada Alfonso—salah seorang ajudan.

Lelaki Portugis itu hanya memiliki tinggi empat kaki. Tubuh sintalnya berkacak pinggang di kala ia mulai berbisik. Merasuki telinga Michael dengan selarik kata-kata yang tak Wendy mengerti.

"Baiklah. Bawa dia ke dalam hutan. Kita akan membereskannya!"

Wendy tak kuasa menahan amarah. Dengan sekuat tenaga ia mendorong adik lelakinya. Pemuda itu terjajar beberapa langkah, namun ia dapat menyeimbangkan diri dalam hitungan detik.

"Cukup, Mike! Kau sudah mendapatkan wanita yang kaumau, bukan? Tinggalkan Tuan Roland. Ia bahkan tidak masuk dalam daftar buruanmu." Lekas-lekas Wendy melangkah, berjongkok di samping pemuda ringkih itu.

"Tinggalkan dia, Mike. Please." Wendy menarik celana pantalon adiknya.

Michael tak sanggup berucap. Bibirnya bagai tersulam, membatu. Namun, di tengah kesempatan pelik itu, Peter Roland sekonyong-konyong bangkit. Dan sontak menggemparkan komplotan instan yang berjaga di sisi kiri.

Sepuluh pasang mata tak dapat lagi berhipotesis. Bulu kuduk mereka meremang—agaknya tak kuasa menyimpulkan kejadian tadi sebagai sesuatu yang rasional. Panah yang tertancap di bahu pemuda itu bukanlah sekadar sembilu, melainkan anyaman rema besi dan herba aconitum.

Intuisi Peter Roland tak sepenuhnya diintriki kompulsi Miss Foster, melainkan tertitah nyata di batin Wendy. Mereka memacu langkah seribu; membiarkan komplotan pemburu makhluk gaib itu tercengang di belakang sana.

.

.

Wanita itu baru saja mendongak. Tangan mungilnya ditarik seseorang; berlari kesetanan, menembus barikade pepohonan.

Raut kesah tak ayal membingkai ceruk parasnya. Bibirnya memucat bak onggokan halimun yang terentang di kisi-kisi verbena. "Peter," ringis Wendy, setelah beberapa kali tersandung kerikil batu.

"O, Wendy. Kita harus tetap berlari," teriaknya, sayup-sayup. Perlahan, tangan itu meraup tubuh lampai Wendy dan membopongnya dalam dekapan.

Peter terus berlari, hingga kumparan pinus memagari mereka; terpaut jarak antara desah dan debur keringat para pemburu.

Ujung slipper kasmir Wendy menapaki tanah basah. Disambut rasa takut yang merundungi setiap inci giginya. "Kau tahu, Peter. Hutan ini seperti Neverland," ucap Wendy, parau.

"Er, maksudmu? Aku tak mengerti apa yang kaukatakan?" Peter berjongkok, "Apa tidak sebaiknya kau naik ke punggungku dan dengan begitu, kita dapat berlari lebih cepat?"

Wendy menggeleng. Tegas. Dan manik mata kelabu itu seketika berkaca-kaca. Menyentuh pipi Peter dengan sejuta rasa.

"Kita pernah berdansa. Di tengah kegelapan, hanya bermandikan cahaya peri." Lesung pipit itu berangsur mengembang. Setipis kembang gula, namun begitu cepat menular, membuat Peter terpana—berusaha mengais sisa-sisa memorinya yang mungkin saja belum terkikis kompulsi.

Tanpa banyak bicara, Wendy menggamit jemari kokoh itu. Berdansa di tengah kelam, membiarkan siluet bulan menerangi punggung mereka.

"Ini indah," bisik Peter, di tengah kegelapan. "Namun, momen ini tak dapat berlangsung selamanya, Wendy."

Wanita itu menghela napas. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Peter?"

"Kita harus berpisah untuk sementara. Biarkan mereka menangkapku, namun aku berjanji. Aku akan baik-baik saja dan menjemputmu."

"Tapi—"

"—lari 'lah pada adikmu. Ia adik yang baik, yang menyayangi kakak perempuannya. Bagaimana kalau kau menurut padanya sebentar saja?" cetus Peter, mengangkat tinggi-tinggi tangannya agar Wendy dapat melakukan gerakan pirouette sempurna.

Tubuh ringkih itu mengempaskan berat pada dada bidang Peter Roland. Pemuda itu tertawa, ringan. Berlakon seakan semuanya baik-baik saja.

"Aku akan melepaskan dirimu sekarang. Jaga dirimu." Peter mendaratkan kecupan terakhir di dahi wanita itu.

Wendy berjalan kelimpungan. Menerka lembah curam yang hendak ia pijak. Namun, di belakang mereka, lamat-lamat suara entakan kaki semakin bertalu-talu. Mengisi kesenyapan yang tadinya bergaung di pilar-pilar hutan.

"Lari, Wendy!" teriak Peter.

.

.

Wendy terogok-ogok menelusuri hamparan ilalang. Rambutnya kusut masai, tersirat cahaya perak. Ia tak sanggup lagi menoleh ke belakang; sekadar menatap berkas-berkas kerinduan.

Perempuan itu tetap menelusuri jejak setapak lembap yang bercokol, membelah hutan. Hatinya terlampau takut untuk bergeming. Sampai sebuah dada cadas menghantam pucuk dahinya.

"Mike?" Wendy tercenung. Ia menemukan adiknya—seperti yang dititahkan pemuda itu.

"O, Wendy. Maafkan kata-kataku tadi. Makhluk itu tak mencelakakanmu, 'kan?" Michael begitu gundah gulana. Manik kelabu itu tak henti-hentinya menelusuri wajah Wendy; menelisik setiap inci kulit kakaknya.

"Aku baik-baik saja, Mike. Tapi tolong jangan siksa, Tuan Roland." Masih permintaan yang sama, yang tersemat pada bibir itu.

Michael bergeming. "Aku—" ia kembali menatap lurus. "Aku tak dapat berjanji untuk hal itu. Sebaiknya kau masuk ke dalam kereta, Wen. Kita akan segera berangkat dan meninggalkan tempat ini."

"Tapi, Mike—" Lidahnya terasa kelu. Petuah Peter Roland begitu intens berdesau di telinga. Sekonyong-konyong kereta buraksa mereka menyauhkan langkah, melipir di sisi jalan setapak. Wendy tergopoh-gopoh berlari. Michael mengekorinya. Dan secepat kilat mendorong tubuh mungil itu, memasuki mulut pintu.

Udara terasa semakin dingin. Menggeleparkan anoraknya yang berbahan kulit pelanduk. Wendy mencengkeram kuat-kuat keliman gaun tidurnya. Sementara Tuan Deward—sang kusir—menyentakkan aba-aba.

Rentetan kuda meringkik. Memecah kesunyian, tatkala di belakang mereka seleret pekikan menggeru keras.

"Mike," sergah Wendy, menyipitkan mata.

Lekas-lekas pemuda itu menggenggam tangan kakak perempuannya. "Tenang saja, Wendy," ujarnya, separuh mengecilkan suara.

Bilur-bilur kehangatan itu merayap cepat, namun kalah tanggap dengan aroma debu perak yang seketika menyeruak. "Aroma apa itu, Mike?" Wendy memandang ke sekeliling, melongokan kepalanya; menghadap jendela kereta yang terbuka.

"Perak. Mereka hanya menaburinya dengan bubuk perak."

"O, tidak! Mike!" tubuh Wendy memberontak.

"Hentikan, Wendy. Kita harus pulang sekarang." Michael membeliak. Wendy tertunduk kikuk, menangisi ketidak-berdayaannya. Kakinya terasa kebas. Tidak untuk berlari atau menolong, melainkan terpatri mati tanpa dapat berbuat apa-apa.

Entah janji Peter adalah sebuah entitas yang dapat dipercaya ataukah hanya bualan di tengah penderitaan. Pemuda itu bahkan sudah tak berwujud, dirajah butiran debu perak yang semakin menggerus kulit pualamnya. Lantas, apakah Wendy masih pantas untuk tetap menunggunya—selama ia menantikan tujuh belas tahun di samping birai jendela?

.

.

.

Seingat Wendy, Mary Darling tak pernah berlakon sebagai perkutut. Ia tumbuh dalam buaian kasih sayang dan penuh kehangatan. Dan bahkan Mrs. Darling jarang berceloteh, apalagi berkomentar pedas.

Tapi berbeda dengan kali ini, entah apa yang sanggup menyentir pemikirannya yang terkungkung dulu. Keriput dan uban boleh saja mengikis sisa-sisa umur senjanya, tetapi kelembutan itu seolah sirna.

"Wendy Darling!" Baru saja perempuan tiga perempat baya itu melandaskan pijakannya di muka pintu, namun suaranya tengah menggelegar di seantero rumah.

"Yes, Mother!" teriak Wendy dari ruang tidur. Wanita muda itu tergopoh-gopoh, menjinjing gaun panjangnya, menuruni anak tangga. "O, Mother. Apa yang kaulakukan di rumah John, di saat seperti ini?"

"Bukan apa-apa, dear. Apa kauingat tentang kencan buta yang kita rencanakan?"

Wendy ternganga. Baru saja ia hendak mengganti air pada jambang kaca di pelataran ruang tamu, namun selintingan itu malah tertepis dengan sendirinya. "Er, aku—"

"—stop. Jangan bilang kau melupakannya!" Suara Mary Darling meninggi. Alih-alih mendengarkan Wendy berceloteh tentang alibi bodohnya, kaki ringkih itu dengan segera berjingkat-jingkat mendaki ceruk anak tangga.

"Mother!" Wendy memekik ketakutan.

"Wendy Moira Angela Darling, sampai kapan kau akan berdiam diri di sana? Kau harus segera berpakaian." Lagi-lagi Mary Darling bersikap acuh tak acuh. Napasnya memburu, merangsek masuk ke dalam kamar anak perempuannya. Kamar mungil berdinding gading dengan sebuah closet mungil yang tersembunyi dekat jendela.

Dengan cekatan tangan Mary telah menelanjangi isi lemari, memaparkan gaun-gaun mahal di atas tempat tidur. Matanya menggelinjang. Alisnya menari-nari. Sibuk mematut rentetan gaun indigo yang tersebar di sisi kanan dan baju-baju tunik selutut di sisi kiri.

"Bagaimana dengan gaun yang baru kubeli bulan lalu di Paris? Bukankah ini cantik?" sergah Wendy yang menyembul dari balik pintu.

"Tidak, Wendy. Tuan Winslow bahkan takkan sudi mengajakmu ke restoran berbintang jika kau mengenakan gaun kumal itu," dengus Mrs. Darling.

Wendy memberengut.

"Bagaimana dengan ini?" Mrs. Darling sudah terlebih dahulu mengacungkan gaun lampai berwarna violet di hadapannya.

Wanita itu tak dapat menolak. Selera uzur ibunya memang telah sepenuhnya berubah. Dari yang hanya bergaya Bohemian, kini wanita tua itu menaikkan harkat fesyennya menjadi keliman renda Chantilly.

"Pilihanmu bagus, Mother. Tapi apa gaun ini tidak terlalu berlebihan?"

Wendy tahu Tuan Winslow mungkin keturunan luhur dari saudagar kaya, namun bukan berarti dengan status yang begitu takabur Andros Winslow akan mengajaknya, menyusuri pelataran Boulevard de Clichy.

"Tentu tidak, dear. Ia seorang lelaki terhormat. Dan justru itu, kau harus mengenakan gaun terbaikmu saat bertemu dengannya."

Wanita muda itu separuh mengangguk, mengiyakan anjuran sang ibu.

"Oya, Wendy. Apakah Michael mengunjungimu semalam?" tanya Mrs. Darling, membantu wanita muda itu mengenakan korsetnya.

Tak dapat dipungkiri, Michael—sang pembelot—memang kerap hilang berminggu-minggu. Namun, kini nama Michael Darling sama saja dengan genta penyelamat bagi Wendy. Mungkin sedari malam ia sempat melupakan pemuda itu dalam beberapa jam, namun bukan berarti ia melupakan akan janji Peter dalam sepetang.

"Er, iya, Mother. Apa dia tidak pulang ke rumah semalam?"

Ia ingat, terakhir kali menjumpai wajah tirus itu di kala penghujung malam. Halimun tebal telah bergelayut di atap-atap organza kebun dan Michael melepaskan kerpus jelaga itu dari pucuk kepalanya.

Bibirnya berikar janji yang tak Wendy mengerti, namun di balik pahatan rahang kuat itu, ia dapat melihat sebuah tubir yang amat dalam—membagi perasaan adiknya menjadi dua.

.

.

"Tidak, dear. Ke mana bocah tengil itu? Terkadang aku pun sudah malas menampungnya di rumah," berungut Mrs. Darling.

Wendy terkekeh; sekadar menanggapi perangai sang ibu yang agak kekanak-kanakan.

"Mungkin ia sedang menyelesaikan tugasnya," ujarnya.

"O, tugasnya bahkan tak jauh dengan dunia gaib. Kau percaya itu, Wendy? Segala hal yang berhubungan dengan papan ouija."

Lagi-lagi tak ada yang dapat Wendy lakukan selain melontarkan senyum. Intuisinya mungkin berkata tidak, namun di dalam hatinya ia percaya.

.

.

"Hey, bagaimana kabar gadis tertuaku?" tiba-tiba saja tanpa ketukan pintu, suara merdu itu mencuat masuk.

"Aunt Millicent!" Wendy melompat kegirangan.

Di balik raut tuanya, wanita itu masih bisa terbahak. "Lihat dirimu, Wendy. Kau benar-benar seorang wanita dewasa sekarang," ujar Aunt Millicent, menggamit jemari mungil itu; berputar-putar di sampingnya.

Wendy hanya balas tersipu-sipu. Mendelikkan mata kelerengnya.

Sementara keduanya melepas rindu, Mary Darling hanya dapat pasrah. Merasa dirinya tak diacuhkan, dan melengos ke arah lemari riasan.

"Bagaimana kabar Slightly, Auntie?" tanya Wendy, terduduk di depan meja rias.

Aunt Millicent tak pernah lelah bercerita mengenai pengalamannya. Bukan selentingan lagi jika ia kerap melancong layaknya seorang Mary Poppins. Dan kabar tentang putra angkatnya—Slightly Soiled: ia sukses membuka toko perhiasan di perempatan West End.

Semua keluarga bergembira. Terlebih lagi Aunt Millicent—yang bukan lagi perawan tua yang gemar bercengkerama dengan para tetangga. Di sela-sela waktu senggangnya ia tak ayal membantu Slightly; melayani pelanggan.

.

.

"Wendy, lihat siapa yang datang," suara Mary Darling terdengar sayup-sayup dari lantai bawah. Baru saja Wendy menghela napas sejenak, mendengarkan intermezo, Andros Winslow telah berdiri di ambang pintu.

"Good afternoon, Miss Darling," sapanya, melepaskan topi tinggi yang bertabur salju.

Wendy merunduk canggung. Bibirnya hanya diizinkan untuk memoles seringai tipis, sedang kakinya terpaksa menekuk takzim.

"Good afternoon," balas, perlahan.

"Okay. Bersenang-senanglah, Wendy," bisik Mrs. Darling melambai dari dalam rumah.

Andros Winslow benar-benar bukan pria toko kelontong yang berstatus rekan kerja Mr. Darling. Ia memang tak memiliki kusir pribadi untuk keretanya, melainkan memarkir seorang diri mobil Nippy-nya di depan perkarangan rumah.

Wendy masih membeku di depan pagar.

"Ada yang salah?" Andros mencoba santai, membukakan pintu mobil.

Wanita itu menggeleng. "Tuan, apa ini tidak terlalu—"

"—berlebihan?" Andros terkekeh. "O, Miss. Kau memang wanita yang rendah hati, tetapi aku tak rela membiarkan wanita secantik dirimu bersempit ria, menaiki omnibus1."

Wendy Darling hanya tersenyum rikuh, menduduki jok samping.

Andros Winslow menyetir kemudi, menuju sebuah resto di Trafalgar Square. Restoran itu nampak mewah. Berhiaskan tembikar-tembikar antik yang berjajar di sekitar tembok. Suasana tak begitu senyap—tertelan ingar-bingar tembang jive yang berlindap.

Andros tak lagi banyak bicara. Ia lebih sering membungkuk. Memperagakan gesture formalnya, ketimbang banyak berkelakar. Agaknya ia mengerti, bahwa Wendy merasa kikuk dengan gaya bicaranya yang terlampau santai.

"Apa yang hendak kau pesan, Miss Darling?" tanya Andros, melirik onggokan buku menu.

"Aku—aku tidak terlalu mengerti dengan menu di tempat ini."

"Baiklah. Aku memilih daging sapi Wellington untuk kita berdua. Bagaimana?" anjur pemuda itu, seraya memanggil seorang waitress.

Wendy mengangguk.

"Kau bisa menunggu, Miss Darling? Aku ada perlu sebentar." Andros Winslow bangkit dari kursi, melengos ke arah rest room, di samping tangga melingkar.

Wendy tersenyum simpul, niscaya hatinya masih berkebit; seperti tercekik tiap detik. Lembaran hari pertama tanpa Peter Roland sudah semakin kelam. Sebentar lagi lembayung jingga akan terganyang, laksana mentari berganti rembulan.

Ke mana ia akan mencari sosok itu? Punggung hangat yang semalam dijadikannya tempat bersandar dan tangan lembut yang menuntunnya, menembus untaian jenggala. Akankah semuanya raib untuk selamanya?

"Miss Darling?" Dehaman Andros membuyarkan lamunannya. "Apa kau baik-baik saja? Kau nampak gusar." Pemuda itu tak pelak menilai: tatapan dan semburat lesu memang identik dengan sebuah masalah.

Wendy tak sanggup berjengit. Manik kelabu itu tak henti menatap pinggiran lampu anbarik yang terpajang di atas meja.

"Aku baik-baik saja."

"Oya, aku selalu penasaran denganmu. Mary pernah bercerita jika kau gemar mendongeng. Apa itu benar?"

Sekali itu, Wendy tercenung. Andros Winslow memang bukan tipe pebisnis pragmatis yang selalu mendahulukan kepentingan hatinya. Mulut manis itu memberikan poin plus pertama bagi seorang wanita muda, seperti halnya Wendy Darling.

"Iya, tetapi aku sudah jarang mendongeng sekarang. Aku lebih banyak menulis," ujar Wendy, canggung.

"Jadi kau seorang penulis?" Alis Andros seolah ikut terkejut; berjingkat tinggi-tinggi, sementara tangannya merogoh ceruk saku blazer. "Kalau begitu, sapu tangan ini pasti dari salah seorang penggemarmu."

Agaknya, tak pernah sekali waktu Wendy berangan mengenai biografinya yang terbetik di halaman surat kabar. Tak seorang pun pula yang tahu bahwa ia menulis—kecuali Andros Winslow, tentunya. Dan tunggu, mana mungkin ia memiliki seorang penggemar? Tetapi, apakah penggemar itu seorang wanita? Atau seorang pria?

Wendy berusaha menghilangkan perasaan berdesir itu di lubuk hatinya. Mau tak mau ia harus menghujat anekdot konyol itu. Tak ada yang memuji seorang pendongeng, kecuali sekroni anak kecil yang penasaran dengan akhir cerita Cinderella dan Putri Tidur.

"Miss Darling." Perlahan Andros menyerahkan sapu tangan itu. Hanya sebentuk lipatan lisut yang penuh dengan noda duli dan tanah.

"Apa kau tahu siapa pemilik sapu tangan itu?" sergah Andros. Lehernya berjengit alih-alih menyimpan rasa ingin tahu seorang diri.

"Entahlah, aku tak pernah memiliki seorang penggemar. Dan dari mana kau mendapatkan sapu tangan ini, Tuan?" Wendy merasa ragu. Mungkin saja sapu tangan itu berisi teror atau ultimatum yang tak ayal mengusirnya dari Kensington Garden.

Pelbagai spekulasi sudah cukup membuat jantungnya berkebit. Perlahan jemari lentik itu membuka lipatan pertama. Menyisakan segaris celah kecil yang hanya sanggup diintipnya seorang diri.

"Aku mendapatkannya dari seorang pemuda. Tadi ia memberikannya padaku di pintu toilet. Dia bilang itu milikmu. Apa benar?" Andros masih berusaha mengintip. Perawakan jangkungnya memang modal yang depat untuk sekadar berdiri dan menebar kerlingan mata.

"Tuan Winslow," cetus Wendy, separuh berbisik. "Aku harus pergi."

"Tunggu—" Andros Winslow masih mematung. Terduduk manis di atas kursi kayu ek-nya sembari tepekur. Apa yang baru saja dikatakannya? Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah?

"—maafkan aku, Tuan." Suara Wendy naik setengah oktaf. Tubuh ramping itu mendadak bangkit, menerobos kerumunan pelanggan restoran yang mengantre di kubikel reservasi.

Kala itu ia tahu, bahwa Peter telah menemukan Tink dan debu peri.

Wendy Darling masih terkejut—menyadari apa yang baru diperbuatnya. Menghancurkan acara kencan buta yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya, tentu dapat digolongkan sebagai tindakan amoral.

Namun kakinya sudah terlanjur berlari, menyeberangi zebra cross yang terkerat pelataran menara parlemen. Tangan itu melambai. Memberhentikan omnibus dan lekas-lekas melonjak masuk ke dalam kereta.

Persetan kata Mr. dan Mrs. Darling yang menyumpahi dirinya terlalu picis.

Sapu tangan itu; hatinya yang kian lama kian membeludak. Lalu, mengapa ia tega membiarkan dirinya sendiri terlibat kencan bodoh itu?

.

.

"O, Wendy. Mengapa kau pulang secepat ini?" Mary Darling memasang muka masam. Berdiri, memegang cangkir kopinya.

Wendy tak menjawab. Langkah kakinya terayun cepat; melintasi ibu dan bibinya tanpa selarik sapa.

"Wendy! Wendy!" pekik Mrs. Darling. Wendy berlari lebih cepat, menerobos ruang tengah.

"Wendy?" Sekonyong-konyong Michael menyergah.

"Mike, apa yang kau—"

"—maafkan aku, Sis. Peter Roland menghilang kala aku datang menyambangi tempat itu kembali." Michael tertunduk pilu.

"O, Mike. Aku tahu, kau merasa amat bersalah semalam. Namun, kau pun sudah berusaha mengendalikan segalanya 'kan?"

"Tapi, Sis—"

"Bisa tolong memberikanku sedikit waktu untuk sendiri." Wanita itu mendelik sepintas, sebelum akhirnya Michael mengangguk.

"Thanks." Wendy melesat ke loteng atas dengan segaris kurva di bibirnya.

"Aku harap kau baik-baik saja!" teriak adik lelakinya, bersedekap di birai tangga.

.

.

Masih bangsal yang sama dengan tirai burgundy yang meutupi jendela. Dan permadani pucat yang melapisi lantai di bawah tempat tidur. Tidak ada yang terlewatkan, sampai Wendy sadar bahwa kedua kerai jendelanya tertutup rapat—tak seperti Mary Darling yang selalu berharap dan menunggu kedatangan Darling bersaudara, pulang dari petualangan mereka.

Manik kelabu itu menangkap sebuah siluet: bidal mungil yang terpajang di pinggir birai jendela. Lekas ia menyibak tirai-tirai itu. Membuka kerai jendelanya lebar-lebar. Dan menemukan sepucuk surat terselip di sana.

Kau siap untuk terbang?

Aku hendak menjemput bayanganku.

.

Salju masih membubung. Memburai langit petang menjadi serpihan debu-debu renik putih yang melungsur pelataran trotoar.

Sekilas Wendy menilik jam sakunya: pukul 07.00 malam. Masih ada waktu yang panjang sebelum seseorang menjemputnya di muka jendela, kala jam ruang tamu berdentang dua belas kali.

.

.

.

Fin.

December 24, 2011.

Bandung

1 transportasi umum yang sangat populer pada abad ke-19 dan 20; bentuknya berupa kereta kuda yang dapat dinaiki empat belas orang.