Wound In Our Heart
Chapter 4
Author : Melqbunny and NyoNyo Wiyet
Disclamer : Seluruh Pemain adalah milik mereka sendiri. Cerita ini hanyalah fiksi yang tidak mengungkap kehidupan asli tokoh.
Pair : HoMin
Genre : Drama, Hurt/comfort. And romance.
Warning! Apa yang kamu baca itu adalah tanggunganmu sendiri. Kami tidak bertanggungjawab atas apapun!
It's Yaoi fanfiction with Joseon AU!
Hope you enjoy reading this :)
.
.
Changmin membuka matanya. Bambi itu mengerjap menyesuaikan retinanya pada kilau-kilau cahaya matahari yang masuk lewat cela-cela ventilasi. Kamar itu sudah terang. Tak temaram oleh cahaya lilin seperti tadi malam.
Tangannya tanpa sadar bergerak ke sisi kasur. Dan segera kecewa saat sisi itu kosong dan sama sekali tak ada jejak kehangatan.
Kemana Yunho?
Changmin mendudukan dirinya dikasur lipat itu. Matanya menatap sekeliling, dan benar-benar mendengus saat Yunho tak berada disekelilingnya.
Tangannya merapihkan bajunya yang sangat berantakan, pitanyapun tak terpasang dengan baik. Tadi malam tak terjadi apapun, tapi... Itu bukan berarti Changmin tak bertingkah sok manja ke suaminya. Entah bagaimana, semenjak sentuhan nikmat di ruang santai ia semakin berani. Tak tanggung-tanggung menggoda Yunho yang ternyata tak... Menolak?
Changmin benar-benar senang. Ia merasa dicintai. Mereka benar-benar seperti pasangan yang harmonis, ini keajaiban.
Hal buruk memang sempat melintas diotak. Tapi Changmin tak mau memikirkannya. Jalani saja, terima semua yang Yunho beri untuknya. Untuk kedepan, lihat saja apa yang dilakukan takdir. Yang jelas, Changmin tak akan mau menjadi yang pertama tapi ternyata kedua.
Setelah merasa rapi, Changmin beranjak bangun. Bajunya seperti coat panjang semata kaki namun berbahan tipis. Dibajunya itu juga terdapat belahan hingga menunjukan betis dan hampir setengah pahanya yang tak tertutup apa-apa. Ia terlalu malas menggunakan celana panjang disaat tidur.
Changmin itu memang sedikit kurang ajar dalam berpakaian. Tapi sebenarnya, baju malam untuk seorang Permaisuri yang sudah tak pernah dipakainya semenjak 10th yang lalu lebih parah dari ini. Lagi pula Yunho sendiri kok yang memberinya baju ini! (hanya alibi, karena pada kenyataannya suaminya itu juga memberi celana yang diabaikan Changmin, dasarnya pemilik mata bambi itu memang usil.)
Changmin menggeser kecil pintu. Melihat tak ada dayang, dengan seenaknya ia keluar dari kamar itu. Langkahnya pelan menelusuri teras yang bersinggungan langsung dengan halaman depan.
Udara pagi hari memang segar, tapi juga membuatnya begidik karena tubuh yang hanya terbalut selapis jaegori panjang dengan belahan terbuka. Tangannya menyentuh kedua lengan, dingin sekali. Matanya sibuk melihat sekeliling mencari Yunho. Kediaman itu sangat sepi, sepertinya memang hanya ada beberapa dayang disitu dan mungkin sedang sibuk menyiapkan makanan dan air hangat.
Iris coklatnya berpendar senang saat akhirnya menemukan Yunho di halaman belakang. Lelaki itu terlihat sudah rapih dan sibuk dengan Taepoong, kudanya. Langkahnya semakin panjang. Kaki telanjangnya menyentuh tanah secara langsung saat ia turun dari teras.
"Yang Mulia!" Changmin membasahi bibirnya. Memanggil Yunho dengan excited. Lupa jika seorang Istri apalagi permaisuri seorang raja harusnya tak seperti itu.
Taepoong terlihat segar pagi ini. Tak terlihat kalau kemarin harus menempuh perjalanan jauh dengan 2 laki-laki dewasa di punggungnya. Mungkin karena udara disini lebih segar daripada di istana.
"Yang Mulia!" dia tahu siapa yang memanggilnya ini bahkan tanpa melihat.
"Kau sudah bangun? Tidur nyenyak?" tanya Yunho. Tetapi begitu mengalihkan perhatian dari kudanya kepada Changmin, alisnya berkerut. "Apa kau tak kedinginan?" semalam Changmin tak mau mengenakan celananya, dan dengan baju panjang dengan belahan tinggi hingga setengah paha, kulit kakinya mudah tersentuh udara pagi jika melangkah.
Changmin tampak tak terlalu peduli pada perkataan Yunho, matanya lebih tertuju pada Taepoong yang balas menatapnya. Ia ingin menyentuh, tapi takut seperti kemarin. Ngomong-ngomong bagian yang didengus Taepoong masih sering merinding—padahal Yunho lebih parah dari Taepoong, tapi kenapa tidak merinding?
"Aku tidur nyenyak hyung..." Changmin mencoba menjawab satu-persatu. "Kalau masalah dingin, Kediamanku dipaviliun barat jauh lebih dingin. Ah tapi jangan dipikirkan hyung!" Changmin menoleh, tersenyum tipis ke arah Yunho.
Matanya kembali teralih ke Taepoong dan dengan sedikit ragu mencoba mengelus kepalanya.
Changmin sering keceplosan, tapi ia harap Yunho tak perlu memikirkan apa yang ia ucap. Changmin tak pernah membutuhkan rasa kasihan dari siapapun. Ia juga sudah tak ingin membuat Yunho serba salah menghadapinya.
Yunho memandangi Changmin yang nampak ragu untuk menyentuh kuda hitam itu dengan bingung. Dia pernah menyelinap ke paviliun Changmin sebelum menikah. Tapi, hangat-hangat saja tuh.
"Jangan ragu menyentuhnya." Yunho berdiri dibelakang Changmin, satu tangan menggenggam pergelangan tangan Permaisurinya yang mengelus Taepoong, menguatkannya dan mengarahkannya untuk membelai kepala kuda itu dengan benar. Tangan lain melingkar di perut Changmin, sementara kepalanya disandarkan di bahu. "Kau berbohong Min-ah. Badanmu saja gemetaran begini."
Tangan Yunho yang berada dipunggung tangannya benar-benar hangat. Dan Tangan lain yang melingkar di perutnya... Yunho benar-benar sudah tak sungkan.
Posisi mereka sangat intim, tubuh bagian belakangnya benar-benar menempel dengan tubuh depan Yunho. Sejujurnya Changmin tak terbiasa dimanjakan seperti ini. Suaminya benar-benar membuat sifat haus kasih sayangnya semakin muncul ke permukaan. "Aku tidak bohong..." Changmin tetap keukeuh pada jawabannya.
Satu tangannya yang bebas menangkup tangan Yunho, meremasnya pelan dan memintanya semakin memeluk perutnya erat.
Pelukan Yunho selalu hangat. Changmin merasa nyaman dan merasa tak pernah punya masalah.
Tangan kanan Yunho masih membimbing tangannya mengelus Taepoong, saat wajahnya ia tolehkan ke arah suaminya itu.
Wajah Changmin semakin mendekat, hingga ujung bibir Yunho dapat dikecupnya.
Changmin senang, ia bisa melakukan ini.
"Hyung, apa kita akan pergi menemui gurumu?"
Walaupun mulai tahu jika Changmin sering melakukan hal tak terduga semacam ini, tetap saja dia terkejut. "Hah?" pikirannya serasa dihempaskan sesaat. "Ah. Iya. Kita akan bertemu dengan beliau. Lalu pengasuhku. Setelah itu aku akan mengajarimu naik kuda... Kecuali bila kau masih lelah."
"Aku tidak lelah, apakah kita berangkat sekarang?" Changmin menyahut antusias. Dia akan mengetahui orang-orang yang selama ini penting bagi hidup Yunho. Posisi ini benar-benar seolah memang ialah yang dariawal yang utama.
Hari kemarin saat dia terluka seolah tidak pernah ada. Semua benar-benar terasa samar-samar.
Kemana kecanggungan mereka?
Kemarau setahun dibalas hujan sehari. Yunho benar-benar merealisasikan pribahasa itu ke hidupnya. Padahal permasalahan belum selesai, tapi Yunho membuatnya tak bisa berpikir selain hari ini. Salah, selain saat ini.
Yunho... Membuat Changmin ingin menjedukkan kepala karena membuatnya sangat suka dimanja dan disentuh. Andai harga dirinya masih dipikirkan, pasti Changmin sudah menenggelamkan diri ke sumur terdekat.
"Hyung?" Mata bambi itu melirik malu-malu Yunho. Sebelum dengan tiba-tiba membalikkan tubuh membuat tubuh Yunho hampir saja terhuyung jatuh jika tak punya refleks bagus.
Tangannya memeluk bahu suaminya dengan mata yang menatap dalam.
Sebelah Kakinya dengan tidak sopan terangkat mengelus paha Yunho. Changmin itu nakal sekali, walau ia secara tak sadar melakukannya. Changmin hanya teringat saat ia digendong seperti koala oleh Yunho.
"Hyung, ayo berangkat!"
Changmin benar-benar lupa banyak hal. Ia lupa belum mandi, lupa belum berganti baju... Padahal Penampilannya benar-benar masih berantakan khas bangun tidur. Rambutnya mencuat kemana-mana.
Tanpa mereka sadari seorang dayang melihat kemesraan mereka yang tak tahu tempat, menunduk malu dan segera beranjak pergi. Poor Dayang.
Yunho merasa risih dengan kaki Changmin yang mengelus pahanya. Sungguh kelakuan yang tidak pada tempatnya, tetapi suaranya yang terdengar bersemangat layaknya anak kecil, membuatnya sadar kalau Changmin tidak sengaja. Sepasang mata coklat yang menatapnya dalam seolah menghipnotis, hampir saja membuat Yunho mengiyakan permintaan itu. "Ay... Ah... Kau belum mandi, Changmin." Katanya mengingatkan, rasanya agak sulit untuk fokus ketika pahanya dielus begini.
Yunho jadi ingin menyentuhnya. Kaki panjang itu bertaut dengan kakinya semalam, tetapi belum pernah ia menelusuri kaki itu dengan telapak tangannya. Bagaimana rasanya? Haluskah? Ah, dirinya jadi teringat saat dia menjilati leher jenjang itu. Apakah pahanya akan terasa senikmat itu juga?
Yunho menurunkan tangannya perlahan dari punggung bawah Changmin. Bukankah saat ini Changmin tak mengenakan celana? Perlahan tangan Yunho turun melewati pantat Changmin, berhenti di paha atas. Lalu perlahan ditariknya keatas belahan tinggi baju Changmin agar tangannya bisa menyusup diantara belahan baju dibagian pahanya. "Kita juga perlu sarapan dulu." tambah Yunho. Jemarinya berhasil menyentuh kulit paha Changmin.
"Umm... Hyung, geli... Hihihi..." Percayalah kikikan Changmin benar-benar mengerikan. Terdengar genit dan seolah mempermainkan.
Tangan Yunho yang mengelus paha telanjangnya membuat Changmin tak bisa diam, badannya bergetar menahan tawa dan semakin memeluk tubuh lelaki itu.
"Ugh hyung jangan lakukan itu ah..." Pemuda bermata bambi itu mendadak ngambek saat Yunho mulai berani mencolek pantatnya. Changmin malu! Belum lagi udaranya cukup dingin, ada Taepoong lagi yang mengintip!
Segera saja Changmin melepaskan pelukannya dan menjauhi Yunho. Bibirnya berpout tertahan dengan wajah kesal yang sangat kentara. Mata bambinya sedikit melotot.
"Aku mau mandi hyung huh!" dan seenaknya pergi begitu saja.
Itu... Istrinya Jung Yunho ya? Raja Joseon si bijaksana tapi bertangan besi. Iya tah?
Changmin sepertinya benar-benar lupa statusnya yang seorang Permaisuri. Lupa kalau sopan santun harusnya selalu mengikat. Dimanjakan Yunho, membuatnya mulai menunjukkan tabiat asli yang selama ini tak ada yang mengetahuinya selain keluarganya.
Changmin beranjak pergi, membuat Yunho sadar akan apa yang baru saja dia lakukan. Raja yang selalu terlihat gagah saat rapat dengan menterinya itu membenamkan wajahnya di badan kuda kesayangannya. "TwT Taepoongie... Apa yang barusan kulakukan? Apa aku sudah mulai gila sekarang?" Kuda hitam itu menolehkan kepalanya. "Blrrr..." jawabnya. Simpati pada majikannya yang sifat kekanakannya muncul ke permukaan. Untung tak ada yang melihatnya.
Yang melihat bisa shock berat.
.
.
"Ingat yang kuajarkan kemarin, kan?" Tanya Yunho.
"Letakkan kaki kirimu dipijakan ini. Jejakkan kaki, dan gunakan momentum badanmu." Yunho menjelaskan dengan sabar. Kemarin di Istana, Changmin terlihat takut dan ragu-ragu. Sampai perlu bantuan pengurus kuda. Tapi sekarang ini dia tak mau ada yang membantu selain dirinya saja. Changmin berniat belajar menunggang kuda, jadi dia harus lulus di tahap awal ini.
Yunho berniat membawa Changmin untuk menemui gurunya. Beliau tinggal beberapa kilo dari pinggir desa. Sekarang ini lebih disibukkan dengan mengajar anak-anak kecil di desa. Terutama mengajari mereka baca tulis dan berhitung. Ada bangunan di desa tempat dia mengajari murid-murid kecilnya. Apa mereka juga sering dihukum sepertinya, ya?
Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk mempertemukan Changmin dengan gurunya. Tapi, rasanya dia ingin menarik lelaki itu ke dunianya, dunia masa kecilnya yang tertutupi oleh mahkota rajanya.
"Tidak akan jatuh kan?" Bola Mata Changmin bergerak panik. Changmin jadi merasa kepanasan karena rasa paranoidnya. Kalau jatuh dan terbentur batu terus mati bagaimana? Kebersamaan merekakan belum selesai. Changmin tak rela.
Walau begitu, ia tetap menurut. Kaki kirinya naik ke pijakan kuda sedangkan tangannya menggenggam helai leher rambut Taepoong. Dengan bertumpu pada kekuatan di kaki kirinya, Changmin menaiki Taepoong.
Memang berhasil, tapi Taepoong memekik keras karena lehernya yang tanpa sengaja Changmin tarik terlalu kuat helainya.
Pekikan itu disertai tubuh besar si kuda yang naik hingga hanya 2 kaki yang bertumpu ditanah.
Changmin sangat kaget, hingga hampir terjungkal ke belakang jika saja Yunho tak menahan tubuhnya dan menenangkan Taepoong.
Wajah Changmin memerah. Matanya terbelalak horror.
"Hy-Hyung!" Mata bambi itu juga ikut memerah. Ia panik. Dengan modusnya author Changminpun menundukkan tubuh memeluk tubuh Yunho yang berada disamping Taepoong. Tak peduli kalau dia sudah naik dipunggung Taepoong dan itu adalah posisi yang sulit.
Tak ada kenyamanan diposisi itu. Changmin rawan jatuh kapan saja.
Kaki Taepong masih bergerak, bergantian melangkah di tempat, belum sepenuhnya tenang dari keterkejutannya. Bagi Yunho menenangkan kuda hitam ini adalah masalah yang mudah, andai saja tidak ada Changmin yang memeluk tubuhnya. Padahal sudah berhasil naik tapi badannya menunduk memeluk Yunho. Berat karena otomatis Changmin bertumpu padanya. Satu tangan Yunho pun menahan badan Changmin, melingkar di punggungnya. Ternyata laki-laki yang jadi istrinya ini bukan cuma manja, tetapi agak penakut.
"Changmin... Tenanglah..." Taepoong sudah berhenti bergerak tetapi pelukan Changmin malah makin erat. "Sudah tidak apa-apa. Kau bisa menegakkan badanmu sekarang." bujuk Yunho. Kuda yang menenang membuat Changmin mengambil nafas banyak-banyak. Lambat-lambat dilepaskannya pelukan eratnya.
Wajahnya benar-benar seperti anak kecil yang akan dibuang ibunya. Changmin menatap Yunho dengan mata bambi yang masih berkilat horror.
"Hyung, cepat naik! Cepat jalan! Cepat sampai! Dan cepat turun dari sini!" Changmin mulai mengomel mengalihkan rasa takutnya.
Tangannya menggenggam erat lengan atas Yunho.
Wajah Changmin terlihat sangat ketakutan, tapi kata-katanya yang seolah seenaknya saja memerintah membuat Yunho yakin jika dia berusaha terlihat kuat dan berani. Kalau ada orang lain saat ini, mereka pasti menganggap Changmin lancang. Memang lancang sih. Tak ada yang berani berkata seperti itu padanya. Mungkin sekali-sekali istrinya itu perlu dihukum. Tapi terkadang dia memang seperti anak kecil sih.
"Aku akan naik setelah kau melepaskan tanganku." katanya tenang. Agak mengejek Changmin sebenarnya.
Seolah sadar. Changmin segera melepas genggaman erat tangannya. Telinganya kembali memerah karena merasa melakukan hal yang memalukan. Dengan kesal ia menegakkan tubuh hingga tegap kembali. Wajahnya dialihkan dari Yunho. Mulutnya terbuka kecil mengucapkan kata-kata lirih yang abstrak hingga tidak mungkin dimengerti suaminya itu.
"Cepat naik." Singkat. Judes. Dan benar-benar terdengar tak peduli.
Yunho menghela nafas sebelum naik ke punggung Taepoong. Kalau menghadapi anak kecil dengan kemarahan, hasilnya tak pernah bagus –Yunho tahu itu dari pengalaman.
Hup!—reflek suara yang ditimbulkan ketika melompat.
Sama seperti kemarin, kali ini tangan Yunho melewati sisi perut Changmin untuk memegang kendali. Yunho menoleh ke belakang, dia tahu dirinya diawasi –oleh pengawalnya sendiri sebenarnya. Hojun.
Tak ada siapapun dibelakangnya, tetapi Yunho merasa risih. Ada hal yang menurutnya memuakkan saat menjadi raja.
Yunho memperbaiki duduknya dan fokus ke depan. Satu tangan melingkari perut Changmin, memaksanya bersandar di dadanya.
"Ini tidak akan lama." kata Yunho sebelum mengecup sisi kepala Changmin.
Changmin hanya menurut saat Yunho menginginkannya bersandar didada lelaki itu. Tangannya menyentuh tangan yang memeluk perutnya. Membelainya kecil lalu menangkupnya. Jemari tangan kirinya menyisipkan diri ke sela jemari tangan kiri Yunho.
Kecupan dipuncak kepalanya membuat Changmin memejamkan mata dan menggesekkan kepalanya ketulang selangka Suaminya mencari posisi nyaman. "Hyung, apa tidak aneh jika orang melihat dua lelaki dalam posisi seperti ini?" Gumamnya hampir tak terdengar.
Jemarinya semakin menggenggam erat sela jemari Yunho.
Yunho jadi berpikir juga setelah mendengar kata-kata itu. Menjadi raja berarti mendapatkan penghormatan tertinggi, tetapi dengan dia menikahi seorang lelaki, ibunya ternyata telah membuatnya jadi badut kerajaan.
Jemari Changmin yang semakin erat menggenggam tangannya membuatnya sadar, ada yang membutuhkannya saat ini. Changmin hampir tak meninggalkan paviliunnya, tetapi di awal pernikahan, Yunho mendengar terlalu banyak orang membicarakannya yang menikah dengan sesama lelaki. Menghina dan mencemooh di belakangnya. Hal itu juga terjadi di kalangan rakyat biasa.
Dikala ini, dia hanya ingin melindungi seseorang dipelukannya, apa pun harganya. "Tentu saja aneh..." kata Yunho."Apa kau takut?"
Ditanya seperti itu, Changmin jadi bingung sendiri. Takut itu ada. Banyak malah.
Tapi setiap jalan hidup, jelaslah ada konsekuensi. Dan dari 11th yang lalu, Changmin telah menyadarinya. Posisinya yang seorang Permaisuri padahal ia lelaki, sangatlah tabu. Dan Semua hal yang menyebabkan ia bertahan sampai sekarang, jelaslah memberinya alasan untuk tak ragu. Untuk tetap bertahan di ketabuan itu.
Ketakutan... Changmin punya banyak ketakutan selama hidupnya, tapi tekad kuatnya membuatnya bisa mengatasi semuanya.
"Aku jelas takut... Tapi bukankah sangat terlambat kalau hyung mempertanyakannya sekarang?"
Changmin menghela nafas kecil. Tubuhnya bersandar nyaman didada Yunho.
Walau ia tak pernah keluar paviliun, disaat pertemuan resmilah semuanya terasa sangat berat. Menteri barmain busuk memasang muka baik dan memujinya, tapi dibelakangnya mengejek dan menertawakan betapa buruk serta sialnya dia.
Changmin bahkan pernah mendengar seorang anak kecil mengatakan anehnya Permaisuri Kerajaan mereka disaat ia menyelinap.
Semuanya tentu membuat sakit hati. Harga diri Changmin terluka... Tapi janjinya dan perkataan Ibunya menguatkan Changmin. Bukankah ia sudah mengatakan telah mengorbankan semuanya untuk bisa bertahan sampai sekarang? Terutama hati.
Dia tidak lemah. Ia bisa bertahan sampai kapanpun. Tapi Yunho yang akan mengingkarkan janjinya membuat Changmin rapuh dan benar-benar dapat hancur hingga titik limitnya.
Tapi...
"Tapi itu sudah biasa. Jangan pikirkan aku Hyung. Poinnya adalah... Apa Yang Mulia merasa nyaman jika rakyat melihat ini?" Changmin sengaja mempertegas posisi suaminya. "Jika tidak, aku... Aku mungkin bisa berjalan kaki?"
Keegoisan itu sudah tak penting jika membuat orang tidak nyaman.
Yunho itu Raja. Kenyamanannya lebih penting, daripada dirinya yang hanya seorang lelaki kalangan bangsawan biasa yang terjebak di posisi Permaisuri. Changmin ingin menangis.
Yunho mulai memacu kudanya untuk berjalan dengan kecepatan rendah. Bibirnya mengulas senyum yang tak bisa dilihat Changmin. Jawabannya begitu cerdas, dan begitu memikirkan posisinya sebagai seorang raja. Hanya saja dengan pakaian biasa begini, tak ada yang mengenali posisinya. Orang akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.
Taepoong semakin dekat dengan pintu gerbang. Yunho jadi memikirkan tawaran Changmin yang berniat berjalan kaki. Itu memperlihatkan seberapa siap dirinya.
Yunho mengeratkan pelukannya di perut Changmin di saat Taepoong akhirnya melewati gerbang.
"Kau boleh berjalan kaki... Tapi aku yang akan mencambukmu sendiri 100 kali kalau kau melakukannya."
Badan Changmin bergetar, 100 kali cambukan?
10 kali cambukan saja sudah membuatnya trauma. Changmin tidak mau merasakan perih itu lagi, cukup di awal tahun dia menikah saja.
Tapi bagaimana dengan Yunho? Ini lingkungannya sebelum menjadi Raja, rumah kedua suaminya. Changmin tak ingin ada yang mencela, tak ingin Yunho akhirnya tak nyaman dan tak memeluknya lagi. Ketakutan itu datang.
Kenapa lelaki dibelakangnya ini tak ingin ia berjalan kaki?
"Yunho hyung..." Saat mereka melewati deretan rumah penduduk dan beberapa ratus meter lagi pasar yang baru buka, Changmin menyembunyikan wajahnya di dada Yunho. Sebelah kakinya secara nekad berpindah hingga kedua kakinya di sisi kanan tubuh sang kuda.
Ia hampir jatuh. Tapi Changmin tak peduli. Tangannya memeluk erat Yunho.
Setidaknya, rambut Changmin yang melewati bahu tergerai. Tak akan ada yang mencurigai jika ia lelaki. Walau Changmin tak yakin dapat mengelabui orang berpendidikan karena tubuhnya walau tak sebesar suaminya, tapi tetaplah bukan tubuh seorang perempuan. Belum lagi tingginya.
Changmin itu memang sepenuhnya lelaki. Hanya wajahnya saja yang lebih manis.
Mendadak Changmin ragu, apa berkenalan dengan guru Yunho adalah keputusan yang tepat? Bagaimana kalau anak-anak yang diajar guru Yunho menatap aneh ke arah mereka? Ke dua lelaki diatas satu kuda yang dalam posisi intim.
"Hyung, lebih baik aku turun saja... Kalau nanti kau ingin mencambukku, cambuk saja." Changmin berbohong. Ia ketakutan. Badannya bergetar.
Tapi... Menyelamatkan kenyamanan Yunho terbayang lebih penting, hukuman pasti dilaksanakan di Istana. Dan bukankah setelah mereka kembali Yunho belum tentu akan memperlakukannya seperti ini? BoA... BoA akan memiliki semuanya. Mendapatkan seluruhnya perhatian Yunho.
Changmin menggenggam erat baju bagian punggung Yunho. Bukan sisi baik yang Changmin ambil dari pernyataan Yunho. Tapi bagian buruk yang membuka semua pemikiran yang selama beberapa waktu Changmin abaikan.
"Aku mau turun, benar-benar mau turun!" suara Changmin sangat serak, akan menangis. Tapi... Bukankah ia tak ingin dikasihani? Changmin tak ingin menangis lagi didepan Yunho.
Perjalanan ini... Moment ini... Bukankah pengabulan Yunho karena melihatnya menangis? Karena kasihan padanya? Badan Changmin semakin bergetar, pemikiran itu menampar telak hatinya yang berharap. Apa Changmin terlalu naif?
Badan Changmin bergetar. Yunho yang memeluknya jadi berpikir, apakah sesulit itu bagi Changmin hingga rela dicambuk 100 kali? Padahal dirinya hanya bercanda karena berpikir istrinya berniat menghadapi ini. Yunho akan terus disampingnya, sebab ini bukan masalah bagi 1 orang saja, tetapi bagi mereka berdua. 2 orang yang dianggap aneh dan 'sakit' di seluruh kerajaan. Yunho ingin menunjukkan pada orang-orang itu kalau mereka normal dan tak ada yang salah dengan mereka.
Tetapi suara Changmin yang memohon untuk turun... suara serak seolah nyaris menangis, membuat Yunho sedih. Lagi-lagi dirinya menjadi suami tak berguna yang hanya bisa membuat orang yang menjadi tanggungjawabnya menangis.
Masalahnya, Yunho tidak pernah melanggar janji. Dia sudah mengatakan akan mencambuk Changmin 100 kali jika berani turun dari kuda karena malu dengan kondisi mereka. Maka jika hal itu benar terjadi, Yunho harus tetap melakukannya. Dan masalahnya lagi, sejak awal dia tak berniat melakukan hal itu.
Yunho menghentikan Taepoong secara mendadak. Ditegakkannya badan Changmin diatas kuda sebelum dirinya melompat turun. Tali kekang masih digenggamannya, "Ayo Taepoongie..." Yunho berjalan disamping kudanya, memandunya ke arah yang benar. Kuda itu menurut, senang karena bebannya berkurang.
"Kau harus menjaga keseimbangan diatas sana." Kata Yunho, karena dia tak bisa memegangi Changmin jika begini. "Rileks."
Changmin terus menatap Yunho diatas punggung Taepoong. Tindakan Yunho benar-benar membuat Changmin tak habis pikir.
Bukankah ia yang ingin turun? Bukankah ia yang ingin dicambuk? Kenapa Yunho seperti ini!
Changmin tidak suka! Benar-benar tidak suka! Tindakan Yunho seolah mengatakan lelaki itu tak berniat melukainya. Tak ingin mencambuknya. Changmin tidak mau, kenapa Yunho membuat hatinya terus berharap?
Kenapa hidupnya selalu seperti ini? Yunho memberinya harapan, dan saat ia sudah sangat berharap... Changmin dijatuhkan oleh kenyataan dengan sangat keras.
Changmin itu bukan masocist.
"Yunho hyung... Jangan seperti ini. Jangan membuatku sulit melepaskanmu. Aku benar-benar takut..." Setidaknya walau Yunho kasihan dan ingin memanjakannya, Changmin harap jangan pernah berkorban untuk Changmin. Jangan memikirkan Changmin disaat dia mengambil keputusan. Jangan peduli dan menjauhkan Changmin dari masalah. Jangan seolah-olah Yunho benar-benar memiliki hati untuk Shim Changmin! Jangan membuat Changmin yang disini menganggap Yunho mencintainya menjadi merasa benar-benar dicintai dan tak akan ditinggalkan! Jangan pernah!
Changmin menundukkan badan. Berbisik lirih diitelinga Yunho. "Kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu, kau harus bertanggungjawab."
Dan ditegakkannya kembali tubuhnya. Menatap lurus kedepan. Tak ada ekspresi berarti diwajah Changmin. Bibirnya sama sekali tak mengukir senyum.
Changmin pikir jatuh cinta itu pasti menyenangkan. Tapi... Saat kau jelas tak bisa memiliki cintamu, kenapa jatuh cinta?
Yunho tidak membalas perkataan Changmin, hanya diam sambil terus menuntun kuda kesayangannya. Akan tetapi, dibalik diamnya dia terus memikirkan kata-kata Changmin.
Sebelumnya, tanpa cinta saja Yunho sudah menyakiti Changmin, bagaimana jika dalam hati lelaki itu tumbuh perasaan itu? Seberapa besar rasa sakit yang dia rasakan?
Ketika Yunho mempertimbangkan untuk mengambil selir, dia memang memiliki rencana tersendiri untuk Changmin. Hanya saja sejak kunjungannya ke paviliun Permaisuri, tekadnya mulai goyah. Dan sejak saat itu hingga detik ini, Changmin terus saja mengikis tekadnya. Untuk pertamakalinya dia ragu. Raja yang tidak ragu secuil pun saat menjatuhkan hukuman mati untuk sepupu-sepupu ayahnya itu kini ragu karena seorang lelaki kurang pengalaman yang lebih muda darinya.
Lelaki yang kini duduk diatas kudanya itu tak tahu jika hati Yunho serasa dijungkirbalik setiap bersamanya. Hingga hampir lupa akan seorang wanita yang dipilih ibunya sebagai calon selir. Gadis itu baik, Yunho tahu itu. BoA bisa dikatakan nyaris tanpa cela, berbeda dengan Changmin. Tetapi Changmin selalu berhasil mengalihkan perhatiannya.
Yunho berusaha mengingatkan dirinya sendiri. BoA hanyalah calon Selir dan Yunho belum menyetujuinya. Dia bisa membatalkan itu kapan saja.
Perjalanan ini akan menjadi pertimbangan keputusannya nanti. Satu hal yang dia harapkan, jika Changmin takut tak bisa melepaskannya, maka sebaiknya Changmin tak melepaskannya.
Tempat gurunya mengajar sudah terlihat. Yunho membimbing Taepoong masuk ke halaman. Murid-murid menoleh kepada tamu yang baru datang ini. "Baiklah Changmin. Pelajaran kedua, turun dari kuda. Gunakan pijakan itu dan pindahkan kakimu lalu turunkan ke tanah. Kali ini jangan tarik surai kudanya, pegangan saja disini." yunho menunjuk dudukan di atas kuda.
Changmin menurut pada intruksi Yunho. Lelaki itu turun dengan kediamannya. Matanya menatap lurus anak-anak pelajar yang sedang memperhatikan mereka.
Changmin jadi ingat, dia dulu juga seperti itu. Belajar dengan normal seperti anak laki-laki seorang bangsawan. Dan pulang dengan sambutan ibunya dipintu gerbang.
Ibunya sangat menyayangi dan menjaganya. Apalagi Changmin dari kecil memanglah anak yang cukup tertutup dan sulit dekat dengan orang lain.
Tapi sebenarnya, dibalik sifatnya itu. Changmin hanya ingin selalu menemani ibunya. Bermain bisa ditunda lain waktu.
Changmin menoleh menatap Yunho, lelaki itu menunjukan senyum ramahnya ke anak-anak. Apa kalau Changmin tersenyum, akan seramah itu juga?
"Ayo." ajak Yunho. Dia suka anak kecil, jadi ada kesenangan ketika mengunjungi gurunya.
Pria yang menjadi gurunya itu sudah tua. Wajar saja kalau dia memilih untuk tinggal di desa kecil dan mengajar begini, tanpa bayaran pula.
Ada seorang anak yang berdiri di dekat pagar sambil memeluk ember berisi air. Dihukum.
Yunho membungkukkan badannya, bersikap layaknya rakyat biasa terhadap guru terpelajar. Gurunya memandangnya dengan senyum. Dengan segera, dia meminta murid-muridnya untuk pulang lebih awal. Termasuk anak kecil yang dihukum tadi.
Yunho melepaskan sepatunya untuk naik ke kelas, Changmin mengikutinya. Begitu di depan gurunya, Yunho menghormat selayaknya murid pada gurunya, hal yang seharusnya tak dia lakukan. Gurunya tidak menghentikannya. Baru setelah Yunho selesai, dia menegurnya. "Anda harusnya tidak melakukan itu, yang mulia. Sayangnya anda terlalu keras kepala. Apakah anda berniat mempermalukan saya dihadapan lelaki yang berdiri dibelakang anda?"
Yunho menggeleng. "Saya berhutang banyak pada guru. Satu penghormatan tak berarti apa pun."
"Siapa lelaki ini? Dia tidak terlihat seperti pengawal." Tanya gurunya, mengamati Changmin dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Yunho menepuk sisinya, meminta Changmin duduk disampingnya. "Jangan menatapnya begitu. Guru membuatnya tidak nyaman."
Changmin dilema. Ia bingung harus berekspresi seperti apa untuk orang yang sangat dihormati suaminya. Senyum formalkah? Tapi apa itu sopan? Bukankah itu terkesan diplomatik? Tujuan Changmin kesini bukan untuk itu. Yunho yang membawanya.
Isyarat Yunho, diterima Changmin dengan baik. Ia duduk disamping lelaki itu. Mata bambinya melirik Guru Yunho yang masih menatap menilai ke arahnya, membuatnya bergerak tak nyaman dan tanpa sadar menggenggam tangan Yunho.
Akhirnya ia menunduk kecil sebagai tanda penghormatan dan tersenyum kikuk. Tidak tahu harus berkata apa. Changmin itu tidak bisa langsung dekat dengan orang yang baru dikenal. Apalagi mengawali pembicaraan, itu sangat sulit baginya.
Tapi dibalik senyum kikuk itu. Otaknya berpikir was-was. Yunho akan mengenalkannya sebagai apa?
"Sudah kubilang jangan menatapnya begitu!" Yunho melepaskan tangan Changmin yang tanpa sadar menggenggam tangannya untuk merangkul Changmin dengan tangan itu. Dia juga menempelkan kepalanya ke kepala Changmin. "Ini istriku. Dia manis, kan?"
Gurunya memukul kepalanya dengan buku. "Kau kesini untuk pamer?"
Yunho mengelus kepalanya yang agak sakit. "Kenapa memukulku?" protes Yunho. Hilang sudah formalitas mereka.
"Jadi niatmu kesini hanya untuk membuatku iri?"
"Salah guru sendiri! Bukankah sudah kubilang agar guru menikah lagi!"
"Anak nakal!" Gurunya nyaris berhasil memukul kepalanya lagi. Tapi Yunho menahannya.
"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil di depan istriku..." Pinta Yunho.
Gurunya mengatur nafasnya sebelum mengulas senyum pada Changmin. "Apa kabar? Kau Changmin, kan? Maaf aku tidak datang di pernikahan kalian. Apa anak nakal ini sering merepotkanmu?"
Saat Yunho merangkulnya dan menempelkan kepala mereka didepan gurunya, jantung Changmin rasanya mau lepas. Apalagi dengan keformalan yang mendadak hilang.
Ngomong-ngomong, apa tadi Yunho menyebutnya... Manis?
Wajah Changmin sedikit menunduk. Ia malu, tapi juga ingin tersenyum melihat suaminya yang ternyata bisa bertingkah seperti itu. Dilain sisi, ia juga kaget. Sangat kaget malah, karena selama ini Yunho terlihat sangat dewasa dan tak pernah bertingkah seperti ini... Seperti anak kecil.
Tapi, lebih dari itu semua... Changmin tak menyangka Yunho mengenalkannya sebagai Istri. Bukan permaisuri, tapi Istri! Pelengkap kata Suami. Yunho tak malukah? Dan kenapa Guru Yunho tak menatap mengejeknya?
Saat ditanya oleh guru Yunho, Changmin mengintip malu-malu lewat sela poninya. Entah kenapa, Yunho yang mengenalkannya sebagai Istri dan Gurunya yang terlihat positif membuat Changmin jadi... Ah bagaimana ya rasanya? Tak terdefinisi.
"Say- Aku baik. Hyu- ah! Yang Mulia tidak merepotkanku. Dia sangat baik dan perhatian." jawabannya terdengar gugup tapi Changmin sepenuhnya tidak berbohong. Yunho memang baik dan perhatian padanya selama perjalanan inikan?
Tapi tunggu... Ada kejanggalan disini. "Guru mengenal namaku?" Mata bambi Changmin sedikit melebar. Ia kira, tak banyak orang mengetahui nama Permaisuri Istana. Selain karena Changmin tak pernah keluar dari lingkungan Istana, ia juga tidak pernah ikut Yunho menyambahi melihat perkembangan rakyat. Kenapa Guru Yunho tahu namanya? Bukankah desa ini cukup jauh dari Istana? 11 tahun, 11 tahun Changmin tak pernah terlihat selain oleh pejabat Istana, bagaimana bisa namanya tetap diingat?
"Hei. Ingatanku bagus. Mana mungkin aku lupa namamu. Bahkan sebelum kalian menikah, Yunho sudah memberitahu namamu padaku lewat surat." Jelasnya panjang lebar.
"Kau juga tak perlu memanggilnya Yang Mulia di sini. Anggap saja rumahmu sendiri."
"Tidak! Jangan dianggap rumah sendiri!" Sela Yunho, dia menolehkan wajah Changmin agar bisa saling memandang. "Bisa-bisa kau disuruh bersih-bersih." dia menjelaskan secara singkat. "Aku tak akan membiarkan Guru menyuruh-nyuruh Changmin."
Pria yang cukup berumur itu tak mempedulikan muridnya, dia lebih tertarik dengan Changmin."Asal tahu saja, Changmin. Suamimu ini mungkin salah satu raja yang paling hebat di kerajaan kita, tetapi sebenarnya dia sangat nakal. Aku sering sekali menghukumnya."
Yunho itu benar-benar punya anak kecil dalam dirinya. "Yah! Jangan berbicara begitu pada Changmin seolah aku tak ada. Lagi pula aku tidak nakal."
"Dia ini punya rasa ingin tahu yang sangat besar, agak ceroboh. Dia jadi sering melukai dirinya sendiri atau merusak barang-barang."
"Sudah tahu aku sering terluka, Guru masih saja mencambuk kakiku. Padahal yang lain tak pernah mendapat hukuman seberat aku." Protes Yunho. Walau tak mungkin gurunya menghukumnya lagi.
"Kau pantas mendapatkannya!" Sang guru menatapnya kesal. "Waktu itu kau calon raja! Kau harusnya menjaga sikapmu!"
Yunho cemberut. Tak malu sama sekali. Bagi Yunho ini adalah dunianya. Masa kecilnya yang tanpa kebohongan atau kata-kata yang dipoles. Dan tempat dimana orang mengenalnya sebagai 'anak nakal' dibanding seorang raja.
Changmin memerhatikan semuanya dengan sedikit shock walau senyum tertahan akhirnya menghiasi wajahnya. Sifat Yunho benar-benar tak terduga. Ia mendengarkan semuanya baik-baik dan menyimpannya di otak. Tanpa sadar Changmin sangat penasaran bagaimana sifat Yunho yang sebenarnya.
"Yunho! Ambil air dan cemilan di belakang!" Gurunya menyuruh mantan muridnya. Walau terlihat enggan, Yunho berdiri.
Guru itu memfokuskan pandangan pada Changmin. Dia langsung membungkuk dihadapan Changmin. "Tolong jaga Yunho untukku." Pintanya. "Sejak kecil dia agak nakal mungkin karena tak ada orang tua disisinya. Sekarang pun dia tak bisa bermanja selayaknya anak kecil. Karenanya kuharap kau bisa mengerti Yunho, ada saat dimana kau lah yang harus menjadi tempatnya bersandar." Ada jeda sesaat. "Dia membutuhkan seseorang sepertimu dimana dia bisa bebas menjadi dirinya sendiri."
Changmin menatap guru Yunho lama. Permintaan itu terdengar sulit ditelinganya, tapi jelas tak sopan rasanya jika ia menolak.
Akhirnya bibir itu memutuskan tersenyum. Matanya berkilat sendu untuk sesaat.
Changmin benci berbohong tapi... "Jika guru mengharapkan sebuah janji, aku tak bisa memberikannya. Tapi aku... aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa."
Guru Yunho membalas senyum Changmin. Permaisuri begitu bijak, dan lewat sekali pertemuan ia bisa menyimpulkan jika Istri Yunho tak mengumbar janji dengan mudah.
"Kau tahu, aku merasa senang melihat Yunho begitu bersemangat bersamamu."
"Be-benarkah?"
"Tentu saja. Kau pasti Istri yang sangat berharga baginya."
Changmin kembali tersenyum menanggapinya. Matanya kembali berkilat asing. Guru Yunho hanya tak tahu permasalahan mereka. Berharga? Changmin rasa itu berlaku hanya di perjalanan ini.
Tangan itu menggenggam erat kain di celananya. Apa jika Guru Yunho bertemu BoA, tanggapan beliau akan sama halnya?
.
.
Kaki kuda yang kokoh mulai melangkah pelan. Changmin menyamankan dirinya di kursi pelana kuda.
Changmin sebenarnya merasa tak enak, karenanya Yunho berjalan tanpa menaiki Taepoong disampingnya. Ia ingin melawan Yunho, tapi posisi mereka yang didepan umum membatasinya.
Apalagi Guru Yunho memerhatikan dari belakang.
"Apa yg diceritakan guru padamu? Pasti cerita-cerita memalukan." Tebak Yunho
Apa yang diceritakan guru Yunho? Tidak banyak. Tidak memalukan. Tapi membuat Changmin sangat dilema.
Kenapa Guru Yunho memintanya menjaga Yunho? Bagaimana Changmin bisa menjadi sandaran Yunho, kalau mereka bahkan baru dekat akhir-akhir ini? Changmin tak yakin, banyak hal yang telah terkikis dihidupnya.
Apa... Changmin harus berkorban lagi? Tetap disisi Yunho walau suaminya itu telah mengangkat selir?
Tapi itu tidak mungkin. Changmin tidak suka dibandingkan. Dan belum tentu jugakan Yunho akan tetap disisinya jika suatu saat nanti BoA mengandung anak Yunho? Changmin tak mau dilupakan. Tak mau tinggal lagi dikesepiannya setelah Yunho memperlakukannya seperti ini.
Egois? Ya, mungkin. Changmin tak peduli. Yang dia pikirkan saat ini adalah suatu saat nanti, Changmin akan meminta Yunho membawa BoA ke gurunya.
BoA... Perempuan itu sangat sempurna. Pasti bisa menjalankan dengan baik jika diamanatkan. Tidak sepertinya, sosok lelaki yang masih penuh keraguan.
Changmin benar-benar merasa tak ada apa-apanya.
Terlarut pada pemikirannya membuat Changmin tersadar Yunho masih menanti jawabannya.
"Tidak, Guru Hyung hanya bilang aku boleh memukul kepala Yunho hyung kalau dia nakal." Changmin tersenyum kecil. Melirik penuh penghakiman jika suaminya itu dapat dipukulnya kapan saja.
Yunho melihatnya dengan skeptis, tapi lalu tersenyum. "Itu tidak mungkin. Beliau tak akan menyuruhmu melakukan hal itu." Jawab Yunho santai. Walau sering mendapat hukuman, bukan berarti gurunya akan membiarkan orang lain menghukumnya juga.
Menemui gurunya adalah hal yang mudah, tetapi pengasuhnya berbeda. "Oh ya, Changmin... pengasuhku sudah tua. Dan ada sedikit masalah..."
Mendengar godaannya tak berhasil, Changmin mendengus kesal.
"Tentu saja sudah tua, kalau masih gadis itu tidak mungkinkan? Jadi, apa masalahnya?" Changmin tetap melihat ke depan. Ke jalan yang sedang mereka lewati. Wajahnya masih terlihat asem.
Yunho jadi ragu-ragu untuk memberitahu Changmin. "Pokoknya dia sudah tua. Jadi jangan terlalu memikirkan kata-katanya... Kalau-kalau tidak mengenakkan."
Perasaan Changmin jadi tidak enak karena perkataan Yunho. Yunho membuatnya paranoid.
Matanya bambinya melirik kanan kiri. Keadaan sepi jadi...
Changmin menggenggam bahu Yunho. Wajahnya mendekat ke pipi Yunho dan menciumnya pelan.
Yunho peduli pada kenyamanannya. Changmin senang.
"Asal Yunho hyung masih disisiku, ku rasa aku akan baik-baik saja." Benar-benar baik. Semuanya baik-baik saja asal Yunho tetap disisinya.
Changmin tersenyum lembut nan tulus. Senyum tulus pertama yang ia tunjukkan untuk Yunho.
Lagi-lagi Changmin mengejutkannya. Sejujurnya Yunho merasa aneh. Ini kali pertama ada yang mempercayainya seperti ini. Baru saja Changmin seolah menyerahkan nasibnya di tangan Yunho. Padahal bukankah orang-orang melihatnya sebagai raja? Beberapa orang yang menjadi pengecualian, tak ada yang dalam posisi seperti Changmin.
Rasanya sangat sulit untuk membayangkan untuk lepas dari ini semua. Melihat senyum tulus Changmin, bibir hatinya ikut melengkung tanpa disadarinya.
Changmin begitu manis saat tersenyum. Bukankah akan lebih baik jika bisa melihat senyuman itu setiap hari dari pada membuatnya menangis? Apakah dia bisa mempertahankan senyuman di wajah lelaki itu?
Yang diminta Changmin hanya agar dirinya selalu disisi Changmin. Bisakah dia mengabulkannya?
"Ah. Itu rumahnya." Rumahnya tidak besar, malah cenderung kecil. Yunho membimbing kudanya. "Permisi..." katanya, mengumumkan kedatangannya.
"Ah! Tuan! Anda sudah datang." kali ini seorang pemuda menyambutnya. Pemuda itu sempat memberi hormat tapi Yunho segera menyuruhnya bangkit. Dia salah satu cucu kandung pengasuhnya.
Yunho menunggu Changmin turun dari kuda sebelum menggenggam tangannya. "Mana halmoni?"
"Beliau ada di dalam. Maklum sudah tua. Tadinya beliau ingin menyambut, tapi tak mau ketahuan kalau beliau sangat antusias. Ah, ini pasti Yang Mulia Permaisuri. Maafkan hamba karena tidak memberi hormat dengan semestinya." Meski demikian, remaja itu membungkuk dalam-dalam.
"Tidak apa-apa." Changmin menggeleng. Sebelah tangannya memberi isyarat tanpa menyentuh, meminta pemuda itu santai saja padanya.
Genggaman hangat ditangannya membuat mood Changmin naik hingga ia bisa tersenyum tipis. Tidak terlihat dipaksakan. Tapi juga tidak diplomatis.
Matanya akhirnya menatap rumah pengasuh Yunho. Kecil... Jauh dari ukuran rumahnya. Apa dulu Yunho tinggal disini?
Changmin semakin mendekatkan tubuhnya ke Yunho. Mulutnya mendekati telinga lelaki disampingnya itu. Berbisik lirih. "Apa dulu Hyung tinggal disini?"
Changmin tak bermaksud bermain rahasia ke pemuda yang menyambut mereka. Ia hanya merasa tak sopan dan aneh jika orang luar mendengar panggilannya ke Yunho. 'Hyung', bukankah itu panggilan yang sama sekali tidak mencerminkan status mereka? Changmin suka, Ayah Yunho suka. Yunho sendiri juga sepertinya suka. Tapi orang lain belum tentukan?
"Begitulah." Walau Changmin berbisik, tetapi Yunho menjawabnya tanpa berbisik. "Dulu lebih bobrok dari ini..." tambahnya.
Pemuda di depannya menambahkan juga. "Semenjak kembali ke istana, tuan terus mengirimkan bahan makanan atau pakaian kesini. Setelah menjadi raja, beliau menyuruh orang untuk memperbaiki rumah ini."
Yunho kurang senang. "Apa boleh buat, kan? Rumah ini terbakar saat pengangkatanku. Ah, sudah! Ayo masuk!"
"Baik... Silahkan tuan." Pemuda itu menatap Changmin dengan senyum yang ganjil, agak kasihan pada Permaisuri karena sebentar lagi harus menghadapi mantan pengasuhnya Yunho.
Changmin menangkap ada yang aneh diobrolan Yunho dengan pemuda itu. Rumah ini pernah... Terbakar?
Tapi melihat Yunho yang tidak ingin mengungkapnya, tentu saja Changmin tak akan mengungkit. Langkah Yunho yang memasuki rumah itu otomatis diikuti Changmin karena tangan mereka saling menggenggam.
Sekilas ia melihat pemuda yang menyambut mereka tersenyum kasihan ke arahnya. Changmin tidak suka.
Saat mata rusanya akhirnya menangkap sosok yang dipastikan pengasuh Yunho dulu, genggaman Changmin mengerat. Ia gugup, apalagi perkataan Yunho diperjalanan tadi.
Changmin tidak berharap pengasuh Yunho menyukainya. Tapi setidaknya, ia tidak ingin memberi kesan buruk. Changmin harap semuanya lancar.
"Halmonie, aku pulang." Yunho mengatakannya keras. Dihadapannya, wanita tua itu duduk membelakanginya. Tak menoleh sama sekali. Yunho tersenyum, pengasuhnya sudah tua, wajar jika kembali bersikap seperti anak kecil.
Yunho duduk dan menarik Changmin untuk duduk disebelahnya. "Halmonie... Yundola sudah pulang."
Tak ada reaksi. "Apa halmonie tidak suka dengan kedatanganku?" Masih tak bergeming.
Jadi kesal juga. Yunho menggelembungkan pipinya sebelum menatap Changmin. Changmin menatapnya bingung.
Dihembuskan semua udara di dalam pipinya hingga tersisa bibirnya yang mengerucut imut saat udara berlebih habis.
Saat Udara dari mulut Yunho berhembus ke wajahnya. Changmin kaget. Bulu-bulu dipori-porinya berdiri semua.
Yunho memeluk Changmin tiba-tiba, wajahnya dibenamkan dibahu istrinya. "Huwweee... Changminie... Halmonie membenciku... Halmonie bahkan tak mau menatapku... TwT"
Pelukan tiba-tiba Yunho membuatnya makin kaget. Tingkah Yunho benar-benar diluar prediksi Changmin. Changmin shock! Terlalu ekspresif. Benar-benar kekanakan melebihi dirinya. Kemana perginya kesan Raja dewasa dan bijaksana yang selama ini disandang suaminya?
Mencoba memikirkannya nanti, Changmin membalas pelukan Yunho. Menepuk-nepuk pelan punggung Yunho. Rengekan sang Raja membuatnya ingin tertawa, tapi ditahannya.
"Hyu—Yang Mulia... Jangan seperti ini, nanti aku menangis..." Suara Changmin sangat lirih dan dibuat sangat menyedihkan. Changmin memang akan menangis kalau Yunho terus bertingkah seperti ini, menangis karena tak kuat menahan tawa.
Pengasuh Yunho sebenarnya agak sensitif dengan yang namanya tangisan. Apalagi jika Yunho yang menangis. Ditambah suara lirih Changmin yang terdengar mau menangis juga.
"Yunho... Jangan menangis... Halmonie tidak pernah membencimu." Pengasuh itu membalikkan badan, bahkan sudah maju untuk menjangkau Yunho dengan tangan keriputnya.
Yunho diam sebelum mengangkat kepalanya, menoleh pada nenek tua itu. Ada senyum jahil disana. "Halmonie kena!"
Melihat itu, jelas saja halmonie membalik badannya lagi. Tapi kali ini Yunho mendekatinya dan menarik-narik lengan bajunya. "Hei... Maafkan aku Halmonie... Tapi bukankah halmonie juga tahu kalau aku tak lagi menangis sejak umurku 7 tahun?" Nenek tua itu masih merutuki kebodohannya yang jatuh dalam tipuan Yunho. "Ayolah... Aku membawa istriku kemari... Halmonie tega mendiamkannya?"
Halmonie menatap Yunho sebelum menengok ke arah Changmin, menilai lelaki itu sebelum memalingkan muka dan memutuskan. "Hamba tidak suka."
Changmin membuka mulutnya tidak percaya. Mereka baru sekali bertemu, dan Pengasuh Yunho sudah bilang tidak suka padanya.
Ia akhirnya hanya meringis kecil karena bingung harus berekspresi seperti apa. Orang yang tidak suka padanya itu banyak, tapi Changmin selalu tak berpikir untuk peduli.
Yunho yang menatap khawatir membuat Changmin tersenyum dan mengatakan 'tidak apa-apa.' tanpa suara.
"Kenapaa?" tanya Yunho merajuk seperti anak kecil. Walau sebenarnya dia tahu apa masalahnya.
"Yang Mulia Raja Sebelumnya menahanmu di istana sejak 15 tahun. Kau baru mengunjungiku 5 tahun setelah menikah. Lalu baru sekarang membawa istri kemari." Nenek tua itu beralasan.
Tapi Yunho tak kehabisan ide. Mantan pengasuhnya ini biasa menuruti keinginannya, kali ini pun harus begitu. "Halmonie tahu bukan kalau banyak yang ingin mengancamku saat menikah? Rumah ini saja sampai dibakar. Aku juga harus meminta orang untuk mengamankan keluarga Halmonie dan Guru sebelum waktu pernikahan."
Pengasuhnya masih saja cemberut, jadi Yunho menambahkan dengan nada lirih. "Mereka bahkan mengancam untuk membunuh halmonie, coba bayangkan betapa istriku ada diposisi yang sama... Orang-orang itu pernah mengancam untuk melukainya." Yunho sebenarnya tak ingin Changmin mendengar ini, jadi suaranya nyaris berbisik.
"Hamba tetap tidak suka..."
"Heiii... Itu bukan salahnya. Aku yang salah karena baru mengajaknya kemari. Halmonie hanya tidak suka karena dia manis bukan?" goda Yunho, perlahan volume suaranya kembali normal.
"Orang yang manis akan membuatmu lupa pada pengasuhmu ini." Pengasuh Yunho di masa kecil itu akhirnya mengemukakan alasan yang sebenarnya sudah diketahui Yunho.
Raja itu tertawa. "Ahaha... Lihat... Lihat... Halmonie mengakui kalau Changmin itu manis bukan? Karena itu halmonie cemburu padanya." Nenek tua itu mukanya memerah menahan malu.
"Hamba tidak cemburu." katanya berusaha menyangkal.
Yunho tersenyum jahil. "Sudah, mengaku sajalah. Sejak dulu Halmonie tidak suka dengan orang yang terlihat manis, kan?"
"Halmonie memang tidak pantas menahanmu. Hamba hanya seorang pengasuh, rakyat jelata rendahan." berusaha menyelamatkan muka walau sebenarnya Yunho tak suka jika pengasuhnya merendah begini.
"Jangan begitu. Halmonie adalah orang yang menggantikan kedua orang tuaku, kasih sayang halmonie lebih besar dari mereka berdua. Wajar jika halmonie khawatir, tapi masa' aku tak boleh menikah? Halmonie takut aku melupakan halmonie? Itu tidak terjadi kok."
"Bukan begitu, Yunho..." Nenek tua itu masih ingin membela diri.
"Kalau begitu halmoni harus menerimanya... Aku tak akan membawanya kesini jika tak yakin, kan?"
Nenek tua itu memandang Changmin sekali lagi. Berpikir sebelum membalikkan badan sepenuhnya. Dia membungkuk pada Changmin. "Maafkan kesombongan hamba, Yang Mulia Permaisuri. Silahkan hukum Nenek tua yang sombong ini."
Yunho tidak menghentikan, hanya tersenyum karena berhasil meyakinkan Pengasuhnya.
Walau nyaris berbisik, Changmin yang berada disamping Yunho tentu saja mendengar. Kepalanya menoleh menatap Yunho, mata bambi itu terpaku pada Suaminya. Yunho... Sudah peduli padanya sebelum perjalanan ini? Yunho yang selama 11 tahun ini terlihat tak mau mendekatinya... memikirkannya? Yunho bahkan mau mengenalkannya pada pengasuhnya sebelum melihat Changmin menangis? Benarkah? Benarkah selama mereka menikah, Yunho sudah menganggapnya Istri?
Changmin tertawa tanpa suara, kenyataan benar-benar memainkan hatinya. Kalau begini terus, Changmin tidak mungkin bisa melepaskan Yunho. Keegoisan pasti memenuhinya, membuatnya meminta bahkan memaksa Yunho untuk membatalkan pengangkatan selir. Tapi... Bolehkah? Changmin merasa kurang yakin setelah malam pertama mereka bertemu di Paviliunnya.
Terlarut pada lamunannya membuat Changmin tersentak kaget saat Pengasuh Yunho membungkuk padanya. Dengan Reflek ia menggenggam bahu rapuh itu, meminta Pengasuh Yunho tidak melakukannya.
"Jangan seperti ini Hal-halmonie." Changmin sedikit kikuk.
"Tak ada yang perlu dihukum. Aku justru senang melihat keakraban Halmonie dengan Yang Mulia. Tak perlu sungkan padaku, panggil saja aku Changmin."
Changmin menatap pengasuh Yunho. Bibirnya tersenyum tipis membuat mata bambinya sedikit menyipit.
Yunho yang melihat itu ikut tersenyum, apalagi melihat mata Changmin menyipit dengan ukuran yang berbeda.
"Ah... Jujur saja saya jadi agak iri, Yang Mulia." Kata pengasuh itu membalas senyum Changmin. "Yunho hanya bertingkah layaknya anak kecil didepan beberapa orang saja. Tapi melihat yang barusan, anda pasti sangat berharga untuk Yunho. Mana mungkin dia bertingkah seperti itu didepan orang yang tidak disukainya." jelas wanita tua itu.
Yunho terbelalak mendengarnya. Segera saja dirinya mengalihkan pandangan dari Changmin, tangannya terangkat ke depan hidung karena reflek hingga menutupi sebagian wajahnya, sayangnya semburat merah di wajahnya mungkin saja sempat terlihat oleh Changmin.
Sebagai orang yang mengasuh Yunho, wanita tua itu tahu banyak tentangnya. Mungkin juga meliputi hal-hal yang tidak disadarinya. Memang Yunho terkadang mengeluarkan jiwa anak kecil dan hanya sedikit yang melihatnya. Orang tua kandungnya saja tak pernah melihatnya. Hojun dan Heechul lah yang terkadang melihatnya. Tapi setelah kedua orang itu melepas masa lajangnya, Yunho tak lagi merasa nyaman untuk membebaskan anak kecil dalam dirinya. Apalagi sampai pura-pura menangis seperti tadi.
Changmin membuka tutup mulutnya. Tak tahu harus berkata apa. Perkataan pengasuh Yunho benar-benar membuatnya shock. Dua orang berharga Yunho telah mengatakan hal yang sama. Ditambah matanya yang sempat melihat wajah malu Yunho. Ini pertama kalinya ia melihat itu.
Telinganya mulai memerah.
"Hal-halmonie tidak perlu iri. Yang Mulia... Yang Mulia..." Changmin bingung harus berkata apa? "Ah T-tapi yang jelas, Aku saja kaget Yang Mulia punya tingkah seperti ini. Biasanya saat kami di Istana, Yang Mulia sangat dewasa dan bijaksana. Aku senang, karena menemui orang-orang berharga bagi Yang Mulia Raja, aku bisa melihat sisi lain suamiku ini."
Changmin kembali tersenyum. Itu jawaban yang cukup memuaskan baginya. Jujur tapi tak mengungkit masalah yang selama ini Pernikahan mereka hadapi.
Orang yang berharga dan disukai ya? Benarkah?
Kalau lantai didepannya terbelah, rasanya Yunho ingin terjun ke dalamnya.
"Dewasa dan bijaksana? Sejak dulu Yunho itu..." Halmonie belum menyelesaikan kata-katanya tetapi Yunho sudah menyela.
"Hal... Halmonie... Yeongdo sudah datang membawa makanan..."
Yeongdo, cucu dari pengasuh Yunho membawa meja kecil berisi teh dan manisan, serta menyelamatkan Yunho yang bingung menutupi rasa malunya.
"Yang Mulia Permaisuri... Anda ingin melihat kamar Yunho?" tawar Halmonie
"Hah?"
Yeongdo mulai menjelaskan, "Saat renovasi, halmonie berkeras untuk mempertahankan kamar Tuan seperti dulu. Bukan hanya letaknya, tetapi juga ukurannya. Bahkan dari kemarin, Halmonie sudah mempersiapkannya."
"Yeongdo!" Halmonie menegurnya. Malu karena ketahuan terlalu antusias akan kedatangan Yunho.
Changmin itu belum pernah melihat kamar Yunho dari satu dekade lebih semenjak mereka menikah. Tentu saja ia mau! Antusias malah.
Apa kamar Yunho seperti kamarnya sewaktu ia belum menikah? Sempit? Luas? Banyak buku? Atau seperti apa?
"Aku mau halmonie, bolehkan Yang Mulia, Aku melihat kamarmu?"
Changmin sangat penasaran. Tapi bagaimanapun, Yunho adalah si pemilik kamar. Suaminya. Izin Yunho tentu yang paling utama, walau pengasuh Yunholah yang menawarkan.
Yunho tersenyum dan jelas saja mengangguk. Baginya tak masalah jika Changmin ingin melihat kamarnya.
.
.
"Silahkan, tuan. Kalau ada yang diperlukan, panggil saja saya." Yeongdo menggeser pintu kamar Yunho hingga tertutup rapat.
"Anak itu... memangnya ini penginapan? Jelas-jelas ini kamarku." Rutuk Yunho kesal. Dia menghela nafas keras. Dua orang dewasa berdiri berdekatan dalam kamar yang sempit, rasanya jadi kurang nyaman.
Kasur sudah digelar juga. Biasanya hanya ada kasur lipat yang sempit untuk 1 orang, tetapi pengecualian hari ini. Halmonie sudah tahu kalau hari ini Yunho membawa Changmin bersamanya.
Yunho langsung berbaring terlentang di atas futon, tanpa sadar bibirnya mendesahkan kelegaan. Kamarnya ini jauh berbeda dengan di istana. Kecil dan sempit. Ada meja untuk baca-tulis, juga rak buku kecil di sudut yang kosong. Sebagian buku dibawanya ke istana, yang lain terbakar 11 tahun lalu.
Kamar sempit ini anehnya terasa lebih nyaman dibanding paviliunnya di istana. Yunho menatap Changmin yang masih berdiri, melihat-lihat kamarnya dengan penuh minat. Padahal tak ada apapun yang menarik di sini. "Maaf... Kamar ini pasti tak sesuai standarmu..." Yunho tahu jika Changmin adalah putra bangsawan. Masa kecilnya lebih berkecukupan dibanding Yunho; pakaian bagus, kamar luas dan hangat, daging untuk makan malam... Kamar sempit begini jelas bukan apa-apa untuknya.
Changmin tak menyangka. Yunho yang dulu seorang Pangeran Mahkota pernah tinggal ditempat sesempit ini. Kamar ini bahkan sangat jauh ukurannya dibanding kamarnya dulu. Tapi anehnya... Changmin tetap merasa nyaman. Kamar ini punya aura manis yang tak terjelaskan.
Ia tak langsung menjawab pertanyaan Yunho. Changmin duduk disamping Yunho yang berbaring. Telapak tangannya menggenggam kecil pinggiran kasur lipat yang ternyata tak cukup tebal.
"Kita akan menginap disini ya Hyung?" Dan lagi bukannya menjawab, Changmin justru membalas pertanyaan Yunho dengan pertanyaan.
Yunho melihat Changmin yang menggenggam ujung kasur lipat. Tipis. Pasti badannya bisa sakit jika semalaman berbaring disini. "Sebentar saja... Tidak semalaman..." Yunho tergoda untuk tidur. "Rasanya jadi mengantuk..." gumamnya.
Matanya perlahan menyipit. Sempat menutup sesaat tapi dibukanya lagi 1 mata. Menahannya untuk tertutup sempurna. "Kau mau tidur juga?"
Changmin mengangguk. Ikut berbaring disamping Yunho dengan mata yang terus menatap wajah mengantuk lelaki disampingnya. Yunho terlihat kelelahan. Tentu saja, selama perjalan ke sini Yunho berjalan kaki sedangkan dirinya naik kuda. Changmin merasa bersalah.
Tangannya terjulur menyentuh kepala Yunho, meminta Yunho menyandarkan kepala ke lengannya.
"Aku memang tak terbiasa tidur ditempat seperti ini hyung. Tapi jangan khawatir, tidur saja. Kalau nanti malam ingin menginap disini, itu juga bukan masalah."
Rasa kantuk Yunho menular padanya, membuat Changmin perlahan memejamkan mata.
To be continued...
Anyeong! Balik lagi ketemu Aku dan Melqbunny di cerita colab kami~
banyak yang nunggu dan suka ceritanya ya? Makasih. Seneng betul kita orang karena kalian :D
Dari kemaren, aku tunggu SMTown selesai dulu, fokus ke uri Changmin.
Dan alangkah bahagianya aku waktu Changmin bilang Tohoshinki akan Lengkap jika diisi oleh Yunho dan Changmin :') two of us! Ini buat aku semangat dan langsung siap post hari ini. Padahal editing covernya belum dapet bahan hahaha. Tapi tadi malah dapet info enlistnya Changmin, jiah langsung lemes dan hampir gak jadi update. Tapi reader-san! U're make me fighting! Hehe thanks~
Cerita ini akan dipost lagi seminggu ke depan~
tapi semuanya tetep tergantung support kalian :D
Pengepostan cerita ini, gak ngaret juga karena review dukungan kalian~ thanks~
Jangan bosan-bosan terus support kami ya :)
Oke, sekarang mau bales review. Seperti biasa, yang punya akun... aku bales lewat pm.
Yang ga punya akun tapi aku kenal orangnya, aku bales lewat medsos.
dan sisanya... halo, ayo kenalan ;;;)
.
Epikbornhater—hahaha make out kemaren imut dan unyu? Duhh jadi malu ;;)
beda dong, yg inikan colab sedangkan yg gumiho itu bukan :P
tenang, jangan pesimis~ nanti tambahin gula biar ada manis-manisnya :D
makasih udah mau nunggu... here, Chap 4 come to u~
semoga suka dan terima kasih buat support di chap 4nya :)
Changru Minru—ugh maaf ya, buat kamu menunggu lama buat kemaren chap 3nya :'
but terima kasih mau menunggu :D
here, chap 4 come to you~ mau ospek? Kyaa fighting!
jadi inget masa-masa dulu hehe.
thanks, we will love u too :':' buat support di chap 3, we really thanksfully~
i hope chap ini gak mengecewakanmu :)
Changdolla—ahh seneng kamu mau bolak-balik ffn buat cerita ini. Terima kasih :':'
Chap kemaren baru gesek mengesek ehehehe~
jangan ah... nanti pada mupeng kalau diikutin ampe kamar mandi :P
aigo, iyaa... kita pasti selalu semangat :) makasih ya buat support manis ini di chap 3~
here, chap 4 come to u~ semoga suka dan tidak mengecewakan :)
Jung Ji Joon—bukan masalah kita update, semuanya karena kamu... salah satu dari bagian supporter yg bikin kami semangat :D
ahh tagih... hahaha yayaya bukan masalah ;;;;)))
sebagian request kamu, kami terima. Silahkan tunggu aja tanggal maennya :)
ahh hadiahnya sugguh hiks hiks napeun TwT cum cum! Huweee *otak mendadak blank*
but, thanks buat support manisnya~ aihh manis banget~
semoga chap 4 yg diupdate ini gak mengecewakanmu yaaa~
Nadya—err ini belum 10 harikan? Hehe aku gak meriksa tanggal~ XD
ah kami memang punya kesibukan masing-masing. Jadi pastinya ff colab ini punya banyak halangan
yang enggak ringan. Dan karenanya, aku harap cerita susah payah ini gak mengecewakan kalian :)
makasih buat supportnya di chap 3~ happy reads for this chap~
Shin min hyo—iyaa, kemaren baru main gesek menggesek ;;))
untuk NC, hmmm sabar ya? Soalnya harus ada prosesnya~ tapi bentar lagi kok :P
ugh karena ini ff colab, aku gak tahu bisa hot atau enggak... tapi aku dan melqbunny berusaha
semaksimal mungkin :)
gak bisa update asap lagi, susah. Thanks buat supportnya di chap 3 :D
here, chap 4 come~ semoga tidak mengecewakan :)
Saya—hihi pantat Changmin~ habisnya tangan Yunhokan tangan yaoi :P
ahh makasih ;) aku sama melqbunny gak nyangka kalo saling gesek ini ternyata
hot dan bikin kamu spot jantung :D
ugh really thnksfully coz u're sweet support~ terus dukung kami yaa~ :)
dan chap 4 ini semoga suka dan tidak mengecewakanmu~
Yunhomin—maaf yaa, ini udah masuk minggu depan kan?
aku harap kamu tetep gak kecewa :) mianhae.
Yuno—ahahaha ada-ada aja~
itu baiknya, tapi kami gak bisa ngabulin... mianhae :)
Jung Chami—mianhae ;) kita gak bisaa ngabulin. Semoga tetep gak kecewa~
Yunmin—mianhae :) gak bisa ngabulin. Harap dimaklumi yaa~
Tae woo—harap maklum ya, aku sama melqbunny gak bisa ngelakuin itu. Mianhaeyo :)
Shimly Jung—jadinya tetep minggu depan, maaf ya :)
Homin lover—chapter ini udah ngasih cluekan? :D
hehe hal lain bersangkut plot akan kejawab di chap depan :)
siipppp~ ini udah dilanjut~ Chap 4 come~ semoga tidak mengecewakan dan suka :D
gak masalah~ ayooo kita sama-sama Fighting!
R—hehe sama-sama~ aku sama melqbunny juga berterima kasih karena udah di support~
ah iya kurang asem, Cuma gesek-menggesek xD
ah here, Chap 4 come~ terima kasih udah mau nunggu dan supportnya di chap 3 :)
Hyena lee—aku berusaha secepat yang aku bisa kok :D
chap ini udah kasih tambahan clue dong~
ahh seneng kalo kamu excited sama cerita ini ;)
here, Chap 4 come to u~ semoga suka dan tidak mengecewakan :)
Shafa Putri—really? Aku sama melqbunny bener-bener tersanjung sama reviewmu ini :)
gak nyangka kalo kamu bisa ngerasa kaya liat drama saeguk langsung hehe~
padahal ga terlalu tahu membernya hmmmm...
thanks, supportmu di chap 3 ini bener-bener manis. Here, Chap 4 come to u~
semoga suka yaaa :))))))
Guest—oke, ini diupdate~
chap 4 come to u~ semoga suka dan tidak mengecewakan~
Thanks for support di chap 3 :)
.
.
Salam HominShipper
Melqbunny & NyoNyo Wiyet
