COMPLICATED

WARNING: Abal-abal, boring & crack pairing

SasuHina – HinaSaso – SasuSaku

Story line – Alila Clairene

Naruto - Masashi Kishimoto

~ Happy Reading ~

.

.

Chapter 4: The Kiss

Kita pernah terikat dalam sebuah takdir

Selamanya pun akan begitu

Itu yang aku percayai

Itu yang membuatku tetap hidup

.

.

Hinata's pov:

Semuanya terjawab dengan jelas lewat debaran ini. Laki-laki pertama yang pernah menjalin hubungan denganku, yang dulu juga aku harapkan jadi yang terakhir, muncul di hadapanku untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir satu tahun ini. Pertemuan yang tak terduga, yang sebenarnya aku tahu akan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja,tetap saja membuatku tidak bisa berpikir jernih. Sekarang pikiranku dipenuhi olehnya –wajahnya, tatapannya, suaranya, aroma tubuhnya, bahkan namanya. Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku saat ini. Saat mata kami betemu kembali setelah beberapa waktu terlewat pun aku masih saja bisa tenggelam di dalamnya. Bahkan saat dia memanggil namaku, aku seketika lupa bahwa kami sudah berpisah. Ya, Hinata.. kau sudah berpisah dan itu yang kalian inginkan saat itu.

'saat itu.'

Sekarang? Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan. Bahkan saat satu sisi hatiku berteriak mengingatkan rasa sakitku, sisi yang lain menolak itu. Aku tahu saat memikirkan antara hati dan pikiran, wanita akan kalah. Mereka akan membuang akal sehat mereka untuk sesuatu yang disebut perasaan. Lalu bagaimana perasaanku? Aku tidak bisa menentukannya. Aku egois, keras kepala, bodoh, dan tidak bisa mengerti perasaanku sendiri. Aku hanya tidak bisa menampik bahwa rasa cintaku padanya masih ada, hanya saja ada banyak perasaan lain, bercampur jadi satu.

Dari awal aku pergi ke Suna, aku sudah memantapkan hati untuk menghapusnya dari hidupku. Menuruti kemauan Matsuri untuk ikut kencan buta dan sebagainya, tapi aku tidak pernah bisa. Satu alasan yang aku sadari adalah setiap kali melihat mereka, aku tanpa sengaja membandingkan mereka dengannya, dan tentu saja mereka berbeda karena mereka bukan dia. Aku mencari sosoknya dalam diri mereka, mencarinya pada orang lain. Gila, aku tahu itu.

Di sisi lain, setiap kali aku mengingatnya, aku seketika juga mengingat janji-janji yang dulu pernah terucap. Janji yang tak pernah terlaksana. Pada akhirnya semua yang terucap hanya sebuah omong kosong karena dia tidak bisa membuktikannya. Padahal sejak awal aku tak pernah menuntut, dia yang berjanji dan saat dia tidak bisa menepatinya ak-

"Hinata?"

"Y-ya?"

Sasori menyadarkan aku dari perdebatan pikiranku. Dapat aku lihat wajahnya yang terlihat sangat khawatir.

"Kau mengabaikanku dari tadi. Kau marah karena kejadian tadi?"

Aku menggeleng pelan dan bisa aku rasakan dia menggenggam tanganku. Aku seperti tidak punya tenaga hanya untuk melepas genggaman tangannya. Aku hanya ingin segera pulang dan bersembunyi di bawah selimutku. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa naik taksi dengan pria berambut merah ini.

"Tapi aku serius.."

"Hm?"

"Kau mau jadi pacarku?"

.

.

.

Sasuke's pov:

Bagaimana aku menyelesaikan semua ini? Sepertinya aku sudah mencapai batas. Tapi aku belum melakukan apa-apa sejauh ini. Bahkan saat dia sudah ada tepat di depanku, lidahku kelu dan tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan sejak dulu. Tapi ada perasaan lega dalam hatiku, setidaknya dia ada di Konoha saat ini. Entah kenapa aku merasa bahwa akan ada yang berubah. Aku dan dia pernah terikat dalam sebuah takdir dan aku percaya selamanya akan seperti itu. Dia hanya milikku dan aku hidup untuknya. Aku akan mendapatkan dia kembali meski harus membuang harga diriku.

"Sasukee, aku pulang!"

Aku membuka mataku, melirik gadis bersurai merah muda yang sedang berjalan ke arahku. Haruno Sakura, gadis yang akan aku nikahi. Otou-san memang gila sampai memintaku menikahi Sakura. Dia bahkan tahu sebenarnya pernikahanku dengan Sakura dilarang. Penolakanku bagai tak berarti di mata pria tua itu. Aku bersumpah akan membencinya seumur hidupku jika pernikahan kami benar-benar terlaksana.

"Sasuke kenapa mengacuhkanku?" Gadis itu duduk bersila di sebelahku yang sedang menyandarkan tubuhku ke sofa.

"Aku lelah." Aku tidak membencinya, aku menyayanginya seperti adikku sendiri. Dan perasaan itu tidak pernah berubah, tidak akan. Aku tidak pernah menyukai Sakura seperti seorang pria ke wanita. Satu-satunya wanita yang aku cintai hanya Hinata.

"Em.. apa kau masih punya foto-foto kita dulu? Aku ingin membuat sesuatu."

"Ya, di laptop. Ambil saja, aku mau tidur."

Aku meninggalkannya sendiri di ruang tamu apartemenku. Dia memang meminta untuk tinggal bersamaku selama di Konoha, tapi tentu saja tidak satu kamar. Aku menyediakan kamar sendiri untuknya. Dia cukup senang dengan itu. Aku tahu dia menyukaiku sejak dulu tapi aku tidak pernah membalas perasaannya. Kalaupun tidak ada Hinata, aku tidak akan memilih dia.

Aku membaringkan tubuhku ke ranjang, menatap langit-langit apartemenku sejenak lalu mencoba terlelap. Seperti biasa, aku selalu melihatnya dalam bayangku. Bahkan kejadian tadi sore terlintas dalam pikiranku, di mana aku bisa menatap lavendernya yang indah sekali lagi dan..

"Sial."

Umpatku tiba-tiba sejalan dengan kejadian di mana pria itu menarik Hinata terbayang dipikiranku. Kenapa Hinata tidak menolak? Pacar? Dia pasti bercanda.

.

.

.

Dahi Sakura mengerut saat dia menemukan sebuah folder, dalam laptop Sasuke, yang diberi password.

'H.H'

"Apa ini? Kenapa harus diberi password? Hyuuga Hinata haha." Sakura tertawa kecil setelah menghubung-hubungkan nama folder itu dengan nama Hinata, gadis yang beberapa hari yang lalu dia temui – sore ini juga.

"Ah aku jadi penasaran, apa Sasuke pernah berpacaran selama berpisah denganku? Aku harus mendekati teman-teman kuliahnya dan mencari tahu semuanya."

Sakura melanjutkan kegiatannya dengan laptop Sasuke, mencari foto-foto masa kecil mereka. Sasuke dan Sakura memang sudah bersama sejak bayi. Sakura yang ditinggalkan kedua orang tuanya sejak masih bayi itu akhirnya diasuh oleh keluarga Uchiha. Orang tuanya meninggal setelah mengalami kecelakaan mobil dan hanya Sakura yang selamat dari kecelakaan itu. Di saat-saat terakhir sebelum ayah Sakura meninggal itulah, Fugaku, ayah Sasuke sekaligus sahabat ayah Sakura, membuat sebuah janji yang pada akhirnya berimbas pada kehidupan Sasuke sekarang. Dan satu hal yang membuat Mikoto menolak pernikahan Sasuke dengan Sakura bukanlah karena Mikoto tidak menyukai Sakura, tapi karena sewaktu Sakura bayi, Mikoto lah yang menyusui Sakura. Secara tidak langsung Sasuke dan Sakura adalah seorang saudara. Sakura sangat mengetahui hal itu, tetapi perasaannya pada Sasuke membutakan segalanya dan dia tahu Sasuke tak akan bisa menang melawannya.

"Kalau diingat-ingat, aku pindah ke New York setelah lulus SMA. Berarti aku berpisah dengan Sasuke selama... delapan tahun? Serius?" Sakura berbicara sendiri di depan laptop Sasuke saat dia melihat sebuah foto di mana foto itu diambil di bandara tepat di hari Sakura akan berangkat ke New York.

"Ah, jadi ingat si bodoh Naruto. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sudah melupakanku?" Sakura tertawa kecil saat mengingat bagaimana Naruto dulu mengejar-ngejar Sakura semasa SMA. Tapi seperti Sasuke yang tidak pernah menerima Sakura, Sakura sendiri tidak pernah menerima Naruto.

.

.

.

"Sasori-san, terima kasih atas hari ini."

"Hm? Aku tidak melakukan apa-apa." Hinata memukul pelan lengan Sasori.

"Kau sangat membantu hari ini."

"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Hinata."

Hinata mengalihkan pandangannya dari Sasori dan Sasori sadar akan hal itu. Dia memutuskan untuk membiarkan Hinata pergi hari ini.

"Aku akan menunggu. Seminggu? Dua minggu?"

"...Entahlah. Aku tidak pernah memikirkan akan-"

"Kau tahu, Hinata? Salah satu cara melupakan cinta yang lama adalah dengan mencari cinta yang baru."

"..." Hinata terdiam mendengar hal itu dari Sasori.

"Ya, intinya aku akan menunggu. Aku pergi dulu."

Sejalan dengan kepergian Sasori, Hinata menghembuskan nafasnya berat. Dia segera masuk ke dalam rumah dan merendam dirinya dalam air hangat.

Uap hangat memenuhi kamar mandinya. Hinata sedang menutup matanya sambil menikmati air hangat yang beberapa waktu lalu di siapkan oleh Hanabi. Rambut panjangnya dia biarkan terurai, basah oleh air. Dia menghembuskan nafas berat berkali-kali, mencoba untuk mengurangi emosi yang berkecamuk dalam hatinya. Pikirannya melayang pada Sasori, pria dari Suna yang sengaja datang ke Konoha hari ini hanya untuk melihat Hinata. Ditambah beberapa waktu yang lalu pria itu mengajaknya berpacaran. Lalu bayangan masa lalunya muncul kembali. Sosok yang bagai racun dalam kehidupannya memenuhi pikirannya sekali lagi. Dia teringat bagaimana pria itu menatapnya tadi sore. Dia tidak ingin salah menyimpulkan arti tatapan itu. Hanya saja..

"Apa dia masih mencintaiku?" gumam Hinata tanpa sadar. Dia segera membuka matanya, menepuk-nepuk kedua pipinya sampai merah. Hinata memasukkan kepalanya dalam air dan berteriak di dalamnya.

'Salah satu cara melupakan cinta yang lama adalah dengan mencari cinta yang baru.'

"Bagaimana bisa aku mencari cinta yang baru saat cintaku pada orang itu selalu terbaha- AAAAAAA."

Dan kali ini dia benar-benar teriak dari dalam kamar mandi saat dia sadar dia telah mengucapkan sesuatu yang konyol dan tidak masuk akal .

"NEE-CHAN KAU KENAPA?"

.

.

.

Kebosanan yang melanda Sakura saat Sasuke selalu meninggalkannya untuk bekerja mendorongnya untuk melakukan perawatan tubuh di salah satu salon kecantikan yang terkenal di Konoha. Dia bersumpah akan menghabisakan uang Sasuke jika Sasuke terus-terusan fokus pada pekerjaannya.

'YAMANAKA'

Sakura melangkahkan kakinya memasuki salon itu dengan wajah masam yang sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Ino, pemilik salon tersebut menyambut langsung kedatangan Sakura.

"Selamat datang, Sakura."

"Akhirnya kita bertemu."

Mereka berpelukan ringan sebagai bentuk rasa bahagia mereka setelah akhirnya bisa bertemu secara langsung. Ino dan Sakura sering melakukan obrolan melalui email mengenai fashion di New York. Jadi tidak heran bila mereka mengenal satu sama lain.

"Aku akan memberikan perawatan spesial untukmu, Sakura."

"Waaa, arigatou."

Sakura mengikuti Ino yang berjalan menuju sebuah ruang spa eksklusif. Sakura melihatnya dengan mata berbinar karena sebenarnya dia adalah maniak spa dan perawatan kecantikan yang lain dan Ino pun sudah mengetahui hal ini.

Ino mulai menyiapkan peralatannya dan Sakura sedang merilekskan tubuhnya.

"Ah aku dengar kau akan menikah?"

"Ya, mungkin dua bulan atau tiga bulan lagi. Aku ke sini untuk mempersiapkannya."

"Baju pengantin?"

"Sudah jadi haha"

"Kau serius? Tidak takut tubuhmu melar di hari H?"

"Kau bercanda? Tubuhku bisa menuruti semua kemauanku. Kau lupa?"

Ino hanya meringis sambil memegangi perutnya yang gampang berlemak itu.

"Siapa pangeran yang bisa menggaetmu itu?"

"Pangeran ice Universitas Konoha, senpaimu, Uchiha Sasuke."

Ino tertawa mendengar ucapan Sakura barusan. Dia mengira Sakura bercanda tentang apa yang dia ucapkan. Tapi dia berubah menjadi serius saat melihat wajah Sakura yang menajam.

"Katakan kau bercanda."

"Aku serius. Kenapa kau tidak percaya?"

"Bukan begit-"

"Apa aku tidak cukup cantik untuk bersanding dengan Sasuke?"

Ino menggigit ujung jari manisnya, takut dia akan menghancurkan 'pertemanan' mereka jika salah bicara.

"A-ah, aku kira.. dia masih berpacaran dengan gadis itu."

Dapat Ino lihat raut muka Sakura menegang mendengar apa yang ia katakan barusan, seakan ingin meminta penjelasan lebih.

"Kau tidak tahu bagaimana tergila-gilanya Sasuke kepada gadis itu?"

"..."

"Mereka seperti tidak bisa dipisahkan dan Sasuke lah yang pertama menembak gadis itu di koridor kampus."

Sakura tiba-tiba menggebrak sofa yang dia dia tiduri.

"Kau dari tadi bicara gadis itu gadis itu! Memang siapa dia!"

"Em.. dia adik tingkat kami saat itu. Dan... Sasuke... pangeran ice itu... menembak Hinata tidak lama setelah mereka saling mengenal."

DEG

"H-hina-ta?"

"Y-ya, Hyuuga Hinata namanya."

"Brengsek."

"Sakura tenang, kalau kau akan menikah dengan Sasuke bukannya itu berarti mereka sudah putus?"

Ino mendekati Sakura dan menenangkannya. Untungnya amarah Sakura sangat gampang reda jika mendengar pernikahannya dengan Sasuke. Sakura sendiri masih merasa gelisah saat pikirannya kembali pada folder H.H di laptop Sasuke kemarin. Seakan dia masih ada keraguan tentang putusnya hubungan mereka. Dia bertekad akan mengulik semua informasi mengenai hubungan calon suaminya tersebut karena dia tidak mau pernikahannya gagal hanya karena seorang Hinata.

.

.

.

Sasuke berjalan cepat di koridor rumah sakit Konoha. Wajahnya terlihat tegang dan tangannya mengepal seakan menahan perasaannya. Sebelumnya dia berada di kantor saat sebuah telepon masuk ke handphonenya, dari Tsunade, yang mengatakan bahwa Itachi dilarikan di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, saat itu Sasuke dengan segera meraih kunci mobilnya dan bergegas ke rumah sakit. Dia berhenti di sebuah kamar bernomor 12 dan saat dia hendak membuka pintu putih di depannya itu, pintu itu terbuka dari dalam dan seseorang yang tidak dia duga muncul di hadapannya.

"H-hina..ta?"

Selama beberapa detik mereka hanya saling menatap dalam diam seakan semua kata menguap begitu saja.

"I-Itachi kun ada di dalam. Permisi." Hinata bicara sambil menundukkan kepalanya dan mengambil langkah untuk melewati Sasuke yang berdiri diam di depan pintu.

SREK

Lengan kecil Hinata ditahan dengan segera oleh tangan Sasuke. Mereka bertatapan sekali lagi, tapi kali ini dengan sorot yang sama-sama menajam.

"Lepaskan aku S-sasuke." Lidah Hinata seakan kaku untuk mengucap nama itu.

"Jangan pergi."

DEG

Nafas Hinata terasa sangat berat setelah mendengar itu.

"Harusnya kau katakan itu sejak dulu. Lepas!" Hinata memekik tertahan mencoba melepaskan cengkraman Sasuke. Tapi tentu saja Sasuke jauh lebih kuat darinya.

"Aku mohon tunggu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu."

"T-tidak ada yang har-"

"Ada. Kau tahu kita harus bicara."

"Sasuke lep-"

Mata Hinata membulat kaget saat tiba-taba dia merasakan ciuman singkat di sudut bibirnya.

"Tunggu sebentar saja. Jangan pergi."

Sasuke memasuki ruangan itu dan meninggalkan Hinata yang terduduk lemas di depan kamar inap Itachi.

"S-sasuke brengsek." Gumam Hinata pelan sambil bangkit dari duduknya dan berjalan dengan lemas meninggalkan ruangan itu.

Tanpa Hinata ataupun Sasuke sadari, sepasang mata milik seorang gadis musim semi menangkap semua yang terjadi barusan. Dari Sasuke yang menahan Hinata sampai kecupan singkat itu, dia melihat semuanya dari di ujung koridor. Matanya memerah dan tangannya mencengkram ujung rok mininya dengan erat.

"Aku membutuhkan Sasuke. Aku akan selalu bersamanya mulai saat ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku." Ucapnya seakan mengulang apa yang dia ucapkan pada Mikoto kemarin sore.

Sakura meninggalkan tempat dia berdiri dan berlari menjauhi ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian Sasuke yang telah mengetahui keadaan Itachi keluar dari ruangan itu dan benar saja apa yang dia pikirkan beberapa waktu yang lalu, Hinata sudah tidak ada di sana. Sasuke hanya tersenyum masam dan berlalu dari tempat itu.

"Kau memang seorang brengsek, Uchiha Sasuke."

Sasuke menangkap pria bersurai merah yang dia temui beberapa waktu yang lalu itu sedang berjalan ke arahnya. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat dia berdiri, pria dari Suna itu menghentikan langkahnya, menyeringai tipis kepada Sasuke.

"Mau apa kau?"

"Aku hanya ingin memperjelas satu hal, Uchiha."

"..."

"Kau sudah melepasnya, maka buat apa kau raih lagi? Memalukan."

Sasuke tidak mengubah raut wajahnya sama sekali. Dia malah melanjutkan langkahnya, melewati Sasori.

"Aku rela melepas harga diriku jika itu bisa membuat dia kembali. Jangan khawatir."

.

.

.

Kalau masa itu bisa ku raih kembali,

...Pertanyaanku masih sama, Hinata.

Dengan memberimu harga diriku,

...masih pantaskah aku memilikimu sekali lagi?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

I'll not be able to continue this fanfic next week. So, as my apologies, I give u this new chapter faster than it has to be LOL Well, in this chapter, I just wanna describe how complicated a woman's feeling is, hope u can understand it u,u

And I'm so sorry bc the side story of SasuHina can't be posted soon, bc the doc itself is gone, somewhere, somehow TwT)/ srsly. *author abal*

Preview next chapter:

Naruto memeluk tubuh basah Sakura, gadis yang tidak bisa dia lupakan, dan membiarkan Sakura membasahi pundaknya dengan air mata. "Naruto, kalau kau benar-benar mencintaiku, maka bantu aku."/Kau berani mendekatiku lagi di saat kau akan menikah dengan wanita lain?/Sejenius apapun Uchiha Sasuke, dia tetap bodoh dalam hal percintaan.

Can u imagine that? xD

Sooo, yap~ Mind to give a review?