Chapter 4
Title : sorcary fortunes in the different woods
Author: Hyo
Cast: Donghae, Ryeowook, Kyuhyun, Eunhyuk, Yesung, Sungmin, Leeteuk, Kangin, Siwon, Hanggeng, Heechull and other
Pair: Eunhae/Hyukhae (always be this couple),slight Yewook, Kyumin
Genree: fantasy (full), romance, angst, school life
Rate: T
Disclaimer: ide cerita dari otak author sendiri, jika ada kesammaan alur, mungkin dikarenakan ide yang kebetulan sama, difanfiction ini saya Cuma pinjam nama, semua pemain milik mereka sendiri dan tuhan yang maha esa.
Sunmarry: sebuah ramalan dari seorang menantu kelaurga Kim yang sangat dipercaya oleh setiap keluarga, melihat tiga anak manusia yang memasuki dunia yang berbeda karena tiga ekor rubah siluman, dimana terdapat mahluk-mahluk ajaib didalamnya, penyihir, monster, siluman, dan mahluk mistis lainnya seakan menjadi kenyataan disana, ketiganya mendapat ramalan dari orang yang sama, namun satu orang mendapatkan sebuah ramalan kematian dari sang bulan biru dan harus mengorabankan satu orang, bagaimanapun ketiganya punya kehidupan, dan mereka harus kembali kedunianya yang sebenarnya bersama.
Warning!: YAOI, TYPO bertebaran, mungkin ada beberapa bagian alur yang diluar nalar, jadi bagi yang tidak suka disarankan untuk tidak memaksa membaca.
n/a: author agak egois buat couple Eunhae, tapi author usaha'in biar couple lainnya juga bisa sama ukuran kayak Eunhae, hehe... mian eoh.
Gumawosomimnida! Selamat membaca!
Kyuhyun terus menyusuri setiap inci hutan mencari keberadaan hyungnya yang tak kunjung ia temukan, ada perasaan takut luar biasa dalam hatinya, cahaya merah tak henti-hentinya berusaha ia keluarkan untuk sedekar mengetahui dimana hyungnya sekarang, namun hanya hasil nihil yang ia dapatkan.
"hyung dimana kau? Kumohon munculah meski hanya sehelai rambutmu".
Wush...
Sring!
Dalam selang waktu yang singkat Kyuhyun langsung merubah wujudnya menjadi siluman kala mendengar desiran angin halus yang menerpa kulit pucatnya, diperhatikannya seluruh daerah sekitar, diwaktu itu juga kukunya meruncing memanjang, uratnya tercetak jelas dikulitnya, namja tampan itu terlihat sangat mengerikan dengan keadaan seperti itu, belum lagi bajunya yang kotor masih terdapat bercak darah disana.
" ini… Eoma? Ada yang lain juga... tapi bukan hyungku atau aboeji...".
"kau pintar untuk seekor rubah yang masih muda".
Kyuhyun membalikkan badannya, matanya terbelalak mendapati seorang namja cantik yang sedang menyeringai tajam padanya, namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan seorang namja lain yang diseret oleh namja cantik itu, yang tak lain adalah eoma angkatnya.
"kau lagi?".
"hmm, ketemu lagi! Wahh... kalau melihatmu dari Keluarga Cho, mereka semua punya wajah yang tampan dan keren, mereka juga padai, pantas saja banyak keturunan klan itu yang menjadi anggota penting dalam tata urusan kepemimpinan kalian… para rubah menjijikan! Aku heran kenapa kalian begitu diincar oleh para witch dan warlock itu?".
"tutup mulutmu brengsek! Sekali lagi kau rendahkan golonganku, kau tidak akan melihat kakimu menginjakkan tanah lagi".
"kau yakin? Apa yang bisa kau lakukan huh? Lihatlah! Aku mungkin bisa melakukan sesuatu terlebih dahulu pada namja ini atau... hyungmu disana!".
Namja cantik itu menarik jubah Leeteuk paksa hingga sejajar dengannya, membuat Leeteuk terlihat digantung karena ia hanya diam tak berkutik, dan satu tangannya lagi menunjuk kearah samping, menunjukkan sebuah bukit kecil dengan namja yang menekuk lututnya sembari menenggelamkan kepalanya diantara kakinya, dibelakangnya seekor kucing hutan yang seukuran dengannya mengendap-ngendap kearahnya.
Kyuhyun membulatkan matanya, ia kenal jelas siapa namja itu, seseorang yang sendari tadi ia cari, kini terlihat menangis, meski ia tau orang menangis bukan karena takut pada kucing itu.
"Jangan sakiti mereka!".
"waeyo? kenapa kau membela mereka? mereka dari klan rendahan kau tau? Untuk yang disini, didepan matamu, klan Park, jumlah mereka tak sebanding dengan beberapa Klan lainnya,terkadang mereka tidak disukai karena hanya membaca masa depan buruk bagi rubah lainnya, meski tidak semuanya, dan yang disana, seorang rubah kotor dari klan Lee, mereka memiliki keturunan yag memiliki wujud yang indah dengan tubuh dominan putih bersih, namun begitu tidak disukai dan diasingkan oleh keluarga yang lain, tubuhnya mereka indah namun kemampuan mereka yang sulit mereka kendalikan dan membuat rubah dari klan lain harus tekena kutukan mengerikan dari mereka, padahal mereka tak melakukan kesalahan apapun, sebuah klan yang begitu kotor, sebuah klan yang harus dihilangkan! Sebuah keluarga yang tidak pantas bahkan hanya untuk mendapat sebuah kata sayang dari orang lain! Sebuah klan yang..".
"Jaga bicaramu BAJINGAN! Apa yang kau tau tentang keluarga golongan kami? berhenti bicara dan lepaskan mereka!".
"waeyo? Bukankah ucapanku benar? Hyugmu lahir dibulan purnama biru, namun sayangnya dia bukan membawa keberuntungan, sebaliknya dia membawa maut bagi setiap orang yang mencintainya, dia hanya menjadi beban bagimu dan hyung keduamu, dia yang harusnya bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga hyungmu, bukan malah hanya diam dirumah dengan menunggumu dan hyungmu untuk mencari buruan, apa yang dia lakukan? Hanya diam sembari menikmati hasil kerja kerasmu, dia sangat tidak berguna...". Tanpa memperdulikan ucapan Kyuhyun, namja cantik itu kembali meneruskan ucapannya, hingga dikalimat terakhirnya sebuah nada menghina begitu jelas keluar dari mulutnya.
"kau akan menemui ajalmu sekarang juga brengsek!".
Brak!.
Kyuhyun yang sudah kelewat emosi langsung menyerang namja cantik itu, namun serangannya meleset karena namja cantik itu menghilang begitu saja, mengenai sebuah pohon berukuran besar hingga membuat pohon itu tumbang.
"sayang sekali, kau harus lebih cepat untuk menyerangku".
"huh?".
"minezasolwinero".
Diluar dugaan, Kyuhyun yang hendak membalikkan badannya, namun sayang, sebuah pukulan cukup keras mengenai punggungnya, ia tak terlempar atau-pun terpental, ia diam begitu saja ditempatnya dengan cahaya hijau yang mengelilinginya.
"sudahlah, jangan buang-buang tenagamu, kau ikut aku ya? tenang kau tak sendirian, aku juga akan membawa eomamu denganku, kita akan memeberi sebuah kejutan bagi dua hyung tercintamu, cha! Kajja!".
Cahaya itu lengsung memasuki tubuh Kyuhyun, saat itu juga tatapannya kosong, tanpa arti apapun, Leeteuk yang masih dalam keadaan sadar membelalalakkan matanya, ia menggeleng lemas, sembari menarik jubah namja cantik itu memintanya untuk mengembalikan Kyuhyun seperti semula, namun tak digubris sama sekali, justru ia kembali diseret paksa dan membawa Leeteuk pergi dari sana dengan Kyuhyun tentunya.
_#!#Fortune!#!_
Eunhyuk berlari menyususri hutan mencari keberadaan Donghae, dipikirannya hanya keberadaan Donghae dan ucapan Ryeowook beberapa waktu lalu yang berputar-putar dikepalanya.
"ada yang ingin kukatakan padamu".
"mbwoya?".
"jika kau benar-benar menyukainya, tolong tetaplah disisinya, aku tau mungkin ini egois, tapi setidaknya berilah hyungku harapan kalau ia juga punya arti dimata orang lain".
"maksudmu?".
" ia pernah membuat seekor rubah tak bisa kembali kewujud semula dan harus kehilangan kemampuannya karena tak sengaja melemparkan sihirnya pada rubah itu, dia begitu dijauhi, bahkan Kyuhyun juga menjauhinya kala bertemu dengannya, ia pernah jatuh cinta pada seorang manusia dari waktu yang lain, karena takdirnya, manusia itu harus kehilangan nyawanya, hyungku tidak tau berbuat apa, manusia itu harus kehilangan nyawanya ditempat yang sebenarnya tidak ada didunia kalian, dia sangat takut pada manusia, bahkan ia takut pada kami karena mungkin ia akan menyakiti kami".
"lalu kenapa dia tidak menolak saat kudekati?".
"kau mirip dengan manusia itu".
"mi-mirip?".
"aku dan Kyuhyun terkejut bukan main saat melihatmu, namun kami berusaha menutupinya dengan bersikap biasa, dan hyungku? Dia merindukannya, ia ingin dekat denganmu, dengan orang yang dulu pernah ia cintai, meski...".
"meski?".
"meskipun ia harus menjauhimu, sebenarnya tanpa kau beri tahu kalau kau mendapat ramalan itu, ia sudah tau sebelumnya, bahkan mungkin bukan hanya kau dua temanmu-pun bisa saja dijauhinya, tapi Hyuk, bisakah kau... meski ini mungkin akan berbahaya, tolong tetaplah ada didekatnya".
"dia tidak berbahaya Wookie, dia hyungmu".
"aku tau itu, eumm… Hyuk tolong jadilah pundaknya, ini bukan perintah, namun permintaan dariku".
"tapi kau tau sendiri, aku bukan orang yang sama yang pernah ia cintai dulu, mungkin wajah kami sama, tapi bagaimana jika aku tidak mencintainya? Kau mau memaksaku melakukannya?".
"aniyo, aku tidak akan memaksamu, tapi tolong lakukan ini untuk hyungku, kumohon".
"baiklah, aku akan berusaha melakukannya".
Eunhyuk terus memperhatikan sekelilingnya, mengikuti arah kakinya melangkah, hingga manik matanya menangkap seseorang yang tengah terduduk menanggelamkan kepalanya diantara lutut kakinya, ia melangkah pelan mendekatinya, hingga kini berada dibelakang orang itu.
"apa kau kira semua akan selesai dengan begini?".
orang itu berbalik menatap Eunhyuk, wajah polosnya terlihat bingung, dengan bibir bawah yang dia lumat sendiri, membuat Eunhyuk tertawa sendiri melihat tingkahnya.
"apa yang kau lakukan disini?".
"menemuimu".
"bodoh, kenapa disini? Kau bisa dalam bahaya tau!".
"siapa peduli? toh kau juga tidak berbahaya".
"aku peduli, aku peduli padamu, aku tak ingin teman-temanmu pulang tanpamu".
"kenapa?".
"huh?".
Eunhyuk tak menjawab, ia melangkah mendekati namja manis itu dan duduk disampingnya, sembari memasangkan senyum gummynya, Donghae tak berkutik, tak ada niat dihatinya untuk mengusir namja didekatnya ini, ia hanya memperhatikan setiap gerakan Eunhyuk tanpa melontarkan kata-kata untuk membuat namja tampan itu pergi.
"jawab pertanyaanku tadi".
"yang mana?".
"kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau tak ingin teman-temanku pulang tanpaku?".
"oh, i-itu…seseorang pernah mengalami hal yang sama denganmu, dia tak memperdulikan keselamatannya dan akhirnya harus kehilangan nyawanya disini".
"aku yakin itu memang pilihannya".
"huh?".
"kau tau, jika aku jadi dia aku-pun akan melakukan hal yang sama, aku akan lebih memilih dalam bahaya, dibanding menjauhimu dan hanya diam saja".
"kenapa kau keras kepala sekali?".
"kalau begitu jangan suruh aku menjauhimu, ara!". Eunhyuk tersenyum hangat kearah Donghae yang memaang wajah tak percaya kearahnya sembari mengusap surai namja manis itu lembut.
"a-aku... ju-juga tak ingin melakukannya...".
Eunhyuk mengeriyitkan dahinya, diperhatikannya namja manis disampingnya yang kini sedang menundukkan kepalanya, dua tangannya meremas rumput yang sedang ia duduki, namja tampan itu tersenyum diangkatnya dagu Donghae, dapat ia lihat jejak air mata dipipi bersih itu, diusapnya pelan sembari menangkup wajah Donghae.
"jangan melakukannya kalau begitu".
"tapi...".
"kau tidak dengar ucapan Ryeowook tadi? Kalian akan cari cara untuk melindungiku, iya-kan?".
"ta-tapi... bisakah?".
"asal kau yakin, semua akan baik-baik saja".
"aku takut...".
Grepp..
Eunhyuk tak memperdulikan semua ucapan Donghae, ditariknya namja manis itu kepelukannya, mengelus punggung Donghae lembut, seakan tak ingin namja disampingnya ini terluka.
"tak ada yang harus kau takutkan asal kau yakin… semua akan baik-baik saja".
"akan kucoba sebisaku…".
Donghae melepaskan pelukannya, senyum manis terpasang diwajah cantiknya meski ada keraguan dimanik matanya.
Eunhyuk mendekatkan wajahnya pada Donghae, Donghae yang mengerti maksud Eunhyuk dengan ragu menutup matanya, hingga ia rasakan sentuhan lembut mengenai bibirnya, menyesap bibirnya pelan, ciuman lembut berjalan beberapa saat, setelah Donghae yang tanpa aba-aba langsung menarik dirinya.
"waeyo? Ada masalah?". Eunhyuk memasangkan wajah kesalnya saat Donghae melepas ciumannya kala ia menikmatinya, jujur saja dalam hatinya kalau ia ingin menaikkan level ciumannya jika saja Donghae mau sedikit lebih lama berciumannya -_-.
"K-Kyuhyun... Leeteuk eoma...".
"ada apa dengan mereka?".
"aku tak bisa merasakan keberadaannya"
Donghae dan Eunhyuk berlari menyusuri hutan, Donghae mencari kesegala arah dengan pikiran yang kacau, ia ingin kembali melangkah namun jika bukan karena tangannya yang ditahan Eunhyuk.
"ada apa?".
"kapan pohon itu tumbang?".
Donghae mengikuti arah jari Eunhyuk, didapatinya sedikit jauh dari tempatnya berdiri, sebuah pohon berukuran sedang tumbang dengan beberapa ceceran serpihan kayu dimana-mana, ia melangkahkan kakinya lebih mendekat kesana, rautnya seketika berubah takut begitu mengeinjak salah satu serpiha kayu ditempat itu.
"Kyu... mianheyo...".
"apa yang terjadi dengan Kyuhyun?". Eunhyuk yang tak mengerti dengan ucapan Donghae, menatap namja manis yang terlihat khawatir itu bingung.
"Kyuhyun dia... aku tak bisa mengetahui keberadaannya, ada sihir hitam yang mengikatnya dan juga eoma, aku kehilangan mereka".
"tenanglah, kita akan cari mereka, okey?". Eunhyuk menahan pundak namja manis itu agar tetap bisa berfikir jernih, bisa dilihatnya namja yang sempat kebingungan ini mulai diam, namun tak selang lama raut wajahnya berubah menjadi ketakutan kembali dengan nafas yang sedikit tak beraturan, dua kali lipat dari yang sebelumnya.
"Ryeowook! Kita pulang sekarang, dia pasti merasakan hal yang sama".
"tapi bukankah lebih penting mencari saengmu?".
"tidak, aku tak bisa mencari Kyuhyun dalam keadaan begini, jika Ryeowook menyadarinya... dia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri, harus ada yang menangkannya atau dia akan melukai seseorang".
"MBWO?".
_#!#Fortune!#!_
Brak!
Donghae membuka pintu rumahnya kasar, Sungmin yang duduk diruang tamu hanya memperhatikan Donghae dengan raut bingung sekaligus terkejut.
"dimana Ryeowook?!".
"di-dia.. pergi kerumah smchonnya dengan Yesung".
"bagaimana keadannya tadi?".
"dia tidak apa-apa, hanya saja tiba-tiba dia terlihat khawatir….. eumm, kenapa kau tanya tentang hal itu?".
"kalian ikut aku!".
Donghae segera berlari meninggalkan rumah diikuti dua namja dibelakangnya, pikirannya benar-benar sulit dikendalikan, bahkan ia sempat hampir terjatuh jika bukan karena Sungmin yang menahannnya.
setelah sekiranya ruamah aboejinya terlihat, tanpa memperdulikan keadaanya, Donghae segera memasuki rumah yang sudah dalam keadaan terbuka itu.
"Ryeowook! Abeoji!".
Donghae mengatur nafasnya, dilihatnya sang saeng yang kini gemetar ketakutan dipelukan Yesung, ditambah aboejinya yang kini tergeletak dilantai.
"Wookie.. gwe-gwencana?". Dengan gemetar Donghae mengelus rambut Ryeowook, air matanya menetes melihat keadaan adiknya yang kini tak berdaya ketakutan, namun ia bersyukur setidaknya ada seseorang yang bisa menenangkan adiknya, yang kini memberi kehangatan bagi Ryeowook.
"Hae Hyung, samchon dan imo!".
"kau juga merasakannya?".
"hmm...".
"jangan khawatir, hyung janji semua akan baik-baik saja".
"dimana Kyuhyun? bukankah dia bersamamu?".
"jangan pikirkan apapun sekarang, tenangkan dirimu, ara!".
"dimana Kyuhyun hyung?! Jebal! Dimana dia...".
"Ryeonggie... hiks... mianheyo..".
"aku tanya dimana Kyuhyun hyung!".
"gwencana semua akan baik-baik saja, hyung janji, kau bisa pegang janji hyung, tak akan terjadi apapun pada mereka, percaya padaku!".
"hyung...".
"Sunggie... tolong jaga Ryeowook ne, bawa dia kekamar".
"hmm..".
Sesuai kemauan Donghae Yesung mengangkat tubuh Ryeowook, dibawanya namja manis itu kekamar tanpa melepaskan pelukannya, meninggalkan Donghae Sungmin dan Eunhhyuk yang masih diam ditempatnya.
"Gwencana Hae?".
Donghae tidak menjawab pertanyaan Sungmin, ia meremas kepalanya frustasi, sesakali ia terus perhatikan Ryeowook yang masih terlihat gemetar dipelukan Yesung, kemudian beralih pada aboejinya yang kini sudah berada diatas kursi disamping Eunhyuk.
bruk!.
"Hae!".
Donghae tersunkur dilantai, air matanya tak henti mengalir, pandangannya kosong entah kemana, nafasnya tersenggal, tubuhnya terasa sangat berat, badannya benar-benar terasa lemas, pikirannya kemana-mana, terlalu berat baginya jika harus menahan beban ini sendirian.
"istirahatlah...". Eunhyuk bernajak dari tempatnya, didekatinya Donghae yang masih setia dengan keadaaan tersungkurnya, dielusnya surai hitam namja manis itu pelan, membantunya untuk mengambil posisi berdiri.
"setidaknya biarkan aku menolong aboeji".
"dengan keadaanmu yang seperti ini, kau hanya menyakiti dirimu sendiri".
"tidak, aku hanya membuat aboeji sadar saja, tidak lebih dari itu".
Donghae melangkah pelan kearah Kangin yang tergeletak dikursi, dipeluknya aboejinya erat sembari menangis beberapa saat, telapak tangannya mengeluarkan cahaya biru yang diusapkan pada kening dan kedua tangan Kangin, diusapan terakhirnya Donghae belum menghentikan apa yang ia lakukan, cahaya terus masuk kedalam tubuh Kangin sedikit lebih lama, Eunhyuk yang muak melihat Donghae menarik namja manis itu paksa, disuruhnya Sungmin utuk membawa Kangin kekamar untuk diistirahatkan, sedangkan ia terus memperhatikan Donghae yang sudah terlihat lemas.
"apa kau gila? Sudah kubilang untuk menyiksa dirimu sendiri, kenapa kau masih melakukannya?".
"aku tak punya pilihan Hyuk, aku tak bisa melihat mereka dalam keadaan seperti itu".
"tapi membunuh diri sendiri juga bukan pilihan yang tepat untuk menyelesaikannya, kalau kau tetap seperti ini kau hanya akan membuat keadaan lebih buruk, ingat Donghae! Ryeowook masih membutuhkanmu, Kyuhyun membutuhkanmu, orang tuamu membutuhkanmu, aku juga membutuhkanmu...".
"lalu apa yang bisak kulakukan? aku bahkan tidak bisa menjadi hyung untuk mereka".
"menurutmu, apa arti dirimu bagi adik-adikmu? Apa kau bisa menerima jika adik-adikmu hanya menganggapmu sebagai seseorang yang dipanggil dengan sebutan 'hyung'? Tidak, kau tidak bisa menerimanya, kau ingin lebih dari itu, kau ingin adik-adikmu bisa menganggapmu orang yang lebih penting dari sekedar dipanggil 'hyung', merekapun melakukannya Donghae... lalu kenapa kau ingin meninggalkan mereka begitu saja setelah mereka melakukan apa yang kau inginkan? Dimana tanggung jawabmu?".
"aku tidak tau harus bagaimana, katakan apa yng harus aku lakukan! Katakan! Aku pasti akan melakukannya".
Grepp...
Eunhyuk menarik tubuh Donghae pada dekapannya, dikecupnya pucuk kepala namja manis itu, pelan-pean bisa ia rasakan kalau dada mulai basah terkena air mata suara isak tangis yang ditahan begitu terasa dalam dekapannya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Donghae tanpa sedikitpun niat ingin melepaskannya.
"tetaplah berada disisi mereka, lakukan yang harus kau lakukan jika memang itu yang terbaik bagi setiap orang, maka kau tak perlu lagi takut melakukan sesuatu yang salah".
Dapat ia rasakan Donghae mengangguk pelan dalam pelukannya, ia tak mendengar isakan yang keluar dari mulut namja yang mungkin ia cintai itu, mungkin? Yah, Eunhyuk sepertinya memang mencintainya.
_#!#Fortune!#!_
Ryeowook masih termenung diatas kasur, Yesung yang memperhatikan sikap Ryeowook sepertinya mulai jengah, diambilnya segelas air diatas meja dan menyodorkannya pada namja manis itu.
"jangan buat kau terbebani sendiri, ini bukan akhir dunia tau!".
Ryeowook terkekeh mendengarnya, sebuah senyum simpul terukir diwajahnya, meski mungkin tidak terlalu terihat, diambilnya gelas yang disodorkan Yesung padanya, ia meneguk air jernih itu seperempat gelas, namun baru saja moodnya tadi sedikit membaik, kini moodnya harus kembali seperti tadi.
"usaha yang bagus untuk menghiburku, tapi itu tak mengembalikan apapun".
"aishh menyebalkan! Setidaknya hargai usaha orang lain, orang yang berusaha menghiburmu justru terluka karena ucapanmu, tak sadarkah kau?".
"Yak! tau apa kau tentangku? Kalian hanya manusia yang bahkan tidak bisa mengerti keadaan kami".
"apa kau juga akan mengatakan itu pada orang lain? Sudah kubilang kalau sikapmu hanya melukai hati orang lain, aku bingung padamu, kemarin kau menyenangkan, tapi kenapa sekarang? Kau seperti dirasuki setan dingin menyebalkan, kau Kim Ryeowook, aku yakin kau sudah cukup dewasa untuk membaca keadaan, tapi sesakit apapun hatimu sekarang, jangan buat hati itu semakin sakit, kau justru menambah beban dipundak orang lain".
"nugu?".
"hyungmu!".
'ceklek!'.
Dua orang itu beralih pada pintu yang terbuka, menunjukkan dua orang namja yang berdiri disana, seorang namja dengan gigi kelinci dan satu lagi pria paruh baya yang tersenyum kearah keduanya, melangkah pelan mendekati Ryeowook yang masih diam memperhatikan dua orang didepannya.
"Gwencanayo Wookie-ah?".
"Samchon!". Ryeowook memeluk namja paru baya itu erat, ia menangis sejadi-jadinya disana, sedangkan pria paruh baya itu hanya mengecup pucuk kepala Ryeowook sembari mengelus punggung namja imut itu.
"sudahlah, jangan menangis...".
"hiks.. hiks.. samchon, imo dan Kyuhyun eodi? hiks.. hiks...".
"Gwencana, kita akan menemukan mereka, pasti".
"tapi...".
"Ryeonggie... Tidakkah hyungmu sudah mengatakan padamu, semua akan baik-baik saja?".
"hyung hanya mengatakannya untuk menghiburku, dia pasti tak ingin melihatku menangis, samchon aku..."
"Kim Ryeowook!".
"huh?".
"bukankah kau yang menyuruh kami untuk bisa menerima hyungmu ditangah keluarga kita? Apa kau lupa usahamu untuk menyakinkanku dan Kyuhyun untuk mempercayainya? Lalu kenapa kau masih ragu dengan perkataannya? Bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia mengatakan itu hanya untuk menghiburmu? Kalau kau meragukannya, kenapa kau masih ingin dia disini?".
"aniyo samchon! Aku menyayanginya,aku percaya padanya, aku ta ingin kehilangan Donghae hyung atau yang lainnya, aku tak ingin kehilangan dia atau dia pergi dari sini...".
"lalu kenapa kau masih meragukannya hum?".
"aku tak ingin dia terluka, dia sudah cukup terluka dengan masalah pribadinya, aku tak ingin dia juga terlalu larut dimasalah kali ini".
"masalah pribadi?".
"samchon tidak tau? Tapi, bukankah samchon dan imo menemui manusia itu?".
"oh... samchon ingat tentang itu, tapi apa hubungan Donghae dengan manusia itu?".
"salah satu diantara mereka mendapat ramalan yang sama dengan Spencer".
Deg!
Kangin terdiam sesaat mendengar satu nama yang dilontarkan Ryeowook, ia mengingat kembali kejadian 200 tahun yang lalu, tentang sebuah ramalan yang menjadi kenyataan, ia menelan ludahnya yang terasa kering, lalu mengelus rambut Ryeowook diiringi anggukan lembut darinya.
"memang apa masalah Donghae Wookie-ah..".
"Donghae hyung janji akan membawa tiga orang itu pulang tanpa terkecuali, termasuk Eunhyuk".
Kangin kembali diam, tanpa terkecuali? maka para manusia itu akan kembali semua, dan harus ada orang lain yang menggantikan tempat Eunhyuk, direngkuhnya keponakan satu-satunya itu dalam pelukannya, seakan tak ingin kehilangan namja imut itu.
"Wookie...".
"ne samchon?".
"aku yakin kau sudah tau artinya jika manusia itu pulang tanpa terkecuali".
"hmm, Donghae hyung tak punya pilihan lain samchon".
"tapi salah satu dari keluarga kita? itu terlalu sulit Wookie..".
"Samchon, Donghae hyung sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga kita, dia mengorbankan segala agar keluarga kita tak menjadi salah satu dari bintang menakutkan itu, tapi.. Dia juga tidak bisa terus menerus mengorbankan hak yang seharusnya menjadi miliknya, sudah cukup Donghae hyung selalu melindungi kita, aku tak ingin dia mengorbankan orang yang ia cintai, aku tak ingin Donghae hyung semakin terluka, apapun yang terjadi".
"eungg... maaf mengganggu, tapi apa maksud kalian dengan mengorbankan orang lain? mengorbankan salah satu dari keluarga kalian? bisa kah kalian mengartikannya"..
Ryeowook beralih pada Sungmin yang duduk disamping samchonnya, rautnya berubah sedikit ragu, ia menggigit bibir bawahnya, sesekali dilihatnya samchonnya yang mengangguk untuk menyakinkannya.
"i-itu...".
_#!#Fortune!#!_
Donghae dan Eunhyuk kini berada dikamar, Donghae merapihkan tempat tidur itu untuk ditempatinya istirahat nanti, setelah selesai segera ia membaringkan tubuhnya diatas kasur diikuti Eunhyuk yang ikut berbaring disampingnya.
"Donghae...".
"ne?".
"mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman, tapi kenapa kau begitu kelihatan ketakutan saat tau kalau aku mendapatkan ramalan itu?".
Donghae beranjak dari tempat tidurnya mengambil posisi duduk, ia mengalihkan perhatiannya pada jendela yang masih terbuka, diperhatikannya terus bulan sabit yang menggantung manis dilangit ditemani taburan bintang disekitarnya, setitik air matanya mengalir membasahi pipinya, namun segera ia menghapus air mata itu diikuti sebuah senyum manis yang mengembang diwajahnya.
"aku pernah mencintai seseorang sebelumnya".
flash back on
Donghae berjalan ditengah hutan dengan senyum khas malaikatnya, ia menyusuri setiap jalan setapak menuju pemukiman tanpa menghilangkan senyumnya, senyumannya semakin mengembang kala melihat seorang namja yang duduk diatas batu sembari menghadap kearah dedaunan diatasnya, didekatinya namja tersebut pelan-pelan dengan maksud hendak membuat orang itu terkejut karena ulahnya.
"sudah sampai?".
Belum sempat Donghae angkat bicara, keberadaannya sudah tercium oleh namja tampan yang masih setia terus memperhatikan atas, ia mendengsu kesal kala mengetahui rencananya gagal total, dengan gerakan cepat ia segera duduk disamping orang itu, diperhatikannya terus namja tampan dengan rahang tegas itu dari samping, ia nampak berfikir, namun tak selang lama segera ia mendekatkan wajahnya kearah pipi orang itu dan...
Chu...
Sayang sekali, diluar dugaannya sebelumnya, niatnya untuk mengecup pipi itu lembut hilang sudah, saat orang itu dengan gerakan cepat langsung menghadap kearahnya, sehingga bukan pipinya yang ia kecup, melainkan bibir orang itu.
"apa-apaan ini? kenapa kau menciumku?". Donghae kembali mendengus, dipegangnya bibir pinknya yang baru saja menyentuh bibir namja itu dengan raut ketakutan yang lucu.
"aku? Menciummu? Yang ada kau yang menyambarku duluan".
"lalu kenapa kau berpaling?".
"aku ingin tau apa yang kau lakukan, salahmu sendiri ingin menciumku".
"mboya? Mungkin aku ingin menciummu, tapi bukan dibibirmu".
"waeyo? apa kau tak ingin merasakan bibir tebal, hangat, dan menggoda milik Seorang Spencer Lee?". Orang yang bisa kita panggil Spencer itu mendekatkan dirinya pada Donghae, berbisik dengan nada menggoda pada telinga Donghae, hingga spontan membuat namja manis itu langsung bersemu merah dibuatnya.
"yaisshhh! hajiman!".Donghae berusaha menjauhkan dirinya dari Spencer, dipalingkannya mukanya menyembunyikan semburat merah tomat yang menghiasi wajahnya sekarang.
"shireo!". Tanpa memperdulikan tolakan Donghae, Spencer langsung meraih pinggang Donghae dan membawanya kedalam dekapannya, ditatapnya Donghae yang sepertinya menahan nafasnya karena gugup luar biasa, ia menunjukkan sebuah evil-smirk ditengah tatapannya pada Donghae, membuat namja manis itu benar-benar kalang kabut karenanya.
"Ya-Yak!". Wajah Donghae benar-benar luar biasa memerah, ia mengedipkan matanya lucu dengan bibirnya yang ia lumat sendiri kala melihat Spencer yang mendekatkan wajahnya padanya, ia semakin kuat menahan nafasnya, matanya sudah berhenti berkedip, kini matanya terbelalak imut khas orang yang menahan nafas.
"mpft!". Dengan susah payah Spencer menahan tawanya tidak keluar, ia membekap mulunya sendiri dan segera menjauhkan wajahnya dari Donghae.
"Sudahlah, aku tidak jadi melakukannya, aku tidak tahan jika melihatmu seperti itu".
"YAK! HAJIMAN!". Donghae benar-benar malu, wajahnya sepenuhnya benar-benar merah, susah payah ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, merutuki kebodohannya, mau saja dipermainkan seperti itu, ck ck ck...
flash back off
Eunhyuk mengehela nafasnya berat, diperhatikannya terus Donghae yang masih tersenyum menatap bintang-bintang diluar jendela, raut kecewa terpasang diwajah namja tampan itu, namun ia tutupi dengan sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan.
"lalu apa hubungan orang itu dengan ramalanku? Bertemu saja belum penah".
"kau tak perlu bertemu dengannya, kau ambil cermin dan lihat wajahmu disana".
"untuk apa?".
"kau benar-benar! Kau bodoh atau tidak tau?‼ Kenapa tak mengerti maksud ucapanku tadi huh?".
"sungguh, aku tak mengerti ucapanmu".
"dia terliahat sepertimu".
"apa maksudmu, aku reingkarnasi dari orang itu?".
"mollayo, mungkin iya, mungkin juga tidak, kau tau, waktu disini dan dunia aslimu itu berbeda, sangat jauh!".
"berbeda?".
"hmm, satu hari diduniamu sama dengan… kalau tidak salah satu atau dua bulan, atau mungkin sebaliknya, satu hari disini bisa saja berarti 3 bulan diduniamu".
"begitu ya… eumm… kembali kemasalah, apa hubungan ramalanku dengan orang itu?
"ramalan? tentang itu...".
Flash back on
Ditengah malam yang gelap, dua orang namja berlari menyusuri hutan tanpa memperdulikan apa yang mereka lewati, dibelakang dua orang itu- Donghae dan Spencer – ada tiga ekor serigala yang mengejar keduanya, dengan susah payah Donghe mengimbangi langkah spencer didepannya, walaupun tak bisa ia pungkiri ia kesulitan karena pergelangan kakinya yang terlihat sedikit membengkak.
"hah! Hah! Hah! Hae, kita tunggu Kyuhyun dan Ryeowook, kau tak bisa lari lagi".
"menunggu mereka? Yang benar saja, kau ingin bunuh diri?".
Donghae memperhatikan Spencer yang terus membawanya lari entah kemana, sesekali ia menengok kebelakang untuk mengecek seberapa jauh jarak mereka dengan serigala-serigala itu, dan…
brukk!
Dirasakannya tangannya ditarik paksa oleh Spencer menuju balik pohon yang berukuran besar, Spencer mendekapnya erat, dirasakannya nafas namja tampan ini yang tersenggal-senggal habis berlari, berbeda dengannya yang masih bisa bernafas teratur, hanya saja kakinya terasa pegal sehabis berlari.
"hah! hah! hah!gwencana?".
"hmm".
"kita tunggu mereka disini".
"berapa lama?".
"entahlah".
Donghae menyeandarkan kepalanya pada dada Spencer, ia menselonjorkan (?) kakinya pada tanah, tanganya menyentuh dada Spencer yang masih bergedup kencang mengatur nafasnya, pelan-pelan tangannya mengeluarkan cahaya dan diusapkannya pada dada namja tampan itu, hingga pelan-pelan dirasakannya deru nafas yang mulai membaik, ia tersenyum simpul, ia semakin menyamankan posisinya pada Spencer yang kini mulai merengkuh tubuhnya.
"Hae…".
"ne, Spencer?".
"ada yang ingin kukatakan…".
"apa?".
"jujur saja, sebelum bertemu denganmu... ada seseorang yang mengatakan kalau aku akan mati jika bertemu dengan orang yang menggantungkan dirinya pada bulan sabit, menangis sembari memperhatikan langit malam".
"m-mbwo?".
"mianheyo…".
"apa maksudu mengatakan itu?".
"aku tak ingin terus diam saja, jadi mengatakan kebenarannya"
"dan orang itu… a-aku?".
Spencer diam, ia menundukkan wajahnya tanpa memperhatikan Donghae yang sepertinya nampak mulai berkaca-kaca, namun segera namja manis itu menahan air matanya untuk tidak keluar dan mulai memperhatikan Spencer serius.
"kau ingin manjauhiku?".
"aniyo, aku tak mempercayai ramalan itu….".
"siapa yang mengatakan itu?".
"seseorang dengan jubah birunya".
" Leeteuk eoma…".
"waeyo? Memang kenapa?".
"dia dari klan Park, mereka bisa meliha masa depan…..".
"Donghae..".
"dasar bodoh‼".
"mbwo?!".
"kau bodoh! Kau kira bisa menganggapnya hanya sekedar gurauan begitu saja? Spencer Lee kau tau jika…".
"ghureo, aku bodoh, aku tak bisa menjauhimu…. aku membutuhkanmu Donghae-ah….".
"Spencer…".
"aku tak memperdulikannya, aku ingin didekatmu Donghae-ahh….".
" tapi juga tak bisa kehilangan kau Spencer, jebalyo!".
Krak!
"Donghae!".
Spencer segera beranjak dari tempat duduknya kala melihat Donghae yang dicakar oleh seekor serigala dari atas, keduanya segera menjauh dari pohon tersebut dan hendak berlari, namun sayang sekali dua serigala lainnya sudah berada dihadapan keduanya, melangkah pelan sembari mengeluarkan cakar beracun mereka, Spencer menggenggam tangan Donghae disampingnya, berusaha membuat namja manis itu tenang.
Dan benar saja, Donghae sepertinya mulai bisa mengendalikan dirinya, ia membelakangi punggung Spencer dan mulai memperhatikan serigala liar itu, ia pelan-pelan membaca keadaan disekitarnya, ia tak terlalu banyak membuat pergerakan, karena jika ia melakukan gerakan mengejutkan sekali saja ia pasti sudah mati ditempat, bukan, bukan dirinya, melainkan orang yang kini memunggunginya.
"kau bisa melakukannya?".
"hmm..".
"kita lakukan bersama".
"baiklah".
brak!
Satu serigala didepan Spencer, menyergap namja tampan itu, namun dengan gerakan cepat ia segera menghindar kesamping dan menendang serigala itu tepat diperutnya, membuat serigala berbulu abu-abu itu tersungkur ketanah, sekali serangan, dan sepertinya menguras banyak tenaga untuk namja tampan itu.
Sedangkan Donghae sepertinya dikepung dua serigala liar didepannya, ia memfokuskan perhatiannya pada leher, pundak, dan perut dua serigala didepannya, sebuah seringai terukir diwajah manisnya, seakan meremehkan dua hewan berbulu itu.
Srak!
Dua serigala itu menyerang Donghae bersamaan, ia segera berpindah tempat kebelakang serigala itu dan memukul punggung keduanya, seperti perhitungannya sebelumnya ia mengenai titik syaraf dari serigala itu dan membuatnya tersungkur ketanah, namun sayang sekali, diluar dugaan ia hanya mengenai satu serigala, serigala lainnya sepertinya sudah mengetahui rencananya segera menghindar dari serangannya, dan menyerang balik dengan mengoyak perut Donghae dengan cakarnya.
"Argh‼". Donghae ingin bergerak untuk mendekati Spencer, namun segera dirasakannya tubuhnya melemas, sepertinya racun dari cakaran hewan itu langsung masuk dalam peredaran darahnya, dirasanya tubuhnya benar-benar sulit digerakkan.
'… aku membutuhkanmu Donghae-ah…'.
'apa-apaan ini? kenapa kau menciumku‼'.
'aku? Menciummu? Yanga ada kau yang menyambarku duluan'.
"spencer…".
Serigala itu pelan-pelan melangkah mendekati Donghae yang terkulai lemas ditanah, Donghae tak bisa berbuat apapun, dilihatnya serigala liar itu memperhatikannya dengan penuh amarah dan dendam, hingga serigala itu mulai berlari kearahnya menunjukkan cakarnya dan…
srak‼
"Spencer‼".
"fracktolizez!".
Didepan Donghae kini terlihat seseorang yang tak berdaya dengan ceceran darah yang mengalir disekujur badannya dan seekor serigala yang sudah tak bernyawa didepannya, samar-samar ia lihat dua orang yang ia kenal mulai mendekatinya, salah satu diantaranya memeluknya dan satu lagi mengusap perutnya yang terluka, hingga tak ia rasakan lagi rasa sakit disana meski ta dipungkiri tubuhnya masih terasa lemas.
Segera ia merangkak mendekati Spencer yang kini tergeltak tak berdaya menahan sakit ditubuhnya karena menjadi pelampiasan serigala itu, Donghae menangis sejadi-jadinya memperhatikan keadaan orang yang ia cintai itu, dengan bekas cakaran yang cukup dalam disekujur tubuhnya, benar-benar membuatnya takhenti-hentinya menangis disana.
"Spencer!".
"Hae.. gwencana?".
"Spencer pabo! bagaimana kau bisa tanya keadaanku kalau keadaanmu saja tidak dalam keadaan baik, pabo! Pabo!".
"Saranghae… miannheyo". bisa didengan Donghae kalau suara orang didepannya kini mulai serak, Donghae terus menggeleng-gelngkan kepalanya mengelak ucapan Spencer, ia menggenggam tangan namja tampan itu sembari mengecupnya berulang kali, air matanya menetes pada telapak tangan Spencer, membuat tetesan bening itu bercampur dengan merahnya darah yang ikut mengalir keluar dari tubuh Spencer.
"jangan minat maaf paboya‼".
"Hae…".
"jebalyo, Spencer!". Donghae merengkuh tubuh berlumuran darah itu dalam pelukannya, sehingga pakaiannya-pun ikut terkena darah bercampur tanah, ia tak memperdulikan itu, yang ia pedulikan hanya keselamatan seseorang yang berada dipelukannya sekarang.
"saranghae…"
Spencer mengelus pipi Donghae yang ikut terkena darahnya, ia membersihkan pipi mulus itu, dan pelan-pelan mengecup bibir Donghae yang basah karena air matanya yang mengalir disana, cukup lama ia mengecup bibir itu, Donghae sepertinya juga mulai menikmati ciuman pahitnya itu, hingga pelan-pelan ia rasakan tubuh dingin dari orang yang ia peluk mulai melepaskan ciumannya, dapat ia lihat orang yang ia cintai kini benar-benar menutup matanya dan tak akan pernah membukanya lagi.
"ANDWEYO SPENCER‼! hiks.. hiks…".
"hyung… mianheyo..".
Dua orang yang ada dibelakang Donghae memeluk tubuh namja manis itu yang masih setia mendekap tubuh dingin yang kini sudah tak bernyawa, orang yang begitu dicintai hyungnya.
flash back off
Dapat Eunhyuk lihat Donghae yang kini menitihkan air matanya, meski hanya setetes, bisa Eunhyuk rasakan penyesalan yang berat dari namja manis ini, ia tak bergeming, ia terus memperhatikan Donghae yang masih dalam pikirannya tanpa sekalipun tertarik untuk mengubah suasana.
"kau… Tak ingin kejadian itu terulang lagi?".
"huh?".
"aku tanya padamu, apa kau tak ingin kejadian itu terulang lagi?".
"entahlah… jujur saja dalam hatiku sama sekali tak menginginkannya, tapi jika aku mengikuti kemauan hatiku, aku justru kehilangan apa yang sudah kuperhatankan selama ini, disisi lain, aku juga tak ingin merenggut nyawamu begitu saja hanya untuk meladeni egoku".
"apa yang selama ini kau pertahankan dan kau tak ingin melepaskannya?".
Donghae kembali mengalihkan perhatiannya pada luar jendela ditunjuknya jajaran bintang-bintang yang berada didekat bulan. "kami, setiap rubah yang lahir dari keluarga Lee, saat kami lahir pasti pada saat bulan biru setiap tahun, atau setiap bulan, atau mungkin setiap hari, namun pada saat kelahiran kami, kehidupan kami kedepan ditentukan oleh pilihan bulan biru, apakah bulan biru ingin kami lahir untuk membawa keberuntungan atau lahir dengan membawa petaka, dan syukurnya sebagian besar dari klan kami dilahirkan dari bulan keberuntungan, dari keturunan keluargaku, kami selalu lahir dibulan keberuntungan, karena belum pernah keturunan haraboejiku yang lahir dibulan kematian, maka takdir itu dijatuhkan pada keturunan terakhir".
"nugu?".
"aku".
"mbwo?".
"entah hukuman atau takdir yang mengatakan hal itu, bulan biru memintaku untuk menjadi pilihannya dibulan kematian, andai kau tau, ada satu hal yang harus dilakukan seekor rubah yang lahir dibulan kematian, hal yang tak pernah ia inginkan atau diharapkan orang lain sebelumnya".
"satu hal? apa yang harus kau lakukan untuk itu?".
"kau ingat saat bertemu denganku?".
"hmm".
"Leeteuk eoma bilang ada 14 bintang kan?".
"ya, 14 bintang".
"sebelum aku bertemu denganmu, Spencer juga mendapatkan ramalan yang sama denganmu hanya saja ia mendapatkan 13 bintang, kau tau satu bintang yang membuat jumlahnya menjadi 14? bintang itu Spencer".
"aku masih tidak mengerti".
"begini, setiap kemunculan bulan biru, maka pada saat itu harus ada yang menempati tempat berikutnya, jika ada 14 bintang yang kau lihat, maka kau akan jadi yang kelima belas, kau akan mati dan menjadi bintang itu".
"apa aku harus mati untuk menjadi bintang berikutnya?".
"ya, dan aku tidak akan membiarkannya".
"sebenarnya, kenapa aku, Spencer dan orang-orang lain sebelumnya harus mati?".
Donghae tak menjawab, ia menundukkan kepalanya memalingkan wajahnya dari Eunhyuk, ia tak berani menatap namja tampan itu. "jika kau mengenalku, aku adalah orang paling egois dan paling jahat didunia".
"huh?".
"aku melakukannya untuk melindungi adik-adikku dan keluargaku, yang sebenarnya adalah, orang yang disekitarku, mereka yang menyayangiku dan yang kusayangi, termasuk adik dan keluargaku, mereka harus mati untuk dikorbankan, tapi… aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku harus mengorbankan mereka yang menerimaku apa adanya hanya untuk menjadi salah satu syarat kehidupanku berikutnya, sehingga aku tak punya pilihan selain mengorbankan orang lain, bahkan Spencer".
kali ini Donghae tidak hanya meneteskan satu atau dua tetes air matanya, kini ia benar-bnear menangis merutuki dirinya, ia kembali mengingat setiap orang yang harus mati hanya karena agar ia terus menjalankan kehidupannya, orang pertama yang harus mati, eomanya tepat setelah ia dilahirkan, setelah ia mulai tumbuh, ia harus kehilangan haraboeji dan halmoeninya, semua samchon dan imonya, sepupunya, appanya, dan berakhir pada Spencer, ia tak ingin lagi membunuh orang yang tak memiliki kesalahan apapun padanya lagi.
Eunhyuk memeluk tubuh yang gemetar hebat itu, diusapnya punggung namja manis itu berusaha menangkan keadaanya. "kukira… semua yang kau ucapkan tadi… semuanya tidak benar".
"huh?".
"kau tau, aku adalah orang yang paling beruntung didunia, aku bisa bertemu denganmu dan eng… entahlah, setidaknya kita bisa saling mengenal satu sama lain, dengar, tak peduli seberapa besar usahamu untuk melindungiku atau melindungi orang yang kau sayangi lainnya, kau tak akan pernah tau kapan mereka akan mati, tapi saat kau diberi pilihan dipundakmu antara dua orang yang terpenting bagimu, jangan pernah pilih salah satu diantara mereka, biarkan waktu yang menjawabnya, jika memang yang seharusnya salah satu diantara mereka harus pergi, atau keduanya memang harus pergi apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya bisa menyesalinya, lalu berikutnya? kau hanya bia menikmati kehidupanmu tanpa mereka, dengar Lee Donghae, dalam hidup ada yang mati, ada yang lahir, ada pula yang menjalani kehidupannya, saat kau memiliki pilihan yang berat, jangan biarkan hatimu memilihnya, sekeras apapun kau mencoba, jika kau memang tak bisa memilih salah satu, maka kau akan tersiksa sendiri atau malah kau justru tak memilih apapun, tenangkan dirimu dan biarkan waktu yang menjawabnya, cepat atau lambat hatimu akan tau jawabannya".
Tanpa mengalihkan perhatiannya kemanapun, Donghae masih setia mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan Eunhyuk padanya, seulas senyum mengembang dibibir manisnya, meski itu hanya sebuah senyum ringan, namun dimata Eunhyuk senyum itu begitu nyaman dilihat. "aku sudah dapat jawabanku, gumawo Hyuk".
Namja manis itu memelk Eunhyuk tanpa aba-aba terlebih dahulu, senyumnya seakin mengembang diwajah manisnya, ia mengeratkan pelukannya tanpa sekalipun ada niat untuk melepaskan pelukan hangat itu.
"apa itu?".
"kau akan mengetahuinya besok sewaktu sarapan".
"apa-apaan ini? Ini tidak adil tau! Aku sudah memberimu knci tingga kau putar untuk membuka gemboknya kenapa harus menunggu besok?".
"hehe… lupakan saja, sekarang bisa kita pikirkan apa yang ingin kita lakukan?". " chagi…".
"huh? Kau bilang apa? Cha-chagi?".
"baiklah, kalau tidak nyaman dengan panggilan itu, kupanggil Hyukie saja?".
"huh? Hyukie?".
"lupakan saja, lidahku jadi terasa sakit jika mengatakan hal memalukan itu! Tidurlah".
Donghae menarik selimutnya hingga pinggangnya, ia hendak membaringkan kepalanya pada bantal, namun lengan Eunhyuk yang menahannya membuatnya terpaksa harus menunda acara tidurnya.
Bruk!
Donghae langsung jatuh kepelukan Eunhyuk kala namja tampan itu menarik lengannya paksa tanpa perhitungan sebelumnya. "lidahmu sakit? boleh kusembuhkan?".
"mbwo- eumphhh…". Donghae belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan bibirnya yang digasak(?) kasar oleh Eunhyuk, ia yang pelan-pelan mulai terlena dengan perlakuan Eunhyuk terhadapnya, ia mulai berani menggantungkan lengannya pada leher namja tampan itu, tangannya sepertinya mulai nakal mendorong kepala namja berahang tegas itu lebih memperdalam ciumannya, dan Eunhyuk? Tanpa diminta-pun ia sudah semakin melumat bibir manis itu lebih dari sebelumnya.
pelan-pelan Eunhyuk mulai menaiki tubuh Donghae, didorongnya namja manis itu hingga berhimpitan dengan kasur tanpa melepaskan ciumannya, tangannya yang bebas muali meraba dibalik baju Donghae hingga menemukan tonjolan kecil dibagian dada namja manis itu.
"ahn…. aish…". Satu desahan keluar tatkala Eunhyuk mulai memelintir tonojolan itu kasar, dan beralih kesisi yang lain, ciumannya-pun semakin ganas menghisap bibir Donghae, hingga membuat sang empu kewalahan menghadapi singa buas yang kelaparan ini.
Skip bagian itu *-*.
_#!#Fortune!#!_
brak!
Seorang namja berparas malaikat dengan kasar dihampaskan pada lantai kayu cukup keras, tangannya diikat kebelakang, sedangkan ia tak melakukan perlawanan apapun, ia hanya memperhatikan seseorang yang tadi baru saja membantingnya tadi, seseorang dengan raut kosong tanpa ragu terus menghanjarnya, jejak air mata terlihat dipipi mulusnya kala menatap orang itu.
"Kyu sadarlah! ini aku, Leeteuk eoma…".
Tbc…
