shidaYup, saya kembali lagi ^^ sekali lagi minta maaf atas kata-kata kasarku kemaren. Maaf ya, huff sepertinya inilah fic yang paling melelahkan bagiku, karena harus bales banyak review anonymous... (-,-)

Sudahlah, maaf ya. Silahkan membacaa..!! ^^



Disclaimer : Always Masashi Kishimoto..

Pairing : SasuSaku

DON'T LIKE DON'T READ..!!

Kalau gak suka masih nekat baca, coba kutanya udah lulus SD belum? :P

-

-

-

Apa kau merasakannya? Hari kematianmu sudah mendekat…

xXx

FINAL DESTINATION

(222)

xXx

-

-

-


Normal POV

Di sebuah rumah kontrakan kecil bercat kuning pucat. Itulah tempat dimana laki-laki berkulit putih pucat ini tinggal. Sedari tadi dia terus berdiam dalam kemuramannya, entah apa yang dia pikirkan. Bahkan hawa dingin menusuk di malam ini pun tidak dia rasakan walaupun dia sendiri bertelanjang dada. Sesekali laki-laki ini mendesah pelan dan menyebut nama kekasihnya yang baru saja meninggal dengan mengenaskan.

"Ino..." gumam orang yang tak lain adalah Sai itu. Dia kembali membenamkan kepalanya di dalam kedua tangannya, seraya menggertakan giginya dan mencengkram rambut hitamnya.

"Kenapa? Kenapa kau pergi begitu cepat?" gumam Sai lagi. Di pikirannya sudah tidak ada apa-apa lagi selain bayang wajah kekasihnya tersebut, lalu dia bangkit dari tempat tidurnya. Dan menuju pintu rumahnya.

"Apa gunanya lagi aku di sini?" tanya Sai dengan tatapan kosong, kemudian dia membuka pintunya. Dan seketika juga Sai mengernyitkan dahinya menatap kedua insan yang berlari menuju rumahnya.

"Sasuke.. Sakura?"

-

-

Sasuke POV

Aku terus berlari dan berlari sambil tetap memegang tangan mungil Sakura. Aku tersengal-sengal dan nafasku pun seperti memburu. Begitu pula Sakura yang berlari di belakangku. Tanganku mulai berkeringat dan mengendurkan pegangan pada tangannya. Lalu aku menatap ke depan, rumah kontrakan Sai yang baru. Dan entah kebetulan atau apa, Sai membuka pintu sebelum kami sampai di halamannya dan menatap kami bingung.

"Sai..!!" teriak Sakura. Sai mengernyitkan dahinya.

"Kalian.. sedang apa di sini?" tanya Sai bingung. Sakura tidak menjawab, dia malah menatapku.

"Bisa.. kita bicara di dalam saja Sai?" tanyaku terengah-engah. Sai awalnya terdiam, lalu dia mengangguk juga dan membiarkan aku juga Sakura masuk ke ke rumahnya itu. Sai menyuruh kami duduk di sofanya dan dia menatap kami.

"Jadi.. ada apa? Kenapa datang tengah malam begini?" tanya Sai bingung. Aku menghela nafas panjang.

"Sai, Naruto sudah meninggal," jawabku.

Sai tersentak. Matanya membulat kaget dan tidak percaya menatap aku dan Sakura yang tidak tahu harus berkata apa lagi. Sakura terlihat menunduk dan memegang erat baju di dadanya. Bisa kulihat dia menahan tangis. Sedangkan Sai masih tertegun menatap kami kosong.

"Bagaimana bisa? Kenapa?" tanya Sai yang sepertinya memang belum percaya sepenuhnya. Aku mendesah pelan.

"Naruto, tertabrak dua truk yang berlawanan dan meninggal seketika. Sai, sekarang tinggal kita yang selamat dari kecelakaan pesawat itu juga Kakashi," jelas Sakura. Sai mengangkat sebelah alisnya.

"Kakashi? Siapa itu?" tanya Sai.

"Ngg, dia pria berambut perak yang sempat bertengkar dengan Ino sebelumnya," jawab Sakura lagi. Sai terdiam lalu dia menggeleng pelan.

"Maaf, aku tidak ingat," jawab Sai apa adanya. Aku mendengus pelan.

"Pokoknya, aku punya perkiraan kalau kau yang berikutnya akan mati Sai. Karena itu kami datang ke sini untuk memperingatkanmu dan kita akan coba menggagalkan kematianmu itu," jawabku berusaha serius. Tapi Sai hanya mendesah pelan.

"Apa bisa?" gumamnya lesu. Aku dan Sakura menatapnya bingung, "Mana bisa kita menggagalkan kematian? Apa yang terjadi, terjadilah," jawabnya dengan tatapan kosong. Aku terdiam mendengarnya. Aku yakin Sai mengatakan itu bukan tanpa alasan. Apalagi kalau bukan Ino?

"Sai.." gumam Sakura, suaranya terdengar prihatin. Sai menghela nafas kemudian dia bangkit dari sofanya.

"Aku.. sudah tidak peduli pada diriku, seandainya aku harus mati maka aku akan mati. Tapi kalau aku harus hidup, maka aku akan tetap hidup," jawab Sai yang terdengar pasrah. Lalu dia berjalan masuk ke kamarnya. Aku merengut kesal melihatnya. Kami saja mati-matian menjaga nyawa, kok dia santai saja sih?

"Sai..!!" cegahku sebelum Sai benar-benar menutup pintu kamarnya.

"Aku tidak peduli apa yang kau katakan, karena apapun yang terjadi aku akan mencoba melindungimu dengan semua yang aku bisa lakukan," tegasku mantap. Aku bingung dengan diriku sendiri, kenapa aku jadi peduli begini terhadap Sai? Padahal sebelumnya aku tidak peduli siapapun kecuali Sakura. Bahkan gadis pink di sebelahku terlihat menatapku heran.

"....coba saja.." jawab Sai, kemudian dia menutup pintu kamarnya. Aku mendengus dan kembali duduk di sofaku.

"Sasuke," panggil Sakura di sebelahku. Aku sedikit menoleh dan kulihat senyum manis terkembang di bibir mungilnya.

"Kau sudah berubah, aku sangat senang," sahut Sakura polos. Uuh, aku sampai dibuat blushing melihatnya. Akhirnya aku menjawab gugup.

"I.. Iya, terima kasih," jawabku kaku. Sakura tersenyum lagi, lalu dia mengecup dahiku lembut.

Akhirnya aku dan Sakura mengantuk juga. Tapi karena ingin menjaga Sai, kami nekat tidur di sofa. Sakura tertidur lebih dulu dariku, dan aku pun mulai memasangkan jaket biru tua milikku padanya agar dia merasa lebih hangat. Setelah itu, kubaringkan Sakura di atas sofa dan aku duduk menyandar di bawahnya. Aku terdiam, semua reka ulang wajah-wajah mereka yang telah tiada kembali terngiang di otakku. Uukh, padahal aku tidak mau mengingatnya, menyakitkan.

-

-

-

Paginya...

"Hoaaaah," aku menguap dan mulai terbangun dari tidur lelapku. Setelah itu aku mengucek mataku. Jujur saja aku masih mengantuk, apalagi akhir-akhir ini aku kurang tidur karena terus kepikiran. Lalu kulihat Sai sudah duduk di atas sofa sambil memencet-mencet remote TV yang dia pegang.

"Sudah bangun? Tak kusangka kau nekat tidur di sini," gumam Sai dengan wajah datar. Aku mendengus pelan dan tersenyum kecil.

"Yah, buat jaga-jaga kalau ada apa-apa," jawabku tenang. Sai tersenyum kecil padaku.

"Kau memang berubah Sasuke," gumam Sai sambil menatap layar Tv di depannya. Aku kembali tertegun, "Tapi baguslah," lanjut Sai lagi sambil kembali tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan kaku. Lalu kulihat Sakura keluar dari dapur.

"Sasuke sudah bangun ya? Aku sudah buatkan sarapan, sekalian untuk Sai juga," gumam Sakura sambil tersenyum. Aku mengangguk begitu pula Sai, lalu Sakura kembali masuk ke dapur. Di saat kami berjalan menuju dapur, Sai menyenggol tanganku.

"Sakura gadis yang baik dan aku yakin itu. Karenanya, kau harus menjaganya dengan baik," gumam Sai tiba-tiba, aku sampai bengong melihatnya dan Sai menunduk sedih, "Jangan seperti aku," lanjut Sai lagi. Aku mengangguk mengerti, kasihan Sai tapi.. apa yang bisa kuperbuat?

Lalu akhirnya sampai juga di dapur, aku dan Sai segera duduk di meja makan. Sakura terlihat menggoreng telor mata sapi untuk kami. Uh, kayak udah di rumah tangga aja. Setelah itu, kudengar suara Sakura yang tertawa geli.

"Hehe Sasuke lihat..!! Telor ini pasti tadinya berisi 2 anak ayam," canda Sakura dan dia menunjukkan telur mata sapi yang bagian kuningnya ada dua. Aku mendengus kecil, dan tiba-tiba kepalaku kembali berdengung.

"A.. Akh," erangku. Sakura langsung tersentak dan kembali memegang bahuku.

"Sasuke!? Kau merasakannya lagi?" tanya Sakura yang panik padaku. Tapi aku tidak menjawab, rasa sakit ini sungguh menyiksa. Kulihat Sai menatap bingung ke arahku.

"Merasakan apa?" tanyanya pada Sakura.

"Kemarin Sasuke bilang kan? Kalau dia punya firasat kalau kau yang akan mati berikutnya. Itu karena Sasuke bisa merasakannya, bisa merasakan rasa sakit yang akan dirasakan oleh yang nanti akan meninggal..!" jelas Sakura pada Sai. Kulihat dengan mata berkunang-kunang, Sai sepertinya masih belum mengerti. Dan lagi-lagi kulihat angka berwarna merah seperti darah. Dan angkanya...

2

"OHOK..!!" batukku. Aku merasakan sesuatu seperti menghambat leherku. Dan aku berusaha mengeluarkannya , tapi tidak bisa. Dalam sekejap tubuhku lemas dan aku jatuh dari kursi.

"Sasuke!?" teriak Sakura juga Sai yang panik dan menghampiriku yang terkulai. Tubuhku kembali bergetar hebat. Dan kurasakan sesuatu menghantam kepalaku.

"Aaaaagh..!!!" teriakku menahan sakit sambil memegang kepalaku. Setelah itu aku menahan nafas dalam-dalam, aku mulai tenang. Sakura langsung mengambilkan air putih untukku.

"Sasuke, minumlah," gumam Sakura khawatir. Aku mengangguk dan meneguk air putih itu sampai habis.

"Kau.. kenapa bisa jadi begini, Sasuke?" tanya Sai sambil memegang bahuku. Aku hanya menggeleng.

"Aku sendiri tidak tahu," jawabku karena itu memang kenyataannya. Sai menatapku prihatin, lalu dia melihat jam dinding.

"Wah, sudah jam 11 rupanya, aku harus bergegas," gumam Sai sambil segera menyelesaikan makannya. Aku mengangkat sebelah alisku.

"Mau ke mana?" tanyaku akhirnya. Sai menoleh sedikit padaku dan Sakura.

"Mau ngambil mobil di bengkel, kemarin sebelum ke rumah Ino aku menaruhnya di sana. Acnya ada masalah," jawab Sai lalu dia melihat jam dinding lagi, "Janjinya sih jam 2 siang tapi.. aku ingin ke sana lebih awal," jawabnya lagi.

Aku tersentak. Jam 2 katanya!?

"Sai, jangan..!! Pokoknya jangan ke bengkel itu..!!" sahutku. Sai menatapku heran. Awalnya Sakura juga tidak mengerti, lalu sepertinya dia mulai menyadari.

"Sai, lebih baik dengarkan Sasuke saja..!! Jangan ke bengkel itu," gumam Sakura mendukungku. Aku menatapnya sesaat lalu kembali menatap Sai.

"Tidak bisa, masalahnya pemilik bengkel itu juga mau pergi ke Oto untuk suatu urusan. Dia akan pergi jam tigaan," jawab Sai tenang, lalu dia menatapku dan Sakura yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Dia tersenyum pada kami.

"Jangan khawatir, aku tidak akan apa-apa," gumam Sai lagi. Aku terdiam, begitu pula Sakura.

"Ka.. Kalau begitu, kami juga ikut," sambung Sakura tiba-tiba. "Kita akan melindungi Sai dengan semua yang mungkin bisa kita lakukan kan?" tanya Sakura padaku. Lalu aku mengangguk dan menatap Sai.

"Oooh, apa boleh buat kalau kalian segitu maunya untuk ikut. Ayo, kita pergi," ajak Sai sambil berbalik. Lalu aku dan Sakura berdiri kemudian berjalan mengikutinya.

-

-

-

Kami menaiki taxi yang tadi ditelpon Sai. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara kami. Aku dan Sakura duduk di belakang, sedangkan Sai yang duduk di depan terus-terusan menatap ke luar jendela. Entah apa yang dipikirkannya, terdengar sesekali dia mendesah pelan. Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan bengkel yang dimaksud Sai. Kami semua turun, Sai langsung masuk ke dalam bengkelnya dan diikuti Sakura. Aku melihat jam tanganku, masih jam 1 sih, tapi aku sudah merasakan firasat buruk yang tidak mengenakkan. Benar saja, angin bertiup sangat kencang hingga mataku kelilipan. Dan aku mulai mengucek mataku.

"Sasuke? Kau sedang apa di situ?" tanya Sakura dari jauh. Dia sudah berada di dalam bengkel di seberang. Aku mengangguk lalu berjalan menghampirinya.

Model bengkel ini sedikit aneh. Bentuknya agak naik ke atas, sehingga kita harus naik tangga sedangkan mobil yang mau dimasukkan sudah ada jalan yang menanjak. Aku menaiki tangga dan begitu aku melangkah masuk, Sai sedang berbicara dengan seseorang yang sepertinya pemilik bengkel tersebut. Lalu aku mengalihkan perhatianku kepada bengkel di sebelah ruangan tersebut.

BRAAAK

Penahan mobil yang biasa digunakan kalau para mekanik ingin melihat bagian bawah mobil tersebut jatuh secara tiba-tiba. Menyebabkan kap mobil depan yang tadi terbuka, tertutup kencang. Sehingga semua orang terpaku pada mobil yang baru saja terjatuh itu.

"Wah, itu kan mobilku?" gumam Sai yang ikut melihat bersama aku dan Sakura. Sai mendekati mobil sedannya yang berwarna hitam itu. Lalu dia berbicara dengan mekanik yang sedari tadi menunduk-nunduk minta maaf padanya.

Aku terdiam menatap Sai. Dan seketika pikiranku kembali melayang, kubayangkan gara-gara terbanting tadi, pengait kap mobil Sai jadi terlepas. Sehingga sewaktu-waktu bisa saja kap mobil itu terangkat dan terlempar ke mana-mana. Aku kembali tersadar, nafasku ngos-ngosan lalu kulihat jam dan sudah jam setengah 2 siang. Aku segera berlari mendekati Sai.

"Sai, lebih baik kita periksa kap mobilmu," ajakku pada Sai yang menatapku bingung.

"Hah? Buat apa?" tanya Sai tapi aku tidak mempedulikannya dan aku segera membuka kap mobil Sai. Benar saja, baru kuangkat sedikit kap mobil itu langsung tergeser dan jatuh ke samping kakiku. Sai tertegun.

"Wow, ini bisa bahaya, harus segera dibetulkan," gumam salah satu mekanik dan segera mengambil kap mobil itu. Aku bernafas lega.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sai yang menatapku heran. Aku mengangkat bahuku.

"Yah, Sakura kan sudah memberi tahumu," jawabku enteng. Walau sepertinya jawabanku tadi tidak memuaskannya. Lalu aku turun dari bengkel dengan melewati jalan turunan khusus mobil yang akan keluar. Aku terdiam di bawahnya sampai Sai juga menyusulku.

"Sasuke," sapa Sai. Aku sedikit menoleh padanya.

"Kalau begitu, kau.. apa bisa melihat kematianku?" tanya Sai. Aku terdiam lalu menggeleng.

"Aku hanya bisa merasakan kepedihan matimu dengan singkat dan angka yang berhubungan dengan kematianmu, cuma itu. Asal kau tahu, aku tidak pernah menginginkan kekuatan ini Sai," jelasku. Sai mengangguk mengerti.

"Jadi.. waktu Ino mati pun kau merasakannya?" tanya Sai. Aku menatapnya, "Kalau begitu, kenapa kau tidak berusaha menolongnya?" tanya Sai lagi.

"Waktu itu aku ragu-ragu, lagipula aku tidak menyangka itu jadi kenyataan," jawabku seadanya. Sai terdiam, tapi aku bisa melihat ada kekecewaan di wajahnya. Lalu..

BRUUK "Huweeee...!!!" teriak tangis seorang anak kecil yang terjatuh di belakangku yang menghadap Sai. Spontan aku menoleh dan mendekatinya juga Sakura yang sedang mengelus kepala anak itu.

"Adek kecil gak papa?" tanya Sakura sambil mengambil sapu tangannya, saat aku berjongkok di sebelahnya melihat anak kecil itu. Sedangkan kulihat Sai masih berdiri di tempat yang sama tepat di bawah jalan turunan untuk mobil yang akan keluar. Setelah itu aku melihat luka anak itu.

"Cuma luka kecil kok, ini sih diludahi juga sembuh," gumamku dan aku meludahi luka anak itu, dan dengan sapu tangan Sakura, aku mengelapnya.

"Hu.. hu.. makasih kak," sahut anak itu yang masih mengisak. Aku mengangguk saja, sedangkan kulihat Sakura tersenyum padaku. Huft, aku harus mengatur diriku agar tidak salah tingkah lagi.

WUSH

Anginnya kencang sekali. Sampai-sampai rambutku dan rambut Sakura tertiup. Dan tiba-tiba aku merasakan feeling lagi, ada seorang mekanik yang sedang memaku dinding. Lalu alat pemasang paku yang berbentuk seperti pistol itu dia taruh sembarangan di pinggir meja. Setelah itu, ada anak kecil yang datang ke bengkel bersama orang tuanya yang sepertinya akan mengambil mobil mereka. Anak itu mengambil alat pemaku yang dia kira pistol mainan itu dan berlari menuruni jalan turunan dengan wajah yang polos, dia menghampiri Sai. Seketika juga aku sadar dari lamunanku dan aku langsung menoleh ke belakangku, melihat Sai yang menatap heran padaku. Sedangkan anak yang ada di pikiranku tadi sedang tertawa memanggil Sai.

"Kak kak..!! Lihat inyi pistolnya bagus..!!" sahut anak itu riang. Sai menoleh dan matanya membulat melihat alat pemaku itu diarahkan kepadanya. Aku segera berteriak.

"JANGAAAAN..!!" teriakku sambil berlari. Tapi anak nakal itu tidak mempedulikan dan menarik pemencet yang dia kira adalah pelatuk yang akan mengeluarkan bunyi 'tet tot tet tot' tapi..

CREEEEP

"A.. Akh," Sai mengerang kesakitan, saat anak itu menekan pelatuk yang menyebabkan paku keluar dengan cepat dan menancap di lehernya. Aku segera melotot pada anak itu.

"Anak nakal..!!!" teriakku dan aku segera memegang bahu Sai, sepertinya paku itu tidak menancap langsung pada vitalnya. Aku mendesah lega, mungkinkah Sai masih bisa selamat? Kudengar anak itu menangis saat aku memarahinya dan berlari ke orang tuanya.

"Ayo Sai, kita harus segera—"

Sai melotot menatapku, bukan! Dia melotot menatap belakangku. Aku ingin melihat ke belakang tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada di pikiranku hanyalah, kap mobil tadi terlepas dari pegangan seorang mekanik karena mata mekanik itu kelilipan gara-gara angin kencang. Alhasil kap mobil itu terjatuh dan mulai menuruni jalan turunan, padahal tepat di bawahnya ada aku dan Sai. Kap mobil itu semakin cepat, yang tadi lambat kini semakin cepat karena gesekan jalan turunan yang agak licin.

"Sai..!!" teriakku sambil berusaha menarik bahunya ke pinggir. Tapi Sai malah mendorongku jatuh ke samping Sakura. Seolah hanya ingin menyelamatkanku. Aku segera menoleh melihat Sai yang menantang kap mobil besar itu. Aku dan Sakura berteriak.

"SAAAAII...!!!"

BRAAAAK ZRAAAASH

Kap mobil yang jatuh mengerikan itu menghantam kepala Sai hingga pecah. Kap mobil itu terus jatuh sampai dia berhenti di tengah jalan. Sedangkan tubuh Sai yang masih utuh tapi kepalanya pecah langsung jatuh di sebelahnya. Sakura menatap ngeri melihat pecahan kepala Sai yang bertebaran di mana-mana itu bahkan sampai ada yang dekat ke kaki kami. Sakura menelan ludah dan mencengkram erat baju belakangku lalu menunduk takut. Sedangkan saat aku memperhatikan sekeliling, aku bisa melihat ada sesuatu yang menggelinding di dekat kakiku. Awalnya aku bingung itu apa, dan segera setelah kusadari, itu adalah bola mata Sai yang terlepas.

Aku miris melihat keadaan Sai, apakah sejak awal dia sudah berniat mati? Aku tidak tahu itu, tapi lagi-lagi aku mengutuki diriku sendiri yang tidak bisa menolongnya. Selalu saja begini. Dan setelah itu kudengar banyak orang yang sudah di sekeliling kami, dan berteriak-teriak nyaring melihat keadaan Sai. Pecahan kepalanya di mana-mana, dagingnya pun sudah sampai ke tengah jalan. Sedangkan ada sesuatu berwarna seperti merah muda pucat, yang menyebar. Sepertinya itu otaknya. Aku menelan ludah. Tapi.. aku tidak menemukan yang berhubungan dengan angka dua?

TRITIT

Sepertinya itu adalah suara alarm jam digital apabila jam itu menunjukkan pukul satuan tepat. Dan yang memakai jam digital adalah laki-laki yang ada di sebelahku. Aku melihat jamnya, dan benar saja sudah jam 2 siang tepat.

Aku kembali mengedarkan penglihatanku dan Sakura memegang bajuku sambil menunjuk ke arah kap mobil yang menerjang Sai.

"Sasuke.. i.. itu," tunjuk Sakura pada sesuatu seperti tempelan di atas kap mobil Sai. Aku melihat ada angka di tempelan itu, yaitu angka 2. Sepertinya itu tempelan untuk mobil Sai yang datang kedua saat bengkel baru di buka kemarin.

Aku kembali melihat sekeliling dan saat kulihat bengkel yang sebelumnya aku tidak tahu apa nama bengkel tersebut. Aku jadi tertegun, karena nama bengkel itu... 'FORCE GARAGE 2' mungkin ini adalah cabang kedua bengkel itu.

(222)

"Sai, Sai. Aku.. tidak kuat melihatnyaa..." isak Sakura di belakangku membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk mengerti, lalu aku memegang tangannya dan menariknya keluar dari kerumunan orang-orang yang ingin melihat mayat Sai tanpa kepala itu diangkut ambulance.

-

-

-

"Sasuke, Sai.. Sai sudah... hu.. hu.." isak Sakura terus-terusan di bahuku. Saat ini kami ada di bangku taman yang tidak jauh dari tempat tragedi itu. Aku mengelus rambutnya dan mengangguk, lalu kucium dahinya.

"Sepertinya Sai memang berniat untuk menyusul Ino," gumamku sambil tetap mengelus rambutnya. "Tadi dia yang mendorongku, seandainya saja aku bisa menariknya bersamaan pasti kami selamat," gumamku lagi. Sakura mengangguk.

"Apa.. sekarang tinggal.. tinggal kita, Sasuke?" tanya Sakura. Aku terdiam berpikir. Sepertinya sih iya, tapi kayaknya kita melupakan seseorang?

"Ya, emm mungkin," jawabku ragu. Sakura mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata hijau zamrudnya yang berair.

"Kenapa? Apa masih ada lagi?" tanya Sakura padaku. Aku mengangkat bahu.

"Apa kau tidak merasa kita melupakan seseorang?" tanyaku lagi. Entah kenapa aku teringat seseorang, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dalam pikiranku. Sakura juga terlihat ikut berpikir. Lalu dia mencetikkan jarinya.

"Ah iya, Kakashi kan?" seru Sakura dengan wajah polos di depanku. Aku tertegun.

"Be.. Benar juga, dia memang mati setelah Sai," gumamku entah pada siapa. Sakura mengangguk yakin.

"Kalau begitu ayo kita ke tempat majalahnya..!!" ajak Sakura sambil menarik tanganku. Dan kulihat dia sudah menyeka air matanya tadi.

Tapi sebenarnya dari awal aku sudah meragukan...

Setelah melihat teman-teman kami kecelakaan dan mati mengenaskan,

Apa kami masih bisa selamat?

To Be Continued


Uuuh, anehnyaaa.. (TT_TT) Minta kritik dan saran dong, asalkan tentang fic yaa. Buat kemajuan dalam menulis fic sadis dan gak cuma fic lemon aja hohoho *PLAAAK* apa gara-gara kemaren aku marah dan ngomong kasar ya, jadi pada takut dan ragu ngasih kritik? Huwaaaa jangan doong (TTATT) *nerjang readers -kicked* Oh ya, next chapter adalah FINAL CHAPTER..!! Silahkan baca bila anda berkenan, terima kasih. Boleh minta review..? ^^

Special thanks for :

Angga Uchiha Haruno, Aya Haruka, Hyouru, pick-a-doo, Aira Mitsuhiko, titha ichikawa, Mugiwara Piratez, Intan SauSaku, Je_Jess, innocent half, Nakamura Miharu-chan, Kuroneko Hime-un, Syllie Charm, YamiRYOU, Gina-chama, Haruchi Nigiyama, Kyoro, Naru-mania, Mila Rikudo Sakura, Uchiha Cesa, Yume_Uchiha, Uchiha Ryu Mizu, cendy-hoseki, Ame-chocoSasu, beby-chan, Fusae 'LeeBumYeHyun' Deguchi, harunaru chan muach, Gokusawa Chii, dilabcd, Kaze-chan, "Black Rose" Cyne_chan, reader9, Kinay Saku-chan, You Ichi, Aoi-chan 'Eightee' Hyuuhidan, Sasu_saku?, SasuSaku 'Lady-chan', Faatin-hime, Nakamura Kumiko-chan, Imuri Ridan Chara, minamicchi, Amee Amee, AkatsukiImaginaryBlue, Silver Bullet 1412, Chiwe SasuSaku, KuroShiro6yh, chiu-chi Hatake, Nne Kishida

No Name : Yup yup tak apa, aku juga minta maaf karena sebelumnya udah ngomong kasar. Aku juga terima kritik sepedas apapun, asalkan tentang FIC bukan tentang aku. Yaah, jujur saja saat kau bilang "Jangan-jangan author yang buat juga GAK PEDULI ORANG LAIN?" aku sudah cukup tersinggung. Aku merasa dikritik orang yang tidak aku kenal, dan aku benci itu. Aku memang mau dikritik asalkan dengan orang yang aku kenal. Itu saja dan selanjutnya tolong beri kritik tentang FIC saja, terima kasih sudah update tuk baca ficku.. ^^

Yueyue : Ahaha anda mau ilfeel sama saya atau tidak sih, itu terserah anda ^^ toh aku santai-santai saja, lagipula itu kan hak anda. Cuma satu yang perlu kutekankan, aku paling nggak suka, bukan! Aku paling BENCI dikasihani orang lain. Karena aku merasa dikasihani itu hanyalah membuat kita menjadi terlihat lemah, dan aku benci itu. Maaf ya, aku tekan kapital supaya lebih jelas ajaaa hehee (^^)a Terima kasih..

Sinis_kun_chan : Hhhh, saya bingung dengan anda. Sebenarnya maunya anda apa sih? Kayaknya aku udah nyuruh pergi, tapi masih balik aja, sampai 3 kali lagi. Yah, gak apa sih kalau mau ngajak damai, aku juga mau mau aja. Tapi daripada ungkit-ungkit gak jelas, mending anda kasih tahu langsung saja ada apa di DG chapter 1- 8? Karena kalau anda ngomong begitu terus, yang ada semakin lama aku semakin bingung. Kasih tahu aku baik-baik, aku juga pasti jawabnya baik-baik kok dan akan kucoba perbaiki kalau memang kamu sakit hati. Lha kamu datang-datang langsung ngatain aku **, gimana mau ngerti? Dasar, ya sudahlah terima kasih saja...

Fharf : He? (o.O) malu? Buat apa? Aku tidak pernah takut pada kenyataan yang kuhadapi, kecuali Allah ^^ dan kalau memang kamu mau aku mengaku, oke aja. Aku memang temperamental dan childish, apabila aku merasa marah. Aku akan marah, apabila aku merasa diremehkan. Hehe begitulah, aku suka terima kritik, sepedas apapun kritiknya pasti aku terima, asalkan itu tentang FIC bukan tentang aku sebagai author. Kalau mau kritik aku, aku harus mengenal orang itu dulu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa melihat review di ficku yang DG, di sana banyak kritik tentang ficku dari bagus sampai jelek dan aku menerimanya. Review No Name, ntan, dan Yueyue kuhapus karena setiap melihatnya aku selalu marah. Mereka ngomong seolah aku kenal dengan mereka, dan mereka mengenalku, itu menyebalkan. Daripada aku marah melebihi batas dan kata-kata yang keluar lebih kasar, lebih baik aku hapus saja kan? Tapi aku tetap membalas review dari mereka ^^ Itu saja, sudah jelas kan? Terima kasih, kuharap kau membuat account kalau mau bertanya lebih jauh...

Hoi, lain kali kalau mau tanya sesuatu padaku, log in doong. Lu kira gak capek apa bales review panjang-panjang? Hhh dasar, kalau mau dihargai, hargailah orang lain ya... Terima kasih.. (=,=)v