Minnaaaa, Reika baru buat twitter dan facebook baru loh:3 *bangga* di add/follow ya.. karena temennya masih sedikit bangetT^T

Facebook : Reika Ishida (Rei-chan)

Twitter : reikaishida_

Oke, back to cerita~


"Kau lihat gadis yang ada di sana?"

Aku hanya mengangguk.

" Dia targetmu berikutnya. Dalam sebulan kau sudah harus bisa mendapatkan nyawanya."

Menjadi seorang malaikat maut mengharuskan Sasuke Uchiha untuk membunuh Sakura Haruno bagaimanapun caranya, meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.


Into The Dark by Reika Ishida

Pair : SasuSaku

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

WARN : ABAL, ALUR CEPET, mungkin OOC, typo(s)

.

.

.

Previous Chap.

Bermain-main dengannya sebentar pasti mengasikkan. Dalam waktu sebulan aku pasti bisa membuatnya terjerat ke dalam pesonaku. Dan setelah ia jatuh cinta kepadaku, akan kuakhiri hidupnya. Akhir yang tragis dan kejam untuk seorang Sakura Haruno.

Ha, siapa suruh kau mempermainkanku. Lihat, aku dapat membalasmu bertubi-tubi kali lipat, kan?

Sekarang kita lihat siapa yang akan berkuasa, Sakura.

"Baiklah.. Aku mau membantumu."

"Benarkah?" Gadis itu terlihat terkejut mendengar ucapanku

"Hanya jika kau mematuhi satu syaratku ini." Jawabku sambil tersenyum penuh arti

"Apa itu?"

Hening sesaat.

"Kau harus menciumku."

.

.

.

Chapter 4 : Missing Piece.

Normal POV

"M-menciummu?" Sakura terlihat kaget

"Ya.. Dan di sini." Ucap pemuda berambut emo tersebut sambil menunjuk bagian bibirnya.

Sekilas rona merah menghiasi muka gadis bersurai merah muda itu.

"B-baka! Kau pikir aku gadis macam apa? " Nada bicara Sakura langsung naik dua oktaf. Tampaknya ucapan Sasuke tadi berhasil menyulut amarah perempuan yang memiliki warna rambut unik itu.

"Kalau kau tidak mau tak apa, aku juga tidak memaksamu." Balas Sasuke dengan nada suara monotonnya. Perlahan ia mulai bangkit berdiri.

"E-eh, tunggu... t-tapi..." Ucap Sakura panik.

Sial. Gadis itu mengumpat dalam hati.

"Tenang saja, aku tidak menyuruhmu untuk menciumku saat ini juga. Aku bukanlah pria serendah itu, Haruno," Kata Sasuke sambil menyeringai kecil.

"Aku baru menginginkan ciumanmu itu jika kau telah jatuh cinta kepadaku," Lanjut pria raven tersebut sambil menatap Sakura lekat-lekat.

"Maaf tuan, tadi kau bilang apa? Jatuh cinta? Kalau begitu, berarti aku dapat bernapas lega karena hal itu tidak akan pernah terjadi," Ucap Sakura dengan penuh penekanan.

"Jangan terlalu sombong seperti itu, kita tidak pernah tahu apa yang dapat terjadi di masa depan." Balas Sasuke datar.

Sakura hanya tertawa kecil mendengar pernyataan Sasuke tersebut, tepatnya tertawa meremehkan.

"Ya, memang tak ada yang bisa memprediksi masa depan. Kecuali untuk kasus ini. Kasus yang mustahil untuk terjadi. Jadi jangan terlalu percaya diri, Tuan Muda Malaikat yang sok cool." Gadis berambut pink itu berbicara dengan nada mengejek.

Sasuke hanya menanggapi perkataan Sakura dalam diam.

Kita lihat saja nanti, Sakura.

.

.

.

Hari itu cerah. Seekor burung pipit bersiul kecil di atas batang pohon, menambah suasana ceria yang ada. Tetapi siapa yang mengira jika dibalik pohon rindang tersebut ada sosok kecil yang meringkuk di bawahnya. Ya, gadis kecil itu sedang menangis tersedu-sedu. Rambutnya yang berwarna pink tampak awut-awutan.

Tanpa ia sadari ada sosok lain yang sedang memperhatikannya di ujung taman. Perlahan tapi pasti sosok itu mulai mendekati gadis kecil tersebut.

Merasa diperhatikan, gadis kecil tersebut langsung menoleh ke atas. Balas menatap manik onyx itu dengan tatapan bingung.

"M-mengapa kau memperhatikanku?" Ia memandang sosok berambut biru dongker itu dengan takut-takut.

Laki-laki tersebut tampak terdiam sejenak. Ia mengacak-acak rambut ravennya.

"Aku cuma... tidak suka melihat seorang gadis menangis..." Balasnya sambil menundukkan kepala. Wajahnya yang agak chubby itu sedikit bersemburat merah.

.

Latar belakang mendadak berubah menjadi hamparan padang rumput yang luas.

"Tunggu aku!" Tampak seorang gadis kecil yang berlari mengejar anak laki-laki yang beberapa langkah ada di depannya. Rambutnya yang berwarna pink itu tampak berkibar-kibar diterpa angin.

"Tungguuuu!"

Sosok berambut raven itu semakin menjauh…

Jauh..

Hingga akhirnya tak terlihat lagi seolah-olah hilang ditelan bumi bersamaan dengan lambaian alang-alang hijau kekuningan.

Jangan..

Jangan tinggalkan aku…

.

.

.

Sakura POV

Tubuhku basah bermandikan keringat.

Sekujur badanku menggigil.

Jantungku berdetak kencang.

Mimpi apa tadi?

Aku memejamkan mataku. Berusaha mengingat setiap detail yang terekam dalam memori.

Gadis kecil itu pasti aku.

Tapi siapa anak laki-laki tersebut? Walaupun ada perasaan familiar saat melihatnya tetap saja aku tak bisa mengenalinya karena wajahnya selalu tak terlihat jelas dalam mimpi tersebut.

Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi...

Entah kenapa mimpi itu terasa begitu nyata…

.

.

.

Pemuda itu mengaduk-aduk kopinya dengan bosan. Manik onyx-nya sibuk bergerak ke sana kemari, meniti setiap sudut yang ada di dalam kafe itu. Akhirnya pandangannya terhenti pada satu titik. Sambil menggertakkan gigi ia berkata perlahan. "Kabuto…"

Laki-laki yang dipanggil Kabuto itu hanya menyeringai kecil.

"Lama tidak bertemu, Uchiha." Kabuto tersenyum sambil duduk di atas kursi yang berseberangan dengan pemuda raven tersebut.

"Kau tahu aku tidak suka berbasa-basi, Kabuto," Balas Sasuke tajam.

"Uahh tenang dulu pemuda, tatapan matamu itu masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya. Tajam dan ding—"

"Cepat atau aku akan pergi sekarang," Potong Sasuke tidak sabar.

"Baiklah-baiklah!" Setidaknya biarkan aku memilih pesananku terlebih dahulu," Sambil berkata begitu ia memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi hitam.

"Jadi…" Kabuto menghentikan perkataannya sejenak, memperhatikan lawan bicaranya yang masih setia menunggu lanjutan kalimat.

"Ini ada hubungannya dengan misimu kali ini."

Sasuke menaikkan alisnya. Rasanya tidak ada yang salah dengan misinya.

"Ada apa dengan misiku?"

Lagi-lagi Kabuto hanya menyeringai kecil sebelum akhirnya menjawab. "Orochimaru memintaku untuk mengawasimu dalam misi kali ini. Ini sudah hari kelima, hampir seminggu setelah kau diberikan misi itu. Memang kau diberi waktu 1 bulan untuk menyelesaikannya, tapi…" Ia mengangkat bahunya.

"Biasanya sehari setelah kau turun ke bumi kau pasti sudah langsung mendapatkan target yang diberikan kepadamu. Perlu diingat ini sudah hari ketigamu di bumi. Dan target masih berkeliaran dengan bebas." Lanjut Kabuto dengan penuh penekanan di bagian akhir.

Sasuke menghela napas. Wajahnya terlihat kesal.

"Ingat. Misimu harus berhasil, Sasuke. Apa kau tidak ingat bahwa Orochimaru yang telah menolongmu? Yang membuatmu dapat bertahan hidup sampai saat ini?

Rahang pemuda berambut emo itu mengeras. Ia tidak suka membahas masa lalunya. Masa lalunya terlalu kelam untuk diingat. Masa lalu itu juga yang harus membuatnya menjadi seperti ini. Bekerja menjadi grim-malaikat pencabut nyawa di bawah pimpinan Orochimaru.

"Aku hanya ingin bermain-main sebentar, tidak boleh? Apakah kalian masih tidak puas dengan hasil kerjaku selama ini?"

"Bermain? Ah, mungkin kurang tepat jika dibilang seperti itu. Jangan menyangkalinya. Aku tahu bahwa kinerjamu semakin menurun belakangan ini Sasuke. Sebenarnya apa masalahmu? Kewalahan dengan targetmu kali ini? Atau…"

Kabuto tersenyum mengejek.

"Mungkin kau mulai tertarik dengan makhluk rendahan itu?"

BRAK!

Terdengar suarah meja dipukul.

"Jangan sembarangan bicara kau, bajingan!"

Kabuto hanya tersenyum memperhatikan Sasuke yang mulai berjalan keluar dari menghiraukan banyaknya pandangan penasaran yang tertuju ia kembali melanjutkan kegiatannya meminum kopi.

Sebenarnya ada tujuan lain yang membuatku harus mengawasimu dalam misi kali ini, Sasuke. Suatu hal yang membuat Orochimaru juga khawatir.

Yaitu tentang targetmu kali ini..

Dia-Sakura Haruno-adalah target yang spesial.

.

.

.

In KHS.

"Hei, jidat lebar! Tak kusangka akhirnya kau laku juga!"

"Berisik." Ketus gadis bersurai merah muda itu.

Pemuda yang barusan mengejeknya langsung kabur sambil tidak berkata apa-apa lagi. Tidak ada gunanya berurusan dengan Sakura yang sedang badmood, kecuali jika kau ingin dihajar habis-habisan olehnya.

"Ini salahmu, buta !" Sakura memandang perempuan pirang yang ada di depannya dengan hawa membunuh.

"Aku kan hanya bercanda, forehead ! Mana aku tahu mereka begitu bersemangat saat mendengar hal itu." Jawab Ino membela diri. Ada sedikit kilatan jail dalam sorot matanya. Memang sangat samar, tetapi Sakura yang sudah lama mengenal sahabatnya itu pastilah dapat menangkap sinar jail tersebut.

Gadis itu menghela napas panjang. Seharusnya ia tahu jika kurang tepat untuk membicarakan hal semacam ini dengan sahabat yang mulutnya bocor itu. Tidak salah jika Ino dijuluki sebagai ratu gosip se-Konohagakure.

Sakura sudah cukup muak jika harus meladeni pertanyaan-pertanyaan yang kurang lebih sama…

"Um.. ano.. S-sakura-chan.. A-apa benar Sakura-chan s-sudah m-mempunyai p-pa-car?"

Nah.. pertanyaan semacam inilah.

Dengan malas ia membalikkan wajahnya, melihat siapa pemilik suara. Tetapi rasa amarah itu langsung hilang begitu melihat siapa sang penanya tersebut.

"Tentu tidak Hinata-chan! Jangan sampai termakan dengan omongan buta itu!" Sakura menatap sahabatnya yang pemalunya itu dengan gemas. Yaampun sampai Hinata juga..

Pokoknya lihat saja nanti, Ino.

.

.

.

Banyak jalan-jalan di Konoha, baik yang kecil maupun yang besar. Dan di antara jalan tersebut ada beberapa gang kecil yang tersembunyi. Mungkin gang-gang ini tidak terlalu mendapat perhatian banyak orang, bahkan beberapa di antaranya terlihat tidak pernah dikunjungi. Tetapi tempat-tempat seperti itulah yang biasanya dimanfaatkan orang untuk berunding, atau mungkin membicarakan suatu hal yang rahasia. Seperti yang dilakukan oleh 2 orang ini.

"Orochimaru-sama, tak kusangka kau ikut turun tangan langsung juga."

Laki-laki berambut panjang itu menyeringai lebar, menunjukkan seringai yang menakutkan.

"Sssh… Tentu sssaja Kabuto… Aku tak mau jika misssi ini sssampai gagal, bagaimanapun juga.. ia harusss sssegera dilenyapkan."

"Ah benar juga." Kabuto mengangguk, menyetujui pendapat yang dilontarkan oleh atasannya itu.

"Tetapi dia masssih tidak ingat, kan?" Intonasi dalam nada bicara Orochimaru berubah menjadi lebih serius.

"Sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan."

"Bagusss, Awasssi terusss Uchiha itu. Bisssa gawat jika ia tahu hal yang sssebenarnya. Kebenaran dari masssa lalunya."

"Ha'i." Kabuto membungguk, memberikan hormat.

Apalagi masa lalu itu ada hubungannya dengan target kali ini…

.

.

.

TBC.


A/N :

Tulisan apa ini? *banting laptop* Aaaaah, maafkan tulisan author yang makin ke sini makin abstrakT^T Jujur aku juga nyadar kok kalo cerita ini abal banget, author aja nyampe ilfil saat baca ulang... Dan ada yang nyadar? chap 1 agak kuedit dikit, karena dari antara semua chap, chap 1 yang masih jeleknya minta ampun. Tapi editannya gak bisa membantu banyak sih.. Karena kalo aku edit banyak2 akan mengubah jalan cerita! jadi moga2 readers gak illfeel ya sama tulisanku ini:')

Gomeeeenn atas keterlambatan update. Sebenernya chap ini udah selesai dari 2 minggu lalu. Tapi ada beberapa kendala yang buat aku gak bisa ngepostnya. Laptopku sempet ngehang. Dan karena ngehang, akhirnya data2 ku ilang semua. Termasuk chap ini. Akhirnya aku harus nulis ulang lagiT^T *curcol*

Tadinya aku mau ngepost saat hari ultahnya Saku.. tapi.. yah.. gak bisa kewujud kayaknya. Awalnya pengen buat fanfic khusus untuk ultah si pink itu, udah jadi malahan X'D Di situ Reika pengen ngubah gaya tulisan dan buat genre humor tapi malah abstrak dan OOC banget, nyampe2 takut rasanya buat ngepost XD Mungkin nanti akan Reika post setelah diperbaiki lagi..

Oh iya, ada yang bisa duga? sebenernya dulu Sasuke dan Sakura pernah bertemu, tapi entah karena apa mereka ngelupain itu. Gimana hubungan mereka saat dulu dan kenapa bisa jadi kayak gini itu masih rahasia ya:3 #plak.

Reika pengen ubah genre fanfiction ini, karena kayaknya genrenya udah melenceng dari supernatural deh X'D /dor

Tapi Reika bingung... Menurut kalian mendingan diubah jadi Romance/Fantasy atau Romance/Drama? kasih pendapat kalian di kotak review, okeh? *dibunuh rame-rame*

Balesan Review :

me : salam kenal juga! Arigatou, Reika senang mendengarnya^-^ Sip ini udah update! Ikutin terus dan jangan kapok buat ngeriview ya:3

Uchiha Sakura : Wah, aku gak tau juga ya bisa atau enggak. Tapi di fanfic ini aku gak buat keluarga Sasuke meninggal saat mereka jadi grim loh. Sasuke itu dulunya bukan grim, begitu pula dengan keluarganya. Suatu 'alasan'lah yang ngebuat si Sasuke ini terpaksa harus jadi malaikat maut, dan 'alasan' ini juga yang ngebuat Sasuke lupa kalo dulu dia pernah kenal sama Sakura, hehe.

Guest : Sasu-polos? Well, Reika juga ngakak bayanginnya XD

anon : Enggak bakalan diamaterasu kok sama Sasuke, Sasu kan takut sama Aku :3 *langsung dibacok Sasuke* Dia sebenernya marah tuh! tapi gabisa diungkapin aja, jadinya dia ngedumel-dumel dalem hati XD . Hihi, Maaf kalo OOC, maklum.. Reika kan author newbie:3

Dan.. Makasih juga bagi yang mereview lagi di chap ini! XD


With Love,

Reika Ishida.