Kilatan blitz kamera wartawan seketika memenuhi indera penglihatannya. Hiruk pikuk teriakan histeris para wartawan yang tengah menyaksikan adegan langka ini seketika memekakkan telinga gadis dengan bola mata keunguan ini.

Wajar jika wartawan sehisteris itu. Sepanjang perjalanan karirnya, Naruto tak pernah sekalipun memperkenalkan gadis sebagai kekasihnya dihadapan khalayak umum. Apalagi sampai menciumnya dihadapan para awak media.

Naruto mahir dalam berciuman. Tak perlu diragukan lagi. Puluhan wanita sudah ia cium bibirnya, tapi itu hanya untuk kepentingan akting semata. Sebenarnya ini juga akting. Tapi para wartawan itu sudah terlanjur menganggap adegan ini adalah yang sebenarnya.

Hinata tak mampu bergerak. Tubuhnya seolah di kuasai oleh pria tinggi besar yang tengah mengecap manis bibir ranumnya yang merekah. Ini berbeda, berbeda dengan ciuman yang terjadi di resort Okinawa beberapa waktu lalu. Ciuman tanpa sengaja. Kendati itu adalah ciuman pertamanya, tapi yang ini berbeda. Naruto pria yang pernah ia puja dengan segenap hatinya, dulu. Hari ini melumat lembut bibir peachnya.

Entah ini hanya akting atau bukan, tapi Hinata tak punya pilihan selain menikmati ciuman memabukkan yang diberikan si pirang tampan ini. Kesadarannya seolah Hilang. Wajahnya yang di tangkup oleh tangan kekar Naruto membuatnya tak dapat mengelak. Yang Hinata lakukan sekarang hanya memejamkan matanya. Menikmatitiap sentuhan lembut bibir merah kecoklatan yang tengah melumat lembut bibirnya.

My Scandal Girl

Chapter 4

Naruto © Masashi Kishimoto

Special for 2nd Anniversary Uzumaki Family Indonesia (UFI)

"Kami-sama! Naruto ku hebat dattebaneeeeee!" Seorang wanita paruh baya berjingkrak diatas sofa yang sejak tadi dia duduki dengan nyaman.

Matanya membulat lebar menatap layar Lcd Televisi 82 inc yang terpampang dihadapannya. Uzumaki Kushina, ibu dari aktor sekaligus model yang tengah naik daun itu rela melewatkan doramanya favoritnya hanya untuk menyaksikan siaran langsung konferensi pers sang putera demi memulihkan nama baik keluarganya.

"Nyonya ada tak apa?" Seorang wanita dengan seragam maid sudah berdiri di ambang pintu. Asisten rumah tangga bernama Ayame itu langsung lari terbirit-birit menghentikan kegiatan memberikan makan rubah peliharaan sang Nyoya, begitu mendengar jeritan Nyonya yang menggema di seluruh mansion megah milik keluarga Uzumaki ini.

"Kau lihat itu Ayame...!" Kushina turun dari sofa yang dia injak. Menyeret Ayame ke hadapan lacar lcd televisinya. Dan menunjukkan adegan dewasa yang sedang di pertontonkan sang putera.

"Haaaahhh...!" Ayame menutup mulutnya karena terkejut. Tuan muda yang hampir setahun tinggal terpisah di appartement pribadinya, dan kemarin sempat digosipkan memilikihubungan spesial dengan seorang pria. Hari ini mencium bibir seorang gadis dalam acara siaran langsung. "Kushina-sama aku terharu, ternyata berita yang beredar itu salah... Naruto-sama bukanah seorang penyuka sesama jenis, dia mencium seorang wanita... hueeee.." Dengan tidak elitnya Ayame menangis bahagia.

"Kau benar Ayame..., aku benar-benar terharu, puteraku ternyata mencintai seorang wanita..., dia pria sejati... hueee.., impian ku untuk menimang cucu bermata safir akan segera terwujud..., ttebane !" Terbawa suasana, Kushinapun menangis dengan lebaynya. Bahkan ia sekarang berpelukan dengan Ayame meluapkan kebahagiaan atas terbuktinya Naruto tidak mengidap kelainan sexual.

Bruk.

Sebuah koper besar terlepas dari genggaman si pemiliknya. Uzumaki Minato, menganga dengan tidak elitnya. Dirinya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis di Milan dan kini baru menapaki kamarnya. Terkejut bukan main saat melihat perilaku aneh istri dan asisten rumah tangganya.

Tapi ada hal lain yang benar-benar membuat jantungnya seperti akan lepas dari tempatnya. Televisi layar datarnya yang menampakkan sang putera yang tengah menikmati bibir seorang gadis.

...

"Uhukkkk..!" Pria gondrong yang tengah duduk dihadapan laptopnya demi menonton streaming acara infotaiment dari tanah airnya tersebut tersedak samyang instan yang hampir di telannya.

Penyebabnya adalah, acara infotaiment Jepang favoritnya itu, menampilkan sang adik sebagai berita utama. Dan lebih parahnya lagi. Adik yang ia tinggalkan di Jepang itu, kini dikabarkan 'berpacaran' dengan selebritas tersohor di tanah airnya.

Dan saat ini layar laptopnya sedang menampilkan adegan dimana adiknya sedang berciuman dari bibir kebibir dengan sang aktor tersebut.

"Hinata, Nii-san tak menyangka kau secerdas ini, Pilihanmu tepat Hinata-chan!" Teriak Neji sambil mengepalkan tinjunya keudara, tanpa peduli bahwa teriakannya itu mengganggu tetangga di deretan flat sederhana yang ia huni di kota Seoul.

...

Bibir peach mungil yang baru saja selesai dilumat itu, menyunggingkan senyuman terpaksa. Hinata, ingin sekali menonjok pria yang sedang tecengir lebar di sampingnya ini.

Naruto dengan tanpa dosanya melemparkan senyuman santai dihadapan awak media setelah mencuri ciuman keduanya. 'Wajahnya, benar-benar menjijikkan.' Umpat Hinata dalam hati. Ia seolah mengingkari betapa tadi dia menikmati lumatan lembut yang di buat oleh si Uzumaki pada bibir mungilnya.

"Nona Hinata, bicaralah sedikit. Kami ingin mendengar tanggapan anda." Hinata terkesiap saat salah satu wartawan memanggil namanya.

Pandangan yang sedari tadi terarah pada Naruto, kini perlahan teralih kehadapan awak media. Dan tanpa seketika sinar menyilaukan dari kamera para wartawan mengganggu matanya. Wajar ini adalah pertama kalinya Hinata berhadapan dengan awak media.

Melihat Hinata yang tak nyaman dengan perlakuan para wartawan yang terus memotretnya, membuat jiwa heroik Naruto yang akhir-akhir ini sering muncul dengan sendirinya kembali terkuak. Naruto mengulurkan tangannya. Menjadikan lengan kekar dan punggung tegapnya sebagai tameng mutiara lavender Hinata silau akibat sorotan lampu kamera.

"Ayolah Uzumaki-san jangan tutupi wajah cantik kekasihmu, kami ingin mengambil fotonya."

Naruto menoleh ke hadapan wartawan yang duduk di depan podium dimana dia dan Hinata duduk. Safir birunya menatap tajam pada para wartawan yang membuat Hinata merasa tak nyaman. Seketika ruangan pertemuan GY entertain itu menjadi hening. Tampaknya para wartawan itu mulai menyadari kalau perbuatan yang mereka lakukan itu keterlaluan.

"Kau tak apa?, Apa perlu ku hentikan konferensi ini?"

Hinata sedikit mendongak. Menatap safir biru sang Uzumaki yang kali ini terlihat menenangkan. Sesaat Hinata terpesona dengan kharisma yang Naruto pancarkan. Tapi rekaman bagaimana Naruto dulu memperbudaknya, dan menginjak-injak perasaan tulusnya, membuat Hinata menyangkal perasaan aneh yang kembali timbul dalam benaknya.

"Aku tak apa. Aku bisa menghadapi mereka." Jawab Hinata angkuh.

Naruto mengangkat kedua bahunya. Seolah mengisyaratkan terserah. Dan membiarkan kembali wajah cantik Hinata terekspos kamera wartawan.

Hinata memasang pose secantik mungkin, agar para wartawan itu dapat mengambil fotonya dengan berbagai angel yang sempurna. Tak lupa sedikit senyuman angkuh yang tersungging di bibirnya.

"Hinata-san, sudah berapa lama anda menjalin hubungan dengan Naruto-san?" Kali ini pertanyaan datang Oyashiro En, sang wartawan ulung penyebab semua kekacauan ini. Oyashiro sepertinya sengaja melemparkan pertanyaan semacam itu demi membuat sensasi baru lagi. 'Kekasih Bayaran Uzumaki Naruto'

Tapi berbeda dengan pikiran Hinata. Gadis ini justru menganggap pertanyaan wartawan ulung itu untuk membuat Naruto mengenang dosa-dosanya.

Hinata tersenyum kecut sebelum membuka mulutnya, menanggapi pertanyaan sang wartawan.

"Naruto-kun, adalah senpaiku saat aku menempuh pendidikan di Senior High School, aku sangat menganguminya, dia adalah cinta pertamaku."

Deg.

Tiba-tiba batin Naruto merasa ngilu, saat Hinata kembali membuka cerita masa remaja mereka. Saat dimana dengan congkaknya ia menginjak-injak perasaan gadis polos yang menganguminya.

"Dia adalah pemuda yang baik dan sangat menghargai perasaan seseorang. Kalian tahu, dulu aku tak seperti yang kalian lihat sekarang. Aku yang dulu adalah itik buruk rupa. Tapi Naruto-kun berbeda dengan pemuda-pemuda populer di sekolah kami kala itu, dia tak pernah memandang seseorang dari penampilannya, Naruto-kun adalah pemuda yang rendah hati. Walau saat itu kami belum berpacaran. Tapi dia sangat menghargaiku sebagai orang yang mengaguminya."

Para wartawan yang sudah menghidupkan alat perekam suara atau kameranya untuk mengabadikan cerita Hinata, mulai terhanyut dengan dongeng yang dikarang Hinata. Ya, dongeng, karena apa yang di ceritakan Hinata adalah kebalikan dari apa yang ia alami. Cerita Hinata adalah harapannya yang pernah ia gantungkan pada Naruto kala itu.

Sementara pria kuning yang duduk disamping Hinata, ia hanya memasang senyuman palsu sambil merangkul dan mengelus lembut bahu Hinata. Seolah ia sedang membenarkan dongeng yang di karang Hinata.

Padahal jauh di dalam lubuk hatinya terselip penyesalan yang amat dalam. Rasa sesal karena memperlakukan seorang yang peduli padanya dengan sangat hina. Naruto tahu, bahwa Hinata begitu membencinya sekarang.

Tapi gadis itu masih mau membantu menyelesaikan masalah skandal Gay yang menimpanya. Ya, walaupun dengan paksaan. Hinata harusnya bisa saja kabur dan mengundurkan diri. Karena ini sudah terlampau menyalahi kontrak kerjanya.

Tangan Naruto yang tak merangkul Hinata, seketika menggenggam kedua tangan Hinata yang berpangku di pahanya yang tertutupi bahan satin berwarna lavender. Naruto lalu menarik nafasnya, dan meraih microfon yang ada dihadapannya. Ia berniat ikut bicara.

"Ketulusannya, kebaikan hatinya, dan kesetiaannya yang terus mengagumiku, membuatku merasakan kehilangan sesuatu saat dia jauh dariku, tanpa aku sadari aku membutuhkannya, aku tak mau menyia-nyiakannya lagi. Menjadikannya milikku satu tahun yang lalu. Walau aku menutupinya dari media. Tapi sungguh aku tak akan menyia-nyiakannya lagi."

Hinata ingin percaya. Ia ingin meyakini bahwa ucapan Naruto adalah dari dalam hatinya. Tapi Hinata hanya akan kembali menipu dirinya sendiri dengan menyimpan pikiran semacam itu. Naruto hanya sedang berakting saat ini demi memperbaiki reputasi dan menyelamatkan karirnya. Tidak lebih.

...

Pintu geser Alphard hitam itu tertutup rapat, sesaat setelah Inuzuka Kiba, sutradara dari drama percintaan picisan ini mendaratkan bokongnya di kursi kemudi. Dan deru mesin mobil seketika terdengar tepat ketika Kiba mulai melajukan mobilnya.

"Maaf sedikit terlambat, wartawan-wartawan itu terus mengorek informasi tentang kalian. Dan dengan sedikit bumbu ala dorama yang ku sampaikan sepertinya rencana kita berhasil."

Hinata menghela nafas kasar saat ia tak perlu lagi tersenyum manis dihadapan para pemburu berita yang sangat menyebalkan itu. Sejak tadi ia melambaikan tangannya sambil berangkulan manja dengan pria kuning yang duduk disebelahnya ini.

Naruto menyenderkan tubuh tegapnya pada sandaran mobil empuk itu. Meraih ponsel pintar miliknya dari saku jaket kulit yang menutupi tubuh kekarnya.

Hinata yang sedang sibuk menyeka bibirnya yang telah dikecupi oleh Naruto dengan tissue, menoleh, saat mendengar gelak tawa cekikikan yang berasal dari pria kuning yang duduk disampinhnya.

"Apa yang kau tertawakan?!" Tanya Hinata dengan nada menantang.

Naruto mengalihkan pandangan dari ponsel pintarnya. Menatap Hinata dengan tatapan aneh di tambah dengan senyuman aneh pula. "Kenapa di hapus?" Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Naruto seolah dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Hinata. "Bukankah kau menikmati ciuman tadi?"

Mutiara lavender Hinata terbelalak dengan wajahnya yang memerah karena Naruto kembali mengungkit ciuman drama itu. "Jangan pernah kau lakukan lagi tanpa seizinku!" Ancam Hinata sambil menunjuk hidung bangir Naruto.

Naruto mendengus geli, seolah mengabaikan ancaman Hinata. "Kita lihat saja bagaimana skenarionya. Aku tidak janji."

Hinata memalingkan wajahnya kesal, lalu meraih ponsel pintarnya yang ia simpan di pouch kecil yang sedari tadi ia tenteng. Dan seketika mutiara lavendernya membulat sempurna ketika ia mendapati fotonya yang tengah berciuman terpampang di akun instagram milik Naruto.

"Kenapa kau mengunggahnya!" Teriak Hinata hingga membuat Kiba menginjak rem secara spontan.

Sementara Naruto, pria itu tampak tenang sambil mengotak-atik ponsel pintarnya. "Aku tidak mengunggahnya, aku hanya merepost dari akun salah satu wartawan. Kurasa itu akan membuat penggemarku senang.., dan kau juga bisa ikut populerkan, dan wow lihat, komentar mereka rata-rata berisi dukungan terhadapmu, wah kau harus berterima kasih padaku yang telah membuatmu tenar."

"Hapus!"

"TIDAK! INI PONSELKU HYUUGA!"

"HAPUS!"

"TIDAK!"

"HAPUSSSSSS"

"HENTIKAANNNN!"

Teriakan Kiba mampu membuat dua manusia dengan perbedaan rambut mencolok ini bungkam.

"Hinata, biarkan Naruto mengunggahnya, bukankah itu bagus untuk membangun opini publik. Dan kurasa mulai sekarang kalian harus mengurangi frekuensi pertengkaran kalian." Kiba tersenyum bahagia sambil memandangi ponsel pintarnya.

"Naruto, selamat, kau akhirnya bisa masuk dalam reality show paling bergengsi di Jepang, oh akhirnya setelah sekian lama, kau dapat tampil diacara ini. Baru saja Might Guy, produser Running Love mengirimkan e-mail. Dia secara langsung memintamu dan Hinata untuk ikut dalam reality show tersebut. Dan akan di siarkan secara langsung."

...

Running Love, Reality Show yang sedang naik daun seantero Jepang dan Asia. Program televisi yang digandrungi oleh masyarakat Asia baik dari kalangan remaja sampai ibu-ibu rumah tangga. Acara yang mempertontonkan duel kekompakkan antara dua pasangan selebritas ternama di Jepang.

Kendati banyak agency di Jepang yang melarang artisnya untuk mengekspos kehidupan asmara demi kestabilan popularitas mereka. Tapi semenjak debut reality show yang dipandu oleh Rock Lee, komedian sekaligus pembawa acara yang tengah melejit di Jepang ini mencapai ratting tertinggi di dunia pertelevisian Jepang. Sontak membuat para selebritis di negeri matahari terbit ini berlomba-lomba memperkenalkan kekasih mereka ke hadapan publik.

Dan menjadi bintang tamu di realty show yang sedang go Asian tersebut, adalah tujuan utama mereka memperkenalkan kekasih. GY entertainsudah berulang kali mengirimkan artis asuhan mereka untuk menjadi bintang tamu di program televisi favorit tersebut.

Namun sungguh disayangkan. Artis sekaligus model yang menjadi anak emas mereka tak memiliki kesempatan untuk mengikuti reality show tersebut. Sungguh sangat disayangkan, padahal produser dari reality show tersebut sudah berulang kali menawarkan Naruto untuk menjadi bintang tamu.

Tapi kendala utamanya adalah Naruto belum memiliki kekasih secara resmi yang di perkenalkan di publik. Dan begitu kabar tentang status Uzumaki Naruto yang mengencani Hyuuga Hinata, menjadi top rank berita di Jepang, membuat produser acara reality show tersebut tak mau membuang kesempatan emas untuk mendatangkan Uzumaki Naruto bersama 'kekasih' barunya guna meningkatkan ratting acara televisi tersebut.

...

"Siapa yang akan menjadi lawan ku dalam acara konyol ini?" Naruto melempar sembarang run down acara yang baru saja di peroleh oleh Kiba ke atas meja meeting GY entertain.

Jika boleh jujur Hinata juga tidak mau mengikuti acara reality show yang menurutnya norak ini, apa lagi ia tahu siapa pembawa acaranya. Lee, teman sekolahnya yang pernah mempermudah Naruto membuat dirinya malu.

Tapi apa mau dikata, jika dia membangkak, kontrak kerjanya sebagai make up artist Naruto akan di putus secara sepihak oleh Kiba. Tidak, Hinata masih memiliki banyak hutang pada rentenir untuk biaya sekolah kecantikannya waktu lalu.

Hinata memutar matanya bosan melihat kadar arogan Naruto yang kian meninggi pasca konferensi pers tempo hari, Naruto seolah berada diatas angin karena karirnya yang kembali melejit. "Bisa kau kurangi tingkat keangkuhanmu Uzumaki?!"

"Kalau aku tak mau, kau mau apa?"

Hinata menyesali memulai pertengkaran dengan pria ini. Naruto yang duduk di sebelahnya kini memutar kursi yang ia dudukki dan kursi yang di dudukki oleh Hinata, hingga wajah mereka saling berhadapan. Dan parahnya lagi Naruto mendekatkan wajah menantangnya dengan wajah Hinata.

"Jauhkan wajahmu!" Telunjuk Hinata menempel pada jidat Naruto dan mendorong pelan wajah pria kuning itu.

"Tidak mau." Dan sialnya Naruto malah tersenyum tanpa dosa sambil memegang kedua lengan Hinata. Hingga usaha Hinata untuk menjauhkan wajah Naruto dari hadapannya menjadi sia-sia.

"Aku bilang menjauhhhh!" Hinata memekik kencang dengan telapak tangan yang tertempel sepenuhnya pada seluruh wajah Naruto.

"Khe khe khe..." Kiba terkikik geli, ia seperti tengah menonton drama komedi romantis secara langsung. "Kalian benar-benar lucu..., tapi kuharap dua hari lagi di Running Love kalian tak seperti ini."

...

Edo Wonderland adalah sebuah taman hiburan yang dibangun oleh pemerintah Jepang bagi para wisatawan yang ingin merasakan langsung budaya dan kehidupan dari periode Edo.

Sebuah tempat wisata dimana pengunjung dapat melihat melihat replika kehidupan di masa Edo, baik dari segi arsitektur sampai segala perabotannya. Dan tempat ini di pilih oleh Might Guy sang produser acara Running Love untuk menjadi lokasi syuting special episode program televisi miliknya.

Wajah cantiknya masih terlihat mengantuk ketika kaki-kakinya turun dari Alphard hitam yang membawannya selama dua jam. Edo Wonder land, terletak di Perfecture Togichi dengan jarak tempuh dua jam lebih dua puluh menit dari Tokyo. Membuat Hinata harus di jemput pagi buta oleh Kiba, agar tidak terlambat untuk syuting.

Ini adalah pengalaman pertama ia masuk televisi. Dan hal itu membuatnya tak dapat tidur semalaman. Wajar jika pagi ini dia raut mengantuk terpatri jelas di wajah cantiknya yang tanpa make up. "Huaaaa..., sudah sampai ya..." Bola mata Hinata terbuka lebar, tangannya terentang, mebiarkan udara segara memenuhi paru-parunya.

Tanpa Hinata sadar, ada sepasang safir biru yang tengah memperhatikan wajah polos Hinata yang tengah mengagumi pemandangan arsitektur masa Edo yang ada dihadapannya.

'Kenapa semakin hari semakin cantik?' Kepala kuning si pemilik safir menggeleng cepat. Ia menyangkal detak jantungnya yang berdegup kencang saat berada disamping gadis ini. "Aku perlu memeriksakan diri saat tiba di Tokyo." Memasukan tangan ke saku jaket hoodie jingga menyalanya, Naruto berlalu meninggalkan Hinata.

...

"SEMANGAT MASA MUDA!" Teriakan memekakkan telinga itu menggema di seantero Edo Wonderland yang sengaja di kosongkan demi kepentingan syuting acara bergengsi ini. Rock Lee sang Pembawa Acara yang tengah naik daun itu siap membuka acara ternama yang kurang lebih satu tahun telah ia pandu.

"OHAYOU GOZAIMAZU, PARA LOVERS!, BERTEMU LAGI DENGAN SAYA ROCK LEE PEMBAWA ACARA PALING POPULER SEANTERO JEPANG..." Lee yang berdiri di teras rumah khas Jepang Kuno itu, berteriak dengan semangatnya, membuka acara.

"Ada yang berbeda dalam Running Love episode kali ini, kalian lihat dimana aku berada?" Lee turun dari teras rumah tradisional tersebut, berjalan ke arah halaman luas rumah yang merangkap sebagai museum tersebut. "Running Love episode kali ini disiarkan langsung dari Edo Wonderland. Dengan bintang tamu yang selama ini kalian tunggu-tunggu, tadaaaaaa..." Tangan Lee terarah ke salah satu pintu geser di salah satu sisi rumah. "Kita sambut pasangan teranyar kita, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata."

Bersamaan dengan terbukanya pintu geser itu, tampak Naruto dan Hinata yang mengenakan pakaian ala-ala zaman Edo.

Naruto mengenakan kimono atasan berwarna abu-abu lengkap dengan hakama hitam. Kening kecokelatannya di tutupi dengan ikat kepala warna hitam, dan di tangannya memegang sebilah katana yang terbuat dari kayu bak seorang samurai sungguhan.

Sementara Hinata, tampak cantik dengan Kimomo komon berwarna putih dengan motif bunga lavender. Rambut panjang sepinggangnya di gelung ke atas dan dihiasi kanzashi lili putih.

Hinata memandang sang pembawa acara, ia belum dapat melupakan apa yang di perbuat Rock Lee, semasa mereka sekolah dulu. Salah satu orang yang ikut andil dalam menginjak harga dirinya.

Tapi pria itu tampak tersenyum tanpa dosa. Sepertinya dia sudah melupakan apa yang pernah ia perbuat pada Hinata dimasa sekolah dulu. Tapi Hinata tidak, dia tak akan pernah melupakan keusilan Lee yang membuka jalan untuk Naruto membully dirinya.

"Dan pasangan yang akan menantang mereka adalah...Taraaaaaaaaaa.." Teriak Lee dengan lebaynya sambil menunjuk ke arah pintu geser yang berlawanan dengan arah Naruto dan Hinata.

"Haruno Sakura, Uchiha Sasuke...!" Pintu geser itu terbuka, sepasang manusia yang tak asing lagi bagi Naruto dan Hinata berdiri berhadapan dengan mereka.

Sama seperti Naruto dan Hinata, pasangan arits dan Ceo yang cukup lama menyembunyikan hubungan mereka dari lensa kamera wartawan ini, juga mengenakan pakaian ala zaman Edo. Sasuke dengan kimono atasan warna abu-abu yang di padukan dengan hakama biru dongker. Dan Sakura yang mengenakan kimono komon merah bermotif bunga sakura. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai tanpa hiasan kanzashi.

Naruto mengumpat dalam hati. Sungguh tak disangka, lawannya dalam reality show ini adalah Uchiha Sasuke. Pria yang sempat digosipkan memiliki hubungan spesial dengannya. Dan yang membuat hatinya semakin panas, sahabat Uchihanya itu menggandeng gadis yang pernah menolaknya di masa sekolah.

'Sial, acara konyol ini mengundang si Teme sebagai lawanku, dan si merah jambu artis spesial pemeran antagonis itu, akhirnya dia mau mengakui si Teme sebagai kekasihnya setelah tiga tahun hubungan mereka disembunyikan.'

"Baiklah, bisa kalian berempat lebih dekat denganku?" Jerit Lee bersemangat.

Naruto dan Hinata, serta Sasuke dan Sakura berjalan mendekat ke arah Lee yang berdiri di tengah halaman.

"Jadi, Uchiha-san apa karena rumor tentang kedekatanmu dengan Naruto tempo hari yang membuatmu mau datang keacara ini?" Lee membuka wawancara singkat sebelum mengadu dua pasang ini dalam tantangan games.

"Ehem..." Batuk sengaja Sasuke untuk mempertahankan kesan wibawanya, berbanding terbalik dengan kekasih merah mudanya yang bergelanyutan pada lengan kekarnya, menyerupai koala yang bergelanyut pada ranting pohon.

Sasuke membetulkan posisi mini microfon yang terselip di kerah kimononya. "Sebenarnya kami telah lama menjalin hubungan yang sudah menuju jenjang serius. Tapi demi karir Sakura, kami sengaja menunda mengeksposnya di hadapan publik. Dan karena rumor kemarin cukup mengganggu kredibilitas ku, maka saat ditawari untuk menjadi bintang tamu di acara ini, aku dan Sakura sepakat untuk menerimanya, sekaligus, mengkonfirmasi mengenai hubungan kami."

Prok... Prok... Prok...

Para kru Running Love bersama dengan Sakura dan Lee, bertepuk tangan girang setelah Sasuke selesai bicara. Sementara Naruto, ia tampak tidak berminat dengan proklamasi hubungan Sasuke dan Sakura. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kembali ke apartemennya di Tokyo dan menikmati hari liburnya dengan tidur sepanjang hari.

Sementara Hinata, iris keunguannya tertuju pada gadis bersurai gulali yang tengah bergelanyutan pada kekasih ravennya. Tangan putih mulus Hinata terkepal. Seolah ia menyimpan dendam kesumat pada Sakura. Tentu saja, artis merah muda itu juga ikut andil dalam kesialan yang ia alami semasa sekolah.

'Dia Haruno Sakura. Pemeran Misae saudara tiri yang kejam dalam dorama Lamentations Stepdaughter*). Khe, aku sangat benci melihatnya di dorama itu, dia selalu menyiksa Mizuki Nana, artis idolaku yang berperan sebagai adik tirinya, kau lihat hari ini Misae, penderitaan Nana-chan dalam dorama akan ku balas disini. Akan ku pastikan kau dan kekasih pantat ayammu akan pulang membawa kekalahan, biar kau tahu bagaimana rasanya malu seperti diriku dulu fufufufufufufufufufufu...' Batin Hinata sambil meremas-remas tangannya.

*(Lamentations stepdaughter : Ratapan Anak tiri)*

...

Dan disinilah keempat orang ini berada. Di sebuah kubangan berlumpur. Replika tempat penduduk zaman Edo melulur kerbau-kerbau mereka.

Keempat orang ini tengah duduk di atas pohon tumbang yang menyerupai jembatan di tengah kubangan tersebut, mereka duduk seperti orang yang tengah berboncengan diatas sepeda motor. Si pria berada di depan dan si wanita yang duduk di belakang wajib memeluk pinggang si pria.

Bersiap untuk sebuah games yang menguji kekompakkan mereka. Naruto dan Hinata serta Sasuke dan Sakura saling berhadapan dengan sorot mata yang mengincar kemenangan. Terlebih Naruto dan Sasuke, dua pria ini tak mungkin akan ada yang mengalah.

"SEMANGAT MASA MUDA LOVERSSSSS!" Lee berteriak kencang dari tepian kubangan. "Para gadisss!" Teriakan Lee di tujukan pada Hinata dan Sakura. "Dalam babak ini pria tercinta kalian lah yang menentukan, kalian hanya perlu mengikuti saja. Dan untuk para pria, tugas kalian adalah sampai di tengah kubangan bersama dengan kekasih kalian. Naruto dan Sasuke kalian harus menjatuhkan lawan kedalam kubangan bersama pasangannya. Pasangan yang mampu bertahan yang akan keluar sebagai pemenang dalam babak ini. Dan para gadis tugas kalian adalah memeluk dan menjaga keseimbangan kekasih kalian agar tidak jatuh. Dan ingat tidak boleh melepaskan pelukan. Jika pria kalian jatuh kalian juga harus jatuh. Jika ada yang melepaskan pelukan, maka akan langsung di diskualifikasi, dan lawan kalian yang keluar sebagai juara episode ini. Baiklah, kekarang mulaiiii...!"

...

Persaingan sengit terjadi. Dua pasang telapak tangan kekar berbeda warna itu terangkat dan saling mencengkram. Berusaha menjatuhkan satu sama lain ke kubangan lumpur yang berada tepat di bawah mereka.

Sementara dua wanita yang berada di belakang mereka di wajibkan memeluk pinggang mereka dari belakang dan menjaga keseimbangan agar pasangan mereka tak membawa mereka jatuh ke kubangan lumpur.

"Khe, mengalah sajalah Dobe, dari pada aku mendorong mu dan kekasih dadakanmu itu kedalam lumpur. Lebih baik kalian menjatuhkan diri saja." Senyum remeh terpatri di wajah Uchiha Sasuke.

"Khe, kau pikir aku akan mengalah dalam permainan konyol ini, mimpi saja kau Teme!" Tubuh Naruto sedikit oleng karena menanggapi ucapan Sasuke.

Beruntung Hinata yang tengah memeluk pinggangnya dari belakang, mempertahankan posisinya agar tidak terjatuh. "Bodoh!, tak usah di ladeni, kita hampir terjatuh!" Umpat Hinata. "Dengar ya!, awas jika aku masuk kedalam lumpur itu. Akan ku-""

"Kau akan apa huh?" Tantang Naruto. Kini dia sudah tidak fokus lagi pada Sasuke. Dan malah sibuk bertengkar dengan Hinata.

Sasuke mendengus geli melihat pertengkaran Naruto dan Hinata. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut dan...

Byurrrr

Naruto dan Hinata seketika jatuh kedalam kubangan lumpur dan otomatis membuat Sasuke dan Sakura memenangkan babak pertama.

Sementara itu, pemandangan amat menarik terjadi di kubangan lumpur tersebut. Naruto terjatuh dalam kubangan lumpur dengan posisi Hinata yang menimpa tubuh tubuh atletisnya. Dan... Bibir mereka lagi-lagi tertempel. Ciuman tanpa sengaja kembali terulang.

...

Tanpa perasaan, Hinata menyumpalkan gumpalan-gumpalan kue mochi, kedalam mulut Naruto. Di babak kedua ini tantangan kekompakan mereka adalah menyuapi kue mochi pada pasangan masing-masing.

Dan Hinata, yang masih merasa kesal karena Naruto kembali mencium bibirnya tanpa izin. Dengan kejinya ia menyumpalkan kue mochi ke mulut Naruto, hingga aktor pirang itu tersedak.

Tapi tak sia-sia, di babak kedua ini, Naruto dan Hinatalah yang keluar sebagai pemenang.

"Uhukkk!" Naruto langsung meminum air mineral yang di sodorkan kru, sesaat setelah permainan itu selesai.

"Kau mau membunuhku hah?!" Teriak Naruto ketika hanya tinggal mereka berdua di teras rumah tradisional Edo yang menjadi tempat berlangsungnya suap-suapan keji itu.

Hinata mengabaikan pertanyaan penuh emosi Naruto. Ia malah sibuk membenarkan tata letak poni ratanya yang sedikit berantakan. Mereka sedikit berbenah penampilan setelah jatuh kedalam lumpur. Ia lalu tercengir lebar ke arah Naruto. "Itu hukuman karena kau kembali menciumku tanpa izin." Jawab Hinata santai sambil berlalu.

"Hei! Itu tidak disengaja!, mana boleh kau menghukumku!" Sia-sia saja Naruto berteriak. Hinata sudah berlalu menuju area babak terakhir reality show Running Love.

...

Sakura dan Hinata tertunduk lesu. Safir dan Onix dua pria yang berdiri dihadapan mereka kini tengah menyoroti mereka berdua dengan penuh tuntutan.

Tak ada yang menjadi pemenang dalam reality show ini. Mereka berempat di diskualifikasi. Semua itu karena ulah Hinata dan Sakura yang merusak property pemerintah di Edo Wonderland.

Bukan hanya di diskualifikasi. Naruto dan Sasuke bahkan harus membayar denda cukup besar untuk ganti rugi rusaknya benda kuno era Edo karena kecerebohan dua gadis itu.

"Sakura, ayo pulang." Perintah mutlak dari Uchiha Sasuke.

"Tapi, Sasuke-kun aku tidak salah, shadako buruk rupa itu yang memulainya.." Rengek Sakura pada kekasih tercintanya dengan tangannya menunjuk ke arah wajah Hinata.

Merasa tersinggung karena wajahnya di tunjuk Hinata yang berniat menyusul Naruto yang sudah keluar dari salah ruangan istirahat di Edo Wonderland, mengurungkan niatnya. Hinata berjalan angkuh kearah Sakura yang bergelanyutan pada lengan kekar kekasihnya.

"Maaf, Nona, siapa yang kau maksud Shadako buruk rupa tadi?" Tantang Hinata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura.

"Kau ingat dia Sasuke-kun, dia anak bodoh di High Schoolku dulu yang dengan bodohnya menjadi pengikut Naruto baka, lihat betapa kasarnya dia, wajar jika Naruto tak berminat padanya. Mungkin dia melakukan operasi plastik hingga cantik begini dan bisa memikat si baka itu." Cerocos Sakura sambil bersembunyi di balik tubuh tegap kekasihnya.

"Khe...," Hinata tertawa mengejek. "Ternyata mulutmu itu selebar jidatmu ya..." Hinata melipat kedua tangannya di depan tubuh, menunjukkan bahwa dia bukan lagi Hinata yang dulu, Hinata remaja yang bisa seenaknya di injak-injak.

"Kau! Dasar Setan Beponi!" Sakura tak mau kalah, ia menunjukkan jati diri brutal sebenarnya. Beringsut dari balik tubuh kekar kekasihnya. Berkacang pinggang menantang si gadis indigo. "Gadis bodoh yang tak mendapatkan cinta pertamanya. Auuuuuuuuuu" Tiba-tiba Sakura terpekik kencang.

Tangan-tangan putih Hinata dengan piawai menjambak helaian sewarna permen kapas milik artis spesial peran antagonis ini.

Tidak tinggal diam, Sakura juga menunjukkan tenaga monsternya. Aksi jambak menjambak dua gadis cantik itu tak terhindarkan. Sementara Sasuke, pria raven yang menjabat sebagai kekasih si gadis permen karet itu tampak tak berminat sama sekali untuk memisahkan kedua gadis itu. Ia malah sibuk mengabadikan betapa besarnya tenaga sang kekasih di ponsel pintarnya.

"Teme!, Apa kau sudah gila hah?!" Naruto berteriak histeris, ketika ia kembali keruangan yang sempat ia tinggalkan, saat tak merasakan kehadiran Hinata. Dan betapa terkejutnya dia saat menyaksikan adegan jambak menjambak dua wanita yang sempat mengisi masa remajanya.

"Tak usah ikut campur jika tidak ingin menerima resikonya." Tanggap Sasuke tenang, dirinya masih sibuk merekam aksi jambak-jambakkan tersebut

Tanpa basa-basi Naruto dengan cepat memisahkan dua wanita itu. Namun malang bukannya berhasil melerai tapi...

Duakkkkkkkk

Pria pirang tingg besar ini terjungkal dengan tidak elitnyamenghantam tembok kayu rumah Edo tersebut, niatnya ingin menarik Hinata, tapi malang, dalam sekali sentakan gadis berponi itu justru membuatnya jatuh terjungkal.

"Sudah ku katakan jangan ikut campur." Ulang Sasuke tanpa dosa.

...

"Semangat Masa Muda ...!" Lee membuka babak terakhir dalam acara reality show tersebut. "Di babak terakhir ini, kalian harus menemukan gulungan rahasia yang telah kami sembunyikan di dalam istana ini. Kalian akan berpencar di dalam istana ini, jika pasangan kalian lebih dahulu menenukan gulungan tersebut. Maka otomatis akan langsung memenangkan hadiah paket liburan ke Paris! Sekarang berpencar!"

.

Mutiara lavender Hinata melebar dan berbinar. Benda yang ia yakini adalah gulungan rahasia yang di sebutkan oleh Lee kini terpampang nyata di hadapannya. Dengan semangat penuh Hinata berlari menggapai gulungan yang di letakan di bawah meja upacara minum teh dan...

Grep

Tangannya berhasil meraih gulungan itu. Tapi ia merasa aneh ada sesuatu yang menarik tangannya.

"Gulungan ini milikku Shadako!"

Suara Haruno Sakura. Artis spesial peran antagonis yamg sangat tidak ia sukai, rivalnya dalam reality show ini.

"Aku yang menemukannya lebih dahulu Jidat Lebar!" Tidak terima dengan panggilan Shadako yang dialamatkan Sakura padanya. Hinata balas memanggil Sakura dengan ukuran jidatnya.

Pertarungan sengit tak dapat terhindarkan. Aksi tarik menarik gulungan itu kini kian sengit. Hinata mengerahkan seluruh kekuatannya untuk merebut gulungan itu dari Sakura. Begitu pula Sakura yang terkenal karena tenaga besarnya seantero Jepang ini tak mau kalah dengan orang yang pertama kali masuk televisi.

"Kyaaaaaaaa..."

Dua gadis itu berteriak kencang mengerahkan seluruh tenaga mereka. Hingga tanpa sadar tangan mereka yang tadi saling menarik di lantai, kini terangkat dan-

Krekkkk

Bunyi patahan terdengar jelas. Akibat tenaga dua gadis ini yang terlampau besar. Meja kayu antik era Edo milik pemerintah Jepang patah jadi dua.

...

Tok Tok Tok

Pintu kayu flat sederhana itu di ketuk kasar, hingga sang penghuni di dalamnya yang tengah tertidur dengan berat hati harus membuka kelopak mata sewarna lili putihnya.

Telapak kaki mulusnya mendarat di lantai, turun dari kasur yang menjadi tempat nyamannya mengarungi alam mimpi.

Hinata berjalan gontai menuju pintu flat murahnya. Dan saat pintu terbuka, alangkah terkejutnya ia saat melihat sekelompok pria yang mengenakan hoodie hitam.

"Si-siapa kalian?" Tanya Hinata ketakukan.

"Ikut kami!" Perintah salah satu pria berhoodie hitam tersebut.

"Ti..., mhhhhhh..." Belum sempat Hinata mengatakan tidak. Tiba-tiba mulut mungilnya di bekap dengan saputangan yang di semprotkan obat tidur. Dan seketika pandangannya menggelap lalu kesadarannya pun lenyap.

...

"Hinata di culik!" Suara panik dari sang manager sontak mengalihkan perhatian Naruto dari ponselnya. Ia sedang menikmati hari liburnya dengan bersantai di appartemen mewahnya, setelah acara Running Love yang tayang beberapa hari lalu mendapatkan ratting tinggi. Walau berakhir dengan adegan jambakan rambut Sakura dan Hinata.

"Jangan bercanda Kiba, mana ada yang mau menculik wanita bar-bar seperti itu." Jawab Naruto acuh setelah sedikit melirikkan matanya. Kini pandangannya kembali terfokus pada game yang tengah ia mainkan di ponsel pintarnya.

Tiba-tiba Naruto tersentak dengan suara ponselnya yang berdering. Nomor asing yang tertera di layar ponselnya membuat dahi Naruto berkerut.

Seingatnya tak sembarangan orang yang mengetahui nomor ponselnya. Tapi entah kenapa tangannya seolah bergerak sendiri untuk menggeser icon hijau di layar sentuh ponsel berlogo apel itu.

"Kau Uzumaki Naruto!" Belum sempat Naruto membuka mulut. Suara seorang wanita di ujung telepon malah memanggil namanya.

Kiba yang berada di depan pintu kini mendekat kearah sofa yang digunakan oleh Naruto. Naruto mengganti posisinya menjadi duduk, ia berinisiatif mengubah mode panggilannya menjadi loudspeaker agar Kiba dapat ikut dalam pembicaraan.

"Kami penculik Hinata!, jangan mencoba menghubungi polisi jika ingin Hinata selamat!"

Bola mata kedua pria ini membulat, saat mendengar Hinata diculik.

"Catat baik-baik alamat ini, datang kesini tanpa membawa polisi!"

...

Dahi Naruto berkerut, dari balik kaca riben mobil sport hitamnya ia memandang heran bangunan megah yang ada dihadapannya.

"Bukankah ini rumahmu?" Tanya Kiba yang duduk di sebelah kursi kemudi yang di duduki oleh Naruto.

Naruto menganggkuk, lalu menatap alamat yang diberikan oleh penculik yang ia catat di secarik kertas.

"Kau yakin tidak salah mencatat?" Kiba mulai ragu dengan akal sehat Naruto.

Naruto tak habis pikir, karena terlalu panik ia hanya mencatat alamat yang disebutkan penculik. Hingga di tengah perjalanan ia baru sadar bahwa alamat yang di berikan sang penculik adalah alamat mansion Uzumaki. Rumahnya sendiri.

Dug dug dug

Seorang pria mengetuk kaca mobil Naruto. Karena ia kenal dengan orang yang tak lain adalah penjaga gerbang rumahnya, maka Naruto membuka kaca mobilnya.

"Tuan dan Nyonya sudah menunggu anda Naruto-sama."

...

Naruto menapaki kaki di rumah mewah yang menjadi tempat ia dibesarkan. Hampir enam bulan lamanya ia tak pernah kembali ke rumah besar ini, kesibukannya sebagai artis dan model membuatnya lebih senang pulang ke apartemennya yang terletak di pusat kota Tokyo. Distrik Shinjuku.

"Kau ingat pulang bocah!" Suara yang amat familiar membuat Naruto menoleh. Suara sang ibu yang sedang menuruni tangga diikuti oleh sang pria pirang yang tak lain adalah ayah kandungnya.

"Mereka menculik Hinata?" Bisik Kiba.

Naruto menaikan bahunya, tanda bahwa ia tak mengerti. Safir birunya mengikuti langkah pasangan paruh baya yang masih terlihat bak pasangan pengantin baru ini.

"Kenapa kau merahasiakan kekasihmu dari kami?" Suara intimidasi dari Minato membuat Naruto tersentak. Ia melupakan konsekuensi lain dari drama percintaan settingan ini, keluarganya.

"Maaf...," suara Naruto terdengar lirih. Ia sudah membuat kedua orang tuanya kecewa.

"Kau selalu bilang pada kami, tak punya kekasih. Tapi, ketika kami mengetahuinya justru dari media." Ujar Kushina dengan nada kecewa. "Kau bahkan membiarkannya tinggal di flat murah. Apa kata teman-teman arisanku jika tahu, calon menantu Uzumaki Kushina tinggal di tempat seperti itu."

"Mulai hari ini Hinata akan tinggal disini bersama kami, terserah jika kau ingin tetap tinggal di apartemenmu." Putus Minato mutlak.

"Tou-chan mana bisa begitu!" Bantah Naruto saat mendengar keputusan sepihak sang ayah.

"Kaa-chan, gaunnya sangat cantik.., aku sangat menyukainya..." Suara sang korban penculikanpun menggema di ruangan luas itu. Hinata berlari kegirangan menuruni tangga. Dan sontak lansung masuk kedalam pelukan Kushina.

"Kaa-chan?" Beo Naruto yang tak percaya Hinata memanggil ibunya sebutan yang sama sepertinya.

"Sepertinya orang tuamu menyukainya." Bisik Kiba kembali.

"Nah, aku senang jika kau memanggilku seperti itu." Kushina mencubit gemas pipi gembul Hinata.

Awalnya memang Hinata sempat ketakutan ketika ia sadar dari pengaruh obat bius. Dirinya terbaring di ranjang king size dalam sebuah kamar mewah.

Namun, ketika seorang wanita bersurai merah, masuk kedalam kamar itu dan menampakkan senyuman keibuannya. Hati Hinata seolah menghangat.

Bagi yatim piatu sepertinya. Tak salah jika Hinata merindukan sentuhan kasih sayang seorang ibu dan perhatian seorang ayah. Dan entah kenapa ia mendapatkan semua itu dari kedua orang tua Naruto. Pria angkuh yang menjabat sebagai kekasih palsunya. Orang yang 'dulu' sempat sangat ia kagumi.

...

Tak ada pilihan lain bagi Naruto. Kushina, ibu kandungnya itu sudah terlanjur sayang pada Hinata. Membiarkan Hinata tinggal di mansion Uzumaki jika ia tidak mau di hapus dari daftar keluarga Uzumaki, begitulah ancaman Uzumaki Kushina yang membuat bulu tengkuknya menegang.

Hampir satu bulan Hinata menjalani pekerjaan tambahannya sebagai kekasih palsu Uzumaki Naruto. Selama rentang waktu itu pula ia tinggal di mansion megah milik keluarga pemilik kerajaan bisnis di bidang moda transportasi ini.

Pekerjaan sebagai make-up artist Uzumaki Naruto? Tak perlu di tanyakan. Kiba tak sebaik hati itu untuk membiarkan Hinata menerima gaji buta. Hinata tetap menjadi make-up artist Uzumaki Naruto.

"Hah... sudah selesai..." Hinata menyeka sedikit keringat yang membasahi pelipisnya. Ia baru saja selesai berkemas kotak mungil yang menjadi modalnya pekerjaannya.

"Foundation, Bb cream, bedak tabur..., beres..." Hinata bermonolog. Tak sulit baginya untuk menjadi juru rias bagi Uzumaki Naruto yang notabenenya adalah pria sejati.

Tugasnya hanya cukup menyamarkan tiga guratan di pipi Naruto, ketika ia sedang syuting. Hinata tak habis pikir, kenapa para produser dorama dan perusahaan produk pakaian dalam dewasa yang di bintangi oleh Naruto, sangat terganggu dengan tanda lahir yang menyerupai kumis kucing itu.

Padahal jila boleh jujur itulah daya tarik Uzumaki Naruto, yang dulu sempat membuatnya tergila-gila.

"Hinata-chan..." Suara lembut penuh aura keibuan itu mengalun merdu di telinga Hinata.

Kushina, ibu paruh baya bersurai merah itu tengah berdiri diambang pintu sambil melempar senyum padanya.

"Ada apa Kaa-chan...?" Hinata menutup box mungilnya, lalu berjalan menghampiri Kushina.

"Kau akan pergi mengantar makan siang ke lokasi syuting Naruto, hari ini?"

"Tentu saja Kaa-chan..., aku tak tega jika Naruto-kun makan makanan katering yang belum tentu terjamin kesehatannya." Dusta Hinata dengan diiringi senyuman manisnya.

Ya, untuk mengelabui Kushina, bahwa dia tetap menjadi penata rias Naruto. Hinata berbohong pada Kushina bahwa maksud dan tujuannya datang ke lokasi syuting Naruto adalah sebagai penata rias. Kushina bisa menghancurkan lokasi syuting jika ia tahu bahwa sang anak masih memperkerjakan calon menantunya.

"Ah, kau sangat manis Hinata-chan..., aku jadi tak sabar menjadikan mu menantuku.." Kushina memeluk erat tubuh mungil gadis berusia dua puluh tiga tahun itu.

Tanpa ia ketahui, bahwa Hinata yang sangat ia sayangi itu tengah menangis dalam hatinya.

'Ibu maafkan aku telah membohongimu dan Ayah..., aku hanya menginginkan kasih sayang orang tua yang tak pernah ku dapatkan, dan Naruto-kun yang sedikit peduli padaku. Aku tahu, ini seperti sebuah mimpi, dan sebentar lagi aku akan terbangun. Ibu, Ayah kumohon jangan membenciku jika kalian tahu aku bukan calon menantu kalian.'

...

Tokyo Ritz Carlton. Hotel bintang lima bertaraf internasional yang menjadi salah satu penghasil devisa terbesar di Negeri Matahari terbit ini, adalah tempat dimana Uzumaki Naruto sedang melakukan proses syuting dorama terbarunya, dimana Naruto berperan sebagai mafia tampan namun kejam.

Dan di loby hotel bergengsi ini lah sekarang Hinata berdiri. Ia tak canggung ketika melangkah menuju kamar yang telah di pesan GY entertain untuk tempat artisnya beristirahat. Hal itu dikarenakan hampir dua minggu belakangan ini ia sering datang ke hotel mahal ini. Sebagai seorang penata rias yang akan mendandani artisnya. Sekaligus sebagai seorang kekasih yang mengantarkan makan siang.

...

Cklek

Kenop itu berbunyi, diiringi dengan terbukanya pintu kayu bercat coklat tua.

"Hah kau datang juga Hinata, kenapa lama sekali...?" Naruto menghentikan kegiatannya membaca dialog dan beringsut dari sofa nyaman yang ia duduki, menghampiri Hinata yang bahkan baru sampai di ambang pintu.

"Kau tahu?, aku hampir mati kelaparan, menunggumu." Naruto menarik tangan Hinata. Membawa gadis itu masuk kedalam kamar megah itu. "Kau bawa bekalnya kan?"

Hinata mengangguk pelan seraya mendudukkan dirinya di sofa panjang. Tepat disamping Naruto yang baru saja mendudukkan dirinya. Hinata mulai menata bekal yang ia bawa.

"Kau, atau Ibu yang memasaknya?" Tanya Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari wadah petak berisi nasi panas mengepul yang di buka penutupnya.

"Aku..." Jawab Hinata datar sambil menata katsu dan jamur saus tiram diatas nasi.

"Bagus, sekarang aku sudah lapar, Aaaaaa..." Naruto membuka lebar mulutnya, minta disuapi.

Hinata termangu melihat sikap kekanakan Naruto. Akhir-akhir ini pria pirang itu memang sedikit bersikap baik padanya. Berhenti memperlakukannya seperti pesuruh dan mulai menghargainya. Semua sikap sengak dan congkak Naruto malah berubah menjadi manja sekarang.

Dimulai dari ide Kiba yang menyuruh Hinata berbohong pada Kushina, mengantarkan bekal Naruto ke lokasi syuting. Membuat Kushina dengan semangat mengajari Hinata memasak. Beruntung Hinata yang hidup yatim piatu sejak kecil sudah terbiasa memasak. Sehingga masakan pertamanya cukup dikatakan lezat.

Dan sialnya hal itu justru membuat Naruto ketagihan masakan Hinata, bahkan pria pirang itu pernah dengan gamblang menolak bekal makan siang masakan sang ibu yang sebenarnya jauh lebih enak dari masakan Hinata. Tapi bagi Naruto bekal makan siang buatan Hinata berbeda, terasa spesial dan seolah hanya dibuat untuknya. Tentu saja, karena Hinata memasaknya dengan cinta.

Entah setan apa yang merasuki Hinata, semenjak perlakuan Naruto melembut padanya. Ia seolah kembali terjebak dalam nostalgia. Dirinya seperti kembali menjadi Hinata remaja yang sangat menganggumi Naruto. Tapi bedanya sekarang pria itu memperlakukannya dengan lebih baik.

"Hei!, kenapa diam saja?, cepat suapi aku, kau tak lihat aku sedang menbaca naskah?" Teriakan protes dari Naruto seketika membuyarkan lamunan Hinata. Gadis manis itu tersenyum tipis dan mulai menyumpitkan nasi serta lauk pauknya ke mulut Naruto.

Naruto membuka mulutnya kegirangan bak anak kecil ketika mendapatkan suapan pertama dari ibunya. Cukup aneh, akhir-akhir ini dia merasakan sangat bahagia ketika Hinata berada di dekatnya. Bahkan dia akan menjadi seperti cacing kepanasan ketika Hinata tak datang ke lokasi syuting.

Kendati Hinata tinggal bersama orang tua Naruto. Tapi ia dan Naruto tidak tinggal satu atap. Dengan dalih kemacetan kota Tokyo, Naruto harus tetap tinggal di Shinjuku pusat kota Tokyo.

Dan saat makan siang atau jika ada pemotretan, adalah alasan yang sangat bagus bagi Naruto untuk berdekatan dengan Hinata. Kendati kedua orang tuanya sering mengingatkannya untuk mengajak Hinata berkencan. Tapi Naruto memiliki gengsi yang sangat tinggi untuk meluapkan rindu pada Hinata hingga memanfaatkan keprofesionalitas seperti ini.

...

Safir itu menatap dengan seksama wajah bulat bak rembulan yang ada dihadapannya. Kegiatan Hinata yang sibuk membubuhkan bb cream tipis pada pipi tannya, membuat Naruto cukup beruntung dapat memperhatikan wajah mulus Hinata tanpa disadari si empunya.

"Maaf mengganggu." Suara Kiba yang muncul dari balik pintu sontak membuat Hinata terkejut dan menjauhkan tangannya dari wajah Naruto.

"Sudah selesai." Hinata buru-buru mengemasi perlengkapannya dan duduk menjauh dari Naruto.

'Sial!' Umpat Naruto dalam hati karena merasa diganggu.

"Para fansmu menunggu di loby hotel, pihak keamanan sudah mengusir mereka, tapi-"

"Jangan usir mereka." Sanggah Naruto, padahal Kiba belum menyelesaikan ucapannya.

"Kalau begitu mari kita temui." Naruto bangkit dari sofa sambil menarik tangan Hinata. Tapi Hinata malah diam tak bergeming.

"Kapan ini akan berakhir?" Pertanyaan Hinata sontak membuat mata kedua pria ini melebar. Naruto bahkan kembali duduk disamping Hinata.

"Apa maksudmu Hinata?" Nada suara Naruto terdengar berat. Ia nampak tak suka dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan Hinata.

"Mau sampai kapan kita membohongi publik?" Mutiara Hinata berkaca-kaca. Ia hampir menangis karena rasa bersalahnya membohongi para fans Naruto, juga Kushina dan Minato yang sangat ia sayangi. "Fansmu, bahkan orang tuamu menjadi korban dalam settingan ini, tak merasa bersalahkah kau telah membohongi mereka?!"

Kiba menunduk mendengar suara parau Hinata yang hampir menangis. Ia juga ikut andil dalam kebohongan ini. "Aku rasa Hinata benar Naruto, pemberitaan hubungan tidak wajar mu dengan Sasuke bahkan sudah tak terdengar lagi. Tawaran iklan dan dorama mu kini kembali stabil, bahkan doramamu yang tengah tayang saat ini meraih rating tinggi."

"Apa maksudmu Kiba!?" Naruto menoleh, tampak kilatan kemarahan tergambar jelas di safir birunya saat mendengar tanggapan Kiba tentang hubungan Naruto dan Hinata.

"Kurasa untuk hubunganmu dengan Hinata, akan ku atur skenario agar kalian terlihat bermasalah, lalu saling menjauh, dan-"

"Keluar Kiba!" Suara Naruto terdengar begitu menyeramkan, tak seperti biasanya. Kiba yang selalu bisa mengatur Naruto kini diam terpaku. Ia malah menuruti perintah Naruto untuk keluar dari kamar itu.

"Rapikan riasan mu, aku menunggu di bawah, kau harus menyapa fansku."

Hinata berharap Naruto mengatakan sesuatu ketika Kiba keluar. Tapi Hinata salah. Naruto hanya menyuruhnya berias untuk menemui fansnya.

Air mata tak lagi terbendung di kelopak mata sayu Hinata. Ia kembali terjebak dalam permainan Uzumaki Naruto. Ia kembali jatuh cinta pada pria itu. Dan Naruto kembali mempermainkan perasaannya. Dengan cara yang lebih halus dari pada saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Dan lebih menyakitkan.

'Sebenarnya apa maumu?, kau membiarkanku terus di sekitarmu. Kau tak menginginkanku, tapi kau tak mau melepaskanku, kenapa sesakit ini mencintaimu...'

...

Hinata keluar dari lift. Setelah menghapus jejak air mata di pipi tembamnya dan mengoleskan lip cream peach di bibir mungilnya yang nampak serasi dengan terusan selutut berlengan panjang dengan motif floral yang ia kenakan.

Dirinya menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata fans Naruto yang menunggu di loby hotel. Mutiara keunguannya menangkap Naruto yang tengah berintertaksi dengan para penggemarnya. Meladeni permintaan para fans yang meminta berfoto bersama, sampai menorehkan tanda tangan pada poster dirinya.

Hinata tersenyum tipis melihat interaksi yang baik antara Naruto dengan para fansnya. Sebelum skandal gay yang hampir merusak reputasi dan popularitasnya. Naruto adalah selebritis yang congkak dan arogan pada fansnya.

Seperti sebuah tamparan. Skandal itu seolah merubahnya menjadi pribadi yang amat hangat pada para penggemarnya. Dan sepertinya keberadaan Hinata di dekatnya juga memberikan pengaruh baik.

Menyadari Hinata sudah sampai di loby karena teriakan histeris para fansnya, Naruto berjalan kearah Hinata, dan menggamit tangan putih mulus itu untuk lebih dekat pembatas yang memberi jeda mereka dengan para penggemar.

Naruto membimbing Hinata melambaikan tangan dihadapan para fans. Hinata yang masih sedikit canggung mencoba tersenyum sambil melambaikan tangannya. Tapi naas.

Prok

Sebutir telur busuk mendarat dan pecah di wajah mulus Hinata. Gadis itu sontak terkejut dan ketakutan. Para body guard mengelilingi Naruto dan Hinata. Menggiring sepasang manusia ini kembali masuk kedalam lift.

"Kau tidak apa-apa?, apa ada yang terluka?" Naruto memeriksa seksama wajah dan tangan Hinata.

Hinata tak terluka parah. Ia hanya menangis karena terkejut dengan prilaku para hatersnya. Ya, tidak semua fans Naruto yang senang dengan berita ia menjadi kekasih Uzumaki Naruto. Beberapa fans yang menganggap Hinata tak pantas untuk Naruto kerap kali menghujatnya di media sosial.

Tapi hari ini adalah yang terparah. Ia di permalukan di hadapan umum. "Hiks...Hiks..." Hinata menangis. Dan sontak Naruto yang tengah membersihkan wajah Hinata dengan jas mahalnya tiba-tiba terkesiap. Tangannya dengan cekatan membawa Hinata kedalam dekapan hangatnya.

"Ssssttttt, jangan menangis, aku akan meminta pihak hotel untuk mencari pelakunya dan menyuruhnya minta maaf padamu dihadapan media." Tangan sewarna madu Naruto dengan lembut mengelus surai indigo si gadis. Ada perasaan tak rela dihatinya ketika melihat Hinata menangis. Ia seolah lupa bahwa beberapa tahun yang lalu ia pernah membuat gadis itu menangis lebih hebat dari hari ini. Bahkan hingga menorehkan trauma di hati Hinata.

"Aku mau pulang saja..." Cicit Hinata dalam pelukan Naruto.

...

"Kau yakin mau pulang sekarang, tak menungguku selesai dulu?"

Hinata menggeleng dari dalam sedan hitam yang siap membawanya, dan dengan berat hati Naruto menutup mobil hitam sang ayah yang di persiapkan khusus untuk mengantar jemput Hinata.

Naruto sebenarnya ingin menemani Hinata pulang kerumah orang tuanya. Tapi sutradara menyebalkan itu tak memberinya izin. Ia harus menyelesaikan syuting beberapa adegan terlebih dahulu.

"Jangan menangis lagi, kau sangat terlihat jelek." Naruto menoel lembut pipi tembam Hinata, dari luar jendela mobil yang belum tertutup. "Aku akan menginap di mansion Uzumaki malam ini." Tangannya mengusak sayang helaian kelam milik Hinata.

Tanpa Naruto sadari perlakuannya justru membuat hati Hinata semakin sakit. Ia kembali tenggelam dalam perasaannya sendiri.

...

Kaki Naruto baru saja menginjak lantai mansion Uzumaki saat dihadapannya berdiri sang ibu dengan berkacak pinggang sambil melotot. "Apa yang kau lakukan pada menantuku?" Tanya Kushina tanpa basa-basi.

"Maksud ibu apa?"

Minato yang berdiri disamping Kushina menghela nafas, melihat kepolosan puteranya. "Kau tidak tahu?"

Naruto menggeleng menanggapi pertanyaan sang ayah.

"Hinata beberapa jam yang lalu menelepon. Dia mau tinggal di flatnya dulu untuk sementara waktu." Jawab Minato dengan nada kecewa.

...

Pagi harinya, setelah semalaman suntuk mendengar ocehan sang ibu yang terus menyalahkan dirinya atas kepergian Hinata dari mansion Uzumaki. Naruto tak mau membuang waktu. Ia langsung menghampiri flat sederhana Hinata yang kembali ia tempati setelah acara pengusiran tempo hari.

"Kumohon jangan ambil barang-barangku... aku berjanji akan melunasi semuanya..., ini peninggalan dari orang tuaku..."

Naruto tampak terkejut dengan pemandangan yang tersaji dihadapannya saat ia baru saja naik kelantai dua tempat dimana flat Hinata berada.

Delapan orang mengenakan kemeja hitam, tampak mengeluarkan satu persatu perabotan Hinata dari dalam flatnya. Tanpa mempedulikan Hinata yang meminta mereka untuk berhenti.

"Kau enak-enakan tinggal di mansion mewah, sementara hutangmu dan bunganya belum terbayar! Kau itu pacar artis terkenalkan? Kenapa tidak meminta pacarmu melunasi hutangmu!"

"Hentikan!" Telinga Naruto terasa panas saat mendengar pria kasar itu membentak Hinata. Ia berjalan dengan penuh emosi ke kerumunan penagih hutang itu.

"Ini, tulis berapa Yen yang kau mau!" Naruto mengeluarkan selembar cek kosong yang telah ia tanda tangani sebelumnya, dan menempelkan di jidat sang penagih itu. "Enyah dari sini dan jangan mengganggunya lagi!"

.

Hinata masih sibuk memindahkan barang-barangnya yang di obrak abrik oleh para penagih hutang ke dalam flat kecil sewaannya. Naruto tak diam saja. Sebagai seorang pria ia membantu Hinata memindahkan perabotan-perabotan sederhana itu.

"Terimakasih." Hinata membungkuk di hadapan Naruto setelah selesai membereskan rumahnya.

"Hanya terimakasih? Aku sudah membantu melunasi hutangmu dan mengangkat barang-barangmu, hanya mendapatkan ucapan terimakasih?" Naruto tidak terima. Ucapan terimakasih Hinata itu seolah kalimat pengusir dari Hinata.

"Kau boleh memotong gajiku nanti." Jawab Hinata datar.

"Tak perlu. Aku hanya minta masakan buatanmu. Aku semalam kembali ke mansion. Kau tak ada disana. Ibu bahkan marah padaku dan tak membuatkanku sarapan. Aku lapar."

"Kau biasanya hanya minum air putih di pagi hari demi otot-ototmu itu." Sungguh Hinata hanya ingin Naruto cepat pergi sekarang. Ia tak mau hatinya semakin terhanyut dengan permainan Naruto. Ya Hinata berpikir, Naruto hanya akan mempermainkannya kembali sama seperti saat mereka masih duduk dibangku sekolah.

"Tapi aku lapar." Jawab Naruto mutlak.

...

Safir biru Naruto menyusuri tiap sudut ruangan flat sederhana Hinata. Gadis itu sedang memasak sesuatu di dapur yang hanya dibatasi oleh tirai, membuat Naruto dengan leluasa memperhatikan bingkai-bingkai piagam penghargaan yang terpajang di dinding.

Hinata mengikuti berbagai kursus, work shop dan seminar tata rias, dan kepribadian. Inilah jawaban dari pertanyaan Naruto, kenapa si itik buruk rupa yang selalu ia bully di masa sekolah kini berubah menjadi angsa cantik. Hinata bekerja keras untuk itu semua. Bahkan membuatnya harus terlilit hutang. Ia bahkan sempat di usir dari flat ini karena semua uang kiriman sang kakak ia pergunakan untuk membeli prodak perawatan mahal.

"Makananmu sudah siap."

Naruto menoleh saat mendengar suara Hinata. Gadis itu tengah meletakan semangkuk ramen mengepul di atas meja pendek.

Naruto berjalan menuju meja itu dan duduk dihadapan Hinata berbataskan meja. "Kau tidak makan?"

"Aku sudah kenyang." Jawab Hinata datar.

"Kau kenapa?" Naruto mengurungkan niatnya untuk makan. Ia lebih tertarik untuk berbicara lebih banyak dengan Hinata.

"Tak apa." Lagi, jawaban dingin yang keluar dari mulut Hinata.

"Pulanglah, Ibu mengkhawatirkanmu."

"Ini rumahku. Dan Bibi Kushina, beliau harus terbiasa tanpa aku. Semua ini harus berakhir." Hinata sadar diri. Dia tahu pada akhirnya dia tak bisa terus memanggil Kushina dengan sebutan Ibu.

"Jangan bahas itu lagi."

"Aku tak mau terlibat dalam masalahmu lagi. Aku mendapat tawaran menjadi penata rias di sebuah salon. Lagi pula kontrakku di agensimu akan segera berakhir. Kau tak perlu takut. Aku akan membayar hutangku padamu."

"Tak perlu. Semua hutang itu, akulah penyebabnya." Naruto tertunduk. Menyadari kesalahan yang pernah dia perbuat hingga menorehkan trauma di hati Hinata. "Maaf..." Kepala Naruto tertunduk. Menatap ubin-ubin dingin. Seketika kenangan saat ia memperlakukan Hinata layaknya seperti kacung, menginjak-nginjak perasaan tulus gadis itu, hingga mempermalukannya dihadapam banyak orang, kembali terngiang di otaknya.

"Tak perlu di ungkit lagi Uzumaki-san. Itu sudah lama berlalu."

Naruto tersenyum miris. Ada rasa perih yang menghujam batinya. 'Ini kah yang dirasakan Hinata dulu?, tidak aku bahkan lebih tega padanya saat itu, ini tak sebanding dengan apa yang ia alami.'

Kaki jenjang Naruto mengikuti langkah Hinata menuju dapur. Membalik cepat tubuh mungil itu hingga mereka saling berhadapan.

Lavender dan safir itu saling beradu. Ada pancaran cinta yang diingkari dari sorot mata keduanya. Hingga tanpa sadar kedua tangan Naruto terangkat, menangkup lembut pipi merah Hinata, dan bibirnya kembali menempel dengan bibir ranum Hinata.

Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya. Ciuman ini bukan muncul karena ketidaksengajaan. Bukan karena sebuah tuntutan agency. Ciuman ini Naruto berikan dengan tulus pada Hinata. Ada rasa sesal mendalam di hatinya ketika mengingat betapa lembutnya perlakuan Hinata dulu padanya. Betapa tak tahu dirinya dia membalas air susu dengan air tuba yang pahit.

Cukup lama kedua bibir itu saling mengecup. Hinata tak melakukan perlawanan. Tubuhnya seolah mati rasa ketika Naruto menempelkan bibirnya.

Senyum tipis merekah di bibir Naruto ketika ia melerai ciuman dengan Hinata. Safir birunya memandang sayu wajah sayu dengan mata terpejam dihadapannya. Hinata begitu cantik. Sungguh bukan karena perawatan mahal yang ia lakukan selama ini.

Hinata cantik karena pancaran kasih sayang yang ada pada dirinya. Pancaran kasih sayang tak dapat di lihat Naruto kala itu. Kala kecantikan fisik menjadi tolak ukuranya untuk menilai seseorang. Tapi itu tak akan terulang. Naruto bersumpah. Ia tak akan pernah membuat Hinata menderita karena ulahnya.

Tangan sewarna madu Naruto membelai pipi gembul Hinata. Perlahan, pemilik iris mutiara itu membuka kelopak matanya. Mendapati pandangan sendu dari safir yang hadir di pelupuk matanya.

'Apa lagi permainanmu kali ini Naruto-kun...? Kau tahu semua ini semakin menyakitkan ku... Permainan ini... kumohon hentikan. Aku tak sanggup berada di dekatmu terus menerus. Mencintaimu begitu menyakitkan.'

"Aku mohon akhiri semua ini."

Naruto salah. Hinata tak merubah niatnya. Ciuman lembut yang ia hadiahkan hanya mengorek luka lama Hinata. Gadis itu benar-benar ingin pergi dari sisinya.

Senyum kecut terpatri di wajah Uzumaki Naruto. Tak ada kesempatan kedua baginya. Sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan membawanya harus menipu hatinya sendiri. Dan ketika ia ingin memperbaiki semuanya. Kesempatan itu telah tertutup. Rasa cinta dan sesalnya hanya akan melukai gadis dulu sangat mencintainya.

'Apa sebegitu sakitnya mencintaiku Hinata? Apa kenangan buruk itu tak dapat kau hapus? Jika keberadaan ku disisimu hanya akan mengingatkanmu pada luka yang pernah ku torehkan. Maka kau akan ku lepaskan.'

"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Kita akhiri semuanya."

'Ini permainanmu kan Naruto-kun...? Aku tahu itu. Tak pernah ada ruang kecil dihatimu untukku... Apapun yang kulakukan tak akan mengubah pandanganmu padaku. Hyuuga Hinata si bodoh. Itukan yang kau pikirkan Naruto-kun...? Aku terlalu naif menanti pernyataan cinta darimu. Aku kembali terjebak dalam permainanmu. Aku kembali dengan senang hati masuk kedalam perangkapmu. Berbahagialah Naruto-kun...'

To Be Continued

Sejak satu tahun lalu dimana saya pertama kali terjun sebagai penulis di dunia Fanfiction. Saya sudah berniat mendedikasikan tulisan saya untuk pair NARUHINA. Sehingga sulit bagi saya untuk menolak kolaborasi dengan para penulis NARUHINA yang tak perlu di ragukan lagi kualitasnya. Saya sebelumnya adalah seorang seorang reader tak berakun yang begitu kecanduan membaca Fanfic Naruhina. Namun setelah membaca banyak Fanfic Naruhina sebagai pembaca saya sedikit kecewa dengan terbengkalainya banyak Fanfic Naruhina yang berkualitas.

Sejak saat itu, saya bertekad akan meluangkan waktu senggang saya untuk memperkaya arsip Fanfic Naruhina dengan berbagai kisah yang tak biasa diangkat oleh para penulis sebelumnya. Debut Pertama Fanfic saya Sweet Malpractice mendapat respon yang sangat baik dari para pembaca. Namun tak sedikit ada beberapa kata-kata pedas yang terlontar. Jujur itu sangat mempengaruhi mood saya dan membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk menulis aktif disitus lain. Dan hanya sekedar menyetorkan arsip disitus ini

Dan berkenalan dengan Empat NHL yang begitu mengagumkan menggelitik hati saya untuk membuat sebuah terobosan baru bersama mereka. Membuat sebuah cerita dengan keterlibatan banyak orang di dalamnya, menuangkan ide dan saling berbagi keluh kesah serta kegembiraan sebagai penulis Fanfiksi, membuat saya menemukan titik nyaman.

Fic ini menjadi kolaborasi pertama kami sebagai bukti betapa sayangnya kami dengan pair Naruhina. Membuat kisah mereka dari sudut pandang kami dan membagikannya pada NHL lain. Sedikit miris memang, melihat kenyataan sekarang bahwa Fanfic crack pair lebih banyak penggemarnya dari pada Fic canon. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyuguhkan untuk fic dengan pair kesayangan kita. Doakan kami bisa terus kompak untuk membangun kembali kejayaan Fic Naruhina di dunia biru.

Nana Anayi