Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Friendship, Romance,
Warning : OOC, typo(s), AU, multichapter, dan yang lainnya..
Sumary : Chap. 4/Sakura hanya meminta satu lelaki saja untuk mengisi hidupnya, tapi banyak yang datang membuka hatinya untuk Sakura. Siapakah yang akan dipilihnya? /SasuSaku/SasoSaku/NejiSaku/GaaSaku/DeiSaku/ Special for Shirayuki
Which One Will I Choose?
"Di masa tersebut, banyak hal yang blablabla.. Para ahli mengatakan jika blablabla. Maka itu kita sebagai blablabla, blablabla, dan blablabla.. harus blablabla. Tak lupa blablabla..." Asuma menjelaskan tentang pelajaran sejarah di kelas XIIB pada siang ini. Tangannya cekatan membuat simbol maupun garis-garis tak beraturan yang a.k.a huruf dan gambar menggunan spidol hitam di papan tulis yang tergantung di depan kelas.
Tetapi sepertinya suasana hati murid-murid di kelas XIIB yang mengikuti pelajaran sangat berbanding balik dengan mood Asuma sendiri.
Asuma menjelaskan dari yang penting sampai detil-detilnya yang sama sekali tidak penting dengan.. yah, bisa dibilang bersemangat, sedangkan murid-murid kelas ini sumuanya bertampang bosan dan tidak tertarik atau pun pikirannya sudah nyasar entah kemana. Bahkan sudah ada yang tertidur dan lagi, murid-murid yang terkenal dan dicap anak rajin saja asik dengan dunianya sendiri.
Mungkin jika yang tidak memperhatikan itu anak-anak yang terbilang malas masih bisa dimaklumi, tetapi situasi sekarang ini sudah menyangkut mereka yang terbilang 'alim'.
Sungguh miris bukan nasib kelas ini? Nasib Asuma pun juga tak bisa dibilang baik, Asuma sudah menjelaskan secara jelas, tetapi malah diabaikan. Mungkin Asuma akan membalas murid-muridnya yang sama sekali tidak menghargainya nanti dengan memberikan soal-soal ulangan yang susah.
"Hoaam.. hey, Pig, berapa jam lagi kita seperti ini?" sang gadis musim semi yang biasanya mengikuti pelajaran sejarah dengan semangat menggebu-gebu malah bertanya dengan malas pada sahabat pirangnya sampai kapan mereka-murid XIIB terperangkap dalam pelajaran membosankan ini sambil menguap. Ckckck,
Cara duduknya pun sudah seperti orang yang dibuat menunggu selama berjam-jam. Matanya menatap sayu ke arah papan tulis sambil menyalin apa yang Asuma tuliskan tanpa memerhatikan 'ocehan' Asuma. Punggungnya yang biasanya tegak saat mengikuti pelajaran sekarang dibiarkan bersender dikursi.
"Hmm? Seharusnya, sih, sekarang sudah bel." Sejenak Ino melirik jam yang terpasang di atas papan tulis depan kelas tanpa mendongakkan kepalanya dan kemudian membalas pertanyaan Sakura.
Posisi Ino sendiri juga sama dengan Sakura. Matanya menatap malas Asuma, telapak tangan kirinya bersentuhan dengan dagunya sebagai tumpuan, dan badannya condong ke depan. Tapi bedanya, Ino sama sekali tidak menyalin yang ada di papan tulis seperti teman sebangkunya itu.
Posisi murid-murid yang lain pun tak beda jauh dengan keduanya. Ada yang menelungkupkan wajahnya di meja sambil memegang bolpoin seakan-akan menulis padahal sang empunya sudah berada di alam bawah sadar, ada juga yang berpura-pura sedang membaca pelajaran sejarah yang sedang Asuma jelaskan padahal sebenarnya membaca komik, dan tak lupa juga ada yang sibuk mengutak-atik Hand Phone di laci meja.
Seakan seluruh kelas mendengar ucapan Ino tentang bel tadi, murid-murid XIIB langsung mengarahkan pandangan dan perhatiannya pada jam di depan kelas. Kegiatan yang mereka lakukan selama pelajaran sejarah berlangsung pun mereka hentikan sejenak.
Pupil-pupil mereka dengan seksama mengikuti gerakan jarum yang menunjukkan detik. Mereka benar-benar tidak sabar menunggu bel pulang berbunyi, karena pelajaran-sejarah-Asuma-yang-membosankan-ini adalah pelajaran terakhir siang itu di sekolah.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Semua mata memandang dengan antusiasme dan harapan yang tinggi. Bahkan ada beberapa murid yang sudah komat-kamit berdoa memohon bel segera berbunyi, ada yang mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori kulit, ada juga murid yang tidak bisa diam seolah-olah dirinya akan meledak jika tenaganya-yang-berlebihan-itu tidak disalurkan dengan sebuah aktivitas secepatnya.
Mereka mengharapkan bel berbunyi sebagai pahlawan kesiangan mereka dan menghiraukan Asuma yang berdiri tepat di bawah jam yang mereka perhatikan.
...
...
KRIINNGG..!
Dan bersamaan dengan bunyinya bel yang ditunggu-tunggu teriakan dan sorak-sorai yang berasal dari murid-murid kelas XIIB terdengar kelas sampai kelas lain, Asuma pun menutup telinganya dengan kedua tangannya secara reflek.
Tinjuan ke udara dan lompatan girang murid-murid ini mendominasi suasana yang tadinya hening. Mereka pun cepat-cepat memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas secara asal dan langsung berlari keluar seolah-olah jika tidak cepat-cepat mereka akan terkurung di pelajaran membosankan lagi. Asuma yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anak didiknya.
Sakura dan Ino juga ikut menyusul teman-teman yang lain keluar kelas, tapi saat baru di ambang pintu mereka tepatnya Sakura berhenti dan berbalik arah ke Asuma karena merasa namanya dipanggil.
"Haruno,-" Asuma memberi sinyal pada Sakura untuk mendekat, Sakura yang dipanggil pun berjalan ke arah Asuma, "-tolong kembalikan buku ini di perpustakaan, berikan saja pada penjaga perpustakaan." Kata Asuma sambil menjulurkan sebuah buku sejarah yang dipakainya tadi untuk menjelaskan kepada Sakura.
Sakura pun mengangguk dan mengambil buku tersebut.
"Pig, kau pulang duluan saja. Aku mau mengembelikan buku ini di perpustakaan sekalian aku juga mau meminjam beberapa buku."
"Baiklah, nanti aku akan kerumahmu, pastikan kau ada di rumah. Jaa na." Ino pun berjalan meninggalkan kelas sambil melambaikan tangannya. Sakura juga langsung bergegas berjalan ke arah yang berlawanan dengan Ino.
Dari pintu kelas mereka, Ino ke kanan, sedangkan Sakura ke kiri.
.
.
Ruang perpustakaan KHS sepulang sekolah terbilang sepi, tetapi mau sesepi apa pun ruangan ini tetap saja masih ada tanda-tanda kehidupan, seperti mereka-mereka yang rajin sedang meminjam atau mengembalikan buku dan beberapa murid yang sedang mengerjakan tugas.
Klek.
Pintu perpustakaan terbuka dan menampakkan sosok seorang gadis berambut buble gum. Gadis yang diketahui bernama Haruno Sakura melangkahkan kakinya di perpustakaan dan berjalan menuju penjaga perpustakaan berada.
"Simasen, sensei, saja ingin mengembalikan buku yang Asuma-sensei pinjam tadi." Sakura memberikan buku tersebut kepada penjaga perpustakaan yang bernama Izumo.
"Hai, arigatou ne Haruno-san." Sakura pun mengangguk dan pergi menuju rak buku yang bertuliskan IPA. Sekarang tujuan berikutnya adalah meminjam buku Kimia.
Setelah mencari selama kurang lebih lima menit, buku yang Sakura incar pun sudah ada di depan matanya. Yang menjadi masalahnya saat ini adalah bagaimana-cara-mengambil-buku-yang-berada-di-rak-paling-atas-itu.
Tak mau menyerah, Sakura mencoba untuk melompat supaya bisa meraih buku incaranya. 'Huft, memiliki tubuh pendek itu tidak menyenangkan.' Inner Sakura menggerutu karena masih belum bisa meraih buku yang ingin dipinjamnya.
Hup.
Buku yang ingin Sakura ambil itu pun saat ini berada di genggaman orang lain, tepatnya seorang pemuda berambut coklat. Pemuda dengan iris amestys itu pun tersenyum tipis namun lembut dan menyodorkan buku yang digenggamnya tepat di depan Sakura.
"Kore, lain kali kalau tidak bisa mengambilnya minta tolonglah pada orang lain."
"Hai, arigatou gozaimasu Neji-san, gomen merepotkan." Sakura mengangguk dan mengambil buku yang disodorkan pemuda tadi yang ternyata bernama Neji.
"Aa. Kau mau pulang?" tanya Neji dengan suara beratnya yang bernada datar.
"So desu. Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Matte kudasai,-" Neji dengan cepat meraih tangan Sakura memintanya berhenti sebentar, alhasil Sakura yang tangannya ditarik Neji pun sontak berhenti dengan wajah sedikit memerah, "-aku juga mau pulang, mau bareng? Tadi pagi kulihat kau tidak datang dengan kendaraan, kebetulan aku membawa motor, bagaimana" Neji menawarkan pulang bareng dengan Sakura dan cepat-cepat ia tambahkan kalimatnya supaya Sakura tidak salah mengartikan ajakannya. Yah, namanya juga Hyuga, sebisa mungkin mereka akan menjaga image mereka.
"A-apa tidak merepotkan Neji-san? A-aku bisa pulang sen-diri." Sakura pun menjadi tergagap dibuatnya, semburat merah di wajahnya pun masih betah berlama-lama disana.
'Bagaimana dia bisa tahu aku tidak membawa kendaraan, apa dia memperhatikanku?'inner Sakura mulai tidak waras, tapi sebenarnya, sih, kesimpulan Sakura tadi memang benar.
"Iie, lagi pula rumah kita searah dan jangan tambahkan sufiks apa pun di belakang namaku, cukup Neji saja." Neji menggeleng pelan dan masih bersikeras mencari alasan yang logis supaya Sakura mau menerima ajakannya.
"Ba-baiklah jika Neji-san, err, maksudku Neji memaksa. Aku mau meminjam buku ini dulu." Sakura pun akhirnya bisa mengatasi caranya berbicara yang tiba-tiba tergagap dan memilih mengalah mengiyakan ajakan Neji kemudian melangkah menjauhi tempat mereka berdiri tadi dengan Neji yang mengekorinya.
'Untung dia tak lupa melepaskan tanganku, bisa tambah merah mukaku tadi.'Batin lega gadis beriris emerald tanpa menoleh kebelakang ke arah pemuda yang mengikutinya.
Seusai Sakura meminjam buku di perpustakaan, Sakura pun diantar Neji pulang dengan motornya yang terparkir manis di parkiran motor siswa KHS.
Kedua insan berbeda gender tadi pun melesat menjauhi sekolah dan menghilang di persimpangan jalan dengan kecepatan motor santai tidak ngebut maupun terlalu lambat.
.
.
Ino POV
"Pig, kau pulang duluan saja. Aku mau mengembelikan buku ini di perpustakaan sekalian aku juga mau meminjam beberapa buku."
"Baiklah, nanti aku akan kerumahmu, pastikan kau ada di rumah. Jaa na." Aku pun berlalu menjauh dari kelasku menuju pintu masuk utama KHS.
Lega rasanya bisa terbebas dari pelajaran membosankan Asuma-sensei tadi. Aku, sih, maunya langsung mengajak Jidatku sayang ke mall, biasalah.. ada dincount besar-besaran hari ini. Makanya aku ingin langsung mengajaknya, tapi ternyata Asuma-sensei menyuruh Sakura untuk mengembalikan buku yang ia pinjam di perpustakaan. Jadinya aku akan pulang dulu untuk ganti baju, lalu ke rumah Jidatku sayang.
Ukh, Asuma-sensei itu memang selalu mengacaukan semuanya. Benar-benar guru itu.
Oh, ya, sekarang ini aku sedang berada di dalam taxi yang akan membawaku ke home sweet home'ku. Setelah sampai di depan rumah, taxi pun berhenti dan aku membayar ongkos perjalanan.
Saat sudah berada di luar taxi, kulihat kanan dan kiriku, ramai. Ya, pantas, sih, inikan jam makan siang jadi pasti jalanan akan ramai, apalagi rumahku berada di kanannya jalan raya.
Kuabaikan orang-orang yang melintas dan membuka pintu toko bunga milik ibuku. Berbagai macam bau bunga pun langsung menyerbak tercium indra penciumku. Kulihat ibuku sedang melayani pelanggan di temani beberapa pekerja. Sekali lagi kuabaikan mereka semua dan menaiki tangga di ujung ruangan setelah mengucapkan 'tadaima'.
Langsung saja aku melesat ke kamarku dan mengganti bajuku dengan pakaian santai. Atasan kaos sabrina berwarna kuning rambutku dengan dalamantanktopberwarna biru langit, celana jeans ΒΌ berwarna biru tua dan sepatu heels oranye 7cm. Kurias wajahku dengan make up tipis dan kuoleskan bibirku dengan lip gloss(Author: tulisannya salahnya? #plakk) natural.
Yosh, Yamanaka Ino sudah siap ke mall dengan sahabatnya Haruno Sakura.
Kumasukkan barang-barang yang kuperlukan ke dalam handbag putihku dan langsung melesat keluar rumah untuk memanggil taxi yang akan mengantarku ke rumah Sakura.
Sesampainya di rumah si pinky itu, kulakukan apa yang harus dilakukan. Membayar taxi, keluar dari taxi, dan berjalan ke teras rumah pinky itu.
Kanan kiriku terlihat sepi, tidak seperti jalanan rumahku yang ramai. Pagi, siang, sore, malam pun jalanan rumah atau tepatnya perumahan si pinky memang selalu sepi, seperti tidak berpenghuni saja.
Bel pintu sudah kutekan, tapi si jidat lebar itu masih belum membukakan pintu dan menampakkan batang hidungnya. Karena kesal, kutekan terus bel tak bersalah itu sebagai pelampiasan rasa kesalku.
"SAKURAA!"
Meneriakkan namanya, sudah. Menggedor-gedor pintu, sudah. Menekan bel tak bersalah itu berulang kali, sudah juga. Dan setelah kupastikan aku melakukan segala usaha yang harus dilakukan pertama kali saat 'bertamu' sudah, aku pun bisa menyimpulkan jika si forehead itu tidak ada di rumah.
"Cih, dasar dia itu, 'kan aku sudah bilang untuk berada di rumah dan jangan ke mana-mana tadi karena aku mau ke rumahnya. Eh, orangnya malah tidak ada, jangan-jangan dia lagi berkencan dengan cowok-cowok keren, belum puas apa dia?! Dan lagi, kenapa tidak ada tempat yang bisa kududuki di teras ini? Arghh!"
Karena tidak punya pilihan lain, aku pun duduk di lantai teras rumah Sakura dan menyenderkan punggungku di pintu kayu rumahnya sambil menggerutu dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Bisa kupastikan jika bibirku ini sudah manyun kesana-kemari.
Brum.. Brum..
Tak beberapa lama kemudian, kudengar suara motor di jalan depan rumah Sakura, aku pun melongo tak percaya dengan mata mendelik melihat pemandangan yang disuguhkan di depanku. Aku pun langsung berdiri dan membersihkan pakaianku yang terkena debu dan membenarkan penampilanku lagi.
Oh, Kami-sama, mengapa ini terjadi?
End Ino POV
Sakura POV
Wah, tak kusangka jika Neji mengendarai motor tidak ngebut. Tidak seperti Deidara-senpai atau Naruto-nii-san. Setelah menjauh dari sekolah, Neji mampir ke toko buku sebentar, katanya, sih, mau membeli novel.
Aku tidak ikut masuk bersama Neji ke dalam toko buku, aku menunggunya di luar dekat motor yang tadi kami kendarai. Seusainya Neji pun mengantarku pulang.
"Arigatou Neji, sudah mau mengantarku. Gomen merepotkanmu." Ujarku berterima kasih dan meminta maaf kembali. Aku kan tidak enak dengan Neji.
"Aa, sama-sama. Tidak merepotkan kog." Balasnya disertai senyum tipis.
Akh, merona sudah wajahku ini. Aku hanya menunduk untuk menghindari kontak mata sekaligus menyembunyikan semburat merah di wajah. Tetapi, sepertinya aku tidak berhasil menyembunyikan ronaan menyebalkan ini, kudengar dia terkekeh pelan.
"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai ketemu besok disekolah." Lewat ekor mataku, kulihat dia memakai helmnya kembali yang semula ia lepas.
"A-aa, jaa." Kataku dengan salah tingkah, akh, memalukan sekali dirimu Sakura!
Dan kembali kudengar dia terkekeh pelan, huft, dia pasti menertawai tingkah konyolku ini. Cih, baka na!
Motornya pun melesat dan menghilang di ujung jalan membawa sosoknya. Aku pun membalikkan badanku untuk berjalan menuju rumahku. Baru mau melangkah, aku pun dikejutkan oleh sosok di depanku. Bisa kuduga jika wajahku sudah pucat pasi dan keringat dingin mengucur di dahiku.
"Wah, wah, lihat apa yang kutemukan di sini. Hari pertama dengan Gaara, hari kedua menghabiskan waktu istirahat dengan Sasori-senpai, hari ketiga kencan dengan Sasori-senpai, hari keempat kencan dengan Deidara-senpai sampai pulang malam. Dan lihat di hari kelima, pulang dengan Neji, eh?"
Deg.
Mati aku, tertangkap basah pulang dengan Neji oleh Queen of Gossip.
End Sakura POV
"Wah, wah, lihat apa yang kutemukan di sini. Hari pertama dengan Gaara, hari kedua menghabiskan waktu istirahat dengan Sasori-senpai, hari ketiga kencan dengan Sasori-senpai, hari keempat kencan dengan Deidara-senpai sampai pulang malam. Dan lihat di hari kelima, pulang dengan Neji, eh?"
"E-eh, Ino, apa.. yang kau la-kukan disi-ni?" Tanya Sakura dengan tergagap-gagap dengan wajah pucat pasi dan senyum yang dipaksakan.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke mall, ada discount besar-besaran hari ini, bagaimana" Ino tersenyum manis penuh arti sampai-sampai matanya menyipit. Bisa Sakura akui jika itu merupakan senyuman yang manis, tetapi itu adalah senyuman evil bak devil.
'Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak.' Sakura pun menghela nafas panjang dan mengiyakan ajakan Ino dengan pasrah.
"Haahh, baiklah, aku mau ganti baju dulu."
Sakura pun berlalu memasuki rumahnya dan Ino masih berdiam diri di tempatnya dengan seringaian terpampang indah di wajah cantiknya dan aura gelap disekitar tubuhnya, tak lupa mata aquarime'nya berkilat.
'Kau akan memberitahuku semuanya Saki, lihat saja nanti. Kalau ada penjelasan yang tertinggal, kupastikan besok satu sekolah akan membicarakanmu tentang 'kencan-kencan'mu itu."
.
.
TBC
Gomen gomen, sudah menelantarkan fic ini. Author malas melanjutkan, sih. (#plakk dihajar reader)
Okee, author balas reviewnya ne..
Hanazono yuri : hehe, ini udah NejiSaku. SasuSaku nya masih ntar keluarnya. Review lagi yaa and thanks for review..
Zefa : Arigatou, ne Zefa. Review lagi yaa..
Mako-chan : iya, nih, Sasuke belum masuk. Masih lamaaa... (digebuk Sasu). Hehe, thanks and review please.
Special thanks juga untuk silent reader dan para reader yang juga sudah memberi review. :D
Okeee... cukup sekian dari Yue. Akhir kata, review please..
.
