About Love

Chapter 4

.

.

.

Okee!

Well, gimana kabarnya semua? Kuro-Rena disini! Kali ini saya kembali dengan chapter 4-nya About Love. Awalnya, saya mau cerita tentang masa lalunya Erza (menurut saya). Tapi berhubung saya lupa... makanya nggak jadi deh~ *ditabok*

Sebagai gantinya, saya buat chapter ini dan chapter selanjutnya agak spesial deh~

Langsung saja ke ceritanya! Hope you enjoy it~

.

.

.

About Love, Chapter 4


Aku termenung sendirian. Kata-kata Lucy terngiang-ngiang dalam benakku.

"Gray…" Gumamku pelan. Aku memejamkan mataku dan merebahkan diri di tempat tidurku.

Kenangan-kenangan bermunculan dari otakku. Kenangan saat pertama kali aku datang ke Guild ini. Saat Gray melihatku menangis. Senyum hangatnya, kata-katanya, punggungnya yang selalu terlihat lebar…

Kurasakan wajahku memanas.

Erza, sadarlah! Gumamku pada diri sendiri. Entah mengapa, pikiran bahwa aku…aku...er, su, suka padanya sangat aneh. Lihat saja, memikirkannya saja sudah sulit.

Tapi bagaimana bila itu benar? Aku kembali membatin.

Aku mengarahkan kepalaku ke atas. Kutatap bintang-bintang berkilauan cemerlang di atas langit.

"Yah… Mungkin itu memang benar..." Gumamku sambil menatap langit, termenung. "Mungkin aku memang-"

"Memang?" Lanjut suara seseorang yang sangat familier. Aku segera menoleh, kaget.

"G,G,GRAY!" Kataku gugup. Ia sedang berdiri disampingku, menatapku penasaran. Aku terlalu terpesona pada langit sampai tidak menyadarinya datang… Belum lagi pikiranku yang bercabang membuatku tidak sadar akan sekitarku.

"Memang apa, Erza? Ayo lanjutkan!" Kata Gray. Aku memalingkan muka, gugup mengetahui ia mendengar yang kuucapkan.

"Bu, bukan apa-apa!" Kataku gugup. Gray berjongkok disampingku, wajahnya sangat penasaran.

"Memang apa sih? Ayolah, Erza…" Kata Gray. Aku bangkit berdiri, berusaha menenangkan hatiku yang rasanya sudah loncat kesana-kemari.

"Sudah kubilang, bukan apa-apa. Kenapa kau disini?" Kataku, berusaha mengubah pembicaraan. Gray menghela napas kecewa.

"Haah, Erza, kau harus berusaha bersikap terbuka denganku, kau tahu? Aku mencarimu kemana-mana, tahu." Katanya. Aku menatapnya kaget.

"Kenapa?" Tanyaku gugup. Ia tersentak, seakan baru sadar dengan perkataannya.

"Eh—bukan apa-apa." Jawabnya singkat, namun ia terdengar gugup, sama sepertiku.

"Ayolah, beritahu aku!"

"Kau juga harus memberitahuku soal "memang" yang tadi tidak kau lanjutkan itu."

"…"

"…"

Sunyi.

"Kau duluan, kalau begitu." Kataku memecah suasana sunyi.

"Tidak, tidak. Harus kau duluan, Erza." Kata Gray.

"Kau duluan!" Seruku padanya.

"Tidak, kau duluan!" Serunya balik.

Kami berdua melotot satu sama lain.

"….."

"….." Aku mulai menahan tawa.

"….PUH! HAHAHAHA!" Tawaku meledak. Ia juga mulai tertawa.

"Kita memang selalu begini dari dulu, ya kan?" Tanya Gray padaku. Aku mengangguk.

"Selalu begini." Jawabku sambil tersenyum.

Aku dan Gray kembali duduk. Aku menatapnya. Ia sedang tersenyum menatap kerumunan orang di festival. Wajahnya terlihat begitu….bahagia.

Kurasakan hatiku mulai berdegup kencang.

"Erza, kau baik-baik saja?" Tanya Gray tiba-tiba. Aku mengangguk.

"Ya, kurasa aku baik-baik saja…."

"Kau terlihat tidak sehat." Gumam Gray. Ia menatapku penuh kekhawatiran. Aku tersenyum padanya.

"Aku baik-baik saja, Gray." Kataku. Ia masih tidak yakin. "Bilang padaku kalau kau sakit, ya?" Katanya. Nadanya khawatir. Aku mengangguk.

Kami berdua kembali terdiam.

Apakah itu tadi yang dinamakan suka? Apa aku suka pada Gray? Aku membatin. Aku mencuri pandang ke aranya. Ternyata ia sedang melihatku.

"….Erza." Kata Gray. Wajahnya tampak tegang.

"Ya?"

"Er…Tidak deh."

"…."

Sunyi.

Aku meliriknya, hanya sekilas. Ternyata ia masih menatapku.

Aku mengerutkan alis.

"Apa sih?" Tanyaku. Ia mengangkat bahu.

"Tidak… Tidak ada apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu." Jawab Gray sambil tersenyum.

"Lalu kenapa menatapku?" Tanyaku lagi. Gray, yang sepertinya sedang melamun, segera menjawab.

"Karena kau yang kupikirkan, mungkin?" Jawabnya spontan.

Kurasakan mukaku membara.

"A,A…? G,Gray….Ka,kau…" Aku mati-matian menyelesaikan kalimatku ditengah badai luapan perasaan. Rasanya malu, namun begitu senang….

"EH? AAAAH!" Seru Gray. Mukanya juga berubah merah.

Kami berdua berpandangan.

Angin berhembus kencang untuk pertama kalinya dalam malam ini.

"Apa itu benar?" Tanyaku.

Gray diam sejenak. Lalu mengangguk.

"I,iya. Aku memikirkan dirimu." Jawabnya pelan.

Aku…Aku kehabisan kata-kata.

"Mengapa?" Tanyaku pelan. Gray mengacak rambutnya, sepertinya putus asa.

"Entahlah, Erza! Aku, aku, aku selalu menganggap dirimu manis dan sebagainya! Aku pasti sudah gila…" Jawabnya dengan nada bingung. Aku menatapnya tidak percaya.

"Tapi, tapi, aku kan—"

"Erza." Putus Gray. Aku menatapnya lagi.

Gray menghela napas panjang. Lalu bertanya.

"Bagaimana…. Bagaimana kalau aku bilang aku suka padamu?"

.


-TBC-

Okeeh, itulah chapter 4! Sebentar lagi selesai nih kayaknya~ XD

Disini saya bikin agak-agak romantis begitulah, karena saya sebagai author juga tidak sabar buat adegan romantisnya mereka berdua… *ditimpukbata*

Erm, silahkan review~ Tolong jangan flame saya ya… :D

_Kuro-Rena_