Chapter 4:
Hinata's Ramen Party
-Hinata's Room
"Oke Hinata," kata Sakura selaku dokter cinta. Kali ini mereka di temani Ino, mereka meminta bantuannya karena Ino adalah gadis yang termasuk sukses dalam percintaan. Sekarang dia sudah sampai pada tahap TTM dengan Sai. Lumayan kan? Ukuran ninja seumuran mereka mah lumayan.
"Apa yang paling disukai Naruto?" tanya Ino pada Hinata.
Hinata memutar-mutar kedua telunjuknya didepan dada. "Eh… Ramen?"
"Binggo! RAMEN!" kata Ino. "Jadi, kalo dia suka Ramen, lo harus…?"
Hinata diam, berpikir keras. Kalau Naruto suka Ramen maka Hinata harus… "Umm… Memberinya kupon makan ramen gratis?"
"SALAH!" kata Sakura sambil menggebrak meja. Hinata sontak terkejut. "Lo nggak bisa mengharapkan cinta datang semudah itu!"
Hinata menunduk. Tidak bisa ya? Lalu… "La… Lalu… Aku harus apa…?"
Ino menggosok-gosokan tangannya di dagu. "Well,… Itu berarti… Lo harus melaksanakan sesuatu seperti…"
"Pes.. Pesta ramen?" kata Hinata, mencoba menerka apa yang akan dikatakan Ino. Tiba-tiba senyuman lebar terbentuk di wajah Ino dan Sakura. Binggo! Tepat banget!
"Ja… Jadi aku harus mengun..dang seluruh teman-teman…"
"SALAH" Sakura menggebrak meja lagi, kali ini dengan Shanaroo. Neji yang sedang tertidur dari kamarnya pun terbangun karena merasakan sesuatu sejenis gempa bumi. "Cukup kau dan Naruto, berdua saja."
Pein dan Konan baru saja datang dari kantor kades Konoha—kantor Hokage, maksudnya. Mereka baru saja mendapat izin tinggal di Konoha untuk beberapa hari. Lho? Kok bisa dapet izin buat tinggal di Konoha? Mereka kan kriminal! Gampang aja, bilang kalo nggak boleh tinggal di konoha, Pein bakalan ngadain aksi ngobrak-ngabrik desa. Takut deh tuh Hokage.
Saat mereka membuka pintu, di sana ada anggota Akatsuki sedang berkumpul untuk mengadakan rapat rahasia yang akan dipimpin Pein.
"Oke," kata Pein, naik ke mimbar. "Selamat malam seluruh anggota Akatsuki yang saya cintai, merutama my bebep Konan. *Pein mengedip kearah Konan genit, Konan kejang-kejang* Sebelumnya mari kita panjatkan puji syukur karena kita bisa berkumpul disini dalam keadaan sehat sento…"
"EH LO TUH MAU PIDATO APA MAU MULAI RAPAT AKATSUKI SIH?!" kata Kisame emosi, dia masih ilfeel berat gara-gara tuduhan homo kemarin.
"Tenang saudara Kisame!" kata Pein. "Kita disni akan menjelaskan mengenai perihal kehomoan Itachi dan Kisame, mumpung Sasuke lagi tidur di lantai dua."
"TUTUP MULUT LO MONSTER PIERCHINGAN! GUE NGGAK HOMO!" Kisame makin menggila.
"Itu dia," kata Pein, tetap cool dalam segala keadaan. "Kita ingin menegaskan bahwa yang kemarin itu hanya FITNAH!"
Silent.
"Apa?" kata Konan bingung.
"Itachi," Pein menatap Itachi. Itachi mengangguk.
"Kemarin saudara saya, Sasuke, berniat membangkitkan Uchiha Madara dari kematian untuk mengajarinya menjadi homo yang baik, berhubung Madara juga homo. Tapi, seperti yang kita ketahui, Madara tidak bisa dibangkitkan begitu saja. Hal itu tentu akan menyebabkan kekacauan, jadi saya terpaksa mengaku sebagai seorang homo agar Sasuke mengurungkan niatnya membangkitkan Madara," jelas Itachi.
Silent lagi.
"Terus kenapa lo bawa-bawa gue?" tanya Kisame, masih kesal.
"Buat memperkuat bukti," kata Itachi.
"APA ? JADI LO MITNAH KISAME CUMA BUAT BUKTI DOANG!? FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PADA PEMBUNUHAN CHI!" kata Hidan, lebih emosi dari Kisame. Dengan cepat dia mengambil bunga, menyan, dan air untuk memulai ritual pembersihan dosa Itachi. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra. "Ampuni makhluk hina yang berdosa ini."
"IYA! NGGAK DISANGKA KALO ITACHI-SENPAI BISA KEJAM SAMA KISAME-SENPAI! Tobi… Tobi.. Ngga… HUWEEEEEE!" Tobi menangis keras karena tidak kuat menerima kenyataan bahwa Itachi-nya ternyata benar-benar jahat.
Kisame mulai terharu. "TEMAN-TEMAN!" Kisame menangis keras.
"EH! Gue nggak sekejam itu!" kata Itachi membela diri. Tiba-tiba kepalanya disiram oleh air kembang tujuh rupa dari Hidan.
"Nggak kejam apanya?" kata Hidan. Dibakarnya kemenyan di atas baju Itachi. Sontak Itachi kaget dan dengan cepat berdiri.
"LO MAU NGEBUNUH GUE?" kata Itachi. Hidan tidak menjawab, masih asyik menggambar sign pemantraan aneh di atas tatami di sekitar Itachi.
"Ampunilah manusia kotor yang berdosa ini…" kata Hidan, tidak mempedulikan api dijubah Itachi yang makin membesar.
Mulai bosan dengan keadaan yang super gaje ini, beberapa anggota akatsuki mulai mengerjakan kegiatannya masing-masing. Konan bikin Origami, Deidara bikin patung dari clay, Zetsu bermain bersama beberapa kelopak bunga berwarna-warni yang diambilnya dari baki air kembang tujuh rupa Hidan, Kakuzu lagi bisnis online di HP-nya dan Sasori yang sekarang asyik bermain bersama boneka barbie terbarunya.
"Kamu imut deh kayak aku," kata Sasori pada bonekanya.
Pein, ketua bernasib naas yang menjadi satu-satunya orang yang masih waras diruangan (tumben) menggebrak meja.
BRAK!
Semua mata tertuju pada Pein. "Hentikan semua ini," kata Pein. Anjir kece ya gue, inner Pein. "Kalian ini lebih memilih untuk melawan Madara, atau berpura-pura jadi homo sih? Terutama kau Kisame!"
Kisame pundung.
Semua orang sekarang mengintrospeksi diri, kecuali Pein. Mereka semua terdiam dalam keheningan malam yang sepi. Bulan diluar sana bersinar menyinari penyesalan mereka. Angin malam masuk dari sela-sela ventilasi kediaman Uchiha, mengantarkan bau sate masuk kedalam hidung mereka.
Eh? Sate?
Itachi dengan ngerinya memberanikan diri kearah jubahnya yang tadi dibakar Hidan. Semuanya melakukan hal yang sama.
"KEBAKARAAAANNNNN!"
Sasuke yang semula nyenyak dengan sigapnya tutun kelantai bawah. "AH! ANIKI!" Mata Sasuke nyaris melompat keluar saat melihat Anikinya tersayang nyaris terbakar. Dengan cepat dia lari ke gudang peninggalan Uchiha.
"Otouto mau kemanaaaa?!" kata Itachi alay. Tak ada jawaban dari Sasuke.
Akatsuki lainnya mulai mencari cara untuk memadamkan api tersebut. Konan berusaha menimbunnya dengan kertas agar api itu mati, tapi malah semakin besar. Hidan berusaha menyiram sisa air ritualnya agar apinya mati, tapi hanya mematikan api di jubah Itachi saja, padahal apinya sudah meleber kemana-mana. Tobi berusaha mematikan api itu dengan memasukan dirinya kedalam kobaran api (?), tapi dicegah oleh Deidara sebelum dia sempat melompat. *Nggak ada yang inget buat pake jurus semburan air ato apalah itu namanya*
"HADOOOH! KOMPLEKS KLAN GUE GIMANA NIH!" kata Itachi, sekarang dia merasa benar-benar bersalah pada Kaa-san dan Tou-sannya. Bukan, tapi ke seluruh buyutnya.
Tiba-tiba… Jeng-jeng! Datanglah Sasuke dengan kipas perang madara. "Bantuin gue Tobi!" kata Sasuke.
Dengan sigap Tobi membantu Sasuke untuk mengipaskan kipas tersebut ke api, anggota Akatsuki ingin mencegah tindakan bodoh tersebut. Tapi terlambat.
WUSHHHHHH!
Api semakin besar.
"NGGAK ADA PILIHAN! LARI!"
Akatsuki + Sasuke semuanya berlari keluar dari mansion Uchiha yang mulai habis itu. Dan saat itulah takdir mempertemukan mereka bertiga.
"Na… Naruto, mau tidak kau p-pergi mencicipi Ramen bu-buatann ku?" kata Hinata sambil menyodorkan undangan buatannya ke arah Naruto.
Naruto, selalu no clue seperti biasanya, nggak ngerti kalau Hinata aslinya mau ngajak dia kencan. Perlahan, diterimanya undangan ramen party Hinata yang sebenernya nggak pantes disebut pesta ramen karena yang datang hanya Naruto dan Hinata.
Atau rencananya yang datang hanya Naruto dan Hinata. Rencananya.
Sasuke berlari tunggang langgang tanpa arah dan tujuan. Kecepatan penuh, lebih cepat dari bapaknya Naruto. Tiba-tiba…
Brukkk!
Sasuke jatuh tepat di antara Naruto dan Hinata. Undangan ramen party tersebut jatuh tepat didepan matanya. Dibacanya undangan tersebut. Kemudian dia segera tahu…
"Hinata-chan, aku juga diundangkan?" kata Sasuke sinis, sekaligus melirik Hinata dengan mangenkyo sharinggan yang entah dia dapat dari mana.
TBC
Yuzuki Yukari: Makasih banyak ya:D Yafa Mut : Iya, masih ada sekitar 2 chapter lagi Yuko Kazaki : Hime sama Sasuke itu... kayak gimana coba akhirnya? ;) Hirano Lawliet : SasuHina-nya chapter depan...
Makasih untuk review-nya ya ^^ Makasih juga untuk yang baca sampe chapter ini.
Jangan lupa kritik dan sarannya ya...
