.::::::::I Am The Soldier::::::::.

••

Naruto dan segala unsur yang mungkin akan muncul di fict ini BUKAN MILIK SAYA, melainkan milik pembuat mereka.

••

M {Tidak ada Lemon (atau mungkin)}

••

O. Naruto X ...

•••

••


~cklek!~

"Tadaima!" Ujar Sang Jenderal mengucapkan salam sambil membuka pintu dari sebuah rumah yang bisa dikatakan sangat megah dengan penjaga berupa tentara disana-sini.

"Okaeri, Anata." Balas seorang perempuan dari dalam rumah itu, dan tak lama kemudian seorang perempuan bersurai putih panjang menampakkan dirinya pada Sang Jenderal.

"Lihatlah ini, Kaguya-chan, aku membawakan sebuah hadiah untukmu." Ujar Jenderal itu dengan riangnya, hal yang sangat jarang di tunjukkan oleh nya 22 tahun terakhir. "Ini dia." Ia'pun kemudian menarik sebuah lengan beserta empunya dari balik punggungnya.

Seorang pemuda berambut putih muncul dari belakang tubuh Sang Jenderal dan langsung memeluk istri dari Jenderal itu. Suara isakan sangat jelas terdengar.

Wanita bernama Kaguya itu'pun tersentak kaget karenanya. Terkejut bercampur bingung saling tercampur dalam hatinya, terkejut karena hal tiba-tiba itu, dan bingung dengan sebuah perasaan yang hinggap pada dirinya. Sebuah perasaan yang terasa begitu hangat. Insting keibuannya'pun bangkit, menuntun kedua tangannya untuk membalas pelukan pemuda yang belum ia kenal tetapi terasa begitu akrab itu.

"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menangis?" Tanya Kaguya dengan lembut.

"Kaa-san." Jawab pemuda bernama asli Naruto itu di sela-sela tangisnya.

Kedua mata Kaguya'pun langsung melebar tatkala Naruto memanggilnya 'Kaa-san'. "Na-Naruto." Ujarnya dengan terpatah-patah karena mendengar kata pertama yang telah ia nanti-nanti selama ini, yang telah ia nanti selama 22 tahun lamanya.

Air mata keluar perlahan-lahan dari pelupuk matanya dan dengan cepat merangkak menuruni kedua pipinya. Ia menangis! Menangis bahagia dan mengeratkan pelukannya pada Naruto.

Sang Jenderal yang melihat interaksi antara ibu dan anak yang bertemu kembali hanya bisa menitikkan air matanya kembali. Ia'pun mendekati mereka dan ikut memeluk anak beserta istrinya itu.

•••••

•••••

"Nah, Naruto, ini adalah kamarmu." Ujar Sang Jenderal menunjukkan sebuah kamar berukuran besar pada Naruto. "Lebih baik kau beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu makan malam yang disiapkan Kaa-san mu siap. Kau pasti lelah bukan setelah menjalankan misi tadi?"

"Baiklah, Tou-san." Naruto'pun berjalan memasuki kamar itu.

"Baiklah, kalau begitu Tou-san pergi dulu. Oh, satu lagi, jika kau membutuhkan bantuan, kau bisa memanggil kami atau menanyakannya pada Jarvis."

"Siapa itu Jarvis?" Tanya Naruto.

"Kau akan tahu nanti. Nah, selamat beristirahat." Jenderal itu'pun pergi meninggalkan Naruto sendirian dikamarnya.

~brukh!~

Naruto'pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king size yang ada dikamarmnya setelah menutup pintu dan meletakkan barang-barang bawaannya kesembarang tempat.

"Selamat malam, tuan." Namun, tiba-tiba saja sebuah menggema di kamar itu menyapa Naruto dan berhasil membuat Naruto tersentak.

Naruto'pun langsung bangkit dari acara berbaringnya dan memasang posisi siaga ala prajurit yang ia pelajari di kemiliteran. "Siapa kau?" Tanya Naruto.

"Just A Rather Very Intelligent System, atau lebih singkatnya J.A.R.V.I.S." Jawab suara itu memperkenalkan dirinya.

"Jarvis? Apa kau sebuah robot? Jika benar, dimana kau berada?" Naruto melepaskan sikap siaganya.

"Saya bukanlah sebuah robot, melainkan sebuah sistem kecerdasan buatan dan saya berada di seluruh kamar dan rumah ini, tuan."

"Hm, begitu ya. Lalu, siapa yang membuatmu?"

"Tuan Ootsutsuki Arashi dan Tony Stark."

"Wow, ternyata Tou-san bukan hanya seorang Jenderal, tetapi juga seorang yang pandai di bidang teknologi." Ujar Naruto kagum pada sosok ayah yang baru saja ia temui dan hal itu'pun membuatnya semakin terdorong untuk mengetahui perihal keluarganya ini.

"Jarvis, bisakah kau membantuku?" Tanya Naruto sambil mendudukkan ujung kasur king size nya.

"Apapun itu, Tuan."

"Bisakah kau memberitahuku perihal keluarga ini sedetail mungkin hingga hal terkecilnya?"

"Baiklah, Tuan. Sebelumnya, Ootsutsuki merupakan sebuah keluarga atau lebih tepatnya Klan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ootsutsuki sebelumnya merupakan sebuah klan ninja, namun akibat perkembangan zaman yang begitu pesat, profesi sebagai ninja'pun akhirnya ditinggalkan oleh mereka dan beralih profesi menjadi prajurit militer. Karena prestasi yang mereka miliki, akhirnya banyak orang dari klan Ootsutsuki yang dipercaya untuk menjabat sebagai perwira setingkat Jenderal dan Jenderal, termasuk Ayah anda."

"Apakah anda tahu mengenai Ootsutsuki Industries, Tuan?" Tanya Jarvis.

"Hm, setahuku itu adalah sebuah perusahan di bidang persenjataan." Jawab Naruto.

"Anda benar. Ootsutsuki Industries adalah sebuah perusahan di bidang alutsista terbesar di Jepang, dan juga saingan utama dari perusahaan Namikaze. Ootsutsuki Industries di bangun sekitar 60 tahun lalu oleh kakek anda yakni Ootsutsuki Hagoromo, dan anda adalah pewaris berikutnya."

Sementara Jarvis menjelaskan semua yang ia ketahui tentang Ootsutsuki kepada Naruto, di tempat lain, atau lebih tepatnya di depan kediaman baru Naruto, terlihatlah 3 buah mobil serba hitam dua mobil dengan logo Chevrolet berada di depan dan belakang sebuah limosin memasuki pagar rumah megah dengan penjagaan ekstra ketat itu dan berhenti tepat di depan pintu rumah itu.

Seorang perempuan berpakaian jas hitam dengan dalaman putih keluar dari pintu depan bagian kiri limosin itu lalu ia membukakan pintu belakang limosin itu.

Seorang perempuan bersurai putih keluar dari dalamnya. "Terima kasih." Ujarnya ramah.

"Ha'i."

"Tadaima." Ujar perempuan itu sambil membuka pintu rumahnya.

"Okaeri, Yuki-chan." Balas sebuah suara pria paruh baya dari dalam rumah itu.

Perempuan bernama Yuki itu'pun berjalan memasuki rumahnya lebih dalam lagi dan mendapati Sang Jenderal atau ayahnya tengah duduk di sofa sambil membaca sebuah buku.

"Kaa-san dimana, Tou-san?" Tanya Yuki.

"Dia sedang memasak di dapur, apa kau mau membantunya." Jawab Arashi.

"Memasak? Apakah ada yang spesial hari ini sampai-sampai Kaa-san yang turun tangan untuk memasak." Tanyanya.

"Tentu saja ada, Yuki-chan." Jawab Arashi sambil memasang senyum misterius pada bibirnya.

"Baiklah, kalau begitu aku akan membantu Kaa-san." Ujar Yuki dengan riang dan berjalan setengah berlari menuju dapur. "Kaa-san." Panggil Yuki.

"Yuki -chan, kenapa kau kemari?" Tanya Kaguya di sela-sela acara memasaknya yang di temani oleh beberapa maid.

"Tentu saja membantu, Kaa-san."

"Tidak, tidak, kau tidak boleh membantu Kaa-san untuk saat inu. Lebih baik kau segera mandi dan bersihkan badanmu!"

"Tapi, Kaa-san." Yuki'pun akhirnya merajuk sambil menggembungkan kedua pipinya dan dengan berat hati ia'pun pergi meninggalkan Kaguya

|Naruto|

"Lalu tentang rumah ini? Maksudku tentang semua ruangan di rumah ini dan semua penjaganya."

~sring!~

Sebuah hologram 3 dimensi tiba-tiba muncul di depan Naruto dan memperlihatkan bentuk rumahnya.

"Rumah ini adalah rumah yang sudah turun temurun di wariskan. Rumah ini berdiri di atas sebuah lahan seluas 2 hektare persegi. Desain rumah ini sendiri mengambil desain dari Olympus milik Amerika. Rumah ini terdiri dari beberapa ruangan diantaranya adalah ruang tamu, ruang keluarga, lima kamar tidur, 5 kamar mandi, ruang pertemuan, ruangan kerja, perpustakaan, ruang olah raga, sebuah kolam renang, ruang penelitian, garasi yang berada di bawah tanah." Jarvis menunjukkan semua ruangan dan letaknya dengan media hologram 3 dimensi. "Penjagaan rumah ini tergolong sangat ketat, dengan penjaga bersenjata lengkap di setiap sisi rumah dan beberapa sniper di atap."

"Hm, kurasa sampai disini dulu, kita sambung ini di lain waktu, dan juga terima kasih atas bantuanmu Jarvis."

"Sama-sama, Tuan."

"Hah...Kurasa mandi akan menyegarkan tubuhku." Naruto'pun beranjak menuju kopernya dan mengambil sebuah handuk lalu pergi keluar dari kamarnya dengan tujuan kamar mandi.

Setelah beberapa saat berjalan, ia'pun akhirnya sampai pada tujuan utamanya dan tanpa mengetuk pintu guna mengetahui ada atau tidak nya orang di dalam, Naruto'pun langsung membukanya.

Sebuah cairan berwarna merah kental dengan perlahan-lahan merangkak keluar dari kedua lubang hidungnya manakala ia melihat sesuatu di dalam kamar mandi itu.

Seorang perempuan! Yah, seorang perempuan telanjang yang tengah mandi lebih tepatnya. Untuk beberapa saat, otak Naruto'pun menjadi blank.

Hal yang sama'pun juga dialami oleh sang perempuan untuk beberapa detik kemudian sebelum akhirnya ia'pun tersadar karena otaknya kembali berputar dan dengan cepat memproses apa yang saat ini terjadi.

"KYAHHHH!" Perempuan itu'pun berteriak sekencang yang ia bisa dengan muka yang sangat merah karena malu.

Teriakan perempuan itu'pun dengan sukses membuat otak Naruto kembali berfungsi. "EH!" Kedua matanya membulat sempurna.

"PERGI KAU MESUUUUMMM! TOU-SAN! KAA-SAN, TOLOOOONGGG!" Teriak perempuan itu sambil menutupi tubuhnya dengan sehelai handuk. Setelah itu, ia'pun menyambar apapun yang ada di depannya dan melemparkannya pada Naruto.

"Ma-maaf, ma-maafkan aku!" Ujar Naruto sembari menghindari benda-benda yang di lemparkan perempuan itu.

"PERRGGIIII!"

•••••

•••••

•••••

Dan akhirnya, mereka berdua'pun berakhir di meja makan dengan muka perempuan bernama lengkap Ootsutsuki Yuki yang masih merah padam dan Naruto dengan muka yang lebam-lebam akibat lemparan Yuki.

"Kenapa dengan kalian berdua?" Tanya Arashi mengawali pembicaraan di meja makan besar itu.

"Dia, dia mengintipku saat mandi." Jawab Yuki sambil menunjuk-nunjuk Naruto dengan pisau makan.

"Ti-tidak, bukan maksudku untuk mengintip, itu, itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan." Elak Naruto.

"Kenapa itu bisa terjadi? Apa Jarvis tidak memberi tahumu?" Tanya Arashi kembali.

Naruto'pun hanya menggeleng sambil menjawab. "Tidak."

"Hah...Lebih baik kalian saling memaafkan!" Perintah Arashi.

"Aku tidak mau! Lagi pula siapa dia? Kenapa dia ada disini?" Balas Yuki sengit.

"Oh, benar juga, kau belum mengenalnya ya. Kalau begitu, perkenalkan dia adalah Ootsutsuki Naruto, kakakmu, dan Naruto, dia adalah Ootsutsuki Yuki, adikmu."

"Ka-kakak?" Bingung Yuki untuk beberapa saat sebelum ia akhirnya menggelengkan dengan kuat. "Tidak mungkin! Naruto Onii-chan bukanlah orang mesum dan tidak akan mengintipku saat mandi."

"Sudah kubilang, itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan."

~kringg! kringg!~

Tiba-tiba saja di meja makan itu terdengar dua suara telepon berdering. Naruto dan Arashi yang merupakan pemilik telepon'pun segera mengangkatnya.

"Maaf, Kaguya-chan." Ujar Arashi sebelum mengangkat teleponnya.

"Aku juga minta maaf, Kaa-san." Ujar Naruto sebelum mengangkat teleponnya.

"Tak apa." Balas Kaguya.

"Hiruzen, kenapa kau menghubungiku malam-malam seperti ini?" Tanya Arashi.

'Kode Merah-Triple S Rank.' Jawab Sang penelepon yang ternyata adalah Letnan Jenderal Hiruzen Sarutobi.

Kedua mata Arashi'pun seketika membulat. "Apa? Baiklah, aku akan segera kesana."

Sementara itu dengan Naruto.

"Halo, Kolonel! Ada apa kau meneleponku malam-malam seperti ini?" Tanya Naruto.

"Dimana lokasimu sekarang, Naruto?" Tanya Sang penelepon yang tak lain adalah Kolonel Jiraiya.

"Ehhh, aku ada di rumah?"

"Rumah mana yang kau maksud?"

"Rumah milik Jenderal."

"W-wow, aku tak menyangka bahwa kau akan diundang kerumahnya, tapi lupakan itu, segeralah bersiap untuk bertempur! Aku yakin Jenderal memiliki simpanan senjata di rumahnya. Kode Merah-Triple S Rank! Dan juga, akan ada helikopter yang akan menjemputmu dan Jenderal."

"Dimengerti."

"Tou-san, apakah di rumah ini ada tempat penyimpanan senjata?" Tanya Naruto langsung setelah mengembalikan smartphone nya di saku celana.

"Tunggu, mau apa kau menanyakan itu, Naruto?" Tanya Arashi.

"Tentu saja menjawab panggilan tugas, Tou-san." Balas Naruto.

"Tidak, kau harus tetap di rumah!"

"Ini tugasku, Tou-san."

"Naruto, sebagai ayah ku perintahkan kau untuk tetap di rumah."

"Naruto patuhi perintah Tou-san mu! Tetaplah di rumah." Ujar Kaguya.

"Maaf, Kaa-san, tapi ini sudah menjadi kewajibanku sebagai prajurit." Dan Naruto'pun langsung berlari entah kemana yang ia tuju.

"Anata, kumohon hentikan Natuto!" Pinta Kaguya dengan mata yang mulai berair menciptakan efek seperti kaca.

|Naruto|

"Jarvis, dimana tempat penyimpanan senjata?" Tanya Naruto sembari berjalan menyusuri setiap ruangan.

"Ada dibawah, Tuan. Di dalam garasi pintu baja." Jawab suara yang diketahui adalah milik Jarvis.

"Terima kasih, Jarvis." Naruto'pun segera menuju tempat yang di tunjukkan Jarvis. "Hm, apakah pintu ini, Jarvis?" Tanya Naruto kembali saat ia mendepati sebuah pintu baja.

"Benar tuan."

"Kalau begitu, tolong bukakan."

Pintu baja itu'pun terbuka dengan sendirinya, menampakkan berbagai senjata di dalamnya, beberapa senapan serbu AR-15 yang terpajang rapi di dinding, beberapa pistol, bayonet, bermacam granat, night vision, rompi anti peluru, peluncur granat, dan perlengkapan militer lainnya.

Naruto'pun pertama-tama mengambil sebuah rompi anti peluru dan memakainya, lalu sebuah senapan AR-15 dan beberapa amunisinya serta sebuah peluncur granat yang langsung ia pasang pada senapannya, 3 buah granat lempar, 2 buah granat asap, dan 2 buah amunisi peluncur granat, sebuah pistol, lalu terakhir night vision namun, tanpa ia sengaja night vision yang telah ia ambil itu terjatuh di dekat sebuah kacamata berlensa biru dan masker berwarna hitam.

"Apa ini, Jarvis?" Tanya Naruto sembari memungut kacamata dan masker itu.

"Secara teknis itu adalah sebuah komputer dengan model kacamata dan masker anti gas." Jawab Jarvis.

"Komputer? Apa ini memiliki fungsi seperti night vision?" Tanya Naruto sembari memakai kacamata beserta masker itu.

~sring!~

Lensa kacamata itu tiba-tiba memancarkan cahaya terang berwarna putih kebiruan.

"Tentu saja tuan."

Dilihatnya pada kacamata itu tampilan layaknya tampilan komputer super canggih yang langsung mengidenyifikasi benda-benda di depannya. "Wow, aku tidak pernah melihat kacamata secanggih ini." Kagum Naruto.

••••

••••

••••

Akhirnya, setelah mengambil semua yang ia butuhkan, Naruto'pun hendak keluar namun, pada saat ia akan membuka pintu tiba-tiba saja Jarvis berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang pada kacamata Naruto sehingga hanya Naruto seoranglah yang dapat mendengarnya. "Tuan, di luar ruangan ini ada dua orang penjaga dan Tuan Arashi, kemungkinan mereka akan menangkap anda."

"Begitu ya. Kalau begitu kita lihat seberapa tangguhnya penjaga-penjaga itu." Dengan perlahan-lahan Naruto membuka pintu baja di depannya.

Dan pada saat pintu baja itu telah terbuka sempurna, tiba-tiba saja dua pasang tangan dari kanan dan kirinya bergerak dengan cepat untuk menangkapnya.

Dengan cepat pula Naruto mendudukkan badannya sehingga kedua pasang tangan itu saling menangkap.

~grep! sreet! brukh!~

Naruto memegang salah satu kaki dari dua orang penjaga itu sebelum akhirnya ia menariknya dan menyebabkan kedua penjaga itu terjatuh menghantam lantai marmer yang begitu keras.

"Aku akan tetap berangkat, Tou-san." Ujar Naruto sambil berjalan melewati Sang Ayah.

~grep!~

Sang Ayah'pun menahan tangan anaknya. "Naruto, aku tahu kita baru bertemu tadi sore, tapi ku mohon Naruto, tetaplah di rumah! Pikirkanlah bagaimana perasaan Kaa-sanmu yang sudah lama tak bertemu denganmu dan baru beberapa jam bertemu, ia harus melihat anaknya melawan bahaya." Bujuk Arashi.

"Tapi kenapa, Tou-san? Kenapa?" Tanya Naruto dengan nada yang sedikit tinggi.

"Karena kami tak bisa kehilangan kau lagi." Balas Arashi dengan nada yang tak kalah tinggi.

"Maaf, Tou-san. Tapi, aku akan tetap pergi." Naruto'pun oergi meninggalkan Arashi.

••••

••••

"Naruto, Kaa-san mohon, jangan pergi Naruto!" Ujar Kaguya yang saat ini sudah menangis.

"Kaa-san. Maaf, aku akan tetap pergi, aku berjanji, aku pasti akan pulang tanpa ada peluru yang bersarang di tubuhku." Ujar Naruto sambil menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut mata Sang Ibu.

Dan setelah itu, Naruto'pun pergi keluar rumah dan memasuki sebuah halikopter yang telah terparkir di depannya dan setelah itu, halikopter itu'pun mengudara, meninggalkan suara bising dan angin lebat.

|•••••••••|

|••••••••|

|•••••••|

|••••••|

|•••••|

|••••|

|•••|

|••|

|•|

.:::::::To Be Continued:::::::.


A/N :

Pertama, maaf bila chap ini kurang memuaskan.

Kedua, sedikit penjelasan :

- Penampilan dari Ootsutsuki Yuki anda bisa membayangkannya seperti Irisviel di Fate/Zero.

- Kacamata yang di pakai Naruto mirip seperti kacamata yang dipakai Falcon tapi dengan warna biru, tampilan komputernya sama seperti yang ada di baju besi Iron Man dan masker yang dipakai oleh Naruto sama seperti yang di pakai oleh Winter Soldier.

- Rumah Naruto, bentuknya mirip seperi Olympus milik Amerika hanya saja ukurannya lebih kecil.

- Soal pakaian, bila ada karakter yang tidak saya sebutkan pakaiannya, anda bisa membayangkan sendiri sesuka kalian. (Hal ini dikarenakan saya sama sekali tidak mengerti tentang fashion.)

Ketiga, Sekian dan Terima Kasih.