"Wahh…novel tulisan Arthur memang bagus" puji Tino saat dia membaca novel terbaru yang ditulis Arthur.

Arthur dan orangtuanya tiba di London. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka langsung menuju ke makam kakaknya. Mereka berencana menginap sehari sebelum pulang kembali ke Inggris keesokan harinya.

"Ngomong-ngomong, sekarang umurmu berapa?" tanya Norway, anak tertua Tino.

"Aku? 17 tahun" jawab Arthur sambil memakan steaknya.

"Scot juga seumur itu waktu pergi meninggalkan kita…" kata Tino. "Sampai sekarang, aku masih tidak mempercayai kecelakaan itu. Padahal, Scotland itu masih muda, cerdas. Aku masih ingat setiap bulan pasti ada satu novel yang dia selesaikan dan sebuah penghargaan yang dibawanya pulang"

"Sayang sekali…" Tino menghela napas. "Seandainya dia masih hidup, dia pasti bisa menjadi penulis yang baik, mengikuti jejak kalian…"

Suasana di meja makan langsung sunyi senyap. Papa dan mama Arthur tidak meneruskan makan malam mereka. Berwald, suami Tino menyenggol 'istri' nya itu. Menyadari kesalahannya, Tino menjadi gelagapan.

"Ah, maaf, aku…"

"Aku…" potong Arthur tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Sudah selesai. Aku mau ke kamar"

Tanpa mengatakan apa-apa atau pun menunggu respon dari orangtuanya, Arthur bergegas menaiki tangga dan menuju kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, dia langsung merebahkan diri di ranjangnya dan membenamkan wajahnya di bantalnya. Tanpa disadarinya, air mata mulai menetes. Dia membenamkan wajahnya semakin dalam ke dalam bantalnya saat tubunya terguncang karena isak tangis.

Inilah yang terjadi setiap kali kakaknya dibicarakan. Semasa hidup, kakaknya adalah anak yang sangat tampan, cekatan, dan juga cerdas. Seperti semua keluarganya, dia tertarik dengan sastra dan budaya. Kakaknya itu bahkan diterima bersekolah di Universitas Harvard melalui beasiswa. Kedua orangtuanya sangat berharap pada kakaknya karena saat itu Arthur tidak menaruh minat apapun pada sesuatu bernama sastra. Namun kemudian kecelakaan itu terjadi. Hati orangtuanya hancur, harapan mereka satu-satunya telah hilang. Dan inilah yang menyebabkan mereka pindah ke Inggris.

Dan sejak saat itulah Arthur mulai berubah.

Dia mulai mengikuti harapan orangtuanya, berusaha sekeras mungkin untuk bisa menjadi penulis ternama yang diharapkan orangtuanya. Saat itu, dia seakan-akan memiliki harapan bodoh kalau dia lebih hebat dari kakaknya, kakaknya akan kembali. Sejak dulu kakaknya tidak suka Arthur menjadi lebih hebat darinya. Dia terus berusaha dan berusaha, hingga dia sadar…sekeras apapun dia berusaha, kakaknya tidak akan pernah kembali.

Walaupun untuk sebagian orang, Scotland sudah menjadi kenangan, hal itu tidak berlaku untuk Arthur.

Bayang-bayang kakaknya masih menghantuinya. Dia merasa, setiap kali orang-orang membicarakan kakaknya seakan-akan ada penyesalan kenapa tidak dia saja yang mati. Mungkin ini sebabnya dia selalu menulis novel dengan perasaan takut, dengan perasaan putus asa. Dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri kalau dia masih diinginkan, kalau dia dibutuhkan oleh kedua orang tuanya. Bahwa orangtuanya membutuhkannya, meskipun hanya sekedar sebagai pengganti kakaknya. Dia sudah menyadari kalau perhatian orangtuanya selalu dan akan selalu untuk kakaknya, di dunia ini atau pun di alam sana. Tapi dia tidak bisa tidak merasa sakit saat kesadaran itu menghantamnya.

Tiba-tiba ponsel yang dia kantongi bergetar. Ada SMS masuk. Arthur menghapus air mata yang mengalir di pipinya, lalu merogoh kantongnya dan menarik keluar ponselnya. Ketika dia melihat SMS itu, ternyata dari Gilbert.

Hei, bagaimana keadaan di London? Apa seawesome biasanya? Cepet balik dong, gak ada yang marahin aku yang awesome ini rasanya ada yang kurang ,deh. Walaupun kadang-kadang, oh bukan, marah kamu selalu gak awesome.

P.S Jangan lupa oleh-olehnya yang awesome!

Arthur sedikit tersenyum. Belum sempat dia membalas SMS Gilbert, datang lagi SMS ke ponselnya. Dari Matthew.

Kak Arthur baik-baik saja kan di London? Kakak gak sakit kan? Jaga kesehatan ya? Jangan lupa makan. Aku kangen sama kak Arthur, cepat pulang ya. Semoga SMS ini gak bikin kakak jadi repot atau dapat masalah.

Kali ini Arthur tersenyum lembut, penuh rasa sayang. Teman-temannya selalu tahu bagaimana membuat perasaannya lebih baik. Arthur segera membalas kedua SMS itu, khusus Matthew, dia mengabarkan kalau dia baik-baik saja. Segera setelah SMS terkirim, ponselnya berdering dan nama Alfred berkedip-kedip di layar.

"Halo?"

"Halo" jawab Arthur singkat.

"Kenapa?" suara Alfred terdengar khawatir.

"Apanya?" tanya Arthur.

"Suaramu, Iggy, kamu habis nangis?" tanya Alfred lagi.

Arthur menelan ludah. Bagaimana Alfred bisa tahu?

"Ih…songong banget kamu nanya begitu. Aku cuma lagi sakit flu" jawab Arthur. "Ngapain nelepon? Awas, nggak penting"

"Nggak~" kata Alfred, "Aku cuma kangen sama bacotan tajam Iggy"

Arthur merasa wajahnya memanas saat Alfred mengatakan itu. Dia tahu kalau itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Dia tahu alasan Alfred yang sebenarnya adalah karena pemuda Amerika bermata biru itu mengkhawatirkannya. Walaupun Alfred selalu mengelak, Arthur tahu karena tiap tahun akan selalu begini. Dan entah kenapa, hanya dengan mendengar suara pemuda Amerika itu, dia selalu dan selalu merasa tenang"

"Kamu tuh sotoy banget deh…" gumamnya pada Alfred.

"Hehehe…" kata Alfred sambil nyengir di seberang telepon. "Kamu sudah mau tidur?"

"Tadinya iya, tapi gara-gara ada hero gila yang nelpon…" kata Arthur sinis.

"Hehehe…maaf…" kata Alfred. "Ya sudahlah, toh keinginanku buat ngedenger omongan tajam Iggy sudah terkabul kok, aku tutup ya"

"Alfred!" potong Arthur sebelum Alfred menutup teleponnya.

"Ya?"

"Te…terima kasih…" kata Arthur. Suasana di antara mereka langsung sunyi senyap selama beberapa saat.

"Kembali" kata Alfred riang beberapa saat kemudian dan sambungan telepon pun terputus.

Setelah telepon terputus, Arthur masih tersenyum. Dia menggenggam erat ponselnya seakan-akan benda itu adalah benda yang sangat berharga untuknya.

Mungkin, tanpa disadarinya, Alfred sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

XxxXxxX

PLAAAKKK!

Suara menyeramkan itu bergema di ruang tamu keluarga Beilschmidt. Gilbert terpana, perlahan-lahan tangannya terangkat dan mengusap pipinya yang merah karena tamparan ayahnya.

"JELASKAN PADA AYAH TACKLING MACAM APA ITU?" bentak ayahnya dengan penuh emosi. Gilbert cuma terdiam sambil berdiri mematung di depan ayahnya.

"Dengan tackle macam itu, bukan hanya nggak bisa merebut bola! Kamu bisa mencederai lawanmu, tahu!" seru ayahnya. Antonio, yang saat itu duduk di sofa di sebelah Gilbert merasa iba dan akhirnya memutuskan untuk turun tangan.

"Sudahlah paman, itu hanya kesalahan kecil" kata Antonio mencoba menenangkan pamannya. Setiap kali ada pertandingan, sekolah Gilbert mengadakan latihan khusus bagi ti inti. Bagi Gilbert, tidak peduli latihan khusus atau tidak, tidak ada bedanya. Karena jika dia tidak latihan di sekolah, ayahnya yang akan melatihnya secara khusus.

"Apa maksudmu kesalahan kecil, Antonio! Itu kesalahan fatal!" seru ayahnya Gilbert. "Seandainya dia melukai pemain lawan, dia bisa mendapat kartu merah!"

"Tapi tadi tidak ada yang terluka, dan saya pikir Gilbert sudah berusaha yang terbaik" kata Antonio.

"Sebagai anak yang sudah dilatih sepakbola selama bertahun-tahun, permainannya itu sangat memalukan!"

"Saya mengerti" kata Antonio. "Tapi pelatihnya sendiri bahkan tidak mempermasalahkannya, jadi saya rasa kesalahan Gilbert itu masih bisa dimaklumi dan—"

Mendengar perkataan Antonio, emosi ayah Gilbert semakin meninggi.

"Para pelatih bodoh itu tidak mengerti apa pun!" serunya. "Aku ini ayahnya. Dan sebagai anakku, penampilannya sangat memalukan!"

Gilbert hanya bisa tertunduk sambil memegang pipinya yang masih terasa pedih, berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. Jujur, kata-kata ayahnya benar-benar menusuknya.

XxxXxxX

Alfred masih setengah tertidur ketika ponselnya berbunyi. Nyawanya masih melayang-layang saat dia mengangkatnya.

"Halo?" tanyanya dengan malas dan asal-asalan.

"Hei, hero gila!"

"Iggy?" Alfred langsung bangkit dari bantalnya. "Ada apa? Tumben Iggy nelpon aku, besok bakal ada badai, nih"

"Nggak usah ngebacot, deh! Punya waktu, nggak?" tanya Arthur.

Alfred melirik jam di meja di sebelah ranjangnya. Jam setengah delapan.

"Harusnya sih…menurut jadwal liburku, aku masih ada jam tidur sekitar setengah jam lagi" kata Alfred. "Dan sebelum kamu menyembur aku dengan bilang aku pemalas, hari ini hari sabtu, hari libur"

"Nggak penting!" sembur Arthur. "Aku perlu bantuanmu!"

Alfred langsung sunyi senyap selama beberapa saat.

"…Iggy, kayaknya di luar gak hujan, deh…" kata Alfred kemudian.

"Hah?"

"Iggy? Iggy minta bantuan? Iggy yang jarang minta bantuan itu minta bantuan? Di luar cerah…jangan-jangan dunia sudah terbalik, ya? Atau jangan-jangan Alien menginvasi bumi?" seru Alfred.

"Loe ngebacot apaan sih? Jangan gila sekarang, dong!" seru Arthur.

"Becanda…" kata Alfred sambil tertawa. "Mau minta bantuan apa?"

"Temani aku jalan-jalan" kata Arthur.

Kembali senyap…

"Kamu ngajak aku kencan, ya Iggy?" tanya Alfred kemudian.

"Sudah bosan hidup ya? Minta dibunuh nih ceritanya?" ancam Arthur.

"Iya, iya, minta ditemani ke mana sih?" tanya Alfred.

"Nggak usah nanya-nanya!" seru Arthur. "Dan bawa kamera kamu!"

"Buat apa?"

"Kamera itu buat apa sih? Buat dimakan? Jangan banyak bacot deh! Cepat sia-siap!" seru Arthur.

"Iya…mau ketemu di mana?" tanya Alfred sambil bangkit dari ranjang dengan langkah gontai.

"Aku ini sudah di rumahmu sejak tadi!" seru Arthur.

Alfred langsung terbelalak. Dia berlari turun dari tangga dan menengok ke arah ruang tamu. Benar, dia melihat Arthur duduk di sana, meminum teh yang disediakan Matthew untuknya.

Saat Arthur ngeliat Alfred, dia langsung mendelik.

"Ngapain berdiri mematung di sana? Cepat cuci muka, ganti baju, siap-siap!" perintah Arthur tajam.

"IYYYAAA!" seru Alfred histeris karena panik. Dia segera kabur ke kamar mandi dan berganti pakaian lalu memasukkan kamera Yashica 108 miliknya ke dalam tas. Setelah selesai, dia segera turun lagi dan meminta izin pada Matthew dan pergi ke luar rumah bersama Arthur.

"Ih, Iggy, lain kali kalau ngajak orang keluar, bikin janji setidaknya sejam sebelumnya, dong! Bagaimana kalau tadi aku tidak mau? Sia-sia kamu datang ke rumah" seru Alfred saat dia duduk di kursi mobilnya.

"Bukannya hero itu tugasnya memenuhi permintaan orang?" tanya Iggy sambil memasang sabuk pengaman. "Jadi nggak usah ngebacot"

Alfred cuma bisa nyengir masam mendengar jawaban Arthur.

"Jadi mau pergi ke mana?" tanya Alfred sambil menjalankan mobilnya.

"Ke Big Ben" jawab Arthur.

"Kamu ternyata memang mau ngajak aku kencan, kan Iggy? Sekarang kan Big Ben pasti penuh orang pacaran~" goda Alfred.

"Benar-benar sudah bosan hidup ya? Mau kulempar kamu dari menara Big Ben?" ancam Arthur.

"Iya…" kata Alfred.

Setelah perjalanan yang lumayan lama, mereka sampai di kawasan Big Ben. Mereka berdua pun berjalan dan memasuki kawasan Big Ben.

"Terus? Kita ngapain di sini?" tanya Alfred.

"Pasang kamera kamu!" perintah Arthur.

Alfred semakin bingung, tapi dia menurut.

"Potret gedung Big Ben ini seluruhnya, kalau bisa London's eyenya juga terlihat" kata Arthur.

Alfred memandang Big Ben itu sejenak sebelum mengangguk. Setelah mengganti lensa kameranya, dia lalu mundur jauh ke belakang.

"KAMU MAU KEMANA?" seru Arthur kesal.

"Melaksanakan perintahmu, Iggy" jawab Alfred. Setelah mendapatkan angle yang pas sehingga menara Big Ben dengan London's eye terkunci dengan sudut yang menarik, dia mulai membidik seperti seorang professional.

"Di mana sih kamu belajar motret seperti itu?" tanya Arthur sambil duduk di sebelah Alfred.

"Penasaran ya?" tanya Alfred.

"Gak, cuma heran saja. Orang sinting kayak kamu bisa motret sebagus itu" kata Arthur.

"Sumpah Iggy, kau itu sama sekali tidak manis"

"Untuk hal-hal semacam itu kita sudah punya Matthew" kata Arthur.

Alfred tidak membalas ucapan Arthur. Dia mengambil foto sekali lagi sebelum menggantungkan kamera itu di lehernya.

"Dari ayahku" jawabnya.

"Bukannya ayahmu pengacara?" tanya Arthur.

"Ya, tapi hobinya fotografi"

"Kamera itu juga diberikan ayahmu?"

Alfred mengangguk. "Bukan hanya kamera ini, tapi sejumlah ilmu-ilmu fotografi juga kudapatkan dari ayah"

Arthur cuma memandang Alfred dalam diam. Dia teringat foto-foto yang pernah ditunjukkan Alfred dengan bangga pada mereka bertiga, termasuk dengan foto-foto yang sekarang memenuhi kamarnya.

"Apa kecintaan kamu pada fotografi juga diwariskan ayahmu?" tanya Arthur. "Foto-foto kamu yang mengatakannya. Hanya orang yang benar-benar mencintai fotografi yang bisa memotret seindah itu"

"Wah? Iggy muji orang? Hari ini kamu jadi aneh deh, Iggy. Lagi kesambet ya?" tanya Alfred.

"Orang ngomong baik-baik malah ngelunjak!" seru Arthur galak. Alfred hanya senyum-senyum gaje mendengar bentakan Arthur.

"Cuma ini?" tanya Alfred.

Arthur menggelengkan kepalanya. "Sekarang antar aku ke St Paul's cathedral" kata Arthur.

Alfred mengangguk riang dan mereka berjalan kembali ke mobil mereka. Sesampainya di St Paul's cathedral, Arthur berdiri di depan cathedral itu. "Foto ini juga" katanya.

Alfred mengangguk dan kembali mengganti lensa kameranya dan memotret dari sudut low angle sehingga seluruh cathedral terlihat dengan jelas.

Setelah selesai, mereka memasuki cathedral itu dan berdiri di menara kubah St Paul's Cathedral, memandang keindahan kota London. "Ini yang terakhir. foto pemandangan kota London ini" gumamnya.

Alfred pun mengangguk dan kembali membidik setelah sekali lagi mengganti lensa kameranya.

"Iggy, ini buat apa sih?" tanya Alfred setelah mereka berjalan keluar dari St Paul's cathedral.

"Buat referensi untuk novelku berikutnya" kata Arthur.

"Oh~" kata Alfred, lalu dia menoleh pada Arthur. "Kamu lapar, nggak?" tanyanya.

"Nggak" jawab Arthur.

"Aku lapaaarrrrr~" jawab Alfred lemas, lalu dia tiba-tiba menggenggam tangan Arthur dan menyeretnya ke restoran di dekat cathedral itu. "Jadi ayo makan~"

"JANGAN SERET AKU, HAMBURGER-SHIT!" seru Arthur saat Alfred menyeretnya, tapi tentu saja Alfred tidak mendengarkannya.

"Jadi kamu suka sekali memotret?" tanya Arthur setelah mereka selesai memesan.

Alfred mengangguk antusias. "Setiap kali aku membicarakan fotografi dan memotret objek-objek, mengabadikannya dalam sebuah foto, dadaku berdebar-debar, Iggy! Membayangkan kalau keindahan tempat-tempat, orang-orang dan segala sesuatu yang kupotret akan tetap ada selama foto itu ada, meskipun tempat dan orangnya sudah tidak ada, itu membuatku bersemangat"

Arthur cuma diam memperhatikannya.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang.

"Iggy…aku sudah baca novelmu yang terbaru" kata Alfred sambil mengunyah burgernya.

Arthur menyisip tehnya. "Lalu?"

"Seperti kata Gilbert, bukumu itu seperti buku skripsi" kata Alfred. "Bahasanya berat sekali, Iggy. Supaya terlihat berbobot, kamu kan nggak perlu menunjukkan kalau kamu tuh sudah membaca setumpuk besar buku"

Arthur hampir tersedak mendengar kata-kata Alfred yang tepat sasaran.

"Sebenarnya…kamu punya gaya sendiri, Iggy" kata Alfred. "Gaya yang mencerminkan kalau itu kamu. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini gaya tulisan kamu berubah"

Alfred memandang Arthur dalam-dalam. "Aku suka novelmu yang dulu, Iggy. Aku jarang membaca novel-novel seperti itu. Tapi membaca novel pertamamu…pertama kali aku membacanya aku menyukainya. Novel pertamamu…lebih terlihat seperti dirimu"

Arthur tertegun sesaat sebelum kembali meneruskan makannya.

XxxXxxX

Matthew sedang duduk di atas sebuah bangku di taman. Tangannya cekatan menulis not-not musik. Dalam sekejap sebuah lagu indah tercipta dalam lembaran-lembaran notes di tangannya.

Dia pun menutup notesnya dan menghela napas. Dia melepaskan kacamatanya dan menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan memandang ke depan dengan pandangan kosong.

Kemarin, dia memenangkan konser musik yang diikutinya. Tapi seperti yang diduganya, orangtuanya sama sekali tidak mempedulikan kemenangannya. Piala yang dibawanya pulang hanyalah sesuatu yang tidak berarti dibandingkan dengan selembar foto biasa yang diambil Alfred saat dia mengikuti lomba fotografi di sekolahnya.

Dia…dia sangat terpukul. Dia berpikir berapa lama lagi orangtuanya akan terus mengingatnya? Sampai berapa lama lagi orang-orang akan menyadari kalau dia adalah dia? Kalau dia adalah Matthew Williams dan bukan kakaknya? Dia sakit…dia sangat sakit hati dengan perlakuan orang tuanya. Baginya…semua hal yang dia lakukan tidak pernah terbayar dengan seharusnya oleh orang tuanya. Sementara kakaknya, hanya dengan sebuah foto, hanya dengan sebuah tindakan kecil, dia bisa dengan mudah mendapatkan seluruh pujian dan cinta orang tuanya. Dia benci…benci sekali dengan orangtuanya dan terutama dengan…kakaknya.

Dia cepat-cepat menggelengkan kepala, mengusir perasaan kejam itu dari pikirannya. Dia tidak ingin membenci kakaknya. Selama ini kakaknyalah yang selalu memperhatikannya, kakaknya yang selalu menjaganya, kakaknya yang selalu melindunginya, menyayanginya. Kakaknya selalu melakukan segalanya untuk membuat Matthew bahagia.

Tapi bisakah kau menyayanginya seperti dia menyayangimu kalau di lubuk hatimu kau sadar kalau alasan dia menyayangimu adalah karena tidak ada perhatian dari orang lain padamu? Terutama saat kau sadar…kalau dia adalah orang yang mencuri semua perhatian yang kau inginkan?

Dia mengerjapkan matanya saat dia menyadari ada air mata mengalir di pipinya. Dia menghapus air mata itu dengan ganas, seolah-olah ingin segera mengeyahkan air mata itu. Dia benci menangis…tapi entah kenapa, akhir-akhir ini dia malah selalu menangis.

"Mattie?" tanya seseorang.

Tubuh Matthew langsung menegang. Dia semakin ganas menghapus air matanya, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang tangannya. Dia mendongak dan mata violetnya langsung berhadapan dengan bola mata berwarna merah ruby.

"Gi…Gilbert…" gumam Matthew.

Saat itu Gilbert sedang berjalan untuk mengembalikan moodnya yang buruk sejak ayahnya menamparnya. Dia marah sekali pada ayahnya. Apa ayahnya pikir dia tidak berusaha sekeras mungkin? Apa ayahnya pikir dia tidak serius? Dia sangat serius, dia sudah berkorban keringat,daging, darah (-halah, bahasanya) untuk mengikuti latihan tidak awesome ayahnya. Dan apa yang dia dapatkan? Sebuah tamparan karena ayahnya merasa permainannya tidak bagus? Apa-apaan itu?

Sebenarnya Gilbert ingin menumpahkan kekesalannya pada Artie karena sahabatnya itu memang tidak banyak bacot dan membiarkan saja Gilbert bercerita panjang lebar hingga dia puas, tapi sialnya…hari ini dia malah kencan dengan Alfred (Arthur: Siapa yang kencan?). Menyebalkan!

Saat dia berjalan di taman itulah dia melihat Matthew sedang duduk di sebuah bangku taman. Gilbert mendatanginya dengan maksud untuk menyapanya. Tapi saat dia cukup dekat, dia langsung membeku.

Karena saat itu dia melihat Matthew sedang menangis.

Dia tidak tahu kenapa tapi saat dia melihat Matthew seperti itu, dia merasakan sebuah keinginan kuat untuk melindunginya. Dia ingin melindungi Matthew, memastikan kalau pemuda Amerika bermata violet itu tersenyum, selalu menunjukkan pandangan hangatnya. Dia ingin melakukan apapun asalkan senyum dan pandangan hangat Matthew selalu terpasang di wajahnya.

Karena itu dia melakukan satu hal yang terlintas di pikirannya.

Dia menggenggam tangan Matthew lembut, membuat pemuda Amerika itu menatapnya. Saat melihat air mata yang mengalir dari mata violet Matthew, dia merasa sakit sehingga akhirnya dia melakukan satu-satunya hal yang dipirkirkannya.

Dia langsung merengkuh Matthew dan membenamkan pemuda Amerika itu ke dalam pelukannya.

Matthew terkejut saat tiba-tiba saja Gilbert memeluknya. Dia sempat menegang, tapi kehangatan tubuh Gilbert membuatnya nyaman, membuatnya tidak ingin melepaskan diri dari pelukannya.

"Gi…Gil…" bisik Mattie pelan.

"Mattie…aku yang awesome ini memang tidak tahu apa yang membuatmu sedih. Tapi…" Gilbert menghela napas dan memeluk Matthew semakin erat. "Tapi…aku yang awesome ini bisa membantumu meringankan perasaan kamu, Mattie. Kamu bisa minta apapun padaku, Mattie. Kamu boleh datang dan memintaku melakukan apapun. Dan aku…aku yang awesome ini akan selalu melakukannya…apapun yang kamu minta" katanya. "Karena itu…aku ingin kau tersenyum, Mattie…aku tidak mau…ada air mata lagi jatuh karena kamu terluka…"

Mata Matthew melebar saat dia mendengar perkataan Gilbert. Mendengar perkataan Gilbert, pertahanannya yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh, dia langsung terisak di pelukan Gilbert, membenamkan wajahnya di kemeja Gilbert. Sementara Gilbert memeluknya, tidak peduli sama sekali kalau kemejanya mulai basah dengan air mata Matthew.

XxxXxxX

"Terima kasih" kata Arthur saat mereka sampai di depan rumah Arthur.

"Sama-sama" kata Alfred ceria. "Hari ini sangat menyenangkan, Iggy. Aku senang menghabiskan waktu bersamamu"

"Oh?"

"Ya. Mungkin kita harus melakukannya lagi kapan-kapan" kata Alfred lagi.

Arthur mengangguk. "Berempat?"

Alfred menyalakan mesin mobilnya. "Berdua saja juga sang hero ini tidak keberatan kok"

Arthur mengangkat alisnya. "Kamu sedang merayuku, ya?"

Alfred tersenyum lembut. "Kalau kamu mau, anggap saja seperti itu" katanya sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Arthur.

XxxXxxX

"Kamu sudah gak apa-apa?" tanya Gilbert sambil menyodorkan sebuah kaleng kopi hangat kepada Matthew.

Matthew tersenyum sambil menyambut kaleng kopi itu, merasakan kehangatan kaleng itu menyisip di jari-jarinya. "Ya, terima kasih ya…" katanya.

Gilbert duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Matthew, membuat Matthew sedikit terlonjak.

"Gi…Gil…" katanya pelan.

"Maaf…biarkan aku yang awesome ini begini…sebentar saja…" gumam Gilbert sambil menutup matanya.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Matthew dengan nada cemas.

Gilbert membuka matanya sejenak, pandangan matanya menerawang. Dia ingin memberitahu Matthew mengenai ayahnya, mengenai pertengkaran mereka, mengenai tamparan ayahnya, tapi entah kenapa saat dia mendengar nada cemas dalam nada suara Matthew, dia mengurungkan niatnya. Matthew…dia tidak perlu melihat luka yang setiap hari ditorehkan ayahnya di hatinya. Dia…terlalu baik untuk melihat luka hati yang disimpan Gilbert selama bertahun-tahun ini. Dia tidak bisa membiarkan Matthew semakin terluka dan terbebani dengan persoalannya.

"Tidak…" gumam Gilbert pelan. "Tidak terjadi apa-apa…"