Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
CL : LOL baca curcolmu. Sepertinya begitu. XD
Aisha Haibara : Jadi begini, hardisk laptopku rusak dan semua koleksi manga dan anime DC-ku ada di situ, makanya aku malas nyari karena aku harus nyari lagi di internet. XD
Aiwha : Hmm, aku juga nggak tahu apa istilahnya. Inspektur Yamato mundur tanpa mengatakan apapun pada Shiho sehingga Shiho tidak akan pernah tahu, sementara perasaan Shiho belum sempat berkembang menjadi cinta karena yang punya keburu datang. XD
Alya Nakama : Ya memang tidak muncul kok, karena Ran tidak punya peran apapun di cerita ini. XD
Angry Nazar : Nggak kena sewa kok. Cuma kena tatapan tajam menusuk dan hampir diajak berkelahi sama yang punya PDAM. XD. Kalau yang itu karena Inspektur Yamato berbicara dengan gaya menyindir, makanya menggunakan -nya. An nggak tahu acara TV apa itu? Terus TV-nya TV apa? Mudiknya ke Prolink. Ant nggak mudik?
Shirawashi-me No Akuma : Salam kenal juga. Sepertinya memang begitu. XD
Septianie : Nggak apa-apa kok. Lha, cerita ini kan ShuShi, meskipun Shu-nya tidak mendapatkan jatah sebagai tokoh utama. XD
B-Haikar : Ya, begitulah. XD
Waktunya curcol!
Setelah wisata kuliner makan bakso di Kepanjen, akhirnya penulis bisa kembali ke depan laptop dan mem-publish kelanjutan cerita ini. Di bagian ini, akhirnya tokoh utama 'Mimpi yang Sempurna' menampakkan diri di depan Shiho. Lalu bagaimana reaksi Shiho?
Selamat membaca dan berkomentar!
Mimpi yang Sempurna (OVA)
By Enji86
Bagian IV
"Aku rindu pada orang tuaku. Kapan ya mereka kembali dari luar negeri?" ucap Shiho sambil memainkan kancing jas Shinichi dengan jari telunjuknya setelah tangisnya reda beberapa menit yang lalu. Dia masih berada di pangkuan Shinichi dengan kepalanya bersandar pada bahu Shinichi dan Shinichi masih membelai rambutnya.
"Kau bisa menelepon mereka dan menyuruh mereka pulang," sahut Shinichi.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak mau menganggu mereka," ucap Shiho.
"Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu," ucap Shinichi.
"Jangan lakukan itu. Sudah kubilang aku tidak mau mereka terganggu karena aku. Aku akan bersabar menunggu mereka kembali karena pada akhirnya mereka pasti akan kembali," ucap Shiho.
Shiho kemudian menghela nafas.
"Kau tahu, aku juga rindu rumahku. Kapan ya aku bisa pulang ke rumah?" ucap Shiho.
"Aku bisa mengajak para polisi mendemo Komisaris Matsumoto agar menarikmu kembali ke Kepolisian Pusat kalau kau mau," sahut Shinichi.
Shiho pun tertawa kecil mendengarnya.
"Mungkin. Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau membuatmu dan polisi-polisi itu berada dalam masalah karena aku. Aku akan bersabar di sini karena pada akhirnya aku pasti akan pulang kembali ke rumah," ucap Shiho.
Shinichi pun menatap kepala Shiho.
"Apa kau masih saja merindukannya, Shiho? Kenapa tidak kau lupakan saja dia?" tanya Shinichi dalam hati.
Tanpa sadar Shinichi mempererat pelukannya di tubuh Shiho sehingga Shiho jadi sadar pada apa yang sedang dilakukannya saat ini. Dia terlalu nyaman berada dalam pelukan Shinichi sehingga dia lupa kalau Shinichi bisa terkena masalah karena ini. Dia tahu kalau hubungannya dengan Shinichi bersifat platonik, atau lebih tepatnya dia berpikir begitu, tapi orang lain belum tentu berpikir begitu sehingga mereka kemungkinan besar bisa salah paham.
Shiho pun segera melepaskan diri dari Shinichi dan duduk kembali di tempat tidur.
"Maafkan aku," ucap Shiho dengan wajah memerah karena malu. Apalagi kalau mengingat aksinya tadi yang tiba-tiba memeluk Shinichi sambil menangis.
Shinichi yang terkejut dan agak takut karena Shiho tiba-tiba melepaskan diri darinya segera mengendalikan dirinya kembali. Ternyata Shiho melepaskan diri darinya bukan karena apa yang ditakutkannya.
"Yah, aku sudah tahu dari dulu kalau kau memang tidak sekuat kelihatannya," ucap Shinichi dengan nada meledek sambil menyeringai sehingga Shiho langsung menatapnya dengan kesal.
Shinichi kemudian menyuruh Shiho menghabiskan sarapannya dan setelah sarapan, Shinichi menyuruh Shiho istirahat karena Inspektur Yamato memberi Shiho ijin untuk tidak masuk kerja. Shinichi juga menjelaskan pada Inspektur Yamato dan Detektif Uehara bahwa Shiho menangis karena terkena homesick akibat demam dan Shiho juga sangat merindukan orang tua angkatnya yang sedang berada di luar negeri.
Shinichi kemudian kembali ke Tokyo karena Inspektur Megure meneriakinya di telepon untuk segera datang ke kantor.
Saat Shinichi sudah pergi, Shiho menatap langit-langit kamarnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Jadi begitu ya? Inspektur Yamato mirip dengan Kudo-kun... dan sangat mirip dengan orang itu...," ucap Shiho dalam hati. Kemudian dia menutup matanya untuk tidur.
XXX
Hari itu begitu tenang. Tidak ada kasus atau pengaduan dari masyarakat sehingga para polisi di Kepolisian Nagano menganggur sejak pagi. Beberapa dari mereka ada yang tidur di mejanya, sementara yang lain mengobrol di ruang interogasi.
Shiho sendiri memilih main game di komputernya dan saat hari sudah sore, dia berhenti karena tangannya sudah lelah.
Shiho pun tersenyum kecil saat teringat pada Kepolisian Pusat. Para polisi di sana pasti tidak akan pernah menganggur seperti ini karena Shinichi adalah magnet mayat dan kasus.
Lalu Shiho teringat pada Inspektur Yamato. Dia hanya bertemu dengan Inspektur Yamato tadi pagi dan tadi siang saat makan siang. Selain itu dia tidak melihatnya lagi sepanjang hari ini karena dia terus main game sejak tadi. Karena tidak ada kasus, Inspektur Yamato mungkin juga hanya menganggur di kantornya sehingga tidak bisa mengajaknya pergi bersamanya hari itu.
"Shiho-chan, apa kau mau pulang sekarang? Yang lain sudah banyak yang pulang," ucap Detektif Uehara dari meja di seberang Shiho.
"Tentu," sahut Shiho. Dia mulai beres-beres, tapi kemudian dia teringat sesuatu sehingga dia menghentikan kegiatan beres-beresnya dan menatap Detektif Uehara yang juga sedang beres-beres. "Tapi aku harus bertanya pada Inspektur Yamato dulu apa aku sudah boleh pulang atau belum," ucap Shiho.
Detektif Uehara pun memutar bola matanya sebelum menatap Shiho.
"Kan-chan, kau benar-benar keterlaluan ya? Kau menyalahgunakan wewenangmu untuk memenjarakannya denganmu," ucap Detektif Uehara dalam hati.
"Baiklah. Dia tadi pergi ke halaman belakang untuk berlatih mengayunkan pedang karena bosan. Kita ke sana dulu sebelum pulang," sahut Detektif Uehara sambil tersenyum.
"Mmm," ucap Shiho sambil tersenyum juga, lalu melanjutkan membereskan mejanya.
Saat Detektif Uehara dan Shiho sudah agak dekat dengan Inspektur Yamato yang sedang berkonsentrasi mengayunkan pedang bambu di tangannya, Shiho pun tercekat dan wajahnya langsung memerah karena pemandangan di depannya. Dia merasa hatinya berdesir.
Shiho melihat Inspektur Yamato yang mengayunkan pedang bambu dengan bertelanjang dada. Tubuh Inspektur Yamato yang kecoklatan dan penuh bekas luka berkilauan tertimpa sinar matahari sore.
"Dia sangat hot," gumam Shiho tanpa sadar.
Gumaman Shiho itu memang tidak bisa didengar dengan jelas oleh Detektif Uehara sehingga Detektif Uehara tidak tahu apa yang digumamkan Shiho, tapi itu sudah cukup untuk membuatnya menoleh.
Detektif Uehara melihat wajah Shiho yang memerah sementara mata Shiho tertuju pada Inspektur Yamato sehingga dia menatap Shiho dengan tatapan tidak percaya sekaligus geli.
"Shiho-chan, jangan-jangan kau juga...," batin Detektif Uehara.
Shiho kemudian berhenti melangkah karena dia merasa benar-benar gugup sehingga dia tidak berani melangkah lebih dekat lagi ke arah Inspektur Yamato. Dia merasa dia ingin lari dari situ sekarang juga.
Melihat Shiho yang berhenti melangkah membuat Detektif Uehara tersenyum geli. Dia pun memegang tangan Shiho dan menarik Shiho bersamanya ke arah Inspektur Yamato. Dia benar-benar merasa geli karena akhirnya temannya sejak kecil yang sangar itu berhasil mendapatkan wanitanya.
"Kan-chan," panggil Detektif Uehara.
Inspektur Yamato pun menoleh dan melihat Detektif Uehara dan Shiho sehingga dia menghentikan latihannya dan menghadapkan dirinya pada mereka berdua, membuat Shiho harus mengalihkan pandangannya.
Shiho pun jadi tidak melihat jalan di depannya sementara dirinya ditarik oleh Detektif Uehara sehingga dia tersandung batu yang menonjol di tanah.
Shiho pun hanya bisa pasrah kalau dia jatuh ke tanah, tapi ternyata dia tidak jatuh ke tanah melainkan jatuh ke pelukan seseorang yaitu Inspektur Yamato yang dengan sigap menangkapnya karena jarak mereka memang sudah tidak jauh lagi.
Begitu Shiho sadar dia ada di mana, wajahnya pun bertambah merah sementara jantungnya berdetak tidak karuan. Dia juga merasa tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.
"Kau ini, sudah kubilang polisi itu tidak boleh ceroboh. Kenapa kau masih tidak berubah juga?" omel Inspektur Yamato dengan rona merah tipis di pipinya. Yah, dia sebenarnya tidak keberatan kalau Shiho selalu ceroboh dan jatuh ke pelukannya.
"Maafkan saya," gumam Shiho sambil berusaha keras memaksa tubuhnya yang lemas berdiri tegak kembali agar dia bisa melepaskan diri dari pelukan Inspektur Yamato.
Inspektur Yamato kemudian menyadari wajah Shiho yang merah setelah Shiho melepaskan diri dari pelukannya.
"Kau demam lagi?" tanya Inspektur Yamato sambil memegang kedua bahu Shiho dan mengamati wajah Shiho sehingga memperburuk keadaan Shiho.
Shiho pun segera melepaskan bahunya dari cengkeraman Inspektur Yamato dan berbalik.
"Tidak, Inspektur. Ini karena sinar matahari sore," sahut Shiho.
"Benarkah?" tanya Inspektur Yamato dengan kening berkerut.
Shiho hanya diam saja dan tidak menjawab.
"Baiklah kalau begitu. Kita pulang sekarang. Aku akan mengambil barang-barangku dulu," ucap Inspektur Yamato.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Sampai jumpa," ucap Detektif Uehara yang dari tadi diam. Lalu dia bergegas pergi dari situ tanpa menunggu jawaban dari Shiho dan Inspektur Yamato.
Seharusnya dia bahagia kan, karena Inspektur Yamato akhirnya menemukan seorang wanita yang akan mendampinginya. Dia sudah mengharapkan hal ini sejak lama, bahwa Inspektur Yamato akan menemukan seorang wanita yang akan menjaganya dan membuatnya bahagia.
Tapi kenapa saat dia melihat Inspektur Yamato berpelukan dengan Shiho, seolah-olah ada pisau yang menusuk hatinya. Saat Inspektur Yamato mengomeli sambil menatap kepala Shiho yang ada di pelukannya dengan sayang, dia seperti tidak bisa bernafas.
Detektif Uehara bisa mengerti kenapa hatinya agak terluka ketika Shiho menggantikannya menemani Inspektur Yamato kemana-mana. Dia sudah terlalu terbiasa menjadi partner Inspektur Yamato. Meskipun begitu, dia bisa menerimanya dengan baik.
Tapi kali ini, Detektif Uehara benar-benar tidak mengerti dan dia punya perasaan kalau dia juga tidak akan bisa menerimanya dengan baik.
"Sebenarnya ada apa denganku?" tanya Detektif Uehara pada dirinya sendiri sambil mulai berlari.
Sementara itu, dua siluet orang berwarna hitam yang dari tadi bersembunyi di balik pepohonan yang tak jauh dari halaman belakang Kepolisian Nagano menyeringai lebar, sementara salah satu siluet tersebut memasukkan kamera ke dalam tasnya setelah Inspektur Yamato dan Shiho pergi. Lalu kedua siluet itu melangkah pergi dari situ.
XXX
Seorang pria memasuki ruangan kantornya dengan wajah lelah. Tadi pagi dia harus berurusan dengan adik perempuannya yang sangat ceria. Lalu sesampainya di kantor, dia harus berurusan dengan rekan kerjanya yang juga sangat ceria. Itu membuatnya benar-benar lelah.
Mereka seharusnya tidak perlu melakukan hal itu, bersikap terlalu ceria untuk membuatnya ceria juga. Itu sangat bodoh. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa mereka ingin sekali membuatnya tertawa, sampai-sampai mereka terobsesi dengan hal itu.
Kemudian pria itu menyadari sebuah amplop coklat yang ada di mejanya. Dia pun mengerutkan keningnya karena dia sama sekali tidak mengenali amplop coklat itu. Dia kemudian mengambil amplop coklat itu dan mengamatinya.
Tidak ada tulisan apapun di situ, baik nama pengirimnya, maupun namanya. Aneh.
Lalu pria itu membuka amplop coklat tersebut dan mengeluarkan isinya yang ternyata berupa beberapa lembar foto.
Matanya langsung terbelalak ketika melihat isi foto-foto tersebut. Dia kemudian meremas foto-foto tersebut dengan mata berkilat-kilat.
Pria itu bangkit dari kursinya dengan tiba-tiba, lalu memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam amplop, membuka laci mejanya yang paling atas dan mengambil surat pengunduran diri yang sudah lama ditulisnya. Kemudian dia bergegas keluar dari ruangannya.
Pria itu menerobos masuk ke dalam kantor bosnya dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja bosnya itu sementara bosnya menaikkan alisnya padanya.
"James, aku berhenti. Selamat tinggal," ucap pria itu. Lalu dia bergegas pergi dari situ tanpa mempedulikan bosnya yang memanggilnya. Dia juga tidak mempedulikan rekan kerjanya yang ceria itu, yang juga memanggilnya saat dia melewatinya. Hanya ada satu hal di pikirannya saat ini. Dia harus pergi ke Jepang.
XXX
Hari itu, Inspektur Yamato dan Shiho berjalan-jalan di kota setelah mereka menangani sebuah kasus. Mereka berdua berjalan sambil bicara dengan serius sehingga mereka tidak menyadari beberapa remaja yang sepertinya sedang bermain kejar-kejaran berlari ke arah mereka.
Salah satu remaja yang berlari tidak karuan itu menyenggol bahu Shiho saat melewati Shiho sehingga Shiho hampir saja jatuh kalau Inspektur Yamato tidak melingkarkan lengannya ke pinggang Shiho dengan sigap.
Inspektur Yamato kemudian menarik Shiho ke dalam dekapannya sampai para remaja yang bermain kejar-kejaran itu melewati mereka agar Shiho tidak tersenggol lagi. Shiho pun otomatis meletakkan tangannya di dada Inspektur Yamato dengan wajah memerah dan jantung berdebar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Inspektur Yamato pada Shiho yang masih berada dalam dekapannya.
Shiho pun menjawabnya dengan anggukan kepala.
Saat Shiho akan menarik diri dari Inspektur Yamato, tiba-tiba dia merasakan sensasi mengerikan yang sudah lama tidak dirasakannya. Tubuhnya menjadi gemetar sehingga Inspektur Yamato langsung menatapnya.
"Ada apa?" tanya Inspektur Yamato.
Lalu sensasi itu lenyap begitu saja sehingga Shiho bisa kembali mengendalikan dirinya.
"Tidak ada apa-apa, Inspektur," jawab Shiho sambil menarik diri dari Inspektur Yamato. Dia kemudian memandang berkeliling sehingga Inspektur Yamato juga melakukannya sebelum kembali menatap Shiho.
"Kau sedang cari apa?" tanya Inspektur Yamato lagi.
Shiho pun langsung berhenti memandang berkeliling dan menatap Inspektur Yamato selama beberapa saat.
"Saya lapar jadi saya sedang mencari tempat makan yang bagus," jawab Shiho.
Inspektur Yamato pun agak terkejut mendengar jawaban Shiho. Tapi dia segera mengendalikan dirinya lagi.
"Baiklah. Kita makan siang sekarang. Aku tahu tempat makan yang bagus dan enak di sini. Ikut aku," ucap Inspektur Yamato. Lalu dia mulai melangkah kembali dan Shiho mengikutinya.
Inspektur Yamato melirik daerah sekitarnya dengan waspada sambil berjalan. Dia tahu beberapa hari ini, ada orang yang menguntitnya dan Shiho, dan sepertinya tadi Shiho mulai menyadarinya.
XXX
"Tempat ini bagus. Makanannya juga enak," komentar Shiho sambil menyendok supnya.
"Begitulah. Dulu aku, Uehara dan suaminya selalu makan di sini kalau ada waktu. Kami bertiga sangat akrab sejak kecil dan kami bertiga sangat menyukai tempat ini," ucap Inspektur Yamato.
"Hmm, jadi suaminya Yui-san juga teman sejak kecilnya ya? Kupikir hanya Inspektur yang merupakan teman sejak kecilnya Yui-san," sahut Shiho.
"Ya, kita bertiga berteman sejak kecil," ucap Inspektur Yamato.
"Apa Inspektur masih sering ke sini bersama Yui-san?" tanya Shiho.
"Tidak. Bahkan ini pertama kalinya aku ke sini lagi setelah suami Uehara meninggal," jawab Inspektur Yamato.
"Huh? Kenapa begitu?" tanya Shiho.
"Kau ini benar-benar tidak mengerti perasaan orang ya? Apa menurutmu mengajak Uehara makan di sini agar dia teringat kembali pada suaminya yang sudah meninggal itu bagus? Itu malah akan membuatnya sedih," jawab Inspektur Yamato dengan agak geregetan.
"Begitu ya? Kupikir karena kalian bertiga suka tempat ini, maka kalau Inspektur dan Yui-san makan di sini, Inspektur dan Yui-san akan ingat kembali kenangan indah bersama suami Yui-san, sehingga Inspektur dan Yui-san akan terhibur dengan mengenang masa-masa itu bersama. Tapi sepertinya aku salah," ucap Shiho.
Inspektur Yamato pun menatap Shiho dengan mata membesar. Hal itu tidak pernah terlintas di benaknya. Dia dan Detektif Uehara tidak pernah sekalipun membicarakan suami Detektif Uehara setelah suami Detektif Uehara meninggal dan menyimpan kesedihan dan rasa kehilangan mereka dalam hati mereka masing-masing. Dia baru tahu bahwa mereka berdua sebenarnya bisa berbagi kesedihan dan saling menghibur satu sama lain.
"Err, Inspektur, kenapa anda menatap saya seperti itu?" tanya Shiho dengan agak gugup.
Inspektur Yamato segera mengendalikan dirinya kembali.
"Tidak ada. Lanjutkan saja makanmu," ucap Inspektur Yamato sambil mengalihkan perhatiannya ke makanan di depannya.
Beberapa saat kemudian, Inspektur Yamato mencuri pandang ke Shiho yang sedang sibuk dengan makanannya. Dia pun tersenyum sementara rona merah tipis menghiasi pipinya.
"Dia benar-benar wanita yang baik," batin Inspektur Yamato.
Lalu tiba-tiba Inspektur Yamato merasa sedang ditatap dengan pandangan tajam menusuk sehingga dia agak merinding. Dia pun segera menenangkan dirinya dan melirik ke sekitarnya untuk mencari sumber tatapan tersebut sambil berpura-pura tidak merasakan apapun.
Setelah makanan mereka habis, Shiho bangkit dari tempat duduknya untuk pergi ke toilet. Tak lama setelah Shiho pergi, Inspektur Yamato melihat seorang laki-laki dengan wajah yang tertutup topi, bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah toilet.
Inspektur Yamato pun segera bangkit dari kursinya, lalu menghadang laki-laki itu di depan lorong yang menuju toilet.
"Maaf, tapi kau tidak boleh lewat," ucap Inspektur Yamato dengan tenang.
Laki-laki itu pun tertawa kecil dan sinis.
"Kenapa memangnya?" tanya laki-laki itu dengan sinis.
"Karena kau penguntit dan wanita yang kau kuntit sedang berada di toilet ini," jawab Inspektur Yamato.
Laki-laki itu hanya diam saja sehingga Inspektur Yamato melanjutkan ucapannya.
"Sekarang, kalau kau tidak keberatan, aku akan membawamu ke kantor polisi untuk diperiksa," ucap Inspektur Yamato.
Laki-laki itu pun menyeringai.
"Maaf, tapi aku keberatan. Aku lebih suka menyelesaikan masalah ini secara jantan, jadi bagaimana kalau kita keluar sekarang? Kalau aku menang, aku akan membawa wanita itu bersamaku. Kalau kau menang, aku tidak akan mengganggunya lagi. Bagaimana?" tawar laki-laki itu.
"Tch, untuk apa aku melakukan hal semacam itu dengan penguntit sepertimu? Penguntit sepertimu lebih pantas mendekam di penjara," ucap Inspektur Yamato.
"Hoo, jadi kau takut? Sayang sekali. Kau tahu, wanita seperti dia itu sangat menyukai laki-laki yang pemberani. Dia tidak akan pernah menyukaimu kalau kau penakut seperti ini," ucap laki-laki itu dengan nada mengejek.
Inspektur Yamato pun merasa geram pada laki-laki itu. Lalu dia menyadari kalau orang-orang yang ada di rumah makan tersebut mulai tertarik dengannya dan laki-laki itu sehingga dia tidak bisa meneruskan ini di sini. Selain itu, Shiho juga lebih baik tidak melihat semua ini.
"Baiklah, kita pergi dan menyelesaikan semuanya di luar," ucap Inspektur Yamato. Kemudian dia memberi isyarat agar laki-laki itu jalan duluan, lalu dia mengikuti di belakangnya.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah berada di lorong sepi yang memisahkan dua gedung berlantai tiga yang tak jauh dari rumah makan yang bernama Katsura itu.
Mereka berdua segera memasang kuda-kuda dan Inspektur Yamato langsung tahu bahwa laki-laki di depannya ini bukan petarung sembarangan. Dia pun menjadi agak heran karena laki-laki itu memilih menjadi penguntit dan menantangnya yang berkaki pincang dan bermata satu berkelahi. Orang seperti itu biasanya tidak melakukan hal itu. Tapi bukan berarti Inspektur Yamato takut. Dia sudah bertahan hidup selama dua minggu di gunung dalam kondisi terluka dan tanpa makanan, jadi dia tidak akan kalah semudah itu.
Udara di sekitar mereka berdua pun mulai menjadi tegang. Mereka berdua hanya fokus pada pergerakan lawan masing-masing dan bersiap-siap untuk menyerang kalau ada kesempatan. Lalu saat Inspektur Yamato merasa bahwa laki-laki itu akan menyerangnya, tiba-tiba...
"Apa yang kau lakukan di sini, Rye?" tanya Shiho yang tiba-tiba muncul sambil menjewer telinga laki-laki itu dengan santai.
Mata Inspektur Yamato pun langsung membesar. Kemudian dia sweatdrop sementara laki-laki itu mengaduh dan minta dilepaskan.
Shiho pun melepaskan telinga laki-laki itu dan mengalihkan perhatiannya pada Inspektur Yamato.
"Maaf kalau orang ini sudah menyusahkan anda, Inspektur. Lebih baik kita kembali ke kantor sekarang. Saya sudah membayar tagihan rumah makannya sebelum datang ke sini," ucap Shiho.
"Kau benar. Lebih baik kita kembali sekarang," ucap Inspektur Yamato setelah dia menatap wajah Shiho selama beberapa saat.
Shiho pun melangkah ke arah Inspektur Yamato, tapi langkahnya langsung terhenti ketika laki-laki itu memegang pergelangan tangannya untuk menahannya.
"Kita harus bicara," ucap laki-laki itu.
"Aku tidak ingin bicara denganmu," sahut Shiho dengan dingin.
"Tapi kita harus bicara. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sampai kita selesai bicara," ucap laki-laki itu.
Shiho pun terdiam selama beberapa saat sebelum membuka mulutnya.
"Kirimkan saja alamat hotelmu ke emailku. Aku akan datang kalau aku ada waktu," ucap Shiho.
"Sherry...," ucap laki-laki itu dengan agak frustasi.
Shiho tidak mempedulikannya dan malah menyentakkan tangannya agar lepas dari genggaman laki-laki itu. Kemudian dia melangkah ke arah Inspektur Yamato dan terus melangkah melewati Inspektur Yamato.
Inspektur Yamato melirik laki-laki bertopi itu sekilas, kemudian melangkah mengikuti Shiho. Dia masih penasaran dengan laki-laki itu karena wajah laki-laki itu tertutup topi sehingga Inspektur Yamato tidak bisa melihat seperti apa rupanya.
Setelah berjalan selama beberapa saat dalam diam, akhirnya Inspektur Yamato memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Siapa dia?" tanya Inspektur Yamato.
"Dia pernah menjadi penguntit saya dulu," jawab Shiho setelah diam sejenak.
"Ooh," komentar Inspektur Yamato karena dia tidak tahu harus bicara apa.
Kemudian hening lagi.
"Lalu sekarang dia siapa?" tanya Inspektur Yamato lagi.
Shiho kembali diam selama beberapa saat sebelum menjawab.
"Entahlah, Inspektur. Saya juga tidak tahu," jawab Shiho. Kemudian dia menghela nafas.
Inspektur Yamato menatap Shiho selama beberapa saat. Kemudian dia menatap ke depan dan kembali membuka mulutnya.
"Kalau kau bertemu dengannya lagi, ingat-ingatlah perasaanmu saat menunggang kuda dengan kecepatan tinggi. Rasakan kembali perasaan itu sehingga kau bisa mengatakan semua yang ingin kau katakan padanya. Mungkin saja dengan begitu si bodoh itu akan mengerti," ucap Inspektur Yamato sehingga Shiho langsung menoleh padanya dengan terkejut.
"Eh?" ucap Shiho.
Inspektur Yamato tetap menatap ke depan sambil melangkah. Dia tidak berani menatap wajah Shiho. Dia memang sudah mempersiapkan diri sejak dia mendengar Shiho memanggil nama laki-laki itu saat demam. Tapi ternyata, ketika saatnya tiba, dia benar-benar tidak percaya diri untuk dapat menahannya.
Shiho pun kembali menatap jalan di depannya tak lama kemudian.
"Mmm, mungkin saja," ucap Shiho. "Tapi sepertinya saya tidak akan bisa melakukannya. Dia sangat mirip dengan saya, makanya saya mengerti kenapa dia melakukannya," lanjutnya dalam hati.
Bersambung...
