Neverland
By Rei Iwasaki
DN isn't mine. It belongs to TO2
Warning: Everything can be warn, about the typo, the weird story, the OOCnes, Bloody Scene and other more.
Summary: Katakan ini sebuah mimpi. Bukan, ini bukan sebuah mimpi. Pulau itu benar-benar ada. Tapi sayang tidak seindah yang diceritakan dalam dongeng. Itu dibuat untuk menampung para kriminal paling jahat di dunia. Tempat ajal kedua bagimu.
Genre: Crime/ Suspense
Rate: T
Chapter 4:
.
.
.
"Ke mana mereka semua? Pulau ini rasanya mati tanpa para pengacau yang selalu berpesta itu."
.
"Aku yang menyuruh mereka untuk bersembunyi."
.
"Kenapa?"
.
"Karena aku nantinya yang akan susah jika domba yang sudah kukumpulkan nanti akan mati dan juga terluka, maka aku hanya mengeluarkan yang terkuat dari mereka atau bisa dibilang musuh dalam kawan."
.
"Serigala ganas berkedok domba,hah?"
.
.
.
"Tidak ada siapapun di dalam semua rumah!" ucap salah seorang polisi.
"Mereka pasti bersembunyi di tempat lain! Mungkin di pusat markas mereka!" seru sang pemimpin dari regu yang berute arah utara ini.
Mereka mulai berjalan kembali di atas salju yang sangat lebar itu dan mereka menyebrangi sebuah jembatan besar yang terbuat dari kayu yang sangat berwarna coklat pekat, hampir berwarna hitam. Jembatan itu sepertinya terbuat dari kayu yang sudah berumur sangat lama, mungkin saja kayu itupun memiliki kayu yang sudah hampir lapuk termakan oleh usia.
Di bawah dari jembatan itu terdapat sebuah sungai kecil. Tapi sungai itu memiliki arus yang sangat deras. Bisa dilihat balok-balok es yang ada di sana dalam hitungan detik saja sudah terbawa arus yang membawa mereka hingga mereka hilang dari pandangan matamu.
Besar jembatan itu kira-kira bisa diketahui jika kita mengumpamakan 8 orang yang saling beridir berjejeran. Begitulah kira-kira besar jembatan itu. Bisa dibilang mempunyai ukuran yang besar hanya untuk melewati sungai kecil yang ada di bawahnya.
Mereka mulai menyebranginya. Regu ini memiliki 20 orang polisi. Sudah ada sekitar 5 orang yang menyebaranginya. Semuanya baik-baik saja, sampai orang ke 6 melewati jembatan itu. Tiba-tiba salah satu dari mereka, terhempas ke belakang dengan keadaan menggenaskan. Perutnya tiba-tiba tertusuk 3 belati.
Herannya, entah kenapa belati itu bisa berpindah tempat. Maksudku bergerak. Belati itu bergerak ke arah kiri dan semakin membesarkan luka yang ada di sanan. Usus yang ada di dalamnya terkoyak ke samping.l belati itu terus bergerak sampai terlepas sendirinya saat sudah mencapai ujung dari perut tersebut.
Sesuatu kembali kebali tiba-tiba muncul dan menusuk bagian dada kiri dari sang polisi. Tepat mengenai jantung polisi itu. sesuatu itu cukup panjang yang ternayta adalah sebuah pedang. Pedang itu bukan hanya tertancap pada polsisi yang sudah diserang itu sebelumnya. Tapi juga 2 orang teman yang ada di belakangnya. Kedua orang itu, salah satunya bernasib sama dengan yang pertama yang sukses membuat mereka langsung mati di tempat. Sedangkan yang satunya cukup beruntung karena pedang itu tidak secara akurat mengenai jantung milknya.
2 orang tumbang. Tinggal 17 orang. 1 orang terluka. 12 orang di jembatan dan 5 orang yang lainnya berdiri di atas permukaan salju. Mereka berlima sudah menyebrangi jembatan itu. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka selamat, bukan?
5 orang yang sudah berada di luar dari jembatan itu segera berlarian tanpa mempedulikan teman mereka yang tertinggal di belakang. Aw, rupanya mereka adalah manusia yang sama egoisnya dengan sebelumnya. Sama dengan regu B yang dihancurkan oleh para kriminal paling berbahaya di sini.
Mereka berlari tanpa ada kendala. Barang-barang tajam itu entah kenapa tidak memburu mereka. Mereka dengan mudah melepaskan diri dari sana. Tapi ini adalah Neverland. Gudang para kriminal. Kemanapun pergi kau apsti akan tetap mati. Walaupun mungkin kematianmu akan sedikit diperpanjang jika kau memiliki sedikit keberuntungan.
.
.
.
Tiga, Jembatan...
Kumbang menyerang...
Bunga mengembangkan rambut...
.
.
.
Bunyi-bunyi aneh tiba-tiba saja berbunyi-buyni tidak tahu dari mana asalnya. Bunyi-bunyian itu semakin besar. Ah, dengar. Ada kata jembatan di dalam lirik bunyi-bunyian itu. Pantas saja 5 polisi yang ada di luar jembatan itu tidak menjadi sasaran. Karena sepertinya kiriminal kali ini menset pembunuhannya hanya pada sebuah jembatan. Dia tidak ingin mengambil porsi yang bukan menjadi haknya. Sedang dalam kondisi bagus untuk berbagi, hah?
Semuanya hendak segera membebaskan langkah mereka dari jembatan itu. Tapi mereka cukup terlambat untuk melakukan hal itu. Kau tahu apa yang terjadi ketika bunyi-bunyian itu memperdengarkan nyanyian mereka? Itu sama saja dengan sebuah lagi kematian yang akan senang hati mengambil nyawamu.
Polisi yang berada di depan, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengikat mereka. Dari rasa yang dirasakan kulit mereka, mereka bisa mempredikisinya sebagai benang kawat yang sangat kuat walaupun mereka tidak bisa melihatnya karena benang itu sangat tipis membuat mereka seperti transparan. Benang kawat itu tidak akan bisa kau patahkan dengan mudah dan juga akan semakin memakan kulitmu yang artinya semakin dari waktu ke waktu akan menghimpitmu, membuatmu sesak dan apa lagi,ya?
Mereka yang terikat oleh benang kawat tidak terlihat itu berjumlah sekitar 4 orang. Herannya lagi hanya orang yang di depan yang terikat oleh benang itu. 8 orang yang ada di belakang sama sekali tidak tertangkap oleh benang kawat itu.
Lama dan lama benang itu terus mengikat mereka. Darah mulai keluar dari goresan kecil yang terbuat di kulit mereka dan juga beberapa bagian tubuh yang diselimuti oleh kain juga ikut terluka. Kain itu tersobek dan juga terbut luka di sana.
Semakin ketat lagi. Sedikit daging kenyal mulai keluar dari sana.
"ARGHHH!" Ke empat polisi itu mulai mengerang dengans angat keras saat benang itu menembus keseluruhan daging mereka. Bagi bagian tangan tangan juga kaki, benang itu sudah mulai menyentuh tulang mereka. Bahkan bisa kedengaran suara 'krakk krakk' yang menandakan benang itu mulai menngergaji tulang yang terbentuk dari kalsium itu.
Bagi bagian yang bisa dibilang menyimpan orang dalam, ini adalah hal yang paling buruk. Bagian usu mereka mulai terkoyak. Paru-paru itu mulai terasa seperti mau pecah. Jantung itu rasanya seperti sudah kelebihan pompaan lagi.
Sepertinya sang pelaku sedikit berbaik hati. Dia tidak tahan untuk tidak memberikan penyiksaaan yang lebih lagi. Jadi dia memutuskan untuk segera mencabut nyawa keempat orang itu. Dalam waktu sedetik saja. Kecepatan benang itu mengeratkan semakin mengeratkan dirinya menjadi 10 kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Terjadilah hujan darah saat itu juga. Benang itu menyebabkan meledaknya seluruh bagian tubuh dari para polsii itu. Semua isi yang ada di dalam terlempar dengan dahsyat. Beberapa mengenai polisi yang ada di belakang mereka. Sisanya terlempar di daerah sana dan juga terlempar jauh tak kelihatan lagi dimana tempatnya.
Kenapa polisi yang lainnya diam dan tidak membantu teman mereka? Mereka takut? Sama egoisnya dengan polisi yang sebelumnya? Jawabannya salah. Ada semacam lem perekat atau bisa dibilang es beku yang sedari tadi menjerat kaki merka untuk tidak bisa melangkah sedetikpun.
Mereka bergidik ngeri melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Mereka menyaksikannya dari awal dan juga akhir. Teman mereka semua mati dengan cara yang menggenaskan tanpa tersisa dan berbentuk sedikitpun. Mereka mulai takut membayangkan apa yang akan dialami mereka selanjutnya. Apa yang akan membuat mereka mati sama seperti teman-teman mereka.
.
.
.
Tiga, Jembatan...
Kumbang menyerang...
Bunga mengembangkan rambut...
.
.
.
Nyanyian itu kembali berbunyi. Sepertinya kejutan kematian yang lainnya yang tidak kalah mengerikannya telah disiapkan oleh dia.
Darah yang sudah bercampur dengan salju yang ada di pulau itu tiba-tiba emngambang ke udara bersamaan. Mereka bergumpalan dan berbentuk seperti bola-bola darah kental yang berukuran diameter 5 cm.
Bola-bola darah itu perlahan mulai menggerakan tubuh mereka sendiri. Adanyanya ledakan-ledakan kecil yang sedikit terjadi pada mereka. Mereka seperti membentuk sebuah reaksi kimia utnuk membuat sebauh senyawa yang baru. Tapi tidak dengan bergabung dengan teman mereka yang lain. Merke beraksi sendiri-sendiri.
Perlahan mereka mulai memperlihatkan hasil mereka. Mereka berbentuk seperti lebah-lebah tanpa warna kuning dan juga garis-garis hitam dan kuning. Tak ada warna dan juga bulu di sana. Hanya ada cairan lengket pengganti bulu dan warna merah menggantikan warna hitam dan juga kuning. Tapi itu bisa berbunyi seperti lebah yang aslinya.
Jumlah mereka tidak terhitung banyaknya. Mereka terbentuk dari banyaknya liter darah yang dihasilkan oleh ke 4 polisi yang sebelummnya meledak karena eratan dari benang kawat itu. Berliter-liter dari jumlah manusia yang cukup banyak. Mungkin jumlah mereka sekarang adalah jutaan bahkan lebih.
Suara dengungan lebah-lebah itu menguak ke udara. Mata mereka mulai berkilat menunggu sang tuan untuk memberikan perintah untuk menyerang musuh mereka.
Suara ledakan entah darimana itu berasal dianggap sebagai sebuah aba-aba. Dengan serentak dan juga cepat lebah-lebah darah itu mengepakkan sayap mereka dan menuju polisi yang sudah memandang mereka dengan ngeri.
Dibengkokkan badan mereka semua saat sudah tak jauh dari para polisi. Jarum yang ada di ujung tubuh mereka kini berada di depan. Mereka masih juga menggepakkan sayap mereka. Jarum yang berisikan racun itu mulai menusuk masuk ke dalam seluruh badan dari para polisi.
Para polisi itu membertontak dan meraung-raung kesakitan. Tapi para lebah darah itu sama sekali tidak peduli. Mereka semakin menancapkan jarum beracun miliknya. Tak lama kemudian efek dari racun itu mulai terlihat.
Seluruh kulit para polsisi itu mulai berwarna kemerahan. Aura-aura panas menguap dan terlihat di udara di sana. Ada beberapa bagian yang kelihatan seperti meleleh. Lalu beberapa detik kemudian mulai muncul seperti nanah-nanah besar pada kawah kulit yang terbentuk karena ada kulit yang memeleh.
Nanah menjijikan itu mulai meletuk-letuk. Cairan yang ada di dalamnya terceceran di sekitar tempat itu. Warna kulit kemerahan itu mulai menghitam seperti daging yang terpanggang dengan panas yang berlebihan.
Kulit itu mulai ada yang mengelupas. Pokoknya kau akan terasa muntah jika melihatnya secara langsung. Mereka sudah seprti monster mengerikan daripada seorang manusia.
BOMMMM
Tiba-tiba saja sebuah ledakan yang sangat besar terjadi di sana dan membakar habis para polisi yang sudah terinfeksi itu. Yang tertinggal sekarang hanya abu para mayat polisi itu. Ledakan yang sangat besar dan juga berisikan bahan kimia yang sangat pekat. Ledakan itu membuat polsisi tersebut seperti sedang terkremasi.
Pemandangan yang mengerikan. Tapi kemana pembunuh kejam kita kali ini? Kenapa dia tidak memperlihatkan wujudnya sama sekali? Ah, Mungkin dia terlalu malas, capek atau ada alasan lain. tapi dia sangat suka bermain tebak-tebakan. Maukah kalian menebak siapa dia yang sebenarnya?
.
.
.
Polisi dikelompok yang keduapun tidak ada bedanya dengan kelompok yang sebelumnya. Mereka sama-sama melangkahkan kaki mereka di atas lebatan salju yang sangat menjengkelkan. Kaki mereka menjadi pegal-pegal karena harus bertempur melawan salju itu.
Yang membedakan hanyalah tujuan para polisi yang kali ini. Mereka berjalan menuju sisi selatan dari pulau Neverland. Tapi sepertinya mereka akan mendapatkan nasib yang sama seperti kelompok yang sebelumnya.
Pemandangan pegunungan es menjadi santapan bagi mata mereka. Suhu di sini lebih dingin daripada bagian yang lainnya. Beberapa polisi lebih merapatkan mantel yang membungkus tubuh mereka. Apalagi sedang terjadi badai salju di sana.
Tak hanya merapatkan mantel mereka menjadi lebih pas, tetapi mereka juga memakai kacamata khusus yang membuat mereka bisa melihat walaupan badai salju sedang terjadi. Kacamata itu akan membantu mereka untuk melihat serta melindungi mata mereka dari rasa perih akibat salju.
.
.
.
Empat, dinding...
Ada paku...
Kerang jatuh...
.
.
.
Mereka berhenti saat apa yang mereka lihat di depan mereka bukanlah sekedar gunung es yang tinggi. Memang ada gunung es di sana. Tapi gunung es itu hanyalah sebuah pengapit dari sesuatu yang ada di tengah.
Mereka melihat sebuah dinding yang terbuat dari baja yang sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari gunung yang ada di sampingnya. Dinding itu menancap pada 2 gunung es yang ada di sampingnya sebagai penumpu.
Badai salju itu seakaan sengaja menipiskan diri mereka atau meredakan diri mereka agar para polisi itu bisa melihat dinding baja yang sangat tinggi itu. Beberapa dari mereka mengangkat kepala mereka utnuk lebih memastikan berapa tinggi dinding itu dibangun. Beberapa mendekat dan mencoba mengetuk-mengetuknya. Mendengarkan banyaknya suara yang keluar agar dapat mengetahui ketebalannya.
Mereka semua mengira-ngira untuk apa adanya dinding ini. Sebab, mereka sama sekali tidak menemukan sebuah pintu ataupun sebuah jalan lain yang biasa akan ada pada dinding yang biasanya ada di dunia mereka. Dinding ini biasanya atau dibangun untuk memisahkan sebuah wilayah dan pasti akan ada semacam pintu untuk membuat beberapa orang tertentu bisa menyebrangi kedaua wilayah yang sekaan terisolasi dan berbeda itu, padahal terletak pada satu tempat yang sama.
"Lihat!" seru seroang polisi. Saat dia mengangkat kepalanya dan memandang dinding itu pada ketinggiannya, dia menemukan ada sebuah tali yang seperti tergantung dan melayang-layang di sudut kanan dari dinding tersebut.
Mereka yang lain berusaha untuk mengambil teropong dan meneropongnya. Mereka melihat adanya orang yang terikat di sana. Seorang gadis yang memiliki warna rambut mencolok. Astaga, siapa kira-kira yang tega melakukan hal itu pada gadis mungil tak berdosa? Gadis itu pasti sangat kedinginan dan mungkin bahkan hampir menemui ajalnya. Pasalnya, siapa juga yang tidak akan begitu ketika di gantung pada ketinggian yang 'waw' dan juga pada cuaca yang 'waw'. Lengkap sudahlah penderitaan sang gadis. dinding setinggi beratus meter dan suhu di bawah nol derajat.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat turunkan gadis malang itu!' seru sang kepala kelompok itu. 2 orang dari kelompok itu berjalan mendekati ke arah kanan dari dinidng itu. Mereka membawa senjata beserta mereka.
Sesaat mereka sudah sampai di sana, salah satu dari mereka mengarahkan pistol milknya ke atas dan menembaki tali yang mengekang tubuh gadis itu. Peluru itu dengan cepat menerjang ke arah atas dan melesat mematahkan tali itu.
Sang gadis mulai terjatuh bebas ke bawah. Gadis itu tidak meruang-raung, berteriak, bahkan mengais ketika kejadian itu. Dia tertidur, koma atau mungkin sudah mati, mungkin? Atau masih ada pilihan lain yang tidak terpikirkan olehku?
Polisi yang satunya mulai memberikan aba-aba pada tubuhnya sendiri untuk menangkap tubuh sang gadis yang sedang terjatuh. Dia berhasil menagkapnya dengan sempurna. Tapi ada yang aneh. Yang dia pegang itu sangat lunak. Tidka seperti manusia. Dia juga bisa merasakan ada sesuatu yang mencarir dan membasakan kedua tangannya.
Dia sama sekali tidak bisa melihat apa yang sudah dipegangnya. Bersamaan dengan berhasilnya ditangkap gadis itu, badai salju kembali menutupi pandangan mereka. Beberapa detik kemudian angin aneh yang sangat besar menerpa mereka dan menghilangkan badai salju kecil yang terjadi di sekeliling mereka.
Sang polisi menudukkan kepalanya dan melihat apa yang aneh itu. Gadis itu mencair! Dan perlahan sekarang hanya tersisa potongan kain dan gadis itu menghilang. Sang polisi sontak saja bergidik negeri dan menjatuhkan apa yang dipegangnya.
Sang polisi partnernya yang satupun merasakan hal yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi?
Teman-teman mereka yang lain mulai berlarian ke arah mereka berdua.
"Bagaimana? Kalian sudah berhasil membebaskan gadis itu?" tanya sang kepala kelompok.
Kedua mengangguk kaku dan salah satu dari mereka yang memegnagnya menjawab dengan kaku."Kami berhasil mendapatkannya. Tapi dia tiba-tiba saja mencair dan hanya tersisa potongan pakainan yang ada di tanganku dan aku melemparkannya." Dia berucap itu sambil menunjukkan potongan kain yang tergeletak di tanah bersalju itu.
Belum saja sang kepala regu hendak berprotes akan jawaban irasional itu, tiba-tiba mereka dikepung oleh boneka salju yang sangat besar. Kira-kira tinggi mereka sekitar 3 meter. Total mereka kira-kira ada 10 buah. Beda tipis dengan kelompok polisi itu yang berjumlah 14 orang.
Kesepuluh bonek itu berlahan mulai memecahkan diri menjadi bonek salju yang lebih kecil. Setinggi sama dengan manusia-manusia itu. Ada beberapa yang bahkan berukuran setengah dari tinggi teman-teman mereka yang lain.
Mereka dengan sigat memerangkap para polisi itu untuk tidak bergerak sama sekali dari tempat mereka. Memastikan para polisi itu tidak akan kabur dan juga memberikan perlawanan yang akan menyusahkan tuan mereka.
BASHHHH
Suara aneh itu tiba-tiba muncul dan berasal dari arah belakang mereka. Mereka membulatkan mata mereke saat melihat permukaan dinding besar itu memunculkan lubang-lubang besar yang berjumlah ratusan pada jarak-jarak tertentu.
Dari lubang-lubang besar itu perlahan keluar sesuatu yang lancip dan juga bersinar berkilau. Ratusan bahkan lebih sesuatu yang tampak seperti duri kaktus yang berukuran sangat besar. Duri-duri itu perlahan berhenti bergerak saat sudah mencapai posisinya yang maksimal untuk keluar dari sangkarnya.
.
.
.
Empat, dinding...
Ada paku...
Kerang jatuh...
.
.
.
SYUTTT
Duri-duri besi itu terlepas dari penopangnya. Dengan kecepatan yang beragan mereka menembus udara dan segera menuju tempat para polisis itu berdiri. Para polisi itu memandang ke atas melihat hujan duri besi yang sebenttar lagi menghujam mereka.
Dengan tidak beraturan dan juga liar duri besi itu menancap pada badan para polsisi. Ukurannya yang bahkan lebih besar dari para polisi itu membuat badannya terpotoong seperti sudah tidak berbentuk lagi. Seperti daging yang sudah digiling dan ditumbuk sampai tidak membentuk wujud aslinya saat dia hidup lagi.
Tidak ingin menyisakan pemandangan kotor di atas tanah salju suci itu, dari bawah tiba-tiba muncul kristal es yang tajam. Mereka membentuk sebuah tangkupan berbentuk lingakran tapi dengan duri-duri pada permukaannya. Perlahan kristal itu mulai menarik diri mereka kembali ke bawah tanah dengan bekas mayat , darah dan daging dari para polisi.
Badai salju kembali menyergapi tempat itu. Tetapi hanya beberapa menit lagi dan kembali seperti biasa. Di atas salah satu duri besi yang sudah tertancap di tanah. Ada seorang gadis dengan pakaian serba hitam yang duduk di sana. Warna baju yang sangat kontraks dengan warna abu-abu kehitaman dari duri besi itu.
Sang gadis membuka tudung mantel hitam berbulu miliknya. Rambutnya yang diikal dua dengan warna kuning keemasaan berterbangan saat mendapat hembusan udara. Tunggu, bukannya dia gadis yang tadi digantung itu? Yang tadi sudah mencair entah apa alasannya? Atau hanya mirip saja dengan yang tadi?
Sang gadis itu tersenyum dan tertawa dengan sangat tidak jelas.
"Ah, aku tidak menyangka aku membunuh mereka dengan sangat cepat. Seharusnya tadi aku lebih menyiksa mereka. Ini rekor tercepat dalam pembunuhanku!" serunya dengan nada senang.
.
.
.
Matt masih dengan cepat dan juga tekun menekan-nekan psp hitam miliknya. Di layarnya terdapat kode-kode dan bahasa komputer yang berwarna hijau terang dan layarnya berwarna hitam. Sangat kontras dengan warna casing psp itu sendiri.
Bibirnya melengkung ke atas saat dia menekan tombol bergambar bulat dengan jari jempol tangan milknya. Perlahan tidak ada lagi suara aliran listrik pada besi sel penjara itu. Penguncinya juga dengan otomatis segera terbuka.
Mereka bertiga segera bangkit berdiri dan keluar dari sana. Matt menuntun mereka dalam proses pelarian diri ini. Mereka mengambil jalan di sebelah kiri. Mereka terus berjalan sampai mereka mentok di jalur pertigaan yang paling ujung. Mereka mengambil jalan sebelah kiri lagi.
Lalu mereka sampai di perempatan. Mereka memilih untuk tidak berbelok ke kiri ataupun ke kanan. Mereka memilih untuk tetap berjalan lurus. Mereka sampai pada sebuah jalan buntu. Tapi jika kau memperhatikan lebih baik, ada sebuah cela tersembunyi di bagian sebelah kanan. Jika kau bersandar pada dinding itu, kau akan merasakan ada angin yang keluar dari sana.
Matt beraba dinding itu. tangannya perlahan tertarik masuk saat menekan bagian dari dinding itu. dinding itu tergeser bersama dengan tangan miliknya dan lalu dinding yang ada di sebelah kiri tangan Matt perlahan bergeser.
Takada mulai masuk ke sana, lalu Matt dan yang terakhir Mello.
Saat mereka sudah berada di dalam, dinding itu dengan sendirinya menutup diri mereka kembali. Kini mereka berada di sebuah rungan kecil berbentuk balok. Matt menginjak suatu bagian lagi dari lantai batu itu. tiba-tiba dinding di depan mereka perlahan bergerak maju dari bagian yang paling bawah. Bagian paling bawah termaju lebih banyak daripada bagian yang di atasnya dan begitu seterusnya. Mereka membentuk anak tangga. Di atas dari anak tangga yang teratas, yaitu yang bersentuhan dengan atap ruangan itu, perlahan terdorong naik lebih tinggi dari yang lainnya.
Beberapa detik kemudian dia kembali ke tinggi asalnya meninggalkan sebuah lubang berukuran anak tangga yang paling atas tersebut. Dinding batu yang ada di sekeliling lubang itu perlahan menggeserkan diri mereka sendiri dan memperbesar lubang yang tadinya hanya berskala sama dengan anak tangga teratas itu. Mereka terus memperlebar diri sampai kira-kira ukuran satu orang manusia bisa melewatinya.
Takada kembali menaiki tangga itu pertama kali dan lalu Mello dan yang terakhir sebagai penjaga situasi adalah Matt.
Di atas dari ruangan itu ternyata ada lagi ruangan yang serupa dengan anak tangga yang terbentuk dengan cara sama dengan ruangan pertama yang tadi mereka lewati. Mereka kembali menaikinya sambil ke 4 kalinya sampai mereka bisa betul-betul bisa keluar dari bangunan bawah tanah yang memang dibangun cukup jauh di bawah tanah dari permukaan.
Mereka akhirnya bisa sampai dia atas dengan udara yang melimpah. Dengan cepat mereka menarik napas banyak-banyak dan lalu menghembuskannya lagi. Mereka hampir saja mati kehabisan napas di dalam ruangan kecil itu yang sangat dalam dan memiliki kadar oksigen yang sangat sedikit. Apalagi mereka berjumlah 3 orang yang semakin cepat menghabiskan pasukan oksigen yang ada di sana.
"Kita akan menuju Hutan percobaan yang di teliti oleh Mikami," ucap Matt dengan serius.
"Kau gila! Kau tidak pernah lihat bagaimana dia pernah membawa tanaman bonsai hasil percobaannya ke dalam ruang lingkup kita dan tanaman itu hidup dan hampir memakan kita! Kita akan mati di sana dan lagi kenapa kau mau ke sana? Kenapa tidak langsung saja ke lapangan terbang dan melarikan diri dari sini?" Mello menanyakannya dengan suara lantang.
"Lapangan terbang pasti sudah dijaga ketat agar tidak memungkinkan adanya penjahat yang lain untuk melarikan diri dari pulau ini. Kita membutuhkan bantuannya. Penerus L yang selanjutnya."
.
.
.
Persembahan yang terakhir.
.
.
.
Para polisi yang masih ada di tempat yang semula mulai memandang pemandangan pulau ini dengan tatapan geram. Kenapa teman-teman mereka sama sekali belum kembali dan memberikan hasil yang sudah seharusnya mereka dapatkan 3 jam yang lalu? Bahkan kepala polisi Soichiro Yagamipun sampai kesal dengan ketidakmampuan bawahannya yang paling hebat menurutnya.
Mereka terus saja menggerutu dan menghina teman mereka. Tidak sadarkan dan kasihankah bahwa teman kalian itu sudah mati di bunuh oleh para penghuni di sini? Ah, iya. Untuk apa mengasihani mereka. Mereka saja belum tentu akan selamat dari pulau berbahaya ini.
"Mencariku?" Tibat-tiba saja suara baritone itu membuat bulu kuduk mereka merinding dan mereka membalikkan kepala mereka ke belakang dan mendapati seorang laki-laki berambut hitam acak-acakan berdiri di dekat mulut pantai pulau itu. di pasir putih yang sudah bercampur dengan salju tebal yang berwarna putih pula.
Laki-laki itu tampak seperti malaikat yang menampakkan diri pada manusia dengan cuaca yang seperti ini. Cuaca berkabut, dingin, salju putih dan wajahnya yang pucat serta mengerikan.
Laki-laki itu...
...malaikat kematian.
.
.
.
Let's count till five...
And die together!
.
.
.
Belum sempat saja mulut mereka bergoyang bahkan berbicara, suara ledakan memekakan tempat itu.
BOMM BOMMMM
Dengan ganasnya ledakan terjadi di tempat itu disaat laki-laki itu menjentikan jari tengah dan juga jari jempol pada tangan kanannya.
BOMMMM BOMMMMM
Terus dan terus sampai akhirnya meninggalkan abu arang pada salju dan juga pasir putih itu. dan juga seorang laki-laki dewasa yang sudah bergidik ngeri sampai tidak sanggup untuk berdiri lagi. Dia terjatuh berlutut berhadapan dengan laki-laki itu.
"Kau akan menjadi makanan penutup yang sangat sempurna pada hari itu, maka kau beruntung kau akan hanya kujadikan tahanan untuk sementara waktu sampai dia datang kembali, Soichiro Yagami," dia mengucapkannya dengan sebuah seringai yang sangat mengerikan.
.
.
.
"Kalian mau kemana pengkhianat kecil?"
.
.
.
"Tepat jam 12 malam,ya? Mungkin aku sudah bisa keluar dari sini."
.
.
.
"Hahaha! Kota yang indah sekali! Sebentar lagi akan sepenuhnya menjadi milikku! Akulah yang akan menguasainya! Akan kubalas kalian semua yang telah menguburku dalam-dalam dalam penajra pulau sialan itu!"
.
.
.
"Ah, Anda belum boleh bangun. Saya sedikit merusak apa yang telah saya sediakan. Apakah Anda tidak apa-apa untuk menunggu sedikit lagi? Saya janji Anda akan segera mendapatkannya. Apalagi Anda pasti kali ini bisa mengucapkan terima kasih pada saya karena Anda sudah bangun dari tidur Anda. Saya jadi tidak perlu berbicara seorang diri dan membayangkan Anda yang tertidur ini sedang berbicara dengan saya."
.
.
.
To Be Continue
A/N: Mind to give review, give a critic, an advise or even a flame?
