Gloomy

Casts :

- Johnny

- Jaehyun

- Jeno

- Taeyong

- Hansol

- Doyoung

- Yuta

- Ten

- Taeil

- Renjun


Part 4

Jaehyun dan Taeyong merapikan barang-barang mereka, perkuliahan untuk hari ini selsai sudah, dan Taeyong merasa beban di pundaknya terlepas sudah, demi tuhan ini lebih sulit dari yang Taeyong bayangkan, bukan hanya misinya yang harus mendekati Jaehyun si manusia es, tetapi juga Ia yang harus berpura-pura mengikuti perkuliahan. Tidak masalah sebenarnya bagi Taeyong untuk tidak memperhatikan atau tidak mencatat, tapi kau bisa bayangkan bukan, terjebak dalam perkuliahan yang kau sendiri tak tau apa yang sedang disampaikan dosen yang ada didepanmu. Buruknya lagi Taeyong sekarang memiliki tugas kelompok dan Ia sekelompok dengan Jaehyun, okey untuk bagian sekelompok dengan Jaehyun Ia merasa bersyukur karena dengan ini Ia akan lebih mudah menjalankan misinya, masalah materi yang akan disampaikan, Ia akan bertanya pada noonanya nanti yang kebetulan adalah sarjana ekonomi.

"hey...bagaimana dengan ponselmu? kau akan memperbaikinya kapan? Katakan padaku" Taeyong masih setia mengikuti Jaehyun dan memaksanya untuk memperbaiki ponsel yang dengan -sengaja- dirusaknya.

"sudah ku katakan tidak usah"

"tapi tetap saja…"

PING!

Smartphone yang sedaritadi menjadi bahan perdebatan Taeyong dan Jaehyun berbunyi menandakan ada pesan masuk, Jaehyun mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celananya, dan menyentuh layar ponsel yang retak itu membentuk suatu pola untuk membuka lockscreennya.

From: The Cutest Jeno

'hyung apa kau akan menjemputku? Kau tidak kuliah sampai malam kan? Jika tidak, pulanglah bersamaku'

To: The Cutest Jeno

'tidak, aku baru saja selsai, aku akan menunggumu, aku ada urusan jadi aku tidak bisa menjemputmu didepan halte, temui aku di café dekat sekolah mu itu yah'

Jaehyun memasukan ponselnya kembali ke saku celananya setelah membalas pesan dari adiknya Jeno. Ia melirik Taeyong yang masih saja membuntutinya.

"lihatlah layar ponselmu benar-benar hancur, apa kau masih bisa membalas pesan? Aku harus bagaimana untuk bertanggung jawab telah merusak ponselmu?" Taeyong tertunduk, Ia memang sengaja merusak ponselnya Jaehyun, namun Ia merasa tidak enak juga dengannya.

"sudahlah tidak perlu, aku akan beli yang baru" Jaehyun berlalu begitu saja dan meninggalkan Taeyong.

"kau mau beli yang baru? Yasudah aku yang belikan"

"kubilang tidak usah, aku akan membelinya sendiri" Jaehyun pergi meninggalkan Taeyong dan berjalan menuju parkiran, tempat Ia memarkirkan mobil. Namun Taeyong tetap mengikutinya.

"baiklah paling tidak ijinkan aku menemanimu membeli ponsel baru, biar bagaimanapun aku yang merusaknya, kita bisa sekalian membicarakan tugas kelompok yang baru saja dosen berikan"

"terserahlah" balas Jaehyun acuh.

Taeyong tersenyum penuh kemenangan, Ia mengikuti Jaehyun berjalan menuju parkiran. Jaehyun mengelurkan kunci mobilnya dan menghampiri mobil Porsche Boxster Spyder. Taeyong terdiam, Ia sedikit terkejut melihat Jaehyun dan mobil mewahnya, sekarang Taeyong baru ingat kalau Jaehyun itu salah satu anak dari pemilik perusahaan besar di Korea.

'bodoh kau Lee Taeyong, kau lupa kalau Jaehyun itu anak orang kaya, pantas saja Ia tidak mau aku memperbaiki atau menggantikan ponselnya, beli ponsel baru mungkin seperti beli permen baginya' batin Taeyong, Ia masih saja terdiam dan tidak bergerak.

Jaehyun sudah membuka pintu mobilnya, Ia melihat Taeyong yang hanya bengong berdiri di depan mobilnya itu "kalau kau tidak jadi ikut aku malah akan senang" ucapnya.

Taeyong tersadar dari lamunannya, Ia menatap Jaehyun dan menggelengkan kepalanya "tidak…tidak…aku tetap akan ikut, lagi pula tugas kelompok itu kan juga tanggung jawabku"

"kalau begitu cepatlah"

Taeyong membuka pintu mobil bagian penumpang dan masuk. Jaehyun menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju tempat tujuan, ini pertama kalinya bagi Jaehyun membawa seseorang selain Jeno adiknya.


At Rooftop

Jeno berada di rooftop sekolahnya, Ia memang biasa menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop dan menghabiskan bekalnya dibanding menghabiskan waktu bersama ketiga temannya di kantin, temannya itu memang berisik dan mereka akan lebih berisik lagi ketika berada di kantin dan Jeno tidak sanggup dengan hal itu. Ia menyambungkan earphonenya pada ponselnya setelah Ia mengirimkan pesan untuk hyungnya tadi, akhir-akhir ini Jeno memang sering meminta hyungnya itu untuk menjemputnya. Ia memasangkan earphonenya itu ketelinganya dan memutar lagu favoritenya, mengambil buku gambar dan pensil yang ada di sampingnya dan mulai membuat sketsa ditemani dengan kimbab yang Ia bawa.

Jeno asik dengan dunia nya sendiri sampai Ia tak menyadari ada sesorang yang masuk dan berdiri disampingnya. Renjun, Ia sudah berada disamping Jeno sekitar satu menit yang lalu dan Jeno tidak menyadari hal itu, Renjun memang sudah tau kalau Jeno akan menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop. Renjun menyadarkan Jeno dengan melambaikan tangannya tepat didepan wajah Jeno, membuat Jeno menoleh dan melepas earphone nya.

"asik banget sampe gak sadar ada orang dateng" Renjun duduk disamping Jeno. "Kau sedang apa?"

"menggambar"

"apa kau mau?" Renjun membuka kotak bekalnya yang Ia bawa.

"aku juga bawa" Jeno menunjukkan kotak bekalnya yang berisi beberapa potong kimbab yang tinggal setengah "kau mau coba?"

"bolehkah? Keliatannya enak" Renjun mengambil satu potong kimbab dan mencobanya "hmmm…Ini benar-benar enak"

"itu buatan hyungku"

"benarkah? wah hebat sekali hyung mu pandai memasak, kalau hyung ku masakannya akan terasa hambar atau terkadang terasa sangat asin, makanya aku gak mau kalau bekalku dia yang buat"

Jeno tertawa kecil mendengar Renjun tadi, lalu melanjutkan menggambar diatas buku gambarnya, sementara Renjun memakan bekalnya, asik dengan kegiatan mereka masing-masing dalam beberapa menit, membuat mereka terdiam tanpa ada obrolan apapun. Tak mau merasa canggung akhirnya Renjun bertanya.

"kau sedang menggambar apa?"

"apapun yang ada di pikiranku"

"apa kau sudah selsai? Boleh aku melihatnya?"

Jeno melirik Renjun dan terdiam sebentar, sampai akhirnya Ia menyerahkan buku gambar yang ada ditangannya. Mendapat persetujuan dari Jeno, Renjun tersenyum senang dan menyambut buku gambar itu. Ia membuka lembar demi lembar buku gambar tersebut. Terdapat banyak gambar didalamnya, ada pemandangan, sketsa wajah, bahakan hanya gambar-gambar abstrak dan menurut Renjun ini sangat keren.

"ini siapa?" Renjun menunjukan sketsa yang Ia maksud, sketsa seseorang yang sedang duduk diambil dari sisi samping, dilihat dari sketsa tersebut orang itu sedang menutup matanya dan terdapat earphone ditelinganya sambil memegang buku yang tertutup.

"itu hyung ku"

"waah dia tampan, pasti aslinya akan lebih tampan" Renjun mengamati sketsa tersebut, lalu membalik buku gambar Jeno ke lembar berikutnya, kali ini Ia melihat sketsa wajah seseorang, berbeda dengan yang sebelumnya, sketsa wajah yang kali ini hanya dibuat close up, Renjun membaca tulisan kecil yang ada disisi kanan bawah buku gambar yang tertulis Killer "kalau yang ini?"

Jeno melihat gambar yang ditunjukkan oleh Renjun dan membulatkan matanya, Ia dengan sigap mengambil buku gambarnya yang ada di tangan Jeno, lalu menutupnya, Renjun terkejut dengan reaksi Jeno tadi.

"hanya seseorang"

"seseorang?" tanya Renjun bingung.

"hmm...seseorang yang sangat ingin kutemui"

"ooh…." Renjun mengangguk, Ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, melihat reaksi Jeno tadi sepertinya itu adalah hal privasi.

"oh iya, tadi kau mendapat hukuman karena aku, poinmu jadi berkurang 10 maafkan aku yah, sebagai tanda maaf, aku akan mentraktirmu deh, bagaimana?"

"poinku ada lebih dari 200, berkurang 10 tidak ada artinya"

"tetap saja, aku kan jadi tidak enak, bagaimana kalau aku traktir di café dekat sekolah?"

"terserah kau saja"

Bel berbunyi menandakan Jam istirahat telah habis, Jeno dan Renjun membereskan kotak bekal bawaannya dan kemudian masuk kekelas.


Johnny menandatangani berkas terakhirnya dan meletakan pulpennya, Ia melihat kearah Hansol yang sedang duduk di sofa sambil sibuk dengan Ipadnya, Ia terkadang sibuk membuat catatan di buku yang ada di atas meja didepannya.

"Hyung" Johnny memanggil Hansol, membuat orang yang dipanggil menghentikan aktivitasnya. Johnny berdiri meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri Hansol. Ia duduk di sofa, kini jarak mereka hanya dibatasi oleh meja yang ada didepan mereka.

"ada apa? Jangan katakan kau ingin mengubah jadwal mu lagi, jadwal mu hari ini tidak sepadat kemarin, kau bisa pulang lebih awal" Hansol tidak mengalihkan fokusnya dari Ipad dan catatan yang ada didepannya.

"tidak, bukan itu"

"lalu?" mendengar Johnny yang serius, Ia mengalihkan pandangannya dari Ipad dan menutup buku catatannya lalu memandang Johnny, menantikan jawaban dari orang yang ada didepannya ini.

"apa kau masih belum bisa menemukannya?"

"huh?"

"orang yang merusak cctv di rumahku"

Hansol mengalihkan pandangannya dari Johnny, Ia menatap vas bunga yang ada diatas meja, Ia hanya terdiam, dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak, sepertinya Hansol bingung harus menjawab apa.

"bukankah ini aneh hyung, aku selalu memikirkan hal ini, cctv yang ada dirumah dikendalikan oleh mu kan hyung? Mana mungkin orang luar dapat merusaknya, terkecuali pengawal yang waktu itu aku pekerjakan"

"mungkin salah satu dari mereka" Hansol menatap Johnny lagi.

"tidak ada bukti kalau salah satu dari mereka yang melakukannya" Johnny menyangkal pernyataan Hansol.

Mungkin selama ini Johnny terlihat tidak peduli dengan masalahnya, Ia beraktifitas seperti biasa, seperti tidak terjadi apapun dalam hidupnya. Namun sebenarnya Ia diam-diam mencoba menguak semua yang terjadi, Ia bersama Hansol terus mencari siapa dalang dibalik semua ini. Ia pernah berjanji pada Jaehyun untuk menemukan pembunuh tersebut, dalam hal ini Johnny hanya mengandalkan Hansol. Ia sudah tidak percaya lagi dengan orang lain, bahkan Ia sudah tidak mempekerjakan pengawal dirumahnya seperti biasa, Ia merasa tak ada gunanya mempekerjakan pengawal-pengawal tersebut.

"kita akan menemukannya suatu saat nanti, bersabarlah" ucap Hansol.

"aku ingin menemukannya sebelum polisi menemukannya"

"apa yang akan kau lakukan padanya jika kau bertemu dengannya"

"sesuatu yang tak akan pernah kau bayangkan hyung" Johnny menatap Hansol dengan seringainya yang menurut Hansol sangat mengerikan, Ia sudah lama mengenal Johnny dan Hansol berani bersumpah Ia tidak pernah melihat sisi lain dari Johnny yang seperti ini.


Taeyong dan Jaehyun kini berada disalah satu toko yang menjual berbagai macam smartphone, Jaehyun mengelilingi etalase toko tersebut melihat-lihat koleksi yang dimiliki oleh toko tersebut.

"ada yang bisa dibantu tuan?" seorang penjaga toko bertanya kepada Jaehyun.

"bisakah aku melihat keluaran terbaru dari seri yang ini?" Jaehyun mengeluarkan smartphone nya yang rusak dari kantong celananya.

"baiklah tunggu sebentar" pelayan toko tersebut mengambil smartphone yang diminta oleh Jaehyun "ini dia tuan, ini adalah keluaran terbaru dari seri sebelumnya yang tuan miliki, fiture nya lebih lengkap dan lebih canggih"

"baiklah, berikan aku satu yang ini" tanpa pikir panjang Jaehyun langsung membeli smartphone tersebut "bisakah aku membayarnya dengan debit card?"

Mendengar itu Taeyong langsung menghampiri Jaehyun "kau yakin tidak ingin aku yang membayarnya?" Taeyong bertanya pada Jaehyun, meskipun Ia berharap jawabannya adalah tidak, mengingat harga smartphone itu bisa mencapai satu bulan gajinya, jika Jaehyun mengatakan Ya maka Taeyong harus ucapkan selamat tinggal pada tabungannya.

Jaehyun melirik Taeyong sekilas, lalu Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil debit card nya " sudah kukatakan berkali-kali, tidak usah" Ia menyerahkan debit card tersebut kepada sang pelayan toko, yang kemudian pelayan toko tersebut memproses transaksi.

'Terimaksih tuhan, tabunganku masih selamat' dalam hati Taeyong bersyukur.

"sekali lagi aku minta maaf yaah" ucap Taeyong kepada Jaehyun sungguh-sungguh.

"hmm…"

"ini tuan, terimakasih telah berkunjung" pelayan toko tersebut menyerahkan debit card Jaehyun dan juga paper bag yang berisi smartphone tersebut.

Jaehyun menerimanya, kemudian Ia dan Taeyong keluar dari toko tersebut, urusan ponsel yang rusak telah selsai, kali ini mereka akan membahas tugas kelompok mereka. Didalam mobil Jaehyun membuka kotak yang berisi smartphone baru tersebut, Ia memasukan SIM card lamanya.

"bisakah kita membahas tugas kelompok kita di suatu tempat? sekalian aku menjemput seseorang"

"tak masalah" balas Taeyong santai.

Jaehyun menyalakan mesin mobilnya dan menuju café tempat Ia menjemput Jeno, masih ada satu jam sebelum Jeno pulang. Ia akan menunggu Jeno disana sambil membahas tugas kelompoknya, Ia juga sudah tidak tahan berada disamping orang asing, ini pertama kali baginya menghabiskan waktu sangat lama bersama orang lain, dan Ia merasa tidak nyaman.


At café

Jaehyun dan Taeyong memasuki salah satu café, mereka langsung menghampiri meja kasir dan langsung memesan, cappucino latte untuk Jaehyun dan iced chocolate untuk Taeyong, baru saja Jaehyun mengeluarkan dompetnya Taeyong lebih dulu menyerahkan kartu e-money nya kepada sang kasir.

"bayar pakai ini saja" kasir tersebut menerimanya dan memproses pembayaran "kali ini biarkan aku yang membayar, anggaplah sebagai rasa bersalah"

Setelah memesan Jaehyun dan Taeyong duduk ditempat paling pinggir dekat jendela. Mereka menunggu sampai pesanan mereka datang, pelayan datang dan meletakkan pesanan mereka diatas meja, Taeyong mengucapkan "Terimakasih" kepada pelayan tersebut. Tidak ada pembicaran diantara mereka, Taeyong hanya melihat Jaehyun yang duduk bersandar, melihat keluar jendela sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya diatas meja. Taeyong bingung mau memulai darimana, pertama, dia tidak mengerti harus bicara apa untuk sekedar basa basi. Kedua, Taeyong tak tau apa-apa tentang tugas yang diberikan, jadi dia hanya menunggu Jaehyun yang memulai. Namun Jaehyun tidak berkata apapun, melihat Taeyong pun tidak.

Tiga puluh menit berlalu, Taeyong dan Jaehyun masih dalam posisi yang sama, tanpa pembicaraan apapun, Taeyong mulai bosan, Ia menyerah, baru saja Ia ingin membuka pembicaraan. Ia melihat Jaehyun yang tersenyum menatap keluar jendela. Taeyong tertegun, ini pertama kalinya Ia melihat Jaehyun tersenyum, dan Taeyong berani bersumpah, Jaehyun akan dua kali lebih tampan ketika Ia tersenyum seperti ini. Taeyong melihat keluar jendela mencari sesuatu yang dapat membuat si manusia es Jaehyun ini tersenyum.

'oooh….dia' batinnya, Taeyong melihat dua orang yang menggunakan seragam sekolah berjalan kearah café. Jeno dan Renjun, dia juga bisa melihat dari jauh Doyoung menghentikan mobil beberapa meter dari café. Pandangan Taeyong kembali beralih menatap Jaehyun yang arah pandangnya masih setia mengikuti Jeno sampai Jeno masuk kedalam café, Taeyong berani bersumpah, Ia seperti melihat sisi lain dari seorang Jaehyun, Jaehyun yang ada didepannya sekarang terasa sangat meneduhkan dengan senyumnya yang menawan. Jaehyun mengangkat tangannya agar Jeno dapat melihatnya.

"Jeno…" Jeno yang mendengar hyungnya memanggilnya langsung menghampiri meja Jaehyun diikuti dengan Renjun.

"hyung, apa sudah menunggu lama?"

"tidak"

Jeno dan Renjun masih berdiri disamping meja, Jeno melirik kearah Taeyong, tatapannya seperti bertanya 'Dia siapa?' karena ini pertama kalinya bagi Jeno melihat hyungnya membawa seorang teman. Ditatap seperti itu Taeyong berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Hai… Lee Taeyong imnida"

"Jeno imnida" Jeno membalas uluran Taeyong.

Taeyong beralih kearah Renjun, Ia juga mengulurkan tangannya kearah Renjun yang melihatnya dengan tatapan bingung, namun tetap membalas uluran tangan Taeyong.

"Renjun imnida" Renjun sekarang mengerti, Taeyong sengaja memperkenalkan dirinya lagi hanya sekedar berpura-pura.

"Hyung ini temanku Renjun, dia teman sekelasku, nah Renjun dia hyungku namanya Jaehyun" Jeno memperkenalkan Renjun dan Jaehyun.

Jaehyun menepuk bangku disebelahnya mengisyaratkan Jeno untuk duduk, sementara Ia bersiap untuk berdiri memesankan sesuatu untuk adiknya itu "duduklah, kau mau pesan apa?"

"hyung, biar Jeno aku yang pesankan, karena aku sudah janji akan mentraktirnya" Renjun buru-buru mencegah Jaehyun "kau mau pesan apa?"

"grean tea frappe"

"oke, tunggu sebentar" Renjun bergegas ke kasir untuk memesan.

Jeno dan Jaehyun kembali duduk ditempatnya, mereka asik berbicara satu sama lain dan kadang tertawa, melupakan seseorang yang ada didepannya, Taeyong. Taeyong hanya memperhatikan kedua bersaudara ini yang sangat akrab, bahkan Ia tidak menyangka bahwa Jaehyun memiliki sifat yang sangat hangat ketika Ia berada bersama adiknya, Taeyong bahkan mendengar Jaehyun yang bertanya bagaimana sekolahmu hari ini? apa tugasmu sulit? apa kau sudah makan siang? bagaimana kabar teman-temanmu? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh berbeda saat Ia berada di kampus yang jika diajak bicara saja akan menjawab dengan singkat padat dan jelas. Taeyong jadi berpikir yang mana sifat asli Jaehyun sebenarnya? yang dingin seperti es atau yang sekarang ada didepannya ini? hangat dan sangat menyenangkan, jangan lupakan tawanya dan senyumnya yang sangat meneduhkan, Taeyong berani bersumpah Jaehyun yang ada didepannya sekarang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Renjun kembali dan duduk tepat disamping Taeyong.

"kau sudah memesan?"

"sudah, tunggu saja pelayannya kesini"

Beberapa menit kemudian pelayan datang mengantarkan pesanan Jeno dan Renjun, Renjun mengucapkan "terima kasih" sebelum pelayan itu pergi.

"hyung apa kita mengganggu waktumu dengan temanmu?" tanya Jeno sambil melirik Taeyong sekilas, Jeno merasa tidak enak juga, daritadi Ia berbicara dengan hyungnya sementara temannya hanya diam saja.

"tidak koq" Taeyong tersenyum "kami hanya ingin membicarakan tugas" lanjutnya.

"ah iya tugas" Jaehyun akhirnya mengingat tujuan awal Ia dan Taeyong berada disini. "hmm…bagaimana kalau kita kerjakan di rumahku saja? kita bisa cari bahannya dulu, aku akan membuat makalahnya"

"dirumahmu?" Taeyong sedikit terkejut dengan saran Jaehyun barusan. 'tentu saja tidak apa-apa, kesempatan besar malah' batin Taeyong. Renjun yang melihat ekspresi Taeyong tersenyum tipis, Ia tau pasti dalam hati Taeyong itu sangat senang dengan ajakan Jaehyun barusan.

"kalau begitu aku akan mencari bahan materinya" Taeyong memakai ranselnya kembali yang sedaritadi Ia pangku "bisakah kau kirimkan alamat rumahmu? Aku kan tidak tau dimana rumahmu" dusta Taeyong, mana mungkin Ia tidak tau rumah Jaehyun. "kirimkan alamatmu lewat pesan, ini nomerku" Taeyong menunjukkan nomor nya melalui ponsel dan Jaehyun menyimpan kontak Taeyong.

"akan kukirimkan alamatku nanti"

"baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi" Taeyong berdiri dan bersiap untuk pergi.

"Jeno, sepertinya aku juga harus pulang" melihat Taeyong yang ingin pergi dari tempat ini, membuat Renjun juga ingin pergi, Ia tidak mau ditinggal hanya sendiri dan berhadapan dengan hyungnya Jeno yang sepertinya kurang menyenangkan, menurut Renjun.

"baiklah, sampai jumpa besok di sekolah yah, Renjun" ucap Jeno.

"hmm…Bye" Renjun melambaikan tangannya Ia dan Taeyong berjalan keluar café bersama.

Taeyong dan Renjun tidak berjalan kearah halte yang ada didepan café tersebut melainkan menghampiri Doyoung yang memarkirkan mobilnya jauh dari café. Mereka berdua masuk kedalam mobiol, Taeyong duduk di kursi belakang sementara Renjun berada di kursi depan disamping hyungnya yang duduk dikursi pengemudi. Doyoung menyalakan mesin mobilnya dan melaju ketempat tujuan, Ia akan mengantar Renjun pulang terlebih dahulu, setelahnya Ia akan kembali ke kantor bersama Taeyong.

"bagaimana tugas kalian?" tanya Doyoung.

"ini sulit" mendengar itu dari Taeyong, Doyoung melirik Taeyong dari kaca "kau tau, Jaehyun itu sangat dingin dan kaku, juga sedikit angkuh, dia tidak punya teman, aku jadi sulit mencari info tentangnya, jadilah aku harus benar-benar mendekati, manusia es itu"

"hahaha….bagaimana bisa kau mendekatinya hyung, kau bilang dia manusia es"

"kau akan terkejut jika tau apa yang aku lakukan untuk mencari perhatiannya"

"memangnya apa yang kau lakukan?"

"aku merusak handphonenya" jawab Taeyong santai.

"APA?" ucap Doyoung dan Renjun bersamaan, mereka terkejut mendengar jawaban Taeyong, Doyoung bahkan sampai menoleh kearah Taeyong, untung saja sedang lampu merah.

"ya aku merusaknya, dan aku beruntung dia tidak minta ganti rugi, karena dia dengan mudahnya membeli handphone keluaran terbaru, dengan debit cardnya, aku saja sempat tercengang, melihat seorang mahasiswa memegang debit card yang saldonya mampu membeli ponsel mahal seperti itu"

"kau lupa siapa ayahnya hyung? Johnny Seo, salah satu pengusaha besar di Korea ini"

"ya kau benar, dan aku sempat melupakan itu, hey apa kau tau, aku bahkan menaiki mobil mewahnya, ternyata rasanya sangat berbeda dibandingkan mobilmu ini"

Renjun tertawa mendengar Taeyong barusan, sementara Doyoung menatap Taeyong kesal dari kaca, jika saja Ia sedang tidak mengemudi, habislah Taeyong.

"jangan kau bandingkan aku dengan keluarga itu, gajiku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanku saja aku sudah bersyukur hyung"

"Iya kau benar"

"hey Renjun, bagaimana denganmu?" kali ini Doyoung bertanya kepada adiknya Renjun.

"tidak ada yang spesial, eh…ada hyung, kau tau ternyata dibalik sikapnya yang pendiam Jeno itu orang yang baik bahkan dia meminjamkan buku matematikanya padaku"

"Benarkah?"

"hmm…Dan aku baru mengetahui kalau Jeno pandai menggambar, Ia punya buku sketsa, bahkan aku sempat melihat isinya, salah satu isinya ada gambar sketsa hyungnya, dan itu sangat mirip, walaupun aslinya lebih tampan siih"

"lalu"

"ada beberapa gambar abstrak, gambar pemandangan dan juga gambar seseorang, dibawahnya tertulis killer"

Taeyong dan Doyoung terkejut mendengar perkataan Renjun tadi, bahkan Doyoung meminggirkan mobilnya dan berhenti, Ia berbalik menatap Taeyong, mereka hanya terdiam namun terlihat seperti sedang berkomunikasi melalu pandangan mata masing-masing.

"Hyung apa kau memikirkan sesuatu yang sama denganku?" Taeyong mengangguk sebagai jawabannya.

Renjun sempat bingung dengan tingkah hyung dan temannya ini, Ia berfikir apakah Ia salah bicara?

"Renjun, jelaskan sekali lagi gambar sketsa wajah barusan" ucap Doyoung

"tidak ada yang spesial, hanya sketsa close up wajah seseorang, dengan tulisan killer, aku bertanya padanya siapa orang itu, kemudian Jeno hanya menjawab bahwa dia hanya seseorang yang sangat ingin Ia temui, setelahnya aku tidak bertanya lagi"

"aku tau ini akan sedikit sulit, tapi bisakah kau membantu kami, ambilah gambar itu, kami butuh gambar itu Renjun, gambar sketsa wajah itu" Doyoung menatap Renjun dengan serius, sementara Renjun hanya diam dan tidak berkata apa-apa.

Renjun sangat terkejut dengan permintaan hyungnya, mana mungkin Ia bisa mengambil gambar sketsa tersebut dari Jeno, saat itu saja Jeno seperti tidak ingin Renjun melihat gambar itu lagi, dan sekarang hyungnya ingin dia mengambil gambar itu, bagi Renjun ini mustahil.

"A…Aku…Tidak yakin hyung, tapi aku akan mencobanya"

"terimakasih, kami berharap banyak padamu Renjun" ucap Taeyong.


Disebuah ruangan yang terlihat seperti gudang yang sangat besar dan dengan pencahayaan yang minim, terlihat seseorang sedang duduk diantara tumpukan box kayu, Ia mengetuk-ngetukkan kakinya, menunggu seseorang. pintu gudang tersebut terbuka, membuat cahaya yang berasal dari luar masuk menerangi gudang tersebut, namun tidak beberapa lama cahaya tersebut hilang kembali setelah seseorang masuk dan menutup pintu tersebut. Orang tersebut berjalan mendekati pria yang sedang duduk diatas box.

"Lama tak jumpa hyung" sapa pria yang sedang terduduk itu, bahkan Ia melambaikan tangannya kepada seseorang yang disapanya.

"kenapa kau masih disini? aku menyuruhmu untuk bersembunyi dan pergi keluar Korea"

"untuk apa aku keluar Korea, aku tak mau"

"dengar!" pria yang dipanggil hyung tersebut menarik kerah baju dari pria yang sedang duduk di box tadi, membuatnya terpaksa berdiri dan menatap satu sama lain. "sepertinya Johnny sedang mencari keberadaanmu, kau harus bersembunyi jangan sampai mereka, Johnny dan kedua anaknya menemukanmu atau kau akan mati"

pria tersebut menyeringai, Ia dengan paksa melepaskan cengkraman yang ada dikerah bajunya "jika aku mati, maka kau juga akan mati hyung, aku memang pembunuhnya, aku membunuh wanita itu, tapi ingat! kaulah otakknya hyung, kau yang merencanakan semuanya, maka jika aku mati, aku tentu saja tak akan mati sendiri, kau akan mati bersamaku hyung"

"sialan!"

"kau tidak ingin mati kan hyung, maka kau harus melindungiku" pria itu mendekat kepada seseorang yang dipanggil hyung tersebut, lalu Ia berbisik "aku percaya padamu hyung" Ia menepuk bahu orang tersebut lalu pergi berlalu menuju pintu dan keluar dari gudang yang gelap tersebut meninggalkan seseorang didalamnya.

"Kun sialan!" ucap pria itu, sambil mengepalkan kedua tangannya.

-TBC-


Annyeonghaseyo...

Star kembali dengan ff ini, ff tak jelas dan aneh ini yuhuuuu...sebenarnya chapter ini udah selsai dari kapan tau, tapi blm di update karena masih perlu di edit lagi dan taraaaa...akhirnya di upload, aku banyak tugas dan sebentar lagu UTS dan SHINee mau konser jadi galau #curhat, ya ya ya Star ini Shawol, tapi koq bikin ff cast nya NCT? karena feel nya lebih dapet ke member NCT jadilah member NCT yang jadi cast nya, itu sudah kusebut yaah nama pembunuhnya, siapapun yang biasnya Kun aku minta maaf *bow90derajat ini hanya cerita gak jelas jadi jangan dibawa serius, pembunuhnya sih udah ketauan tapi ada satu orang lagi tuh yang jadi misteri muehehehe...serius deh ff ini bahkan sudah terpikirkan oleh ku bakal end seperti apa tapi benar-benar sulit menjabarkan dari chapter ke chapter jadi bagi reader yang mengikuti harap bersabar yaaahhh...dan beri aku semangat melalui review kalian hehehehe...sekali lagi terimakasih bagi para reader yang mau membaca ff ku ini dan juga buat yang me review aku sangat-sangat beterimakasih, aku akan berusaha untuk chapter yang berikutnya. Selamat membaca. Annyeong :)

-100BrightStars-