Di chapter empat ini, aku sedikit mengalami kesulitan.
Mulai dari hp-ku yang sering nge-drop, lalu panas matahari selama berpuasa yang paling tidak bisa kutahan.
Tapi syukur saja, aku bisa menyelesaikannya
Agak tegang dengan chapter ini, karena Mouri Motonari terlihat sangat—
KEREN! ╰(╥ ▿ ╥)╯
Sudah deh, nanti ceritanya gak bakal lanjut lagi. -_-
...
..
.
Bel berbunyi tanda istirahat. Seluruh murid di kelasku berbondong-bondong menuju kantin sekolah.
Aku menatap kosong langit. Tidak tahu mesti berbuat apa, setelah mereka semua kaget melihatku masuk kelas dalam keadaan sehat walafiat.
Ieyasu dan Masamune mendatangiku, lalu Ieyasu merangkulku seraya berkata, "Hei! Kamu cepat banget ya sembuhnya?"
"Yah, itu semua berkat Mouri." jawabku.
Masamune menatapku.
"Bagaimana tidak? Kemarin di jaga oleh ketua pengurus kesehatan sekolah ini. And I trust him." sambung Masamune.
Mitsunari menghampiriku pelan-pelan. Lalu menunduk, menyesal.
"Maafkan aku Motochika. Aku tidak bisa menjagamu kemarin..." sesalnya.
"Mitsunari...Mitsunari..." aku merangkul dirinya dan tertawa kecil. "Tidak apa-apa! Kan ada Mouri kemarin yang menjagaku."
"Ti—Tidak apa-apa kah? Syukurlah!" serunya, senang.
"Hei! Mau ke kantin? Yukimura dan Keiji pasti sudah stand di kantin." tawar Masamune. "Ayo! Kita berempat kesana! Let's eat!"
Aku mengangguk setuju. Dan kami semua berlari untuk mendapat meja yang masih tersisa—setelah mendapat menu makan siang tentunya.
"Aku duduk disebelah adikku!"
"Aku dekat Keiji!"
"Jangan tarik aku!"
"Hei! Orang lagi makan kenapa ribut?"
Suara gaduh menghiasi meja kami. Keributan kami membuat sebagian murid melihat tingkah gila kami dengan tatapan aneh.
Tapi diantara sekian murid, mataku tertuju pada sebuah meja yang hanya diisi oleh satu orang. Dia makan dengan sangat tenang. Pakaian yang ia kenakan sangat khas kulihat, memakai rompi dan berlengan panjang.
Ku tak bisa bayangkan,
Saat dirinya sendiri seperti itu.
Memang matahari hanya sendiri melaksanakan tugasnya.
Namun, bagaimanapun kenyataannya,
Sendiri memang tidak enak.
Lihatlah aku, walau hanya untuk sementara!
Akan kutemani dirimu.
Sesungguhnya aku kesepian tanpamu.
Begitu juga dirimu.
"Motochika! Kau duduk di sebelah—"
"Teman-teman, aku kesana ya? Maaf aku tidak bersama kalian."
"Ta—tapi..."
Tanpa sempat mendengar kata mereka, aku berjalan membawa makananku ke tempat mataku tertuju.
"Halo Mouri! Boleh aku duduk bersamamu?" tanyaku, memohon.
Dia melihatku dengan dingin. Lalu menutup matanya dan membuang wajahnya padaku.
"Silakan." katanya, mempersilakanku.
Aku duduk di seberang ia duduk.
"Kenapa kamu disini, Chousokabe?" tanyanya, saat aku menusukkan selang susuku di botol susuku. "Bukankah temanmu banyak? Belum puas mendapat banyak teman seperti itu?"
"Ingat kan tentang kataku kemarin? Kau hanya boleh menjadi partnerku!"
Aku terus meneguk susuku.
"Kamu anggap aku apa, Chousokabe?" dia melihatku dengan tatapan aneh.
Aku membuang kotak susuku, dan menghela nafasku.
"Kau adalah malaikatku, Mouri. Tidak mungkin aku membuang malaikatku begitu saja, bukan?" jawabku.
Dia terpana melihatku.
"Hei! Kalian sedang ngobrol apa? Aku boleh makan disini juga gak?"
Aku dan Mouri tersentak kaget.
"Mitsunari. Jangan bikin orang kaget, dong!" kesalku padanya.
"Makanlah disini, Mitsunari." jawab Mouri dengan santai.
Ia mengangguk dan meletakkan makanannya di sebelah Mouri.
"Kenapa kau tiba-tiba ikut bersama kami, Mitsunari?" tanyaku penasaran.
"Yah—si bocah sialan itu selalu saja mengangguku. Kamu tahu? Dia merokok bersama Masamune di meja. Dan aku yang benci rokok, langsung menyingkir dari mereka." keluh Mitsunari panjang lebar.
"Tapi disini masih ada yang seperti mereka, Mitsunari." sahut Mouri.
"Apa kau menyinggungku, Mouri?" tanyaku karena merasa tersinggung.
"Eh—jangan berkelahi!" lerai Mitsunari. "Motonari, kak Ootani menyuruhku mengundangmu ke rumahku."
"Kerumahmu? Baiklah, sehabis sekolah aku akan pulang bersamamu."
"Apakah aku juga boleh ikut?" sambungku di antara pembicaraan mereka.
"Tidak. Ini—"
"Tidak apa-apa! Semakin ada orang yang mau membantu kak Ootani, semakin baik!" seru Mitsunari, senang.
"Kau yakin dengan kemampuannya, Mitsunari? Kamu ingat kan, terakhir kali membawa orang lain contohnya Ieyasu waktu itu?" tanya Mouri.
"Ah—Ieyasu itu memang masih bocah. Jadi wajar saja, kan? Kalau Chousokabe kan, terlihat dewasa." pujinya padaku.
"Ahahaha—tentu sa—"
"Meskipun kurang lebih seperti Ieyasu juga sih." desisnya kecil.
"Percayakan padaku, Mitsunari! Aku bisa kok!" kesalku.
Kami semua tertawa, dan bercerita satu sama lain.
Jam menunjukkan pukul tiga sore, dan saat itu pula kami berhamburan keluar kelas. Aku langsung mengeret tangan Mouri dan Mitsunari menuju gerbang sekolah tanpa menggubris sekelilingku.
Beberapa kali aku sering menyenggol anak lain. Dan bahkan aku sempat dimaki-maki mereka tadi.
Membuat suatu kenangan.
Membuat suatu pengalaman.
Aku akan mengukirnya,
Diatas batu permata.
Untuk menunjukkan,
Bahwa kau pernah bersamaku!
Maukah dirimu,
Sudikah dirimu,
Untuk mengukir bersamaku?
"Hei! Kamu ini tidak sabaran ya?" kata Mitsunari, jengkel—setelah kami sampai di depan gerbang.
"Soalnya aku pernah dengar dari Ieyasu kalau masakan kak Ootani itu enak. Dan—"
"Dan sejak kapan kami bilang bahwa kami akan memasak?" potong Mouri.
"Eh!? Bukan ya!?"
"Sepertinya feeling Motochika bagus ya? Padahal kami tidak bilang bahwa kami akan memasak, tapi kamu tahu kami akan memasak." timpal Mitsunari, kagum. "Ayo kita jalan! Semakin cepat, semakin baik!"
Kami semua berlari, dan tiba di depan toko Mitsunari.
Tertulis, 'Pendeta Penghancur Hideyoshi'.
Aku langsung merinding mendengarnya. Bisa-bisanya, kakak Mitsunari membuat nama warungnya dengan arti seseram itu.
"Jangan pedulikan pampletnya Motochika! Ayo kita masuk!" tegur Mitsunari.
Aku mengangguk, dan kami masuk berbarengan. Kakaknya, Ootani, menyambut kami dengan duduk di belakang tokonya. Ia memakai perban di wajah dan tubuhnya karena penyakit lepra yang dideritanya, kata Mitsunari waktu itu.
"Mitsunari, kau membawa temanmu lagi ya?" tanyanya.
"Katanya dia juga mau membantu masak, kak! Jangan khawatir apakah dia akan seperti temanku yang berhoodie kuning waktu itu. Karena aku pasti minta ganti rugi dari Motochika!"
Suara tawa kakak beradik kini menghiasi ruangan toko tersebut. Aku dan Mouri bergidik ngeri dengan tawa mereka yang sangat khas seramnya.
"Ayo! Ubi yang kakak rebus sudah siap dan tinggal digoreng! Kurasa, teman kekarmu ini bisa menghancurkan adonan bumbunya."
"Serahkan padaku, kak!" seruku.
"Dan Motonari, terima kasih atas rekomendasimu atas bumbu ubi goreng kami waktu itu."
Aku tercengang.
"Aku tersanjung mendengarnya." sahut Mouri dengan menatap kakak Mitsunari penuh senyum.
"Mo—Jadi Mouri... MEMBANTU KALIAN SEJAK KAPAN!?" jeritku, kaget.
"Ahaha—waktu itu karena tugas rumah yang kelompoknya sebangku, aku membawa Motonari kesini. Lalu Motonari melihat kakakku memasak ubi dengan bumbu yang turun temurun di keluarga kami. Ia memberitahu kalau bumbu kami kurang pedas dan asin, jadi dia menyuruh kami mencari bumbu rempah yang pas. Dan hasilnya, kakakku mencobanya dan kami berhasil membuat keripik ubi bumbu yang baru sehingga makin banyak pelanggan, terutama Ieyasu." tandas Mitsunari.
"Dan teman berhoodie kuning Mitsunari itu selalu membeli banyak sekali keripik ubi. Maklum, katanya dia keluarga kaya." sambung kakak Mitsunari. "Yuk masuk! Kita banyak pesanan hari ini. Motonari, aku berharap banyak darimu."
"Tidak masalah, kakak." ucap Mouri, mantap.
Dan kulihat, dirumah kakaknya itu banyak sekali ubi rebus dan rempah-rempah.
"Bayangkan saja, kami langsung membeli ubi dan rempah-rempahnya dari Indonesia. Soalnya negara itu memang terkenal dengan sumber daya alam, ketika terakhir kali kami rekreasi ke Indonesia." cerita Mitsunari.
"Dan aku juga memesan buah yang unik dari negara sana. Sebentar, aku ambilkan dulu ya?"
Kak Ootani pun beranjak menuju sebuah lemari makanan, dan membawa sekantong plastik besar berisi buah dari negara itu.
"Ini adalah salak. Coba kalian buka kulitnya, didalamnya ada daging yang sangat enak."
Kami mengambil satu-satu buah itu dan aku membukanya dengan susah payah. Ujung jariku terluka akibat kulitnya yang berduri. Tapi setelah memakan dagingnya, aku seperti ingin memakannya lagi.
"Ini—ini enak sekali! Asam manis, dan melekat di lidah. Lihat, lidahku lengket saat kutempelkan ke dinding mulut!" seruku pada mereka.
"Kak, bolehkah kami menghabiskan buah ini?" mohon Mitsunari.
"Bukankah adik sudah menghabiskan buah itu minggu lalu? Ini kan upah untuk Motonari karena membantu kita!" gerutu kakaknya.
"Biarkan saja. Kami ingin memakannya bersama. Apakah boleh?" sahut Mouri.
"Emm—sudahlah. Kalau itu yang kamu inginkan."
Senyum tersungging di wajah mulus Mitsunari.
"Oke, saatnya untuk memasak." seru Mitsunari.
Dan berlangsunglah pembagian tugas kami. Aku ditugaskan untuk mencampurkan dan menghancurkan bumbu rempah dan Mouri ditugaskan untuk memotong ubi menjadi tipis bersama Mitsunari. Dan kemudian kak Ootani menggoreng ubi yang mereka potong dan menaruhnya diatas koran.
"Ini kebiasaan negara Indonesia. Minyak ubinya akan meresap di atas kertas koran." jelas kak Ootani pada kami.
Kami terus melakukannya sampai jam setengah enam sore. Dan lebih dari kardus penyimpanan keripik ubi sudah dikemas.
"Empat puluh dua. Yak! Terima kasih, anak-anak! Berkat kalian, kakak jadi terbantu dan bisa menghasilkan banyak sekali. Sebagai oleh-olehnya, bawalah keripik ubi ini dan sisa salak yang belum dimakan oleh Mitsunari." ia menenteng bungkusan buah salak dan beberapa bungkus keripik sambil menatap Mitsunari dengan senyum nakal.
Mitsunari menatap jengkel kakaknya.
"Terima kasih, kak. Kalau butuh bantuan kami, jangan sungkan untuk meminta bantuanku dan Chousokabe." tawar Mouri sambil memegang tanganku.
"Ahaha—tentu saja, Motonari! Hati-hati dijalan ya!"
"Iya!" seru kami serempak.
Setelah melambaikan tangan pada mereka, kami menyusuri daerah Chugoku. Dan disana terlihat kafe yang banyak sekali lampu hias mewarnai kafe itu.
"Astaga! Aku lupa seminggu lagi akan ada hari natal!" pekikku. "Kita singgah sementara disana yuk, Mouri?"
"Aku tidak punya banyak waktu." jawabnya, datar.
"Nanti aku traktir!"
"Baiklah." jawabnya dengan antusias tinggi.
Aku langsung mengeret tangannya sambil menenteng bungkusan pemberian kak Ootani tadi. Lalu memilih tempat duduk yang cukup strategis dan kubuka laptopku.
"Ah! Sudah lama tidak buka email sendiri. Syukur saja disini ada Wi-Fi gratis!" seruku, sambil melihat Mouri yang juga mengeluarkan laptopnya dari tasnya.
"Selamat petang! Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan pada kami. "Nama saya Tsuruhime, kalau—"
Aku dan Mouri tercengang melihat teman sekelas kami yang bekerja disini.
"Tsu—Tsuruhime? Kau bekerja disini?" tanyaku, kaget.
"Ini kan kafe keluargaku, jadi wajar kan aku membantu?"
"Oh—begitu." jawabku, singkat. "Kalau gitu, aku pesan cherry cake dan lemon tea. Kalau Mouri?"
"Aku hanya ingin lime key cake dan lime juice."
"Baiklah! Tunggu, ya?" seru Tsuruhime pada kami dan berlalu begitu saja dari kami.
Aku membuka emailku dan menatap Mouri sejenak.
"Coba, aku kirim pesan padanya ya?" gumamku dalam hati.
Ku ketik sebuah kalimat sapaan untuknya.
'Halo senpai! Lama tidak email-an lagi, ya? Soalnya waktu itu aku sakit sih! (^ ^;)'
Aku menengokinya sebentar. Mouri tersenyum kecil disebelahku, dengan wajah masih menghadap laptopnya. Dan ia membalas pesanku.
'Iya. Dan bodohnya, senpai merasa kesepian. (°ㅿ°)'
Kesepian?
Apa maksudnya dengan kesepian?
'Senpai? Bukannya kemarin bersamaku sewaktu aku sakit? Σ(°ㅿ° )'
'Yah—bagaimana ya.. Pokoknya maksud senpai itu bukan dalam arti secara fisik. (^0^)a'
Aku melihat Mouri dengan tatapan heran. Dia pun melihatku kembali, kemudian membuang wajahnya.
'Berhenti melihatku dengan aneh, Chousokabe! (◣_◢||)'
Aku tertawa kecil.
'Senpai aneh (∪ㅿ∪)╯'
'Sudahlah, emangnya kamu sendiri tidak aneh apa? (¬ㅿ¬)「 '
'Mouri eh—senpai aneh! (ㅿ
Setelah sekian lama kami saling membalas dan mengejek, akhirnya kue yang kami pesan pun terhidang di meja.
Kutatap wajahnya yang sangat, santai.
Janganlah membuat dirimu dingin.
Sekali-kali, buatlah dirimu hangat.
Janganlah terus bersembunyi,
Janganlah terus berada di alam yang tak kau inginkan.
Kau mau bersamaku, bukan?
Mau merasakan kehangatanku selama ini, bukan?
Ayolah, Mouri!
Jangan pernah membuat impianku,
Hancur berkeping-keping.
"Mouri, emang sudah berapa novel sih kamu terbitkan?" tanyaku, saat ingin menyuap dengan suapan pertama kueku.
"Sebenarnya, banyak." jawabnya. "Tapi bila dibukukan, belum ada sekalipun."
Aku menjatuhkan suapan pertama kueku juga sendokku di piring. Kutatap dia dengan tatapan tidak percaya.
"Ja—JADI KAU BELUM PERNAH MENERBITKAN SATU NOVEL PUN!?" teriakku.
"Jangan teriak, Chousokabe." desisnya, dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir tipisnya. "Yah—memang cerita yang kubuat sudah banyak. Tapi aku tidak ingin membukukannya."
"Kenapa?"
"Karena aku menunggu dirimu menjadi penulis bestseller, Chousokabe." jawabnya, tenang.
Seketika, jantungku berderup kencang.
"Ap—APA!?"
Ia hanya santai menikmati lime juice-nya.
"Aku juga pertamanya tidak tahu kenapa kamu begitu menyukai karyaku. Tapi aku hargai itu."
Wajahku pucat pasi.
"Kuharap, kamu membaca karya terakhirku. Karena ini adalah karya terakhir yang kubuat." tandasnya sambil mengetik laptopnya dengan gesit.
"Terakhir? Mengapa? Bukankah kau bisa menjadi penulis bestseller bersamaku, Mouri?"
"Sebagai penerus ilmuwan dari ayahku, aku tidak boleh menghancurkan masa depan keluargaku. Dan lagian, itu hanyalah kerja sampinganku untuk menghibur diriku." jelasnya.
"Tapi—Mouri, siapa yang akan kupanggil senpai bila bukan kau? Mouri, kumohon Mouri! Kumohon jangan tinggalkan aku!"
Suasana pun semakin tegang. Bagiku—tidak untuk Mouri.
Dia masih asyik memakan lime key cakenya sambil mengetik.
"Bacakan, Mouri! Aku ingin kau membacakannya!"
Dia menjatuhkan cakenya dipiring.
"Apa!? Kamu sudah gila, ya!?" bentaknya.
"Ayolah, sekali ini saja." pintaku. Ia melihat layar laptopnya kembali. Dan memejamkan matanya.
"Hidup seseorang itu akan berarti bila dalam kematiannya akan diingat oleh orang. Itulah yang diajarkan oleh orang yang berarti dalam hidupku." katanya, membaca ceritanya dengan agak ragu.
"Dulu, seorang anak kecil dirawat oleh orang yang bukan ibunya, namun pengganti ibunya. Ia yang membesarkan anak kecil itu seorang diri."
"Aku ingin kembali ke rumahku. Selamat tinggal, Chousokabe." ia menyimpan laptopnya dan memasukkannya dalam tas miliknya yang berwarna putih hijau.
"Sudah selesai?" ku tutup laptopku.
"Iya. Aku masih banyak pekerjaan."
Aku beranjak dari kursi.
"Kau tahu, Mouri? Aku ingin kerumahmu malam ini."
Lime juice yang ingin ia teguk pun keluar dari mulutnya, menyemprotkannya padaku.
"Ap—Untuk apa kamu kerumahku!?" tanyanya dengan wajah horor.
"Aku tidak ingin tidur sendirian lagi hari ini. Boleh ya?" pintaku padanya.
Hening. Ia menggenggam erat tasnya.
"Tch! Baiklah, mumpung tidak ada orang tuaku dirumah." gerutunya.
Aku bersorak, kembali duduk dan menghabiskan kue dan lemon tea-ku dengan cepat. Setelah membayar pada Tsuruhime, kami beranjak dari kursi dan berlari menuju rumah Mouri sambil menenteng kantong bingkisan pemberian kakak Mitsunari.
Sesampainya di depan gerbang rumah Mouri, ia membuka gerbangnya.
Rumahnya memang sederhana, layaknya rumah rakyat biasa.
Tapi di dalam gudang bawah tanah, terlihat seperti ruang alien bagiku.
"Tempat ini, tempat inilah tempatku melihat mayat pengasuhku lima tahun yang lalu." bisikku dalam hati.
"Chousokabe?" tegurnya saat aku melamun.
"Eh—oh ya Mouri! Maaf, aku tadi melamun."
Keringat dingin tersimbah di tubuhku.
"Ayahku masih menyimpan mayat pengasuhmu. Kita teliti bersama." katanya, dengan gaya seorang detektif.
Aku mengikuti kakinya, melangkah setiap anak tangga dalam ruang bawah tanah. Ketakutan dan penasaran tercampur menjadi satu.
Saat Mouri membuka lemari penyimpanan mayat—yang sangat banyak, kulihat ia mencoba membuka satu pintu laci.
"Ini, kamu lihat? Mayat pengasuhmu yang sudah ayahku awetkan."
Aku menengok ke dalam laci itu. Kulitnya sangat putih pucat.
Dengan mata horor yang masih menghiasi wajah pucatnya.
"Cepat keluarkan mayatnya! Kita harus meneliti otaknya agar mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi psikopat."
Aku mengangguk. Dan dengan cepat ku keluarkan mayat pengasuhku itu.
"Aduh—dimana ayahku menyimpan sinar x-nya ya? Dimana juga dia menyimpan sinar gamma?"
"Jangan panik, Mouri." kataku, mencoba menenangkannya.
"Masalahnya, aku baru ingat bahwa malam ini aku tidur bersama anak tetanggaku, yang katanya teman karib Mitsunari!"
"Ja—JAM BERAPA!?" pekikku, tidak kalah paniknya.
"Sekarang! Dan kita harus diam-diam disini! Aku tadi sempat mendengar suara langkahnya masuk kerumahku! Mudahan saja dia tidak mendatangi ruang bawah tanah ini." paniknya. "Ah! Ini dia sinar gammanya!"
Tidak berapa lama, suara langkah kini mendekati ruang bawah tanah ini.
"Chousokabe! Matikan lampunya! Bersembunyi di bawah meja kimia ini bersamaku!" bisiknya, panik. Ia meletakkan begitu saja sinar gamma di meja.
"Tapi, mayatnya?"
"Letakkan di depan kita! Cepat!"
Aku melakukan instruksinya dan kami pun bersembunyi di tempat yang ditunjukkan Mouri.
Bagaimanakah kelanjutan mereka? Apakah mereka akan ketahuan menyelinap? Saksikan terus (loe kira sinetron?) di fanfic ini! (^ ^)/
