New life

.

.

Gintama ©Sorachi Hideaki.

.

.

Story ©Aya Ryuuzawa

.

.

SouKagu AU version.

.

.

"Hahaha ... Jadi begitu? Ya ampun, kalian benar-benar seperti anak kecil." Tawa petugas keamanan itu menggelegar mengisi setiap sudut pos keamanan. Sesekali tangannya akan menyeka air mata yang berada di sudut matanya, efek terlalu lama tertawa.

Sougo dan Kamui turut tertawa-terpaksa-sambil melempar lirikan melalui ekor mata mereka sebelum akhirnya sepakat untuk melemparkan tatapan tajam ke arah Soyo dan dibalas cengiran oleh gadis bersurai hitam itu.

"Aku kira kalian berkelahi karena memperebutkan wanita." Ungkap lelaki bertubuh bulat, berseragam keamanan dengan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya.

"Hah!? Tentu saja kami tidak akan melakukan hal sebodoh itu, Paman!" sergah kedua pemuda itu. ya, walaupun yang diucapkan oleh orang itu benar dalam konteks yang berbeda.

"Hahaha ... maafkan aku." Pria tersebut tertawa lagi.

Petugas keamanan itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Kamui dan menepuk pundak pemuda Vermillion itu.

"Kau tahu, Aku juga dulu sama sepertimu. Bahkan dulu, aku pernah menangis saat naik Roller coaster." Ungkapnya sambil menepuk-nepuk pundak Kamui seakan memberikan simpati.

Kamui hanya bisa tersenyum masam. Terima kasih untuk alibi yang diberikan oleh Soyo. Mendadak harga diri pemuda manis tersebut jatuh.

"Nona," petugas itu menoleh ke arah Kagura.

"Ya?" Jawab Kagura gugup.

"Tak usah gugup begitu, Nona. Aku tak akan memakanmu." Candanya yang dibalas dengan cengiran aneh gadis itu. "Aku tahu kalau kau seorang sadis sejati namun ... ada baiknya jangan memaksakan keinginanmu kepada temanmu, apalagi sampai membuat dia ingin menangis." Terang pria tersebut yang hanya dibalas anggukan kikuk dari Kagura.

Sougo menahan tawanya ketika melihat muka masam Kamui.

"Dan ini juga berlaku untukmu, tuan muda." Ucap petugas tersebut. "Walaupun nona manis ini pacarmu, membela juga ada batasnya. Kau tahu, kadang teman lebih berharga daripada pacar." Sambungnya yang dibalas tatapan terkejut Sougo.

"Aku lebih baik membela pacarku daripada kriminal ini." Cibirnya hampir tak terdengar namun masih bisa tertangkap jelas oleh Kamui. Akibatnya, Kamui menatap tajam Sougo, pun sebaliknya.

"Baiklah, kalian boleh bebas." Suara petugas tersebut menghentikan aksi saling tatap antara duo pemuda sadis itu.

Mereka berempat membungkuk hormat seraya mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan pos keamanan tersebut.

.

.

.

"Haa ... tadi itu hampir saja." Ujar Soyo dengan wajah gembira yang dibalas delikan tajam dari duo pangeran sadis.

"Apanya yang hampir saja, hah!? Harga diriku sebagai seorang pria hancur." Kamui berujar masam.

"Hehehe ... maafkan aku Kamui-kun. Aku tak mungkin bilang yang sejujurnya, bukan?" Soyo tertawa hambar.

"Harusnya kau lebih memikirkan ide yang lebih bagus, Tokugawa. Untungnya bukan aku yang menjadi korban, jadi namaku masih bersih." Timpal Sougo dengan nada malasnya.

Kamui menatap tajam ke arah Sougo, lagi. Pemuda itu kesal, sangat malah. Dari semua kemungkinan yang bisa dijadikan alasan, kenapa harus dia yang jadi korban?

"Lagipula, jika aku mengatakan kalian bertengkar karena Kagura-chan, aku takut ayahnya akan datang menjemputnya. Ini adalah kali pertama Kagura-chan datang kemari." Soyo berujar sendu.

"Aku berpikir jika mengatakan, kalian bertengkar karena Kamui-kun tak ingin naik roller coaster sebab phobia ketinggian, semua akan terasa masuk akal. Selain itu, aku ingin melihat ekspresi Kamui-kun yang lain." Terangnya dengan nada ceria.

Tatapan duo sadis yang semula ikut menyendu kini berubah masam.

'sadis ... gadis ini juga tipe sadis.' Batin kedua pemuda itu kompak.

Ketiga manusia itu saling berdebat dan melempar tatapan tajam hingga mereka menyadari kalau mereka kekurangan satu orang.

"Kagura-chan?" Soyo menatap heran ke arah Kagura yang tengah terdiam menatap taman bermain tersebut dengan pandangan kosong.

"Kagura." Sougo mendekati Kagura dan menepuk pelan pundaknya.

Gadis itu tersentak kaget. Netra biru yang semula kosong kini kembali terisi cahaya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sougo dengan ekspresi datar namun nada yang tersirat kekhawatiran.

Kagura tersenyum seraya menganggukan kepalanya. "Ya, Aku baik-baik saja, kak."

Sougo menatap lekat wajah gadis itu, sedangkan Kamui dan Soyo turut mendekat ke arah mereka.

"Kagura-chan, kau yakin baik-baik saja? Apa kau kelelahan?" tanya Soyo khawatir. Bagaimanapun, dia telah berjanji kepada Gintoki untuk menjaga sahabatnya itu.

"Aku baik-baik saja Soyo-chan. Hanya saja ... entah kenapa ... aku merasa rindu dengan tempat ini." Pandangan Kagura menyendu.

Sougo dan Kamui nampak terkejut. Netra mereka berdua nampak melebar.

"Aneh, bukan? Padahal aku baru pertama kali datang kemari." Lanjutnya dengan senyuman tipis. Semilir angin musim semi yang berhembus menggoyangkan surai panjangnya.

Mereka bertiga terdiam. Bahkan, Kamui dan Sougo kembali menaruh harapan agar gadis itu adalah orang yang mereka harapkan.

"Anehnya ... mungkin karena ibu sering mengajakku ke taman bermain di Kanada." Terang gadis itu diiringi kekehan kecil. Netra biru itu kembali menatap sendu. Perutnya bahkan terasa aneh dan degup jantung yang berdetak cepat. Kagura tidak mengerti kenapa dia bisa setakut ini.

"Maaf ... aku ingin menghibur Kagura-chan. tapi, sepertinya aku membuatmu teringat kembali akan bibi." Soyo membungkukan badannya.

Sinar harapan pada kedua pasang netra itu kembali menghilang. Rasanya memang mustahil jika sebuah keajaiban itu ada. Andai saja tubuh gadis itu dulu tak pernah ditemukan, mungkin saat ini mereka akan tetap berharap.

"Eh? Ini bukan salah Soyo-chan, kok. Aku hanya belum terbiasa dengan situasi sekarang. Jadi ini bukan salahmu, Soyo-chan. Sebaliknya, aku senang bisa datang kemari." Kagura berucap dengan nada ceria.

Gadis itu kemudian berlari kecil dan berdiri beberapa langkah dari tiga orang tersebut.

"Kak Sougo ... Soyo-chan ... Ayo cepat!" serunya seraya melambaikan tangan.

Soyo tersenyum dan berlari menghampiri Kagura. Kedua gadis itu bergandeng tangan dan tertawa senang.

"Oy, mantan polisi, apa menurutmu orang mati bisa hidup kembali?" Kamui bertanya dengan tatapan mata yang masih terfokus pada Kagura.

Sougo melirik Ke arah Kamui dan mengangkat kedua bahunya, "Kau tahu apa jawabannya." Jawabnya seraya turut melangkah mendekati kedua gadis itu.

"Mana mungkin bisa, bukan?" gumamnya dengan senyuman masam. Seberapa besar pun harapan Kamui agar adiknya hidup kembali itu tidaklah mungkin bisa terjadi.

.

.

.

Kagura berjalan beberapa langkah di depan Sougo. Saat ini mereka tengah berada di wahana rumah berhantu. Walaupun, aura di dalam ruangan tersebut dibuat semenakutkan mungkin, tetapi sepasang manusia itu tetap berjalan santai.

"Aku tak menyangka kalau kakak mengenal Soyo-chan." Ucap Kagura memulai percakapan mereka.

Gadis itu berjalan dengan kedua tangan yang menyatu di balik tubuhnya.

"Keluarga Tokugawa dan Okita adalah rekan bisnis, begitu pula dengan tunangannya si Kamui." Jelas Sougo dengan tangan yang di masukkan ke saku celananya.

Kagura berbalik arah dan menatap Sougo dengan pandangan tak percaya. "Soyo-chan dan Kak Kamui bertunangan?" tanya gadis itu.

Sougo mengangguk singkat. "Kau memanggil si Kriminal itu kakak?" ujar Sougo dengan salah satu alis yang terangkat.

"Usia kalian sama, bukan? Rasanya tak sopan jika memanggil kalian tanpa embel-embel kak, karena kalian menolak dipanggil dengan nama keluarga maupun sufiks –san." Jelas Kagura.

Sougo tersenyum tipis. "Berandalan sialan itu pasti senang mendengarnya." Gumamnya lirih.

"Kak Sougo mengatakan sesuatu?" tanya Kagura yang dibalas gelengan singkat pemuda itu.

"Aku heran kenapa kau tidak takut dengan tempat ini?" Sougo berujar heran.

Kagura hanya tertawa kecil dan melanjutkan jalannya. "Yang takut dengan hal seperti ini adalah Ayah." Jawabnya.

Gadis itu akan tertawa sendiri jika mengingat ayahnya yang sangat penakut.

"Eh ... Kau tidak manis ternyata." Canda Sougo.

"Maafkanlah karena aku memang tidak manis." Jawab Kagura sambil mengerucutkan bibirnya.

Mereka berdua tertawa kecil sambil terus berjalan tanpa memperhatikan para hantu palsu di tempat itu. Dan ketika hampir mendekati pintu keluar, sebuah ide jahil muncul di kepala pemuda pasir itu.

"Ah, ada kecoa di kepalamu." Ujarnya datar.

Kagura yang mendengar kata 'kecoa' seketika berbalik arah dan menerjang tubuh Sougo. Tubuh mereka berdua ambruk karena ketidaksiapan Sougo akan reaksi Kagura yang di luar perkiraannya.

"Jauhkan dariku! Cepat singkirkan monster itu dari kepalaku!" teriak Kagura diiringi isakan kecil, seraya menggelengkan kepalanya di dada Sougo.

Sougo yang semula terkejut, seketika tertawa. Mendengar tawa dari pemuda di depannya membuat Kagura seketika melepaskan dekapannya dan menatap tajam pemuda itu, dia dijahili.

"Berhenti tertawa dasar menyebalkan." Rajuknya.

"Hahaha ... maaf ... maaf ... aku tak menyangka jika kau takut dengan hewan kecil itu." ucap Sougo seraya menghentikan tawanya.

Kagura mendengus kasar dan segera beranjak dari posisinya, bermaksud meninggalkan pemuda yang sudah membuatnya malu. Langkah gadis itu terhenti ketika Sougo menahan tangan kirinya.

"Lepaskan!" Kagura berujar kesal.

Sougo mendengus kemudian berdiri tanpa melepaskan genggamannya.

"Aku sudah mengatakan maaf, bukan?" ujarnya.

Kagura masih enggan menatap Sougo. Hal itu membuat Sougo kembali menghela napasnya. Pemuda pasir itu kini tengah bingung sendiri. Pasalnya, sudah lama dia tak menghadapi cewek yang sedang ngambek. Terakhir kali adalah saat 'Kaguranya' dulu ngambek karena perihal yang sama.

Tunggu dulu, sebuah kalimat gila kini terngiang di benak pemuda pasir itu. Dengan mempersiapkan kemungkinan terburuk yang mungkin membuat hatinya kembali sakit, pemuda itu berucap, "Akan kubelikan Sukonbu sebagai gantinya."

Hening. Gadis itu tetap tak bergeming dari tempatnya, membuat hati Sougo seketika kembali terhujam batu.

Tentu saja tak akan berhasil, bukan? Bagaimanapun gadis ini adalah orang lain, bukan gadisnya.

"Satu dus." Gumam Kagura.

"Eh?" netra Sougo nampak melebar. Apa tadi? Dia tidak salah dengar, kan?

"Belikan aku satu dus, maka aku akan memaafkan kakak." Ujarnya cepat.

Netra merah Sougo nampak mengecil dengan aura gelap yang menguar. Dengan cepat pemuda itu menarik tubuh Kagura hingga netra mereka saling bertatapan.

"Kau ... Yato Kagura, kan?" tanyanya dengan nada yang terdengar menusuk namun sarat akan kerinduan.

Kagura mengerjapkan manik biru lautnya beberapa kali dengan dahi yang nampak berkedut dan wajah yang menatap pemuda itu heran.

Ya Tuhan, harus berapa kali gadis itu menjelaskan siapa dirinya. Lagipula, siapa itu Yato Kagura? Entah kenapa dia menjadi kesal dengan kedua orang tuanya yang memberikan nama 'Kagura'.

"Sakit." Rintih Kagura saat Sougo menggenggam tangannya kirinya kuat.

Mendengar rintihan Kagura, kesadaran Sougo kembali dan dengan cepat membuang wajahnya ke arah lain.

"Maafkan, aku." Ujarnya seraya menuntun gadis itu keluar dari tempat tersebut. "Akan aku belikan." Lanjutnya seraya tersenyum tipis, memotong sebuah kata yang ingin Kagura ucapkan, dan meninggalkan gadis itu dalam kebingungan.

Sougo sendiri nampak merutuki sikapnya tadi. Dia sudah membuat gadis itu ketakutan dan Sougo menyesalinya. Walaupun demikian, benak Sougo masih menerawang jauh akan kesamaan yang dimiliki gadis ini dengan gadisnya dulu.

Bolehkah dia kembali berharap?

.

.

.

Waktu cepat berlalu dan tanpa terasa langit yang semula nampak cerah perlahan meredup. Keempat manusia yang semula terpisah saat memasuki wahana rumah hantu tadi kini kembali berkumpul.

"Ini." Kamui menyerah sebuah permen kapas ke arah Kagura yang di terima gadis itu dengan senyuman senang dan ucapan terima kasih. Sebuah kalimat sederhana yang mampu membuat pemuda itu tersenyum senang.

Kagura dan Soyo menikmati permen kapas tersebut dengan gembira.

"Sehabis ini kita mau kemana?" tanya Sougo.

Soyo dan Kamui nampak berpikir, sedangkan Kagura melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Anoo ... sepertinya aku harus pulang." Lirihnya, membuat ketiga manusia itu menatapnya.

Soyo turut melihat jam tangannya dan wajahnya mendadak berubah suram.

"Ah, Kau benar, Kagura-chan." Tuturnya.

"Yaah, sayang sekali. Padahal kita belum menikmati semua wahananya." Sambung Kamui dengan nada kecewa.

Kagura menatap mereka dengan tatapan menyesal dan meminta maaf. Dia sudah diizinkan datang ke sini, jadi dia tak ingin mengecewakan Ayahnya.

"Tak perlu meminta maaf, Kagura. Kau pasti sudah berjanji untuk pulang sebelum makan malam, bukan?" terka Sougo yang dibalas anggukan gadis itu.

"Kalau begitu kita sama. Aku antar kau pulang." Titahnya sambil menarik tangan gadis itu. "Kalian berdua lanjutkan saja kencan kalian." Lanjutnya kepada Soyo dan Kamui.

Soyo dan Kamui mengangguk paham.

"Hati-hati di jalan, Kagura-chan, Okita-san." Ujar Soyo dan dibalas anggukan singkat dari mereka berdua.

Kedua pasang manusia berbeda gender itu berpisah.

.

.

.

Sougo merjalan di depan Kagura sambil tetap menggenggam tangan gadis itu. mereka berjalan pelan menuju tempat Sougo memarkirkan mobilnya.

Sesekali netra biru Kagura akan menoleh ke arah taman bermain tersebut dengan senyuman yang tak pernah luntur di wajahnya.

Mereka berjalan dalam keheningan. Netra Kagura kadang melirik tangannya yang masih digenggam oleh pemuda bersurai pasir di depannya. Tangan besar tersebut terasa hangat dan membuat hati gadis itu terasa nyaman. Perutnya bergejolak aneh seakan ada bunga yang bermekaran di dalamnya. Mendadak semburat merah tipis menghiasi wajahnya.

.

"Kau ... Yato Kagura, kan?"

.

Kagura kembali teringat akan ucapan pemuda itu tadi. Secara tiba-tiba semua sensasi aneh itu berganti menjadi sesuatu yang lain. Rasanya ada sebuah benda tumpul yang menghantam hatinya dan perutnya terasa terbakar.

"Apa yang kuharapkan? Dia hanya menganggapku sebagai pengganti." Lirihnya tak terdengar.

.

.

Kagura dan Sougo kini tengah berdiri tepat di samping mobil pemuda pasir tersebut. Sougo membukakan pintu sebelah kemudi untuk Kagura, tepat sebelum sebuah klakson mini bus terdengar nyaring di dekat mereka.

Tubuh Kagura menegang. Kaki gadis itu terasa kaku seakan akan paku yang menancapnya dan wajah gadis itu berubah pucat. Tanpa Kagura sadari, air mata gadis itu telah membasahi wajahnya.

"Kagura?" Sougo berujar kaget ketika gadis itu tiba-tiba menangis.

"Oy, ada ap-."

Kalimat Sougo terhenti ketika tubuh gadis itu terjatuh yang beruntungnya cepat dia tangkap.

"Kagura ... Kagura ... Oy, sadarlah." Sougo berujar panik sambil menepuk pelan pipi gadis itu.

Tanpa membuang waktu, Sougo segera mengangkat tubuh kecil itu dan meletakkannya di kursi samping kemudi, menurunkan sedikit sandarannya dan memasangkan sabuk pengaman ke gadis itu.

Sougo langsung membawa gadis itu ke Rumah sakit milik keluarga Sakata.

.

.

.

Jauh dari tempat kedua insan itu berada, seorang lelaki bersurai perak tengah duduk di depan sebuah pusara.

"Sudah lama tidak berjumpa, Gintoki." Ucap sebuah suara tepat di belakang lelaki tersebut.

Tanpa menolehkan kepalanya, Gintoki menjawab, "Aku sudah lama tak bertemu denganmu juga, Kankou."

Kedua lelaki paruh baya itu kini saling berhadapan. Kankou melirik ke arah makam yang berada di belakang Gintoki.

"Aku turut berduka cita. Maaf karena aku tak sempat datang saat istrimu meninggal." Ucap lelaki yang lebih dikenal dengan julukan Umibozu tersebut.

Gintoki hanya membalasnya dengan senyuman. "Aku juga turut berduka untuk istri dan ...," jeda sejenak ketika Gintoki menghirup napasnya singkat. "Putrimu." Lanjutnya diiringi dengan semilir angin musim semi yang menusuk kulit mereka.

Kankou nampak membuang mukanya. "Terima kasih untuk ucapanmu." Balas Kankou.

"Bagaimana dengan putrimu? Kudengar dia juga mengalami kecelakaan tiga tahun yang lalu?" lanjutnya.

Gintoki menatap langit senja yang terlihat merah dan mengingatkannya akan seseorang.

"Putriku baik-baik saja." Jawabnya singkat. "Darah Yato memang menakutkan." Imbuhnya.

"Kau tak ingin kembali?"

Gintoki menggelengkan kepalanya. "Untuk apa? Jika kau lupa, margaku sekarang adalah Sakata dan itu tak akan pernah berubah." Jawabnya saat sebuah getaran dari saku celanannya membuat perhatiannya teralih.

Lelaki bersurai keriting alami tersebut mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.

Dan seketika wajah Gintoki berubah terkejut ketika mendapati penjelasan dari seorang pemuda di seberang sana. Dengan cepat dan tanpa menoleh ke arah Kankou, Gintoki pergi dari tempat tersebut.

.

.

T.b.c

.

Fuih ... akhirnya Aya bisa nulis lagi ^^

duh, penyakit mager memang serem ternyata #dilemparsandal.

kali ini Aya mau balas review dulu hehehe ...

buat:

Nyan-Himeko-San : Terima Kasih atas koreksinya ^^ pas di cek ternyata emang ada typoo dan untungnya di beritahu oleh Himeko-san ^^ eh, bener tuh ... Aya juga pertama kali lihat dari FP itu #Kitasama #dilempargolok. makasih buat reviewnya ya ...

Guest-san : Terima Kasih atas review dan semangatnya. Semoga makin suka sama chapter ini ya ... XD

Miu-san : Wkwkwk ... Aya kayaknya nggak bakal nampilin Nobu-chan deh di sini. kecuali, via flashback atau percakapan karakter :D. Btw, makasih atas dukungan dan reviewnya XD

.

.

di sini adakah para readers yang udah lihat trailer mitsuba arc live action? #ketinggalanwoy

hehehe ... kalau ada, ada ngak yang teriak kenceng kayak Aya saat lihat Sougo sama Hijikata?
Wuaah ... Aya kok nggak kuat mental buat nontonnya T.T #abaikan.

.

Sampai bertemu di chap depan, semua XD