"Bajingan! Berengsek kau Izuna!" Dengan marah Obito menindih tubuh Izuna serta meninju wajahnya beberapa kali. Awalnya Obito masa bodo melihat Izuna menggoda gadis yang dibawa Madara ke rumah ini saat ia akan melewati dapur menuju tangga kamarnya, tapi ketika ia melihat Izuna melakukan hal tak senonoh dan mendengar isakan menyedihkan gadis itu ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul Izuna. "Kau pikir apa yang kau lakukan, hah! Jangan paksa dia kalau dia tidak mau bodoh! Kau mau memperkosanya! Bajingan!" Setelah membuat mulut dan hidung Izuna berdarah Obito mendekati gadis berambut merah muda yang meringkuk ketakutan di sudut dapur. Gadis itu menjauhkan kepalanya ketika Obito hendak menyentuh kepalanya, dia semakin merapatkan pelukkan kedua tangannya di tubuh bagian atasnya yang setengah telanjang. "Tidak apa-apa, aku bukan orang jahat, percayalah... aku tidak akan menyakitimu. Aku janji." Tidak ada jawaban. Hanya ada suara isakan yang semakin sedih menyesakkan hati siapa saja yang mendengarnya. Penampilan menyedihkan gadis merah muda itu mengingatkan Obito pada seseorang, pada kejadian menyakitkan beberapa tahun lalu. Gadis itu terus menghindar ketika Obito akan menyentuhnya, dia masih ketakutan. Obito menarik lengan Sakura, memeluk tubuh bergetar gadis merah muda itu dengan erat. Sakura memberontak, ia meronta minta dilepaskan dalam pelukkan Obito, tapi Obito semakin merapatkan pelukkannya. "Tenanglah..."

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

"Kau baik-baik saja?"

Rin menggeleng lemah. "Aku tidak baik-baik saja..." isaknya, "aku .. merasa hancur. Tubuh serta hatiku sakit! Rasanya aku ingin mati! Aku jijik pada diriku sendiri,"

"Rin. Tidak ada satupun dari bagian tubuhmu yang menjijikan." Rin kembali menggeleng, isakannya semakin keras dari beberapa saat yang lalu, dia meraung kesakitan dalam tangisnya. Obito berusaha menenangkan gadis itu, Obito memeluknya dengan erat. "Dengar. Kau tidak menjijikan. Mereka yang menjijikan karena melakukan ini padamu." Bisiknya. Rin masih menangis ketika Obito mengusap sayang rambutnya. "Aku janji." Diciumnya rambut gadis itu. "Aku janji padamu. Aku akan membuat mereka membayar semuanya."

Obito bersungguh-sungguh. Dia tidak main-main dengan janjinya. Dia akan benar-benar membuat mereka, yang sudah menghancurkan masa depan Rin, membayar semuanya. Membayar setiap tetes air mata gadis itu. Membayar setiap rasa sakitnya. Obito melakukannya, dia membalas orang-orang itu dengan lebih kejam. Namun sayang, saat ia datang ke apartemen Rin gadis itu sudah menggantung kaku di jendela apartemen. Rin menggantung dirinya menggunakan kain gorden di lantai lima belas apartemennya. Mayatnya yang menggantung di jendela manjadi tontonan banyak orang. Sirene ambulan, sirene polisi, mengaung di antara suara riuh orang-orang yang menonton mayatnya. Obito berdiri di sana, mendongak menatap mayat Rin yang menggantung bagai boneka dengan tatapan kosong yang sarat akan luka. Dia mendadak tuli, dunianya mendadak kosong dan tak berarti. Dan dia merasa, mati.

...

"Rin."

Samar, Sakura mendengar suara parau yang memanggil nama seseorang. Matanya terbuka perlahan kemudian menatap sekelilingnya.

"Rin,"

Suara itu lagi . Dan, nama yang sama. Sakura menoleh ke samping kiri tempat tidurnya dan menemukan pria yang semalam menolongnya tertidur di sana. Pria itu duduk di samping ranjang dengan kepala bersandar di bibir ranjang. Ia kembali mengigau memanggil nama yang sama. Suaranya terdengar terluka membuat Sakura menatapnya lama. Dengan pelan dan takut Sakura menyingkirkan rambut yang menutupi mata pria itu, mencari tahu apa dia benar-benar tidur. Pria itu kembali mengigau nama yang sama. Dan Sakura perhatikan bibirnya bergetar, entah karena apa.

Uchiha, di balik sikap dingin dan arogannya ternyata memiliki rasa takut dan suatu rasa misterius yang tidak Sakura tahu. Pria di depannya ini, terlihat takut terhadap sesuatu dan menyimpan sesuatu yang berat. Sakura tidak suka pada siapapun di rumah ini, dia membenci mereka semua karena sudah mengklaimnya sebagai penghangat ranjang. Memang dia apa? Barang? Yang bisa dipakai bergantian? Atau sperei? Mereka benar-benar jahat. Sakura rindu orang tuanya, rumahnya, dan semua yang pernah dimilikinya. Tapi... bagaimana cara rusa keluar dari sarang singa?

Gadis merah muda itu menghela napas dan kembali ingat pada kejadian semalam saat mendengar Obito memanggil nama Rin, untuk sekian kali. Dia beranjak dari tempat tidur dan dengan cepat memakai jas Obito untuk menutup bagian tubuh atasnya. Dia juga menyingkirkan selimut dari atas tempat tidur dan dengan susah payah memindahkan Obito ke atas tempat tidur tanpa menyadari Shisui yang mengintipnya dari celah pintu.

Shisui yang melihat Sakura menyelimuti Obito dan memakai jas laki-laki itu mengira Sakura tidur dan melakukan sesuatu dengannya. Shisui terus mencurigai Sakura, dia terus memperhatikan Sakura dari gadis itu menguap, melihat jam di nakas sampai gadis itu masuk ke kamar mandi. Ini masih sangat pagi, jam setengah lima pagi, dia pasti mau membersihkan tubuh dari kegiatannya semalam dengan Obito. Shisui mendengus kemudian pergi dari tempat itu. "Dia sama saja dengan gadis konoha pada umumnya. Murahan." Katanya sambil lalu.

...

Usaha barunya baru mulai berkembang mengharuskan Itachi berangkat pagi pulang malam. Pria itu benar-benar sibuk bulan ini, bahkan dia sering tidak sempat sarapan pagi karena kesibukannya. Biasanya Itachi hanya makan roti dan minum kopi tapi pagi ini Itachi menemukan sesuatu yang berbeda di atas meja makan. Itachi menatap makanan yang terhidang di atas meja makan lalu bertanya pada maid yang membawa mangkuk berisi sup. "Siapa yang memasak semua ini? Kau yang memasaknya?" Ia membiarkan maid menarik kursi dan menyiapkan alat makan untuknya. Ia duduk dengan penuh karisma di kursi yang tlah disiapkan maid.

"Bukan tuan, nona yang memasak semua ini."

"Nona?" Tanyanya kemudian mencicipi masakan yang terhidang di atas meja. Tidak terlalu buruk. Bahkan Itachi yang memiliki selera makan tinggi mengakui kalau makanan ini cukup enak.

"Nona Haruno tuan."

Itachi menghentikan kunyahannya. Ia berdehem pelan sebelum kembali bersuara. "Dia bisa memasak?" Tanyanya meremehkan. Maid yang berdiri sopan di samping kursi Itachi mengangguk. Sulit dipercaya seorang Haruno kecil bisa memasak. Itachi pikir, Sakura hanya gadis belia manja yang tidak bisa apa-apa, tapi ternyata dia salah. Tak berapa lama Sakura datang membawa kobe. Gadis itu sudah memakai seragam dan meletakkan masakan terakhirnya. Ia kemudian pergi ke kamarnya. Itachi menatap Sakura melalui ekor matanya dan kembali menyantap sarapannya.

...

Sakura tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat sampai di kamar dan menemukan Obito sudah duduk di bibir ranjang. Rambut gelap lelaki itu berantakan membuatnya terlihat lebih tampan. Lupakan itu, Sakura kembali ke kamarnya bukan untuk mengagumi ketampanan Obito, tapi untuk membangunkan pria itu. Pria itu tidak butuh dibangunkan, dia sudah bangun sendiri, lalu apa yang harus Sakura lakukan sekarang.

Sakura menarik napas untuk menenangkan detak jantungnya. Dengan ragu dia mendekati tasnya yang tergeletak di sofa.

"Kenapa aku di sini?"

Dengan cepat gadis itu menoleh menatap Obito. "Emm... kau menolongku di dapur, dan tertidur di sini." Sakura bingung mau mengatakan apa, hanya itu yang bisa ia katakan. Obito menatap Sakura menyipit meminta penjelasan lebih. "Maaf, aku tidak tahu mana kamarmu. Jadi aku membiarkanmu tidur di sini. Aku permisi." Sakura segera keluar dari kamarnya. Tapi baru sampai depan pintu gadis itu kembali ke kamar. Dia berdiri di depan Obito yang menatapnya datar. "Bila Uchiha- san tidak keberatan aku sudah memasak untuk Uchiha- san, sebagai ucapan terima kasih." Ia mencicit malu diakhir kalimatnya.

Obito melirik Sakura sesaat sebelum berjalan keluar kamar. "Hn."

...

Banyak hal yang tidak Shisui sukai dari seorang Haruno Sakura. Pertama, kecerdasannya. Kedua, senyumnya. Ketiga, keramahannya yang membuatnya memiliki banyak teman. Keempat, kecerewetannya saat bersama teman-temannya. Dan kelima, yang paling tidak Shisui sukai, dia sama saja dengan gadis konoha pada umumnya, murahan. Bisa-bisanya dia tidur dengan Obito. Pantas saja Madara sangat menginginkannya, pasti dia sangat pandai merayu. Shisui mendecih membuat teman yang makan satu meja dengannya menoleh.

"Ada apa? Ada yang tidak kau suka?" Tanya Sai, anak kelas seni tampan teman Shisui.

"Bukan sesuatu yang harus kau tahu." Sai mencibir mendengar jawaban temannya membuat Toneri mendengus menertawakannya.

"Kapan mau menembaknya?" Shisui menoleh ke asal Suara. Tatapannya jatuh pada siswa tampan bermarga Hyuga yang sedang dibuntuti teman berambut coklatnya. Mereka mengambil duduk tidak jauh dari meja Shisui dan teman-temannya.

Merasa tidak mendapat jawaban Kiba mendengus. "Aku tahu kau pasti tidak berani, iya kan?" Yang kemudian mendapat delikan tak suka. Shisui mengalihkan tatapannya, tapi telinganya mendengarkan dengan sangat baik pembicaraan Kiba dan Neji.

"Jaga mulutmu."

"Akui saja. Aku tahu kau tidak berani mendekatinya."

"Diam, Kiba."

"Aku tidak akan diam sebelum kau mengakui kalau kau takut."

"Aku tidak takut." Kiba mencibir. "Nanti, saat latihan basket putri, aku akan mendekatinya." Lanjut Neji. Hyuga laki-laki itu dibuat gemas oleh Kiba karena tidak percaya dengan kata-katanya. "Kau masih belum percaya?"

"Hm. Hm." Dengan cepat Kiba mengangguk.

"Hh... Dasar Inuzuka." Yang kemudian mendapat pukulan gulungan buku dari Neji.

"Jangan asal pukul. Hei, hentikan. Dasar Hyuga."

"Kau bilang apa?" Neji kembali memukul Kiba main-main dengan bukunya yang kemudian dibalas pemuda berambut coklat itu. Mereka saling pukul kepala menggunakan gulungan buku diselingi canda tawa. Dan itu semua tidak lepas dari pantauan telinga tajam Shisui. Siapa gadis yang akan didekati Hyuga Neji? Shisui bertanya dalam hatinya.

Ya, siapa?

...

Siswa perempuan kelas satu berlari keluar kelas menuju kamar mandi perempuan untuk mengganti seragam mereka dengan seragam olah raga. Salah satunya Haruno Sakura yang tertinggal jauh teman-temannya. Gadis itu menambah kecepatan berlarinya berusaha menyusul mereka tapi ketika di tikungan kolidor seseorang menarik tangannya. Sakura yang awalnya terkejut tersenyum saat melihat Shizuka, Karin dan Shion yang menariknya. Mereka semua teman Sakura, mereka sering menghabiskan waktu bersama, seperti makan di lestoran saat sepulang sekolah dan berbelanja fashion. Bahkan mereka pernah menginap di rumah Sakura. Senyum Sakura perlahan menghilang melihat tatapan tak bersahabat Karin, Shion dan Shizuka. "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"

"Aku tahu rumahmu disita dan perusahaan ayahmu bangkrut." Kata Shizuka seraya melipat tangan di bawah dada angkuh.

"Kau tidak punya apa-apa, Sakura... kami tahu itu." Kali ini Shion yang berbicara. Gadis berambut pirang itu mengangkat dagu menatap Sakura remeh.

"Lalu?"

"Seharusnya kau tidak di sini. Seharusnya kau menjadi gembel bersama ayah ibumu bukannya tetap di sini." Sakura tidak suka saat Shizuka mengejek ayah dan ibunya. Kepalanya yang semula tertunduk mendongak menatap Shizuka. Gadis berambut indigo itu menghela napas mengejek kemudian menatap Sakura kasihan. "Kasihan. Pasti ayah dan ibumu bekerja keras untuk mempertahankanmu di sini. Dan kau Sakura, kau benar-benar tidak tahu diri. Kau mementingkan dirimu sendiri dan membiarkan ayah dan ibumu bekerja di jalanan. Menjadi pengemis." Shion dan Shizuka tertawa. Sementara Karin, dia diam menatap tiga temannya. Gadis itu menatap ketiganya kemudian pergi meninggalkan mereka.

Telinga dan hati Sakura panas mendengar ocehan Shizuka dan Shion. Ingin rasanya ia menjambak rambut kedua gadis itu. Tapi belum sempat Sakura menjambak dua gadis itu, mereka sudah lebih dulu pergi. "Seharusnya kau bersyukur Sakura, karena aku belum menyebarkannya pada siapapun!" Teriak Shizuka seraya mengedipkan mata yang disambut tawa oleh Shion.

...

Karena pertemuan menyebalkannya dengan Shion, Shizuka dan Karin, Sakura terlambat datang ke lapangan basket indoor. Semua teman-temannya sudah berbaris rapih. Sementara seorang siswa, yang Sakura tahu adalah seorang kapten di team basket putra, berdiri di depan mereka sedang memberi arahan. Siswa berambut coklat panjang itu melihat kedatangannya dengan cepat Sakura berlari menuju barisan paling belakang.

"Baiklah. Karena semuanya sudah berkumpul kita mulai latihannya. Kalian tahu cara memainkan bola basket?" Mereka berteriak tidak seraya menjerit heboh melihat permainan memutar bola menggunakan telunjuk yang dilakukan sang kapten. "Kalian tahu kenapa aku ada di sini?" Tanya Neji yang disambut gelengan kepala. "Aku menggantikan Gay- sensei. Hanya hari ini. Atau... kalian lebih suka diajari Gay- sensei?"

"Tidak!" Teriak para siswi cepat.

"Aku lebih senang Neji- senpai yang mengajari!" Teriak salah satu dari mereka yang disambut anggukan kepala siswi lainnya. Sakura tersenyum melihat teman-temannya yang biasa malas-malasan menyambut antusias pelajaran olah raga.

"Aku ingin tiap hari senpai yang menjadi gurunya!"

Neji hanya tersenyum. "Lihat dan perhatikan." Kemudian mulai memainkan bola di tangannya. Cukup lama Neji bermain sendiri kemudian melempar bolanya pada Kiba. Kiba ikut bermain. Sorak-sorai para siswi memenuhi gedung olah raga melihat Kiba dan Neji yang sedang berebut bola. Dengan kelihaiiannya Neji dengan mudah merebut bola dari Kiba kemudian melemparnya ke keranjang. Para siswi berteriak histeris, tanpa terkecuali, Sakura juga ikut berteriak. Gadis itu menatap takjub Neji dengan senyumnya seraya menepuk tangan.

Shisui adalah satu-satunya siswa yang ahli bermain kendo. Dia dipuja dan digilai banyak siswi dengan kelihaiiannya memainkan pedang kayu dan mengalahkan lawannya. Shisui dengan seragam olah raga kendo berjalan melewati gedung basket. Yang membuatnya penasaran saat mendengar suara riuh siswi yang memuja seseorang. Dengan iseng Shisui masuk ke dalam dan menemukan Neji dan Kiba yang sedang bermain berdua di depan siswi teman satu kelasnya. Ia diam melihat Neji, yang tak lain adalah kakak kelasnya. Shisui nemperhatikan siswi teman satu kelasnya dan Neji yang sedang memberi arahan.

"Yang berambut merah muda! Yang paling belakang,"

"Siapa? Aku?"

"Hn. Kemari."

Semua yang ada di sana menoleh menatap Sakura yang berjalan melewati mereka. Banyak dari mereka menatap tak suka, iri, benci, Sakura yang berjalan mendekati Neji. "Pegang bolanya seperti ini," Neji berdiri di belakang Sakura,wajahnya tepat berada di bahu gadis itu, sementara tangannya menggenggam tangan Sakura.

Matanya menyipit melihat Neji yang memeluk Sakura dari belakang.

"Ya, seperti itu." Hembus napasnya menyapu leher Sakura saat ia berbicara. Tangannya dengan pelan dan hati-hati mengajari tangan Sakura memantulkan bola. Sakura tersenyun ketika dia mulai bisa dan mengerti cara memantulkan bola. "Sekarang lempar bolanya ke keranjang." Ia mengikuti perintah Neji. Dilemparkannya bola itu ke keranjang namun meleset.

Tanpa disuruh Kiba mengambil bola tadi dan melemparkannya pada Neji yang ditangkap sempura olehnya. Neji memainkan bola di tangannya sebentar kemudian kembali melakukan hal yang sama. Ia berdiri di belakang Sakura. "Kita coba lagi." Mereka memulainya dari awal. "Sekarang lempar bolanya." Dan ketika Sakura akan melempar bola Neji mengangkat tubuhnya membuat gadis itu memekik. Semua siswi menatap Sakura tak suka dan meneriakinya 'Huu!' Apa lagi Shion dan Shizuka. Sepertinya mereka sangat tidak suka Sakura dekat dengan sang kapten. Sakura menunduk menatap Neji. Kedua matanya mengedip beberapa kali melihat siswa tampan itu. "Kenapa menatapku? Ayo lempar bolanya."

Shisui mendengus kemudian berjalan keluar.

...

Pelajaran olah raga hari ini sangat menyenangkan. Sakura tidak menyangka bermain basket bisa semenyenangkan ini. Tinnn... Tiiinnn! Sebuah sedan merah menelakson Sakura. Sakura yang terkejut dengan cepat menoleh.

Shisui membuka kaca mobilnya. Kepalanya menyembul menatap Sakura datar. "Kau mau tetap berdiri di sana." Dengan cepat kepala Sakura menggeleng. "Cepat masuk." Sakura menurut. Awalnya gadis itu mau duduk di belakang tapi Shisui membentaknya dan menyuruhnya duduk di depan. "Memang kau pikir aku supirmu." Sinisnya kemudian mendengus.

Mobil Shisui melaju pelan melewati pagar sekolah. Di sampingnya Sakura diam menatap lurus ke depan. Sakura tidak ingin membuat masalah dengan mengatakan sesuatu pada Shisui. Temannya sudah meninggalkannya hanya karena dia sudah tidak punya apa-apa, dan ayah serta ibunya entah pergi ke mana. Sakura tidak ingin membuat masalah dengan menyinggung Shisui. Karena itu dia diam. Ingatannya kembali pada pelajaran olah raga siang tadi. Diam-diam dia tersenyum. Yang membuatnya terkejut saat mobil Shisui berheti tiba-tiba. Hampir saja kepalanya membentur kaca depan.

"Maaf. Aku tidak sengaja." Kata Shisui santai dan kembali mengemudikan mobilnya. Shisui tersenyum tipis melihat Sakura yang merengut di sampingnya.

Mereka sampai rumah sekitar jam setengah tiga sore. Shisui membuka pintu mobilnya dan berjalan lebih dulu tanpa berniat menunggu Sakura. Setelah gadis itu keluar dari dalam mobilnya dari jarak jauh ia mengunci mobil menggunakan remote. Ia masuk lebih dulu meninggalkan Sakura yang berlari menyusulnya.

"Shisui!" Panggil gadis itu.

Ia berdecak dan berbalik menatap gadis itu datar. "Apa lagi?"

Sakura berdiri di depan Shisui. Napasnya tersenggal karena berlari mengejar pemuda itu. "Aku tahu kau sangat menyebalkan," Shisui mendengus mendengarnya. "Karena kita sudah tinggal satu atap aku harap kita bisa menjadi teman baik. Jadi berhentilah bersikap menyebalkan. Dan asal kau tahu bukan keingananku aku berada di sini. Tapi terima kasih untuk semuanya." Ia menunduk beberapa kali sebelum pergi meninggalkan Shisui.

Shisui melipat tangannya, tatapannya jatuh pada punggung Sakura yang berjalan menjauh, kemudian mendengus. "Apa-apaan dia. Dia pikir dia siapa berani berkata seperti itu padaku." Kesalnya.

...

Untuk suatu alasan Obito mengajak Kakashi mampir ke rumahnya. Dia meminta pria tampan berambut perak itu menunggunya di ruang tengah. Kakashi duduk memangku kaki menunggu Obito yang sedang mengambil sesuatu di ruang kerjanya. Pria berambut perak itu tampak tampan dengan kemeja putih garis fertikal hitam yang dibalut jas hitam dan dipadu dengan sempurna dengan celana bahan mahal sewarna jasnya. Ia Memakai Dasi Kupu-Kupu atau Bow Tie membuatnya terlihat jauh lebih tampan. Ia menoleh ketika mendengar suara benturan yang terdengar samar.

"Hh... siapa yang membuat pintu seperti ini."

Tatapannya jatuh pada seorang gadis berseragam SMA yang sedang mengusap kening seraya mengomel menyalahkan pintu kaca putar seperti yang ada di mall. Pemuda berseragam sama dengan gadis itu berjalan melewati gadis itu dan mengatainya. "Bodoh."

Kakashi tersenyum ketika Sakura dan Shisui melewatinya. Mereka berdua mengingatkannya pada kenangan masa lalu. Tak lama kemudian Obito datang membawa tas kerja hitam. Pria tampan bermarga Uchiha itu juga sempat berpapasan dengan Shisui dan Sakura di tangga. Dia tidak menyadari, atau mungkin tidak peduli, pada tatapan Shisui yang terkesan aneh sore ini. Ia berjalan mendekati Kakashi. "Semuanya sudah lengkap, ayo." Ia berjalan lebih dulu. Di belakang, Kakashi mengikutinya.

Mereka satu mobil, Obito yang menyetir. Cukup lama mereka diam sampai pada akhirnya Kakashi menoleh menatap Obito dan memulai pembicaraan. "Siapa gadis itu?"

Obito menoleh sesaat kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Entah. Madara- nii yang membawanya."

"Bukankah dia putri tunggal Haruno?"

"Hn."

Kakashi diam sejenak kemudian kembali berbicara. "Menurutmu apa dia mirip dengannya?" Tidak ada jawaban. Kakashi diam dan mengalihkan tatapannya ke arah jendela. Obito diam, dia tampak tidak berniat menjawab pertanyaan Kakashi.

Mirip dengannya? Ya, sedikit.

Obito menatap lurus ke depan. Sekilas ingatan tentangnya, Kakashi dan Rin, membayang di matanya. Betapa menyebalkan, berisik, dan mengganggunya gadis itu. Dia selalu bertingkah menyebalkan dengan mengejar-ngejar Kakashi. Dia begitu berisik mengomeli Obito ketika Obito berkelahi. Dia juga begitu mengganggu konsentrasi belajarnya. Karena disetiap waktu yang ada di kepala Obito hanya Rin. Rin. Rin dan Rin.

...

Izuna sedang tidur memeluk bantal ketika ponselnya berdering. Pria itu menyumpah serapah orang bodoh yang menelfonnya. Kepalanya sakit akibat mabuk semalam. Dan karena di pukul Obito sudut bibirnya membiru serta keningnya memar. Izuna benar-benar mabuk semalam, dia tidak berniat membantah perintah Madara dengan menyentuh gadis itu. Walau bagaimana pun dia takut kena murka pria matang satu itu. Ponselnya masih berdering namun Izuna tak berniat mengangkatnya. Sampai pada akhirnya telfon rumah yang ada di kamarnya berdering. Izuna berdecak. Dengan malas-malasan ia mengangkat telfon. "Apa?"

"Apa yang sedang kau lakukan? Kau tidur dan tidak menganggkat telfonku, begitu?"

Dengan cepat Izuna kembali pada kesadarannya ketika mendengar suara Madara. Ia meringis merasakan ngilu pada bibirnya dan teringat pada kejadian semalam. "Akkuu..."

"Mabuk?"

"Hn." Jawabnya. Takut-takut dia bertanya. "Ada apa?" Berharap dalam hati Madara menelfonnya bukan karena kejadian semalam.

"Sebenarnya aku ingin menyuruhmu ke rumah Haruno mangambilkan baju Sakura di sana,"

Izuna berdecak, "Kau pikir aku babysitter. Aku tidak mau!" Kemudian meringis diakhir kalimatnya ketika merasakan ngilu itu kembali. Diam-diam Izuna bersyukur Obito tidak melaporkannya.

"Tapi sepertinya kau keberatan,"

"Ya. Benar sekali."

"Kalau begitu bawa dia ketempat usahamu. Berikan yang terbaik dari yang terbaik karena aku ingin dia cantik saat aku pulang besok."

Izuna ingin mengatakan tidak. Karena bagaimana bisa ia mengajak gadis itu ke mall pusat Konoha dengan apa yang dilakukannya semalam. Tapi belum sempat ia mengatakan sesuatu Madara sudah memutus sambungan telefon. Ia berdecak dan mengacak rambutnya. "Dari sekian banyak orang di rumah ini kenapa harus aku. Dasar Aniki bodoh!"

Dia tidak mau terlihat mencolok dengan mengenakan setelan jas dengan lebih memilih memakai kaus dan jeans denim pendek sebagai bawahannya. Izuna berdiri cukup lama di depan pintu kamar Sakura. Dia bimbang. Ketuk dulu baru masuk, atau masuk dulu baru ketuk. Izuna berdecak. Kenapa dia jadi bodoh sih. Memang siapa gadis itu sampai dia merasa tidak enak dengan kejadian semalam. Lagi pula cepat atau lambat pada akhirnya gadis itu juga akan jadi pelayan ranjang. Izuna membuka pintu kamar Sakura dan menatap Sakura yang sedang membaca di meja belajar datar. "Kau sudah selesai? Ayo keluar." Sakura mengernyit dan menatap ngeri Izuna. "Aku tidak akan macam-macam. Sudahlah ayo cepat." Melihat Sakura yang diam saja Izuna mendekati gadis itu dan menariknya keluar. Tentu saja Sakura melawan dengan apa yang sudah dilakukan Izuna semalam. Dia tidak mau sedikitpun bergerak sekalipun Izuna menariknya, dan pada akhirnya dia menggigit tangan Izuna. "Arghhh... kau ini kasar sekali. Aku tidak akan keberatan kalau kau melakukannya di leher bukan di lengan."

Sakura berusaha untuk tidak bergerak dari tempatnya. "Dasar kau mesum!" Teriaknya. Tapi ia kemudian menjerit ketika Izuna memanggulnya di bahu. "Lepas! Dasar mesum! Akan aku adukan kau pada paman berambut cepak! Kau akan dipukul olehnya!"

Sakura memukul punggungnya tapi Izuna tidak peduli. Dia benar-benar gadis keras kepala. "Aku tidak sedang mabuk. Aku tidak akan melakukan apapun padamu." Sepanjang jalan menuju garasi Sakura tidak henti-hentinya berteriak dan memukul punggung Izuna. Izuna memaksa Sakura masuk ke dalam mobil Lexus miliknya dan segera membawa gadis itu ke mall pusat konoha.

Mall pusat Konoha adalah mall paling besar di konoha yang di bangun oleh Izuna yang didanai oleh Madara. Bila Obito dengan usaha coffe barnya, Itachi dan Madara dengan bisnisnya, maka Izuna dengan mallnya. Mereka sudah memiliki bisnis masing-masing, dan di antara yang lain Madaralah sumber keuangannya. Karena Madara yang mendanai mereka bertiga.

Izuna membawa Sakura yang merengut di sampingnya masuk ke pintu khusus yang hanya boleh dipakai para Uchiha. Ia tahu gadis itu tidak nyaman berada di dekatnya jadi Izuna memberi Sakura kartu yang bisa membuat gadis itu mengambil apapun yang diinginkannya. "Ambil apapun yang kau mau. High hills, parfum, gaun, jam tangan, ponsel sepatu, tas atau apapun yang kau ingin." Sakura yang memang memiliki sifat buruk gila belanja menatap Izuna. Ia ingin menerimanya, sudah lama sekali rasanya dia tidak berbelanja, namun bimbang. "Aku ada urusan. Kita bertemu lagi di sini."

Izuna melihat Sakura ragu-ragu menerima credit card gold miliknya. "Tapi ..."

Izuna mengabaikannya dan berjalan meninggalkan Sakura. "Tidak lebih dari satu jam."

...

Sakura benar-benar menuruti perkataan Izuna. Dia menguras, tidak sampai habis, uang pria itu. Dia tidak hanya membeli gaun, high hills, sepatu, tas, ponsel, parfum, jam tangan tapi juga memenuhi troli paling besar dengan makanan ringan dan es krim. Gadis itu tersenyum. Dia akan menyimpan teman-temannya di dalam kamarnya dan menghabiskannya sendiri. Yeah. Ide bagus. Dengan semua barang yang dibelinya Sakura kesulitan membawanya membuat dua penjaga keamanan membantunya mendorong troli dan membantu membawa tas yang berisi parfum, jam tangan, gaun, dan berisi barang-barang mahal lainnya. "Sampai sini saja." Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia menunggu Izuna cukup lama dan berakhir bertemu dengan Shizuka yang sedang menggandeng om-om. Gadis berambut indigo itu sempat ingin menghindarinya tapi dengan sengaja Sakura memanggilnya. "Hai, Shizuka!" Shizuka dengan enggan menoleh menatapnya. Dan dengan sengaja Sakura memamerkan tas berisi barang mahal miliknya.

Shizuka tersenyum sinis. Sakura pikir dengan dia berada di mall ini dan membawa barang-barang mahal itu bisa memanasi Shizuka dan membuat gadis itu mengakuinya sebagai teman lagi. Tapi dia salah. "Kau jadi pengantar barang? Atau... itu hasil upahmu semalam."

"Apa?"

Seringai Shizuka melebar. "Pria tua mana yang kau layani Sakura ... atau ibumu yang melayaninya."

Sudah cukup. Kali ini Sakura tidak akan memaafkan gadis penjilat ini. Sakura membuang tas-tasnya dan langsung menjambak rambut Shizuka. Gadis itu berteriak kesakitan kemudian membalas Sakura dengan menjambak rambutnya. Pria tua yang bersama Shizuka membantu gadis itu. Ia berusaha melepas tangan-tangan Sakura yang menjambak rambut gadis yang dikencaninya. Dan tentu saja Sakura kalah telak, Shizuka di bantu sementara dia sendiri. Ketika Shizuka menjambak rambutnya Sakura hanya bisa menancapkan kukunya di dada besar gadis itu sampai tiga kancing seragamnya terlepas dan memamerkan dada besar yang dibungkus bra hitam berenda yang menggoda.

Pria tua di samping Shizuka melotot melihat dada gadis itu. Dan sempat-sempatnya ia meremas dadanya. Shizuka tampak tidak keberatan. Dia menikmati keduanya, remasan pria itu dan wajah kesakitan gadis yang dijambaknya. "Berengsek! Berani-beraninya kau melukai barang berhargaku!"

Sakura kesakitan. Rasanya seperti kulit kepalanya terkelupas. Dia hanya bisa menahan tangan Shizuka yang semakin kuat menjambak rambutnya dan menancapkan kukunya di tangan gadis itu. Banyak orang yang menonton mereka, terutama laki-laki yang begitu antusias melihat dada Shizuka yang terekspos dan dibelai-balai pria di sampingnya. Tapi sepertinya Shizuka tidak merasa malu melainkan dengan bangga memamerkan dua buah dadanya.

Izuna datang dengan dua penjaga keamanan dan langsung melindungi Sakura dari jambakan tangan Shizuka. Dia mendecih melihat pria tua yang dengan tidak malunya meremas dada gadis berseragam SMA di depan umum. Dan Izuna tak habis pikir, mau-maunya gadis cantik itu diperlakukan seperti itu oleh seorang pria tua yang jauh dari kata tampan di depan umum. Ia menahan Sakura yang berusaha menyerang Shizuka. "Sudah Sakura, hentikan!"

Sakura tidak peduli pada bentakan Izuna. Dia berusaha semampunya melepaskan diri dari Izuna dan ingin membalas Shizuka. Menjambak, menampar dan merobek mulut kotornya. "Dia menghina ibuku!" Teriaknya. Tatapannya tajam menatap Shizuka yang juga di tahan penjaga keamanan. "Aku tidak suka! Aku tidak akan suka siapapun menghina ibuku! Tidak akan!"

"Bawa mereka pergi!" Perintah Izuna pada dua penjaga keamanan. "Apa yang kalian lihat! Cepat bubar."

Sakura berhenti melakukan perlawanan. "Dia menghina ibuku. Aku tidak suka." Dan perlahan menangis.

Izuna memeluk tubuhnya dan berusaha menenangkannya. Pria itu sedikit menyesel meninggalkan Sakura sendiri dan menyuruhnya menunggu. Kalau saja dia tetap berada di sampingnya pasti semuanya tak akan seperti ini. "Aku minta maaf..."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Untuk malam itu dan hari ini."