Disclaimer: all of the chara is belong to Masashi Kishimoto, I just simply borrow them
Main Cast : Sasuke
Genre: family/tragedy, maybe angst also?
Dedicated to: luvninosama, yang gara-gara request isengnya bikin saya jadi kepikiran bikin cerita ini. Happy birthday btw, heheheh, gomen telat (banget) *nyengir dewa
Buat para calon pembaca*ngareppp, please fasten your seatbelt and...enjoy =D
...
Si pemburu tidak tahu mana yang lebih baik; dunia yang selama ini ia percayai dan yakini atau dunia tentang kenyataan yang sebenarnya...
-o-o-o-o-o-
Last Present
Semua orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget ketika Sasuke masuk dengan membanting pintu. Terlebih Asuma.
"Kenapa dia ada di sini?" bentak Sasuke begitu ia berada di dalam ruang Asuma. Ia menunjuk si pemuda berambut merah secara terang-terangan. Matanya menatap Asuma dengan ganas, kemudian berganti mendelik pada si pemuda berambut merah yang berada tak jauh dari tempat Asuma berdiri.
"Sasuke.."
"Jawab!"
"Uchiha Sasuke!" kata Asuma dengan suaranya yang paling tegas dan tajam. Mendengar itu, Sasuke langsung menutup mulutnya lagi yang sebelumnya terbuka. Asuma hanya pernah bersuara seperti itu ketika sedang berada di lapangan saat memburu pelaku kriminal.
"Dia buronan," kata Sasuke setelah menarik nafas panjang beberapa kali. Tapi suaranya bergetar karena amarah. "Cracker yang diburu 8 tahun yang lalu. Kenapa dia ada di sini?"
"Aku tahu siapa dia." Mendengar itu, Sasuke melotot pada Asuma. "Kau ingin bertanya mengapa aku tidak langsung menangkapnya begitu? Singkatnya, dia telah dijamin oleh seseorang. Dia tak akan berbuat kriminal lagi. Untuk lebih jelasnya kau tanya saja padanya. Tapi tidak sekarang. Ada hal lain yang lebih penting. Dan aku baru akan bicara kalau kau sudah tenang."
Sasuke masih mendelik pada Asuma, tapi mau tak mau ia harus menurut. Ini kantor polisi. Percuma kalau ia mengamuk. Bisa-bisa ia malah ditahan.
Dengan susah payah, Sasuke berhasil menahan emosinya sedikit.
Asuma menghela napas. Ia tahu amarah Sasuke belum reda dari gestur tubuhnya, tapi setidaknya sekarang Sasuke mau diam. Dan mungkin mau mendengarkan.
"Namanya Sasori," tunjuk Asuma pada si pemuda berambut merah. "dan gadis yang sedang duduk di sana itu Sakura. Mereka datang ke sini mencarimu."
"Untuk apa?" tanya Sasuke ketus.
Asuma menoleh pada Sasori. Paham maksud Asuma, Sasori kemudian menatap Sakura dan mengangguk.
"Uchiha Sasuke-san," panggil Sakura sambil bangkit dari kursinya, "Kalau tidak keberatan, maka sebaiknya pembicaraan ini dilanjutkan di kantor kami. Semuanya akan lebih jelas di sana."
"Bicarakan di sini, atau tidak sama sekali," kata Sasuke keras kepala.
Sakura menatap Sasori, meminta bantuan. Sekali lagi, Sasori mengangguk.
"Ini..." Sakura memulai dengan suara lebih pelan dari sebelumnya, tampak enggan. "Ini ada hubungannya dengan kakakmu, Uchiha Itachi."
Tubuh Sasuke langsung menegang. Amarah yang tadinya sedikit surut, kini kembali lagi. Berkali-kali lipat. Dadanya bergemuruh seperti mau meledak.
Menyadari situasi yang kembali memanas, Asuma langsung memposisikan dirinya di antara Sasuke dengan kedua orang tamunya. Ia menahan Sasuke tepat waktu, mencegahnya menerjang Sakura.
"Kau...Itachi..." geram Sasuke dari sela-sela giginya. "Bagaimana bisa...?"
"Kalau kau tidak tenang," kata Sasori cepat, mendului Sakura untuk mengucapkan apapun. Ia maju hingga berjarak dua langkah dari hadapan Sasuke, sama sekali tidak terlihat takut. "Kau tidak akan tahu di mana Itachi sekarang. Selama 10 tahun ini kau memburu dia kan? Apa bedanya kalau kau menunggu satu hingga dua jam lagi? Kalau kau ikut dengan kami, aku janji, akan kupertemukan kau dengan Itachi."
Sasuke membelalak pada Sasori selama beberapa saat, namun benaknya berpikir cepat. Seorang buronan yang mengaku sudah insaf repot-repot datang menemui salah satu pimpinan divisi kepolisian hanya untuk mengarang cerita bohong? Rasanya tidak mungkin.
"Baiklah," kata Sasuke akhirnya, setelah dengan susah payah ia harus meredam emosinya.
Sasori tersenyum tipis. "Kau bisa pegang janjiku. Begitu tiba di sana, aku akan mengatur supaya kalian bisa bertemu. Terserah mau kau apakan Itachi pada saat itu. Mau kau giling juga boleh."
Sasuke melepaskan diri dari Asuma, namun tidak melepaskan tatapannya pada Sasori. "Tunjukkan jalannya."
Sekali lagi, Sasori tersenyum tipis.
"Apa aku perlu ikut?" Asuma bertanya pada Sasori sebelum pemuda itu beranjak ke pintu, yang dijawab Sasori dengan gelengan kepala.
Sasori keluar dari ruangan Asuma, diikuti oleh Sasuke. Sakura menyusul kemudian setelah undur diri kepada Asuma.
"Lho? Ada apa ini? Mereka siapa? Dan kenapa Sasuke ikut dengan mereka?" Tanya Kiba pada Asuma yang berdiri di ambang pintu kantor divisi kriminal setelah mengantar para tamunya. Kiba tiba di lantai 3 tepat ketika rombongan kecil Sasori hendak turun ke lantai 2.
Asuma menggaruk janggutnya dengan satu jari. "Emm, katanya sih sehubungan dengan hak pewarisan kepemilikan suatu perusahaan. Dan nama Sasuke ada di dalam surat wasiatnya."
"Hah?"
-o-o-o-o-o-
Di sebuah ruangan kantor yang tidak terlalu besar dan berperabotan minimalis, Sasuke melongo selama beberapa saat pada Sakura.
"Aku? Pewaris usaha percetakan ini? Kau pasti bercanda."
"Baca saja sendiri." Sasori mengambil kertas di tangan Sakura, lalu menyodorkannya pada Sasuke.
Sasuke merebut kertasnya dengan gusar dan membaca semua yang tertera di sana dengan cepat. Seketika, matanya melebar. Emosinya muncul lagi, membuat kertas di tangannya menjadi kusut karena tangannya menggenggam dengan erat.
"Ini tidak mungkin!" bantah Sasuke, "Tidak mungkin! Gimana bisa dia...Itachi yang itu...punya perusahaan seperti ini? Dan kini ia mewariskannya padaku? Ini...ini semua omong kosong!"
"Yeah, omong kosong yang legal dan diakui oleh pengadilan," sambar Sasori datar. "Kau bisa mempertanyakan keaslian kertas itu pada mereka, tapi setahuku urusannya panjang dan..."
"Jangan main-main denganku cracker!" Sasuke mencengkeram kerah jas Sasori dengan geram. "Orang seperti dia...yang membuang adiknya sendiri...mana mungkin dia mau berbuat begini? Penjahat seperti dia...penjahat seperti dia itu..."
Sasori menepis tangan Sasuke. Wajahnya masih tetap miskin ekspresi, namun kemurkaan tampak jelas di matanya. "Mungkin bagimu ia memang penjahat. Tapi bagiku tidak. Kalau waktu itu aku tidak bertemu dengannya, mungkin saat ini aku masih diburu hingga ke ujung dunia. Jadi sekali lagi kau bilang dia penjahat..."
"Cukup!" jerit Sakura menengahi, membuat kedua pemuda itu menoleh padanya. "Kalau seperti ini terus semuanya tidak akan selesai. Sasuke-san, sekali ini saja, tolong dengarkan semua penjelasanku dulu. Dan kau 'wakil direktur', kuminta kau keluar dulu dari ruangan ini untuk mendinginkan kepala."
Baik Sasuke maupun Sasori sama-sama saling menatap balik pada lawannya. Keduanya terlihat ingin saling menerkam.
"Sekarang," ulang Sakura dengan tegas.
Tanpa berkata-kata, Sasori membalikkan badan dan berjalan ke pintu. Suasana hening muncul di antara Sasuke dan Sakura setelah pintu dibanting.
Sakura mengambil nafas panjang sebelum memulai.
"Supaya lebih jelas," Sakura memulai, "aku akan memulai dari awal. Dulunya kantor percetakan ini adalah toko yang memproduksi mainan buatan tangan milik seorang pria tua bernama Sarutobi. Suatu hari, kira-kira 8 tahun yang lalu, ia ditolong Itachi-san saat sedang dikeroyok oleh preman."
Sasuke hendak menyela, tapi Sakura buru-buru melanjutkan ceritanya.
"Itachi-san yang saat itu terluka lebih parah dibawa oleh Sarutobi ke rumah sakit. Sarutobi bermaksud mengantarnya pulang dan hendak berterimakasih pada keluarganya, namun Itachi-san menolak dengan tegas. Ia pergi dari tempat itu sebelum ditanya macam-macam."
"Sarutobi yang penasaran kemudian membayar orang untuk mencarinya, namun ia kesulitan karena tidak tahu apa-apa tentang Itachi-san, bahkan nama pun tidak. Berbulan-bulan Sarutobi terus mencari, sampai suatu ketika ia berhenti di sebuah kedai teh di pinggir kota. Kau tahu? Betapa terkejutnya Sarutobi ketika mendapati bahwa seorang pelayan di sana adalah Itachi-san."
"Itachi-san setuju ikut dengan Sarutobi sebentar supaya tidak dicurigai. Apalagi saat itu di kedai ada dua orang petugas polisi yang sedang beristirahat. Seusai jam kerja, Sarutobi mengajaknya pindah ke sebuah kedai ramen kenalannya agar dapat berbicara dengan leluasa."
"Sama seperti sebelumnya, Itachi-san terus membungkam di hadapan Sarutobi, namun akhirnya ia menyebutkan namanya. Itachi-san bilang, saat itu ia terpaksa menyebutkan namanya supaya bisa cepat pergi dari sana. Namun, sesaat sebelum Itachi-san pergi, Sarutobi menawarkan sesuatu yang mengubah hidup Itachi-san."
Sakura terdiam sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. "Sarutobi menawarkan Itachi-san bekerja di tempatnya. Tentu saja dia langsung menolak. Dicari oleh orang tak dikenal hingga berbulan-bulan hanya untuk ditawari pekerjaan. Meski orang itu adalah orang yang pernah kau tolong, mencurigakan bukan? Namun beberapa hari kemudian, justru Itachi-san lah yang mencari-cari Sarutobi."
"Kenapa?" tanya Sasuke tanpa sadar, cukup membuat Sakura merasa senang karena agaknya Sasuke mulai tertarik mendengarkan.
"Karena aku." Setelah berkata begitu, Sakura menatap ke samping dengan pandangan menerawang. "Dulu aku besar di jalanan. Karena tak punya tempat tinggal, sejak kecil aku berkelana ke berbagai tempat. Umurku 15 sewaktu tiba di pinggiran kota Konoha. Dan tanpa sengaja, aku terlibat dalam perkelahian antar geng."
"Aku dikejar oleh salah satu geng karena mengira aku anggota geng lawan. Aku berlari hingga ke arah kedai teh tempat Itachi-san bekerja. Hari sudah malam saat aku terpojok di gang dekat kedai itu. Saat itu aku sudah pasrah. Hingga kemudian Itachi-san muncul dan menolongku."
"Akibatnya, Itachi-san jadi ikut dikejar. Karena tidak tahu harus kemana lagi, Itachi-san membawaku ke kedai ramen yang pernah ia datangi bersama Sarutobi. Hanya itu tempat yang terpikir olehnya karena ia tidak bisa kembali ke kedai teh. Kami berhasil kabur dari kejaran kelompok geng itu. Mereka tak pernah menemukan kami di sana."
"Pemilik kedai ramen yang baik hati itu menerima kami begitu saja. Kami tinggal di sana selama satu hari untuk merawat luka. Kemudian, hari berikutnya Itachi-san menanyakan alamat Sarutobi. Ia ingin bertanya apakah tawaran Sarutobi sebelumnya masih berlaku."
"Sarutobi senang karena akhirnya Itachi-san menerima tawarannya. Meski demikian, aku tidak merasa Itachi-san senang dengan apa yang ia lakukan. Itachi-san memang tidak menunjukkannya, tapi aku tahu ia terpaksa."
"Kami dipekerjakan di bagian kebersihan. Kami juga diizinkan tinggal sementara di toko sampai kami menemukan tempat tinggal. Tapi karena Itachi-san bekerja dengan giat dan rajin, ia akhirnya dipercaya untuk mengepalai bagian pergudangan. Ia yang mengatur dan mengawasi keluar dan masuknya stok barang."
"Setengah tahun kemudian, Itachi-san berencana menghadap Sarutobi. Ia bilang ia ingin keluar. Dari awal ia memang tidak bermaksud menetap di satu tempat. Namun sebelum ia sempat menyatakan apa-apa, Sarutobi tua ambruk. Kami langsung melarikannya ke rumah sakit. Rupanya selama ini ia punya penyakit jantung."
"Karena tidak ingin pekerjaan tersendat, ia meminta Itachi-san mengambil alih pekerjaan untuk sementara. Jadi selama beberapa minggu, Itachi-san yang memimpin jalannya toko. Ia dibantu oleh seorang rekan Sarutobi yang bernama Danzo untuk bagian keuangan. Aku membantu sedikit, tapi aku lebih sering menemani Sarutobi di rumah sakit."
"Awalnya semua terlihat lancar. Meski kerepotan, tapi Itachi-san dapat menjalankan toko dengan cukup baik. Keadaan Sarutobi juga makin lama makin membaik. Saat itu aku optimis semuanya akan kembali seperti semula. Itachi-san juga tidak tampak akan mengundurkan diri lagi karena kelihatannya ia mulai menikmati pekerjaan barunya. "
"Namun semua itu hanya berlangsung sementara," Sakura melanjutkan dengan raut wajah yang meredup. "Danzo mengkhianati kami. Ketika aku dan Itachi-san kembali setelah menjemput Sarutobi dari rumah sakit, kami mendapati toko ditutup paksa. Sekeliling toko dijaga oleh sekumpulan preman suruhan Danzo sehingga para karyawan tidak bisa masuk. Ternyata preman-preman itu adalah orang-orang yang sama dengan yang menyerang Sarutobi sebelumnya."
"Danzo keluar dari dalam dan berkata bahwa toko telah menjadi miliknya. Ia tunjukkan akta kepemilikan tanah dan pabrik yang sudah ditandatangani olehnya. Selama ini ia mengincar tanah yang berada di blok ini dan hanya toko milik Sarutobi lah yang belum ia dapatkan. Ia bermaksud untuk membangun sebuah mall. Ia mengurus suratnya diam-diam sejak Sarutobi masuk rumah sakit."
"Meski begitu, Sarutobi tua justru menanggapi semuanya dengan tenang. Ia tidak terkejut melihat Danzo berkhianat. Dan ternyata ia sudah menyiapkan sesuatu. Bertepatan dengan hancurnya setengah toko, datang sebuah mobil sedan hitam. Pemiliknya adalah seorang pengacara terkenal yang bernama Gekkou Hayate. Sarutobi lalu mengeluarkan secarik kertas yang ternyata adalah surat wasiat. Isinya menyatakan bahwa tanah beserta toko dan seluruh isinya telah diwariskan pada anak tunggalnya. Tanggal pengesahan aktanya pun lebih baru daripada surat Danzo. Melihat itu, Danzo tertawa karena ia tahu Sarutobi tak punya anak."
"Kemudian, Sarutobi mengeluarkan kertas kedua. Ternyata kertas itu adalah surat adopsi yang menyatakan kalau Itachi-san adalah anak angkat Sarutobi. Tentu saja Itachi-san bingung karena ia tidak merasa pernah menandatangani kertas itu. Tapi ia diam saja, tidak mau membuat Danzo merasa menang."
"Danzo murka karena surat-surat Sarutobi sah dan lebih kuat daripada miliknya. Ia lalu menyerang Sarutobi. Itachi-san maju untuk melindungi Sarutobi tapi ia kalah jumlah dengan preman yang juga ikut bergerak. Saat itulah polisi yang dipanggil oleh pengacara itu datang. Namun, saat mereka berusaha melerai, Danzo merebut pistol dari seorang petugas dan membidik Itachi-san yang saat itu berada paling dekat dengannya. Itachi-san terlambat bereaksi, namun Sarutobi tidak. Kemudian Ia tewas karena melindungi Itachi-san."
"Dengan tewasnya Sarutobi, maka secara otomatis Itachi-san menjadi pemilik lahan ini. Ia berutang nyawa pada Sarutobi, karena itu ia bertekad untuk merawat lahan peninggalan Sarutobi dengan sebaik-baiknya. Dibantu oleh Gekkou Hayate, kami membangun toko kembali. Namun karena ternyata Danzo sudah memboikot semua akses yang dulu berhubungan dengan toko, maka kami sepakat untuk mengubah toko ini menjadi kantor percetakan. Kebetulan saat itu usaha percetakan belum ada banyak di kota Konoha."
"Jadi, sejak saat itu, Itachi-san kami angkat sebagai direktur di sini karena ia adalah pemilik sahnya," kata Sakura mengakhiri cerita panjangnya.
Sasuke terdiam menatap Sakura selama beberapa saat. Kemudian, ia tertawa. Tawa yang hambar dan kering.
"Apanya yang lucu?" seru Sakura tersinggung.
"Tentu saja kau," kata Sasuke di antara tawanya, "lelucon yang bagus. Itachi yang itu mau menolong orang lain? Mengelola kantor karena merasa berutang budi dan kini mewariskannya padaku? JANGAN BERCANDA!"
Sasuke menggebrak meja, membuat Sakura berjengit ngeri di tempatnya.
"Asal kau tahu saja," Sasuke melanjutkan, "dulu dia dengan tenangnya menjual seisi rumah hanya untuk mendapatkan uang. Lebih parahnya lagi, ia meninggalkanku yang saat itu masih kecil begitu saja. Keadaan kami dulu memang sulit. Tanpa orangtua dan tanpa pekerjaan yang benar karena dia masih remaja. Tapi ia tak berhak berbuat tega begitu! Kalau di matamu dia begitu baik, sekarang beri tahu aku, mengapa dulu ia menghancurkan hidupku? Jawab!"
Sakura hanya bisa diam mendapati semburan kemarahan Sasuke. Ia sungguh ingin membantah perkataan Sasuke, tapi ia tidak tahu harus berkata apa karena ia sama sekali tidak tahu tentang masa lalu Itachi. Yang ia tahu hanyalah, seorang pemuda yang menyesal karena pernah meninggalkan adiknya. Selama ini Sakura terus bertanya-tanya mengapa dan bagaimana Itachi meninggalkan adiknya. Sekarang pertanyaan itu telah terjawab.
"Kau salah," kata Sakura dengan suara tercekat, "Itachi-san bukan orang jahat. Aku tahu dia diam-diam selalu mengunjungi makam orang tua kalian tiap tahun meski ia telah memintaku atau Sasori yang meletakkan bunga di sana. Ia juga bukannya menelantarkanmu begitu saja. Setelah meninggalkanmu, ia tetap mengawasimu meski dari jauh. Kalau kau ingin tahu, orang bernama Kakashi yang sempat menjadi walimu selama beberapa tahun yang mengaku teman ayahmu itu adalah orang suruhan Itachi-san. Dan ketika kau sempat dirawat lama di rumah sakit karena kecelakaan, Itachi-san yang menanggung semua biaya perawatannya."
Mendengar itu Sasuke membelalak. Jadi, sebenarnya selama ini Itachi sempat berada sedekat itu dengannya?
"Jadi maksudmu," kata Sasuke lambat-lambat, "alasan dia repot-repot mengurusku seperti itu karena ia menyesal sudah menelantarkanku dulu? Begitu? Jangan main-main! Dan apa kau mau bilang kalau dia mewariskan perusahaan ini padaku juga karena menyesal hah? Jika dia memang punya kemampuan sehebat itu hingga bisa memimpin sebuah perusahaan, seharusnya dia tak perlu membuangku kan? Kalau begitu kenapa?"
"Karena dia seorang pengecut yang bodoh," jawab sebuah suara yang berasal dari pintu. Saat Sakura dan Sasuke menoleh, mereka mendapati Sasori sedang duduk di kursi tamu dekat pintu sambil memegang segelas kopi.
"Sasori!" sergah Sakura. "Beraninya kau mengatai Itachi-san!"
"Lho? Memang benar kan? Kalau dia tidak pengecut, ia pasti sudah menemui adiknya sejak lama. Dan kalau ia tidak bodoh, ia tidak akan percaya pada orang yang salah dan terlibat dengan yakuza hingga terlilit banyak utang. Ngomong-ngomong aku masuk karena kalian terlalu lama di sini. Kau tahu kan Sakura kalau aku tak suka disuruh menunggu lama?"
Baik Sasuke maupun Sakura terkejut mendengar pernyataan Sasori. Melihat reaksi keduanya, Sasori mengangkat alis.
"Ah, kalian belum tahu rupanya. Mengenai alasan Itachi meninggalkan dia. Tak usah kaget begitu Sakura. Kau memang mengenal Itachi lebih lama daripada aku, tapi bukan kau yang berada di rumah sakit saat ia sekarat kan?"
Kaki Sasuke serasa melayang. "Sekarat? Itachi sekarat? Karena itukah dia...?"
"Mewariskan perusahaan ini padamu? Jawabannya adalah ya. Dan dilihat dari wajahmu, seperti kau sama sekali tak menyangka kalau Itachi bisa sekarat. Benar kan?"
Sasori kemudian menjawab pertanyaan pertanyaan Sasuke yang tak terlisankan.
"Dia kena kanker lambung. Stress tinggi. Dari luar memang tidak terlihat, tapi ternyata dia menanggung beban berat melebihi orang seusianya. Maksudku, beban mental. Kami tahu kalau selama ini lambungnya bermasalah, tapi kami tak menyangka ternyata separah itu. Belum lagi ditambah dengan penyakit di ginjalnya."
Sasori melanjutkan, "Lalu, alasan dia meninggalkanmu saat kau masih kecil, Sasuke, karena saat itu dia sedang terlibat utang dengan yakuza. Dia pernah mencoba memulai usaha sendiri dengan seorang mahasiswa. Ia tidak tahu kalau orang itu adalah penipu. Suatu hari, semua modal yang ia kumpulkan dibawa lari dan orang itu berutang pada yakuza dengan mengatasnamakan Itachi. Para Yakuza itu mengancam akan menyita rumah kalian bila ia tidak segera melunasi utang. Masalahnya adalah, mereka juga mengancam akan menjualmu ke luar negeri. Itachi yang kalut karena mereka juga membawa-bawa namamu akhirnya bertindak nekat. Ia mulai mencuri. Ia bilang, ia keluar tiap malam mencari orang-orang pulang yang mabuk dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus berpindah-pindah tempat tiap hari agar tidak tertangkap."
Seketika Sasuke teringat ketika dulu Itachi mulai sering pulang malam. Itukah alasannya?
"Untungnya para yakuza itu mau memberinya keringanan untuk mencicil pembayaran karena Itachi menyetor dengan teratur tiap minggu. Ketika pada akhirnya semua utangnya lunas,ia langsung mencari pekerjaan yang benar dan bisa sering berada di rumah. Kau tahu? Dia bilang, dia paling senang saat menemanimu bermain atau belajar. Saat itu ia pikir, akhirnya dia bisa hidup normal meski ia akui tidak bisa terlalu menikmati karena sebenarnya ia masih takut kalau para yakuza itu muncul lagi. Ia khawatir dengan keselamatanmu."
Sasuke tertegun. Ia lalu teringat bulan-bulan ketika Itachi sering berada di rumah, namun terkadang ia masih mendapati Itachi yang terlihat murung. Itukah alasannya?
"Hingga pada akhirnya orang itu muncul lagi. Orang yang pernah menipu Itachi. Mereka kebetulan bertemu di taman kota ketika Itachi sedang beristirahat sejenak. Orang itu kaget melihat Itachi terlihat sehat tapi ia tak berkata apa-apa. Namun, melihat kemunculannya, Itachi takut hal yang sama akan terulang lagi. Karena itu, diam-diam ia mengikuti orang itu."
"Dugaannya tepat. Orang itu mendatangi sekelompok anak muda berandalan di pinggir jalan. Ia mengatakan sesuatu tentang cara aman berhutang pada yakuza. Orang itu menyebut-nyebut nama Itachi."
"Seorang remaja yang baru beranjak dewasa seperti dia seringkali tidak berpikir panjang dan jernih. Apalagi kalau hatinya sedang diambil alih oleh amarah. Bukannya menghubungi polisi, dia malah menggunakan jalan pintas tercepat. Apa kau tahu apa yang dia lakukan? Dia menyewa seorang pembunuh bayaran."
Sasuke terkesiap. Kakaknya mampu berbuat sejauh itu?
"Dia yang pernah memiliki koneksi dengan yakuza akhirnya bertemu dengan seorang pembunuh bayaran yang bersedia melakukan permintaan Itachi. Namun bayarannya sangat mahal. Uang tabungan Itachi saat itu tak bisa menutupi biayanya."
Badan Sasuke terasa lemas. Ia mundur hingga bersandar di meja kerja di belakangnya. Sasori memang tidak melanjutkan ceritanya tapi Sasuke tahu lanjutannya.
"Karena itukah dia menjual seisi rumah? Supaya bisa membunuh orang yang pernah menipunya?" tanya Sasuke dengan suara bergetar.
Sasori mengangguk pelan, setelahnya semuanya menjadi hening. Sakura menatap prihatin pada Sasuke yang tampak sulit menerima kisah Itachi di masa lalu. Dan sesungguhnya, saat ini masing-masing sisi dari benak Sasuke memang sedang bergumul. Otaknya menjeritkan kalau semua cerita barusan adalah bohong besar. Itachi adalah seorang kriminal yang harus Sasuke buru dan habisi hingga tak bersisa. Sedangkan hati kecil Sasuke berbisik kalau memang itulah hal-hal yang akan dilakukan oleh kakak satu-satunya.
Sasuke bingung. Di satu sisi ia ingin mempercayai Itachi namun di sisi lain ada ribuan alasan mengapa ia tak bisa percaya pada kakaknya.
"Kalau begitu kenapa?" tanya Sasuke tiba-tiba, "Kenapa dia tidak beritahu aku sebelumnya?"
"Kau masih belum mengerti juga?" sahut Sasori kesal. Tangannya sampai bergetar hingga isi gelasnya nyaris tumpah. "Itu karena dia tidak mau kau terlibat! Dia tidak mau kau menanggung beban pikiran berat dan yang paling utama, karena dia tidak tahan memikirkan reaksimu bila kau tahu kalau dia pernah membunuh orang meski tidak secara langsung!"
"Tapi seharusnya yang seperti itu bisa didiskusikan bersama!" Sasuke membalas perkataan Sasori setengah berteriak. "Aku memang masih kecil waktu itu, tapi kan setidaknya aku bisa membantu melakukan sesuatu! Aku satu-satunya keluarganya! Adiknya! Apa gunanya keluarga kalau begitu?"
"Dengan cara apa persisnya seorang anak berumur 10 tahun bisa membantu?"
Sasuke sudah hendak balas menyahut, namun otaknya tak bisa memikirkan jawaban apapun.
"Itachi tahu kalau kau diberitahu, maka bisa-bisa kau ikut-ikutan mencari pekerjaan. Dan coba beritahu aku satu saja nama tempat yang bersedia mempekerjakan anak kecil berumur 10 tahun. Tidak ada kan? Ia juga takut kalau kau sampai memutuskan sekolah demi membantunya. Ia hafal sifatmu."
"Kalau begitu, kata-kata terakhirnya yang kejam itu sebelum pergi..?" tanya Sasuke pelan.
"Sudah kubilang ia bodoh kan? Ia beranggapan kalau kau benci hingga mendendam padanya, maka kau akan bertahan hidup dengan cara apapun untuk memburunya. Dan bukankah perkiraan Itachi itu tepat? Kau mampu bertahan hidup sampai sekarang."
Sekali lagi, Sasuke ingin membalas, tapi mulut dan kepalanya mendadak jadi tak mengenal kata-kata. Ia juga ingin menolak perkataan kedua orang di hadapannya, ingin menolak keberadaan mereka, tapi kesungguhan yang ditampakkan nada suara dan raut wajah mereka bukanlah ilusi.
Sasuke lalu membenamkan wajahnya di telapak tangannya, mencoba berpikir jernih. Sementara kedua orang sisanya kembali membisu melihatnya begitu.
"Baiklah," kata Sasuke pada akhirnya. Ia sudah mengambil keputusan. Ia tatap kedua orang didepannya secara bergantian. "Anggap saja kalian benar. Tapi aku baru akan benar-benar percaya jika sudah bertemu dengan Itachi. Sekarang pertemukan aku dengannya. Dia di rumah sakit kan? Kau sudah janji Sasori."
Sasori dan Sakura langsung saling melirik.
"Tapi..."
"Sudahlah Sakura," potong Sasori. "Dia benar, aku sudah janji. Ikutlah denganku."
-o-o-o-o-o-
Untuk beberapa saat, Sasuke hanya bisa terbelalak melihat keadaan Itachi sekarang.
"Ini...Itachi?"
Sasori yang berdiri di belakang Sasuke tidak berkata apa-apa.
"Kapan dia..."
"Tadi pagi," jawab Sasori singkat. Ia mengikuti arah pandangan Sasuke ke sebuah objek yang berdiri di tengah bukit kecil berumput sendirian. Sebuah batu nisan hitam yang tak bernama. "Seminggu belakangan ini penyakitnya memburuk, tepat setelah ia pergi ke makam orang tua kalian. Puncaknya terjadi tadi pagi, sekitar jam 5. Ia pergi setelah bercerita padaku tentang masa lalunya."
Seperti dèja vú, Sasuke menunduk menatap kosong ke batu nisan seorang keluarganya. Bedanya, kali ini tak ada orang yang berdiri di dekatnya untuk menenangkannya seperti 14 tahun yang lalu.
"Aku ada di bawah sana, kalau kau sudah selesai." Dengan itu, Sasori beranjak meninggalkan Sasuke di puncak bukit kecil tempat peristirahatan Itachi berada. Ia melewati Sakura yang sedang bersandar di sebatang pohon tua, tapi tak berkata apa-apa.
Sasuke berdiri tak bergeming selama beberapa menit di depan makam Itachi. Lalu ia menggemeretakkan giginya dan meremas amplop putih yang diberikan Sasori sebelum ia pergi. Selang beberapa menit kemudian, ia beranikan diri untuk membuka isinya. Selembar kertas yang sudah kusut dan sebuah kunci besi kecil yang terlihat sedikit usang. Pegangan kunci itu dicat berwarna biru.
Dengan perlahan, Sasuke membuka lipatan kertas yang tulisannya diketik itu.
Hai,
Kalau surat ini sudah berada di tanganmu, berarti kau sedang berdiri di depanku. Sisa-sisaku maksudku.
Kau sehat? Tentunya iya, karena kalau tidak, mana mungkin kau bisa meringkus banyak pelaku kriminal itu kan? Dan kudengar, kau adalah petugas nomor satu termuda di kota Konoha ini. Kuucapkan selamat. Pasti di kantormu itu kau populer sekali ya. Sayang sekali aku tak bisa melihat calon pendampingmu. Pastinya dia cantik dan...astaga, aku mulai melantur. Umurmu tahun ini kan baru 20, mana mungkin calonnya sudah ada.
Oh iya, apa kau masih berkomunikasi dengan Kakashi? Sejak dia berhenti menjadi walimu karena kau minta, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Kudengar, dia sudah menikah dan pindah ke kota Kumo. Bisa kau bayangkan Kakashi si tukang telat itu menikah? Aku jadi kasihan pada istrinya. Kalau kau ingin tahu, dia adalah anak dari pemilik kedai ramen yang dulu pernah menolongku. Jika kau bertemu dengannya lagi bisa tolong sampaikan salamku padanya?
Baiklah, sudah cukup dengan basa-basinya. Kuyakin kau pasti tak percaya kalau aku, Uchiha Itachi, kakakmu yang bodoh inilah yang menulis surat ini. Silakan sebut aku pengecut karena hanya berani berbicara denganmu melalui surat, hanya satu pula. Aku terima bila kau sebut aku jahat, kejam, atau apapun yang terpikir olehmu, karena semua yang terjadi memang murni kesalahanku. Meski demikian, aku tak menyesal. Kau bisa hidup dengan sehat pun aku sudah senang.
Ah, apa tadi kubilang aku tak menyesal ya? Ada satu sebenarnya. Yeah, kau boleh bilang aku mengada-ada, tapi aku menyesal tak bisa bertemu denganmu secara langsung, meski cuma sekali. Kaa-san dan Tou-san di alam sana pasti kecewa melihat perbuatanku dulu. Kira-kira aku bakal dijewer tidak ya kalau bertemu dengan mereka di sana? Pasti rasanya sakit sekali. Aku jadi ingat ketika dulu dihukum gara-gara kita pulang kemalaman setelah mencari bros kesayangan Kaa-san yang jatuh di sungai. Coba waktu itu kau belum pergi tidur, pasti kau bisa lihat kedua kupingku yang memerah. Kau masih 5 tahun sih, jadi lolos dari hukuman deh.
Mengenai Sakura dan Sasori, meski masa lalu mereka kelam, tapi mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Tolong maklumi sifat Sasori yang tidak sabaran dan Sakura yang terlalu khawatiran. Pada dasarnya mereka baik kok. Baik-baiklah dengan mereka.
Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Karena itu, untuk yang terakhir kalinya, tolong terimalah kado dariku, kalau itu bisa disebut kado. Sasori dan Sakura sudah memberitahumu bukan? Tentang pewarisan usaha percetakan yang dulunya adalah toko mainan milik kakek bernama Sarutobi.
Aku tak akan memaksamu untuk menerimanya, kau boleh memberikannya pada orang lain kalau kau mau. Tapi, kuharap kau mau mempertimbangkannya masak-masak sebelum melakukannya. Bukan demi aku, tapi demi orang-orang yang menggantungkan hidup pada perusahaan itu. Aku tak yakin bisa menemukan orang yang tepat untuk menjalani kantor itu selain dirimu. Sakura dan Sasori orang hebat, tapi mereka butuh seorang pemimpin yang lebih hebat. Aku tahu kalau kau adalah orang yang seperti itu. Yah, tapi terserah kau saja. Apapun keputusanmu, akan kudukung penuh.
Kemudian, kusertakan juga sebuah kunci dalam surat ini. Kau akan tahu kunci apa itu bila kau masuk ke ruanganku. Carilah sebuah kotak yang dicat sama dengan warna pegangan kuncinya. Untuk yang satu ini, kumohon jangan sampai hilang. Kau boleh membuang perusahaan percetakan itu tapi tidak dengan kunci ini, karena isi kotaknya lebih mahal daripada emas.
Nah, sudah ya. Sehat-sehatlah selalu. Kudoakan semoga hidupmu berbahagia,
Uchiha Itachi
Sasuke membacaulang suratnya hingga dua kali, mencari sebuah kata. Kata-kata yang paling ingin ia lihat. Tapi sekalipun sudah ia cermati per huruf pun, surat Itachi sama sekali tak meyebutkannya satu kali pun.
Tak ada kata maaf dalam surat Itachi.
Mata Sasuke menatap kosong pada kertas yang kini menjadi gumpalan tak berbentuk di tangan kanannya dan kunci di tangan kirinya. Ia genggam keduanya erat-erat hingga tangannya sakit.
"Bodoh," kata Sasuke tanpa ekspresi pada nisan hitam di depannya.
"Kau bodoh, kakak yang paling bodoh sedunia," kata Sasuke lagi. Kedua benda di tangannya jatuh ke rumput di kakinya ketika ia maju mendekat ke nisan Itachi. Ia berdiri diam di sana sebentar, kemudian meninju permukaan nisannya hingga tangannya memar.
"Jadi seperti inikah perlakuanmu padaku?" seru Sasuke kering. "Dulu kau seenaknya pergi meninggalkanku dan sekarang kau pergi lagi seperti ini. Kau kira aku senang dengan caramu hah?"
Sasuke terus meninju nisan hingga kedua tangannya berdarah.
"Kau kira enak hidup berteman dengan dendam hah? Tiap hari aku tak pernah melewatkan waktu tanpa membenci dan terus membenci sedangkan kau dengan ringannya mengatakan kalau hidupku sehat? Jangan bercanda! Kau tidak tahu rasanya diejek dan digunjingkan oleh orang lain karena dirampok dan ditinggalkan oleh kakak sendiri!"
Sasuke baru berhenti ketika kedua tangannya mulai mati rasa. Merasa lelah lahir batin, ia sandarkan kepalanya pada puncak nisan yang kini sedikit berkilat oleh darah.
"Kau pikir," kata Sasuke lagi dengan suara tercekat, "hidup sendiri seperti ini enak hah? Kau bodoh!"
Sasuke terus mengeluarkan sumpah serapahnya pada nisan Itachi. Ia keluarkan semua luapan emosi yang terbendung selama bertahun-tahun ini. Semua kebenciannya telah menguap, yang ada kini adalah kesedihan dan kepedihan, serta rasa sayang.
"Bodoh," kata Sasuke dengan suara kecil. Kepalanya masih bersandar pada nisan kakaknya.
Sasuke tidak tahu sudah lewat berapa lama ia dalam posisi itu. Ia baru mengangkat kepalanya ketika dirasanya suhu di sekelilingnya mulai turun. Setelah menatap kembali benda di depannya, Sasuke berbalik lalu melangkah menjauh. Ia berhenti di langkah keempat ketika teringat dengan surat dan kunci yang ia jatuhkan di rumput.
Sasuke kembali berbalik. Kemudian ia berjongkok untuk memunguti kedua benda tersebut. Namun ketika Sasuke hendak bangkit, sesuatu menahannya. Sesuatu yang membuat kedua matanya membelalak lebar dan memerah.
Tiba-tiba saja sebentuk angin berputar di depan nisan Itachi. Kemudian, disusul oleh sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh puncak kepala Sasuke dengan singkat. Sebuah bisikan lirih muncul sesudahnya.
"Maaf..."
Setelah itu, angin berhenti berputar, bersamaan dengan menghilangnya kehangatan yang muncul di sekitar Sasuke.
Luapan emosi kini kembali membuncah di dada Sasuke tanpa bisa dibendung lagi. Membuat Sasuke sakit kepala karena matanya sudah lama tidak mengeluarkan air mata seperti ini.
"Ucapan maafmu telat, Nii-san bodoh," bisik Sasuke perlahan dengan perasaan yang lebih ringan.
Sasuke kembali menatap nisan Itachi.
"Anu...Sasuke-san?" sahut sebuah suara takut-takut dari arah belakangnya. Kaget, Sasuke cepat-cepat mengusap wajahnya kemudian menoleh sedikit.
"Ada apa?" tanya Sasuke dengan suara yang dicobanya dibuat seketus mungkin, meski tidak berhasil.
"Maaf, aku tak bermaksud menyelamu, tapi sekarang hari mulai malam, anginnya mulai dingin. Aku...ngg, maksudku kau tidak pakai baju penghangat apa-apa, jadi..." Sakura tak meneruskan kata-katanya, malu sendiri dengan apa yang ia katakan barusan. Seorang polisi sakit gara-gara terkena angin sedikit? Yang benar saja. Memangnya Sasuke anak kecil?
Mendengar itu Sasuke tersenyum tipis. Persis seperti yang dikatakan Itachi dalam surat, Sakura terlalu khawatiran, bahkan melebihi Kaa-san Sasuke.
"Baiklah," kata Sasuke kemudian, tanpa menoleh. "Kau duluan saja, sebentar lagi aku akan menyusul."
Sakura mengangguk meski tahu Sasuke tidak melihatnya.
"Oh, Sakura?" panggil Sasuke mendadak, tepat sebelum Sakura membalikkan badannya.
"Ya?"
Sasuke tersenyum sekilas. Ia tahu keputusannya sudah benar. "Bisa kau atur supaya makam Itachi dipindahkan ke sebelah makam orang tuaku?" tanya Sasuke dengan mantap.
...
O-owari...uhuk sroootttt *ngelap ingus
Duh, napa malah jadi sedih ndiri ya? Hauuuu...
Gi-gimana? Apa kalian berhasil ngabisin tisu? Syukur deh kalo iya, berarti saya berhasi bikin pembaca terhanyut, tapi kalo enggak...yah, berarti saya belum berhasil (en tlalu sentimentil sampe nangis sendiri, hahahaaa *ngaku)
Dan entah kenapa di beberapa bagian berasa agak maksa, heheee...moga-moga itu cuma perasaan saya saja *plaakkkk
Buat luvninosama, gimana? Berhasil kebanjiran kah Anda? Hweheheheee...btw, semoga ceritanya sudah berkenan yaa^^
Ngomong-ngomong, di sini kira-kira Sakura dan Sasori seumuran, sekitar 23 tahun. Terus, istilah cracker itu kalau gak salah inget adalah orang yang menerobos sistem komputer orang lain dan mengutak-atik datanya (bukan cracker yang biskuit itu loh ya). Beda dengan hacker yang cuma menerobos tapi tidak mengubah data apapun.
Yosh, selamat bertemu di chapter selanjutnya. Masih ada satu lagi, buat epilognya.
Kritik dan saran silakan dimasukkan ke kota review terdekat yaaa...
