Mian kalo kemarin masih kependekan :|

Ini saya bkin lbih pnjg ^^

.

.

Chapter 4

.

.

Previous Chapter

"Hyung, apa kau mencintainya?"

"jika begitu, kau mungkin akan punya banyak rintangan."

"ne. Aku mencintainya. Aku ingin melanjutkannya, tapi aku merasa ia masih sangat nyaman dengan hubungan seperti ini." kata Yunho pelan. Menjawab pertanyaan Changmin di bar tadi.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho meletakkan sebotol jus di samping buku yang sedang dibaca Jaejoong. Sambil memandangi namja cantik yang sedang duduk di salah satu bangku di perpustakaan.

Jaejoong mendongakkan kepalanya, masih menatap Yunho dengan dingin seperti biasanya.

"bagaimana kabarmu?", tanya Yunho sambil mengambil tempat duduk di sebelah kanan Jaejoong.

Jaejoong diam saja. ia langsung mengalihkan pandangannya dari Yunho.

"biasa saja.", jawab Jaejoong dingin.

"apa kau sakit? Katanya kau pernah terlihat pucat saat di kelas.", tanya Yunho penasaran.

"mwo?", tanya Jaejoong heran.

"aku hanya mendengarnya. Apa kau sakit?"

"berhenti mengajukan pertanyaan aneh. Cukup duduk di situ dan diam saja!", kata Jaejoong.

.

.

.

"kau mau makan tteobokgi?", tanya Yunho tiba - tiba.

Jaejoong diam saja.

"ikutlah denganku, aku akan mentraktirmu. Aku tau tempat yang enak."

"..."

"diam berarti ya."

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho memakaikan beanie hitamnya secara paksa ke kepala Jaejoong. Jaejoong hanya memasang wajah kesal tanpa berusaha menolak.

"bukankah begini lebih nyaman? Kau juga terlihat lebih manis.", kata Yunho sambil tersenyum, masih dengan membenarkan letak beanie di kepala Jaejoong.

Jaejoong merasakan wajahnya memanas. Ia langsung menghempaskan tangan Yunho yang masih mencoba membenarkan letak beanie di kepalanya.

"aku tak punya banyak waktu!", kata Jaejoong sambil mengalihkan pandangannya.

Yunho hanya tersenyum, lalu menarik tangan Jaejoong, masuk ke dalam sebuah kedai kecil di dekat pantai.

.

.

.

"annyeonghaseyo.", teriak Yunho pelan(?) saat memasuki kedai tersebut.

"eoh, Tuan Muda Jung! Kukira kau sudah lupa pada kedai ini.", kata seorang ahjumma yang baru saja keluar dari sebuah pintu. Jaejoong hanya membungkukkan badannya sedikit, memberi hormat.

"tentu saja bukan begitu, Ahjumma. Aku hanya sedang sibuk beberapa saat ini.", kata Yunho sambil mengambil salah satu tempat di dalam kedai itu. Jaejoong mengikutinya, ia mengambil tempat di depan Yunho.

"kemarin Jung abeoji, Jung eomma, dan Ji Hae ke mari.", kata ahjumma itu sambil menatap Yunho dengan sayang.

"jinjja? Mereka tidak mengajakku? Ahh, aku juga belum bertemu mereka beberapa hari. Sekarang aku tinggal sendiri di apartemen, Ahjumma.", kata Yunho sambil tersenyum.

"jeongmalyo? Ahh. Pantas saja."

"jja, ini siapa?", tanya Ahjumma itu sambil tersenyum ke arah Jaejoong.

"aku temannya.", jawab Jaejoong sopan.

"omoo... neomu kyeopta.", komentar Ahjumma itu sambil tertawa pelan.

"pesananmu seperti biasa, kan Yun? Tunggu sebentar.", kata Ahjumma itu sambil beranjak dari tempatnya berdiri sebelum Yunho sempat menjawabnya.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

"apa kau suka?", tanya Yunho saat dalam perjalanan ia mengantar Jaejoong.

"humm. Apa kau sering ke sana?", tanya Jaejoong sambil memandang keluar jendela mobil. Memperhatikan hamparan pantai yang masih terlihat.

"ne, aku ke sana dengan keluargaku. Abeoji yang pertama kali membawa kami ke sana.", kata Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong tak berani menatap Yunho, ia takut wajahnya akan memanas dan memerah karena menahan malu. Ia tak bisa mengatakan bahwa ia tak senang Yunho berada di sampingnya. Dan ia tidak menunjukkan sama sekali bahwa Jaejoong pernah membentaknya waktu itu.

"nah, sudah sampai.", kata Yunho sambil mengerem mobilnya.

Jaejoong melepas sabuk pengamannya, dan langsung keluar dari mobil Yunho. Ia berbalik dan menatap Yunho yang balas menatapnya.

"gomawo untuk malam ini.", kata Jaejoong sambil membungkuk.

"cheonmaneyo. Sampai bertemu besok. Mimpi indah.", kata Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong langsung berbalik dan berjalan menuju gedung apartemennya. Ia menarik nafas dalam - dalam di setiap langkah kakinya. Jantungnya berdetak tak karuan dan ia terus menerus merasa wajahnya memanas.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Jaejoong tak terlihat sejak mata kuliah pertama berakhir tadi. Yunho sempat mencarinya di beberapa tempat yang sering didatangi Jaejoong. Namun, nihil. Ia tak di sana.

Yunho berjalan menuju ke lapangan basket sore itu. Setelah kembali mencari Jaejoong dan kembali tidak menemukan namja cantik itu, ia memutuskan untuk pergi bermain basket sebentar. Toh, ini juga akhir pekan. Ia memilih akhir pekan karena tak ada yang menggunakan lapangan itu pada akhir pekan.

Yunho berhenti sejenak sambil memandang seseorang dengan hoodie berwarna putih, sedang memantulkan bola orange yang dipegangnya di depan ring basket itu.

"Jaejoong?"

Yunho berjalan mendekat secara perlahan, mencoba tidak membuat suara. Ia bermaksud untuk mengageti Jaejoong.

"apa itu kau?", tanya Jaejoong pelan saat Yunho sudah hampir dekat di belakangnya. Yunho terkejut.

"ketahuan...", katanya tersenyum, walaupun Jaejoong tak melihatnya.

"apakah terdengar sekali? Seharusnya aku menggunakan sepatu yang..."

BRUKK!

Yunho tercekat, ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya dan membiarkan bola basket yang tadi berada di tangan kanannya jatuh begitu saja menjauhinya. Sekarang, Jaejoong sedang melingkarkan tangannya di pinggang Yunho. Membenamkan wajahnya di dada Yunho. Dan beberapa saat kemudian, hanya suara isakan yang terdengar.

"Jae...", panggil Yunho lirih.

"eotteohke... mereka... mereka pergi... Aku sendiri.", kata Jaejoong dengan suara teredam dan diiringin dengan isakan tangis.

"apa maksudmu?", tanya Yunho pelan. Ia merasa nyeri setiap mendengar isakan teredam Jaejoong.

"Ahjussi dan ahjumma yang tinggal di sebelah apartemenku... mereka... mereka meninggal... karena kecelakaan lalu lintas siang tadi..."

Sekarang tangis Jaejoong pecah di dada Yunho. Yunho tercekat. Ia balas memeluk Jaejoong sambil membelai rambut kecoklatan Jaejoong, mencoba menenangkan namja cantik itu.

.

.

.

Yunho berjalan di belakang Jaejoong, mengikuti langkah namja itu menyusuri koridor menuju apartemennya. Jaejoong berhenti di tengah langkahnya, memandang ke depan. Yunho ikut melihat arah pandangan Jaejoong, dan pandangannya jatuh pada sebuah apartemen yang pintunya terbuka. Beberapa orang dengan pakaian jas lengkap dengan dasi, sedang berdiri di depan sana.

Yunho dengan cepat memakaikan kerudung hoodie Jaejoong. Lalu merangkul pundaknya.

"kau harus membersihkan dirimu dulu, lalu kau bisa memberi penghormatan terakhir pada mereka.", kata Yunho pelan, sambil sedikit mendorong Jaejoong untuk melanjutkan langkahnya.

.

.

.

Yunho bersandar di sebelah pintu apartemen milik Ahjussi dan ahjumma Jaejoong, menunggu Jaejoong yang sedang memberi penghormatan terakhir pada mereka. Yunho masih mengingat dalam apartemen Jaejoong yang sangat bersih dan rapi. Yang menurut Yunho sangat mengherankan adalah karena tak ada satupun foto keluarga Jaejoong.

Jaejoong keluar dengan mata sembap karena sedari tadi air matanya terus turun. Yunho langsung merangkulnya dan menuntun Jaejoong kembali ke apartemennya sendiri.

"Kim Jaejoong-ssi!"

Yunho dan Jaejoong seketika berbalik. Seorang wanita yang berumur kurang lebih 25 tahun, berjalan mendekati mereka.

"apa kau Kim Jaejoong?", tanya wanita itu.

"ne. Ada apa?", tanya Jaejoong pelan.

"aku menemukan surat ini dengan namamu di dalam kamar orang tuaku. Kurasa, mereka ingin kau membacanya.", kata wanita itu sambil memberikan sebuah amplop putih kecil pada Jaejoong. Yunho hanya diam saja, masih tetap menatap dua orang di dekatnya.

"gamsahamnida.", kata Jaejoong sambil sedikit membungkukkan badannya.

"aku yang seharusnya berterima kasih, kau banyak memberi waktu untuk kedua orang tuaku. Padahal, aku dan saudara - saudaraku jarang memberi waktu kami untuk mereka. Aku sangat berterima kasih padamu.", kata wanita itu sambil membungkukkan badannya dalam - dalam.

Jaejoong ikut membungkukkan badannya. Dan langsung saja air mata lolos melewati pipi mulusnya.

"aku juga berterima kasih.", kata Jaejoong pelan.

.

.

.

Yunho membaringkan Jaejoong di tempat tidurnya. Ia memandang sebentar wajah namja cantik itu yang terlihat sangat sedih dan lemas. Setelah membaca surat itu, Jaejoong menangis sejadi - jadinya di pelukan Yunho. Yunho tak sanggup mengatakan apapun, ia hanya membalas pelukan Jaejoong dan terus menerus membelai surai rambut dan menepuk punggung Jaejoong pelan.

Yunho mengedarkan pandangannya, menelusuri setiap sudut kamar Jaejoong. Ia benar - benar tak memiliki satu foto keluarga pun dalam apartemennya.

Yunho beranjak keluar dari dalam kamar Jaejoong, menutupnya perlahan. Ia menuju sofa yang berada di depan televisi. Mendudukkan dirinya, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia melirik kertas surat yang berada di sampingnya.

.

.

.

"kau harus segera menyelesaikan masalah itu dengan orang tuamu... Mereka mungkin sedang menunggumu minta maaf, atau apapun itu... Cepatlah... sebelum kau terlambat Jae. Itu semua hanya salah paham. Dan ingat, kau juga harus merubah sikapmu."

Hanya bagian itu yang Yunho ingat. Hanya bagian itu yang melekat di pikirannya.

"terlalu banyak hal yang aku tak tahu tentang namja itu.", kata Yunho lirih.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho dan Jaejoong terus terdiam, masing - masing terfokus pada buku yang ada di depan mereka. Hari itu sudah menjelang petang. Namun, mereka berdua tak ada niat untuk beranjak dari tempat duduk mereka di perpustakaan kampus.

Gedung kampus mereka baru akan tutup sekitar pukul 8.30. Sedangkan untuk fasilitas luar gedung, seperti lapangan, hal itu tak pernah dibatasi.

Mata Yunho memang terlihat sedang terfokus pada bukunya, namun pikirannya? Pikirannya sedang melanglang buana ke dalam surat yang ia baca beberapa minggu yang lalu. Surat yang diberikan Ahjussi dan ahjumma yang tinggal di sebelah apartemen Jaejoong.

Semenjak saat itu, Jaejoong sama sekali tak pernah membahas tentang ahjussi dan ahjumma dan juga surat dari mereka. Yunho harus menahan segala keingintahuan. Tapi, mungkin jika ia menahannya sebentar lagi, ia akan meledak.

"Jaejoong-ah...". kata Yunho pelan, sambil tetap 'membaca' bukunya.

"mwo?", tanya Jaejoong sambil berbalik.

"kau baik - baik saja, kan?", tanya Yunho, masih tanpa memandang Jaejoong.

"ne. Nan gwaenchanha. Wae?", tanya Jaejoong heran.

"apa surat itu masih kau simpan?"

Pertanyaan itu seketika membuat ekspresi Jaejoong menjadi dingin.

"masih.", jawabnya singkat, tanpa memandang Yunho lagi.

"apa masalahmu dengan orang tuamu?"

DEG!

"k... kau tak perlu tahu."

"tapi aku ingin tahu."

Jaejoong menutup bukunya kasar.

"kau pikir kau siapa?"

"ehh? Aku benar - benar ingin tahu tentangmu. Mungkin, kita baru mengenal beberapa saat, tapi..."

"kita tak ada hubungan apa - apa! Dan jangan pernah kau menganggap, jika kau bisa bicara dan selalu di sampingku, kau bisa tahu tentang hidupku! Kau tidak berhak mengetahuinya! Jika hanya itu yang kau inginkan, pergi jauh dariku! Dan jangan pernah tunjukkan wajahmu padaku lagi!"

Jaejoong langsung beranjak dari kursinya, berjalan keluar, meninggalkan Yunho masih duduk terpaku. Jaejoong terlalu sensitif tentang orang tua ataupun keluarganya.

.

.

.

"Hyung!"

Teriakan itu membuat Yunho mengedarkan pandangannya di kantin kampusnya yang sedang ramai. Di ujung kantin, ia bisa melihat Changmin sedang melambaikan tangan ke arahnya. Yunho mengangkat tangannya dan tersenyum, meminta Changmin menunggunya sebentar.

Setelah 15 menit, Yunho baru menghampiri Changmin dengan membawa nampan berisi makan siangnya.

"duduk sini, Hyung.", kata Changmin sambil menepuk bangku yang berada di sebelah kanannya.

"mana Yoochun dan Junsu?", tanya Yunho sambil meletakkan nampan makannya.

"itu mereka.", kata Changmin sambil mengarahkan pandangannya ke pintu masuk kantin.

"hai!", sapa Junsu.

"dari mana kalian?", tanya Yunho sambil meminum jus jeruknya.

"ke tempat dosen sebentar.", jawab Yoochun sambi mengambil bungkusan makanan ringan yang sedang dipegang Changmin.

"aish! Tidak bisakah kau membeli sendiri?", tegur Changmin kesal.

"aku hyung-mu!", jawab Yoochun.

"dwaesseo! Kenapa begitu saja dipermasalahkan.", kata Junsu melerai. Yunho hanya tertawa kecil. Heran sendiri melihat dua temannya yang sering ribut karena makanan.

"hyung, apa kau baik - baik saja?", tanya Yoochun tiba - tiba.

"apa maksudmu?", tanya Yunho heran.

"gwaenchanha. Waeyo?", lanjut Yunho.

"apa kau ada masalah dengan Kim Jaejoong?", tanya Changmin to the point.

"kalian terlihat tidak dekat.", lanjut Changmin.

"bukankah kami memang tidak dekat?", komentar Yunho, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"berhenti mengalihkan topik. Atmosfer hubungan kalian terasa berbeda.", kata Yoochun. (tsahh! atmosfer hubungan-_-)

"kurasa, dia marah. Aku menyinggung soal orang tuanya.", kata Yunho memulai ceritanya.

Selama seminggu ini, Yunho dan Jaejoong memang tidak seperti biasanya. Jaejoong menjauh darinya. Dan Yunho sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bicara ataupun minta maaf padanya.

"sudah kubilang dia pasti punya masa lalu yang buruk. Terlihat juga dari karangannya dulu, kan?", kata Changmin.

Yunho hanya mengangguk lemah. Jaejoong sepertinya benar - benar tak ingin melihat Yunho lagi.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Jaejoong berjalan menuju ke gedung universitasnya pagi itu. Walaupun angin dingin sedang berhembus keras, ia tetap nekat dengan hanya hoodie putih, celana jeans, dan sepatu cats berwarna abu - abu. Ia jadi mengingat Yunho yang kelihatan tidak suka jika ia berpakaian seperti ini saat musim dingin. Tapi, ia mencoba tak peduli, mencoba membuang jauh - jauh semua tentang Yunho...

Jaejoong menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah mobil hitam yang terparkir dekat taman depan universitasnya. Jaejoong mengamati mobil itu sebentar.

"555?"

Jaejoong memiringkan kepalanya sedikit, berusaha mengingat sesuatu. Namun, karena tak kunjung mengingatnya, Jaejoong mengangkat bahunya dan berjalan masuk ke dalam gedung.

"omoo... bukankah itu dia?"

Komentar itu membuat Jaejoong sedikit heran, tidak biasanya ketika ia melewati koridor kampus, orang akan berkomentar sekeras itu padanya.

"aku tak heran karena itu cocok dengan wajah cantiknya, tapi untuk obat - obat dan... itu. Aku tak bisa percaya."

Jaejoong semakin mempercepat langkahnya menuju kelasnya pagi itu. Namun, terhenti ketika ia melihat banyak orang berkerumun di depan papan pengumuman. Jaejoong mencoba menerobos kerumunan itu, dan tercengang dengan berita koran dan beberapa majalah yang tertempel di sana.

.

.

.

Namja cantik dengan syal berwarna biru tua itu memasuki sebuah bar yang terlihat sangat ramai. Ketika ia baru memasuki ruangan dance floor, beberapa orang di sana sudah menyambutnya dengan senang.

"Jaejoong-i!"

"lihat siapa yang datang? Tentu saja namja cantik kita..."

"astaga... dia benar - benar cantik, aku rela memberikan apapun untuk mendapatkannya."

"Taecyeon beruntung mendapatkannya."

Namja cantik bernama Jaejoong itu hanya memberikan smirk di sudut bibirnya pada orang - orang yang sedang memandangnya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke tempat duduk yang ditempati seorang namja berbadan atletis yang sedang merokok di sana.

"kau terlambat lagi, sayang.", kata namja yang merokok tadi pada Jaejoong.

"mianhae. Aku harus menunggu Abeoji pergi dulu baru bisa keluar kamar.", jawab namja cantik itu sambil memasang wajah memelas. Jaejoong lalu mendapat rangkulan dari namja di sampingnya.

"Taecyeon-ah...", panggil Jaejoong pelan.

"eumm, Chagi?", tanya namja di samping Jaejoong, yang dipanggil Taecyeon tadi.

Jaejoong langsung menarik rokok yang ada di tangan Taecyeon, lalu menghisapnya.

"kau ini...", komentar Taecyeon sambil menggosokkan hidungnya ke hidung mancung Jaejoong. Jaejoong hanya tertawa kecil.

"lihat, putri kita sudah datang rupanya...", kata seorang namja yang mendekat ke arah Jaejoong dan Taecyeon.

"berhenti memanggilku putri, Jun Ki!", tegur Jaejoong sambil mengerucutkan bibir cherry-nya.

"jangan buat ratuku marah!", tegur Taecyeon sambil mengambil gelas minuman di meja.

"arraseo, arraseo. Dasar manja!", kata namja yang dipanggil Jun Ki itu sambil tertawa.

Jaejoong hanya membalasnya dengan mengeluarkan lidahnya sedikit pada Jun Ki.

.

.

.

Siapa yang tidak mengenal Kim Jaejoong? Namja berusia 16 tahun, namja yang baru duduk di bangku SMA. Namja cantik dengan kulit putih susu, hidung mancung, bibir cherry, dan big doe eyes yang terlihat polos, yang mampu menyedot siapa saja yang menatap mata besar bening itu.

Hampir seluruh pengunjung di bar ini tahu siapa Kim Jaejoong. Ia merupakan salah satu aset berharga yang dapat menarik pengunjung dengan cepat. Tapi, jika kau penasaran dengan sosoknya, kau hanya bisa memandangnya dari jauh. Kau mendekat sedikit saja, maka pemiliknya, Ok Taecyeon, akan menendangmu!

Jaejoong memang tergolong namja cantik yang 'liar'. Ia memakai obat - obatan, walaupun tidak ketergantungan, ia anak dunia malam. Ia kemari untuk mencari kesenangan, mencari kebebasan.

Bukan karena ia anak orang miskin atau tidak mampu, anak broken home atau apapun. Ia memiliki keluarga utuh. Putra satu - satu seorang pengusaha kaya di Seoul. Namja ini punya segalanya, dan bisa meminta apapun yang ia inginkan. Tapi, sepertinya ia salah dalam memilih teman dan pergaulan.

.

.

.

"kau mau turun ke dance floor?", tanya Taecyeon lembut.

"eumm, aniyo. Aku ingin minum saja.", jawab Jaejoong sambil menunjukkan wajah imutnya.

"aigoo. Aku benar - benar ingin memakanmu.", kata Taecyeon lalu tertawa.

"ya!", respon Jaejoong kesal. Jaejoong benci ketika seseorang, siapapun itu, mengatakan hal - hal seperti itu. Menurutnya, itu menjijikkan!

"arraseo, hanya bercanda.", kata Taecyeon sambil mengacak - acak rambut kekasihnya.

Taecyeon beranjak dari tempat duduknya, menuju ke arah Jun Ki yang sedang berkumpul bersama teman - teman mereka yang lainnya.

"omoo... Taecyeon-ah, namja-mu itu sangat cantik!", komentar salah satu temannya.

Taecyeon hanya menyunggingkan senyumnya.

"kau sudah merasakannya?", tanya seorang yang lainnya.

Taecyeon mendengus sebal.

"hanya sampai di bibir."

"dia bilang berhubungan, itu menjijikkan! Ia belum berpikir sampai ke sana."

"dia masih 16 tahun, babo!"

"16 tahun atau berapa pun, badannya benar - benar..."

"tenang saja. Malam ini, kami berdua akan menghabiskan malam bersama."

"mwo!?"

"waeyo? Aku sudah mengincar tubuhnya sejak lama. Aku tak bisa menahannya lagi. Pakaian tebal ataupun tipis, semua yang ia gunakan membuatku ingin memakannya!"

"kau tidak bercanda?"

"kenapa harus bercanda? Dia hanya anak 16 tahun, kan?"

.

.

.

Jaejoong merasa kepalanya berdenyut sakit dan matanya berkunang - kunang. Ia mencoba membuka matanya, namun sinar remang - remang membuat matanya tertutup kembali.

"argh! di mana ini?", erangnya pelan.

Namja yang sedari tadi menunggu Jaejoong bangun dengan memandang ke arah luar melalui jendela kaca besar itu langsung membalikkan badannya ke arah Jaejoong.

"Taecyeon-ah... aku di mana?", tanya Jaejoong pelan sambil berusaha bangun dari tidurnya.

"kau di hotel. Kau tadi pingsan.", jawab Taecyeon.

"pingsan? Ahh... tadi minumanku rasanya sedikit aneh. Membuatku pusing. Kenapa tidak memesankan taxi atau menghubungi noona-ku saja?", kata Jaejoong meracau.

"sekarang pukul berapa?", tanya Jaejoong sambil mengedarkan pandangannya.

"sudah jam 1.30. Aku harus pulang, aku pasti dimarahi.", kata Jaejoong sambil beranjak dari duduknya.

"aniyo.", kata Taecyeon lirih.

"eoh? Waeyo?", tanya Jaejoong sambil menghentikan geraknya.

"kita akan di sini malam ini.", ucap Taecyeon sambil menyeringai.

"untuk apa?", tanya Jaejoong tak mengerti.

Taecyeon mendekati Jaejoong perlahan, lalu sedikit menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Jaejoong.

"kau akan melayaniku malam ini."

"Apa - apaan kau!? Menjijikkan!", kata Jaejoong sambil mendorong Taecyeon menjauh.

Taecyeon hanya memutar bola matanya jengah. Ia mendekat lagi dan menahan kedua pergelangan tangan Jaejoong dan mendorongnya hingga kembali berbaring di tempat tidur.

"k... kau!"

Taecyeon tak peduli. Ia sudah berada di atas Jaejoong, dan mulai merobek pakaian namja cantik itu satu persatu. Jaejoong mencoba melawan dengan berteriak, alhasil satu tamparan keras mendarat di pipinya. Taecyeon tetap melanjutkan aksinya dengan Jaejoong yang terus menangis, memberontak dan berteriak.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

"Taecyeon-ah, kau sudah selesai?", tanya Jun Ki pelan, sambil memasuki kamar hotel itu.

"sudah.", jawab Taecyeon menyunggingkan senyum sambil membenahi pakaiannya.

Jun Ki melirik Jaejoong yang duduk bersandar pada dashboard tempat tidur. Ia bertelanjang dada, duduk memeluk lututnya, bercak - bercak merah memenuhi bagian atas tubuhnya. Air mata terus mengalir di wajahnya, pandangannya kosong.

"apa... apa ia baik - baik saja?", tanya Jun Ki sedikit takut. Wajah Jaejoong hampir pucat seperti mayat.

"biarkan saja. Ia tidak apa - apa.", jawab Taecyeon santai, berjalan keluar kamar.

Kamar hotel itu menjadi sunyi senyap. Namun, tiba - tiba Jaejoong terisak, merasa kotor dengan dirinya sendiri. Jaejoong meraba meja nakas di sebelahnya, mencari ponselnya. Jari - jarinya mulai menari di atas layar ponsel berwarna hitam itu. Beberapa detik kemudian, ponselnya sudah tertempel di telinganya.

"noo... noona... je... jebal..."

.

.

.

"Abeoji, aku tak bisa menghubungi ponselnya!", kata seorang yeoja pada namja paruh baya di sampingnya.

"anak itu! Ke mana lagi dia! Ini sudah hampir subuh! Dasar anak nakal!", erang namja paruh baya itu.

"Yeobo... tenang dulu.", kata seorang yeoja paruh baya cantik, terlihat seperti istri dari namja yang mengerang tadi.

"lalu, sekarang bagaimana?", tanya yeoja yang tadi mencoba menelpon.

"kita tunggu saja, Ji Hyun-ah. Mudah - mudahan Jaejoong tak apa.", jawab yeoja tersebut pelan.

Suara dering telepon tiba - tiba, membuat tiga orang yang berada di ruang tamu itu terlonjak kaget. Ji Hyun, yeoja yang menggenggam ponsel tadi, hampir saja melompat dari duduknya.

"eo... eomma... JJ... JJ menelpon.", kata yeoja itu sambil membelalakan matanya.

"ppali! Angkat saja.", jawab yeoja paruh baya itu.

"yeobosaeyo! Joongi-ya! eoddisseoyo! Kau sedang dihukum abeoji, kenapa nekat keluar!?", kata yeoja itu setengah berteriak marah.

"noo... noona... je... jebal...", kata suara di seberang sana.

"Jae... ada... ada apa~"

"aku... tolong aku..." -

Kim Ji Hyun, berlari kencang menyusuri koridor hotel mewah itu. Suara langkahnya menggema, namun ia tak peduli jika ada yang terganggu. Ia juga tidak peduli dengan dua orang office boy yang sedang berusaha menyamai langkahnya. Pikiran Ji Hyun hanya tertuju pada kamar bernomor 231. Kamar yang sedang ditempati Jaejoong.

Pintu menjeblak terbuka setelah Ji Hyun membukanya dengan kasar. Ia langsung masuk ke dalam. Dan tiba - tiba berdiri terpaku. Menatap sosok namja yang sedang duduk memeluk lututnya, bertelanjang dada dengan bercak - bercak merah di tubuhnya.

"noo... noona.", namja itu bersuara lirih. Ia berbicara namun tak menatap Ji Hyun. Pandangannya kosong.

"Jae...", kata Ji Hyun mendekat. Matanya memanas. Dan setelah mendengar isakan adiknya, air mata Ji Hyun benar - benar tumpah.

.

.

.

Jaejoong terus menunduk, ia tak mampu mengangkat kepalanya lagi. Abeoji-nya sedang berdiri di depannya, menatapnya garang. Dadanya naik turun dengan cepat. Sedang yeoja paruh baya di sampingnya, eomma Jaejoong, hanya berdiri menatap anak lelakinya dengan tangan kanan membekap mulutnya sendiri.

"dasar anak kurang ajar! Menjijikkan!", teriak tuan Kim.

"abeoji... kau~"

"diam kau Kim Ji Hyun! aku sedang bicara pada anak tidak tahu diri itu!"

"abeoji!", teriak Ji Hyun setengah histeris.

Tuan Kim mendekati tubuh Jaejoong, menatap putranya yang tengah terisak dalam diam.

"kau menjijikkan! Angkat kaki dari rumahku! Jangan pernah anggap aku Ayahmu, jika kau tak tahu cara menebus kesalahanmu!", teriak tuan Kim tepat di depan Jaejoong.

"yeobo!"

"Abeoji!"

Jaejoong mengangkat kepalanya cepat, menatap abeojinya dengan pandangan kabur karena air matanya sendiri.

"abeoji..."

"kutekankan padamu! kau akan tinggal di apartemen sendiri, dan kau tak boleh menginjakan kakimu ke rumah ini!", teriak tuan Kim.

"aku takkan menganggapmu putraku lagi!"

"abeoji! Jaejoong baru saja mendapat masalah dan kau malah menyuruhnya pergi!", teriak Ji Hyun, sambil menangis.

"yeobo, kau tak bisa melakukan itu padanya. Dia putra kita!"

"tidak! Dia harus tinggal sendiri dan jangan pernah mengatakan kau putraku! AKu tak sudi memiliki putra sepertimu!"

Jaejoong diam seribu bahasa. Ketika ia benar - benar merasa terpuruk, Abeoji-nya malah menyuruhnya pergi dari rumah itu. Menyuruhnya tinggal seorang diri.

"aku tetap akan membiayai hidupnya, namun secara diam - diam. Dia harus tinggal sendiri. Aku tak mau melihatnya di sini. Pergilah. Aku akan memproses kasusnya."

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Jaejoong menatap nanar pada papan pengumuman di depannya. Banyak pasang mata yang melihatnya bergantian. Dan berbagai komentar terus tertangkap pendengarannya.

Berita tentang dirinya bertahun - tahun lalu kembali terpampang di depannya. Gambar - gambar ketika ia keluar dari kantor polisi dengan menundukkan wajah dalam - dalam, kembali terlihat di depan matanya. Padahal seingat Jaejoong, abeoji-nya sudah membayar semua koran maupun surat kabar yang mengetahui berita ini. Sekaligus agar tidak menghancurkan bisnis dan keluarganya, juga agar Jaejoong bisa hidup tenang sendiri tanpa desas desus tentang kasus yang dialaminya.

Jaejoong memundurkan langkahnya perlahan, ia tak mampu menatap papan pengumuman itu lagi. Semua kepercayaan bahwa hidupnya akan tenang dengan sikap dingin dan semua sikap tertutupnya, hancur dalam sekejap.

Jaejoong berlari menuju lantai 4 dengan wajah yang terus menunduk. Air matanya terus mengalir di balik wajah putihnya. Ia tahu sekarang. Mobil yang ditemuinya tadi adalah mobil Taecyeon. Sekarang, namja itu pasti ada di sini. Ia yang mengatakan akan balas dendam pada Jaejoong karena berani memasukkannya ke penjara.

Jaejoong menutup pintu kelasnya dengan keras, bersandar di balik pintu itu, dan mulai terisak pelan sendirian. Ia membutuhkan seseorang. Ia benar - benar membutuhkannya.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

"hyung.", kata Changmin pelan sambil mengarahkan pandangannya lurus.

"wae?", tanya Yunho yang sedang membaca bukunya sambil berjalan. Namun, karena Changmin tak kunjung membalasnya, Yunho mengalihkan pandangannya mengikuti Changmin.

Seorang namja tinggi sedang berada di depannya, menatap Yunho sambil menghisap rokok di sela - sela jarinya.

"kau Jung Yunho?", tanya namja itu sambil membuang rokoknya dan menginjak dengan sepatu cats hitamnya.

"ne. Kau siapa?", tanya Yunho sambil menutup bukunya, dan mengenyit heran namja yang baru pertama kali dilihatnya itu.

"kau yang dekat dengan Jaejoong?", tanya namja itu sambil berjalan mendekat.

"waeyo?", tanya Yunho sedikit mengeras. Changmin yang berada di sampingnya hanya diam saja, menatap namja asing yang sedang bicara dengan hyung-nya itu.

"rupanya, kau dapat bekas.", kata namja itu sambil menyunggingkan senyum kecil, lalu pergi dari hadapan Yunho.

Yunho hanya mengernyitkan dahinya. Tak mengerti satupun yang dikatakan namja tadi.

.

.

.

Yunho, Yoochun, Junsu dan Changmin menatap papan pengumuman universitas mereka dengan dalam diam. Sama - sama terkejut dan tidak percaya.

"ja... jadi dia...", ucap Yoochun tercekat.

"sudah kubilang, ia punya masa lalu yang buruk, kan?", kata Changmin pelan, lalu meninggalkan papan pengumuman itu.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho berjalan menyusuri koridor yang terlihat ramai itu dengan wajah datar. Sedari tadi, ia terus memikirkan sosok Jaejoong yang sudah tiga hari tak terlihat. Yoochun, Junsu, dan Changmin, hanya bisa mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka juga tak bisa berbuat apa - apa.

"ternyata dia bekas pelac*r!"

"dia pasti jadi aset berharga! Hahaha..."

"kalau begitu, aku tak salah jika memikirkan tubuhnya setiap hari."

Yunho menghentikan langkahnya. Menatap horror pada dua namja yang sedang berbincang di depan salah satu ruang kelas.

"siapa yang kau bilang pelac*r!?", tanya Yunho dingin.

"siapa lagi kalau bukan Kim Jaejoong kita?", jawab namja yang berbaju putih.

BUGH!

Satu tinju dari Yunho sontak membuat namja berbaju putih tadi mundur dan menghantam dinding. Pekikan kaget dari beberapa orang gadis yang menyuruh Yunho untuk berhenti malah membuat Yunho medekat ke arah namja itu dan memukulnya lagi beberapa kali sampai Yoochun dan Junsu menahan lengan Yunho agar berhenti sedangkan Changmin dan salah satu namja yang tadi berbincang dengan namja yang dihajar Yunho mencoba membantu namja berbaju putih itu untuk berdiri.

"kau kira siapa dirimu eoh! Kau kekasihnya!?", teriak namja yang barusan dipukul.

"kau sendiri siapa, berani mengatakannya pelac*r!?", bentak Yunho emosi.

"lepaskan aku!", kata Yunho kasar sambil menghempaskan tangan Yoochun dan Junsu yang menahannya.

"jangan pernah menjelek - jelekan dia jika kalian tak tahu apa - apa! Cukup tutup mulut!", kata Yunho kasar, lalu mengambil langkah menjauh. Yoochun, Junsu dan Changmin hanya bisa menarik nafas panjang.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho mempercepat laju mobilnya beberapa kali. Ia merasa bodoh karena baru sadar bahwa ia tahu di mana Kim Jaejoong tinggal. Betapa bodohnya dia karena tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Jaejoong mungkin saja ada di apartemennya.

.

.

.

Yunho langsung mengunjungi seorang yeoja yang berada di balik meja yang terdapat di lobby gedung apartemen itu. Ini apartemen mahal, terkesan seperti hotel bintang 5. Nafasnya terengah - engah saat mulai membuka suara, membuat yeoja itu sedikit berjengit memandangnya.

"apa... Kim Jaejoong... di... apartemennya?", tanya Yunho bersusah payah.

"tunggu sebentar...", jawab yeoja itu sambil mengalihkan pandangannya ke arah komputer di depannya.

"ne, dia sudah beberapa hari tak keluar apartemen."

"boleh aku tahu password apartemennya?"

"ne?"

.

.

.

Sudah hampir sejam lebih Yunho berkutat dengan pengelola gedung dan beberapa staff lainnya. Ia terus meminta agar mereka memberitahu password apartemen Jaejoong.

"sebenarnya apa keperluan Anda?", tanya salah satu staff yang mulai naik darah karena Yunho terus menerus memaksa.

"ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengannya. Beberapa hari ini, dia juga tak keluar apartemen, aku takut terjadi sesuatu padanya."

"kami akan melanggar privasi tuan Kim jika seperti ini.", kata pengelola gedung itu.

"aku hanya takut terjadi apa - apa padanya. Dia benar - benar sedang dalam masalah.", kata Yunho sambil memelas.

"argh! Aku tak tahu bagaimana mengambil keputusan!"

.

.

.

Yunho membuka perlahan pintu apartemen Kim Jaejoong. Ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang televise dengan penerangan redup adalah keadaan yang pertama kali menyambutnya.

Yunho berjalan perlahan, mencoba tidak membuat suara. Namun, tubuhnya tiba - tiba membeku ketika melihat tubuh Jaejoong tergeletak di depan pintu kamarnya dengan beberapa pil obat yang tersebar di sekitarnya.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Jaejoong membuka matanya perlahan. Lampu kamarnya yang berwarna putih terang, membuatnya harus menutup matanya kembali karena silau. Ia memandang ke kanan kirinya, menghindari sinar lampu, namun kepalanya yang tiba - tiba berdenyut sakit, membuat ia menutup matanya lagi. Dan beberapa bulir air mata turun perlahan dari sudut matanya.

Jaejoong meraba - raba meja nakas di sampingnya, mencari sesuatu, namun tak kunjung ditemukannya. Ia bangun dari baringnya, mencoba mencari di sekitarnya, namun nihil.

Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah jaket hitam yang tergeletak di bawah kakinya. Mengernyitkan dahinya, karena merasa tidak asing pada jaket yang bukan miliknya itu. Tiba - tiba mata Jaejoong terbelalak, ia tahu siapa pemilik jaket itu. Jaejoong langsung menyibakkan selimutnya cepat, turun dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar. Dan ia kembali memandang namja bermata musang yang sedikit banyak ia rindukan namun juga tak ingin ditemuinya. Namja yang sedang duduk di sofa depan televisinya, yang sedang balas memandangnya dengan dingin...

.

.

.

Yunho terus memandang pada botol putih yang ia letakkan di atas meja di depan ruang televisi itu. Obat tidur sekaligus penenang. Mungkin tak berbahaya jika kau mengkonsumsinya secara wajar, namun ia menyangsikan Kim Jaejoong mengkonsumsinya secara wajar. Dengan Jaejoong yang pingsan dengan obat ini tersebar di sekitarnya, ia yakin Jaejoong adalah pengguna yang tidak wajar.

Yunho sudah setengah jam berada di ruang televisi ini, terus memandang ke arah botol obat itu. Namun, tiba – tiba ia memandang ke arah pintu kamar Jaejoong, ia merasa mendengar suara dari dalam sana. Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka dengan cepat, menampilkan sosok Jaejoong dengan kemeja yang kebesaran dan celana pendek di atas lututnya. Jaejoong yang sedang memandangnya dengan big doe eyes itu. Yunho sangat merindukannya, tapi entah mengapa, ia merasa memberi tatapan dingin pada sosok namja cantik itu...

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

.

Yunho berdiri dari duduknya ketika Jaejoong membanting pintu. Berjalan, lalu membukanya perlahan. Jaejoong sedang menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal, membelakanginya.

"Jae...", panggil Yunho sambil mendekat.

"pergi! Aku tak ingin melihatmu!", kata Jaejoong tetap bertahan pada posisinya.

"aniyo. Kau-"

"kubilang pergi!", teriak Jaejoong sambil bangun dan duduk di atas tempat tidurnya, memandang Yunho dengan kesal.

"tapi..."

"aku tak mau melihatmu!", kata Jaejoong sambil melempar sebuah bantal ke arah Yunho. Yunho refleks langsung menghindar.

"ya..."

Jaejoong mulai melempar segala macam barang yang ada di sekitarnya, Yunho terus berusaha menghindar. Tak mengatakan apa - apa lagi. Namun, ketika sudah tak ada lagi benda yang bisa Jaejoong lempar, Yunho berjalan mendekat.

"jangan mendekat! Aku tak ingin melihatmu lagi!"

"apa yang mau kaulakukan! Melakukan hal yang sama padaku seperti yang namja itu lakukan padaku dulu!? Atau kau hanya mau mengatakan bahwa aku menjijikan!"

Yunho terkesiap, tak menyangka Jaejoong akan memvonisnya seperti itu. Yunho merasa emosinya naik. Ia berjalan lebih cepat ke arah Jaejoong. Jaejoong mencoba memukulnya agar mundur, namun namja itu kelihatan lebih lemah dari biasanya. Alhasil, Yunho langsung dapat menggenggam erat pergelangan tangan namja cantik itu dengan kuat.

"lepaskan!", kata Jaejoong sambil terus memberontak.

Yunho mendorong Jaejoong hingga Jaejoong kembali ke posisi tidurnya, ia langsung mencium bibir cherry itu secara kasar. Jaejoong terus mengerang, namun kekuatannya sekarang tak ada apa - apanya dengan Yunho yang sedang berada di atasnya.

Yunho terus melakukannya hingga suara Jaejoong sudah tak terdengar. Yunho melepas ciumannya, sedikit menegakkan badannya. Memandang Jaejoong yang sedang menutup mata, dengan air mata yang mengalir dari sudut mata namja cantik itu.

"apa kau masih mengira aku datang ke sini hanya untuk mengatakan bahwa kau menjijikkan, eoh!?", kata Yunho dengan suara yang meninggi.

Jaejoong membuka matanya, memandang Yunho dengan mata masih berkaca - kaca. Yunho lalu menarik Jaejoong agar bangun. Ia menatap Jaejoong, tangannya bergerak menghapus air mata Jaejoong.

"Jae... saranghae. Jebal, jangan seperti ini, aku hanya ingin melindungimu...", kata Yunho melunak. Ia menarik Jaejoong dalam pelukannya. Dan beberapa saat kemudian, tangis Jaejoong pecah.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Yunho sedang duduk di balkon apartemen Jaejoong. Duduk bersandar pada pagar besinya, ia menekuk kakinya dan membukanya lebar, membiarkan Jaejoong duduk di antaranya. Menyandarkan tubuhnya ke tubuh Yunho, membenamkan sedikit wajahnya pada ceruk leher namja bermata musang itu.

"sejak kapan kau menggunakan obat seperti itu?", tanya Yunho pelan.

"eumm?", jawab Jaejoong sambil tetap menutup matanya.

"sejak kapan kau menggunakan obat itu?", tanya Yunho sekali lagi.

"baru seminggu yang lalu.", jawab Jaejoong pelan.

"selalu kelebihan dosis, kan?"

"kadang - kadang."

"berhenti meminumnya. Aku tak suka melihatmu ketergantungan dengan obat itu nantinya."

"ne, terserah kau."

.

.

.

Jaejoong membuka matanya perlahan. Menatap langit - langit kamarnya. Merasakan deru nafas Yunho di wajah sebelah kirinya. Yunho masih memeluk pinggangnya dengan erat, ia jadi tak berani bergerak, takut jika akan mengganggu namja itu.

Jaejoong membalikkan wajahnya perlahan ke arah Yunho, memandangi wajah namja itu dengan seksama. Rasanya, ia belum pernah melihatnya dalam jarak sedekat ini. Jaejoong tidak sadar bahwa tangannya sudah berjalan menyusuri wajah Yunho. Mulai dari membelai rambut hitamnya, lalu perlahan turun ke pelipis, alis mata, hidung, philtrum, dan berhenti pada bibir namja itu.

"aww!", teriak Jaejoong saat tiba - tiba mulut Yunho terbuka dan menggigit jari telunjuknya pelan. Ia sibuk melamun dan tidak sadar jarinya masih berada di bibir Yunho.

Yunho membuka matanya dan tertawa pelan. Merasa gemas dengan Jaejoong yang memandangnya kesal, sambil mengerucutkan bibir cherry-nya.

"waeyo?", tanya Yunho sambil terus tersenyum.

"kenapa menggigitku? Appo...", keluh Jaejoong sambil menggenggam jari telunjuknya dengan tangannya yang lain.

Yunho langsung menarik tangan Jaejoong, meniup telunjuknya pelan lalu menciumnya. Jaejoong langsung membalikkan wajahnya, merasa wajahnya memanas dan memerah.

"ayo, bangun.", kata Yunho sambil menarik Jaejoong.

Jaejoong mengikuti Yunho masuk ke dalam toilet, bersama - sama membasuh wajah.

"hari ini, aku akan ke apartemenku dulu.", kata Yunho sambil mengambil sebuah sikat gigi baru.

"ada apa memangnya?", tanya Jaejoong, memandang Yunho lewat kaca besar di toiletnya.

"aku akan mengambil pakaian. Lalu, harus bertemu dengan abeoji-ku. Aku harus mengikuti sebuah rapat bersamanya.", jawab Yunho sambil menggosok giginya.

"jam berapa kau kembali?"

"setelah makan malam. Aku sudah janji dengan eomma-ku untuk makan di rumah hari ini."

Jaejoong mengerucutkan bibir cherry-nya sedikit.

"waeyo?", tanya Yunho sambil memandang Jaejoong.

"jadi, aku sendirian lagi? Kau baru datang semalam...", kata Jaejoong merajuk.

"aigo, aku akan kembali. Setelah makan malam, ne? Yaksok...", kata Yunho sambil mengulurkan kelingkingnya, tanda perjanjian.

"terserah saja.", respon Jaejoong, mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Yunho, dan langsung meninggalkan Yunho yang tersenyum geli. Ini Kim Jaejoong kita yang sebenarnya. Manja, dan sangat menggemaskan.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

TBC

.

.

Agak gimana gituu pas mau update chapt. Ini :D

Tpii, selesaii ^^

Msih bnyk kurng nya jugaa :D

Gomawo ^^ yg udah pd respon :* ^^v