SINLAIRE and THE DUNGEON
Pairing: SasuSaku, NaruSaku
Genre: Adventure, Friendship, Romance, Fiction
AU, OC, OOC, cerita fantasi yang teramat gaje…
RnR please.. ,"
ERAGON – THE INHERITANCE CYCLE © Christopher Paolini
NARUTO © Masashi Kishimoto
SINLAIRE and THE DUNGEON ©
Chapter 4
Sakura Haruno = Sherry
Naruto Uzumaki = Kevin
Tsunade = Mistral
Orochimaru = Darker
Sasuke Uchiha = Jason
Silhouette = Queen of Sinlaire
Marionette = Queen of The Dungeon
Silhouette dikagetkan suara ketukan pintu paviliun. Ia mengisyaratkan salah satu pelayannya untuk membukakan pintu. Naruto langsung menghambur masuk ketika pintu terbuka. Ia terengah-engah dan kemudian langsung membungkuk.
"Maaf mengganggu anda, My Lady. Tapi aku sama sekali tidak bisa tenang kalau kita diam terus seperti ini. Penyerangan harus dilaksanakan!" Kata Naruto tanpa basa-basi.
Tsunade mengangguk setuju, kemudian ia menoleh ke arah Silhouette yang tampak sedang mempertimbangkan kata-kata Naruto.
"Aku tidak bisa memutuskan.." Silhouette akhirnya berkata, walaupun bukan jawaban yang memuaskan, "Aku tidak hanya memikirkan Sherry, tapi aku juga memikirkan keselamatan kalian. Berbahagialah kalian mendapatkan pemimpin sepertiku.."
Silhouette memang berubah total sejak Sherry diculik. Ia tampak lebih sering terdiam, merenung. Setiap malam isakan tangisnya selalu terdengar. Ia menjadi mudah terpancing emosi dan tidak lagi seperti biasa. Badannya kurus hanya dalam beberapa hari saja. Kondisinya benar-benar memprihatinkan.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan kami, My Lady.." Naruto memantapkan suaranya, "Kami merelakan diri kami, untuk menjadi rakyatmu, menjadi pelayanmu, prajurit serta pejuangmu, dan kami akan melakukan apa yang kau perintahkan selagi itu masih masuk di akal." Naruto berdeham, "Aku mengatakan sekali lagi, My Lady. Penyerangan harus segera dilakukan. Jika kau mengkhawatirkan prajurit di daratan, mereka tidak perlu ikut. Elf dan Kurcaci bisa menjaga diri mereka dengan sangat baik di Spine. Para malaikat akan terbang lebih dulu."
Silhouette hanya diam saja.
"Jika kau tidak memutuskan untuk melakukan penyerangan, atau kau tidak memutuskan apapun." Naruto melanjutkan, "Aku akan memimpin penyerangan ini tanpa izin dari anda!"
"Kau sangat tidak sopan, Kevin!" Amarah Silhouette lagi-lagi terpancing, "Kau berbicara padaku dengan sangat tidak sopan. Jangan berani-berani kau melakukan penyerangan tanpa seizinku!"
Naruto mulai berani melawan, "Anda tidak mempedulikan anak anda di sana, eh? Jangan katakan kalau anda memang samasekali tidak peduli. Kami tidak bisa diam saja, dan saya tidak peduli apa anda bisa diam begitu saja atau tidak. Tapi aku benar-benar tidak bisa diam begitu saja. Sherry ada di sana, dalam bahaya atau tidak.. atau bahkan ia sudah dijadikan makhluk menyedihkan bersayap kelelawar itu? Apa anda sama sekali tidak peduli? Orangtua macam apa anda ini?"
"Jaga bicaramu, Kevin!" Tsunade menegurnya keras, namun Naruto mengabaikannya dan terus mengeluarkan segala penatnya.
"Kepedulian anda seolah begitu palsu. Apa-apaan itu? Mengapa anda begitu tidak peduli? Oh, apa ketidakpedulian anda ini juga berhubungan dengan Sherry? Jangan katakan Sherry itu bukan anak anda?!" Naruto mengeraskan suaranya dan menekankan pada kalimat terakhirnya.
Amarah Silhouette sudah mencapai puncaknya. Ia bangkit dari singgasananya dan segera menampar keras wajah Naruto dan dengan sihir melemparnya hingga membentur dinding sampai dinding tersebut retak. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibir Naruto. Ia segera mengusapnya dan menatap tajam Silhouette.
"Tutup mulutmu, lebih baik kau keluar sebelum aku membunuhmu dan mencabik-cabikmu hingga menjadi 100 bagian sama rata, Kevin! Sekarang KELUAR!" Bentak Silhouette.
"Aku anggap anda sama sekali tidak mengambil keputusan, My Lady." Naruto mengambil pedangnya yang jatuh dan langsung keluar tanpa hormat kepada Silhouette, "Penyerangan akan segera dilaksanakan." Serunya ketika pintu hampir tertutup.
Silhouette sangat geram. Terlihat urat-urat muncul dan otot-ototnya menegang. Tsunade tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Dia anakku.." Tiba-tiba Silhouette berkata histeris, "Sampai kapanpun dia tetap anakku. Aku peduli padanya.."
"Aku mengerti.." Tsunade menenangkan, "Naruto sangat peduli dan mengkhawatirkan Sherry, My Lady, makanya ia ingin segera menyerang The Dungeon."
Silhouette sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Tsunade, ia hanya terdiam.
Sakura terbangun tiba-tiba. Mimpi aneh, samar-samar dan mengganggu itu terus menghantuinya sejak ia tinggal di The Dungeon. Ia membalikkan badannya. Di sebelahnya, Sasuke tertidur pulas. Hari ini memang hari yang tidak terlalu sibuk seperti kemarin. The Dungeon sedang dalam keadaan santai, mereka mungkin tak takut bahwa Sinlaire akan menyerang The Dungeon.
Sakura terjaga selama 2 jam. Matanya hanya tertuju pada jendela yang menampakkan bangunan tua dari batu dan langit hitam kemerahan yang dihiasi petir dan gemuruh. Sesekali ia melihat Sasuke.
Damai sekali wajahnya.. Sakura hampir tertawa. Ia membekap mulutnya takut membangunkan Sasuke. Wajah porselen pucat Sasuke yang menawan sangat menarik perhatian. Sakura terus memperhatikan wajah Sasuke, sampai akhirnya Sasuke bangun entah kenapa. Sakura segera memalingkan wajahnya, panik.
"Kenapa?" Tanya Sasuke ketika melihat Sakura yang masih terjaga.
"Aku terbangun.." Jawab Sakura, "Dan tak bisa tidur kembali."
Sasuke mengubah posisinya, menyamakan posisi dengan Sakura, yang dengan posisi duduk sambil menyandarkan badan ke dinding di belakangnya.
"Kau merindukan rumah?" Tanya Sasuke lagi.
"Tentu saja. Bagaimana tidak?"
Sasuke tersenyum miring, "Kau takkan pernah tahu kegelapan disana.." Sasuke terdiam, "Jauh lebih gelap daripada disini."
"Apa maksudmu?" Badan Sakura menegak, tanda ia ingin tahu lebih banyak. Sasuke hanya menatapnya sebentar kemudian kembali memandang jendela.
"Kau akan tahu nanti.."
"Tapi aku ingin tahu sekarang…"
"Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk kau mengetahui hal itu." Sasuke menegaskan.
Kesunyian menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang memulai pembicaraan, tidak ada yang mau berbicara. Sasuke.. Sakura mengeluh dalam hati, Aku benci keheningan! Sakura menekuk kakinya dan merapatkannya ke badannya. Ia membungkus badannya dengan selimut.
Sakura memikirkan keadaan Naruto selama tak ada dirinya. Terakhir kali ia meng-scry Naruto dan ibunya, ia merasa tak ada masalah. Namun ia khawatir sesuatu terjadi.
"Kau kedinginan?" Tanya Sasuke.
"Menurutmu?" Sakura segera mendekat pad Sasuke, "Mengapa kau tidak kembali ke Sinlaire?!"
Sasuke menggeleng, "terlalu berbahaya."
"Kenapa berbahaya? Kau bisa minta tolong padaku, Naruto, dan banyak orang.." Kata Sakura.
"Bukan begitu.." Sasuke mulai serius dan menatap mata Sakura lekat-lekat, "Kau sama sekali tidak tahu benar tentang Sinlaire."
"Aku tahu segala hal disana.."
"Tidak satu hal.."
"Apa itu?"
"Bukan saatnya kau tahu itu.." Sasuke tersenyum miring, "Tidurlah."
"Tapi aku ingin tahu apa yang tidak kuketahui di Sin–" Kalimat Sakura terhenti ketika Sasuke memegang wajahnya dan langsung mencium bibirnya lembut, membuat segala sesuatu dalam otaknya berpendar kesana-kemari, kemudian hanyut seketika. Ciuman itu hangat, berlangsung agak lama, dihiasi blitz-blitz dari petir yang menyambar-nyambar seakan merasa puas, kemudian sampai akhirnya Sakura menyadari sesuatu mengalir dari mulutnya ke seluruh tubunya, seperti tersengat listrik. Sasuke melepaskan ciumannya, dan Sakura terkulai lemas dalam pelukan Sasuke. Satu hal yang diingatnya hanyalah bisikan yang samar-samar dari Sasuke, sebelum ia benar-benar hanyut ke dalam alam mimpi.
Sakura terjaga tiba-tiba bersamaan dengan petir panjang menggelegar. Ia menatap sekelilingnya dengan pandangan sayu, kemudian mencoba bangkit. Ia mengerang kesakitan ketika bergerak, otot-ototnya yang kaku menegang. Setelah otot-ototnya kembali normal, ia terengah-engah sambil terdiam menatap jendela. Hujan. Ia sendirian disana, hanya ditemani bayang-bayang lilin dan petir yang menggelegar. Ia ingin meng-scry ibunya, namun tenaganya belum pulih sempurna sehingga ia mengurungkan niatnya.
Sebenarnya apa yang dia lakukan kemarin? Tanya Sakura dalam hatinya, ketika mengingat kejadian kemarin saat ia dan Sasuke berbicara pada tengah malam. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu, kemudian mencoba membukanya perlahan. Tidak dikunci! Seru Sakura dalam hatinya. Ia mencoba membukanya lebih lebar sepelan mungkin. Setelah pintu terbuka agak lebar –setidaknya cukup untuk badan rampingnya– ia menyelinap keluar, menuruni beratus-ratus anak tangga, entah kenapa banyak sekali.
Sebelum mencapai dasar, Sakura mendengar suara samar-samar yang saling berbincang.
"… Bagaimana menurutmu, Jason?" Sakura mengenali suara ini. Terasa familiar di telinga dan tak mungkin ia lupakan. Suara Marionette. Tapi siapa Jason?
Yang ditanya pun sama sekali tidak menjawab. Sakura tak bisa melihat orang atau apapun yang dpanggil Jason itu, ia hanya mendengarkan –kalau ia tak mau ketahuan– dan diam tak bergerak.
"Baguslah.. lagipula, dia ada pada genggaman kita.. dengan mudah kita bisa menghancurkan Sinlaire, benar begitu Jason?"
Lagi-lagi yang ditanya sama sekali tidak menjawab. Mungkin hanya mengangguk atau memang malas menjawab atau memang bisu sama sekali, kalau opsi pertama dan kedua, benar-benar tipikal Sasuke. Sakura bergidik ngeri, ia terpaku, otot-ototnya menegang.
"Setelah itu, apa yang anda lakukan?" Tanya orang yang dipanggil Jason itu.
Tidak salah lagi, itu Sasuke! Seru Sakura dalam hatinya.
"Hah.. sebenarnya aku ingin mengangkatnya menjadi anakku sendiri. Maksudku.. anak 'kita' bukan –karena kau akan menjadi rajanya, walaupun umurmu sama dengannya–?" Marionette mendesah, "Ia tidak akan suka, tidak akan mau dan akan menjadi bencana bagi negara baruku nanti. Lebih baik aku membunuhnya saja, bukan begitu? Itu lebih baik.. lebih tepatnya.. jalan terbaik agar pemerintahanku bisa berjalan lancar, sehingga kedamaian abadi bisa menyelimuti negeri ini.."
"Apapun yang kaukehendaki, terjadilah.." Sasuke menunduk hormat, diselangi tawa keras Marionette yang begitu puas.
Membunuh… membunuh? Kata-kata itu melayang dan berputar-putar dalam otak Sakura. Nafasnya menderu, namun ia berusaha sekuat mungkin menahan suara nafas yang terlalu besar dan mencurigakan. Ia terpaku. Kaget akan kata-kata Sasuke. Tidak, ia tidak mungkin ragu-ragu. Dari kata-katanya sudah terlihat bahwa ia sama sekali tidak ragu. Ia akan membunuhku! Sakura panik. Ia segera kembali ke kamarnya, mengambil kunci pintu yang tergantung di pintu dan membawanya masuk. Terdengar bunyi klik yang berulang. Ia tak peduli lagi ada yang mendengar atau tidak.
Marionette dan Sasuke menyadari suara berisik di atas. "Kurasa obrolan kita baru saja didengar orang atau apapun yang paling tidak ingin mendengarnya." Mendengar kalimat itu, Sasuke langsung pergi ke lantai atas, mengucapkan beberapa kalimat aneh dan kemudian anak-anak tangga itu entah kenapa bisa menciut menjadi hanya beberapa langkah saja.
Sakura terdiam. Ia menyandar ke pintu, berusaha menahan pintu itu. Baru saja ia menambah beberapa lapis perisai sihir di kamar itu, baik jendela maupun pintu. Susah, atau bahkan mustahil membukanya. Ia masih merinding. Petir menyambar-nyambar menemani ketakutannya. Otot-ototnya semakin menegang ketika mendengar langkah kaki berat mendekati pintu.
Kumohon! Kumohon jangan! Sakura berdoa berkali-kali. Ia tahu! Aku akan dibunuh sekarang! Sakura menelan ludah. Aku tidak punya waktu lagi! Aku harus lari..! Sakura berdiri, kemudian ia mencoba merapalkan beberapa mantra untuk membatalkan perisai sihirnya. Sesekali ia mendengar suara Sasuke memanggil namanya, membuatnya semakin takut.
Setelah selesai merapalkan mantranya, Sakura segera mengambil pedang dan panahnya sementara perisai sihir perlahan menghilang. Tepat saat pintu terbuka, Sakura bersiap untuk melarikan diri dari jendela.
"Sakura!" Sasuke berteriak, "Berhenti bodoh!"
"Tidak.. tidak.. tidak akan!" Seru Sakura, ia menjatuhkan diri, kemudian sekuat tenaga terbang melesat, mencoba melarikan diri sejauh apapun, mencoba terbang.
Sesosok perempuan yang terbang melesat di langit The Dungeon akan menarik perhatian. Makhluk-makhluk jadi-jadian yang berjaga di sekitar paviliun segera memanahnya. Panah-panah itu menghujani dirinya, sekalipun tak ada yang berhasil mengenainya. Satu panah berhasil menggores pinggangnya, membuatnya mengerang kesakitan dan memperlambat terbangnya. Kesempatan untuk Sasuke menyusulnya. Menyadari akan disusul, Sakura segera melupakan lukanya, dan membiarkannya menganga diterpa angin dingin yang menusuk, kemudian melanjutkan terbang.
"Jierda!" Serunya ketika sampai ke gerbang. Gerbang besi tebal itu langsung patah dan rontok seketika dengan sihirnya, ia hampir lolos, namun terlambat. Sasuke telah menangkapnya.
"Lepaskan aku!" Seru Sakura meronta, walaupun sebenarnya tidak berguna.
"Diam dan kembalilah!"
"Tidak akan!" Sakura mengeluarkan pedang dari sarungnya, mencoba melukai apapun bagian tubuh Sasuke yang bisa dicapainya. Yap, luka gores panjang di tangan Sasuke lagi. Sakura meringis kesakitan ketika pinggangnya lagi-lagi terasa perih dan sakit sekali. Dengan tangan yang bebas, ia berusaha menutup luka itu. Darah segar membasahi tangannya.
Salah satu makhluk jadi-jadian itu memanah Sakura, tepat mengenai tangannya, tak terkecuali tangan Sasuke. Mereka berdua meringis. Rontaan Sakura membuat tangan Sasuke menjadi lebih sakit lagi.
"Diamlah!" Seru Sasuke, kemudian tanpa mempedulikan raungan Sakura, ia membawanya kembali ke kamar di paviliun, kembali merantai Sakura ke tempat tidur.
"Kau akan membunuhku!" Seru Sakura.
"Aku tak pernah bermaksud membunuhmu!"
"Tapi kau akan… suatu saat nanti.." Air mata membasahi pipi Sakura, "Kau akan membunuhku nanti! Setelah membunuh ibuku dan menguasai Sinlaire.. kau akan membunuhku.."
"Takkan pernah terjadi, dan takkan pernah ada apapun yang menyentuhmu!" Sasuke mendekap Sakura erat. Sakura ingin meronta tapi tak bisa.
"Aku takkan percaya.." Sakura terisak, "Kau pasti akan membunuhku."
"Tidak akan pernah terjadi, aku bersumpah demi apapun di dunia ini.."
"Kalau begitu katakan itu dalam bahasa kuno!"
Sasuke terdiam sejenak, kemudian ia mengulangi kata-katanya dalam bahasa kuno dengan jelas dan berkali-kali sampai Sakura terlihat puas, membuat seluruh badannya bergidik merasakan energi sihir mengalir di dalam tubuhnya, mengikat jiwanya.
Sakura melemaskan otot-ototnya. Kemudian ia menyembuhkan luka akibat panah salah satu makhluk jadi-jadian yang menghujaninya dengan panah setajam silet tadi. Ia juga menyembuhkan luka yang dibuatnya kepada Sasuke. Kemudian Sasuke mendekapnya erat.
"Aku berjanji tidak akan melukaimu, tidak akan membiarkan apapun melukaimu!" Kata Sasuke sambil mendekap Sakura.
"Apa yang akan kau lakukan nanti?" Sakura menatap matanya dalam-dalam, "Ketika Marionette menyuruhmu… membunuhku?"
"Aku tidak tahu…" Sasuke menghela nafas, "Tapi akan kupikirkan."
"Kalau begitu lepaskan rantai ini.." Seru Sakura.
"Tidak bisa demi keamananmu. Kau berbahaya di luar. Lagipula…" Sasuke memandang jendela serius, "Seluruh Dungeon dilindungi perisai sihir bahkan tanpa bisa dirusak oleh sihirmu seperti tadi, walaupun kau telah merusak gerbang dan sekitarnya."
"Rantai ini akan membunuhku perlahan. Kau memang akan membunuhku."
"Tidak ada sihir dalam rantai ini!"
Sakura mencoba menarik tangannya yang dirantai. Sasuke benar, sengatan aneh seperti biasa sudah tidak dirasakannya.
"Untuk berjaga-jaga.." Sasuke menatap Sakura sebelum keluar, "Aku akan melindungi kamar ini dengan sihir. Tidak akan ada siapapun yang boleh masuk ke kamar ini kecuali pelayan-pelayan pilihanku. Dan kau… tidak akan keluar dari kamar ini."
Sakura hanya mengangguk lemah. Sayapnya lelah, kesakitan, sepertinya salah satu panah yang lain berhasil melukai sayapnya.. lagi..
Sasuke duduk di sampingnya, mencium bibir Sakura lembut, kemudian pergi meninggalkannya di kamar itu. Sakura terdiam. Ia merasa takut dan tak tenang. Ingin sekali meng-scry ibunya, tapi ia takut.. dan terlalu lelah untuk melakukannya. Ia bisa tewas jika nekad melakukannya. Kelelahan yang luar biasa, deru napas yang kencang, perlahan melambat, tergantikan oleh kesunyian sedingin es yang menyelimuti kamar.
Naruto menyiapkan tas berisi makanan, batu pengasah pedang kecil, dan botol air minum. Ia menyandang pedang biru kesayangannya dengan panah hitam di punggungnya. Ia kemudian keluar dari tenda, berseru dengan suara lantang.
"Kita akan berangkat… sekarang." Katanya, "Firnën, tolong katakan pada penjaga gerbang untuk melumasi engsel gerbang dengan minyak. Silhouette akan mengacaukan segalanya kalau dia mengetahui kita akan menyerang."
Pejuang yang dipanggil Firnën mengangguk, kemudian segera berlari ke arah gerbang. Naruto sendiri perlu membantu pasukannya menyiapkan segala yang menurutnya perlu dibawa. Melewati Spine akan sangat melelahkan dan membahayakan. Kau bisa mati tanpa tahu bahwa sesuatu sedang menggerogoti jantungmu dari dalam. Ulat Ëglat.
"Kuda, kita pasti membutuhkan kuda. Kalian harus membawa kuda agar kita bisa menghemat waktu. Semakin banyak kita membuat tenda, itu akan menjadi penunjuk arah bagi musuh atau apapun. Nyawa kita bisa rentan terancam. Beberapa elf boleh membawa kuda boleh tidak, tergantung apakah kalian mampu. Kami para malaikat tidak membutuhkan kuda." Kata Naruto, "Segeralah siapkan segalanya. Jangan lupa asah pedangmu hingga tajam. Dan jangan lengah." Mereka semua mengangguk mantap dengan wajah bersemangat dan haus darah. Saat penentuan nasib mereka yang takkan lama lagi. Bukan hanya nasib mereka, namun seluruh Sinlaire.
Bersabarlah, Sakura-chan.. Naruto bergumam, Aku akan segera kesana, menolongmu..
Lamunan Naruto dibuyarkan oleh suara lembut dari belakangnya, "Boleh aku ikut?"
Naruto berbalik menoleh. Hinata dengan wajah cantik dan rambut panjang menatapnya dengan tatapan memohon, "A..ano.. Sherry-chan telah banyak membantuku waktu persiapan untuk hari perayaan bulan penuh dan dialah yang paling banyak melakukan persiapan dari semua orang, termasuk diriku dan pelayan-pelayanku. Namun semua apa yang telah dilakukannya sia-sia dan aku merasa bersalah. Aku ingin ikut untuk membantumu menolong Sherry-chan."
Naruto hampir saja meneriakkan 'ya' pada Hinata, namun ia segera menggeleng, "Tidak.. tidak bisa. Terlalu berbahaya untuk putri bulan sepertimu. Avery tidak akan mengizinkanmu. Dan aku tidak setuju. Terlalu berbahaya."
"Ta..tapi, aku sudah diajari beberapa sihir yang berguna untuk pertarungan oleh Sherry-chan, dan sebagai tanda terimakasih aku ingin menyelamatkannya!" Hinata tetap memohon.
Memang berguna, karena diantara para pejuangku tak ada seorangpun yang mampu menggunakan sihir.. pikir Naruto, Tapi Spine terlalu berbahaya untuknya. Bisa-bisa ia sekarat walau baru sampai 2 mil dari Dungeon. Naruto ingin mengiyakan, namun ia tidak sanggup menerima apa yang akan terjadi di perjalanan nanti. Dan ia pasti tidak sanggup untuk membayarnya kecuali dengan nyawanya sendiri.
"Aku tidak bisa memutuskan. Banyak yang harus dipikirkan.." Kata Naruto, "Aku tidak mau terjadi apapun padamu, Hinata. Sungguh, jangan membuatkan lebih khawatir lagi."
"Kau tidak bisa memutuskan, berarti aku yang akan memutuskan. Aku akan ikut!" Hinata tersenyum.
Naruto menghela nafas, menyerah, lagipula ia sangat tidak sopan berkata seperti tadi itu. Tidak mau dibuat khawatir lagi? Kekhawatirannya sekarang sudah mencapai puncak seperti puncak Menara Ödret, menara tertinggi milik kaum kurcaci. "Baiklah, kau akan ikut, asalkan…." Kegembiraan Hinata disela Naruto, "Kau harus terbang, bersamaku, disampingku, dan takkan pernah terpisah."
Hinata tersenyum gembira. Sekali dayung 2 pula terlampaui. Ia ingin menolong Sakura, tapi bisa juga bersama terus dengan Naruto yang dicintainya. Ia menjadi semakin bersemangat. Tunggu aku Sakura-chan! Aku pasti akan menolongmu untuk berterimakasih.. Katanya dalam hati.
Setelah semua persiapan telah matang, pintu terbuka dengan pelan dan tanpa suara. Para penduduk sudah tertidur lelap, tak menyadari puluhan atau ratusan kuda yang melintasi depan rumah mereka. Sebelum meninggalkan Sinlaire, Naruto memberi pengarahan kepada pejuang yang tinggal untuk melindungi Sinlaire kalau-kalau diserang dari arah lain yang berlawanan dengan arah Naruto ke Dungeon, yaitu lurus ke depan.
Pasukannya berjalan meninggalkan Sinlaire. Setelah beberapa mil jauhnya, mereka segera memacu kuda mereka masing-masing untuk berlari lebih cepat, membelah kesunyian hutan Spine yang mengerikan.
"Kau tahu bagaimana keadaan Sakura-chan?" Tanya Hinata pada Naruto.
"Entahlah…" Naruto mengangkat bahu, "Aku tidak pernah melakukan sihir dan itu bukan bakatku ataupun sesuatu yang ingin kupelajari."
"Bagaimana kalau kita meng-scry dirinya?" Tanya Hinata.
"Apa itu?"
"Semacam melihatnya.. membutuhkan sihir dan banyak energi sebenarnya, namun dengan melakukannya lebih awal.. menumbuhkan atau menghancurkan harapan.." Hinata terbata-bata pada kata-kata terakhirnya.
"Aku tidak suka mendengarnya tapi…" Naruto berdeham, "Lakukanlah."
"Disana ada danau, aku bisa meng-scry -nya dengan air danau." Hinata dan Naruto melesat turun ke pinggir danau.
"Draumr kópa.." Hinata merapalkan mantra sesuai ajaran Sakura dan air jernih seketika. Beberapa saat kemudian muncul bayang-bayang samar yang berpendar.
"Itu Sakura-chan!" Seru Naruto.
"Ia diikat di tangannya. Namun dari mukanya kupikir ia tidak kekurangan makanan atau nutrisi ataupun diracun." Kata Hinata, "Hanya yang kubingungkan adalah garis memanjang di bajunya dan di tangannya."
"Sasuke pasti melukainya!" Naruto geram, "Sialan."
"Setidaknya masih ada harapan, ayo!" Mereka berdua mengisyaratkan pada prajurit untuk kembali bergerak dan mereka terbang melesat ke langit malam.
Yey! Sampai Chapter 4..
Bagaimana ceritanya sodara-sodara?
Bagus tak? Kalau gak silahkan bunuh authornya..
RnR!
