Setelah mengantarkan adiknya untuk beristirahat, Naruto kembali ke ruang makan untuk melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda. Namun ketika sampai, ia dikejutkan dengan kehadiran dua iblis asing yang nampak bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Naruto lalu menajamkan sensornya, mencoba mengenali siapa dua iblis asing itu. Entah kenapa dirinya merasa familiar dengan energi yang dimiliiki oleh ibliis tersebut. 'masaka, ternyata kalian eh?'
" Yo!, hisashiburi Sona, Teme " Naruto memasuki ruang makan dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya
" Hisashiburi, Naruto/Dobe "
"Masih tidak berubah eh " Naruto lalu menarik kursi makan untuk duduk. "Tak bisakah kau ganti panggilan untuk teman kecilmu ini ?"
"Kheh, sebelum meminta setidaknya mengacalah terlebih dahulu" Sasuke membalas ucapan Naruto dengan seringai khasnya. "ternyata kau masih tetap Dobe "
"Nah nah, kalian sudah bertemu, kurasa sebaiknya kami meninggalkan kalian bertiga untuk bicara " Kushina beserta Minato lalu beranjak pergi, memberikan waktu privasi bagi ketiga iblis muda itu untuk bicara
"Minum ?" tawar Naruto kepada dua teman masa kecilnya
"Hn, seperti biasa dobe, kau tak lupa kan?" balas Sasuke. Ia adalah iblis tingkat tinggi, merupakan king dari Sona. Klannya, Uchiha merupakan klan yang terkenal dengan kemampuan mata sharingan yang mampu memberikan ilusi sekaligus membaca gerakan lawan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan bayangan
"hmm, lemon tea" ucap Sona dengan kalem. Adik dari Serafall ini memiliki kepribadian yang sangat berbeda dari kakaknya. Jika Serafall merupaka sosok yang periang sekaigus childish, maka Sona adah kebalikannya. Dia adalah sosok yang selalu berpikir kritis dan selalu memasang tampang serius, meskipun tak jarang juga tersenyum
"Ah, wakatta" Naruto lalu memanggil maid untuk membawakan minuman pesanan mereka. " tolong satu gelas jus tomat, lemon tea dan jus leci". Maid itu mengangguk sebelum pergi kedapur untuk membawakan pesanan tuan mudanya
"E-etto, Naruto, kami turut beduka atas apa yang dilakukan Rias padamu " ucap Sasuke membuka percakapan
" Ha'i, kami benar benar tak menyangka bahwa dia akan melakukan itu, hah~" Sona menimpali ucapan Sasuke sembari menghela nafas, lalu mengambil lemon tea miliknya
" Maa maa~, tenanglah, aku tau aku bukan yang terbaik untuknya " Naruto hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan dari sepasang tunangan didepannya.
"Oi dobe, kau sudah mendapat peeragemu ?" Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan, berusaha untuk tidak membuat temannya semakin terpuruk. Kedatangannya kemari bukan untuk melihat teman masa kecilnya bersedih. Bukan, bukan itu tujuannya, justru alasan dia kemari adalah untuk menghibur Naruto.
"Hmm... aku baru mendapatkan pawnku, itupun hanya dua bidak " balas Naruto sembari menikmati jus leci nya. Entah kenapa dirinya jadi suka minuman kegemaran gadis perak keturunan lucifer itu. 'Maa~, aku tak menyangka jika leci senikmat ini eh'
" Siapa yang kau jadikan pawnmu, Naruto ?" Penasaran, mereka penasaran siapa sosok yang dijadikan pawn oleh putra kedua lord Namikaze ini. Mengingat jika Naruto itu merupakan sosok yang kuat,pasti pawnnya bukan sembarang orang.
"Tentu saja imoutoku!" Naruto menjawab dengan riang, mengabaikan tatapan terkejut dari sepasang tunangan itu
"Ka-kau menjadikan a-adikmu sebagai anggota peerage mu, dobe ?" Sasuke melihat Naruto dengan tatapan 'apa kau sudah gila'. Menjadikan adiknya sendiri sebagai peerage? Apakah teman pirangnya ini mengalami gejala geser otak?!
"Kenapa? dia sendiri yang meminta untuk menjadi peerageku, lagi pula tou-san dan kaa-san sudah setuju " Naruto membalas tatapan Sasuke dengan santai, seolah dia tak melakukan hal besar. Lagipula dia tidak meminta Asia untuk melakukan hal itu, tapi adiknya sendiri yang memaksanya.
"Mattaku~, sifatmu benar benar tak berubah" Sona hanya bisa tersenyum tipis, sahabat pirangnya ini memang sosok yang nekat dan penuh kejutan. "Kukira kau akan menjadi sosok yang dingin dan bermuka datar setelah sepuluh tahun pergi "
" Heh, aku bukan tipikal orang yang emotionless seperti kalian "
Canda tawa menghiasi suasana malah hari itu. Mereka saling berbagi cerita tentang kehidupan masing masing selama ini. Yah, meskipun tidak semua Naruto ceritakan sih...hingga tak terasa malam mulai larut.
"Nee, apa kalian ingin menginap?, kurasa keluarga kalian tak keberatan jika kalian bermalam disini"
" Ah, sebenarnya kami ingin, tetapi kami harus mempersiapkan sekolah kami di dunia manusia karena beberapa hari lagi sekolah akan dimulai " Sona dengan halus menolak tawaran Naruto. Memang benar, sudah dua tahun ini mereka bersama Rias bersekolah didunia manusia, tepatnya di kota Kuoh, sekaligus menjaga tanah pinjaman mitologi Shinto bagi kaum iblis.
" ah souka, aku tidak bisa memaksa kalian". Seketika senyum jahil terpampang di wajah tampannya. "Aku juga tau kok kalau kalian punya kegiatan privasi malam ini "
Blush~
" Ap- Apa yang kau katakan baka-dobe ?!"
" Benar, apa maksud dari perkataanmu itu Naruto ?!"
Melihat sepasang iblis yang dikenal bermuka datar itu memerah merupakan kesenangan tersendiri bagi Naruto." Ara~, aku rasa kalian juga paham apa maksudku ". Kembali, selama perjalanan menuju pintu keluar mansion Naruto selalu menggoda pasangan iblis muda yang telah terikat oleh sesuatu yang tak kasat mata namun begitu kuat, sesuatu yang pernah mengikat dirinya dengan Rias.
Iblis merah itu... kenapa dia malah memikirkannya lagi. Sadarlah Naruto, Rias sudah bahagia bersama Seikiryuutei dan bukankah dirinya sudah berjanji pada adiknya untuk mencari kebahagiaan lain
"Kami pamit dulu, Dobe ". Tak terasa dia sudah berada di ambang pintu. Pandangannya beralih kearah Sona yang mulai menciptakan lingkaran sihir teleportasi.
"Ha'i, aku titip salam untuk Sera-nee dan keluarga kalian ya "
"Wakatta, akan kami sampaikan salammu, jaa ne " Mereka menghilang dalam lingkaran sihir teleportasi khas klan Sitri, meninggalkan Naruto yang menatap kepergian mereka dengan tersenyum tipis. 'kalian sama sekali tak berubah'
" Hmmm, jaa ne "
[line break]
Keesokan paginya
" Nee.. tou-san, kaa-san ? " panggil Naruto di sela sarapan pagi mereka
"Hm ? nani Naru-chan ?" tanya Kushina penasaran
" Bolehkah... bolehkah aku ke dunia atas hari ini, aku ingin mencoba mencari anggota peerage ku " Naruto lalu mengutarakan niat yang ada dalam hatinya dengan nada yang begitu halus, berusaha agar orang tuanya tidak tersinggung dan salah paham.
" Hmmm, kurasa tak apa, bagaimana menurutmu Kushina ?"
" ha'i,aku sama sekali tak keberatan, usahakan nanti malam sudah pulang oke? dan juga ajaklah adikmu, sudah lama dia tidak ke dunia atas, benarkan ?"
" Wakatta kaa-san, kurasa aku juga punya kenalan didunia atas yang bisa mengajari Asia berpedang, mungkin kami nanti akan mengunjunginya, bagaimana imouto?" tanya Naruto menatap adiknya
" Ha'i, aku mau onii-chan !" jawab Asia semangat. Bertemu dengan pendekar pedang kenalan kakaknya? Dirinya berani menjamin kalau orang itu bukanlah sosok sembarangan
" Bolehkah aku ikut, otouto ?" pinta Menma tiba tiba ikut berbicara
" Are? Menma-kun? bukankah kau hari ini ada kencan dengan Hinata-chan ?, dan sekarang sudah setengah delapan pagi, kurasa kau sudah terlambat" tanya Kushina penasaran. Bukankah tadi Menma sudah berkata bahwa hari ini dia ada kencan dengan queennya
" Kuso! ,aku lupa, Hinata chan pasti sudah menunggu ?!" Menma dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu berlari kearah kamarnya untuk bersiap siap
" Ah, apakah hubungan antara queen dan king yang berbeda gender selalu seperti itu ?" tanya Naruto bergumam sembari mengusap dagunya
" Hmm.. Tou-san rasa memang begitu " pandangan Minato menerawang, berusaha mengingat ingat setiap hubungan antara King dan Queen di Mekai.
" Ara~, apakah kau sudah punya kenalan yang ingin kau jadikan queenmu ne, Naru chan ?" Kushina bertanya menggoda putranya. Well, putranya ini sudah mengunjungi berbagai penjuru dunia. Dengan ketampanan dan kekuatan yang diatas kata wajar, tentu bukanlah hal sulit baginya untuk menggaet hati para gadis.
"I-itu "
'Siapa yang akan kujadikan queen ya, hmmm, sama sama memiliki longinus, kecantikan mereka juga diatas rata rata...kuso! sebenarnya apa yang kupikirkan, aku pasti ketularan sifat da tenshi brengsek itu '
Naruto lalu menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan fantasy aneh yang baru saja melintas di otaknya
"Daijobuka, onii-chan ?" Tanya Asia bingung
"Da-daijoubu desu~"
" Tapi wajahmu memerah, apa kau sakit onii-chan ?"
" Sudah kubilang aku tidak apa apa imouto"
" Ekhem, Naruto, aku punya beberapa hadiah untukmu " ucap Minato berdehem pelan, lalu mengeluarkan beberapa kertas semacam proposal dari sihir penyimpanannya
" Apa ini, tou-san?" Naruto mengernyitkan dahinya ketika menerima berkas berkas itu. 'Aku tak tau kenapa, tapi entah mengapa aku merasakan hal buruk jika membaca ini'
"Bacalah terlebih dahulu, putraku~ " pinta Minato dengan senyum misterius
" PENGAJUAN PERTUNANGAN ?! APA MAKSUDNYA INI ?!" tanya Naruto setengah berteriak. Oh, demi pancingan laknat Azazel ! baru saja ia menjalani pengadilan yang secara tidak langsung membatalkan hubungan pertunangannya dengan Rias, dan kini ia malah ditawari lagi ?! sebenarnya apa yang ada di kepala para petinggi klan itu ?!
" Jadi begini Naru-chan, setelah semua mengetahui kejadian itu, beberapa perwakilan klan menghubungi kami untuk menyerahkan berkas berkas itu. Salahkan saja ketampananmu yang diatas wajar, reputasimu didunia bawah sebagai prodigy terbaik serta keberanianmu menerima tantangan duel dari Maou Lucifer" secara panjang lebar, Kushina menjelaskan kenapa berkas berkas itu ada bisa di tangan putranya
"Lebih baik kau baca terlebih dulu onii-chan, mungkin ada yang membuatmu tertarik "
"Hmm... baiklah, kita lihat ada siapa saja disini" Naruto lalu membuka berkas pertama
" Pertama, Hyuuga Hanabi, adiknya Hinata nee kah? " Hyuuga hanabi, iblis muda seumuran Asia sekaligus putri kedua Lord Hyuuga. Dia adalah adik dari queen Menma, Hyuuga Hinata. Karena Hinata sekarang menjadi queen dari heir klan Namikaze, otomatis dirinya menjadi heiress dari klannya. Penampilannya bisa dibilang cantik, dengan surai coklat panjang sepunggung dan mata amethyst khas klan Hyuga, dibarengi dengan wajah manis dan tubuh yang langsing membuatnya nyaman dipandang.
" Seekvaira Agares, disini tertulis dia juga heiress klannya " Seekvaira memiliki paras menawan dengan kacamata yang menghias wajahnya.Rambut pirang kehijauan dengan wajah yang terkesan tegas, dibarengi dengan tubuh yang proporsional menambah kesan kalem dan berwibawa. 'aku seperti melihat sosok Sona dalam dirinya '
"Hmmm, yang ketiga Yamanaka Ino , lumayan juga dia.." Naruto akui, gadis didepannya memiliki daya tarik yang mampu memikat para lelaki. Dengan tubuh yang proporsional, wajah yang cantik dan terkesan menggoda, ditambah rambut pirang yang diiikat pony tail seakan memamerkan leher putih jenjang nan mulusnya. " Apakah dia seorang model ? "
"Uhm, bagaimana kau bisa tau Naru chan ? "
Naruto hanya tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan dari ibunya. "Dengan tanpa ragu memasang pose yang begitu menggoda seperti ini?" remaja pirang itu mengangkat beberapa lembar kertas yang berisi foto foto Ino dengan wajah menggoda ketika menggunakan bikini ataupun pakaian yang amat tipis yang menampilkan seluruh lekuk tubuhnya. "Kurasa tidak sulit untuk menebak jika dia seorang model "
"Maa~, ini yang terakhir, Senju Shion, umm, sepertinya aku mengenalnya"
" Tentu saja, dia merupakan putri kedua dari Jiraiya-sensei, dan juga merupakan fansgirl setiamu ketika dulu kau masih di Mekai" tanggap Minato ketika mendengar gumaman putranya
"Ah, gadis itu ya.. tak kusangka dia sudah tumbuh menjadi sosok yang cantik " Naruto mencoba mengingat ingat salah satu gadis berambut pirang pucat yang tergila gila padanya dulu, dan jika membandingka Shion yang dulu dan sekarang, dia rasa itu cukup berbeda. Kini seorang Senju Shion tampil dengan kesan lebih feminim dan halus tidak seperti dulu yang sedikit liar dan pemaksa.
Rambut pirang pony tail, mata ungu dan wajah polos serta tubuh yang sangat pas dipandang mata. Yap, satu kata untuknya, 'cantik'. Selain itu, klannya juga merupakan pengendali kayu serta spesialis sihir pengobatan
" Bagaimana Naru-chan, apa kau tertarik ?, kau juga bisa membuat harem dengan mereka lho.." mempunyai banyak menantu mungkin merupakan hal yang menyenangkan, itulah yang ada di benak iblis wanita berambut merah itu.
"Kurasa tidak kaa-san, tidak ada dari mereka yang benar benar membuatku benar benar tertarik " jawab Naruto seraya meletakkan berkas berkas itu.
" Haahh.. baiklah baiklah, kurasa kau akan menemukan pasanganmumu sendiri " helaan nafas keluar dari bibir Kushina. Benar... dia tidak boleh memaksa putranya untuk bertunangan dengan rentang waktu yang sedekat ini.
"A-apa ma-maksud kaa-san?!"
"fufufufu~ ,tidak ada"
Merasa sudah selesai, Naruto lalu meletakkan alat makannnya. " Yosh, kurasa sudah waktunya kami pergi, kami tidak ingin pulang terlalu larut nanti. Nah imouto, bersiap siaplah, kutunggu 15 menit " Naruto melirik jam yang dinding sudah menunjukan pukul setengah sembilan
" Ha'i onii-chan " Asia lalu menuju kekamarnya untuk bersiap siap
" Kami pergi dulu, tou-san, kaa-san " pamit Naruto dan Asia yang kini sudah berada didepan pintu keluar kediaman.
" Ha'i, semoga berhasil, Naru chan "
" Ittekimasu " bersamaan dengan itu, kedua bersaudara itu menghilang ditelan sihir teleportasi khas Namikaze
" itterashai"
[line break]
Disebuah pinggiran sungai kota Kuoh
" Memporak porandakan daerah klan Gremory, lalu menggunakan sihir sekelas dewa untuk mengembalikannya dalam sekejap, membangkitkan [True Form] sejak berusia lima belas tahun tahun, aku tak sabar ingin mengetahui hal gila apa yang ia lakukan lagi" Azazel bermonolog sembari menatap pancingannya penuh arti.
" Kali ini aku sependapat denganmu, ucapan senpai dulu ternyata tidak main main " tanggap Viola menerawang jauh ke arah langit, mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Naruto dahulu.
Mengalah ?!, jangan bercanda !, aku tidak akan kalah sebelum menjadi penerus Lucifer yang bisa menciptakan kedamaian sejati, meskipun kini yang kulawan adalah Ouroboros Dragon
" Ah, aku jadi ingat saat pertarunganku dengannya saat pertama kali dulu " Azazel mencoba menarik pancingannya yang bergerak gerak, dan...yang ia dapat hanyalah sebuah sepatu tua. "hahhh, petirnya benar benar mengerikan, meskipun dia tidak menggunakan [True Form]"
" Huhh, kau tidak tau betapa mengerikannya senpai saat menggunakan [True Form] miliknya" ucap Viola mengingat betapa mengerikannya kekuatan Naruto saat melawan Ophis beberapa tahun lalu, tepat pada pertemuan pertamanya.
" Ah, membicarakan senpai membuatku jadi merindukannya " Viola tersenyum lembut menatap sepasang capung yang sedang kejar kejaran di tepi sungai.
" Pertahankan Viola dan biarkan aku mengambil fotomu " Entah sejak kapan Azazel mengeluarkan sebuah kameraa untuk mengambil foto gadis Lucifer itu, mungkin dia bisa menjual beberapa foto kepada anak buahnya. Hey !, salahkah dia memanfa-, maksudnya mengagumi ciptaan sang Ayah yang begitu sempurna didepannya ini.
" H-hah ?! apa yang.."
Perkataan Viola terhenti ketika tiba tiba muncul lingkaran sihir teleportasi berwarna kuning yang begitu familiar.
" Yo ero-Da-tenshi, Viola "sapa Naruto yang muncul dari lingkaran sihir
" Se-senpai ?!"
" Yo Naruto, mau mancing ?" tawar Azazel seraya menyodorkan alat pancingnya
" Meh, aku tak mau membuang buang waktuku dengan kegiatan tak berguna seperti itu " Naruto mengibaskaan telapak tangan didepan wajahnya dengan ekspresi merendahkan. "Nee, Imouto, perkenalkan dirimu, kau pasti tau siapa Da-Tenshi ini kan " Naruto mengusap pelan kepala Asia yang berdiri dengan kecanggungan disampingnya.
Asia menganggukkan kepalanya. Memang sejak awal dia sudah tau kalau sosok didepannya ini merupakan seorang gubernur malaikat jatuh." A-ah, perkenalkan aku Namikaze Asia, putri bungsu Lord Minato dan Lady Kushina, senang bertemu anda, Azazel sama " Asia membungkukkan badan ala bangsawan sembari menyebutkan namanya dengan begitu anggun dan sopan.
Azazel hanya tersenyum melihatnya, sifat Namikaze-hime didepannya ini sangat berbeda dengan sang kakak. " Maa ma ~, tak perlu seformal itu, panggil saja aku seperti kakakmu memanggiku "
" Ta-tapi ?!-"
Asia yang hendak protes harus terhenti ketika sebuah telapak tangan memegang pundaknya. Ketika menoleh, didapatinya wajah sang kakak yang tersenyum meyakinkan sembari mengangguk. " Turuti saja kemaunnya, imouto~"
"Uhm". Asia lalu menatap Azazel dengan senyum aneh. "Ero-Da-Tenshi-sama"
Dong !
Azazel jatuh secara tidak elit dengan mulut menganga lebar. ' Brengsek ?!, kutarik lagi tentang kata 'berbeda jauh' tadi'
" Pfftt buahahaaha, ka-kau benar benar imoutoku hahahaha " tawa tertahan Naruto akhirnya pecah ketika mendengar panggilan adiknya kepada Azazel. Sementara Viola hanya tersenyum kaku menatap kepolosan adik dari senpainya ini.
" Sudahlah senpai, apa kau tak akan mengenalkan adik imutmu ini padaku hmm? " Viola lalu berjalan mendekat kearah Asia dengan senyum tipis yang mengembang di paras ayunya
" Haahhh, baiklah baiklah " Naruto menghentikan tawanya, lalu menatap Asia yang sepertinya penasaran." Nah imouto, ini temanku, Viola Lucifer "
' Cantik sekali '
Batin Asia ketika melihat Viola. Bagaimana tidak, teman kakaknya ini mempunyai paras yang begitu mempesona. Kulit putih bersih tanpa noda, wajah begitu manis yang sedang tersenyum kearahnya, iris sapphire jernih, surai keperakan yang diikat pony tail sepaha serta tubuh yang begitu pas, apalagi asetnya itu, besar tetapi tidak terlalu over seperti mantan tunangan kakaknya. Asia tidak akan ragu jika menyebut sosok onee-san didepannya ini merupakan perempuan tercantik yang perna ia temui
' Ma-masaka ?!' seketika Asia tersentak kaget ketika menyadari suatu hal yang aneh "Lu-lucifer ?!" gadis yang merupakan bungsu Namikaze itu sedikit berteriak dengan memasang raut tak percaya.
" Ha'i, biar kuperkenalkan lagi. Namaku Viola, Viola Lucifer, salah satu keturunan Lucifer terakhir ", ucap viola sembari menjabat tangan Asia " Yoroshiku, Namikaze-san "
" Ta-tapi, bagaimana bisa ?!" tanya Asia tergagap. ' bukankah keturunan Lucifer sudah tidak ada lagi setelah Civil War ?'. Hendak bertanya seperti itu, namun niatnya ia urungkan ketika mengetahui tangannya masih dijabat Viola
" Mungkin itu bisa kita bicarakan lain kali, Namikaze- "
"Asia !"
" Um?"
"panggil aku Asia, onee-san. Asia tidak terlalu suka keformalan" Potong Asia ketika melihat Viola mengernyitkan dahinya. "Yoroshiku, Viola-nee-san". Viola tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum ketika adik Naruto bisa menerimanya
"Nee Viola, bisa kau bawa aku ke markasmu ?, aku ada perlu dengan Arthur, mungkin juga Ophis kalau ada"
Mendengar ucapan senpainya membuat raut wajah gadis Lucifer itu berubah
"Ma-masaka ?!, aku lupa kalau harus berbelanja bahan makanan untuk hari ini. Ck, ini semua salahmu, dasar hentai-Tenshi !"
"H-hah?!, kenapa aku ?!" balas Azazel menunujuk wajahnya denga nada tak terima. Hell, bukankah tadi muridnya sendiri yang datang kemari ? kenapa tiba tiba dirinya yang disalahkan ?!
"Karena menemanimu bicara, aku jadi lupa tujuanku ?!"
"Are?, jadi kau menyalahkanku ?!"
Naruto hanya menghela nafas lelah ketika melihat perdebatan antara murid dan guru yang sudah sering ia lihat itu. "Maa~, sudahlah Viola, mungkin kami bisa menemanimu berbelanja"
"Benar kata onii-chan, onee-san, Asia juga tak keberatan menemani onee san berbelanja"
"Saa~, ikuzo Viola"
" H-Ha'i ?!" gumam Viola terkejut dengan wajah memerah ketika tangannya digenggam dengan lembut oleh Naruto. Sementara itu, asia hanya mengikuti mereka dari belakang dengan senyum penuh arti yang menghiasi wajahnya. 'Yokatta~, sepertinya aku akan punya kakak ipar yang cantik'
"Jaa ne Azazel" teriak Naruto melambaikan tangannya
"Hmm, jaa ne~" balas Azazel pelan. "Haahh, tak kusangka dia masih bisa bersikap seperti itu setelah dikhianati tunangannya. Ck, kalau saja waktu itu tidak ada Ophis, entah apa yang terjadi dengan Mekai " gumam Azazel menerawang langit, mengingat salah satu kenangannya yang bisa dikategorikan dalam kata 'berharga'
Flashback
"DASAR JALANG ?!"
Blarr ?!
Tekanan energi khas seekor naga meledak di dimensi buatan milik Azazel.
"Te-tenang lah...Vi-viola "ucap Azazel beserta tim Viola yang berada di dimensi buatan itu sembari berusaha menahan tekanan energi Albion milik viola. Sebenarnya mereka datang ke dimensi buatan ini hanya untuk berlatih dan sparring biasa, namun seketika suasana berubah setelah Azazel tiba
' Rias Gremory sedang berkencan dengan seorang iblis reinkarnasi yang memiliki aura Seikiryuutei '
" Beraninya dia...beraninya dia... beraninya dia... mengkhianati senpai.." ucap Viola dengan nada yang begitu dingin disertai tekanan energi yang terus meningkat
"Ugh" tim viola mulai jatuh bersujud, sedangkan Azazel berlutut tak kuat menahan aura dominasi seekor [Heavenly Dragon] yang dikeluarkan Viola
"Mereka harus mati"
Blarr ?!
Tekanan energi Viola semakin menggila dan detik itu juga, iris Viola berubah, menjadi kristal shappire bercahaya tanpa pupil
" Akulah naga yang akan bangkit "
Sudah akan di mulai – sepertinya akan segera dimulai
[ " Viola, oi, Viola, tenangkan dirimu " ] teriak Albion dalam pikiran Viola
" Naga surgawi yang merebut prinsip dominasi tuhan "
Memang seperti itu, apapun yang terjadi – itu benar, setiap saat memang seperti itu
[ " Cih, tenanglah Viola " ]
"Aku iri pada ketidak batasan, beduka pada impian "
Seseorang yang dunia cari - seseorang yang dunia benci
[ " Ck, sudah terlambat " ]
" Aku akan..
Tap Pyarr... Boomm !!
Tiba tiba muncul sosok gadis kecil yang muncul tepat didepan Viola. Gadis itu lalu menyentuhkan telapak tangannya tepat didada Viola. Seketika inang dari Albion itu menghantam tanah dengan begitu kerasnya disertai armor yang telah hancur berkeping keping.
"Tenangkan dirimu, Viola " ucap gadis kecil itu
" O-ophis ?" gumam Viola tak percaya karena kini sosok gadis kecil didepannya tak lain adalah Ouroboros Dragon
" Tenanglah Viola, jika kau membunuh mereka, maka Naruto akan balas membunuhmu karena dia mengira bahwa kau membunuh tunangannya tanpa alasan yang jelas "
" Ta-tapi ?!"
" Sudahlah, biarkan waktu yang membongkar kejadian ini, dan biarkan Naruto menyelesaikan latihannya dengan tenang " Ophis melayang mendekati Viola, lalu mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu gadis bersurai keperakan itu untuk bangun. "Kau tak mau bukan latihannya selama sepuluh tahun ini menjadi sia-sia?" ujar sosok perwujudan dari ketidakbatasan itu dengan senyum kecil.
" baiklah" jawab Viola lirih
"Aku yakin Naruto pasti bisa menerima ini, dia bukanlah sosok yang lemah "
Flashback end
" Ahhaa~, dia sungguh mengerikan."
[line break]
"Nee senpai? bukankah kita hanya akan berbelanja bahan makanan ?" tanya Viola sedikit bingung karena kini, mereka bertiga ada didepan salah satu mall di kota Kuoh
" Tak apa, lagi pula aku juga ingin membeli beberapa barang " Naruto menepuk pelan pucuk kepala Viola sebelum mengajaknya untuk melangkah masuk
" Chotto matte onii-chan ?!" teriak Asia yang ditinggal pergi begitu saja oleh kakaknya
" Nah, kita sudah sampai di tempat bahan makanan, pilihlah sesuka kalian, aku yang bayar kok " Naruto lalu melenggang pergi meninggalkan kedua gadis itu untuk menikmati waktu belanja mereka. "Dan jangan lupa, kita berkumpul disini satu setengah jam lagi"
" Ha'i, ayo onee-san, kita beli daging terlebih dahulu " Asia menarik tangan Viola untuk menuju ketempat penujualan daging
"Uhm"
"Nee, onee-san?" panggil Asia yang nampak sibuk memilih milih daging
"hmm, nani Asia-san?"
"Etto, sebenarnya...bagaimana bisa onee-san sebagai yang notabenenya keturunan Lucifer masih..?" Asia bertanya dengan nada lirih dan halus, berusaha tidak menyinggung perasaan sosok yang merupakan teman kakaknya
Senyuman tipis terulas diwajah Viola ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir adik senpainya. Rasa untuk mencoba tidak menyakiti perasaan lawan bicaranya ketika melontarkan suatu peranyaan sensitif yang merupakan cara bicara Naruto ternyata menurun pada Asia. 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya kan~'
"Ara~, kau benar benar ingin tahu ne?"
"Uhm, Asia ingin tau ?' jawab gadis bersurai pirang itu sembari mengangguk antusias ketika mengetahui bahwa Viola sama sekali tak tersinggung dengan pertanyaannya.
"Tapi... kumohon rahasiakan, oke?"
" ha'i!, Asia berjanji"
Flashback
Disebuah rumah kecil yang terletak dipedalaman yang tidak diketahui tempatnya
Blarr ?!
Puluhan laser sihir ditembakkan dari lingkaran sihir yang berada didepan rumah itu."Cepat lari Viola, Tomoe. Kami akan berusaha menahannya !"seru seorang wanita sembari membuat kekkai untuk menahan tembakan tembakan laser dari depannya.
" Kuso?! aku tak bisa menahan ini lebih lama lagi !"
" Ck, kenapa kau melakukan ini tou-sama ?" tanya seorang pria yang berdiri disamping wanita tadi
" Hahaha, tentu saja untuk menghabisi seluruh keturunan Lucifer yang ada ". Seorang kakek muncul dari balik lingkaran lingakaran sihir yang menembakan laser laser energi. "Hanya aku yang pantas menyandang gelar Lucifer "
Puluhan-, tidak, ratusan lingkaran sihir tercipta mengelilingi rumah tadi, memuntahkan energi penghancur berbentuk laser
"Viola, jaga adikmu, meskipun kalian hanya selisih beberapa menit, tetapi dia tetap lebih muda darimu" wanita tadi membuat lingkaran sihir teleportasi dibawah dua anak gadis yang berada dibelakangnya secara diam-diam, berharap agar sosok yang ia panggil 'ayah' tidak mengetahuinya.
"Kami selalu menyayangi kalian, Viola,Tomoe"
"Sayonara"
Blarr ?! Boom ?!
Sebuah ledakan skala besar terjadi di tempat keluarga itu. Setelah asap menghilang, terlihatlah pria dan wanita tadi telah tewas dalam kondisi yang mengenaskan
"Hmm, ternyata mereka berhasil kabur, khukhukhu, kurasa ini semakin menarik" ucap kakek itu lalu pergi dengan sihir teleportasinya
Sementara itu, lingkaran sihir tiba tiba muncul disebuah pulau tak berpenghuni dipedalaman Jepang, mengeluarkan dua anak kembar tadi
"Hiks hiks, okaa-sama, otou-sama " pecah sudah tangis mereka ketika mengetahui bahwa sosok yang telah merawat mereka, mengajari mereka, serta menyayangi mereka telah tiada
Tanpa sadar, tubuh mereka mulai mengeluarkan aura berwarna putih kebiruan (Viola) dan hitam kemerahan (Tomoe). Aura itu terasa semakin kuat sebelum...
Bruk
Tubuh dua gadis kecil itu jatuh pingsan
Flashback end
" hiks hiks A-Asia tak tau ka-kalau hiks masa lalu onee-san hiks benar benar menyedihkan". Asia menyeka air mata yang mulai jatuh membasahi pipi putihnya. Sekarang diririnya benar benar merasa bersalah karena telah meminta Viola untuk menceritakan masa lalu yang menurutnya benar benar tidak mengenakkan
"Maa~, tenanglah Asia-san, kau membuat kita menjadi pusat perhatian lho~"
"Eh !" Asia lalu mengedarkan pandangannya kesekeliling. Kini terlihat banyak pasang mata, terutama laki-laki yang memandangnya dengan wajah bersemu merah
"Ara~, biarkan saja mereka" Viola lalu memegang pergelangan gadis pirang itu uuntuk pergi menjauh."Ayo lanjutkan belanja kita"
Sesuai waktu yang ditentukan, mereka bertiga berkumpul ditempat perjanjian.
"Nah, kurasa semua sudah selesai, ayo segera pergi untuk makan siang" Naruto menarik pergelangan kedua gadis itu untuk pergi ketempat yang dirasa sepi. "Kita gunakan lingkaran sihir eleportasi milikmu Viola". Mendengar perkataan senpainya,Viola lalu menciptakan lingkaran sihir teleportasi dibawah mereka bertiga
"Kita pergi"
Dalam rentang waktu yang sangat singkat, mucul lingkaran sihir didepan sebuah mansion yang terletak didalam hutan
"Nah, ini tempat tinggal kami" ucap sosok bersurai putih yang baru saja muncul dari lingkaran sihir itu.
Mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar di tengah hutan yang terlihat dikelilingi kekkai. Sebuah taman serta gubuk kecil menghiasi bagian depan mansion itu.
"sugoi~ne, tempat yang benar benar indah"
" ah, sudah lama aku tak kesini " ucap Naruto bermonolog seraya melihat sekeliling.
" Eh, kau pernah kesini onii-chan ?"
"Um, mansion ini pernah menjadi tempat tinggal sementaraku" Naruto memandang teduh seekor kupu kupu yang hinggap disebuah bunga dipinggirnya. Memang benar, mansion ini adalah pernah menjadi tempat tinggalnya ketika ia masih dalam masa pelatihan
Viola hanya terseyum mendengar ucapan senpainya. "Nah, ayo masuk, aku tak mau membuat mereka khawatir karena pergi terlalu lama"
"Mereka ?" beo Asia
"Um, aku tinggal bersama teman temanku Asia-san, nanti akan kukenalkan mereka kepadamu, kau mau kan? "
"Ha'i"
Kurang beberapa langkah lagi, mereka dikejutkan dengan pintu yang tiba tiba didobrak dari dalam
"Kuso?!, dasar dorobo-neko, siapa suruh mandi di siang hari begini, mana pintu kamar mandinya tidak dikunci lagi " ucap sosok yang mendobrak pintu tadi dengan wajah memerah.
"Are, Bikou ?"
Sosok itu kemudian mengalihkan pandangannya."Ah Viola, kenapa kau lama sekali, apa ada masalah ?" jawabnya balik bertanya. Dia adalah Bikou, yokai kera keturunan dari Sun Wukong
"Gomen gomen, aku tadi berbicara dengan Azazel terlebih dahulu, dan bisa tolong bantu aku membawakan barang belanjaan ini?" ucap gadis bersurai keperakan itu seraya menyodorkan kantong plastik berisi belanjaannya tadi
"Ah, tentu saja" Bikou lalu mengambil dua kantong plastik besar dari tangan Viola."Nee~ Viola, entah kenapa, tapi aku berpikir bahwa kau belanja lebih banyak dari biasanya Viola" ucap yokai kera itu melihat isi dari kantong plastik yang diberikan Viola dengan pandangan heran
"Maa~, itu karena hari ini kita kedatangan tamu spesial, jadi kita akan masak lebih banyak" Ucap Viola melirik Senpainya dan Asia yang belum disadari oleh Bikou
"Siapa?"
"Are? Kau tak menyadariku heh?! aku sudah disini dari tadi loh" seru Naruto dengan nada meremehkan."Kurasa kau harus lebih giat berliatih lagi ne~"
Bikou lalu menolehkan kepalanya kearah sumber suara tadi. Disana, pandangannya menangkap dua sosok berbeda gender berambut pirang keemasan. "Kau?! sepertinya aku mengenalmu...". Bikou menatap intens wajah laki laki yang sepertinya dikenalnya. 'Rambut pirang dan mata keemasan, hmmm' dia menatap laki laki itu dari atas kebawah selama berulang kali sebelum membulatkan matanya tanda terkejut
"K-kau Naruto?!"
"Ahha~, akhirnya kau mengingatku" ucap Naruto tersenyum ramah kemudian mendekati sosok keturunan Sun Wukong itu
"Oi oi, wajarkan kalau aku sedikit lupa, kita bertemu terakhir tiga tahun lalu" ucap Bikou dengan wajah sewot."Lagipula kau terlihat berbeda dari sebelumnya" gumam Bikou
"Hoh~,berbeda seperti apa?" seringai tipis terpampang diwajah pemuda Namikaze itu ketika mendengar komentar dari temannya."Apa aku terlihat lebih dewasa ne?" tanya Naruto tetap mempertahankan seringainya
"Kheh, kau terlalu percaya diri seperti biasa". Benci mengatakannya, tetapi harus ia akui bahwa Naruto yang didepannya sedikit berbeda dari saat dimana terakhir kali mereka bertemu. Karisma yang dikeluarkan pemuda itu, benar benar bisa membuat siapapun mau tak mau harus menunduk hormat.
"Dan ini imoutoku" Naruto mengusap pelan pucuk kepalan Asia. "Bisa kau perkenalkan dirimu ne?"
"Ha'i, watashi wa Namikaze Asia desu~, yoroshiku, Bikou-san" ucap Asia sedikit menundukkan kepalanya lalu mengulurkan tangan unutk menjabat Bikou
"Aku Bikou, yokai kera keturunan Sun Wukong salam kenal, Naruto no imouto"
"Nah, lebih baik kalian segera masuk, kurasa yang lain sudah menunggu"
Mereka berti-, ralat, berempat karena sedari tadi Asia hanya diam mengikuti kakaknya memasuki mansion itu.
"Tadaima"
"Okaerinasai, Viola/Viola nee-san/Viola-chan"
Tiga sosok yang sudah menunggu diruang tamu menjawab salam Viola.
"Viola-nee-san, kenapa lama sekali, Le Fay sudah lapar" ucap seorang gadis kecil bersurai pirang menghampiri Viola, terlihat jelas raut khawatir yang terpancar dari manik dark-blue miliknya. "Apa onee-san bertarung lagi?". Le Fay khawatir, pemimpin dari team mereka ini memiliki jiwa bertarung yang sangat tinggi sehingga terkadang dia melakukan hal hal diluar nalar seperti mengajak duel seorang dewa atau siapapun yang dianggapnya menarik.
Viola hanya tertawa kecil mendengar ucapan polos yang keluar dari bibir gadis bernama Le Fay itu. Memang dia adalah seorang yang maniak bertarung, tetapi sifat itu sudah sedikit ia rubah semenjak mendengar nasehat dari sang senpai.
'Aku tau kau memiliki sifat maniak bertarung dan aku paham itu. Tetapi setidaknya kurangilah kebiasaanmu dan jangan membuat khawatir yang lain. Tidak taukah kau bagaimana pedulinya mereka terhadapmu?!'
"Maa~, tenanglah Le Fay-chan, onee-san hanya bertemu teman lama kok". Memang Viola merahasiakan pertemuannya dengan Naruto beberapa hari lalu, lebih tepatnya saat putra kedua Namikaze itu selesai menjalani pelatihannya.
"Siapa?"
"Mereka" Viola melirik kearah tiga sosok yang berada dibelakangnya
"Yo, hisashiburi, minna ?!" sapa Naruto sembari melambaikan tangannya
"Naruto nii-san ?!" Le Fay tak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika mengetahui bahwa sosok yang telah ia aggap sebagai kakak datang menemuinya. Gadis kecil itu lalu berlari, kemudian melompat untuk memeluk Naruto
Hug?
"Hora!, hati-hati Le Fay-chan, kau bisa jatuh ne" seru Naruto seraya menangkap tubuh Le Fay agar tidak jatuh.
"Uhm, Le Fay sangat merindukan nii-san" Le Fay membenamkan kepalanya disela sela leher Naruto, membuat sang empu kegelian.
"Ha'i ha'i, nii san juga merindukan Le Fay "
Asia yang melihat banyaknya orang asing tentu saja merasa canggung. Naruto yang menyadari kecanggungan adiknya hanya tersenyum maklum
" Imouto, bisa kau perkenalkan dirimu lagi, tenang saja, mereka bukan orang orang jahat kok"pinta Naruto kepada adiknya
"H-ha'i, Hajimemashite, watashi wa Namikaze Asia desu~, putri bungsu lord Minato dan lady Kushina, salam kenal, minna-san "
Semua hanya mengulum senyum melihat Asia yang sudah tak canggung lagi. Tiga orang anggota Viola mulai berjalan mendekati Namikaze-hime itu untuk sekedar berkenalan.
"Arthur, bangsawan salah satu klan penyihir Pendragon, yoroshiku"
"Uhm, Le Fay Pendragon, adik dari Arthur nii-sama, salam kenal onee-san cantik"
" Kuroka, yokai nekomata jenis [nekoshou, salam kenal nyaan"
Asia hanya bisa tersenyum senang ketika mendapati bahwa dirinya telah diterima di keluarga kecil ini. 'tunggu dulu,Kuroka ?' Gadis bersurai pirang itu mengernyitkan dahinya ketika mendengar nama yang sepertinya tidak asing.' D-dia buronan rank SS itu ?!' . Setelah menyadari apa yang aneh, dia lalu menciptakan pedang dari petir berwarna kekuningan, lalu menghunuskannya kearah gadis nekoshou itu.
"Kuroka, buronan rank SS [Mekai, menyerahlah, kau sudah terpojok" ucap dingin Asia disertai KI yang mulai menguar
Seketika suasana menjadi tak enak setelah Asia menghunuskan pedangnya, namun Kuroka hanya tersenyum maklum, nampak sama sekali tak mempersalahkan tindakan dari adik temannya."Turunkan pedangmu, Asia-chan, kita bisa bicara baik-baik". Namun, bukannya menurunkan pedangnya, Asia malah menambah intensitas KI miliknya."Jangan panggil aku seolah kita sudah akrab, buronan" desis gadis pirang itu tajam
"Sudah cukup, turunkan pedang imouto" Naruto yang mengetahui Asia tidak mau mendengarkan perkataan Kuroka hanya menghela nafas, kemudian berjalan mendekati adiknya.
"Tidak onii-chan, buronan sepertinya harus segera ditangkap untuk diadili"
"Kubilang turunkan pedangmu dan dengarkan permintaan Kuroka" Naruto sedikit mencengram pundak sang adik agar mau mendengarkan perintahnya
"Tapi-,"
"Turunkan pedangmu, Namikaze Asia"
Remaja iblis bersurai pirang keemasan itu mengeluarkan sedikit KI agar sang adik mau mendengarkannya. Dia tak tau apa yang terjadi pada adiknya sehingga tidak mau mendengarkan perintahnya
"O-onii-chan" Iris emerald Asia bergetar ketika merasakan KI dari sang kakak. Ketika menoleh, dia mendapati iris keemasan milik kakaknya yang berkilat tajam sedang menatapnya. Asia terkejut, ini kali pertama dia mendapati sang kakak marah padanya.
"Aku tak tau ada apa denganmu, tapi sekarang hilangkan pedangmu dan dengarkan cerita Kuroka"
" ta-tapi?"
"Kau membantahku, Asia?!"
"Ha-ha'i , onii-chan" jawab gadis itu lirih. Dia tidak mau memancing amarah kakaknya lagi. Cukup kali ini saja dia melihat kakaknya marah padanya.
"Kuroka, ceritakan semua padanya"
"Wakatta, Naruto-kun"
Gadis nekoshou bersurai hitam itu lalu enceritakan kisa masa lalunya. Mulai dari bagaimana seluruh klannya dibantai akibat perang saudara hingga bagaimana dia bisa menjadi iblis liar.
"Hiks hiks, go-gomenasai" Asia hanya bisa tertunduk seraya menutupi wajahnya yang terisak dengan kedua telapak tangannya. Dia malu, sangat malu ketika dengan beraninya dia menghunuskan pedang kepada sosok yang bahkan dia tidak mengenalnya sama sekali
Kuroka hanya tersenyum sedih melihat gadis didepannya ini tak berhenti menangis. Mencoba memandang kearah sang kakak, remaja pirang itu hanya mengangguk pelan dengan wajah yang dihiasi senyum bersalah. Yah~, sebenarnya Naruto tak mau melakukan hal seperti tadi, namun apa daya, sesekali adiknya perlu diberi pengajaran.
Grep
Asia merasakan kehangatan menyelimuti dirinya. Tidak salah lagi, kini ada yang sedang memeluknya. Bungsu Namikaze itu kemudian mendongakkan kepalanya, berusaha mencari tau siapa sosok itu, dan dia harus tersentak kaget...lagi, ketika mendapati sosok yang sebelumnya ia hunuskan pedang kearahnya sedang terseyum lembut.
"Daijobu nyan~" ucap Kuroka dengan halus seraya mengusap punggung Asia dengan lembut
"Ke-kenapa?" tanya lirih Asia
"Hm?"
"KENAPA KAU MASIH BERSIKAP SEPERTI INI SETELAH APA YANG BARU SAJA KULAKUKAN PADAMU ?! KENAPA KAU MASIH BISA TERSENYUM KEPADA ORANG YANG BARU SAJA HENDAK MEMBUNUHMU ?!" Asia tak paham. Ada apa dengan kebaikan yang dimiliki oleh perempuan ini? Apakah Kuroka seorang malaikat sehingga dengan mudahnya ia memaafkan seseorang yang hampir saja merenggut nyawanya. "Aku benar benar tak paham"
"Hmm..kau tau? "Kuroka menagkup wajah Asia, lalu menghapus aliran air mata yang menghiasi pipi putih itu. Asia menatap iris emas milik Kuroka, berusaha mencari celah apakah yang dilakukan [Nekoshou] ini adalah nyata ataupun sandiwara belaka. Namun itu sia-sia, dia tetap tidak menemukan kebohongan dari pancaran manik emas indah itu."Ada yang pernah berkata bahwa dunia akan terasa sempit jika kau memiliki banyak musuh" Kuroka lalu menatap Naruto yang sedang tersenyum kearahnya. "Maka dari itu, tak ada gunanya untuk tidak memaafkanmu, lagipula kau juga tak tau tentang awalnya bukan?"
"H-ha'i, gomenasai hiks" ucaP Asialalu memeluk tubuh Kuroka dengan erat, kemudian menangis dipundaknya.
Semua hanya bisa mengulum senyum melihat bagaimana interaksi diantara dua gadis itu. Suasana tetap seperti ini hingga..
Krukk~
Atensi langsung teralihkan kearah Bikou yang sedang memalingkan wajahnya yang memerah malu.
"Hei hei, apakah kalian tidak merasa lapar?" tanya Bikou menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hmm, ucapanmu ada benarnya juga" Viola lalu mengambil kantong plastik yang berisi bahan makanan kemudian berjalan kearah dapur."Kalau begitu aku akan memasak dahulu, senpai dan yang lain tunggulah di ruang makan"
"Chotto matte~, jangan memasak sendiri Viola-chan/onee-san" seru Asia dan Kuroka, lalu mengikuti gadis Lucifer itu pergi ke dapur
"Le Fay juga mau ikut?!"
[line break]
"Jadi, bagaimana keadaan Ophis ?, apakah dia sudah membaik?" tanya Naruto memulai pembicaraan
" Yah, seperti yang kau tau, setelah 'kejadian' itu, kekuatannya jadi menurun drastis, tapi sampai saat ini dia masih berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa energinya, meskipun hanya sedikit demi sedikit" jawab Arthur dengan nada serius.
"Mungkin saat ini dia sudah cukup untuk mengimbangi dua [Trimurti] secara bersamaan" tambah Bikou
'meskipun kekuatannya telah menghilang, dia tetap saja mengerikan' batin Naruto dengan setetes keringat di pelipisnya." Souka~, apa kalian masih sering bertemu dengannya?"
"Sering ? dia bahkan selalu berkunjung kemari "nada serius yang sebelumnya Bikou gunakan berubah menjadi jengkel. Bagimana tidak?!, sosok yang merupakan perwujudan dari ketidak batasan itu juga memiliki nafsu makan yang tidak terbatas. "Dia membuat persediaan kas kami selalu menipis!"
"Apa ada masalah dengan itu, Bikou?"
Tiba tiba muncul sobekan dimensi di belakang Bikou, mengeluarkan sosok gadis loli dengan pakaian kasual yang kemudian duduk disalah satu kursi meja makan. Senyum kecil terulass diwajah imutnya ketika mengetahui bahwa aura sosok yang tadi ia rasakan memang benar dari sini
"O-ophis ?!" seru yokai kera itu dengan mata terbelalak
"Hm?, kudengar kehadiranku disini merepotkanmu Bikou?"
Bikou hanya meneguk ludahnya dengan susah payah mendengar nada datar yang dilontarkan Ophis. U-oh, sepertinya mood dewi naga itu memburuk akibat keluh kesah yang dikeluarkannya tadi. Hey?! Dia tidaklah bodoh untuk membuat Ophis marah, tapi jujur itu memang pahitkan?
"Yo, hisashiburi Ophis"
"Hisashiburi Naruto, kudengar kau langsung membuat masalah setelah kembali ke [Mekai]" balas Ophis dengan wajah yang dihiasi senyuman, meskipun tipis. Ah~, mempunyai emosi memang menyenangkan. Dia tak tahu kenapa tidak dari dulu saja dia bisa tersenyum seperti ini?
"Ara~, aku tidak paham apa maksudmu ne"
"Kheh, dasar sok polos" dengus Bikou dengan pandangan sinis. "Memporak daerah Gremory, lalu menegembalikannya dalam sekejap dengan sihir yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk immortal, lalu menerima tantangan maou Lucifer dengan taruhan yang begitu gila, kurasa kau slaah meletakkan otakmu"
"Are? Tak kusangka kau tau banyak ne~, sasuga! saru-chan~"seru Naruto dengan panadangan dibuat kagum dibarengii dengan nada yang amat menjengkelkan. Tidak, Naruto sama sekali tidak terkejut bagaimana Bikou bisa mengetahui hal ini. Mereka adalah mantan anggota organisasi hitam paling berbahaya didunia, jadi bukanlah hal yang sulit bagi mereka untuk mendapatkan informasi sepenting itu
"G-gh..kisama! Ada apa dengan wajah yang dibuat-buat itu?! Dan jangan panggil aku monyet sialan?!" Bikou menatap teman pirangnya dengan berapi api.
"Tapi kau kan memang monyet" ucap Naruto dengan wajah sok polos
"I-itu...sudahlah. yang penting jangan panggil aku monyet baka-kiiroi!"
Arthur hanya memandang malas kearah dua temannya yang sedang adu argumen tak jelas itu. Hah~, inilah yang terjadi jika Naruto dan Bikou bertemu, mereka pasti bertengkar hanya karena hal sepele, baik itu dari sifat Naruto yang suka sekali membuat masalah ataupun Bikou yang memang sedikit tempramental
"Hora, tak bisakah kalian tenang sedikit ne?" tegur gadis bersurai keperakan model pony tail dengan nada yang penuh penekanan. Iris shapirenya berkilat tajam memandang dua sosok yang nampak terkejut dengan kehadirannya.
"Vi-Viola?!"
"Hah~ kalian ini, tidak bisakah kalau tidak bertengkar jika bertemu?" Viola hanya mengehembuskan nafas lelah. Sungguh, dia juga tak tau kenapa senpainya dan Bikou tidak bisa akur dalam hal sehari-hari. Mungkin karena keduanya memiliki kepribadian yang hampir sama? Sama-sama bukan sosok yang suka menyembunyikan emosinya, dalam artian jauh dari kata cool maupun kalem. Hum hum~, mungkin saja
"Ara Ara~, sudah-sudah, tak baik loh ribut di meja makan" ucap gadis bersurai hitam dibelakang Viola dengan membawa nampan penuh makana. "Are, Ophis? Tumben kau datang kemari saat siang hari"
"Hmm, aku merasakan energi yang dikeluarkannya" ucap Ophis seraya melirik kearah Naruto
"Uwoh~, tak kusangka kau masih bisa merasakannya. Padahal aku sudah menekan hingga titik terendah loh~. Hmm... [Infinite Dragon God] memang luar biasa"
"Kau terlalu memujiku Naruto, dan apakah dia adikmu?" tanya Ophis melihat Asia yang nampak bergetar ketakutan berdiri dibelakang kakaknya. Hey bagaimana tidak?!, kini didepannya ada salah satu eksistensi terkuat yang dikatakan memiliki sifat yang tak bersahabat
"Are, kau kenapa imouto?"
"Onii-chan, dia [ouroboros dragon] itu kan? Kenapa sifatnya agak berbeda dari yang pernah kudengar" cicit Asia sesekali melirik Ophis yang nampak tersenyum kecil padanya
"Daijoubu Naruto no imouto, aku bukan lagi sosok seperti yang kau kenal dulu" ucap Ophis yang mendengar cicitan gadis bersurai pirang keemasan itu. "Semua berubah semenjak aku mengenal kakakmu"
Asia lalu menatap Naruto yang tengah tersenyum sembari menganggukkan kepalanya."bicaralah dengannya, aku yakin kau akan merasa nyaman"
Asia lalu mulai duduk tepat disamping Ophis. "E-etto... anda pernah bertemu dengan Onii-chan?" tanya gadis itu dengan pandangan heran
"Tentu, onii-chanmu ini adalah kenalan lamaku, mau mendengar cerita lama?"
"Uhm!"
Semua lalu larut dalam pembicaraan masing masing yang menghiasi makan siang hari itu
"Nee Viola, buka mulutmu " ucap Naruto seraya mengambil sebuah karage lalu menyodorkannya kearah gadis Lucifer itu
"Sen-senpai " gumam Viola sedikit terkejut keika Naruto hendak menyuapinya. Namun, keterkejutan itu sekejap berubah menjadi senyuman yang amat manis. "Aahhm, oishi desu~"
Naruto terhenyak, desiran aneh menerpa hatinya ketika melihat senyuman yang terulas diparas ayu milik Viola. Dia lalu memejamkan matanya sebentar untuk menenenangkan desiran aneh itu sebelum suara Viola membuyarkannya
"Sekarang giliranmu senpai " balas Viola sembari menyodorkan sepotong tempura
"Ahm, oishi~"
Semua, terutama Asia yang melihat kemesraan sepasang remaja didepan mereka tidak bisa untuk tidak tersenyum dan tak berniat mengganggu . Mereka tau jika Naruto baru saja mengalami hal yang sangat berat,dan mungkin Viola mampu meringankannya
'kaa-san dan tou-san harus tau ini'
[line break]
"Ne ophis ?" tanya Naruto tiba tiba setela
"Nani ?"
"Apa kau bisa mencarikanku calon peerage?". Naruto lalu menceritakan pertemuannya dengan maou Belzeebub dan alasannya kenapa membutuhkan peerage
"Souka, apapun untuk temanku" bayangan kehitaman keluar dari bawah tempat Ophis duduk. Bayangan itu mulai membentuk semacam ular kecil yang mulai menyebar kesegala arah, namun tiba-tiba...
"Cukup! hentikan Ophis" ucap Viola
"Ada apa viola ? kenapa kau mengehntikan Ophis" tanya Naruto keheranan melihat tingkah gadis disampingnya
Viola hanyam tersenyum misterius, lalu melirik kearah teamnya. Anggota teamnya yang paham akan maksud Viola pun hanya tersenyum dan mengangguk setuju
"Senpai tidak perlu mencari peerage, karna kami disini bersedia menjadi peeerage senpai!", ucap tegas Viola yang mebuat Naruto tersentak kaget. " Benarkan minna ?!" dengan penuh semangat, Viola menatap Naruto yang sedang memasang raut wajah terkejut
"Ha'i, menjadi ksatria calon maou Lucifer adalah suatu kebanggaan bagiku" jawab Arthur seraya membenarkan letak kacamatanya
"Yah, apa boleh buat, anggap saja ini hadiah dari temanmu, meskipun kau sedikit menjengkelkan sih~"
"Dengan menjadi peerage Naruto-kun, aku juga bisa bertemu shirone nyan~"
"Menjadi bagian keluarga dari naruto nii san adalah kehormatan bagi Le Fay"
Sementara itu, Naruto hanya tertegun melihat team Viola bersedia menjadi peeragenya."Minna?, apa kalian yakin?!"
"Ha'i ?!"
"Menjadi peerageku sama saja menjadi iblis, kebebasan kalian mungkin terenggut, dan kalian tidak mungkin kembali lagi" Naruto lalu menatap Viola dan teman-temannya satu persatu dengan pandangan serius, sangat serius. Dia terkejut, tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi. "Kutanya sekali lagi, apa kalian yakin?!"
"Ha'i, kami sangat yakin " balas mereka dengan tegas
"Hah~, apa boleh buat, jadi berbaringlah, aku akan segera memulai ritualnya"
Mereka lalu berbaring sesuai perintah Naruto untuk melakukan ritual khas [evil piece]
"Dengan ini, jadilah bagian dari keluargaku !"
Setelah itu, bidak bidak mulai melayang menuju kearah Viola dan yang lainnya, lalu perlahan memasuki tubuh mereka
'hmmm, Viola menjadi queen, Arthur dengan dua knight, kurosa dia sudah berada ditingkat yang sama nii-san.Kuroka dua rock, agak berbeda dari masa lalunya yang menjadi bishop. Lalu Le Fay-chan dengan dua bishop, kurasa itu akibat dia seorang [magician] dan Bikou tiga pawn,mungkin itu akibat kemampuan senjutsu nya. Maa~ ternyata prediksiku tidak terlalu meleset'
"Nah, istirahatlah terlebih dahulu. Nanti sore aku dan Ophis akan melatih kalian menyesuaikan energi ilbis yang ada ditubuh kalian"
" Wakatta"
Setelah itu, Ophis lalu pergi melalui sobekan dimensi yang ia ciptakan, sedangkan yang lain berjalan menuju kamar masing masing untuk beristirahat, termasuk Asia yang diajak oleh Le Fay
"Are? kau tidak istirahat Viola ?" Tanya Naruto melihat Viola yang tidak beranjak dari tempatnya
" Lie, ada yang harus aku biicarakan dengan senpai, jadi kumohon ikuti aku". Viola lalu menarik Naruto menuju gubuk kecil di halaman untuk berbicara
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan Viola "
"Se-sebenarnya... "
"Sebenarnya ?"
"Sebenarnya aku-, tidak, kami sudah mengetahui bahwa Rias Gremory telah mengkhianati senpai sekitar satu tahun lalu"
DEG
"T-tunggu dulu, aku tak paham, apa maksudmu berbicara seperti itu Viola?"
Naruto mengernyitkan dahinya tanda bingung, kenapa Viola tiba-tiba mengatakan hal seperti ini
"Itu sudah jelas senpai, kami mengetahui bahwa tunanganmu telah mengkhianatimu lebih dahulu" ucap lirih Viola dengan menundukkan wajahnya.
"Ja-jadi k-kalian sudah, dari dulu?" tanya Naruto lirih
Viola hanya menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Naruto
"Jika seperti itu... KENAPA KALIAN TIDAK MEMBERITAHUKU DARI DULU SIALAN ?! TAK TAHUKAH KALIAN BAGAIMANA MENYAKITKAN RASANYA KETIKA DIKHIANATI HAH?!" putra kedua lord Namikaze itu berteriak marah menatap Viola yang tetap menundukkan wajahnya. Dia kecewa, ternyata selama ini dia telah berada didalam kebohongan. "Aku benar benar tak percaya kalian bisa menyembunyikan hal sepenting ini padaku?!"
Merasa gadis didepannya tak menanggapi, Naruto lalu mencengkram bahu Viola dengan erat dengan iris keemasan yang berkilat tajam. "TATAP DAN JAWAB AKU VIOLA ?!"
"Hiks"
Namun, alangkah terkejutnya remaja itu pandangannya menangkap aliran air mata yang sudah membasahi pipi putih Viola. Cengkaramannya perlahan mengendur dan kilatan amarah yang terpancar di manik keemasannya telah memudar.
"A-aku b-benar benar tak bermaksud se-seperti itu hiks" Viola mulai menyeka cairan yang membasahi pipinya, namun itu tak berhasil karena air mata miliknya tak mau berhenti. Dia lalu memberanikan diri menatap senpainya. Meskipun padangannya masih ditutupi blur air mata, Viola masih menangkap dengan jelas berbagai emosi yang terpancar dari iris redup Naruto, entah itu marah, kecewa, sedih dan yang lain.
"Lalu..lalu kenapa kalian bisa-bisanya merahasiakan hal sepenting ini padaku, setidaknya berilah kabar ke Olympus sehingga aku bisa mengerti" gumam Naruto lirih. "Setidaknya aku bisa tau bahwa aku tidak hidup dalam kebohongan" Raut amarahnya telah digantikan dengan raut wajah yang tak dapat diartikan ketika melihat gadis didepannya ini menangis.
Benar, baru kali ini ia melihat Viola menitikkan air mata dan rasanya itu sangat tidak mengenakkan, seperti hatinya tersayat oleh pisau tak kasat mata dan dia tak tau mengapa itu bisa terjadi. Tanpa ia sadari, perlahan telapak tangannya bergerak untuk menghapus lelehan air mata yang terus mengalir di pipi gadis didepannya.
Viola tersentak kaget ketika mendapati tangan Naruto mengusap pipinya. Sedikit tersenyum, gadis itu lalu menggenggam tangan senpainya dengan lembut. "I-itu karena a-aku mencintaimu, senpai"
Cut -
Yo~ lama tak jumpa?! Maa~ baru seminggu bukan?
Yeah, 7k word dengan sedikit konflik dan flasback, aku benar benar berjuang keras untuk hal ini kalian tahu?. Aku masih sempatkan untuk menulis, maksudku mengetik meskipun tugas tugas SMK melimpah ruah.
Dan untuk saudari Viola, kenapa Tomoe?( tomoe gozen fgo lho ya, bukan dari chara dxd), yah, ini merupakan saran dari teman temanku, lagi pula mereka kembar kan, jadi kalian tak sulit untuk membayangkan wajahnya.
Oh iya, aku mau tanya, baiknya Akeno masuk di sisi Naruto atau Rias yah... aku mau minta jawaban kalian tentang ini, tulis di review oke?
Dan untuk pair, kurasa dua sudah cukup kan? Atau kalian mau tambah?, maa~ aku juga minta tanggapan kalian tentang ini
Sekian dariku~
Mur4s4me out
