Dan haloo lagi buat kalian semua disini, juga tak terasa sekali waktu puasa sudah habis dan juga lebaran sudah terlewat jadi berharap saja semoga ketemu puasa tahun depan lagi dan selaku bagi sang Author ini mengucapkan selamat hari raya idul fitri jadi mohon maaf untuk semuanya yang pernah bermasalah dengan saya meski gak tau yang mana orangnya dan juga maaf telah ngasih dosa dengan buat lemon (bangke :v) tapi apapun itu yah jangan nafsu yang namanya tulisan doang karena gak begitu nyata yah, tapi disini saya tetap lanjutkan chapter selanjutnya karena ini sudah lama terbengkalai begitu dan saya agak aneh sih ah whaever.

P.s : kayaknya pertengahan tahun atau apalah banyak banget anime Isekai yang keluar yah, meski ini genre mainstream tapi tetap saja laku dan rame di pasar buktinya anime dibuat dan sedangkan yang lain enggak karena minatnya saja.

.

...

.

- Stadium

Bunyi bel berakhirnya Shokugeki telah terdengar dan menandakan masakan sudah siap dan kini tinggal diberi penilaian makanan mana yang layak untuk jadi pemenangannya karena pertandingan ini menggunakan macam jenis taruhan jadi tidak bisa main-main.

Kedua peserta sudah selesai membuat dan juga tiga orang juri yang disiapkan sudah duduk disana ada dua orang laki-laki dan satu perempuan biasanya yang jadi juri itu berasal dari pemilik restaurant ternama, koki yang ahli, dan juga para pengkritik makanan karena mereka hafal soal ini atau terkadang mengundang tamu seperti artis atau produser.

Yang wanita berambut hitam pemilik restauran tradisional Jepang 'Kuraki' bernama Shigeno, dan seorang lelaki paruh baya pengkritis makanan dengan setelan rapi bernama Yoshiki, dan seorang Sutrada Acara tv show bernama Okamoto.

Semuanya diam membisu tanpa ada satupun bicara dan akhirnya Ikumi yang maju terlebih dahulu dengan wajah sangat percaya diri sekali bisa menang dengan sangat mudah dan memberikan tiga mangkuk berisi makanan kepada Juri.

"Ini adalah Gyuniku Pan Don dengan daging AB" ucap Ikumi memperkenalkan makanan yang disajikan

"Ohhh, aku belum pernah Daging Don seperti ini yang diukir seperti bunga" ucap Shigeno mulai mengambil sesuap dan memasukan itu ke dalam mulutnya hingga ditelan melewati tenggorokannya dan mulai merasakan efeknya 'rasanya benar-benar enak sekali!' dia tersenyum bahagia.

"Ini kelezatan mendalam dari Daging AB ini dan juga Daging ini dibakar seperti api malaikat" ucap Yoshiki yang memberi pendapat tentang makanan yang disajikan ini dengan heran 'dia memanggang dagingnya tegak lurus dengan arah serat dan begitu panasnya hanya masuk lewat satu arah hingga airnya keluar, bahkan ketelitian ini sangat jeli sekali'

"Dan di dalam daging itu ada nasi bawang dengan lemak sapi dan mentega" ucap Okamoto memberi komentar juga dan dia hanya seperti itu karena kurang ahli seperti ini "masakan ini dibuat dengan luar biasa bahkan mungkin saja aku bisa nambah dua atau tiga mangkuk lagi"

'Hm, bagaimana itu? apakah kau bisa mengalahkan daging buatanku?' Ikumi tersenyum sinis dan menyombongkan diri.

"Dia kayaknya tenang sekali" ucap Konichi yang melihat wajah kalem Souma seperti tak tertekan berat sekali.

"Yah... dia memang seperti itu" ucap Megumi terkekeh.

"Jadi, ngomong-ngomong Yukihira apa nama masakanmu?" Urara bertanya.

"Aku membuat Suteniku Shalyapin ala Yukihira" ucap Souma mempersembahkan makanannya.

"Daging yang murah ya.." ucap Yoshiki dengan tangan di dagu menunjukan raut wajah tak tertarik sekali karena dia tau apa yang akan terjadi dengan masakan itu jika bahannya murah "dan melembutkannya dengan bawang tapi, itu mustahil setelah masakan luar biasa tadi"

"Hahaha mungkin setelah ini aku ingin pulang saja" ucap Okamoto tertawa garing.

"Astaga kalian seperti biasa menilai sampul lebih dulu" ucap Shigeno menutup mulutnya tertawa kecil "tapi, aku yakin anak muda membuat sesuatu yang berbeda sekali"

Souma membuka tutup panci dan menunjukan masakan miliknya yang sangat terlihat menggoda sekali bahkan para juri dibuat mematung dengan tampilan masakan itu yang sangat luar biasa sekali dan aroma yang sedap juga bahkan tak kalah dengan masakan Ikumi tapi milik Souma agak terlihat lebih baik.

"Yah, kalian coba saja lebih dulu" ucap Souma dengan grin yang menyebalkan dan akhirnya ketiga juri itu mulai mencicipinya.

'Hah, itu mustahil masakan dia bisa melampaui milikku' batin Ikumi tapi dia terkejut melihat reaksi para juri yang sangat lahap sekali memakan masakan Souma seperti orang yang sudah lama tak makan 'apa?! bagaimana bisa?'

"Kelembutan dagingnya sangat terasa sekali, dan bukan hanya itu potongan bawang goreng yang tersusun rapi ini menggairahkan selera makan!" ucap Yoshiki sangat terkejut dengan rasa hebat di mulutnya "dia memasukan Anggur merah ke dalam panci ketika memasak daging hingga airnya menjadi pekat dan menggunakan air ketika menggoreng bawangnya!"

"Dan dia juga menggunakan saripati kentang yang dicampur air untuk memberikan ketebalan" ucap Okamoto merasa sangat terheran "aku tidak percaya bahwa saus ini bisa dicampurkan dengan nasi daging ini"

"Dia membuat modifikasi memasak bawang yang tak pernah dilakukan pada stik shalyapin untuk membuat saus spesial ini" ucap Shigeno memberi komentar juga "dan lagi rasa yang tertata rapi oleh kecap tepung kering, dengan tambahan nasi gosong"

"Daging dan sausnya bisa diartikan semakin banyak kau makan maka semakin lapar yang dirasa" ucap Yoshiki merasa mulutnya tak ingin berhenti untuk makan dan sambil mengamati semua bahan yang dibuat ke dalam masakan ini "dan juga rahasianya ada pada nasi dan trik lain di dalamnya"

"Sebenarnya aku menggunakan ini" ucap Souma memegang toples berisi sesuatu warna merah " Uriefuumi meshi"

"Ohhhh, acar prem? pantas saja" ucap Yoshiki yang masih terkejut karena menggunakan bahan yang simple tapi rasanya sangat hebat sekali dan akhirnya dia kembali makan karena mulutnya tak berhenti 'stick wangi dengan tekstur halus, tingkat kepadatan saus, rasa nasi yang dicampur acar plum ini, mereka semua menyatu dan membentuk kelezatan satu'

"Yah.. sudah habis" ucap Okamoto kecewa karena karena sibuknya makan dan tak terasa sudah habis.

"Apakah bisa minta tambahan porsi?" ucap wanita itu mengangkat tangannya.

"Segera datang" ucap Souma yang sudah menyiapkan itu dan buat jaga-jaga jika ada yang nambah.

Ikumi diam memantung karena shock dan tak percaya dari reaksi juri itu yang sangat berbeda sekali ketika mereka mencicipi masakannya seolah dia sudah merasa kalah, dan dia bingung bagaimana bisa daging kualitas AB miliknya bisa kalah dengan daging kualitas rendah itu.

gadis pirang itu mengepal tangannya dan mencari tau apa yang salah dengan masakannya namun tersadar bahwa nasi di masakan miliknya tak habis atau mereka hanya makan beberapa jadi, itulah kenapa miliknya bisa kalah yaitu terletak pada nasinya.

Souma sumeringah melihat reaksi gadis kulit coklat itu "kau sepertinya sudah tau apa yang menjadi masalah dalam masakanmu itu?" membuat gadis itu menoleh ke belakang "dan sudah jelas kau lebih memilih meningkatkan kualitas daging yang terbaik dan membuat kelezatan yang hebat tapi, kau lupa bagaimana juga membuat nasi bawang itu agar bisa menciptakan rasa yang saling menyatu dan sudah jelas jika kau tak fokus keduanya maka bakal menciptakan rasa yang saling bentrok maka dari itu nasi milikmu tak habis"

"Dan seharusnya kau mengerti istilah Don adalah dua masakan yang menyatu dalam sebuah satu wadah itu sendiri" lelaki berambut merah ini selesai menjelaskannya

"Mustahil teori yang tak masuk akal itu!" terial Ikumi menyangkal dan tak bisa diterima.

Tapi, Souma hanya menyodorkan masakannya "kalau kau bilang begitu, kenapa tak coba rasakan saja?"

Ikumi menerima itu dia lalu mencicipinya dan ketika masuk ke dalam mulutnya rasa yang luar biasa sekali sehingga dia tak sadar ingin tetap terus makan tanpa henti dan juga sadar bahwa masakan miliknya itu sangat beda jauh dengan milik Souma.

Meskipun mulutnya tak mau mengakui itu tapi tubuhnya yang lain berkata berbeda bahwa ini enak dan gadis itu berhenti sejenak untuk menghebuskan nafas tampak warna merah di pipinya dan kembali makan lagi namun dia teringat ketika moment dirinya waktu kecil.

"Ikumi! keluarga kita tak perlu melakukan hal seperti itu!"

"Jadilah kuat dan banggakan keluarga kita!"

"Kau harus tetap menang dengan caramu sendiri!"

'Ah, sial aku ingat lagi' batin Ikumi yang tak ingin mengingat masa buruk itu lagi tapi makanan ini memaksanya untuk kembali flashback tapi terlihat ini tak begitu buruk 'dengan caraku dan menjadi diriku sendiri huh?'

"Baiklah silahkan para juri memberi penilaian" ucap Urara dan para juri menekan tombol mereka dan hasil sudah ditentukan di papan skor.

Yukihira Souma : 3 Point

Mito Ikumi : 0 Point

"Sulit dipercaya! tapi pemenangnya adalah Yukihira Souma!" ucap Urara berteriak tak percaya.

"It's Nothing" ucap Souma melepas ikat kepalanya.

"Huwaaa! kau hebat Yukihira!" teriak Konichi dengan air mata haru sekali.

"Kau berhasil Souma-Kun!" ucap Megumi ikut bahagia juga dengan kemenangan ini.

Dan membuat para penonton diam tak percaya kenapa anak baru itu bisa menang melawan Mito Ikumi yang memiliki keahlian dalam masakan Daging bahkan itu sulit dicerna oleh logika saja.

Erina melihat itu dari atas memasang wajah tak mood atau kesal yang ditahan lalu pergi dari kursinya "Hisako tolong kosongkan semua dapur yang sudah aku berikan" dia mengibas rambutnya.

"Baiklah" gadis berambut pendek itu hanya patuh saja.

Souma menghampiri gadis itu "sudah selesai sekarang Nikumi"

"Jangan ngawur! kau cuma beruntung saja!" teriak Ikumi sambil menunjuk kesal "dan juga jangan panggil namaku seperti itu!"

"Tidak maksudku nama kau cukup manis jika menggunakan Hiragana" ucap Souma yang tak sadar dia sedang merayu "dan selamat bergabung dengan klub" dia menunjukan senyum cerah bersahabat dan bahagia sekali.

Ikumi hanya tersentak dengan rona pink di pipinya, dia merasa wajahnya panas karena pujian itu dan jantungnya berdetuk tak karuan seperti terasa sakit namun rasa aneh ini tak begitu buruk sambil memegang dadanya.

"Dasar bodoh!" teriak Ikumi berlari meninggalkan arena dengan rasa malu yang hebat.

"Dia kenapa?" Souma bingung sambil memiringkan kepalanya padahal dia ingin mencicipi masakan gadis itu.

"Kau benar-benar tak peka nak" Konichi hanya sweatdrop karena dia sadar dengan reaksi itu.

.

.

.

.

.

- Klub Penelitian Don

Ikumi datang ke tempat ini karena sesuai dengan taruhan bahwa jika dirinya kalah maka harus bergabung ke klub ini dan sepertinya dia menepati janji itu tapi, ada yang berbeda dari penampilan gadis itu yang biasanya terbuka kali ini tertutup rapi.

'Bagaimana dengan penampilanku yah' Ikumi melihat dirinya sendiri ke cermin untuk memperbaiki rambutnya agar tak berantakan 'ah, sepertinya ini tak begitu buruk juga'

Dia teringat senyuman laki-laki itu yang membuat pipinya panas malu dan buru-buru dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan fikiran aneh itu lalu dia menghela nafas untuk memantapkan diri dan akhirnya masuk ke dalam.

Namun yang dia lihat disana ada Konichi saja dan tak nampak dia melihat lelaki berambut merah itu di sekeliling.

"Oh, kau sudah tiba Mito" sang ketua klub menyapa gadis itu.

"Kenapa hanya aku saja dimana Souma?" Ikumi melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan lelaki itu "padahal aku sudah terpaksa kesini gara-gara dia" dia sudah mengenakan pakaian pantas yang rapi dan tertutup.

"Soal itu..." ucap Konichi tersenyum canggung dan tak tau harus menjelaskan seperti apa "dia tak bergabung ke dalam klub dan hanya ingin melihat-lihat saja katanya tapi, katanya dia akan sering-sering berkunjung kemari"

"Hah?..." Ikumi termenung dan shock tak tau harus berbuat apa.

"Yah, karena keuangan klub sudah membaik berarti klub Don kembali bangkit" ucap ketua klub itu memegang pundaknya dengan wajah penuh berkilauan "jadi aku serahkan semuanya kepadamu Nikumi"

Muncul perempatan siku di dahi gadis itu sambil mengepal tangannya sangat jengkel sekali lalu berteriak keras.

"JANGAN PANGGIL NAMAKU SEPERTI ITU!"

"Uahhhhhhhh!"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Asrama Bintang Polar

"Hoammzz benar-benar melelahkan kemarin"

Souma menguap sambil menuruni tangga dengan mata yang masih setengah ngantuk dan sudah merasa baikan setelah Shokugeki kemarin apalagi waktu itu dia begadang tanpa tidur sama sekali jadi sudah pasti kelelahan. sebenarnya dia masih ingin tidur tapi Isshiki-Senpai memanggilnya untuk bantu-bantu di Halaman Belakang Asrama.

Gadis kuncir dua pendek menyapa lelaki itu "ohh, kau sudah bangun rupanya Yukihira"

"Yah, aku tadi dipanggil Isshiki-Senpai untuk membantu" ucap Souma dengan kedua tangan di belakang kepala "ngomong-ngomong dimana yang lainnya?" dia tak melihat sama sekali satu orang pun disini.

"Kalau Ibusaki sedang ke hutan memotong kayu untuk bahan bakar, Ryoukou sendiri di ruang kerja pribadinya sedang melakukan Shiokouji" jawab Yuuki.

"Lalu kau?" Souma bertanya lagi.

"Kalau aku malah merawat dan membesarkan Ayam Breece" jawab Yuuki dengan tanda dua jari.

Semuanya memang memiliki aktifitas dan kegiatan masing-masing di Asrama ini bahkan tak ada yang nggangur dan juga memang aktifitas ini adalah cara atau gaya memasak mereka yang berbeda-beda dan tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di Halaman Belakang.

"Ya, ampun ini malah lebih mirip seperti Perkebunan" ucap Souma kagum dengan jumlah dan jenis buah, sayuran yang tertanam disini.

Dan suara familiar datang "oh, Souma-kun dan Yoshino-kun sudah datang, sebaiknya kalian olahraga di pagi seperti ini karena sangat cocok untuk fisik dan penuh keringat masa muda" sang senpai berdiri tegak dengan celemek bugil yang jadi ciri khasnya dan pesona kilauannya yang tampak absurd sekali.

"Sugoi-ne" ucap Souma sweatdrop dan gadis di sampingnya hanya terkekeh saja.

"Oh, Souma-kun datang dan lihat aku memetik buah sebanyak ini"

Ucap sang gadis berkepang dua yang datang dengan mengenakan pakaian petani ala pedesaan yang sangat cocok sekali untuk gadis itu karena memang dia berasal dari sana dengan sekeranjang buah dan sayuran yang baru saja dipetik langsung dari kebun.

"Kau lumayan cocok juga dengan itu" ucap Souma memuji dan gadis itu tersipu malu "ngomong-ngomong aku minta ini satu" dia mencomot tomat tapi gadis itu tak keberatan sama sekali.

"Sebenarnya mengetahui cara mematangkan bahan makanan merupakan bagian dari belajar juga" ucap Megumi sambil sedikit melirik seseorang namun orang itu tak sadar "meski dibilang semuanya membantu ini sebenarnya milik Isshiki-Senpai karena ide seperti ini berasal darinya"

"Ah, Tadokoro-chan sebenarnya ini milik kita bersama asalkan kalian rajin merawatnya dan menanam itu disini" ucap Isshiki tersenyum tanpa dosa "meski sedikit mengganggu karena aku fokus ke kebun ini tapi, absensi kelas aku selalu hadir"

Dan akhirnya Souma membantu lainnya mulai dari menanam bibit, menyiram kebun, memberi pupuk, dan memetik hasil yang sudah terlihat pas dan matang untuk diambil. juga Ibusaki dan Ryoukou datang untuk membantu juga.

"Ngomong-ngomong soal ini, aku belum makan apapun sejak pagi" ucap Souma memegang perutnya yang kosong.

"Disini juga sama" balas Yuuki duduk lemas tak berdaya.

"Kebetulan sekali aku buat ini dan banyak pula" ucap Megumi membawa kotak bekal besar dan cukup untuk banyak orang.

"Kau buat apa Megumi?" Souma langsung seenaknya mengambil kotak bekal itu tanpa mendengar sedikitpun gadis itu ingin bicara tapi Megumi tak terlihat marah dan membuka bekal itu "Ohhh, Onigiri Taisan ya dengan butiran bawang putih kering di atasnya" dia tau jenis makanan ini.

"Kau tampaknya sudah tau tentang ini Souma-kun" ucap Megumi tak heran jika lelaki ini.

"Yah, yang seperti ini biasa ada di rumah makan kecil yang ada di pinggir jalan" jawab Souma "tapi kebanyakan yang seperti ini memang sering dibuat sendiri karena mudah"

"Onigiri yang berbentuk sedang dengan yang ada di dalamnya diisi berbagai macam hal seperti potongan daging ayam, telur goreng, keju dan lain-lainnya" ucap Isshiki mulai memakan itu dan terasa segar sekali di mulutnya "rasanya asin dan malah membangkitkan nafsu makanku"

"Memang makanan seperti ini cukup cocok untuk orang-orang yang istirahat setelah berkerja berat" ucap Ibusaki tetap mode wajah datar meski matanya tak terlihat dan mulai memakan itu sambil merasakan bahan makanan yang ada di mulutnya "disini ada saus Negishiodare, dengan rasa manis keju, dan bawang putih yang membuatmu ketagihan"

"Oh, itu sebenarnya aku juga menambahkan daging Babi dan Madu" ucap Megumi tertawa malu "oh, dan juga aku sudah membawa teh hijau jadi silahkan nikmati sesuka kalian"

Isshiki menghela nafas lega "ahhh, masakan Tadokoro-chan memang nikmat sekali"

"Memang ini dibuat dengan hebat dan rasa yang luar biasa" ucap Souma memuji keahlian membuat itu dan menoleh ke gadis berambut biru gelap itu "tapi, yang membuatku aneh kenapa kau tak pernah melakukan itu di kelas?" ucapan itu sangat nyelekit sekali seperti tertusuk pisau tepat di jantung.

"Kau jujur banget Yukihira" Yuuki sweatdrop.

Megumi tertunduk suram sekali "soalnya aku tak pede sekali di depan banyak orang dan aku benar-benar terkena penyakit demam panggung"

"Oh, cobalah kau telanjang dan hadapkan dirimu ke cermin sambil bicara sendiri dan biasanya itu manjur" ucap Souma memberi saran dan biasanya dengan cara itu cukup efektif.

"Ngomong-ngomong apa ini?" Souma bertanya yang melihat brosur kertas ajakan yang bertuliskan 'Persahabatan dan Pelatihan Penginapan'

"Waktunya sudah tiba huh?" ucap Yuuki yang tau isi dari undangan itu.

"Yah, Semua asrama harus ikut serta khusus untuk kelas satu" ucap Ibusaki.

Sebenarnya bagi yang belum mengetahui ini mungkin sekedar undangan pelatihan masakan biasa namun, bagi yang sudah lama disini bakal tau latihan itu lebih mirip seperti latihan tentara yang sangat keras sekali dan siapapun bakal ketakutan soal ini jika memiliki skill pas-pasan.

Karena ini sebuah Camp latihan memasak yang akan dilaksanakan di sebuah Gunung yang jauh dari masyarakat istilahnya terpencil dan bagi siapa saja yang mendapat nilai kurang memuaskan di latihan ini bakal langsung dikeluarkan.

"Ini adalah kompetisi pendidikan Tootsuki dengan tahap awal" ucap Isshiki.

"Ngomong-ngomong Senpai pernah mengikuti ini yah?" tanya Ryoukou.

"Yah, memang benar sih" jawab Isshiki mengangguk "dan bahkan tahun angkatanku dikeluarkan setiap harinya dan murid yang tadinya 100 persen kini sudah jadi setengahnya karena gagal kompetisi di awal" dan seketika Megumi pingsan di tempat karena ancaman itu.

Souma hanya melihat brosur itu dengan wajah kalem sekali "ohh, kartu tarot boleh dibawa dan juga apa ini! Masa gak boleh bawa Psp?! dan waktu mandinya singkat sekali?!" dia kesal dengan peraturan ini tanpa peduli sangat mencekamnya pelatihan atau bisa dibilang dia masa bodo dengan ancaman.

"Kau yang paling tenang sekali disini Yukihira-kun" ucap Ryoukou tertawa kecil "apakah kau tak merasa tertekan sama sekali?"

"Untuk apa panik? lagipula yang kita lakukan adalah hanya menjadi bagian setengah itu bukan?" jawab Souma dengan mantap dan Isshiki hanya tersenyum juga.

Yuuki mengepal tangannya penuh semangat "benar, juga jadi kita harus masuk dibagian setengah itu dan tak boleh menyerah begitu saja"

"Entah kenapa agak aneh jika kau yang bilang" ucap Ibusaki tak yakin.

"Yang terpenting jangan memalukan asrama ini dan kalian semua harus bisa kembali pulang!" ucap Isshiki memberi semangat kepada para kouhainya.

"Houuu!"

Dan semua mengangkat tangan kompak.

.

.

.

.

.

- Di Perjalanan

Semua murid dari Tootsuki tingkatan pertama kini yang akan melakukan camp latihan atau yang biasa disebut kompentisi memasak Tootsuki bagian pertama dan tentu saja hanya dikhususkan untuk murid kelas satu dengan bertujuan membuat permata yang indah jika itu istilahnya.

Dan semuanya menaiki Bus dengan jumlah banyak menuju lokasi yang ditentukan, sesuai yang dibilang bahwa tempat itu terpencil dan jauh dari masyarakat itu terbukti dengan rute jalan yang mereka lewati hutan lebat dan pemandangan pegunungan jadi tak usah heran jika ini disebut latihan Neraka.

"Ngomong-ngomong tempat seperti apa yang akan kita untuk latihan?" Souma bertanya kepada gadis berambut ungu di sampingnya sambil membaca semua brosur itu.

"Kalau tak salah Hotel bintang 5 megah, mewah, besar, dan juga luas" jawab Ryoukou menoleh ke kanan "dan juga Hotel itu sudah disewa oleh Tootsuki sebagai tempat latihan jadi, bagi orang-orang yang ingin menyewanya itu tak bisa sebelum latihan ini selesai"

"Memang ada yang seperti itu?" Souma merasa keheranan.

"Ini ada Tootsuki sekolah paling hebat dan kaya di Jepang jadi seperti itu adalah wajar" jawab Ibusaki yang duduk di belakang Souma "secara mudahnya banyak penginapan atau resort yang dikelola oleh Tootsuki dan banyak lulusan yang ingin bekerja memasak disini"

"Kalau begitu aku takkan bertanya lagi" ucap Souma mengangkat tangannya dan yang dia tau Hotel dengan sekitarnya juga milik Academy ini jadi jangan heran jika Tootsuki sekolah terkaya di Jepang dan banyak yang menimba ilmu disana.

"Nah, mungkin kau bisa melihat Hotel yang akan kita tempati" ucap Ryoukou menunjukan Hotel mereka untuk latihan melalui Smartphone miliknya.

"Luar biasa" Souma geleng-geleng kagum dan sesuai dengan yang dibicarakan.

"Dan yang aku dengar Uang sewa Hotel itu semalam senilai 80.000 Yen" ucap Megumi membuat Souma dan Yuuki mulutnya menganga karena shock dengan harganya.

"Buset! yang benar saja, Harga segitu sudah bisa bayar uang sewa kontrakan normal selama setahun" ucap Souma sangat terkejut dan harganya di atas orang normal sekali dan memang khusus untuk orang-orang yang memiliki kantong lebih.

"Ah, aku senang kita bisa memakai Hotel ini" ucap Yuuki bahagia sekali karena sebagai orang biasa mencoba Hotel mewah ini sangat langka.

"Yah, itupun jika kau masih bertahan lama dalam tes ini" balas Ibusaki merusak suasana.

"Plrtt kau enggak asik sekali" ucap Yuuki menjulurkan lidah.

"Aku hanya bicara realistis tau" ucap Ibusaki.

Souma menguap lebar "uahhhh! ya sudah deh! jika kita tau tempatnya jadi tinggal memikirkan bagaimana melewati tes itu" dia masih merasakan efek ngantuk itu meski sudah tidur dan memang belum cukup.

"Kau benar-benar keliatan ingin tidur Yukihira-kun" Ryoukou bertanya.

"Yeah Sasaki, ini soalnya aku begadang tiga hari tiga malam dan tidur cuman sebentar" ucap Souma mengucek kantung matanya "dan setelah itu aku benar-benar tak bisa tidur sama sekali"

Gadis cantik itu hanya tersenyum dan merangkul kepala Souma dengan tangannya "cobalah kemari" dia menaruh itu di pangkuannya sambil mengelus rambutnya.

"Hmmmm, kenapa Sasaki?" Souma bingung dan tak mengerti sama sekali tapi ini tak begitu buruk juga.

"Biasanya orang akan tertidur seperti ini jika tak bisa tidur" jawab Ryoukou dengan senyum dan jari-jemarinya masih mengelus rambut merahnya "dan sebaiknya kau tidur saja jika lelah"

'Ah, ini memang sangat nyaman atau mungkin saja aku benar-benar lelah sekali' batin Souma merasa sangat nyaman di pangkuan gadis itu dan serasa ingin tidur hingga akhirnya dia menutup matanya.

Namun meski begitu ada sepasang wajah yang tak senang dengan itu.

'Uhhhh dasar cari muka!'

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Hotel Tootsuki

Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya semua murid-murid Tootsuki tahun pertama telah sampai di Hotel dan sesuai yang diprediksi tempat penginapan yang akan dijadikan camp latihan sangat besar, tinggi, dan penuh kemewahan jadi tak heran hanya orang yang berkantung tebal saja yang bisa menginap disini.

Dan juga lokasi di Hotel ini berada di antara kaki Gunung Fuji dan Pegunungan Ashinoko yang juga daerah khusus ini sangat terkenal untuk penginapan berkelas dan juga beberapa resort untuk liburan musim panas.

Dan sekarang semua murid sudah berkumpul di Ballroom untuk dikumpulkan jadi satu dan tak seperti biasanya yang ramai tapi di ruangan ini sangat sunyi sekali hingga tanpa suara apapun yang keluar dan juga terlihat beberapa murid yang memasang wajah cemas, gelisah, dan banyak fikiran. itu menandakan bahwa camp pelatihan ini memang sangat sulit sekali.

Hal itu wajar saja mengingat presentase lulus sangat kecil sekali dan bagi siapapun yang gagal akan langsung keluar dan hanya setengah saja yang lulus jadi yang difikirkan adalah bagaimana caranya lulus dan masuk bagian setengah itu.

"Hening banget" Souma berkomentar sambil tolak pinggang.

"Kufikir itu wajar karena semuanya tak tau apakah lulus atau tidak" balas Megumi yang bahkan khawatir pada diri sendiri yang entah bakal lulus atau tidak.

Souma melihat figure yang tak asing dan menyapanya "ah, Nikumi! ternyata kau ada disini juga" gadis itu terkejut sekali dan melihat ke belakang sedangkan Souma hanya melambaikan tangannya seolah sudah akrab.

"Tunggu, kenapa kau memanggilnya seperti itu?" Yuuki sweatdrop.

"Lagipula dia gak mempermasalahkan itu" balas Souma.

"Siapa bilang aku memberimu izin!" Ikumi protes dan dia mendengar bisik-bisik murid lain di belakang dan di arahkan ke lelaki itu "uhmm, Yukihira kau seharusnya sedikit hati-hati" dia memasang wajah serius dan Souma hanya bingung dengan memiringkan kepala.

Dan tak lama sebuah mic speaker berbunyi dan semuanya menoleh ke arah panggung di depan.

"Baiklah selamat pagi murid-murid sekalian tolong perhatikan kesini dan aku akan jelaskan semuanya"

"Hei, itu guru yang kemarin" Souma mengenalnya karena waktu itu bagian pelajaran masakan Prancis

Camp pelatihan persahabatan ini yang dijadwalak selama 3 hari 3 malam dan setiap hari semua murid akan diberi tugas memasak dan tergantung juga variasi tugas memasak itu, untuk dihari pertama setiap murid akan dibagi 20 grup. jika penilaian guru atau pembimbing rendah maka secara otomatis gagal dan kembali pulang dan setelah ini selesai maka para murid ditempatkan pada sudah disiapkan.

"Ngomong-ngomong soal juri kami sudah menyiapkan yang spesial meskipun sedang sibuk tapi mereka menyempatkan diri untuk ikut serta" ucap Capelle mengarahkan tangannya ke kiri "dan mereka adalah orang-orang jenius yang berhasil dengan nilai tinggi dan juga mereka termaksud dalam alumni Tootsuki"

Dan muncul beberapa orang laki-laki dan perempuan yang muncul dengan menggunakan pakaian koki khas mereka masing dan juga wajah mereka sudah tak asing sekali bagi murid-murid yang sudah lama berada di Tootsuki dan mereka memang sudah sangat terkenal.

Seorang pria tampan paruh baya, tinggi, dengan gaya mohawk di kedua sisi hitam dan rambut sedikit berantakan dengan sisir poni ke kiri, mengenakan kacamata, anting magnet di telinga kiri, dan seperti dasi merah yang melingkar di leher. memimpin di depan dengan para koki yang mengikutinya di belakang.

"Hey, kau bocah dengan luka di alis" orang itu bicara dan Souma menunjuk dirinya sendiri "ah, Maaf maksudku sebelah kananmu" dan orang di samping menunjuk.

"Ah, iya kau karena bau rambutmu yang mengganggu aroma makanan maka kau keluar" orang itu bicara tanpa basa basi membuat yang lain terkejut "ngomong-ngomong penampilan diri itu sangat penting karena yang ada kau tak bisa menarik perhatian pelanggan sekali"

"Tunggu! itu gak beralasan sama sekali!" salah satu murid itu protes

Koki tadi memberi tatapan tajam "jika itu terjadi, apakah kau mau bertanggung jawab atas tutupnya tokoku?" dan murid itu akhirnya tertunduk lemas dan orang itu bernama Shinomiya Kojiro seorang Koki dan pemilik resturant Prancis juga orang Jepang pertama yang mendapatkan medali Pusrusupooru di Prancis.

Di samping Shinomiya seorang wanita tubuh kecil, berambut pendek warna hijau, dengan tatapan mata datar bernama Mizuhara Fuyumi pemilik restaurant Italia 'Ristaurante F' dan seorang lelaki berambut hitam agak gondrong, dengan alis tebal hitam bernama Sekimori Hitoshi pemilik restaurant Sushi 'Ginza Hinowa'

"Mereka kan orang-orang terkenal!" Megumi cukup panik karena mereka yang harus jadi juri dan mereka cukup terkenal di majalah harian masakan.

"Santailah sebentar" ucap Souma menenangkan gadis itu tapi tiba-tiba muncul seseorang memilik wajah eropa, rambut pirang gondrong, dengan poni yang disisir ke kedua sisi dan membuat Souma kaget "whoaa! terlalu dekat!"

Orang itu bernama Koki Italia Donato Godouta "mungkin ini sebuah takdir kau bertemu denganku dan sudikah dirimu mengobrol denganku sepanjang malam di resort pribadi milikku?" dia memegang tangan gadis itu yang tampak gagap panik dengan kilauan cahaya di belakangnya dan sebuah senyum sok tampan.

Seorang wanita cantik berambut coklat, dengan kuncir kanan ke bawah memegang pundak koki itu "uhmm, Koki Goudota kau malah membuat Capelle-sensei marah tuh" dia menunjuk sang guru senior yang mengeluarkan aura tak bersahabat sama sekali.

"Ah, maaf" Koki itu kembali seperti biasanya karena akan gawat jika berbuat masalah disini dan Wanita itu bernama Inui Hinako pemilik restaurant tradisional Jepang 'Kirinoya'

Wanita itu langsung mengenggam erat tangan Souma dengan wajah senang "ne, ne, kau lucu juga maukah kau berkunjung ke restaurant milikku nanti?" dia menggunakan mata melas yang penuh harap.

"Apa?..." Souma bingung sendiri harus bereaksi dengan ucapan tiba-tiba itu.

"Kau ini gak ada bedanya Hinako" Koki Prancis tadi sweatdrop melihat temannya itu.

"Kau enak yah, sudah dapat respon positif dari salah satu Koki terkenal itu" ucap Marui yang wajahnya tampak gelisah sekali dan terlalu banyak mikir yang bukan-bukan.

"Positif apanya?" Souma sendiri masih gak begitu faham sekali.

Dan yang terakhir seorang lelaki muda dengan badan tegap, dan rambut cepak tipis, tatapan mata yang penuh semangat, dengan kemeja putih berdasi, setelan jas hitam dibuka, dan orang ini mengeluarkan aura kuat dan sangat hebat sekali bahkan orang normal yang melihatnya bakal duduk lemas tak beradaya.

Dan orang itu bernam Dojima Gin kepala umum penginapan Tootsuki dan anggota direksi, pria itu juga yang mengurus bagian memasak di semua penginapan Tootsuki dan juga dia lulus dari Academy Tootsuki dengan nilai paling tinggi dan juga ketenarannya adalah karena menolak tawaran dari 800 restaurant di Jepang sebagai koki.

"Ini benar-benar luar biasa" ucap Marui mengusap air matanya terharu karena moment yang sangat langka sekali "karena semua koki hebat yang memimpin Jepang berada disini semua sebagai pembimbing"

"Baiklah selamat datang kalian semua di penginapan Tootsuki" ucap Dojima menyapa dengan suara gagahnya "dan semua alumni yang berada disini akan mempekerjakan kalian semua seperti pegawai dan akan berjalan selama 3 hari 3 malam, lalu bagi siapa saja yang masakannya kurang memuaskan maka keluar dari sini" dia menunjuk pintu keluar dan semua murid menelan ludah secara kasar.

"Tapi tergantung pengujinya jadi aku doakan semoga kalian berhasil dan..."

"Mulai!"

Semuanya langsung berlari cepat ke tempat yang sudah disediakan dan siap-siap untuk pelatihan.

"Ngomong-ngomong setelah semua ini selesai, nanti malam kita berkumpul di kamar Marui bermain kartu tarot" ucap Souma.

"Baiklah, sampai jumpa lagi" balas Ibusaki.

"Dan kenapa harus kamar aku juga!" protes Marui dan dia masih dalam panik tapi, teman-temannya mengabaikan saja.

.

.

.

.

.

- Latihan Hari Pertama

Dan sesuai yang sudah dijelaskan di ruangan ini semua murid Tootsuki tahun pertama dibagi 20 regu dan ditempatkan yang sudah disediakan, lengkap juga dengan Guru dari Alumni Tootsuki sebagai seorang Juri untuk menentukan layak atau tidak mereka untuk bersekolah disini.

"Begini juga bagus" Komentar Souma yang melihat kondisi dapur yang masih tetap sama waktu tes dengan sensei tua asal Prancis itu namun kali ini lebih luas dengan jumlah murid juga banyak..

Dan sangat kebetulan sekali atau memang beruntung bahwa juri pengajar kali ini Inui Hinako yang terlihat memiliki sifat tidak tempramental dan lemah lembut. itu juga sebuah keuntungan sendiri agar tak terlalu tegang tapi yang jelas Hinako bersikap Profesional sebagai ahli dalam hal memasak.

"Ah, jadi semuanya ada di kelasku jadi aku mohon buat kelompok dua orang" ucap Hinako menatap murid-murid itu "dan pasangan itu yang sudah dilakukan pada waktu kelas Capelle-sensei dan dimohon ke meja dapur yang sudah tersedia"

Megumi berlari penuh melow drama dan air mata "aku beruntung bisa satu tim dengan Souma-kun lagi!"

"Kau ini terlalu mendramatisir Megumi" Souma terkekeh pelan sambil bertolak pinggang "tapi, kita bersama lagi jadi mohon bantuannya"

"Yukihira Souma!"

Lelaki berambut merah itu menoleh ketika seseorang memanggil namanya namun dia sedikit mundur karena orang itu berniat menginjak kakinya "ohh, salam yang bagus sekali itu, seperti kau sengaja melakukannya" dia menatap orang itu seperti tak minat sekali

Dia melihat disana ada dua orang yang satu berambut pirang yang dibelah ke dua arah dengan poni panjang melewati mata, mata hijau dan satunya lagi berbadan besar dengan rambut hitam disisir ke belakang agak atasan dikit.

"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di hari pertama pula" ucap Orang itu "jadi bersiaplah karena aku akan menghancurkan dirimu sama seperti sepatumu" dia sedikit mengancam.

Souma memutar bola matanya dengan wajah malas berdebat dan tak peduli pada ancaman itu "apakah semua orang-orang di Tootsuki memang seperti ini?" dia bertanya pada gadis berkepang dua itu.

"Yah...mungkin saja.." jawab Megumi canggung.

Dan Souma hanya bisa mendengus tanpa arti.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

"Tunggu, kau mau pergi kemana? Ini tak biasanya kau berpergian seperti itu?"

"Meh, kau terlalu banyak bertanya seperti wartawan itu menjengkelkan tau"

"Kau ini tingga jawab saja tak usah berbelit"

"Melihat yang berlatih di Camp"

"Hah? Untuk apa lagipula kau sudah melakukan itu dua tahun yang lalu"

"Diamlah dan jangan bertanya!"

"Ah, ya sudah"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Cutttttt selesai juga akhirnya dan sekarang tinggal update saja padahal yah gak ada yang bagus juga si tapi whatever lah.

Pm

RnR