Jimin masih belum bisa merasakan hidup normal apalagi setelah perkelahian dua bulan yang lalu. Bahkan walaupun lelaki tersebut tidak lagi mengancamnya, tetap saja Jimin tidak tenang. Bisa saja lelaki itu datang secara tiba-tiba dan melakukan hal yang lebih parah. Lamunannya terhenti saat bus yang ia tumpangi menuju sekolah keponakannya berhenti. Ia pun turun dan berjalan sejauh seratus meter untuk sampai. Langkahnya terhenti di depan gerbang saat sebuah foto jatuh dihadapannya dengan keadaan terbalik.

"Imo! Ambil foto itu! Cepat! Hati-hati imo! Jangan sampai rusak."

Tak lama kemudian, muncul seorang anak perempuan yang seumuran dengan wonwoo. Sepertinya mereka kelelahan mengejar foto dihadapannya karena angin memang sedikit kencang. Jimin menunduk dan mengambil foto tersebut.

"Ayo kookie. Foto eommamu sudah aman." Wonwoo menarik tangan Jungkook yang menatap Jimin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Eomma?" Jungkook berguman pelan dan dapat di dengar oleh Jimin. Merasa ada yang janggal, Jimin membalik foto tersebut dan matanya membulat. Nafasnya seakan tertahan apalagi Jungkook langsung memeluk kakinya dengan sangat erat.

"Eomma, jangan kembali ke surga lagi ya? Eomma harus tinggal dengan kookie dan appa."

"Kookie, itu imoku. Kenapa kau memanggil Jimin imo dengan sebutan eomma?"

Jimin berlutut secara perlahan dan Jungkook melepas pelukan. Ia mendongak menatap Jungkook yang menangis kemudian menghapus airmatanya.

"Ini fotonya. Jaga baik-baik ya? Jangan sampai hilang."

Jungkook menerima foto tersebut. "Eomma mau pergi ke surga lagi ya?"

Jimin mengusap rambut panjang Jungkook dengan sayang.

"Siapa nama ayahmu?"

"Min Yoongi. Eomma lupa ya dengan appa? Apa eomma juga lupa dengan kookie?" Jimin benar-benar tertegun.

"Kookie, itu Jimin imo. Dia imoku! Bukan eommamu!"

"Wonwoo, tenanglah." Jimin mencoba tersenyum untuk memberikan pengertian kepada wonwoo yang memang sedikit posesif kepadanya. Tatapannya kembali kepada Jungkook. "Kalau nama ibumu?"

"Park Jimin. Eomma juga lupa nama eomma sendiri?"

"Kookie, imo bukan ibumu. Dan nama imo Jeon Jimin." Jimin mencoba berbicara selembut mungkin.

"Tidak! Eomma bohong! Eomma tidak sayang dengan kookie kan? Makanya eomma bilang begitu. Eomma pergi saja ke surga lagi! Kookie benci eomma!" Jimin terkejut mendengar teriakan Jungkook. Apalagi Jungkook sudah berlari meninggalkannya.

"Kookie!" Teriak wonwoo.

.

Yoongi terpaksa membatalkan pertemuan penting setelah mendapat telepon dari ibu mertuanya. Saat ia sampai di rumah, seluruh anggota keluarganya berkumpul di depan kamar putrinya.

"Apa yang terjadi?"

"Tadi waktu Kim ahjussi menjemput, dia menemukan Jungkook menangis di toilet sendirian. Dan ini!" Seokjin memberikan robekan foto Jimin kepada Yoongi. Yoongi meremasnya dan memasukkan foto tersebut ke saku jasnya. "Kami juga mendengarnya membanting barang-barang."

"Kookie!" Yoongi mengetuk pintu kamar putrinya dengan brutal. Dia tidak punya pilihan lain selain mendobraknya. Kamar Jungkook sangat berantakan. Foto pernikahannya dengan Jimin yang Jungkook minta dicetak dengan sangat besar, figuranya sudah retak. Belum lagi foto-foto Jimin lainnya sudah tidak berbentuk. Yang paling membuatnya terpukul adalah tangan dan telapak kaki Jungkook yang berdarah akibat serpihan kaca.

"S-sakit appa."

"Kookie." Yoongi terisak memeluk Jungkook yang kesakitan. "Kau kenapa? Kenapa kau merusak foto eomma?"

"Kookie benci eomma! Kookie benci! Tadi eomma bilang dia bukan eommanya kookie. Tapi imonya wonnie."

.

Yoongi mengusap rambut Jungkook yang sedang tertidur karena dibius. Ia terpaksa memindahkan kamar Jungkook ke kamar tamu. Tidak mungkin ia mengajak Jungkook ke kamarnya yang penuh dengan foto Jimin.

"Kookie benci eomma! Kookie benci! Tadi eomma bilang dia bukan eommanya kookie. Tapi imonya wonnie."

Yoongi mengepalkan tangannya.

"Begini, saya punya keponakan. Jadi, kalau kakak saya tidak sempat menjemputnya, saya yang harus menjemputnya."

Sebuah sentuhan mendarat dibahunya.

"Noona?"

"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui disini?"

"Jimin kembali."

"Eoh?"

"Maksudku, ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Jimin. Dia sempat menjadi sekretarisku selama satu bulan dan mengundurkan diri sekitar dua bulan yang lalu. Ini yang aku takutkan noona. Aku takut Jungkook akan bertemu Jimin dan tidak bisa mengontrol dirinya. Padahal aku ingin mengenalkannya di waktu yang tepat."

"Jangan bilang, dia wanita yang sempat membuatmu patah hati?"

"Iya noona. Memang dia. Mungkin itu hukumanku."

"Hukuman?"

"Aku mencintainya sebagai Park Jimin. Bukan Jeon Jimin. Tapi sekarang tidak lagi noona. Jiminku orang yang perajuk dan ceroboh. Tapi dia orang yang bertanggungjawab dan lebih dewasa. Aku mencintainya sebagai Jeon Jimin. Aku mencintai dirinya."

Tatapan sedih Seokjin berubah menjadi tatapan yang menantang.

"Noona kenapa melihatku seperti itu?"

"Jadi kau mau diam saja disini?" Seokjin menyentil dahi Yoongi dengan keras. "Kejar cintamu sebelum semakin jauh."

Yoongi tersenyum. "Aku titip putriku noona."

.

"Aku tau ini terlalu cepat. Tapi apa aku bisa menjadi seseorang yang berarti untukmu? Aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini. Aku merasakannya lagi saat bersamamu."

Jimin terkekeh menertawakan kebodohannya selama ini. Mana mungkin Yoongi mencintainya begitu saja. Ternyata Yoongi mencintainya karena dirinya mirip dengan mendiang istri Yoongi.

"Sadarlah nyonya jeon! Yoongi mencintaimu karena kau mirip dengan mendiang istrinya."

Tiba-tiba, pintu kamarnya dibuka oleh kakaknya.

"Jiminnie, ada orang yang mencarimu."

.

"Argh! Kenapa ini? Padahal aku biasa-biasa saja kemarin. Jantung sialan! Jangan berdetak terlalu cepat!"

Setelah selesai dengan pembicaraan bodohnya, Yoongi keluar dari mobilnya dan dirinya bertemu Baekhyun yang sepertinya baru berbelanja kebutuhan dapur. Yoongi melihat dua kantung belanjaan besar di tangannya.

"Tuan Min Yoongi."

"Selamat malam."

"S-selamat malam."

"Saya ingin bertemu Jimin."

"O-oh. Silahkan. Silahkan masuk." Baekhyun begitu kesulitan membuka gerbang dan Yoongi langsung membantunya. Bahkan Yoongi juga membukakan pintu rumahnya.

"Duduk dulu tuan. Jimin ada di kamar sepertinya."

"Terima kasih."

.

Disinilah mereka. Berada di teras melawan angin malam yang menusuk tulang. Jimin sengaja melakukannya karena sakit hatinya. Biarkan saja Yoongi kedinginan. Begitulah kira-kira yang berada di fikiran Jimin. Tidak ada satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan.

"Apa yang ingin anda katakan tuan min?"

"Jangan berkata formal. Aku bukan atasanmu."

Jimin hanya diam dan memalingkan wajah.

"Apa kau mencintaiku?"

"Ha?"

"Apa kau mencintaiku?"

"Pertanyaan bodoh macam apa itu tuan min? Jangan berpura-pura lagi. Saya sudah sangat mengerti mengapa anda mencintai saya. Kalau tidak ada hal penting lagi, lebih baik anda pulang."

"Anak saya terluka dan itu karena anda nyonya Jeon Jimin! Dan ingat satu hal! Aku Min Yoongi mencintaimu sebagai Jeon Jimin! Bukan Park Jimin!"

Jimin menghentikan pergerakan tangannya yang akan membuka pintu. Bukan pernyataan cinta Yoongi. Namun 'terluka'? Jungkook terluka? Jimin menjadi bingung dengan perasaannya sendiri dan ia tersadar setelah Yoongi pergi melaju dengan mobilnya.

"Y-yoongi!"

.

Yoongi sampai di rumah sudah larut malam. Ia langsung menghampiri kamar dimana Jungkook beristirahat. Perlahan ia mendekati ranjang dan berbaring disampingnya.

"Kookie, maaf. Appa selalu mengecewakanmu, membuatmu sedih, dan membuatmu hancur seperti ini." Yoongi tidak mampu lagi menahan airmatanya yang mendesak keluar dan perlahan ia mengecup dahi putrinya dengan penuh perasaan. "Selamat malam. Mimpi yang indah ya sayang?"

.

Untuk pertama kalinya Jimin melihat Wonwoo mendekatinya dengan raut wajah yang sedih. Biasanya keponakannya selalu berlari dengan sangat ceria ke arahnya. Jimin memang merasa ada yang kurang dari keponakannya.

"Kamu kenapa sayang?"

"Kookie sakit imo. Pasti karena aku memarahinya kemarin. Ayo imo! Kita jenguk kookie. Aku harus minta maaf." Wonwoo menarik-narik tangan Jimin dan tetap membuat Jimin tidak bergeming. Otaknya tengah sibuk mencari alasan agar bisa menghindar.

"Memangnya kamu tau dimana rumah kookie?"

"Yaahh...aku tidak tau imo."

"Tapi imo tau sayang." Sebuah suara lembut menyapa pendengaran mereka.

Jimin langsung membalikkan badannya dan tampak bingung dengan sosok wanita yang sangat asing baginya. Tapi tidak dengan wonwoo. Dia begitu antusias dan mendekati wanita tersebut. Jimin sudah kalah cepat untuk menghalangi wonwoo.

"Imo tau rumah kookie? Ayo antar aku imo."

Wanita tersebut berlutut dan mendongak menatap wonwoo.

"Kamu wonnie ya?"

"Iya imo. Tapi kok imo tau nama aku? itu kan panggilan kookie untukku."

"Tentu saja imo tau. Kookie sering menceritakan wonnie."

"Imo kenal kookie ya?"

Seokjin mengangguk. "Imo kakak dari eommanya kookie." Seokjin melirik sejenak keterkejutan yang terpancar dari wajah Jimin. Seokjin berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Jimin. "Saya Park Seokjin. Kakak dari mendiang Park Jimin."

.

Seokjin langsung menyuruh supir yang mengantarnya untuk segera mengantar Wonwoo bertemu keponakannya. Sementara dirinya dan Jimin mengunjungi sebuah cafe. Seokjin mengangkat gelasnya dan mempersilahkan Jimin untuk minum.

"Rasanya seperti mimpi." Seokjin meletakkan gelasnya perlahan dan begitu juga Jimin. "Kau benar-benar sangat mirip dengan adikku."

Jimin tersenyum sangat manis.

"Adikku adalah orang yang perajuk dan ceroboh. Bisa-bisanya dia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri bahkan selama dua puluh enam tahun hidupnya. Tapi semua berubah semenjak dia bertemu Yoongi. Dia rela mengorbankan perasaannya selama setahun lamanya karena Yoongi lupa ingatan dan mengingat orang lain sebagai kekasihnya. Bahkan setelah setahun pernikahan mereka pun, dia harus menghadapi sisi malaikat dan monster dari diri Yoongi. Dan yang membuatku semakin tidak menyangka adalah..." Seokjin menghapus airmatanya yang sudah menetes. Senyuman terukir dibibirnya saat kembali menatap Jimin. "Dia mengorbankan nyawanya demi putrinya."

Dengan ragu Jimin menggenggam tangan Seokjin.

"Aku sangat bangga dengannya. Adik kecilku yang kekanakan. Tapi Yoongi bilang kau sangat berbeda. Kau orang yang bertanggungjawab dan dewasa. Hal itulah yang membuat Yoongi mencintaimu walau awalnya dia mencintaimu sebagai Park Jimin."

"Nyonya..."

"Bolehkah aku menyentuhmu?"

Jimin mengangguk pelan. Lalu Seokjin memegangi pipinya dan tersenyum tulus.

"Bahkan suaramu juga sama sepertinya." Seokjin benar-benar sudah tidak kuat lagi dan ia bangkit meninggalkan Jimin. Saat Seokjin sampai dluar, barulah Jimin beranjak menyusul Seokjin.

"Eonni!"

Seokjin memberhentikan langkahnya dan membalikkan badan kemudian tersenyum. Suara yang sudah lama sekali tidak memanggilnya. Jimin perlahan mendekatinya.

"Bolehkah saya memanggil anda..."

"Tentu saja." Seokjin tersenyum dan memasuki taxi yang baru saja ia hentikan. Ia melambaikan tangan dari jendela dan dengan ragu Jimin membalasnya.

.

"Wonnie, kenapa kamu sedih?"

Jimin mendapati wonwoo sedang duduk termenung di kursi tamu bersama seorang supir yang mengantarnya.

"Nyonya, saya permisi dulu."

"Iya. Terima kasih."

Setelah supir tersebut pergi, Jimin langsung memeluk wonwoo yang sudah menangis.

"Imo, kookie tidak mau berteman dengan wonnie lagi. Soalnya aku sudah merebut imo. Tapi imo bukan eommanya kookie kan?"

"Sama sekali tidak sayang. Wajah eommanya kookie memang sangat mirip dengan imo. Sudah. Jagoan eomma dan imo tidak boleh menangis." Jimin melepas pelukan dan memberikan senyuman sambil menghapus airmatanya wonwoo. "Jadi, kookie sakit apa?"

"Wonnie tidak tau. Tapi tangan dan kakinya di perban. Kata pelayan disana, kookie menghancurkan foto-foto eommanya. Dia tidak sayang dengan eommanya lagi imo."

Jungkook membenci ibunya karena diriku? Bagaimana ini?

"Imo mau ya jadi eommanya kookie?. Aku tidak mau kookie membenci wonnie. Ayolah imo."

Jimin tertegun sesaat dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan sesaat. "Wonnie, tukar baju dan makan ya?"

"Tapi imo mau kan jadi eommanya kookie?"

"Imo akan memikirkannya sayang. Pergilah."

Wonwoo mengikuti perintah Jimin dengan wajah yang cemberut.

.

"Jiminnie!"

Baekhyun menghembuskan nafas lega saat membuka pintu kamar Jimin. Suara tangisan Jimin saat menelponnya benar-benar membuatnya kalut. Padahal sekarang ia menemukan Jimin yang duduk di pinggir ranjang kemudian menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan. Merasa ada yang aneh, Baekhyun mendekati Jimin dan memeluknya. Saat itulah tangisan Jimin pecah.

"Eonni!"

"Kenapa lagi sayang?"

"Jungkook, eonni..."

Baekhyun melepas pelukan dan memegang kedua bahu Jimin.

"Jungkook? Nama siapa itu?"

"Jungkook putrinya Yoongi, eonni. Yoongi bilang...dia terluka. Lalu...wonwoo bilang...Jungkook...membenci ibunya. Itu semua karena aku eonni." Jimin kembali terisak dan memeluk Baekhyun. "Aku harus bagaimana eonni? Hiks..."

"Sepertinya kau menyayangi putrinya Yoongi, Jiminnie. Kau begitu perduli padanya. Eonni merasa, kau memang ditakdirkan untuk menggantikan ibunya Jungkook. Tapi, apa kau masih mencintai Yoongi?"

Seketika isakan Jimin berhenti.

"A-aku...selalu...mencintainya eonni..."

.

Yoongi melihat perawat sedang mengganti perban di tangan dan kaki putrinya. Senyuman yang ia berikan dibalas oleh putrinya. Saat Yoongi sudah duduk di ranjang tepat di samping Jungkook, saat itulah perawat selesai mengerjakan tugasnya. Yoongi mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut.

"Apa masih sakit?" Tanya Yoongi sambil mengusap rambut Jungkook.

"Tidak appa. Tapi kookie jadi tidak bisa berjalan. Maaf appa. Hiks..."

"Eoh? Kenapa menangis sayang?"

"Kookie semalam bermimpi kalau eomma sedih. Pasti karena kookie merusak semua foto-foto eomma. Jimin imo juga sedih."

"Kookie tau darimana tentang J-jimin imo?"

"Jimin imo itu imonya wonnie. Kookie sudah memarahinya appa. Kookie harus minta maaf. Apalagi sama eomma. Kita makam eomma ya appa?"

"Iya. Kebetulan besok hari minggu." Yoongi menghapus airmata Jungkook.

"Kookie juga mau jalan-jalan dengan Jimin imo appa."

"Iya, iya. Putriku ini bawel sekali seperti ibunya." Yoongi mengecup bibir Jungkook kemudian membantu Jungkook berbaring. "Tidur yang nyenyak ya?"

.

Jimin menggigit bibir bawahnya saat ponselnya menampilkan nomor ponsel Yoongi. Walaupun mereka sudah tidak pernah berhubungan lagi, bukan berarti Jimin bisa menghapus nomornya begitu saja. Perlahan ia menyentuh tombol panggilan.

"Astaga!"

Ponsel Jimin terhempas di atas ranjang saat ia mendengar nada panggilan. Ia melihat nama Yoongi tertera disana. Dengan ragu Jimin menjawabnya.

"H-halo?"

"Jimin?"

"S-selamat malam tuan."

"Selamat malam. Apa kau sedang sibuk?" Yoongi terdengar tertawa sesaat dan berdehem.

"Tidak. Saya tadi ingin tidur."

"Saya sudah mengganggu kamu ya? Kalau begitu..."

"Jangan!" Bahkan Jimin sudah merutuki kebodohannya yang berteriak spontan seakan-akan dia akan kehilangan Yoongi lagi.

"Eoh?"

"Pasti ada hal penting. Katakan saja tuan."

"Baiklah. Begini, besok saya dan Jungkook ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"J-jungkook?"

"Kamu pasti bingung kan? Lebih baik jam delapan pagi besok kamu bersiap-siap. Kami akan menjemput kamu."

"I-iya tuan."

"Satu lagi."

"I-iya?"

"Panggil saya oppa. Kamu lebih muda dari saya ternyata. Tidak ada penolakan dan selamat malam!"

Jimin menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menghembuskan nafas lega. Sebuah senyum bahagia mengembang dibibirnya.

.

Pemakaman.

Itulah hal pertama yang dilihat Jimin saat keluar dari mobil. Sementara Yoongi sibuk mengambil kursi roda Jungkook. Lamunan Jimin buyar saat Jungkook yang sudah duduk di kursi roda memegang tangannya.

"Ayo imo."

Jimin hanya bisa tersenyum. Dirinya masih belum terbiasa untuk menerima sikap ramah Jungkook setelah apa yang ia lakukan. Bahkan untuk menatap wajah Yoongi saja Jimin tidak bisa.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah makam dan diatasnya ada sebuah foto yang membuat Jimin tertegun sesaat.

"Eomma, kookie minta maaf sudah merusak foto-foto eomma. Tapi kookie nyesal kok. Kookie janji nggak akan membenci eomma lagi. Eomma mau kan maafin kookie? Terus, eomma jangan sedih lagi ya?"

Jimin dan Yoongi yang berdiri di kiri dan kanan Jungkook langsung menyentuh bahu kecilnya secara bersamaan. Jungkook tersenyum. Mereka pun saling memalingkan wajah dan melepaskan bahu Jungkook.

"Imo, maafin kookie ya? Kemarin kookie sudah membentak imo. Padahal itu kan tidak sopan."

"Iya sayang." Jimin mengusap rambut Jungkook dengan tangannya yang tidak pegang. "Imo tau kalau kookie pasti kecewa. Tapi kookie sekarang mengerti kan? Imo bukan eommanya kookie."

"Iya imo. Tapi, imo mau kan jadi eommanya kookie?"

"Eoh?" Jimin langsung menatap Yoongi dengan bingung. Yoongi menanggapi kegugupan Jimin dengan tersenyum.

"Tentu saja sayang. Jimin imo mau kok menjadi eommanya kookie." Jawaban Yoongi membuat Jimin meneteskan airmata kebahagiaannya. "Tapi ada ingat satu hal."

"Iya appa. Kookie pasti lakuin kok."

"Jimin imo tidak sama dengan eomma. Mereka berbeda."

"Iya appa."

Mereka pun memeluk Jungkook.

"Kau benar-benar ingin bermain denganku ya? Kau semakin melunjak saat aku abaikan. Aku memang harus menjalankan rencanaku sekarang."

.

Yoongi dan Jimin mengunjungi sebuah taman di tengah-tengah kota. Mereka memperhatikan Jungkook yang sangat bahagia bermain dengan anak-anak yang seusia dengannya.

"Terima kasih untuk hari ini." Ujar Yoongi dengan tatapan yang tetap lurus ke depan. Jimin yang duduk di sebelahnya menoleh dan tersenyum.

"Sama-sama. Sekali lagi maaf kalau aku sudah menyakitimu, o-oppa."

Yoongi terkekeh pelan. "Apa ada hal lain yang kau sembunyikan?"

"A-aku?"

Yoongi menatap tepat di bola mata Jimin dan membuatnya tidak bisa menghindar. "Jangan mencoba menghindar. Bukankah kau belum memberikanku alasan pasti kenapa kau menolakku kemarin? Sebelum kau tau kalau wajahmu mirip dengan mendiang istriku."

Jimin menunduk. Yoongi menangkup pipinya agar mereka bertatapan. Jimin mencoba memperhatikan sekelilingnya seakan-akan ada seseorang yang melihat gerak-geriknya.

"Aku takut oppa. Aku takut dia menyakitimu jika aku bersamamu. Walaupun untuk saat ini dia mengabaikanku, aku yakin dia masih mengintaiku."

Yoongi mengerutkan dahinya. "Siapa dia? Katakan!"

"Orang yang berkelahi denganmu dua bulan yang lalu. Park Chanyeol. D-dia mantan kekasihku delapan tahun yang lalu."

"Apa?"

"Sebenarnya aku sangat ragu untuk menerima saran eonni untuk mengikuti kata hatiku yang memang mencintaimu. Tapi disisi lain aku takut laki-laki akan menyakitimu." Jimin tampak begitu gusar dan menggenggam tangan Yoongi begitu erat meminta perlindungan.

"Hei! Tenanglah! Tidak ada yang berani menyakitiku. Tapi, apa kakakmu tau tentang mantanmu?"

.

Jimin membalas lambaian tangan Jungkook saat mobil tersebut melaju.

"Sampai jumpa imo!"

Jimin pulang saat sudah malam. Ia membuka pintu dan mendapati kakaknya sedang duduk di ruang tamu. Jimin mengabaikan tatapan dingin kakaknya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Eonni! Bagaimana Busan? Apakah ada perubahan?"

"Bisa kau jelaskan ini?"

Mata Jimin membulat seketika saat sebuah foto yang sangat ia kenali dilempar keatas meja. "E-eonni, a-aku bisa menjelaskannya. I-ini..."

PLAK!

Untuk pertama kalinya Baekhyun menamparnya dan cukup membuat pipi chubby Jimin memerah.

"Eonni..."

Jimin memegangi pipinya dan menangis. Mereka sama-sama menangis. Perbedaannya adalah Jimin menangis karena kesedihan sementara Baekhyun menangis karena kemarahan yang sangat memuncak.

"Saat dia mengatakan tidak bisa melupakan cinta pertamanya dan meninggalkanku setelah persalinan, hatiku hancur. Masa depanku hampir saja hancur. Dan anakku, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau penyebab penderitaanku adalah adikku sendiri. ADIKKU SENDIRI!"

Jimin berlutut dan memeluk kaki kakaknya.

"Eonni, nasib kita sama. Kita disakiti oleh orang yang sama. Jadi..."

Baekhyun mendorong Jimin dengan sangat kuat.

"Kalau saja kau menjelaskannya dari dulu, aku tidak akan semarah ini. Kau benar-benar tidak menganggapku lagi sebagai kakakmu. Lebih baik kau memilih. Aku yang pergi atau kau!"

Jimin berdiri perlahan. "T-tapi, dimana wo-"

"Jangan sebut nama anakku! Wanita sepertimu tidak pantas menyebut namanya."

Baekhyun masuk ke dalam kamar Jmin dan memasukkan baju Jimin ke dalam koper secara sembarangan. Kemudian melempar koper tersebut. Sambil menahan isakannya, Jimin mengambil koper tersebut dan berjalan perlahan. Saat sudah berada di teras, Jimin sempat menoleh ke belakang namun sang kakak memalingkan wajah.

.

Baekhyun memarkirkan mobil di halaman kecilnya. Ia tampak lelah setelah perjalanan jauh dari Busan hanya sekedar untuk melihat rumah masa kecilnya. Kemudian ia menggendong wonwoo yang tertidur. Wajahnya menjadi tegang ketika sosok yang sangat dibencinya keluar dari sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang kecil rumahnya.

"K-kau?"

"Apa kabar?"

"Ahjumma!"

"Iya nyonya?"

"Bawa wonwoo ke kamar."

"Iya nyonya."

Sang pelayan membawa wonwoo ke kamar dan tinggallah Baekhyun bersama lelaki yang tersenyum miring kepadanya. Baekhyun berjalan mendekat menahan emosinya.

"Ternyata kau masih hidup? Aku fikir kau sudah mati membusuk karena dosa-dosamu."

"Tentu saja belum. Aku tidak akan mati sebelum menjelaskan ini." Lelaki tersebut mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya dan menyodorkannya kepada Baekhyun. Tangan Baekhyun bergemetar saat menerima foto tersebut.

"B-bagaimana bisa kau mengenal adikku?"

"Kau ingat setelah kita melakukan hubungan panaas itu? Saat aku bangun, aku mendengar ponselmu berbunyi dan ternyata adikmu yang menghubungimu. Dari foto kontaknya saja, aku sudah jatuh cinta. Dialah wanita yang lebih aku cintai daripada dirimu."

"J-jadi..."

"Tanyakan hal yang ingin kau tanyakan kepada adikmu. Dia pasti akan menjawabnya dengan senang hati. Oh ya, belakangan ini kami sudah merencanakan pernikahan dan jangan lupa datang. Kalau untuk masalah hubungannya dengan Yoongi, itu hanya main-main saja. Mungkin laki-laki bodoh itu bisa kau jadikan ayah untuk anakmu."

.

"Oppa!"

Yoongi mendorong kursi roda yang dinaiki Jungkook mendekati Taehyung yang sedang menonton televisi. Jungkook pun dihadiahi kecupan.

"Bagaimana kabar adik cantikku hari ini?"

"Sangat baik oppa. Jimin imo baik sekali."

"Eoh?"

"Tae, kau sudah makan malam?" Yoongi mencoba menghilangkan kebingungan di wajah Taehyung.

"Samcheon, jangan mengalihkan pembicaraan. Jimin imo siapa yang dibicarakan Jungkook?"

"Memangnya oppa tidak tau Jimin imo ya? Jimin imo sa-"

"Tae, kau sudah mengerjakan pr-mu?" Yoongi menghembuskan nafas lega saat Seokjin datang di waktu yang sangat tepat dan Taehyung sangat menyadarinya.

"Belum eomma. Tapi aku-"

"Kerjakan pr-mu sayang."

Taehyung mendengus kesal dan beranjak pergi.

"Imo, oppa kok tidak tau Jimin imo sih?"

Seokjin menunduk dan mengusap rambut Jungkook. "Kau sangat kelelahan ya? Ayo imo antar kookie ke kamar."

.

"Hei! Tenanglah! Tidak ada yang berani menyakitiku. Tapi, apa kakakmu tau tentang mantanmu?"

Jimin menggeleng. Ia mencoba menguatkan dirinya untuk menceritakan tentang masa lalunya kepada Yoongi.

"Dua tahun setelah kami berpacaran, eonni melahirkan wonwoo. Aku sangat terkejut karena eonni sama sekali belum menikah. Saat eonni menunjukkan foto lelaki yang dimaksud, aku benar-benar sangat terkejut."

"Kau pernah mengatakan hal ini kepada kakakmu?"

"Belum."

"Kakakmu bisa salah paham tentang ini, Jiminnie."

"Bagaimana jika kakakku tersakiti saat aku menceritakannya? Sudah cukup banyak penderitaannya, oppa. Aku tidak mau menambahnya lagi." Jimin tidak bisa menahan isakannya saat Yoongi memeluknya.

.

Yoongi menghampiri Baekhyun yang tengah sibuk. Wajahnya tampak gusar setelah mendapati rumahnya yang kosong dan ponsel Jimin sama sekali tidak bisa dihubungi.

"Saya tunggu anda di ruangan saya."

"Jika anda ingin membicarakan tentang wanita itu, saya menolak." Ujarnya tanpa mengalihkan tatapan dari layar komputernya.

Tak ingin emosinya meledak secara tiba-tiba, Yoongi memilih memerintah Baekhyun sekali lagi. Kali ini Baekhyun tidak menolak.

.

"Jadi dimana Jimin?" Tanya Yoongi tanpa basa-basi saat Baekhyun baru menutup pintu ruangan.

"Bukankah anda kekasihnya? Seharusnya anda lebih tau."

"Ada masalah apa diantara kalian?"

Baekhyun memalingkan wajah dan mengepalkan kedua tangannya. "Tidak ada."

"Jangan berbohong! Jimin sudah menceritakan semuanya. Jadi-"

"Ternyata dia menceritakan semuanya kepada anda? Tapi dia tidak menceritakannya kepada saya. Kalau saja dia bercerita lebih awal melainkan bukan lelaki bajingan itu, saya tidak akan semarah ini."

"Jadi laki-laki itu menghampiri anda?"

"Iya."

"Hei! Apa anda tidak mengerti dengan lelaki itu menghampiri anda, itu pertanda buruk. Anda pasti sangat tau tentang Jimin yang sering diancam mantan kekasihnya kan? Bagaimana jika lelaki itu-"

"C-cukup! CUKUP! Jangan lanjutkan lagi! M-maksud anda...Argh! Sialan! Bagaimana bisa aku membiarkannya sendirian saat seperti ini." Baekhyun mencoba menghubungi Jimin.

"Percuma! Jimin sedang dalam bahaya dan ponselnya tidak aktif."

Baekhyun tetap bersikeras. "H-halo? J-jimin? Kau dimana sayang? Kau baik-baik saja?"

"..."

"K-KAU?"

.

.

.

.

.

.

Untuk AzaleARMY957 : mereka memang belum pernah ketemu sama sekali kok. Waktu itu Yoongi cuma iseng liat-liat karyawannya dan liat Jimin waktu video call ama Baekhyun. Kira-kira begitulah.

Jungeunyoon : itu jimin yang berbeda kok.

Jangan bosan nunggu ya para readers? Kayaknya habis ini author bakalan update lama.

Bye~~~~~~~~~