IF THE POLICE ASK

.

.

Written by Masaringo

Original Story

www asianfanfics com/story/view/969183/if-the-police-ask-agegap-exo-baekyeol

(ganti spasi dengan titik)

.

.

Jatuh cinta lewat lensa teleskopmu nampaknya terlihat tidak masuk akal, bahkan terlihat konyol. Terlebih lagi saat kau masih berusia 13 tahun. Tapi, jika seiring berjalannya waktu perasaanmu untuk seorang tetangga yang berusia tujuh tahun lebih tua darimu makin bertambah kuat, apakah itu masih juga dianggap cinta monyet?

Indo Trans

by Beescrescent75

.

.

T/N: bacanya pelan-pelan dear biar nggak bingung^^

.

Part 3

"Apa yang kau lakukan disini?"

Ia telah menghabiskan lima jam terakhir bermain pokemon dengan Chanyeol, yang mana, walaupun laki-laki itu hampir berumur dua puluh tiga—ia masih memiliki hati layaknya anak dua belas tahun. Itulah salah satu alasan kenapa Baekhyun sangat menyukainya, walau begitu, ia juga tidak bisa mengeluhkan hal itu.

.

.

Ini sudah hampir larut, walau ini adalah hari Jumat, ketika ia pulang kerumah.

Ia tidak menyangka kalau Luhan akan ada disana, duduk di depan pintunya.

Teman baiknya itu belum menjawab pertanyaannya, dan malah memilih untuk menatap lantai.

Baekhyun hampir saja mendorongnya dari depan pintu saat Luhan akhirnya bicara dengan suara serak.

"Kurasa... kurasa Yixing dan aku putus."

Ia langsung mendekat kearah sahabatnya, melihat dengan teliti wajahnya untuk pertama kalinya di sore itu, dan itulah saat ia menyadari betapa pucatnya wajah Luhan, mata terlihat merah dan bibirnya sangat kering.

"Apa yang terjadi?" ia mengusap punggungnya, merasakan tubuh Luhan bergetar lewat usapannya di sana. "Kau terlihat baik-baik saja tadi, saat aku bertemu denganmu."

Luhan menjawabnya, "Kita memang baik. Well. Kurang lebih." Ia mengambil nafas panjang, mencoba membuat dirinya kuat, "Beberapa orang di sekolah mengejek Ying... kemudian ia bilang kalau kita sudah berpacaran selama setahun setengah, dan itu karena kita terlalu cepat memutuskan, dan kita masih terlalu muda, dan kita harus jeda sejenak, dari masing-masing."

Jeda. Baekhyun telah melihat beberapa tayangan di TV, dan paham maksud dari hal itu. Dan dilihat dari keadaan Luhan yang kacau, ia sekarang makin memahaminya.

"Kita tidak bersama selama, baru beberapa jam... tiga jam dan aku sudah sangat merindukannya. Apa yang harus kulakukan tanpanya Baek?"

Mungkin Yixing benar. Mungkin waktu saat mereka berpisah akan berefek baik. Tapi, saat ia menggenggam tangan teman terbaiknya, ia tidak bisa berharap yang lain selain berdoa agar mereka kembali seperti semula lagi.

.

.

Ini telah berjalan selama sebulan, dan 'jedanya' belum juga berakhir. Baekhyun belum pernah melihat kedua temannya berada dalam satu ruangan sejak saat itu, ini membuatnya merasa sangat sedih dari yang ia kira.

Chanyeol juga menyadarinya dengan cepat.

"Apa yang terjadi dengan Luhan dan Yixing? Apa mereka bertengkar? Ia bertanya di suatu sore saat melihat rekomendasi anime terburuk dari Jongdae.

Tak ada gunanya untuk berbohong, jadi Baekhyun hanya mengangguk, "Ya, bisa dibilang seperti itu."

"Sungguh disayangkan. Mereka terlihat imut bersama."

"Benarkan?"

"Kurasa mereka akan segera menyelesaikan masalah mereka."

"Kuharap juga begitu."

Chanyeol menatap dirinya, "Apa ini membuatmu sedih?"

Bagaimana mungkin ia melakukan hal itu? Baekhyun belum mengucapkan beberapa kata yang panjang dan ia masih mencoba memahami apa yang ia rasakan. Dan ia sendiri tidak paham perasaan apa yang ia rasakan, tapi Chanyeol…

"Kulihat kau terlihat sedih." Chanyeol hanya mengedikkan bahunya, mencoba mengembalikan moodnya.

Baekhyun balik mengedikkan bahunya, "Kurasa iya. Aku tidak biasa melihat Lu sedih, itulah kenapa."

"Tenang saja. Kuyakin semua akan baik-baik saja, secepat mungkin." Ia tersenyum.

Baekhyun sungguh ingin mempercayai ucapannya.

.

.

Chanyeol terus menerus melakukan itu. Itu makin membuatnya sulit untuk meyakinkan dirinya kalau itu bukanlah sebuah kencan—tidak akan pernah nyata, saat Chanyeol terus saja bersikap sangat luar biasa.

Bagaimana bisa Baekhyun tidak jatuh lebih dalam mencintainya, saat Chanyeol mengajaknya untuk ber'ski? Karena, sungguh, ini ditengah musim panas dan ia sedang sangat bosan, tapi tetap saja.

Ia tidak membutuhkan bantuan Chanyeol saat ber'ski. Well, sebenarnya iya, melihat fakta kalau ia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Dan mungkin ia akan terjatuh dengan muka membentur es kalau saja Chanyeol melepaskan genggaman tangannya. Dan ini terlalu sulit untuk hatinya untuk menghadapi ini.

Terutama saat laki-laki itu membantu semua orang di sekitarnya. Seorang gadis kecil dengan kunciran yang sangat ketakutan melepaskan pegangannya pada pagar pembatas? Dan Chanyeol membantunya. Sepasang pasangan tua yang mengeluh betapa panasnya cuaca saat itu? Chanyeol mendekat pada mereka, memberi mereka sebotol air dan Baekhyun mengikutinya dibelakangnya. Bukan berarti karena ia tidak bisa melepaskan Chanyeol, tapi lebih tepatnya, mungkin ia akan selalu mengikutinya kemanapun Chanyeol pergi.

Kemudian Chanyeol membelikannya es krim, dan itu membuat hati Baekhyun tidak bisa beristirahat sejenak untuk tidak jatuh lebih dalam padanya.

.

.

"Apa kau tidak bertemu dengan gadis itu lagi?" ia bertanya di perjalanan pulang dari taman, dengan jendela pintu yang terbuka dan angin musim panas meniup rambutnya. Sungguh tampan.

"Kurasa ya... tentu saja gadis-gadis tidak akan suka ditinggalkan sendirian di pesta."

Chanyeol menatapnya dengan kaget sebelum tertawa nyaring. "Apa yang kau lakukan? Tak seorangpun akan menyukai hal itu Baek?"

Well, sebenarnya ia tau akan hal itu. Tapi ia juga tidak begitu peduli dengan gadis itu. Ia juga senang karena kebodohannya membuat Chanyeol tertawa. Lagipula ia hidup untuk membuat Chanyeol bahagia.

"Hei, kau ingin membuat tangga untuk pohonmu."

"Apa?"

"Beberapa hari yang lalu kau ingin memanjat pohon itu dan kau tidak berhasil melakukannya. Itu akan lebih mudah untuk membuat beberapa tangga dari pada memperbaiki kaki yang patah."

"Tentu. Kenapa tidak?"

.

.

Ia meninggalkan mobil Chanyeol setelah berjanji untuk menemuinya nanti untuk membuat tangga, lalu ia menuju rumah Luhan.

Ia memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu, tau dengan pasti kalau Luhan berada di rumah dan tengah sendirian. Karena ia memang bodoh.

Apa yang ia lihat, malah, pemandangan kalau Luhan sama sekali tidak sendirian. Dan mungkin hal yang paling manis yang membuatnya mual.

Luhan duduk di kasurnya, menangis dengan pelan sambil menggenggam pergelangan tangan Yixing erat-erat. Pacarnya (kalau bukan karena mereka berbaikan, Baekhyun tidak paham apa maksud dari pemandangan yang dilihatnya) menangkup wajah Luhan dengan tangannya, mengecupnya dengan pelan.

Mereka berhenti sedetik setelah menyadari Baekhyun berada di ambang pintu kamarnya, lalu Baekhyun berbalik dan meninggalkan mereka. Lagipula mereka juga tidak berniat menghampirinya.

Dan ia sangat senang. Sungguh. Ia merindukan teman terbaiknya yang selalu terlihat senang.

Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia merasa iri. Kenapa ia tidak bisa seperti mereka? Kenapa ia tidak bisa bersama dengan orang yang ia sukai? Kenapa ini sangat sulit untuknya?

.

.

Luhan dan Yixing muncul di rumahnya saat ia dan Chanyeol bersiap untuk membuat tangga.

Ditengah-tengah suasana sepi dan canggung, dan tatapan yang juga canggung, mereka mengambil kayu dan paku, lalu mulai bekerja.

Setelah beberapa saat, tangganya telah selesai dibuat (yang mana, terlihat beberapa kayu terpaku di pohon itu, mungkin memang tidak terlihat indah, tapi itu mungkin akan berguna), kecanggungan sebelumnya nampak lenyap, itulah yang dirasa Baekhyun, asalkan mereka tidak membicarakan tentang itu, maka semua akan baik-baik saja.

.

.

Chanyeol pergi selama sisa akhir musim panas.

Baekhyun tidak menyalahkannya, sungguh. Tentu bercamping dengan teman-temanmu akan lebih menyenangkan daripada terjebak dengan beberapa anak remaja di cuaca rumah yang panas tanpa kegiatan lain selain bermain game.

Tapi tetap saja, Baekhyun tidak menginginkan hal lain selain bersamanya.

Kebahagiannya dengan rujuknya temannya telah cepat berlalu, terlebih lagi saat mereka terlihat lebih manis pada masing-masing dan tampak menggelikan di mata Baekhyun dibandingkan dengan sebelumnya.

Baekhyun bahkan mendapatkan sebuah pekerjaan di musim panas di toko dekat rumahnya, hanya untuk beralasan agar ia tidak menghabiskan tiap waktunya, melihat pasangan itu saling bertatap-tatapan dan tersenyum satu sama lain.

Hari tanpa Chanyeol pun terus berlanjut.

.

.

Dan musim panas pun berlalu.

Baekhyun tidak pernah berpikiran kalau ia akan mengatakan hal tersebut, tapi ia senang akhirnya ia mengatakannya.

Ia akhirnya mulai bersekolah SMA dengan teman-temannya, kesempatan yang sangat bagus untuk menyingkirkan kelompok yang bersamanya tahun lalu. Teman-temannya itu mulai menyebalkan menurutnya.

Hal yang tidak mengenakkan adalah, Chanyeol juga kembali ke kampusnya lagi. Dan karena itu adalah semester terakhirnya, ia sangat terbebani dengan pekerjaan mulai dari hari pertamanya masuk.

Bahkan itu tidak masalah baginya, Chanyeol berkali-kali menjelaskan padanya kalau ia sama sekali tidak terbebani dengan kehadirannya. Dan mengatakan padanya kalau ia juga akan bermain sesering mungkin di sela-sela sibuknya pekerjaannya, Baekhyun sadar kalau itu tidak akan ada gunanya sama sekali, berada di sana tanpa bisa menghabiskan waktu bersama Chanyeol.

Jadi, ia memutuskan untuk pulang dan melihatnya lewat teleskop setiap harinya, dan itu tidaklah buruk. Tidak ada banyak hal yang bisa dilihat, kebanyakan Chanyeol hanya akan duduk di mejanya atau berbicara dengan temannya lewat telefon atau membuat kopi saat malam sudah larut, tapi itu masih saja hal yang menyenangkan untuknya, yang membuatnya merasa dekat dengan Chanyeol, dan itu cukup baginya.

Pesta adalah hal yang sering ia jumpai saat sekarang ia menginjak SMA. Beberapa teman SMPnya juga memasuki sekolah yang sama dengannya, jadi ia mendapatkan undangan sesekali dalam beberapa kesempatan.

Itu masih menjadi hal yang tidak disukainya, tapi ternyata Yixing tampak menyukai pesta, dan Luhan megikutinya kemanapun ia pergi, jadi Baekhyun berakhir mengikuti mereka juga.

Dan itu adalah salah satu hari tersebut, tidak begitu larut tapi cukup gelap suasana di luar rumah, ketika Baekhyun terkejut saat sebuah taksi berhenti di depan rumah Chanyeol saat ia berjalan pulang kerumah.

Ia berjalan lebih pelan, sangat penasaran. Tidak biasanya Chanyeol mendapatkan tamu di malam hari.

Dan saat keluar dari taksi... Kyungsoo. Kyungsoo. Kyungsoo membawa koper.

Chanyeol membuka pintunya. Dan tersenyum.

"Soo! Masuklah." Ia memberi celah untuk Kyungsoo bisa masuk kerumah.

Untuk membiarkan Kyungsoo masuk. Kyungsoo. Kyungsoo yang sama yang membuatnya patah hati dua tahun yang lalu.

Sial, apa yang sebenarnya terjadi.

Baekhyun berlari ke arah pohonnya, sedikit ceroboh dan hampir membuatnya terjatuh dan sekarat saat memanjat menuju kamarnya.

.

.

Lebih sulit dari biasanya saat ia memfokuskan teleskopnya dengan tangannya yang gemetaran, tapi setelah pemandangan ruang tamu Chanyeol terlihat, Baekhyun berharap kalau ia tidak melihatnya.

Karena disana, tepat di matanya, mereka tengah mengobrol. Chanyeol tengah membuatkannya sesuatu, mungkin teh di meja diantara mereka, dengan sebuah senyuman manis di bibirnya, dan Kyungsoo tengah mengelus Mr PB, mengangkatnya dan memangkunya sambil mengusap perutnya.

Itu berlebihan. Kyungsoo pikir siapa dirinya? Datang kembali setelah mencuri bukan hanya cinta sejatinya tapi juga anjingnya. Baekhyun tidak akan membiarkan hal itu.

Ia marah. Sangat, sangat marah. Dan juga kecewa. Chanyeol benar-benar idiot. Orang waras mana yang mau berbalikan dengan mantannya? Seorang idiot, itulah dia.

Ia mengambil ponsel yang berada di kasurnya.

"Hei, Baek. Apa kau sudah sampai dirumah?"

"Dengar Lu. Kalau polisi bertanya, itu benar-benar sebuah kecelakaan, okay? Aku tidak tau kalau membunuh orang masuk dalam kategori tindakan kriminal."

"Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"

"Ini karena cinta Lu! Kau juga tau hal itu! Tak seorangpun akan menyalahkanku karena melakukan kriminal."

Luhan lalu mematikan sambungan teleponnya. Lagi. Sungguh, ia benar-benar dikelilingi orang-orang idiot.

.

.

Ia tidak bisa hanya berdiam diri, melihat anak anjingnya berdekatan dengan laki-laki itu. Kedua anak anjing kesayangannya.

Ia telah berada di depan pintu rumah Chanyeol sebelum sadar apa yang ia lakukan.

Kyungsoo yang membukakan pintunya. Dan menatap padanya. Baekhyun cukup senang menyadari kalau yang lebih tua tidak jauh lebih tinggi. Nyatanya, Baekhyun cukup yakin kalau beberapa tahun kedepan ia akan lebih tinggi darinya. Harapannya lebih tinggi untuk menindasnya.

"Apa kau... ingin sesuatu?"

"Chanyeol."

Ia melihatnya, saat Kyungso sedikit terkejut saat ia mengucap nama itu, tapi ia tetap beralih memberinya jalan masuk kerumah, membiarkan Chanyeol, yang tengah duduk di sofa dan menyiapkan game, melihatnya.

"Hai Baek! Bukankah ini sudah terlalu larut?"

Dan itulah kesempatan Baekhyun untuk masuk kerumah melewati Kyungsoo, dengan seringai tajam di bibirnya. Kyungsoo menatap tajam pada punggungnya.

"Aku butuh tempat untuk tidur. Bisakah aku tidur disini?"

"Apa ibumu menguncimu diluar? Tapi, ya, tentu. Kau bisa tidur di sofa."

"Sofa?"

"Kyungsoo akan tidur di kamar," ia menjelaskan tanpa mengalihkan pandangan dari video gamenya. Seolah itu adalah hal yang biasa untuknya.

"Dan, kenapa bukan dia yang tidur di sofa?" Baekhyun menyahut, merasa sedikit marah dengan situasi disana.

Chanyeol beralih menatapnya, dengan kerutan di alisnya. "Kau seharusnya tidak membicarakan Kyungsoo seperti itu. Ia lebih tua darimu."

Dia adalah musuh bebuyutanku.

"Terserah," ia memutar bola matanya malas, "Kenapa tidak Kyungsoo hyung yang tidur di sofa? Ia hanya tidur disini malam ini kan?"

Chanyeol benar-benar mem'pause gamenya saat ini, melihatnya dengan tatapan aneh. "Tidak, sebenarnya. Kyungsoo adalah teman serumah baruku. Ia kembali pindah kesini."

"Kenapa?" ia akhirnya bertanya. Baekhyun merasa sangat kecil. Ia sungguh membenci hal itu.

"Kenapa tidak?" Chanyeol tertawa. Seolah ia tidak melakukan kesalahan terbesar seumur hidupnya. "Aku butuh uang dan dia membutuhkan tempat tinggal. Aku tidak keberatan, ia juga sama."

Well, aku keberatan.

Baekhyun mengambil Mr PB di gendongannya, menghentikan anak anjing itu untuk mengendus Kyungsoo. Sepertinya hanya anjingnyalah satu-satunya hal yang masih berada di sisinya. Dan ia tidak akan membiarkannya beralih ke lain sisi.

"Apa Luhan dan Yixing mengajakmu keluar lagi?"

"Bisa dibilang seperti itu," ia mengedikkan bahu acuh, duduk di samping Chanyeol dengan Mr PB di pangkuannya.

Kyungsoo mengambil tempat duduk di sampingnya, dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, Baekhyun merasa tidak nyaman berada di rumah itu. Dan ia membencinya.

.

.

Ia tidur di rumah Chanyeol malam itu, ibunya berfikir kalau ia menghabiskan malamnya di tempat Luhan seperti biasa.

Kyungsoo telah siap di dapur saat ia bangun, terlihat membuat sarapan. Ia hanya mendapatkan sebuah anggukan saat yang lebih tua menyadari kehadirannya, dan Baekhyun menatapnya dengan khawatir. Ia tidak mempercayainya, tujuannya, atau makanan yang dibuatnya. Tak ada orang yang menjamin kalau makanannya tidak diracuni.

Karena Baekhyun seorang pengganggu disini.

"Kurasa kau tidak seharusnya berbicara dengan cara seperti itu ke Chanyeol."

"Apa?"

"Ia lebih tua darimu. Tidak peduli seberapa dekat kalian, kau harus menunjukkan hormat padanya."

Baekhyun mendengus, "Aku tidak ingin ia melihatku sebagai anak kecil."

Ia tidak pernah berencana mengatakan hal itu. Sesuatu dalam kalimat itu artinya adalah 'itu bukanlah urusanmu' kau lebih baik mengabaikannya.

Tapi ia telah terlanjur mengatakannya, dan tidak mengejutkan baginya saat Kyungsoo beralih menatapnya.

"Kau tidak seharusnya datang kembali. Kau telah menyakitinya, kau tau kan hyung."

Kyungsoo membuka mulutnya sebelum menutupnya kembali, "Sekarang kita baik-baik saja. Kita tidak balikan atau sejenisnya."

Baekhyun mengambil sebuah apel dari kotak buah di meja, "Baguslah. Kuharap terus seperti itu."

Dan yang lebih tua terkikik mendengarnya, sebuah lirikan nakal terlihat di matanya, "Bukankah ia agak terlalu tua untukmu?"

Suara dari langkah kaki Chanyeol membuatnya tidak menjawab pertanyaan itu, sesuatu yang mungkin dianggap Kyungsoo tidak sopan untuk dikatakan.

.

.

Sungguh melegakan mengetahui kalau berbulan-bulan telah berlalu dan tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka, Kyungsoo mengatakan yang sebenarnya.

Bukan hanya dia dan Chanyeol yang tidak berbalikan kembali, lagipula Kyungsoo juga tidak sering dirumah.

Akhir-akhir ini Baekhyun hanya bertemu dengannya di esok hari, sebelum mereka pergi kuliah, dan ketika ketegangan disana mulai mencair, semua nampak baik-baik saja.

Chanyeol sepertinya telah mendapatkan keseimbangan antara kuliah dan bekerja, dan telah kembali normal. Yang artinya, Baekhyun telah kembali menghabiskan sebagian besar waktu luangnya bermalasan di sofa Chanyeol bermain videogame. Ia baik-baik saja dengan hal itu.

.

.

Chanyeol mengajaknya menonton film di suatu akhir pekan. Seperti biasa, bukan-kencan menonton film.

Hidup Baekhyun sungguh berat.

Kyungsoo juga nampak terlihat, dan mood Baekhyun seketika menurun saat itu terjadi, sampai saat ia melihat laki-laki lain dibelakangnya.

Dan sungguh, ia sungguh sulit diabaikan.

"Sehun," ia mengenalkan dirinya. Ia adalah seorang anak kuliahan baru di kampus Chanyeol dan Kyungsoo.

Kebetulan Kyungsoo telah bisa mengatasi... phobia seksualitasnya. Dan sungguh, itu bagus untuknya.

Tapi itu sungguh membingungkan, kenapa ia meninggalkan seorang yang sangat spesial, baik, ramah, dan tampan seperti Chanyeol untuk seorang seperti... Sehun. Yang mana, kebetulan, sangat tampan dan seperti model, tapi baru menampilkan dua macam ekspresi dalam satu setengah jam ini. Seperti... Kyungsoo. Dan mungkin mereka memang pasangan yang cocok.

Baekhyun menunggu sampai mereka hanya tinggal berdua di antrian untuk berbicara dengan Kyungsoo. "Ia terlihat agak terlalu muda untukmu, bukan begitu hyung?"

Kyungsoo tertawa dan mengelus rambutnya.

Itu sungguh menyebalkan, tapi sekarang ia tau kalau Kyungsoo sudah punya pacar, dan ia pikir, mungkin mereka akan berubah menjadi teman baik.

.

.

Kyungsoo ternyata berubah menjadi lebih menyenangkan dari yang ia kira. Ia bercerita tentang ketertarikan Chanyeol pada beberapa hal seperti bermalas-malasan disekitar rumah dan menonton film, dan ia menjadi alat yang tepat di kehidupan Baekhyun. Tetap saja, ia lebih tua seperti layaknya Chanyeol, mengambil jurusan terkait lingkungan, ia harus berada di luar rumah lebih banyak dari yang ia inginkan.

Selain karena laki-laki itu bersifat pemalu dan penyendiri, yang mana lebih mudah bagi Baekhyun untuk lebih dekat dengannnya, dan ia segera tau kenapa Chanyeol baik-baik saja dengan kehadirannya padahal mereka sudah putus.

Ia sungguh sangat mudah untuk diajak berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah itulah keuntungannya.

.

.

Chanyeol tidak akan berubah menjadi lebih muda. Tapi itu tidak masalah karena ia seperti sebuah wine yang bagus, menjadi lebih baik seiring bertambahnya usia, saat dimana jarak usia 7 tahun mereka terlihat begitu jelas.

Ulang tahun ke dua puluh tiga Chanyeol adalah hari yang suram untuk Baekhyun. Ia benci ketika ia merasa sangat jaugh darinya.

Pesta ulang tahunnya pun, sungguh, sangat meriah.

Ia mendapati teman Chanyeol seperti biasanya ditambah Kyungsoo dan pacarnya—yang sama sekali tanpa ekspresi, bersama-sama menonton film di malam hari.

Chanyeol terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, penuh dengan senyum yang menghancurkan hati Baekhyun—kerena senyum bibirnya.

Ia benar-benar, sangat senang setelah ia memberikan kado pada Chanyeol (sebuah aksesoris kebun yang menarik, sempurna untuk kebun kesayangannya) dan Chanyeol mengangkat tubuhnya dari lantai, dan memutarkan tubuh mereka selama lima detik.

Aksesoris itu akan memberikan keberuntungan pada pemiliknya, seorang ibu penjual memberitahunya. Dan Baekhyun tidak menginginkan apapun selain keberuntungan pada Chanyeol seumur hidupnya.

.

.

Dan keberuntungan datang lebih cepat dari yang ia kira, beberapa hari setelahnya sebelum liburan musim dingin. Dan jika saja ada hal yang lebih menyebalkan dari ini.

Kyungsoo telah pergi dengan Sehun, dan Baekhyun tengah bergelung dengan Mr PB dan selimut, bermain dengan Chanyeol. Itu adalah hari yang sempurna sebelum Chanyeol membuka mulutnya yang indah.

"Aku mendapat beasiswa S2 di Jepang setelah aku lulus kuliah." Baekhyun mengedipkan matanya, "Aku akan pergi selama 6 bulan," Baekhyun berhenti bernafas, "Aku akan berangkat setelah ujian, musim panas depan," ia tersenyum sangat cerah. Hati Baekhyun hancur berkeping-keping, "Itu akan sangat mengagumkan, bukankah seperti itu?"

Sungguh luar biasa.

.

.

"Ia belum pergi Baek," Luhan mengusap punggungnya, menghela nafas sekian kalinya di sore itu. Ia benci melihat temannya seperti ini.

"Tapi ia akan segera pergi! Apa yang harus kulakukan, Lu?" ia menangis.

Move on, ia berfikiran. Tapi ia tau kalau itu bukanlah hal yang ingin didengar Baekhyun, paling tidak bukan sekarang. Ia tetap berada di sampingnya sampai Baekhyun berhenti menangis, dan diam. Oh tidak.

"Apa menurutmu polisi bisa menangkapku kalau aku menguncinya di dalam rumah? Secara teknis, aku tidak melakukan kesalahan kan?"

Luhan lalu memukulnya. Dan Baekhyun kembali menangis.

.

.

Chanyeol terlihat sedih. Tidak terlalu sedih, tapi cukup sedih untuk membuat Baekhyun ikut sedih. Ia sangat sibuk dengan pekerjaan sekolahnya, dan itu akan membuatnya tidak bisa berada di rumah selama liburan tahun ini. Bahkan Kyungsoo akan pulang kerumah, dan ia akan menghabiskan hari yang paling ia sukai dalam setahun dirumah sendirian.

Baekhyun telah memikirkan itu berulang kali, dan sekarang adalah kesempatan yang sangat sempurna. Ia ingin Chanyeol menghabiskan malam natal bersamanya. Well, dengan keluarganya. Ingin dengannya saja sejujurnya.

Dan saat kesempatan datang, ia mengambilnya.

Chanyeol menyetujui tawaran itu dengan senang, sebuah senyuman lebar nampak di bibirnya. Dan Baekhyun merasa senang lagi.

.

.

Ibunya setuju untuk mengundang Chanyeol, dan itu lebih mudah dari yang ia kira.

"Kau telah menghabiskan sebagian besar harimu disana daripada dirumah. Dan ia memberimu makan. Kurasa ia boleh datang."

Baekhyun bukanlah penggemar makan malam Natal bersama keluarga. Banyak dan makin banyak keluarga yang mungkin baru ia temui beberapa kali mencoba mengajaknya mengobrol berjam-jam.

Tidak dengan tahun ini. Karena sekarang Chanyeol ada di sini. Dan membuatnya menjadi jiwa sosial seperti biasa dan bersikap hangat pada keluarganya.

Ia sangat karismatik, sangat menyenangkan, dan membuat Baekhyun merasakan kehangatan dari dalam dan sangat memikat setiap orang, bahkan sepupu bayi-bayinya.

Untuk sejenak, Baekhyun menghilangkan pemikiran kalau Chanyeol tidak akan bisa berada di rumahnya selamanya, sebelum itu mengacaukan suasana malamnya.

.

.

Libur Natal telah berlalu dan Chanyeol kembali menjadi sangat sibuk setiap saat. Sekarang, walau begitu, ia suka keluar dari rumah beberapa saat, untuk menyegarkan pikirannya dari pekerjaannya. Baekhyun akan sangat senang mengikutinya kemanapun yang ia mau.

Kadang mereka akan pergi melihat film, kadang mereka akan mencari sesuatu untuk dimakan, kadang hanya berjalan di sekitar rumah mereka. Itu terasa seperti kencan, yang mana Baekhyun harus selalu mengingatkan dirinya kalau Chanyeol tidak menganggapnya demikian.

Itu akan sangat mudah untuk berfikir jernih saat mereka tidak sendirian. Luhan dan Yixing bergabung dengan mereka kadang-kadang, dan Kyungsoo sesekali. Itu tak apa, walau demikian. Chanyeol hanya melihatnya sebagai teman dan tetangganya yang berusia lima belas tahun. Dan itu tak apa baginya.

Tapi kadang, ia suka berpura-pura. Chanyeol tidak akan berada di hidupnya selama enam bulan, dan dia ingin bersamanya sebisa mungkin sebelum waktunya ia pergi.

Ia tau sebuah fakta (fakta tentang Kyungsoo, yang berubah menjadi teman yang sangat berguna) mengatakan padanya kalau Chanyeol tidak secara serius berkencan dengan seseorang. Ia telah berkencan beberapa kali, tapi terlihat tidak cocok dengan seorangpun.

Dan Baekhyun sangat senang. Sungguh. Tapi itu hanya masalah waktu saja menurutnya. Kesendirian Chanyeol hanyalah masalah waktu, seperti sebuah bom waktu. Dan Baekhyun tidak punya satupun kesempatan. Berapa lama lagi ia bisa membuat Chanyeol hanya ada untuknya seorang, sampai seorang datang dan mencuri hati Chanyeol?

.

.

To Be Continued...

.

.

.

T/N

Hello dear...

Ada yang masih nungguin transfic ini? Kkkke

Gimana part ini? HunSoo udah keluar tuh (btw aku suka couple ini)

Bisa ya Baekhyun segitu cintanya sama Chanyeol huweee... aku terharu sama perasaan bertepuk sebelah tangan Baekhyun disini (family-zone).

Transfic ini nanti ada 7 parts dear. Dan ya, gaya tulisan author asli begini dear, so kalau masih bingung aku saranin bacanya pelan-pelan aja yah hhhe.

Dan nggak lupa aku ucapin terima kasih buat kalian yang mau baca, review, fave, dan follow transfic ini.

Have a lovely long weekend and see u in the next chapter...

.

.

.

#lovesign