Disclaimer : Vocaloid - Yamaha & Crypton
Perhatian! Cerita ini mengandung typo(s), sedikit gore, OOC, EYD yang salah, alur yang berantakan dan lain lain.
LET THERE BE LIGHT
Chapter 3
.
.
"Kita harus cepat kesana." Ucap Len sembari menyarungkan pedang di punggungnya.
"Oh tidak tidak… kita tidak perlu kesana." Neru menyilangkan kedua tangannya di depan dada menandakan bahwa dia tidak setuju dengan ucapan Len.
"Mungkin Neru benar Len. Kita sudah membuang banyak waktu, kita tidak bisa mendahului mereka untuk memperingatkan penduduk desa."
"Kurasa kalian harus menambah ilmu pengetahuan kalian… Dengar, iblis memiliki bentuk yang beragam, tidak semua iblis memiliki bentuk yang sama."
"Kalau itu aku juga sudah tahu." Timpal Neru, nada bicaranya mengisyaratkan bahwa dia tidak terima direndahkan seperti tadi.
"Tidak hanya bentuk. Kemampuan, kebiasaan, cara berpikir, daya tahan, insting dan kelemahan mereka berbeda beda." Kaito dan Neru terdiam dengan penjelasan Len. Keduanya tentu tahu kalau para iblis memiliki level kekuatan yang berbeda. Namun, keduanya tidak tahu kalau iblis bisa dibedakan sespesifik ini.
"Lalu?" Ucap Kaito mencoba meminta penjelasan lebih.
"Menurut ciri cirinya tidak salah lagi… namanya Nocrs, iblis kelas menengah. Mereka aktif dikegelapan, dengan kata lain mereka nokturnal. Ketika matahari terbit, penglihatan mereka menjadi buruk dan kecepatan mereka turun." Kaito dan Neru semakin terkejut mendengar penjelasan Len, mereka baru tahu tentang ini.
"Tunggu… dari mana kau tahu hal seperti itu?" Neru bertanya. Dia benar benar tidak menyangka kalau Len sepintar ini.
"Aku membacanya dari sebuah buku karya professor Piko, seorang professor yang meneliti tentang iblis. Aku mendapatkannya dari pedagang yang mampir ke tempat Kaum Domba dengan harga murah pada sebulan yang lalu."
"Dasar kutu buku." Len hanya tersenyum menanggapi perkataan Neru.
"Lalu… Dengan kondisi seperti itu, bagaimana mereka bisa menemukan desa tersebut?" Kaito bertanya kepada Len.
"Para iblis tidak pernah mengenal kata puas dalam membantai manusia, begitu pula Nocrs mereka pasti akan mencari manusia lainnya. Kurasa setelah mendengar penjelasanku tadi kalian jadi meremehkan mereka. Walaupun penglihatan mereka buruk tetapi mereka memiliki indra lain…" Len menghentikan ucapannya, jari telunjuknya diarahkan ke hidungnya.
"… penciuman mereka. Dan kuyakin kalian pasti merasakannya. Bahwa… sedari tadi… angin berhembus dari arah timur."
"Sial… Kalau yang kau katakan memang benar, kurasa kita harus cepat!" Seru Kaito, dia segera menyarungkan pedangnya di pinggang dan menggendong tasnya setelah ia berdiri.
"Apakah menurutmu kita memang harus kesana? Mereka bukan siapa siapa kita. Kita harusnya meninggalkan segala resiko kematian dengan meninggalkan tempat ini!" Seru Neru, tubuhnya bergetar, dirinya kembali mengingat memori menakutkan sebelumnya.
"Tidak ada tempat aman seperti yang kau pikirkan Neru! Tidak ada… tidak ada selama para iblis masih berada di dunia kita!" Protes Kaito.
"Aku hanya… tidak ingin… mati… aku… takut."
"Kau bisa pergi ke tempat lain kalau kau mau! Aku tidak akan memaksamu untuk ikut! Kau bisa menutup mata dan telingamu seolah tidak terjadi apa apa! Tetapi ingat… hatimu tidak bisa menolaknya… kau akan merasa sangat bersalah. Aku merasa sangat sakit saat melihat apa yang terjadi dengan Kaum Domba, maka dari itu aku akan pergi. Kau tahu… sesungguhnya mati lebih baik dari pada hidup dengan dosa disepanjang hidupmu."
Neru menundukan wajahnya setelah mendengar ucapan Kaito, dikepalkan tangannya kuat kuat. Membayangkan penduduk desa itu bernasib sama dengan teman temannya membuat dadanya sesak. Tetapi apa yang harus ia lakukan? Dirinya terlalu takut untuk ikut campur masalah ini.
"Dengar Kaito, selagi kalian berdebat aku sudah memperhitungkan segalanya. Kita tidak bisa melewati jalan sebelumnya, kita akan bertemu dengan Nocrs jika lewat sana, sebaiknya sebisa mungkin kita menghindari pertarungan. Maka dari itu kita harus melanjutkan perjalanan kita dari sini ke arah timur, memang lebih jauh tetapi kita masih punya beberapa waktu untuk mendahului mereka." Sela Len menarik perhatian keduanya.
"Berapa waktu yang kita punya?" Tanya Kaito meminta penjelasan lebih.
"… berdasarkan kecepatan rata rata mereka dan waktu yang telah terbuang… kita hanya punya waktu satu jam. Waktu yang sedikit tetapi kita bisa mengungguli mereka jika kita mengeluarkan tenaga ekstra."
"Bukannya kau bisa teleportasi?" Tanya Kaito, kenapa dirinya harus repot repot berlari kalau Len bisa melakukan teleportasi.
"Sudah kuduga kau akan bertanya seperti itu. Tetapi sayang sekali kita tidak bisa melakukannya. Kekuatan itu muncul secara tiba tiba, maksudku saat aku mencoba menggapai Neru dan berpikir untuk tiba disana, secara tidak sengaja aku membuat sebuah lintasan sihir yang membawaku ke tempat diantara Neru danIblis itu. Dan sekarang saat aku mencoba membuat lintasan sihir yang menuju desa itu… hasilnya nihil."
"Yah… Mau bagaimana lagi, ayo cepat Len!" Ucap Kaito sebelum memulai berlari.
"Tunggu!" Seruan Neru membuat Kaito dan Len menghentikan langkah yang baru beberapa mereka tempuh. Keduanya menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara.
"Beraninya kalian meninggalkanku disini! Aku ikut!" Lanjut Neru setelah menyusul Neru dan Kaito. Senjatanya digendong di punggungnya dengan tali yang melintang dari bahu ke pinggang.
"Jadi kau sudah merenungkannya ya nak?"
"Aku benci mengakuinya, tetapi kata katamu itu benar. Dan juga Len… kurasa kau bukan sekedar kutu buku… kau adalah seorang yang jenius." Kaito dan Len tersenyum melihatnya, membuat Neru memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu… Ayo!" Seruan Kaito mengawali langkah mereka berlari.
.
.
Empat puluh lima menit waktu yang sudah mereka tempuh untuk berlari dari tempat tadi. Ketiganya tetap melangkah melewati berbagai macam medan yang cukup sulit untuk dilalui.
"Hosh… hosh… Sial! Aku tidak bisa… hosh… merasakan kakiku!"
"Tahanlah sebentar lagi payah!"
"Wanita… monster… empat puluh lima menit… tanpa berhenti… untuk makan… ataupun minum…"
"Aku juga lelah tahu! Tetapi semakin cepat kita sampai, semakin baik tahu! Iyakan Len?" Neru mengalihkan pandangannya dari Kaito kepada Len yang berlari disisi sebelah kirinya. Dilihatnya wajah Len yang memucat dan keringat yang membanjiri tubuhnya.
'Uwah… dia sekarat.'
"Disana! Sudah terlihat!" Neru melihat arah yang Kaito maksud. Pedesaan yang mereka tuju sudah berada di depan mata.
.
.
Setelah sampai mereka pun langsung ambruk, keberadaan mereka menarik perhatian para penduduk desa yang berada disekitar mereka . Merasakan banyak mata yang melihat mereka, Neru mengedarkan pandangannya. Dirinya mendapati para penduduk desa melihat dirinya dan kedua temannya dengan pandangan was was.
"Siapa Kalian?!" Sebuah suara mengagetkan ketiganya, membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya sang pemilik suara, seorang pemuda dengan rambut berwarna tosca melihat mereka dengan tatapan kurang bersahabat.
"Pertama tama aku ingin minum." Ucap Kaito sembari bangkit dari posisi tidurnya.
Pemuda tadi menarik pedang dari sarungnya yang berada di punggungnya. Diarahkan pedang tersebut di depan wajah Kaito, membuat Kaito tersentak kaget dan mundur perlahan.
"Jawab pertanyaanku! Kalian membawa senjata… apakah kalian perampok?!" Nada bicara pemuda tersebut terdengar sangat dingin, membuat Neru, Kaito, dan Len terdiam karena merasakan ancaman yang serius.
"Tunggu Mikuo!" Pemuda yang diketahui bernama Mikuo menolehkan kepalanya kepada sang pemilik suara. Seketika dia menurunkan pedangnya membuat Kaito bernafas lega.
"Tetua…" Mikuo menunduk, memberi rasa hormat kepada orang yang merupakan tetua desa ini.
"Kau harus bersikap sopan kepada tamu kita Mikuo. Mereka tidak terlihat seperti perampok. Apakah ada perampok yang datang dengan keadaan sekarat dan memelas seperti ini…? Nah kalau begitu… siapa sebenarnya kalian ini?"
"Kami dari Kaum Domba." Ucap Kaito.
"Kaum Domba? Jarang sekali menerima tamu seperti kalian. Aku yakin kalian pasti ada keperluan untuk datang kemari. Jika seperti itu… maukah kalian mampir ke rumahku?" Tetua desa berbalik dan mulai melangkah, membuat ketiganya mengikutinya.
"Kenapa kau segala ikut hah?!" Ucap Kaito kepada Mikuo, sepertinya dirinya kesal karena diperlakukan seperti tadi.
"Aku harus memastikan keselamatan tetua." Ucap Mikuo dengan nada yang dingin.
Rumah tetua desa tersebut berjarak tidak cukup jauh dari tempat tadi. Sesampai dirumahnya yang terbilang cukup besar, sang tetua mempersilahkan masuk kepada ketiganya, tetua menuntun mereka menuju ruangan besar dengan meja panjang yang dipenuhi makanan. Hal tersebut membuat wajah mereka bertiga berseri seri.
"Silahkan dinikmati… kau juga boleh ikut makan Mikuo." Ucap tetua mempersilahkan.
"Terima kasih tetua. Tetapi maaf saya harus menolaknya. Akan sangat tidak sopan jika saya mengganggu tamu anda." Tanpa memperdulikan Mikuo, mereka bertiga melahap makanan dengan buasnya. Tetua hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Jadi… apa tujuan kalian datang kemari?" Tanya tetua disela kegiatan makan mereka.
"… Dalam waktu dekat… para iblis akan menyerang desa ini." Ucapan Kaito membuat tetua terbatuk kaget. Diminumnya segelas air, dan dilap bibirnya dengan tisu dari sisa makan yang keluar dari mulutnya.
"Maaf?" Tetua kembali melontarkan pertanyaan mencoba meminta penjelasan lebih.
"Tempat Kaum Domba disebelah barat desa ini, tempat dimana kami tinggal, pada dini hari diserang oleh sekelompok iblis. Hanya kami yang berhasil selamat dan melarikan diri, namun… menurutku, para iblis itu akan menyerang desa ini. Maka dari itu kami pergi ke desa ini untuk memperingatkan kalian." Ucap Len mengambil alih percakapan.
"Oh astaga… tetapi kami adalah pemuja Sang Dewi. Kami akan selalu dilindungi olehnya."
"Kami berada disana saat pembantaian itu terjadi… aku bahkan melihat teman temanku dibunuh. Berdoa saja tidak cukup! Anda harus melakukan sesuatu, apa yang kami katakan benar adanya!" Sela Neru, dirinya mulai kehilangan kendali membuat keadaan menjadi hening.
"Kalau memang begitu… Mikuo! Aku ingin kau untuk memerintahkan beberapa penjaga untuk berjaga disebelah barat desa ini. Dan evakuasi para penduduk yang lain ke arah timur!" Mikuo memberikan hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan dan menjalankan perintah tetua.
"Kami akan membantu juga." Usul Kaito kepada tetua.
.
.
"Cepat berkumpul di halaman tetua!" Seorang pemuda berbadan kekar mengarahkan beberapa penduduk menuju arah yang dimaksud.
"Neru… pelurumu habis kan? Jika keadaan memburuk gunakan ini." Kaito memberikan sejumlah peluru kepada Neru.
"Hanya ada lima… gunakan sebaik baiknya." Lanjut Kaito yang dibalas anggukan oleh Neru.
Evakuasi sudah berlangsung selama beberapa menit. Kini halaman rumah tetua itu sudah sesak karena dipenuhi penduduk desanya.
"Apakah sudah semuanya?" Tetua menanyakan keadaan kepada Mikuo.
"Saya sudah mengirim beberapa penjaga di pintu barat. Seluruh penduduk juga sudah dievakuasi."
"Bagus… aku akan memulainya kalau begitu." Tetua melangkah selangkah kedepan, berdiri di depan seluruh penduduknya.
"Perhatian wahai penduduk desaku!" Tetua berbicara dengan suara yang lantang, membuat keadaan menjadi hening seketika.
"Pagi ini kita mendapatkan sebuah kabar buruk dari sekelompok orang Kaum Domba! Dalam waktu dekat ini, desa kita akan diserang oleh iblis! Maka dari itu kita akan mengungsi ke arah timur! Tak perlu panik! Sang Dewi akan melindu…." Perkataan tetua itu terhenti. Pandangannya mengarah jauh ke bagian belakang penduduk yang akan di evakuasi. Para penduduk yang melihat keanehan pada tetua mencoba melihat juga ke arah pandangannya.
Apa yang mereka dapati disana adalah seorang penjaga yang berjalan tertatih tatih dengan luka lebar menganga dibagian pinggang kirinya.
"Mereka… Datang…" Ucap penjaga itu dengan susah payah. Wajahnya pucat dan menunjukan kepanikan yang luar biasa.
"Tolong... kami semua… kalah…" Penjaga itu kembali melanjutkan ucapannya, mulutnya kini mengeluarkan darah.
Beberapa penduduk mendekati penjaga tersebut, mencoba menolongnya. Namun, beberapa saat sebelum menyentuhnya, mereka mundur. Wajah para penduduk itu kini menunjukan ekspresi takut, mereka mulai mundur perlahan. Melihat keanehan ini penjaga tersebut menoleh kebelakang, dirinya sangat terkejut ketika melihat seekor Nocrs sedang berjalan ke arahnya.
"Zraassshhhh….!" Nocrs itu kini membelah dua tubuh penjaga itu. Pancuran darah yang bagaikan hujan membanjiri para penduduk yang berada di dekatnya.
Semua penduduk terdiam melihat kejadian tersebut, tubuh mereka bergetar melihat Nocrs didepan mereka. Nocrs itu terdiam sesaat menikmati euphoria membelah seekor manusia.
"Hooeeekkkkk….!" Salah satu penduduk muntah. Menyadari kehadiran makhluk lain kini Nocrs tersebut mulai mengendus endus ke arah para penduduk di depannya.
Sedetik kemudian… ia tersenyum.
TO BE CONTINUED
.
.
Pojok Author :
Kebanyakan cingcong akhirnya jadi aneh gini. Ya sudahlah memang begini adanya. Dan Titik dua di fic ini menandakan time skip.
Oke di chapter ini saya kasih penjelasan tentang iblis yang banyak jenisnya, jadi nanti iblis yang nimbrung di fic ini cukup beragam dengan kemampuan yang berbeda beda.
Dan Nocrs saya ambil dari kata Nocturnal… simple banget yak.
Dan akhirnya muncul karakter baru… Mikuo!
tamaja :
jadwal saya nulis itu antara rabu sama kamis… jadi updatenya seminggu sekali.
Saya usahakan untuk melanjutkan cerita ini sampai tamat.
Rukma Hatsune :
Pendek ya? Maaf saya maksain buat apdet, akhirnya jadi deh chapter yang terburu buru.
Saya usahain buat manjangin kalau waktu dan ide memungkinkan haha…
Saya juga stress nih karena laporan… apalagi jurusan programming. Listing code, diagram alur…
Amin… makasih atas doanya.
.
.
Saya akan sangat berterima kasih jika para senior mau memberikan masukan melalui review.
Sampai bertemu lagi di chapter depan!
