Raceme

Naruto ⸺ Masashi Kishimoto

Raceme ⸺ Zuihara Ame

Sasufem!Naru

awas ranjau typo, OOC-ness, dan lain sebagainya

~selamat membaca~

.

.

Chapter 4 : Recover

Sasuke tampak was-was dengan situasi sekarang. Ia benar-benar harus memperhatikan betul apa yang ada 1 kilometer di depan mata kelamnya. Karin sudah mewanti-wantinya agar tidak terlalu dekat dengan tempat penyimpanan pedang itu. Jika ia membuat satu kesalahan saja, dia akan terendus. Dengan perlahan dia mendekat. Benar saja kalimat Karin, salah satu vampir mengendus pergerakan Sasuke. Kini satu vampir berada dihadapan Sasuke.

"Hooh, Uchiha," vampir itu memutari tubuh Sasuke, "sampai sekarang pun aku masih heran. Kenapa Uchiha tidak menerima saja tawaran musim lalu," vampir itu berhenti di belakang Sasuke. Mengendus tengkuk Sasuke dalam. "Dan, lihatlah. Satu keluarga menjadi pemberontak."

Manik hitam Sasuke tetap menatap lurus, hanya tangannya yang bergerak untuk menyingkirkan kepala vampir itu dengan perlahan.

"Aku masih menyentuhmu dengan halus jangan sampai kita mengeluarkan kuku," ucap Sasuke dalam satu tarikan napas.

"Hmm..., anak baik. Keluarga Uchiha memang terkenal dengan didikannya yang baik," vampir itu membelakangi Sasuke, "tapi sayang, dia benar-benar kurang waspada."

Satu serangan ke leher Sasuke di layangkan. Terlambat sedikit saja Sasuke akan menjadi batu dingin yang dipukul bisa pecah. Sasuke berhasil menyerang balik.

"Lalu dia yang tidak berhati-hati juga akan tumbang." Sasuke menyeringai kemudian melewati vampir berambut setengah hitam setengah putih itu.

"Nikmati kebekuanmu, Zetsu."

"Si-al!" Zetzu kaku. Satu jarum menancap di dahi Zetzu.

"Endusanmu tidak secepat gerakanku." Sasuke pergi meninggalkan Zetzu yang tak bisa bergerak lagi. Ia menghilang dibalik pohon-pohon hutan dan muncul 200 meter dihadapan para vampir penjaga pintu masuk gua. Dia berjalan pelan. Lima vampir penjaga yang melihat Sasuke menyerang. Sasuke mengalahkan mereka dengan mudah. Kemudian ia masuk ke dalam gua. Tidak ada api penerang. Sasuke berjalan lurus. Tidak ada siapa-siapa di dalam sini. Ini aneh. Seharusnya jika pedang itu memang penting kenapa tidak disembunyikan di tempat yang lebih tertutup?

Tempat ini adalah gua sebelah barat, diselimuti oleh hutan berisikan pohon dengan tinggi minimal 20 meter. Tempat lembab dan manusia tidak bisa masuk karena tidak ada jalan. Tapi itu adalah perihal yang mudah bagi vampir, pohon adalah penunjang pergerakan mereka.

Sasuke masih tetap waspada, karena ini benar-benar aneh. Dia sudah menelusuri lorong gua tapi tidak ada satu pun vampir yang menjaga pedang itu. Bahkan kini Sasuke bisa melihat pedang itu tergelatak begitu saja di atas batu besar datar di pojok gua yang diterangi dengan cahaya bulan yang masuk melalui lubang di atas gua. Dia juga tidak merasakan pergerakan apapun. Ah, begitu mudahnya mengambil pedang itu. Satu langkah Sasuke menapakkan kakinya ke tanah, satu tusukan menembus perut Sasuke. Tangannya refleks menyentuh benda yang tembus menancap diperutnya, begitu pula pandangannya. Untuk sekarang masih belum ada kebekuan yang terjadi di perutnya.

Seringaian licik terlihat dari belakang tengkuk Sasuke dibarengi dengan kekehan renyah.

"Selamat, kau masuk perangkap. Bukankah saudari angkatmu itu sudah memperingatimu, hm?"

"Dasar keparat!" desis Sasuke.

"Dari dulu memang begitu, bukan?"

"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Tidakkah kalian sudah sejahtera?"

Luka di perut Sasuke membuat retakan kecil.

"Ahahahahahaha. Tenang, kau tidak akan hancur lebur," vampir itu menarik napas panjang dan mengembuskannya keras. "Sejahtera? Apanya yang sejahtera kalau kami hanya bisa menjadi vampir pendusta seperti kalian. Sebaiknya tanyakan pada dirimu, sebenarnya kau itu apa!" Vampir itu menaikkan nada bicaranya sambil melepas pedang yang menancap pada perut Sasuke. Sasuke hendak ambruk, tapi ia masih bertahan.

"Sasuke, vampir bangsa Uchiha. Tak kusangka aku bisa menusukmu. Apakah kau benar-benar Uchiha? Aku jadi ragu. Pasalnya Uchiha itu sangat cepat dan dihormati. Tapi tidak ada yang lebih kuhormati selain pamanmu."

"Cih! Hentikan omong kosongmu itu!"

"Terserahmu. Aku hanya ingin berkata seperti itu. Apa kau mau mengambil pedang itu?" Vampir tersebut menunjuk ke arah pedang berwarna perak.

"Silakan saja ambil, tapi...," vampir itu kembali berada di hadapan Sasuke, ia langsung menghempaskannya pada dinding gua hingga dinding itu retak dan berlubang. Vampir itu menghampiri Sasuke dan merobek baju Sasuke, menuhunuskan pedang lagi di perut bagian kanan Sasuke. Retakan di perut Sasuke melebar. Vampire itu mengatup rahang Sasuke. Sasuke mendecih, dia menendang kuat-kuat perut vampir di hadapannya hingga vampir itu menjauh 100 meter.

"Hmm, ternyata kau masih mempunyai enaga untuk menendangku" Vampir itu berdiri sembari menyeringai.

Ia kembali menyerang Sasuke, menghantam Sasuke dengan pukulan di perut retak Sasuke membuat retakan semakin melebar, melayangkan Sasuke ke sembarang arah hingga tubuh Sasuke berbenturan dengan dinding gua lagi. Sasuke meringis menahan rasa sakit. Sasuke benar-benar tidak bisa melawan. Rasa sakit menusuk ke seluruh tubuhnya.

"Ada apa? Kau kesakitan? Jelas, tidak ada yang bisa menandingi pedang Ash."

Sasuke menggeram. Retakan-retakan itu semakin menjalar ke dada dan kakinya. Pukulan kembali dilayangkan, namun tatapan mata Sasuke tetap menuju ke arah vampir di depannya.

"Aku benar-benar suka dengan tatapanmu itu."

"Aku tidak akan membiarkanmu untuk menyentuhnya barang seujung kuku pun!" ucap Sasuke dingin dan mantap.

"Haahh! Silakan saja kau berkata seperti itu sebanyak yang kau mau di neraka!" Vampir itu hendak memotong leher Sasuke namun pedang itu berhenti saat menembus satu sentimeter dan menimbulkan retakan kecil di sana.

"Aku akan berkata seperti itu meskipun aku di neraka. Dasar bodoh."

Sasuke megambil pedang yang kini tergeletak di tanah. Vampir yang memegang pedang tadi langsung beku seperti seperti batu. Jarum-jarum kecil menancap di titik vital vampir tersebut.

"Jangan remehkan Uchiha yang bergerak cepat."

Sasuke mengambil pedang perak di sudut gua, kemudian menghancurkan batu berbentuk manusia yang ada dihadapannya, meninggalkan gua yang retak dan ada beberapa bagian yang sudah runtuh.

Ia tak bisa bergerak cepat seperti biasanya karena luka di perutnya. Malam menjadi dini hari, hujan mulai mengguyur, tanah menjadi lumpur, hutan bertambah dingin, namun masih belum bisa menandingi dingin kulit Sasuke.

.

.

Pukul 1.30 dini hari Naruto masih memeluk dirinya sendiri di depan tungku api yang menyala dekat tangga utama. Sepi, para pelayan sudah tidur. Ia memikirkan maksud Sasuke memberitahu kalung itu. Memangnya kenapa dengan kalung itu? Apakah ada hubungannya?

BRAK!

Naruto langsung menoleh pada arah pintu. Sasuke ambruk disana. Naruto bergerak menghampiri. Matanya sedikit membelalak sepersekian detik lalu membantu Sasuke berdiri.

Ia memapah Sasuke ke kursi panjang depan tungku.

Naruto melepas mantel basah berwarna hitam yang dikenakan laki-laki itu. Naruto mengatupkan bibirnya begitu manik sapirnya tertuju pada baju Sasuke yang sobek dan luka di perut serta retakan yang menjalar. Naruto hendak mengambil dua pedang yang diikat di pinggang Sasuke, tapi tangan Naruto ditepis Sasuke.

"Jangan disentuh." Sasuke meletakkan dua pedang itu di lantai.

"A-apa yang harus kulakukan?"

"Diam, duduk saja disini."

Naruto hanya menuruti perintah Sasuke.

Beberapa menit mereka diam. Sesekali Naruto melihat retakan di tubuh Sasuke yang menyatu sedikit demi sedikit.

"Apa yang terjadi padamu?"

Naruto berbicara tanpa mengalihkan matanya dari api yang berpijar. Hening.

"Kenapa kau belum tidur?" tanya Sasuke kemudian.

"Aku tidak bisa tidur." Hening lagi.

"Kenapa kau menunjukkan kalung itu kepadaku? Memangnya apa yang akan terjadi padaku?" lanjut Naruto.

"Oh, rupanya kau sudah tahu."

"Tidak sebelum kau mengatakannya."

"Jangan berpura-pura."

"Aku memang mengetahui kalung itu, tapi aku tidak tahu maksudmu. Aku tidak tahu maksud kalian." Naruto kembali meringkuk, memeluk dirinya sendiri.

"Aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi pada keluargaku dan rakyat..."

"Aku tidak ingin mereka menderita lebih daripada ini. Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang sebenarnya ayah lakukan. Ayah memberitahu tanaman yang bisa membunuh bangsamu, pastinya kau tahu itu, bukan?"

Hening kembali menjalar diantara mereka. Hanya ada suara peletikan api yang terdengar. Sasuke masih diam tidak berkutik apapun. Ia menatap lurus ke arah api, tatapannya tetap dingin seperti biasa. Naruto mengembuskan napasnya panjang.

"Setidaknya berbicaralah padaku, Teme. Sebenarnya aku sudah lelah."

Naruto merunduk, membenamkan wajahnya. Luka Sasuke hampir menutup sepenuhnya, ia mendekat pada Naruto. Sasuke memeluk Naruto kemudian mengelus punggung Naruto pelan. Naruto langsung membalas pelukan Sasuke. Ia menangis dalam diam. Sedikit lama mereka berposisi seperti itu hingga Naruto berhenti menangis. Sasuke membawa Naruto ke pangkuannya. Sasuke memangku Naruto dari belakang, lalu semakin mengeratkan pelukan, dan membenamkan wajahnya di tengkuk Naruto. Menghirup aroma Naruto yang seperti obat candu. Naruto menggenggam tangan Sasuke erat.

"Aku..." Sasuke angkat bicara dengan pelan, namun cukup untuk didengar telinga Naruto.

"Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Jika hal itu terjadi, itu menjadi ketakutan terbesarku. Lebih baik aku hancur lebur daripada kau meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku."

Naruto diam. Dia hanya mendengar setiap kata yang diucapkan Sasuke.

"Aku memang bersalah, Naruto. Memperlakukanmu seperti ini. Aku memang egois."

Satu kayu bakar patah dan menimbulkan suara peletikan yang berbeda dari peletikan lain. Naruto menolehkan wajah, ia bisa melihat raut muka Sasuke. Disana dingin dan lemah.

"Dari dulu kau selalu egois, Sasuke. Aku selalu tidak bisa lari dari egoismu. Tapi bisakah kau memberitahuku?"

"Maaf, belum saatnya kau untuk tahu."

"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan mencarinya sendiri." Naruto mengahadap kembali ke arah api.

"Aku ingin kau tinggal di sini. Tetaplah disini. Aku tidak akan mengeluarkanmu dari sini."

"Apakah kau akan bisa mengurung Naruto?" ujar Naruto diikuti kekehan kecil.

"Tentu. Aku adalah Sasuke. Ingatlah itu, Tuan Putri." Sasuke mengecup kening Naruto singkat.

"Tuan Putri ini tidak akan menyerah, Vam—"

Belum sempat Naruto menghabiskan kalimatnya, Sasuke menghisap darah Naruto di perpotongan leher Naruto.

"Pir! Aaahgh~"

Beberapa teguk darah sudah masuk ke kerongkongan Sasuke. Naruto mendongak bertumpuan pada pundak Sasuke.

Selesai meneguk darah Naruto Sasuke menjilat dan mencium leher Naruto. Naik ke dagu dan berakhir pada bibir Naruto. Sasuke melumat bibir Naruto. Naruto awalnya bungkam, namum Sasuke mengigit bibir bawah Naruto hingga memberikan akses lidah Sasuke untuk masuk.

Darah yang ada pada bibir Naruto juga tak luput dari lidah Sasuke. Naruto membalas lumatan Sasuke. Suhu dingin Sasuke merasuk pada mulut Naruto. Lumat dan melumat mereka lakukan hingga jam dinding tua berdentang menandakan pukul 2 dini hari, dan suara peletikan api yang mulanya pengisi hening kini sudah tak mereka dengar lagi, digantikan oleh suara hati yang sedang bercumbu diri.

BERSAMBUNG

Halo haloo~~ Jumpa lagi dengan saya dengan apdetan cerita yang rupanya tenggelam (?) Hahahaha. xD

Maaf minna apdetnya lamaaaaaaa. Kenapa lama? Dichapter ini jujur saya bingung, ini mau diapain, padahal kerangkanya udah ada. Wkwkwkwk.

Well yeah, apakah kalian tahu cerita ini akan dibawa kemana? Maksud si vampir ini ketahuan nggak? Hahahaha. xD

Wait for next chapter, Baby. /peluk cium

Makasih sudah baca. ^^ /maafkalaumasihadatyponya

Mind to review? Douzo~