Hello, Minna~ Saya datang lagi membawakan cerita yang masih sama judul, tokoh, namun beda alur #dor xD Walaupun update nih chapter nggak setelat chapter kemarin yang udah lumutan ampe 3 bulan sih, tapi tetep aja ngaret yaak? (maklumin ajalah, saya ini orang Indonesia. Tau sendiri kan gimana orang Indonesia? Suka ngaret!) HUSH...!

Ha ha ha.. chapter kemarin agak aneh ya ceritanya? Juga dikit yaa? Iya sih, cuz author ngebut buatnya u,u

Oyaa.. dan author ganti penname loo. Yang sebelumnya "Rika'the'Titania" wk wk.. Bosen aja author #gatanya xD

Warning!

Mm... Gini, di chap sebelumnya auhor salah nulis kelasnya si Sasuke, nih. Seharusnya Sasuke masih kelas X / 10, eh malah author nulis kelas XI / 11. Wk wk, maklumin yaaa? Dan prev chap juga mau author edit kelasnya kok, he he ^^a

Oya, dan kemarin ada yg tanya cerita ini mirip kaya kehidupan author? Jawabannya 'iya'. Seperti yg dulu pernah author sampaikan di chap pertama, kalo nih cerita mencerminkan(?) The Love Story of Me (?) xD Maklumin aja yaah~ xD tapi walaupun 11 20 (?) sama kehidupan RL author, ini ada yang dibedain kok. Cuz, hubungan cinta author masih suka ganti2 (?) #plakk

Makasih sekali ya, buat yang udah riview kemaren xD Semoga amal ibadah kalian diterima di sisinya(?) #dikeroyok mumpung bulan Ramadhan, nih #plak (belum mati woy!) Ha ha... PEACE~ xD

Happy Reading~

Prev Chap:

Google-search: Natsu Dragneel

KLIK

"Picture-nya jadul semua," gumamku sambil sedikit cemberut.

Google-search: Natsu Dragneel tumblr

KLIK

Sambil menunggu loading-nya selesai, aku pun menge-klik tab dengan cekatan. Tak kusangka saat membuka mentions, ada banyak sekali mentions yang belum kubales.

Dengan melihat mentions yang berjibun itu, aku jadi unmood buka 'RL-acc'. Dan terbesit dipikiranku..

"Ah.. lama aku enggak 'nge-RP'. Aku kangen nge-RP jadi 'Lucy Hearfilia'."

.

.

.

Chapter 4

Rika Uzumaki

.

.

.

Pandanganku hanya lurus ke depan. Menatap sebuah gedung yang cukup besar. ber-cat kan warna putih. Dan dengan halaman yang cukup luas, juga taman di depan gedung itu yang berpadu dengan kolam ikan sedang yang membuat gedung itu lebih sedap dipandang.

Konoha High School.

Ya, ini adalah sekolahku. Dari Junior High School sampai Senior High School menjadi satu di gedung besar ini.

"Ne, Forehead! Jangan melamun begitu dong?" mendengar kata-kata Ino barusan, menyadarkanku dari lamunan konyol ini.

"Sa-sakura-chan... mari kita masuk?" suara kedua Hinata pun mengikuti.

"Aa... gomen," kataku sambil menggaruk pipiku yang tak gatal. Namun kemudian aku pun mengangguk dan tersenyum. "Ikuzo!"

.

Beberapa saat dalam perjalanan menuju kelas, keaadan hanya sunyi. Tak ada yang membuka mulut. Entah setan apa yang menyambet. Sampai pada akhirnya...

"Ne ne... Kalian tau..."

"Enggak!" kataku cepat memotong kalimat Ino.

"Hush, diem kau Forehead! Aku belum selesai bicara, tauk!" kata Ino dengan manyun. Aku pun hanya tertawa kecil melihatnya.

"Haha... gomen! Emang ada apa, sih?"

"Di kelas kita akan kedatangan murid baru lho." Kata Ino antusias.

"Siapa, Ino?"

"I dunno. Yang jelas dia cowok, Temari-san..."

Aku sedikit melirik ke arah Ino dengan ekor mataku. Tersirat di wajahnya, dia sangat gembira. Aku pun menghela napas dalam diam. Ino sangat menyukai cowok, apalagi kalau cowok itu cakep.

"Di-dia anak pindahan dari 'Root High School'."

"Eeh? Root? Itu bukannya sekolah orang elite, yaa? Darimana kau tau itu, Hinata?"

"Di-dia sepupu Sasuke-kun."

"Sasuke-kun? Kenapa kau bisa tau?"

"Neji-niisan yang menceritakannya padaku."

Tak heran kenapa Hinata bisa mengetahui tentang Sasuke-kun. Konon, keluarga Hyuuga—marga Hinata dan Uchiha—marga Sasuke adalah rekan bisnis yang sama-sama maju. Dan juga katanya (lagi) termasuk saudara jauh, sangat jauh.

"Mm... Sepupu katamu?" kata Ino dengan raut wajah yang tak biasa. "Kalau itu adalah sepupu Sasuke-kun, berarti..."

Di detik yang sama aku melihat seringaian terpancar jelas diwajah Ino. "Doushita, Pig?"

"Haa... na-nandemonai yo..." kata Ino kemudian diikuti senyum yang menurutku hanya senyuman palsu.

Dan semua orang yang ada di sini hanya sweatdrops melihat kelakuan Ino yang seperti sudah menjadi makanan sehari-hari kita.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Rika Uzumaki

Rated: T

Warning: Slight: SasuSaku, NaruHina, OOC, jelek, abal, mungkin ada sedikit typo!

Summary: Cintaku ini 'cinta monyet' yah! / Waa.. 'monyet' bercintaa~ (?) / Siapa yang kau maksud 'monyet', hah! BAKAAAA! ...RnR?

Cinta Itu Rumit, yah?

.

.

.

Dengan bermodalkan tangan kiri yang menopang kepalaku yang terasa berat ini, juga mataku yang agak merem-melek gara-gara ngantuk berat. Aku terdiam di bangku pojok bagian belakang.

Pagi ini aku sangat ngantuk. Gara-gara semalam aku begadang sampai pagi. Riuh-ricuh kelas tetap tidak membuat ngantukku hilang. Malah semakin bertambah.

Ini sudah menjadi tradisi kelas sebelum guru datang, pasti anak-anak selalu rame. Biasanya aku juga sih. Tapi bagaimana mau ikut-ikutan kalau mataku udah berat banget begini?

'Ck... Kakashi-sensei,' gumamku dalam hati kepada guru yang sering terlambat itu.

"Oi... Forehead~!" Panggilan Ino tidak kupedulikan. Dan aku yakin, Ino memanggilku hanya untuk diajak menggosip bersamanya. Ck...

"HOAM..." Aku menguap lebar selebar si pineapple-head—anak terpandai di sekolah dan juga tetangga si Ino, Shikamaru. Dan kemudian, aku memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka, agar ngantukku ini sedikit terobati.

Tak memakan waktu lama, aku segera meninggalkan bangku dan segera keluar kelas menuju kamar mandi. Tentunya dengan jalan hampir mirip seperti orang yang lagi mabuk.

Yah, ini memang salahku kenapa aku harus begadang sampai pagi. Aku keasyikan internetan semalam. Hingga aku tak sadar kalau sudah jam 2 dini hari.

Dan walaupun aku sudah tau kalau jam sudah menunjukan pukul pagi. Aku tetap melanjutkan kegiatan tak bergunaku itu sampai pada akhirnya aku tidur pukul 3 pagi. Dan kemudian bangun pukul 6 pagi. "HOAM."

Intinya, aku hanya tidur 3 jam.

Tap

Aku berhenti di depan sebuah toilet putri. Kemudian aku memasuki toilet itu dengan pelan sambil mengucek-ngucek mata emerald-ku. Dan menuju ke wastafel yang ada di dalam toilet ini.

Beberapa menit kemudian, aku keluar dari toilet itu dengan wajah yang sedikit basah. Rasanya sudah lumayan segar, tidak seperti beberapa menit yang lalu. Walaupun rasa kantuk masih sedikit menggelayuti mataku ini.

Dan dengan memulai satu langkah, aku mengambil sapu tangan soft pink milikku dan kemudian mengelap wajahku yang masih sedikit basah ini. Dan sehingga—

Bruk

"Aw..."

Aku menabrak seseorang.

"Ittai..."

Dia seorang pria?

"Aduuuh... apa-apaan, sih?" kataku ketus dengan sibuk merapikan baju dan rok milikku yang sedikit kotor karena jatuh tadi. "Kalau jalan makanya liat-liat dong! Punya mata nggak, sih? Bajuku jadi kotor gini, kan! Apalagi pake acara nungsep di depan kamar mandi yang lembab dan kotor lagi! padahal juga kamaren baru aja dicuci! Huuhhh..."

Aku masih sibuk dengan pakaianku yang kotor ini. Aku sangat kesal. Ingin sekali berdiri dan langsung menonjok muka orang itu. CIH! Namun hal itu kuurungkan ketika suara baritone mengalun dengan lembut namun sedikit tergagap ditelingaku.

"Sa-sakura-chan..." Aku masih memfokuskan pendengaranku kepada orang yang memanggilku ini. Suara itu begitu familiar bagiku. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini... jangan-jangan...

"Naruto!" kataku kemudian setelah mendongak.

"Gomenasai, Sakura-chan... Aku beneran nggak sengaja nabrak kamu. Kamu nggak pa-pa?" Wajahnya sedikit pucat dan terlihat menyesal juga khawatir. Aku hanya menatap lurus bengong karena baru kusadari kalau aku tadi marah-marah gak jelas.

"Aa..." Aku sedikit kesusahan berbicara. Aku malu setengah hidup karena sudah seenaknya bentak-bentak orang, apalagi itu orang yang kukenal. Duh, coba saja kalau itu bukan orang yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu di taman, mungkin orang itu sekarang sudah kumaki-maki sampai dia lari kebirit-birit!

"Sa-sakura-chan?" panggilannya membuyarkan lamunanku. Aku menelan ludah gugup. "Ka-kamu marah?"

Aku hanya diam sedikit berpikir sesuatu. Bingung mau jawab apa. Sampai pada akhirnya, seseorang menawarkan tangannya untuk membantuku berdiri. Tak salah lagi kalau orang itu adalah Naruto.

Aku sedikit terbengong dan menatapnya. Namun di detik berikutnya, aku segera menerima uluran tangannya dan berkata, "Arigatou."

Setelahku berdiri, keadaan di depan kamar mandi ini masih terasa canggung. Aku hanya menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal untuk sedikit menelan rasa maluku. Aku tidak berani menatapnya. Mukaku sudah benar-benar ada di bokong sekarang!

"Maaf ya, Sakura-chan... Aku beneran nggak sengaja nabrak kamu. Aku nggak tau kalo di depanku ada orang yang lewat."

Aku terpejam erat sambil menunduk mendengar penuturannya. Bukan, bukan kamu yang salah Naruto! Tapi aku yang bodoh ini. Jelas-jelas aku tadi menabrak orang saat mataku sedang sibuk mengambil sapu tanganku yang ada di saku, kok.

"Ano... seharusnya..." belum sempat menyelesaikan kalimatku, suara lain kembali memotongnya dengan sebuah teriakan dari ujung lorong. Refleks aku menengok ke sebelah lorong bagian kanan.

Seorang gadis berambut pirang ponytail datang dengan teriakkan yang memekakan telinga ini kemudian menghampiri kami dengan sedikit berlari. Aku menyipitkan mata untuk memperjelas siapa gadis itu dari jarak kurang lebih lima meter.

DUAGH. Tiba-tiba saja setelah gadis itu sampai dihadapanku, dia langsung memukulku tanpa belas kasihan.

"WHAT THE HELL?!" umpatku sambil mengelus-elus kepalaku yang mungkin benjol ini. "Kenapa kau tiba-tiba memukulku, sih PIG?" lanjutku dengan perempatan siku-siku yang bertengger manis di jidat lebarku gara-gara ulah Ino barusan.

"Tsk... BAKA!"

"Nani? Kenapa kau malah mengataiku, Pig?" emosiku semakin mendidih, telah siap untuk meledak kembali.

"Ck... apa kau tak sadar, Forehead?" alisku sedikit terangkat. "JAM BERAPA SEKARANG?" teriak Ino kemudian.

"EEHH?" mataku membulat sempurna, melihatkan mata emerald-ku yang berkilau—kaget. "APAAH?"

Aku baru menyadari kalau aku sudah meninggalkan kelas hampir setengah jam setelah aku menilik jam tanganku yang ada di pergelangan tangan kanan sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Mati aku! Ini kan pelajaran Kakashi-sensei. Kalau tau ada muridnya yang telat, aku bisa dihukum nih... (Padahal guru itu sering telat sendiri!)

"Tsk... makanya, kalau lagi jam pelajaran jangan pacaran muluk! Di hukum sama Tsunade-sensei lagi mampus kalian!"

DEG

"Wha-what the hell are yo—" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tanganku sudah diseret menjauh dari tempat itu.

Dan meninggalkan Naruto yang entah sedang apa di tempat itu. Bingung? Ya, mungkin itu yang dirasakan Naruto saat ini...?

"Mie ayam satu porsi..."

Bruk

"Gomenasai!"

"Kalo jalan makanya pake mata!"

"Orange juice satu~"

"Strawberry juice saya!"

"Baik, dek."

"Bakso sapi..."

"Silahkan. Pesanannya sudah jadi."

Nah, seperti yang kudengar saat ini. Di tempat ini begitu rame. Orang-orang menyebutkan nama makanan yang ingin mereka makan. Bukan cuma itu juga keramaian di tempat ini, tapi juga ada yang rame gara-gara masalah lain. Ha ha...

Yup. Benar sekali, ini adalah kantin Konoha High School.

"Ini pesanannya sudah jadi, adek-adek," kata sang pelayan kantin sekolah dengan ramah dan meletakkan beberapa makanan dan minuman di atas meja kami.

"Arigatou," jawab kami serempak.

"Tumben kau pesan Orange juice, Forehead?"

Aku menyeruput Orange juice miliiku sebelum menjawab pertanyaan Ino. "Tau deh. Aku lagi pengin aja."

"Uhm... bwukan kwarena—"

"Telan dulu, Ino," potong Temari-san yang mungkin risi melihat Ino makan sambil berbicara.

"Eum... Sakura-chan, bagaimana tugas bahasa Inggrisnya?"

"Em?" aku melirik kepada orang yang memanggilku. "Ah, Hinata... ada di kelas, kok."

"Ah... biar aku ambil sebentar ya. Sekalian dibahas di sini."

"E-eh... tidak perlu, Hinata. Nanti aja, mending kamu habiskan makananmu dulu."

"Gak apa-apa kok, Sakura-chan," kata Hinata yang langsung melesat pergi sebelum aku sempat meluncurkan sebuah kalimat lagi padanya. Aku pun hanya geleng-geleng kepala, pasrah.

"Hinata emang anak rajin yaa..." kata Tenten lalu diikuti anggukan para gadis yang bergerombol di sini—termasuk aku.

"Ahh... Forehead!"

Aku menatap si rambut ponytail yang barusan memanggilku sekilas. "Hmm?"

"Jadi... kau udah pindah haluan yaa?"

Aku mengangkat alisku sambil menatap mata aquamarine-nya ibarat berkata 'apa-maksudmu'.

"Gak usah bohong deh...," kata manusia ponytail aka Ino dengan sedikit genit dan mencolek bahu kiriku.

"Maksudnya? Aku gak dong apa yang kau bicarakan, Pig!" sahutku jengkel.

"Gak usah sewot gitu juga kali, neng!"

Entahlah, belakangan ini aku emang sedikit gak bisa ngontrol emosiku. Mungkin dikarenakan aku lagi PMS kali yaa?

"Itu... yang tadi pagi...," ucap Ino dengan melirik ke arahku dengan tatapan yang tak biasa. "Dia pacarmu, kan?"

BWUAAHH. Seketika itu juga, minuman yang sedang kuminum kusemburkan karena kaget.

"Sa-sakura..."

Setelah beberapa saat aku bisa mengontrol pikiranku lagi. Aku memberi death glared pada si Piggy sialan itu. "Siapa maksudmu, eh PIG?"

"Heei... sabar dikit napa? Itu... Si manusia kuning."

Kuning?

"Kalian pacaran, kan?"

Siapa?

"Jangan pura-pura deh..."

"Aku beneran 'gak' dong apa yang kau bicarakan, PIG!" kataku bersungut-sungut.

"Itu, anak kelas 10 D," aku sedikit memicingkan mata, kemudian..., "Uzumaki Naruto!" lanjutnya.

Sesaat setelah Pig menyebutkan nama itu, mulutku terasa membuka lebar. Apa yang dikatakannya barusan? Si Ratu Gosip ini... dapat gosip aneh itu darimana, coba?

"Maksud lo? Kau menggosipkanku pacaran sama anak Oren itu?" kataku dengan death glared berkilau cling cling.

"Bukan OREN! Tapi KUNING!"

"Masa bodoh dengan julukan 'tololmu' itu! Yang jelas, aku gak ada hubungan apapun dengan anak itu!"

"Oh yaa? Kalo nggak, kenapa atau ngapain kalian di jam pelajaran malah berduaan di depan toilet, lagi...?"

Aku kembali mengingat kejadian tadi pagi. Saat aku bertemu dengan si anak Oren itu di depan kamar mandi. Iya sih, kalau orang yang nggak tau apa-apa pasti menyimpulkan kalau kami berdua pacaran. Kaya si Pig ini.

Tapi... kan nggak mesti kalau cewek cowok bicara berdua gitu pacaran, gak yaa? Apalagi tadi itu bukan pembicaraan yang normal. Tak kusadari wajahku sedikit memanas gara-gara kejadian itu, malu setengah hidup aku! Setiap bertemu pasti masalah.

"Nah loo... merah tuh merah...," kata Ino sambil menunjuk-nunjuk pipiku. Hei, ini bukan tersipu. Tapi malu! (Apa bedanya?)

"Oh my GOSH... PIG!" aku berbicara sudah sambil geregetan. Menahan marah, kesal, tapi juga geli. "Kami itu 'nggak' pacaran!"

"Apa bisa aku percaya gitu aja? Setelah kau cerita galau tentang Sasuke-kun padaku kemarin, heh?"

DUAR

Memori menyedihkan terputar kembali menghantui otak cerdasku. Sedih, ya memang. Tapi mau gimana lagi? Itu sudah terjadi."A-aah... lupakan tentang itu! aku NGGAK mau membahasnya lagi!"

"Well, dan bagaimana tentang si ku—bbwmph..."

Eh?

"Ssstt... Hinata datang...!"

"Hwaah... apa-apaan sih, Tenten?" protes Ino setelah keluar dari bekapan tangan Tenten yang tiba-tiba itu.

"Sshh... Kalian lupa, ya? Jangan bicarakan masalah Naruto di depan Hinata, tauk!" kata Tenten yang sedikit berbisik, namun masih terdengar lumayan keras ditelinga kami.

Eh? Aku sedikit kaget mendengan penuturan Tenten barusan. Namun, beberapa detik kemudian aku mengingat sesuatu... Hinata menyukai Naruto. Ya, tidak salah lagi!

Hm... kenapa aku jadi teringat dengan bocah Oren itu ya? Oh iya, aku lupa meminta maaf padanya tadi pagi. Tanganku keburu diseret sih sama si Ino. Nggak sopan banget yaa, udah marah-marah, belum minta maaf, eh ninggalin pula tanpa basa-basi.

"Minna, ini tugas bahasa Inggrisnya...," suara yang halus mengalun membuyarkan pertikaian Ino dan Tenten juga lamunanku. Tapi sepertinya Hinata gagal membuatku benar-benar bangkit ke alam nyata...

Mmm... julukan Oren-ku pada Naruto. Astaga... tapi kalau dipikir-pikir, rambutnya itu kuning-keemas-emasan, anggap saja pirang, deh! Tapi... aku tadi menyebutnya OREN! Dari mana aku mendapat sebutan aneh itu, yaa? Dan apanya yang oren? Aha... mungkin gara-gara terakhir ketemu sama Naruto, dia pakai baju warna oren kali, yaa? AH, mungkin itu alasannya... jadi kepo sendiri, kan!

"Ka-kalian kenapa?"

Setelah beberapa menit aku melamun, entah apa yang ada diotakku dan sepertinya semuanya juga melamun kecuali Hinata, aku segera sadar dengan keadaan. Dengan cepat aku menjawab pertanyaan Hinata, "Da-daijobu, Hinata." jawabku sedikit grogi dan memaksakan senyum manis terulas dibibirku.

"A-ah, ba-baiklah," kata Hinata yang langsung duduk di tempatnya semula.

Dan saat kumelirik Tenten yang duduk berhadapan denganku, kutemui Tenten yang sedang memberi death glared versi-nya untuk si Ino. Aku hanya terkikik geli dalam hati. Ino sih, bikin gosip yang nggak-nggak. Yang mungkin juga baru bangkit dari lamunan mereka...? Ngelamun masal dong tadi...?

"Aa iya, Hinata. Mana tugas bahasa Inggrisnya?" kataku memecah keheningan.

Dan sedetik kemudian, Hinata memberikanku sebuah proposal yang berisikan observasi di lapangan minggu lalu. "Ini..."

Tanpa basa-basi, aku segera menerima proposal itu. "Sepertinya ada yang kurang, ya?" kataku sambil membuka lembaran demi lembaran proposal ini.

"Yang kurang mending cari di Internet aja, gimana?" Tenten mengusulkan.

"Tapi, siapa yang cari? Dua hari lagi dikumpulin loh..." kata Ino menambahi.

"Ti-tidak perlu repot-repot. Aku sudah merangkum tugas yang kurang."

"Uwaa... Hinata-chan emang rajin yaah!"

"Ah, baguslah kalo gitu."

Yeah, punya temen seperti Hinata memang menguntungkan. Tanpa disuruh pun dia sudah melaksanakan tugasnya. Pantas saja, banyak cowok yang naksir dengannya di sekolah. Udah baik, manis, pinter, rajin, lembut, badan proporsional lagi. Siapa cowok yang gak klepek-klepek tuh...?

Namun... *whispers*gara-gara Oniisan Hinata yang over protective itu, dia belum punya pacar sampai sekarang, lho. Padahal udah banyak, lho, cowok yang menyatakan suka, cinta, bahkan pernah diajak tunangan segala. Ck ck...

Tapi itu juga keputusan Hinata, sih. Dia menolak dengan cara halus kepada semua cowok yang pernah menembaknya. Menurutku sih, kalau si Naruto yang notabene-nya adalah gebetan Hinata yang nembak dia, dijamin Hinata akan langsung menerimanya dalam hitungan detik. Ho ho...

Beda sekali kan denganku ini? Udah watak Tundere, kasar, galak, emosional, sadis, 'rata', hothead pula... maka dari itulah nggak ada cowok yang berani dekat-dekat denganku. Sekali dekat, Rumah Sakit pun jadi ending-nya. Itulah prinsipku! Nya ha ha... (Pengecualian Sasuke-kun!)

"Oiya, Forehead! Menurutmu, Sai-kun itu gimana?"

Entah sudah seberapa kali aku memutar bola mataku karena sebal! Aku bosan sih dengan Ino ini yang sedari tadi ngoceh soal Sai terus! Ya, Uchiha Sai. Seperti yang dibicarakan Ino tadi pagi, dia adalah murid baru di kelas kita yang menduduki bangku kosong dekat jendela tepat di depan bangkuku dan Ino duduk.

Aku menghela napas sebelum menjawab pertanyaan memuakkan itu. "Biasa!"

"Kok jawabnya singkat gitu sih? Yang detail dong!"

Hufft... Ino buatku tambah kesal. Jujur saja, aku kurang suka sama anak Uchiha satu itu. Memang mukanya sedikit mirip Sasuke-kun sih, kulitnya putih kaya mayat hidup, dan yang lebih parah lagi, dia sering senyam-senyum gaje gitu. Entah apa yang lucu dari pandangannya. Namun yang lebih buatku emosi top level...

"Jidatmu lebar, yaa..."

Emang cari mati ya tuh anak! Udah ngatain jidat gua lebar lagi. Anak baru kok sok-sok-an sama saya, huu... lihat saja nanti! Tapi, yang lebih bikin aku geregetan itu...

"Kamu cantik, yaa..."

Dia bilang 'cantik' ke si PIGGY! Sedangkan, di mengataiku dengan perkataan tabu untukku! CIH.

"OII, jawab pertanyanku napa, sih?" suara Piggy membuyarkan lamunanku terhadap Uchiha nyebelin itu!

"Urusai, Pig! Aku lagi nggak mood bahas si kulit susu itu!"

"'Si kulit susu'?" Ino membeo, "maksudmu Sai-kun, eh?" lanjutnya dengan mata berkilat-kilat.

"You guess?" kataku kemudian berlari cepat meninggalkan orang yang mungkin sudah terperangkap dengan senyuman palsu si Uchiha nyebelin aka si kulit susu itu.

TO BE CONTINUED

A/N:

Akhirnya, chapter 4 selesai juga :D

Gimana gimana chapter ini? NaruSaku-nya Cuma dikit emang. Tapi di chapter ini, author bahas tentang Hinata dulu yang suka sama Naruto. Kan gak asik ya, kalo Sakura gak punya rival cinta gitu kan? xD

Walaupun, di chapter ini Sakura belum punya rasa apa-apa sama Naruto. Naruto pun juga sama. Ha ha.. Ya, anggap saja cerita ini seperti sebelum Shippuden gitu~

Hm... juga kalian tau arti PMS? Yah, kalo readers nggak tau PMS aku jelasin deh. PMS itu semacam kaya penyakit emosi, mungkin (?) Saya rada lupa sih, tapi yang jelas itu sering terjadi pada wanita yang udah 'dapet'. Itu kaya marah2 gak jelas sendiri deh... itu sih menurut author yaa (author rada lupa, sih) kalo kurang paham, mending googling ajadeh, he he...

Oya, sekalian promote. Author lagi dalam proses merilis fic ane yang ke-2 looh~ Beda pairing tapi, SasuHina. Tapi fic-nya baru setengah jalan, belum sempurna... Kalo ntar ada waktu bagi readers yg suka tuh pairing, mampir ke sini yaah...? ^^

Siip... author permisi dulu yaah. Kalau ada yang bingung, mending PM author aja, kalo nggak ya hubungi acc author yang ada di profile ane, wkwk xD

Yosh. Dan permintaan author yang terakhir ini..

STILL MIND TO REVIEW THIS CHAPTER?