Oke, gue tau kalo gue lama update. Sebernya chapter 4nya udah jadi dari minggu lalu, tapi sialnya, file nya keapus dan gue harus nulis lagi.

Nah, dan sesuai kemauan kalian para readers yang mau scene Scormione dibanyakin, chapter dipanjangin, dan juga, bersenang-senanglah kalian soalnya gue kabulin semua permintaan kalian /nari jaipong sambil minim wine/

Enjoy~


Disclaimer : all Harry Potter charaters belongs to J.K. Rowling. Kecuali karakter ciptaan gue, keseluruhan plot/jalan cerita murni punya gue

Warning : OOC, gajeness, dramaness, typo(s) bertebaran, dan segala kekurangan lainnya

Nilai: T. Tapi 'lil bit M

Summary : Kematian Astoria Malfoy membuat Draco Malfoy sangat berkabung sekaligus kebingungan dengan sikap Scorpius yang semakin hari makin dingin dan tidak peduli pada kesehatannya akibat kematian ibunya. Ditengah-tengah kesedihan yang sedang melanda keluarga Malfoy, Hermione Granger datang kekehidupan Draco dan bersedia membantunya. Menjadi istri sekaligus ibu atas permintaan kedua senior Malfoy, Lucius dan Narcissa Malfoy.

Don't like, don't read!


Chapter 4 : Tak Terduga


Setelah kedatangan mereka ke The Burrow, Hermione dan Harry disambut hangat oleh Molly, sang istri sekaligus ibu dari The Weasleys. Dengan sopan, Hermione menjabat tangan Molly sambil tersenyum hangat.

"Wah kebetulan kau datang, Hermy sayang. Kami baru saja akan makan siang bersama. Kau mau ikut?" tawar Molly saat Hermione dan Harry mulai berjalan masuk ke dalam The Burrow.

"Selamat siang." sapa Hermione sambil menjabat tangan Molly dan semua orang yang ada disana, kecuali Harry, Ron dan Ginny tentu saja. "Tentu . Aku pasti mau ikut kalau kau yang memasak." Molly terkekeh garing. Ginny mengecup pipi kemerahan Hermione akibat kedinginan karena terlalu lama berada diluar yang sedang dilanda salju. Ron mengangkat salah satu tangannya yang dipenuhi krim kearah Hermione, "Halhoo Heramoinehh!"

Hermione mendelik jijik, "Ronald! Tidak baik kalau berbicara sambil makan. Kau bisa tersedak. Menjijikkan tahu!"

Ron tak mengubris satupun ucapan Hermione, masih sibuk dengan tumpukan makanan yang ada dipiringnya. Sementara Ginny mempersilahkan Hermione untuk duduk disalah satu kursi kosong disampingnya. "Trims Gin."

"Bukan masalah, Mione." ucap Ginny, hangat.

Molly mengambil sebuah mangkuk kecil dan berjalan kearah meja makan. Lalu, menuangkan beberapa sendok sup hangat kemangkuk kecil yang nantinya akan diberikan keHermione.

"Nah, ini untukmu, sayang," ucap Molly sambil menyodorkan mangkuk kecil itu kearah Hermione. Dengan senang hati, Hermione mengambil mangkuk itu dan menaruhnya diatas meja. "Dan oh, hati-hati, supnya masih aga panas. Kau pastinya tidak mau lidahmu terbakar kan."

Hermione tersenyum, "Terima kasih, . Supnya terlihat enak dan sangat harum."

"Ah, kau bisa saja. Kalau begitu, selamat makan semua!"

Acara makan siang berlangsung dengan ramai. Ulah George yang masih saja suka mengerjai orang masih tetap sama, tapi tidak lengkap tanpa Fred. Lalu suara tangisan Louis, putra Fleur dan Bill yang baru lahir. Dan juga cekikikan Ginny dan Hermione ikut menggema diruangan itu.

"Jadi Mione, kapan kau akan menikah? Ron dan Lavender akan menikah minggu depan. Cuma tinggal kau yang belum." ucap Ginny sambil sibuk berkutat memotongi daging sapi panggangnya.

Hermione terdiam. Tubuhnya seketika menegang. Harry menatap Hermione dengan tatapan was-was.

"Ginny!" seru Harry.

Ginny terkejut, "M-mione? Apa aku salah bicara?"

Hermione menggeleng kaku. "Eh? Engh.. Aku.." Hermione tiba-tiba saja kehilangan kemampuannya dalam berbicara, membuatnya berhenti sebentar untuk memikirkan berbagai alasan tak masuk akal yang sekarang sedang berkeliaran bebas diotaknya.

"Kau oke?" tanya Ginny lagi.

"Aku oke, Gin. Aku hanya agak terkejut kok. Aku lupa kalau minggu depan Ron dan Lavender akan menikah. " jawab Hermione sambil mencoba menenangkan jantungnya yang sedang ikut lomba maraton.

Ginny memutar kedua bola matanya. "Ternyata dunia sebentar lagi akan kiamat ya. Hermione Granger jadi seorang pelupa sekarang."

"Ginny, jangan bicara seperti itu kepada Mione. Lagipula, dia akan menikah. Aku bisa pastikan itu." ucap Harry.

Ginny menatap Harry dengan tatapan penuh selidik, "Kenapa kau bisa seyakin itu sih Harry?"

Harry tersentak. Dalam hati, ia merutuki mulut bodohnya. Ia hampir saja membocorkan rahasia Hermione dan dirinya.

"Engh.. Itu.. Aku.. Aku pokoknya yakin saja." ucap Harry gelagapan. "Iya kan, Mione?"

Hermione hanya tertawa kaku.

Tanpa sadar, semua orang menatapnya dengan tatapan penuh selidik kepada gerak gerik Hermione dan Harry.


Hermione menarik napas pelan, "Kau hampir saja membocorkan hal itu, Harry." bisiknya.

Mereka sedang berada dihalaman belakang The Burrow sambil duduk santai dipinggir sungai.

"Maaf." ucap Harry, nadanya menyiratkan penyesalan. "Dan Hermione?"

"Ya?"

Harry menatap Hermione ragu-ragu, "Kapan kau akan memberitahukan hal ini pada Ginny dan yang lain? Cepat atau lambat, mereka harus tahu. Terutama Ron. Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi."

Lagi-lagi, Hermione menghela napas pelan. "Aku tidak tau, Harry. Yang pasti, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Kits cari waktu yang tepat saja dan aku harap mereka bisa mengerti tentang hal ini."

"Ya. Semoga," Harry mengangguk kalem sambil menggenggam tangan Hermione, memberi semangat pada gadis itu.

Dan tanpa mereka sadari, seseorang dengan rambut merah panjang khas keluarga Weasley dan perut buncit akibat hamil tua mendengar percakapan keduanya. Ginny Potter. Air mata terjatuh kepipi putihnya lalu ia berlari. Meninggalkan Harry dan Hermione dan tak memperdulikan kehamilannya itu.


Setelah pulang dari The Burrow, Hermione langsung pulang kerumahnya yang berada diLondon dan melemparkan dirinya kekasur. Lelah.

Berdiri selama dua jam dihalte bus benar-benar membuat punggung Hermione hampir patah. Ditambah dengan sikap Ginny yang tiba-tiba menjadi dingin dan cuek membuatnya pusing. Tapi, Hermione tak mengubrisnya.

Mungkin itu hanya pengaruh dari hormon kehamilan Ginny, pikirnya.

Hermione memejambkan kedua Mara hazelnya, mencoba untuk tidur. Tapi, tiba-tiba saja bayangan Hermione tentang Draco dan segala hal yang menyangkut tentangnya memenuhi otaknya. Termasuk reaksi Ron nantinya. Terbayang bagaimana nantinya Ron akan berteriak histeris dan mengakatakan, "Kau sinting ya, Mione? Kau akan menikahi si ferret pirang itu? Demi Merlin! Apa tidak ada laki-laki lain ya sehingga kau harus menikah dengannya? Kau bisa bayangkan bagaimana nanti namamu berubah menjadi Hermione Malfoy? Bukan Hermione Granger lagi? Dan pikirkan hal gila lainnya yang akan terjadi padamu nanti. Bagaimana kalau kau nanti akan memakai rok ketat setiap harinya, bersikap sopan layaknya seorang 'Malfoy', dan bagaimana kalau nanti kau kemana-mana harus memakai payung norak dan memakai sarung tangan berenda yang menjijikkan?!"

Hermione terkekeh membayangkan hal itu.

Sore itu, Hermione benar-benar tidak bisa tidur. Dan maka dari itu, ia melakukan kebiasaannya; membaca majalah sambil meyantap es krim rasa vanilla dikasur untuk membunuh waktu waktu yang membosankan. Dan saat pesan dari Draco yang dikirimkan melalui burung hantu elang milik keluarga Malfoy yang memberitahukan kalau Hermione harus bertemu deman ibunya dan makan malam di Malfoy Manor untuk membicarakan lebih lanjut tentang perihal pernikahan mereka, dan entah bagaimana hal itu membuatnya terjatuh dari kasur.

Panik melanda Hermione dan tiba-tiba saja Hermione merasa kalau ia terkena mantra Avada Kedavra dadakan dari Voldemort.

Granger,

Ibuku mengundangmu untuk makan malam diMalfoy Manor. Entah untuk membicarakan apa. Tapi yang pasti, aku tak peduli. Tapi, Narcissa terus memaksaku. Bahkan sampai mengawasiku saat aku menulis pesan ini. Dan, aku rasa kau bisa pergi kesini sendiri karena aku tak punya waktu untuk menjemputmu. Datanglah pukul 7 tepat. Berdandanlah yang pantas.

Draco Malfoy.

Hermione mendengus kesal. Semua kata-kata disurat itu benar-benar ciri seorang Draco Malfoy yang sekarang entah kenapa tulisannya menjadi super jelek. Yang Hermione yakini, Draco sama sekali tidak berniat menulis surat ini.

Dengan tergesa, Hermione menulis surat balasan untuk Draco.

Oke, Malfoy. Aku bisa datang sendiri dan aku tidak mengharapkanmu menuemputku. Terima kasih telah mengabariku tentang hal ini. Dan jangan lupa sampaikan salamku pada Narcissa dan Lucius. Dan oh! Aku pasti akan berdandan melebihi kata 'pantas'mu itu.

Hermione Granger.

Setelah menaruh surat itu keparuh siburung hantu, Hermione melangkah malas kekamar mandi untuk mandi, mencuci muka, dan melakukan inspeksi pada bulu kaki, tangan dan ketiak berada dalam kondisi 'pantas'nya Draco.

Dengan handuk melilit tubuh, Hermione mengeringkan rambutnya dengan alat munggle yang aneh bernama hairdyer dan membuatnya sedikit berombak. Yang pasti, rambut semaknya itu hilang dan digantikan dengan rambut coklat halus yang sedikit berombak.

Setelah itu, Hermione juga mengoleskan beberapa alat kosmetik munggle dengan tipis. Dia tidak ingin terlihat menor dan berakhir dengan ocehan Draco yang ketus. Ditambah, penampilan Hermione yang terlihat aneh dengan sepatu sneakersnya itu. "Bagus Mione. Narcissa akan sangat terkesan dengan gadis bersneakers sepertimu yang mendaftarkan diri menjadi calon menantunya. Dan si Malfoy itu pasti akan mencincangmu hidup-hidup karena itu."

Tapi, lebih baik dibandingkan heels.


Hermione mengetuk pintu mewah di Malfoy Manor. Sesaat kemuadian, pintu itu terbuka dan muncullah sosok Narcissa dan Lucius Malfoy dihadapannya.

"Silahkan masuk, Miss Granger."

Narcissa tersenyum sambil mengecup pipi Hermione. Sementara Hermione kembali mengecup pipi Narcissa dan mengamgguk sopan pada Lucius.

"Terima kasih. Panggil saya Hermione saja." ucap Hermione kikuk.

Narcissa tersenyum kecil, "Baiklah, Hermione. Tapi, jangan panggil aku lagi. Aku sebentar lagi akan menjadi Ibu mertuamu, jadi panggil aku Mum. Sama seperti Draco."

"Eh.. O..oke M..Mum." gumam Hermione, gagap.

"Kau cantik sekali hari ini, Hermione." ucap Narcissa sambil menuangkan the dicangkir berukuran mungil. "Dan lebih baik sekarang aku memanggil Draco. Kau tak apa kutinggal berdua dengan Lucius? Scorpius sedang bersiap dan aku yakin sebentar lagi dia akan turun." Hermione mengangguk kalem. "Tak apa, Ms—eh Mum. Aku akan baik-baik saja disini."

"Bagus. Kalau begitu aku permisi." Dengan langkah anggun, Narcissa berdiri dari kursinya dan menaikki tangga-tangga berlapiskan emas itu dengan perlahan. Meninggalkannya dengan Lucius yang memandangnya dengan pandangan misterius.

Hermione bergidik ngeri. Apa dia harus bersikap seperti Narcissa nanti kalau sudah menikah dengan si Malfoy itu? Oh demi Merlin dan segala penyihir hebat didunia ini! Hermione adalah salah seorang anggota dari Trio Emas Gryffindor! Mana bisa dia bersikap sok anggun seperti itu. Hermione sudah biasa berperang, bukannya menjadi bangsawan.

Sambil terus-terusan bergidik, Hermione tidak menyadari kalau Lucius sedang memandangnya dengan tatapan penuh arti. "Terima kasih, Hermione. Terima kasih kau sudah mau datang kesini. Terlebih lagi mau menjadi istri dan ibu dari anak dan cucu-cucuku. Eh—tak apa kan kalau aku memanggilmu Hermione? Seperti bagaimana Narcissa memanggilmu." ucap Lucius tulus kepada gadis dihadapannya.

Hermione tersentak. Seingatnya, Lucius Malfoy adalah orang yang paling sulit mengucapkan kata 'terima kasih'. Tapi, sekarang dia baru saja mendengar kalau Lucius mengucapkan 'terima kasih' padanya?! Whoa! Merlin harus mentraktirnya minum butterbear selama satu tahun berturut-turut kalau begitu.

"Err.." Hermione tampak bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "T-tentu saja, ! Anda boleh memanggil saya Hermione atau apapun yang anda suka. Dan, terima kasih kembali. Merupakan suatu kehormatan karena menerima undangan kalian untuk makan malam diMalfoy Manor."

"Bibi Hermy!" teriak seseorang dengan nada ceria dihadapannya. Seorang anak laki-laki yang merupakan replika sempurna dari calon suaminya nanti, Scorpius Malfoy sedang memeluk kakinya saat ini. "Kau datang! Kukira kau gak akan datang. Soalnya Dad bilang kalau kau gak akan datang gara-gara kau gak punya waktu."

Hermione tersenyum lebar sambil mengelus rambut pirang keperakan milik Scorpius. "Yup! Ini aku." ucap Hermione lega, senyum itu masih terukir diwajah malaikatnya. Keadaan Scorpius tidak lagi separah beberapa minggu yang lalu saat terakhir kali dia datang keManor ini. Dia benar-benar merindukan anak yang lebih sering memanggilnya 'Hermy' itu tanpa embel-embel 'Bibi' atau semacamnya saat Ia sedih. Tapi, saat Scorpius senang, dia akan merubah panggilan itu dengan awalan 'Bibi' dahulu sebelum 'Hermy'. "Kau sudah makan, Scorpie?"

Scorpius menggeleng. Tiba-tiba saja air muka Scorpius berubah murung. "Aku enggak lapar, Hermy. Setiap Dad menyodorkanku makanan, aku selalu keingat Mum. Aku rindu Mum saat dia menyuapiku setiap jam 4 diteras yang ada tamannya. Dad gak pernah punya waktu buat menyuapiku seperti Mum."

Menyadari perubahan sikap dari Scorpius itu, Hermione tersenyum sedih. Scorpius tidak sepenuhnya kembali.

"Halo, Granger." sapa Draco tidak ikhlas.

Hermione mendengus kesal, "Halo juga, Malfoy." Nada sinis ditambahkan dalam sapaannya kali itu.

Narcissa tersenyum senang. "Nah, karena kita sudah berkumpul, bagai—"

"—Mum. Masih ada Daphne, ingat? Dia sedang dikamarnya sekarang, mengurus Savy." potong Draco dengan nada datar.

"Oh benar," Narcissa tersenyum malu. "Bisa tolong kau panggilkan dia Draco?"

Draco diam tak beranjak satu langkahpun dari kursinya. Narcissa menghela napas pasrah, lalu mengalihkan perhatiannya kepada Scorpius yang sedang sibuk memainkan sendok dan garpu peraknya. "Scorpy. Kau mau kan membantu grandma? Panggilkan Bibi Daphne bisa? Dia sedang dikamarnya, dengan adikmu. Suruh juga Ia bawa Savy kesini. Bisa kan?"

Scorpius mengangguk. Sedetik kemudian, anak itu beranjak dari kursinya dan berjalan pelan untuk menaiki tumpukan tangga besar itu satu per satu.

"Err.. ?" panggil Hermione gugup. Ia tidak memanggil Narcissa dengan panggilan 'Ibu' karena bisa-bisa Draco memberikan deathglare terbaiknya pada Hermione secara cuma-cuma. Membayangkannya saja, Hermione sudah bergidik ngeri. "Engg.. Apa anda keberatan kalau saya menemani Scorpius untuk pergi kekamar ? Saya tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin memastikan Scorpius tak akan apa-apa."

Draco menoleh tajam kearah Hermione. "Jadi maksudmu Daphne akan menyakiti anakku, begitu Granger?"

"Tentu saja bukan itu maksudku, Malfoy. Aku hanya ingin menemani Scorpius. Tidak lebih." jawab Hermione tidak terima dengan ucapan Draco tadi yang secara tak langsung menyindirnya.

Narcissa meremas bahu Hermione pelan sambil tersenyum terpaksa. "Maafkan Draco, Hermione. Dia menjadi seorang yang tempramental sekarang. Dan kan aku sudah bilang, panggil aku Mum, Hermione. Sekarang, susullah Scorpius." ucap Narcissa sambil menekankan kata 'Mum' itu.

Hermione mengangguk kaku. "Terima kasih,... Mum."

Perlahan, Hermione beranjak dan mengangguk sopan kepada dua senior Malfoy yang sedang duduk dihadapannya dan menatap prihatin pada Draco yang disambut dengan tatapan dingin darinya. Hermione menaikki tangga tangga itu satu per satu. Dia tidak boleh berlari, mengingat dimana sekarang Ia berada. Setidaknya, Hermione hanya berusaha untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.

Sementara Draco hanya memutar kedua bolamata abu-abunya malas. "Oh Mum. Tampaknya calon menantumu itu sudah sangat siap sekali menjadi menantumu. Bahkan sebelum kami menikahpun dia sudah berani memanggilmu dengan sebutan Mum."

"Draco! Jaga ucapanmu! Kau hampir saja membuat kami malu pada Hermione. Dia gadis yang baik, pintar, dan juga cantik. Kau tidak sepantasnya bicara seperti itu tentangnya. Bahkan, dia sudah berbaik hati mau menikahi duda dua anak sepertimu. Kau seharusnya berterima kasih padanya, bukan menghinanya!" omel Narcissa.

Wajah Draco mengeras. Dengan kesal, Ia meminum Fire Whisky nya sampai habis.


Saat berada dikoridor gelap yang hanya diterangi beberapa lentera lilin disetiap sudut, Hermione mencari-cari sosok Scorpius. "Scorpius?" bisik Hermione. Ingat! Dia tidak boleh teriak.

Hermione mencari anak itu disetiap sudut ruangan, tapi, tetap saja Scorpius tidak ada dimanapun. Hermione terus menyelusuri setiap sudut Manor itu dengan teliti. Suara tangisan bayi membuat Hermione hampir saja terjungkal kebelakang, kaget. Hermione yakin, itu pasti suara tangisan Savy dan kalau dia tak salah dengar, Savy berada dikamar yang sama dengan Daphne. Dan pasti juga ada Scorpius disana.

Dengan segera, Hermione berjalan kearah sumber suara itu. Dan seketika itu juga, tubuh Hermione membeku mendengar percakapan antara kedua orang itu. Tangannya mengepal dan bibirnya mengatup rapat. Menandakan kalau dia sedang menahan amarah.

"Scorpius?" panggil Hermione, suaranya hampir terdengar seperti sebuah bisikan.

Kedua orang itu—Scorpius dan si Greengrass—sontak menatapnya kaget, terutama Daphne.

"Bibi!" pekik Scorpius sambil berlari kearah kaki Hermione dan memeluk kaki itu lagi. Ketakutan.

"Apa yang kau lakukan disini, Granger? Menguping?" tanya Daphne dengan nada sinis.

Hermione menggeleng kaku. "Tentu tidak, Greengrass. Aku masih punya harga diri untuk tidak merubah statusku menjadi seorang 'penguping' murahan yang tidak berguna." bantah Hermione dengan suara tenang yang dibuat-buat. "Aku hanya khawatir pada Scopius. Dan lihatlah sekarang! Kekhawatiranku terbukti."

Diotaknya sekarang hanya satu pertanyaan yang sedang menari-nari diotaknya saat ini; apa yang tadi dikatakan oleh si Greengrass itu baru saja lakukan pada Scorpius?!

Tapi, Hermione menggeleng keras, mencoba membuang jauh-jauh pertanyaan itu dari otaknya.

Daphne mendengus. "Kau baru saja membicarakan dirimu ya? Bukannya kaulah si 'penguping murahan yang tidak berguna itu'?" sindirnya. "Ohh... Insting seorang calon 'ibu tiri'mu ternyata sudah mulai bekerja ya? Tak kusangka ternyata kau sangat berambisi untuk menggantikan posisi adikku secepat ini. Kukira kau sahabatnya. Tak kusangkajuga, tipe Draco masih sama, suka mengencani para jalangtak tahu malu." lanjutnya lagi, masih dengan nada sinis khas seorang Daphne Greengrass yang tingkat level menyebalkannya tak berbeda jauh dari si ferret-pirang-Malfoy.

"Tutut mulutmu, Greengrass." Hermione mengenggam tangan Scorpius dan mulai menggenggamnya dengan sangat erat, mencoba menahan emosinya yang bisa keluar kapan saja. "Narcissa menyuruhmu turun. Dan dia juga menyuruhmu membawa Savannah untuk ikut makan malam."

"Makan malam dengan calon keluarga yang baru ya? Manis sekali kalian." cibir Daphne. "Aku tidak punya waktu untuk ikut dalam makan malam indah kalian. Kalau mau, kau boleh bawa Savy dan Scorpius turun kebawah. Dan jangan berani berpikir untuk mencuci otak keponakan-keponakanku."

Hermione mendengus, "Tapi—"

"—Kau tuli ya? Aku sudah bilang kalau aku tidak mau. Sana pergi. Dasar darah-lumpur." potong Daphne sambil menekankan kata terakhirnya, darah-lumpur.

Sudah lama Hermione tidak mendengar para darah-murni memanggilnya dengan sebutan itu lagi semenjak Harry Potter, the-boy-who-livedberhasil mengalahkan si botak-hidung-masuk, Voldemort ditahun keenam mereka. Semua kalangan penyihir menganggapnya dan kedua sahabatnya itu sebagai pahlawan.

Hermione menghela napas pasrah, "Baiklah, bisa kau tunjukkan dimana Savannah? Aku tidak punya banyak waktu untuk bertengkar denganmu disini."

Setelah menyerahkan Savy kegendongan Hermione, Daphne langsung masuk kamarnya lagi dan mengunci dirinya. Setelah itu, terdengar suara bantingan barang didalam sana. Hal itu sempat membuat Scorpius terkejut dan Savy terbangun dari tidur nyenyaknya. Tapi, jangan panggil dia Ms-Know-It-Allkalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah seperti itu.

"Aku gak pernah suka Daphne." gerutu Scorpius diperjalanan mereka saat menyelusuri koridor yang sangat panjang itu. "Dia selalu memarahiku dan memaksaku melakukan apa yang dia mau."

Langkah Hermione terhenti. Dia membungkuk dengan Savy yang masih ada digendongannya. "Apa yang terjadi tadi, Score?"

Scorpius berdik ngeri. "Aku gak sengaja menjatuhkan sebuah kaca kecil punya Daphne dan kaca itu pecah. Dia langsung memarahiku dan bilang kalau sebenarnya Dad membenciku gara-gara aku dan Savy yang ngebuat Mum pergi. Gara-gara aku dan Savy nakal, Mum meninggalkan kami. Apa itu benar, Herm?"

Hermione terkejut. Dia geram hingga keujung kuku jari-jari kakinya. Keterlaluan sekali si Greengrass itu!

"Dengar baik-baik Scorp," Hermione mengelus kepala Scorpius sayang, "Itu tidak benar. Yang dikatakan oleh Daphne itu tidak ada satupun yang benar." Hermione berhenti sebentar untuk menarik napas. Mencoba menyamarkan suaranya yang bergetar. "Dadmu tidak benci padamu. Tidak juga dengan Savy. Mummu pergi bukan karena marah padamu. Mum hanya sudah dipanggil Tuhan untuk menghadiri sebuh acara yang diadakan Tuhan. Dan seharusnya kau bangga dong! Mummu itu pergi karena akan menjadi tamu istimewa-Nya. Dia pergi bukan karena marah padamu ataupun pada Savy. Oke?"

Scorpius menaikkan sebelah alisnya, membuat anak itu semakin terlihat menawan walaupun raut kesedihan masih bertengger diwajahnya. "Jadi... Dad gak benci padaku atau pada Savy gara-gara Mum pergi?"

Hermione menggeleng mantap sambil tersenyum simpul. "Sama sekali tidak." jawab Hermione dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Sekarang, kita turun ya. Kau lapar kan?"

Scorpius mengangguk lemah. "Oke."

"Bagus." Hermione mengacak pelan rambut Scorpius yang tidak diberi gel rambut seperti para 'Malfoy' kebanyakan. Dengan perlahan, Hermione berdiri. Dia tidak mau bayi berumur beberapa bulan itu terganggu dari satupun gerakannya yang salah. Ini bukanlah kali pertamanya dia menggendong bayi. Tapi, kecerobohan akhir-akhirn ini sering mengikutinya. Jadi, lebih baik dia bermain aman. Bisa saja punggung Savy akan patah saat Hermione bergerak sedikit. Dan saat itulah nama Hermione Granger hanya akan menjadi sebuah nama karena Draco pasti akan langsung membunuhnya dengan mantra Avada Kedavra tanpa berpikir panjang. Dengan hanya membayangkannya saja sudah bisa membuat Hermione bergidik ngeri.

Lalu, mereka kembali melanjutkan jalan menuju ruang makan super besar milik keluarga Malfoy itu.

Sesaat kemudian, terdengarlah gerutuan tak berujung milik Draco Malfoy. "Kalian kemana saja? Kalian bisa membuatku jamuran disini tahu! Dan mana Daphne? Kenapa hanya ada kalian bertiga disini? Apa jangan-jangan kau tidak bilang padanya ya, Granger? Sudah kutebak! Membiarkannya untuk membantu kita adalah suatu kesalahan terbesar. "

"Sudah cukup menggerutunya eh, Malfoy? Apa masih ada kelanjutannya lagi?" tanya Hermione dengan nada tenang.

Draco hanya diam sambil memasang wajah kaku.

Hermione menghela napas kesal, " tidak bisa ikut dalam acara makan malam ini. Dia sedang tidak enak badan dan dia mau beristirahat. Jadi, aku hanya membawa Scorpius dan Savy kesini."

"Ah begitu. Kalau begitu, kita sudah bisa memulai acara ini." Lucius kali ini angkat bicara. Dia sedang tidak ingin mendengar pertengkaran putra dan calon menantunya itu.

Mereka makan dengan tenang. Hanya ada suara denting-dentingan antara pertemuan garpu, sendok, dan piring yang menggema. Kadang Scorpius yang tak sengaja membuat ulah sehingga Draco harus mengingatkan beberapa peraturan 'Malfoy'nya itu secara berkala. Dan sesekali, Savy menangis sehingga mau tidak mau, Hermione juga ikut turun tangan.

Hermione dan Draco tak memperhatikan kedua senior itu lantaran sibuk mengurusi kedua Malfoy junior. Melihat pemandangan dihadapan mereka tersebut, Narcissa dan Lucius hanya menoleh satu sama lain dan mengangguk-angguk, lalu tersenyum kecil.

Tampaknya, makan malam kali ini berhasil untuk membuat Hermione dan Draco bisa bekerja sama untuk membantu satu sama lain dalam mengurus Scorpius dan Savy yang akan menjadi kedua anak mereka nantinya. Benar-benar tak terduga, tapi itulah yang sedang terjadi sekarang.

Draco dan Hermione untuk pertama kalinya bertemu dan duduk berdampingan sambil tidak melemparkan kutukan kematian kepada satu sama lain.

Sedetik kemudian, terdengar suara pekikan Hermione. Savy menarik rambut Hermione keras-keras sambil tertawa-tawa senang. Draco mencoba membantu Hermione melepaskan tangan bayinya itu dari rambutnya yang awalnya halus kembali menjadi rambut semaknya saat awal gadis itu memasukki Hogwarts.

"Relashio*!" ucap Draco.

Sesaat kemudian, tangan mungil Savy terlepas dari rambut Hermione karena mantra yang baru saja diucapkan oleh Draco.


*Relashio : Mantra untuk memaksa seseorang atau objek lain untuk melepaskan genggamannya pada objek lain; dan juga untuk menahan suatu objek dengan kekuatan objek lain.


Oke, gue tau ini gaje. Gak nyambung. Dan segala kekurangan lainnya. Pokoknya, scene DraMione-nya kurang kan ya? Hahaha. Nah disini, Scorpius masih belum ngerti apa yang diomongin sama Daphne. Intinya, dia masih gak tau kalo sebenernya si Hermione itu bakal jadi ibu tirinya.

Gue janji deh, chapter berikutnya yaitu chapter 5 bakal lebih panjang dan juga itu chapter bakal dilebihin lagi scene DraMionenya. Nah, untuk bocoran aja, antara chapter 8/9 DraMione bakal nikah. Tapi gue belom tau juga, mungkin nanti bakalan dichapter 8, tapi bisa juga dichapter 9. Pokoknya, dari chapter 10 sampe keatasnya, DraMione bakalan udah nikah dan dari situlah kehidupan pernikahan DraMione dan segala permasalahan yang terjadi bakal ada disana. Dan... Udahan ah, nanti malah ketauan semua hihihihi

And last, jangan lupa kasih review ya. Fav+follow juga ya ;)