Title : I'm Not a Good Person

Author : Kim Ryeonggu

Pair: Yewook

Rate: T

Warning: BL/Hurt/Romance

Disclaimer : cerita ini benar-benar murni ide Kim Ryeonggu. Jika ada ff lain yang mempunyai alur/tema/karakter yang sama... Percayalah, itu adalah sebuah kebetulan yang sangat menyebalkan

.

.

Summary: Sesuatu terjadi di masa lalu. Merubahku menjadi pribadi lain dimana tidak ada lagi yang akan menganggapku lemah. Aku bukan orang baik seperti yang kau harapkan. Biarkan aku terluka, abaikan saja aku, jauhi aku, itu lebih baik...

~ Happy Reading ~

Chapter 4

.

Ryeowook kembali menyeka air matanya yang tak henti-hentinya turun. Menangis terharu disertai senyuman. "Chukhaeyo eomma". Semuanya berjalan sangat cepat menurutnya. Hanya butuh 2 minggu saja hingga akhirnya kini dia berdiri di samping panggung pernikahan eommanya dengan seorang pria yang dikenalkan oleh ahjumma Lee –eomma Sungmin. Sempat merasa tidak yakin dan khawatir, namun saat melihat binar kebahagiaan eommanya dan sikap baik serta perhatian yang ditujukan pria itu-yang juga bermarga Kim- membuatnya tak bisa berbuat apapun. Dia hanya sangat sayang pada eommanya, mana tega dia meruntuhkan kebahagiaan itu dengan keraguannya. Ryeowook melihat ke para tamu undangan yang semuanya tersenyum bahagia, mereka berbincang hangat sambil menikmati hidangan yang disediakan, sesekali suara tawa terdengar. Pandangannya kembali ke kedua mempelai yang sepertinya tak lelah mengumbar senyum kebahagiaan. Seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari eommanya berjalan tergesa ke arah kedua mempelai. Dia memeluk sang mempelai wanita sedikit lama, mengucapkan selamat dan beberapa kata yang entahlah, Ryeowook tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Menepuk pundak mempelai pria untuk kemudian menggenggam erat kedua tangan mereka. Dia sedikit terisak saat mempelai wanita memeluknya kembali. Saat itu seorang pria tambun mendekat ke arah mereka dan melingkarkan tangannya di bahu wanita yang terisak. Wanita dan pria itu adalah Tuan dan Nyonya Lee yang merupakan orang tua Sungmin. Nyonya Lee mempunyai seorang adik perempuan yaitu yang sekarang sedang berdiri di depannya di panggung pernikahan. Marga Kim yang disandang sebelumnya tentu berganti setelah dia menikahi seorang pria bermarga Lee. Ryeowook patut bersyukur jika mereka telah atau mungkin sedang mencoba menghentikan perselisihan yang tak kunjung reda karena merekalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Setelah selesai berbincang dengan mempelai, pasangan suami istri Lee turun untuk menghampiri para tamu. Perhatian Ryeowook tidak lepas dari Nyonya Lee karena gerak-geriknya yang aneh dan sangat berbeda jika mengingat bagaimana sikapnya selama ini terhadap keluarganya. Saat itulah Ryeowook menangkap seringai tipis di wajahnya. Seketika firasat buruk menghampirinya. Ryeowook kembali melihat pasangan mempelai dengan pikiran yang berkecamuk hingga membuatnya tak awas dengan sekelilingnya.

"Wookie!" Seseorang menubruknya dengan pelukan dan dirinya mendapat sebuah ciuman pipi. "Chukhaeyo..."

"Gomawo Minnie hyung." Keduanya tertawa bersama. Biarlah Tuan dan Nyonya Lee memperlakukan keluarganya dengan tidak baik asalkan putranya tidak mengikuti jejak orang tuanya. Kira-kira seperti itulah yang ada di benak Ryeowook.

Pernikahan itu memang merubah hubungan keluarga Kim dan keluarga Lee menjadi lebih baik. Setidaknya kedua wanita kakak beradik itu mulai bisa berbicara satu sama lain tanpa ada nada sinis di dalamnya. Bukankah ini suatu hal yang melegakan dan pertanda baik untuk kedepannya? Tapi tidak bagi Ryeowook. Menurutnya ini aneh, mencurigakan, dan terlalu mendadak jika memang keluarga Lee ingin merubah sikap buruk mereka. Bahkan beberapa hari sebelum pernikahan berlangsung, Nyonya Lee masih terlihat mengeluarkan kata kasar kepada eomma Ryeowook. Pusing dengan pikirannya sendiri, akhirnya Ryeowook mengungkapkan kegelisahannya pada anak keluarga Lee yaitu Lee Sungmin. Namun agaknya Ryeowook salah memilih orang untuk diajak bicara. Tentu saja Sungmin meragukan firasat sepupunya yang secara tidak langsung menyudutkan keluarganya. Sungmin agak kesal saat niat baik keluarganya diragukan. Akhirnya dengan ragu mencoba membicarakannya dengan sang eomma, namun eommanya termasuk orang yang terlalu baik hingga tidak menaruh prasangka apapun pada keluarga Lee. Ryeowook malah mendapat nasehat untuk lebih menghormati keluarga Lee karena berkat merekalah keluarganya menjadi lengkap kembali. Tidak menyerah, Ryeowook mencoba peruntungannya dengan Pak Hong pelayan setianya, namun responnya tidak jauh berbeda dengan eommanya. Ryeowook tidak tahu harus berbuat apa lagi, hanya bisa diam, memperhatikan perubahan yang terjadi.

Seiring waktu berlalu, kegelisahannya semakin menjadi dan prasangka buruknya terwujud. Eomma Ryeowook dan ayah tirinya semakin sibuk mengembangkan usaha kulinernya. Pergi kemanapun selalu berdua, jarang mengikut sertakan Ryeowook dalam obrolan. Pernah Ryeowook memprotes keadaan itu pada eommanya, namun eommanya lebih membela si ayah tiri dengan dalih semua kesibukannya demi menjamin kehidupan mereka kelak. Hingga suatu malam...

"Appa, kali ini akan kemana lagi?" tanya Ryeowook saat melihat ayah tirinya sedang memanaskan mobil sembari memasukkan sebuah koper ke bagasi.

"Jeju. Appa mendapat tawaran bisnis dari seorang teman. Kita akan membuka cabang lain di sana. Bukankah itu kesempatan yang sangat bagus?" jawab Tuan Kim -ayah tiri Ryeowook.

"Harus berangkat malam-malam begini? Tidak bisakah ditunda besok pagi?"

"Pertemuan untuk bisnis ini akan diadakan besok bagi Ryeowook-ah, dan kita memakai mobil, jam tidur eommamu tidak akan terganggu."

"Eomma punya asma jika kau lupa." Susah payah Ryeowook menahan emosinya.

"Tenang saja Wookie sayang..." ucap eommanya yang kini berjalan ke arah mereka, "selama ada appamu di samping eomma, semua akan baik-baik saja."

Ryeowook melengos pergi tanpa mengucapkan apapun. Kesal rasanya saat eommanya juga tidak mengindahkan kekhawatirannya. Eomma Ryeowook sedikit kaget dengan sikap anaknya barusan, namun segera kembali tenang saat sang suami memintanya untuk memakhlumi. Tuan Kim meminta eomma Ryeowook untuk segera masuk mobil. Ketika pintu mobil tertutup, sebuah senyum aneh tercipta di wajahnya.

^o^

^o^

^o^

"Annyeonghaseyo...choneun Kim Nana imnida," gadis kecil berambut ikal di hadapan Ryeowook membungkuk memperkenalkan diri.

"Annyeong, Kim Ryeowook imnida," Ryeowook balas memperkenalkan diri lantas melirik Sungmin untuk meminta penjelasan lebih mengenai anak yang dia bawa tersebut.

"Dia anak Yesung hyung, teman hyung yang dokter itu. Kau masih mengingatnya kan?"

Ryeowook mengangguk dengan sebelah alisnya yang terangkat lalu kembali ke gadis kecil yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman yang membuat kedua pipinya melebar lucu. Ryeowook ikut tersenyum dan menatap dalam mata Nana seperti mencari sesuatu di dalamnya. Sungmin mengernyit heran dengan dua orang di depannya yang hanya saling menatap sambil tersenyum sampai suara si kecil terdengar.

"Nana suka senyuman oppa, manis sekali," puji Nana yang dibalas elusan lembut di pipinya oleh Ryeowook.

"Oppa baru membuat kue, kalau kau mau oppa akan menyiapkannya untukmu," tawar Ryeowook.

Nana mengangguk cepat, "Nana mau kue, Nana suka kue," ucapnya riang.

Ryeowook terkekeh lalu memutar kursi rodanya menuju meja pantry dan meletakkan loyang kue. "Hyung..." panggil Ryeowook pada Sungmin untuk membantunya duduk di kursi meja pantry.

"Eumm sepertinya aku mengenal aroma kue ini," ucap Sungmin setelah semuanya menyamankan duduknya di kursi masing-masing.

Sambil memotong kue Ryeowook berucap, "kau tentu masih mengingatnya hyung, eomma membuat kue ini sebagai hadiah kelulusanmu. Untuk yang kali ini aku menambahkan beberapa bahan, rasanya mungkin akan sedikit berbeda."

Meletakkan potongan kue ke piring Nana lalu ke piring Sungmin, namun gerakannya terhenti saat menyadari Sungmin menatap selidik padanya. Ryeowook menarik tangannya kembali dan melanjutkan memotong kue sambil berkata, "aku baik-baik saja hyung, hanya saja rasa sakitnya masih terlalu nyata."

"Apa yang harus hyung lakukan Wookie..."

Sambil memperhatikan Nana yang lahap dengan kuenya, Ryeowook menggumam, "tidak...tidak ada yang harus dilakukan."

Sungmin hanya bisa menunduk dalam, fokusnya kosong ke potongan kue berhias krim berwarna oranye di hadapannya. Membiarkannya menjadi saksi wajah muram yang menyimpan beribu asa.

"Enak?" tanya Ryeowook saat suapan terakhir masuk ke mulut Nana.

"Mashita..." Nana memberikan dua jempolnya.

"Tambah lagi?"

"Eum!" Dua orang yang baru saling mengenal beberapa menit yang lalu itu sudah terlihat akrab. Mengabaikan Sungmin yang masih menekuri piring di depannya, hingga...

"Oppa~ andwae!" teriakan jengkel Nana terdengar. Tangannya mengibas-ngibas mencoba menjauhkan tangan usil Ryeowook dari rambut ikalnya yang dikuncir dua. Ryeowook terkekeh saat bagaimana rambut Nana bisa rapi sendiri saat diremas atau akan berputar kembali seperti semula saat dipelintir.

Sungmin dibuat melongo dengan tingkah dua orang di depannya.

'Bagaimana mungkin...'

"Sungmin oppa~" rengek Nana meminta bantuan karena Ryeowook tak juga berhenti mengusilinya.

"Neomu kyeopta..." ucap Ryeowook lalu menarik Nana ke pelukannya. Dua makhluk manis itu tertawa bersama. Ryeowook terlihat senang dengan adanya Nana. Bahkan sejak awal tidak menunjukkan sikap penolakannya seperti yang biasa ditunjukkannya terhadap orang asing.

'Sepertinya aku menemukan caranya' batin Sungmin senang.

Hari itu Nana menghabiskan waktunya di rumah Ryeowook hingga sore menjelang. Banyak sekali yang dapat Nana lakukan di rumah besar itu, mulai dari bercerita tentang sekolah dan ayahnya, menjelajah isi rumah, berlarian di taman samping, dan membantu Ryeowook membuat menu makanan untuk dibawanya pulang.

Dan sekarang kotak makanan itu sedang diperiksa oleh ayahnya dengan tatapan curiga. Yesung berkilah, dia hanya memastikan isinya aman. Sikapnya yang agak berlebihan itu mendapat tatapan jengah dari Kyuhyun dan Sungmin, sementara Nana hanya diam tidak mengerti melihat ayahnya.

"Daripada mengaduk-aduknya seperti itu, lebih baik kau mencobanya hyung. Jika kau pingsan, berarti memang mengandung racun seperti yang kau bilang barusan," tandas Kyuhyun memberi solusi karena Yesung terlihat seperti hendak merusak makanannya daripada memeriksanya.

Yesung hanya mencebik samar. Kimchi di depannya sudah tak menarik lagi untuk dilihat tapi tentunya masih enak untuk dimakan. Mencoba memasukkan sesumpit kimchi ke mulutnya. Kunyahannya terhenti sesaat lalu melanjutkannya kembali dan menelannya dengan pelan.

"Bagaimana hyung? Apakah tenggorokanmu mulai terasa panas? Perutmu sakit? Mual-mual? Atau kau ingin memuntahkannya?" suara Kyuhyun terdengar meledek.

Yesung memilih mengacuhkan Kyuhyun dan kembali menyumpit kimchi ke mulutnya. Demi kimchi-kimchi yang pernah dia makan sebelumnya, ini adalah kimchi terlezat yang pernah dia rasakan.

"Daddy, kimchi buatan Ryeowook oppa enak kan?" suara Nana menyadarkan Yesung yang kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan si anak.

"Ini benar buatan Ryeowook?" tanya Yesung tidak percaya.

Nana mengangguk sebagai jawaban, "Nana juga ikut membantu," ucapnya bangga. "Besok pulang sekolah, Nana boleh main ke rumah Ryeowook oppa lagi ya dad."

Yesung nampak berpikir sejenak sebelum menggeleng, "maaf baby Na, daddy masih belum yakin dengan Ryeowook oppamu."

"Huuumm," Nana merenggut kecewa.

"Hyung meragukan ceritaku?" Kali ini Sungmin mulai angkat bicara, "ayolah...harus berapa kali lagi aku memberitahumu tentang Ryeowook?"

Ya, sedikit cerita tentang Ryeowook sudah Sungmin beritahukan pada Yesung. Tujuannya tidak lain agar Yesung menghilangkan pandangan negatifnya soal Ryeowook karena kesan pertama mereka saat bertemu memanglah tidak menyenangkan.

"Bukan begitu, hanya saja..." ucapannya terhenti, Yesung nampak berpikir atau mungkin juga mengenang. Tangannya terangkat untuk mengelus wajah bulat anaknya "Daddy sangat menyayangimu, daddy tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau baby Na meninggalkan daddy lagi."

"Nana tidak kemana-mana dad, sekarang Nana masih disini. Nana meninggalkan daddy Cuma saat ke sekolah dan ke rumah halmeoni. Lalu...ke rumah Ryeowook oppa jika daddy mengijinkan," ucap Nana sambil memainkan jari-jarinya dan matanya bulatnya lebih nyaman menatap sepatu sang ayah daripada mata sendunya. Nana merasa bersalah jika dirinya membuat ayahnya khawatir seperti itu, tapi dia sangat ingin bertemu lagi dengan oppa manisnya. Nana merasa nyaman saat bersama Ryeowook, seperti menemukan sosok lain yang sama dengan figur ayahnya.

Yesung tersenyum mengerti, namun masih belum bisa menyetujui permintaan Nana.

"Yesung hyung, beri Nana satu kesempatan lagi, ikutlah ke rumah Ryeowook besok, dan hyung bisa melihat sendiri bagaimana interaksi mereka berdua. Jika hyung menemukan sikap Ryeowook yang seperti hyung pikirkan, maka aku tidak akan membiarkan mereka bertemu lagi. Namun, jika sebaliknya, hyung tidak boleh melarang Nana menemui Ryeowook," saran Sungmin memecah kebimbangan Yesung.

Yesung menghela nafas sebelum berucap, "Daddy tak tahu, kenapa kau sangat menyukai Ryeowook, tapi...baiklah, baby Na bisa bertemu Ryeowook lagi besok."

"Yeayy!" sorak Nana dengan dua tangannya yang terangkat tinggi lalu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan sang ayah. "Gomawo dad, Nana saaaayang daddy."

"Daddy lebih menyayangimu baby Na," balas Yesung seraya mengecup pipi sang anak. Melirik Sungmin yang tersenyum dan Kyuhyun yang bertopang dagu dengan dahi sedikit berkerut.

"Hyung dan Ryeowook, kalian...kalian mempunyai kesamaan, sama-sama punya trauma dengan orang asing," komentar Kyuhyun lalu menoleh ke arah sampingnya, "bukan begitu chagi?"

Cup. Sungmin mengecup bibir Kyuhyun sebagai jawaban dari pertanyannya. Ah, Sungmin selalu memakai cara ini sebagai perintah agar namjanya diam. Dan mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda di ruang makan bernuansa putih milik dua namja yang sebentar lagi akan menikah itu.

"Ngomong-ngomong, kalian bagus juga untuk memilih rumah. Tempatnya strategis, lingkungannya nyaman dan kulihat lumayan besar untuk ditempati kalian berdua," ujar Yesung memulai obrolan.

"Kami memang sengaja memilih yang besar hyung, karena aku berencana akan mempunyai anak yang banyak, hehehee," ucap Kyuhyun optimis.

Yesung melempar tatapan bertanya ke Sungmin yang dijawab dengan tatapan 'dengarkan saja apa yang dia katakan'.

"Yak! Kalian sedang apa? Jangan saling menatap seperti itu!" Haahh Kyuhyun dengan kecemburuannya yang aneh.

"Lalu siapa yang akan mengurus rumah sebesar ini Kyu?" tanya Yesung.

"Tentu saja aku akan mempekerjakan orang untuk mengurusnya hyung, mana tega aku membiarkan kekasihku melakukannya," jawab Kyuhyun. "Hyung tidak berniat membeli rumah yang lebih besar?"

"Jangankan mengurus rumah, menyiapkan sarapan saja kadang tak sempat," keluh Yesung.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Kyuhyun. "Bagaimana kalau hyung meminta Ryeowook untuk menyiapkan sarapan. Ah, bukan hanya sarapan, tapi juga makan siang dan malam untuk kalian," ucap Kyuhyun menunjuk pasangan ayah dan anak tersebut.

Pletak! Sebuah jitakan sayang mendarat di jidat lebar Kyuhyun berkat idenya yang menurut Yesung terlalu mengada-ada.

"Apa-apaan kau ini. Lanjutkan saja makanmu," omel Yesung.

Kyuhyun menggerutu sebal sambil mengelus jidatnya sebelum kembali mendapat kecupan dari Sungmin tepat di bekas jitakannya. Kyuhyun menoleh dan mendapati binar ceria di wajah Sungmin.

"Kau sependapat denganku?" tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan semangat oleh Sungmin.

^o^

^o^

^o^

Keesokan harinya, sesuai kesepakatan Yesung bertandang ke rumah Ryeowook bersama Sungmin setelah pekerjaannya selesai. Sementara Nana sudah dijemput oleh Pak Hong sejak jam sekolahnya berakhir. Anak itu girang sekali saat pelayan Ryeowook muncul di ruang kerja ayahnya. Yesung jadi bingung sendiri bagaimana harus bersikap, hanya meminta Pak Hong untuk menjaga anaknya dengan baik.

Dan disinilah Yesung sekarang, menatap kagum bangunan megah di hadapannya dengan mulut terbuka.

Hap!. Sungmin menutup mulut Yesung yang tidak selaras dengan paras menawannya. Mendahului Yesung menuju pintu depan dan langsung membukanya tanpa membunyikan bel. Yesung membuntut dengan tatapan kagum pada isi dari bangunan itu. 'Tak kusangka, ternyata Ryeowook sekaya ini' begitu batin Yesung. Mata Yesung tak henti-hentinya menelisik ke berbagai sudut ruangan hingga akhirnya tanpa sadar menabrak punggung Sungmin yang berhenti di depannya. Menatap sungmin heran sebelum pandangannya beralih ke arah yang ditunjuk Sungmin. Di depannya terdapat sebuah taman kecil yang dibatasi dengan dinding kaca dari ruangan dia berada sekarang. Dapat dia lihat namja yang selalu dilabeli buruk olehnya sedang duduk di sebuah ayunan kayu panjang dengan kedua tangan terentang ke depan bersamaan dengan senyum lebar yang terulas di bibirnya. Yesung menerka apa yang sedang dilakukannya hingga suara teriakan yang sangat dia kenal terdengar. Bersamaan dengan itu muncullah Nana dari sisi lain taman yang tidak dapat dilihat Yesung karena tertutup dinding beton ruangan lain. Nana berlari menuju Ryeowook dengan kincir angin kertas di tangannya yang dia angkat tinggi ke atas. Bruk! Tubuh mungilnya menghambur ke pelukan Ryeowook dan keduanya tertawa bersama. Pak Hong yang berdiri di belakang ayunan ikut tersenyum melihatnya. Nana melanjutkan larinya, kini langkah kakinya memutari air mancur kecil yang ada di tengah taman itu sambil ikut menyanyikan lagu yang disenandungkan Ryeowook.

Raut terpana jelas sekali terlihat di wajah Yesung saat melihat ekpresi Ryeowook yang bertepuk-tepuk tangan mengiringi nyanyiannya. 'Manis...' batinnya. Setelah nyanyiannya selesai, Ryeowook memanggil Nana untuk berhenti berlari dan menepuk tempat kosong di sebelahnya. Nana menurut dan langsung menggelayut manja di lengan Ryeowook saat pantatnya menyentuh ayunan kayu itu. Pak Hong mulai mendorong pelan ayunannya yang berbuah protesan Nana untuk mengayun lebih kencang. Kekesalan Nana menghasilkan alunan tawa dari dua orang dewasa lainnya.

"Bagaimana hyung?" tanya Sungmin, diliriknya pria yang kini berjalan mendekati sebuah grand piano di ruangan itu. tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Yesung, hanya diam sembari membuka penutup tuts piano dan menekan asal sebuah tuts. Seketika tiga orang di luar ruangan itu menoleh serempak dan seseorang di antaranya tampak terkejut.

"Daddy!" panggil Nana lalu beringsut turun dari ayunan untuk berlari memasuki ruangan tempat ayahnya berada. Begitu sampai di depan ayahnya, Nana langsung menunjukkan mainan barunya dengan riangnya. Yesung mensejajarkan tubuhnya dengan Nana sebelum mencium pipinya dengan sayang lalu memeluk erat tubuh kecilnya. Mata Yesung tertuju ke arah Sungmin untuk memberikan sebuah anggukan kecil dan senyuman lembut, pertanda bahwa dia menerima kehadiran Ryeowook.

Sisa hari itu dihabiskan Yesung dengan duduk di kursi pantry dapur sambil mengamati anaknya yang berceloteh seru pada Ryeowook yang tentunya dengan sabar dan senang hati diladeni oleh Ryeowook. Sungmin sudah pamit lebih awal sehingga menyisakan dirinya dengan rasa canggung terhadap sepupu Sungmin itu. Ryeowook sedang membuat olahan menu yang niatnya akan diberikan pada Nana, sama seperti kemarin. Yesung memperhatikan bagaimana Ryeowook yang duduk di kursi rodanya memberi intruksi pada seorang pelayan. Iris sabitnya mengikuti gerak-gerik Ryeowook dan mendadak jantungnya berdegup kencang saat sebuah senyum terulas manis di bibirnya. Harus Yesung akui senyum namja itu bahkan lebih indah dipandang dibanding senyuman yeoja manapun. Tanpa sadar Yesung ikut menyunggingkan senyumnya dan larut dengan pemandangan indah yang tersaji hingga sebuah tangan menepuk kakinya. Yesung tersadar dan merasa kikuk saat objek yang sedari tadi menjadi perhatiannya menatap ke arahnya.

"Daddy, ayo pulang."

"Huh? Sudah selesai memasaknya?"

Nana menunjuk ke arah depan ayahnya dimana sebuah kotak besar makanan telah terbungkus rapi di tas kertas. Yesung menyadari jika pertanyaannya barusan pastilah terdengar bodoh. Salahkan senyum si namja berkursi roda itu yang membuatnya melupakan dunia nyata. Dan Yesung hanya bisa mengelus kepala sang anak demi mengalihkan salah tingkahnya. Kembali melirik Ryeowook yang kini melajukan kursi rodanya mendekati Nana dan meraih tangannya untuk berlalu menuju pintu depan rumah. Yesung beranjak mengikuti dengan bungkusan ditangannya. Mengucapkan terimakasih saat sampai di teras diikuti Nana yang membungkuk sopan lalu memeluk Ryeowook sebentar.

"Gomawo oppa," ucap Nana. Ryeowook mengangguk sambil tersenyum. "Besok kita akan bertemu lagi kan oppa?"

Pandangan Ryeowook beralih ke Yesung atas pertanyaan itu. Merasa Yesunglah yang berhak untuk memutuskan. Nana mengikuti arah pandang Ryeowook.

"Tentu, Baby Na boleh menemui Ryeowook kapanpun kau mau," ucap Yesung..

"Jinjjayo?"

Yesung mengangguk mantap. Pekik riang terdengar dari mulut si kecil sebelum kembali ke sisi ayahnya dan mengucapkan selamat tinggal. Ryeowook kembali tersenyum sambil melambaikan tangan. Setelah mobil Yesung menghilang dari pandangannya, Ryeowook memundurkan kursi rodanya lalu menutup pintu. Terdiam sejenak dengan tangan yang masih bertengger di pegangan pintu. Menghembuskan nafas pendek untuk kemudian tersenyum.

"Bagaimana hari ini tuan muda?"

Oh! Ryeowook tersentak kaget. Ditolehkan kepalanya ke belakang dan ada Pak Hong di sana yang tersenyum lembut.

"Pak Hong mengagetkanku!" sungut Ryeowook lalu berlalu melewati Pak Hong yang senyumnya semakin mengembang hingga giginya terlihat. Hari ini tuan mudanya sudah banyak tersenyum.

"Pak Hong, aku lelah, mau tidur saja," ucap Ryeowook saat sampai di depan tangga. Pak Hong yang mengerti segera berjalan ke arahnya dan berjongkok di depan kursi roda. Ryeowook menjatuhkan tubuhnya ke punggung lebar si pelayan. Satu persatu anak tangga ditapaki Pak Hong dengan Ryeowook berucap pelan di belakangnya.

"Pak Hong, Nana anak yang baik kan?"

"Nde, dan sangat periang. Sangat polos untuk melakukan hal buruk."

"Hummb."

Pak Hong terkekeh. "Jangan berpikir yang aneh-aneh Ryeowook-ah. Kulihat tuan Yesung juga orang yang baik dan ramah."

Hening tercipta hingga Pak Hong sampai di kamar Ryeowook dan menurunkannya di ranjang. Setelah merapikan selimut, Pak Hong menatap Ryeowook sejenak.

"Kau senang hari ini?"

Ryeowook mengangguk.

"Tuan Yesung ternyata tampan ya?" Pertanyaan asal Pak Hong sukses menciptakan semburat merah tipis di pipi Ryeowook. Namun tidak bertahan lama dan tergantikan dengan raut sendu.

"Entahlah, mereka...aku memang penasaran, tapi...aku takut..."

"Tenang saja Ryeowook-ah. Pak Hong akan melawan semua orang jahat dan melindungimu sampai titik darah penghabisan," ucap Pak Hong berlagak seperti superhero dengan maksud menghibur Ryeowook.

Dan usahanya berhasil. Ryeowook terkikik geli.

"Selamat malam Ryeowook-ah." Mengusap sayang kepala Ryeowook lalu beranjak mematikan lampu kamar dan terakhir keluar kamar dengan suara debuman pintu yang ditutup. Meninggalkan Ryeowook dalam temaram lampu tidur yang menggumamkan sebuah nama sebelum terlelap ke alam mimpi.

"Yesung...hyung..."

^o^

^o^

^o^

Tiga minggu berlalu. Rutinitas keluarga kecil Yesung sedikit berubah sejak mengenal Ryeowook. Nana yang biasanya mampir ke tempat kerja Yesung sepulang sekolah, kini dijemput Pak Hong untuk menghabiskan waktunya bersama Ryeowook hingga Yesung menjemputnya pulang. Tidak lupa sekotak besar olahan makanan akan ditentengnya sekeluarnya dari kediaman Ryeowook. Yesung pernah mengajukan rasa sungkannya terhadap pemberian Ryeowook tersebut, namun hanya ditanggapi dengan lengkungan bibir yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang selama tiga minggu ini dia bangun. Jangan kira dia akan membiarkan Ryeowook menarik hatinya dengan mudah. Namun, entah mengapa hatinya selalu saja tertuju pada namja berkursi roda itu meskipun pikirannya menolak kehadirannya. Waktu tiga minggu itu adalah waktu yang berat bagi Yesung.

Seperti hari ini, Yesung menapaki jalan kecil menuju pintu utama setelah memarkirkan mobilnya. Dia disambut seorang pelayan wanita ketika pintu terbuka. Tanpa perlu bertanya, mengarahkan langkahnya menuju dapur dimana dia akan menemukan Ryeowook dan Nana sedang menyelesaikan makanan yang akan dibawanya pulang. Menganggukkan kepala disertai senyuman kepada pelayan yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju dapur. Semua penghuni rumah tersebut sudah tahu kehadiran Yesung dan Nana. Mereka malah bersyukur menerimanya dengan baik ketika melihat reaksi tuan mudanya.

Namun, hari ini sepertinya berbeda. Dia tidak menemukan apa yang dia cari di dapur dan rumah ini terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak terdengar suara teriakan ataupun ocehan anaknya. Pandangannya tertuju pada sebuah tas kertas di atas meja dapur. Mengintip isinya untuk mendapati sekotak makanan yang dia tahu maksudnya. Matanya mengedar ke sekeliling dan mendekati seorang pelayan yang kebetulan lewat.

"Chogiyo, apa kau tahu dimana Ryeowook dan Nana berada?"

"Nde, mereka ada di ruang piano, tuan."

Yesung mengangguk lalu berterimakasih pada pelayan muda itu yang segera berlalu pergi setelah membungkuk sopan padanya. Yesung menuju ke sudut lain di rumah tersebut. Samar-samar mulai terdengar denting piano yang terdengar berantakan. Di sebuah ruangan tidak berpintu, dia melihat dua orang yang dicarinya sedang duduk memainkan tuts piano. Seorang yang lebih besar mengajari yang lebih kecil dengan telaten. Yesung mengerutkan dahinya ketika mendengar suara yang dia tahu memang selalu pelan kini terdengar lebih pelan dan sedikit serak. Lagu yang dimainkan Nana selesai dan Yesung bertepuk tangan, membuat dua orang lainnya menoleh kaget ke arahnya.

"Daddy..." panggil Nana. Yesung mendekat dan berjongkok di sampingnya. "Lihat dad, aku bisa bermain piano." Nana menekan tuts dengan satu telunjuknya. Nadanya berantakan, tapi sudah membuatnya bangga dengan usahanya sendiri.

"Siapa yang mengajarimu?" tanya Yesung walapupun sudah tahu jawabannya.

"Ryeowook oppa!"

"Kalalu begitu, Baby Na harus mengucapkan apa pada Ryeowook oppa?"

Nana menoleh ke sampingnya dan meringis, "Gomawo oppa."

Ryeowook mengangguk. Berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum, namun wajah sayunya tidak dapat disembunyikan dari perhatian Yesung. Yesung paham dengan keadaan itu.

"Dad," raut Nana berubah sedih. "Ryeowook oppa sedang sakit."

Ucapan Nana membenarkan dugaan Yesung.

"Ryeowook-sshi, kau tak apa?"

Ryeowook mengangguk tanpa perlu menatap si penanya. Yesung gemas dibuatnya. Dia beranjak ke samping Ryeowook dan melakukan sesuatu yang membuat si manis mematung.

"Kau demam," ujar Yesung dengan telapak tangan yang menempel di dahi Ryeowook. Wajah mereka berdua terlampau dekat karena posisi Yesung yang membungkuk. "Dimana Pak Hong? Sudah minum obat?"

"Sudah. Pak Hong sedang mengurus sesuatu di kafe." Mata cokelat Ryeowook bergerak ke atas. Yesung mengikuti arah pandang Ryeowook dan...

"Ah, chosonghamnida." Segera ditariknya tangan yang mulai nyaman dengan kulit mulus Ryeowook. Selanjutnya Yesung menatap tajam anaknya. "Baby Na, kenapa kau mengajaknya bermain kalau tahu dia sakit?"

Nana mengkeret di balik lengan Ryeowook.

"Tak apa. Aku yang memintanya," bela Ryeowook.

"Sebaiknya kau istirahat, aku dan Nana akan pulang," ucap Yesung.

"Tapi Nana ingin menemani Ryeowook oppa, dad..."

"Jika Yesung-sshi tak keberatan, tunggulah sampai Pak Hong pulang." Ryeowook berucap ragu sambil mengelus kepala Nana.

"Tentu tidak." Yesung tersenyum senang. Sebenarnya ini yang dia inginkan sejak tadi. Berdekatan lebih lama dengan Ryeowook, karena sampai sekarang hubungannya dengan Ryeowook tidak ada perkembangan sama sekali. Bahkan mereka masih menggunakan bahasa formal saat berbicara. Seingatnya, percakapan yang pernah terjadi hanya saat dia dan Nana berpamitan pulang, dan kali ini juga Yesung tidak yakin bisa berbicara banyak dengan Ryeowook. Wajahnya pucat dan tampak menahan sakit. Yesung menjadi tidak tega.

"Ryeowook-sshi," panggil Yesung. Kali ini Ryeowook menoleh menatap Yesung. "Kita menunggu di kamarmu saja, ne?"

Ryeowook hanya mengangguk lalu meraih kursi rodanya, namun Yesung menahan tangannya lebih dulu. Yesung merasa ragu dengan apa yang akan dilakukannya, namun dia tidak tahan lagi. Diabaikannya tatapan bingung Ryeowook sebelum berucap, "chosonghamnida". Detik berikutnya Yesung mengangkat Ryeowook dan menggendongnya ala bridal. Ryeowook refleks mengalungkan tangannya di leher Yesung. Kaget. Berniat menurunkan tangannya namun dicegah Yesung.

"Kajja Baby Na." Yesung mulai melangkah tanpa ragu. Senang melingkupi hatinya karena Ryeowook tidak menolak. Mulai meniti tangga menuju lantai dua dimana kamar Ryeowook berada. Sedikit informasi sudah Yesung dapat tentang Ryeowook dan seluk beluk rumah itu dari Pak Hong. Begitu juga sebaliknya, Ryeowook pernah mendengar dari obrolan mereka jika Yesung adalah seorang single parent.

Pria di usia pertengahan 30-an itu tampak santai dengan senyum tipisnya. Tak tahukah dia bahwa hati Ryeowook kebat-kebit dengan tubuh mereka yang saling menempel seperti itu. Ryeowook lebih menatap ke arah lain asalkan bukan rahang lancip Yesung di depannya dan membuat ekspresi sedatar mungkin. Nana sudah berlari duluan untuk membuka pintu kamar. Yesung menidurkan Ryeowook lalu menyelimutinya.

"Wajahmu memerah, sepertinya demammu semakin parah."

Oh, ya ampun! Kau itu seorang dokter, Yesung! Mengapa tidak bisa membedakan wajah memerah karena demam atau karena hal lain. Haaahh. Ryeowook hanya mengangguk kaku mendengarnya dan berharap Pak Hong segera pulang, atau wajahnya akan benar-benar matang akibat tambahan panas dari demamnya.

"Ryeowook-ah. Boleh aku memanggilmu seperti itu?"

Butuh waktu beberapa detik untuk Ryeowook mengangguk setuju tanpa menatap Yesung.

"Kalau begitu, kau bisa memanggilku hyung," tambah Yesung.

Ryeowook mengangguk lagi. Masih belum mau menatap lawan bicaranya.

Dan selanjutnya dua orang dewasa di kamar itu memulai percakapan panjang pertama mereka dan diselingi celotehan Nana. Ya, percakapan yang terasa panjang untuk Ryeowook dan singkat untuk Yesung. Si manis hanya menjawab seperlunya saat ditanya dan selebihnya hanya menggeleng atau mengangguk. Tatapannya pun lebih terarah ke anaknya. Yesung menghela nafasnya. Menatap dalam sosok si manis yang bersembunyi di balik selimut tebal hingga menyisakan kepalanya saja yang terlihat.

Tepat satu jam berlalu saat seseorang mengetuk pintu dari luar.

"Tuan Ryeowook." Itu suara Pak Hong. Akhirnya malaikat penolong Ryeowook tiba juga. Nana beringsut turun dari ranjang untuk membukakan pintu. Pak Hong muncul dari balik pintu dengan senyum khasnya. Rasanya Ryeowook ingin berteriak senang. Yesung membungkuk sopan dan dibalas dengan sopan pula. Berbicara sebentar dengan Pak Hong untuk kemudian berpamitan pulang. Pak Hong berniat mengantarnya ke depan namun ditolak Yesung dengan alasan khawatir terjadi apa-apa jika Ryeowook ditinggal sendiri.

Setelahnya Ryeowook mendapatkan senyum penuh arti dari Pak Hong, dengan alisnya yang naik turun. Digoda seperti itu, membuatnya makin menenggelamkan diri dalam selimut. Satu hal yang Ryeowook simpulkan hari itu.

'Nana-yah...kenapa ayahmu begitu agresif? Ottokhae...'

^o^

^o^

^o^

Hari berikutnya berlanjut dengan Yesung yang semakin aktif mendekati Ryeowook. Tidak dipedulikannya sikap datar yang ditunjukkan Ryeowook. Justru hal itulah yang semakin membuat api semangatnya makin berkobar. Pada awalnya Yesung agak ragu karena ini pertama kalinya dia tertarik dengan seorang namja. Namun perkara hatinya telah mengalahkan pemikiran itu.

"Eomma, aku mendapatkan calon pengganti eomma Nana."

Itu yang Yesung katakan pada eommanya di telepon suatu hari dan terdengar pekikan senang dari seberang.

Hingga satu bulan berlalu.

Sebuah kaca besar memantulkan bayangan seorang namja dewasa berbalut setelan hitam dan seorang yeoja kecil dengan dress selutut berwarna biru pastel.

"Dad," panggil si yeoja kecil sambil merapikan rambut ikal ikat satunya yang sudah mencapai punggung.

"Hmm?"

"We're perfect."

"Absolutely yes, baby," ucap si namja sambil sekali lagi memastikan rambut hitamnya yang dibuat messy. Sungguh membuatnya semakin terlihat mempesona.

"Ryeowook oppa akan datang ke pesta ini kan dad?"

Mereka berdua melangkah keluar kamar sambil bergandengan tangan.

"Tentu, mana mungkin dia melewatkan pernikahan sepupunya."

"Aaaahh, Nana tidak sabar bertemu oppa manis."

Yesung meringis mengingat si manis yang sedang dia perjuangkan hatinya. Ini bahkan lebih sulit dibanding mengurus urusan dapurnya. Ryeowook susah sekali didekati, tidak seperti karyawan yeoja di tempat kerjanya yang selalu merona jika berbicara dengannya.

Yesung terkikik dengan pemikirannya. Bagaimana pun juga Ryeowook seorang namja kan? Tentu saja berbeda. Mungkin Yesung harus memikirkan metode pendekatan lain sembari fokus menyetir ke tempat tujuan mereka.

Berderet mobil terparkir di pelataran rumah Kyuhyun dan Sungmin, bahkan tidak sedikit yang terpaksa parkir di tepi jalan sekitar lokasi. Ya, Kyuhyun memenuhi permintaan Sungmin untuk merayakan pernikahannya di rumah mereka, tepatnya di halaman belakang. Yesung langsung memeluk keduanya setelah Kyuhyun menurunkan Nana yang meloncat ke pelukannya begitu tiba di panggung pernikahan. Kemudian membungkuk hormat kepada orangtua mempelai dan mengobrol sebentar dengan ayah Sungmin. Setelahnya sepasang ayah dan anak itu sudah duduk menikmati hidangan. Sabit hitam Yesung mengedar ke semua orang yang berbaur di dalam pesta tersebut. Mencari sosok yang yang selalu memenuhi pikirannya.

"Ryeowook oppa!" pekik Nana dan segera berlari ke arah orang yang dipanggilnya. Ryeowook tersenyum cerah saat Nana memeluknya.

"Oppa manis sekali hari ini," puji Nana.

"Dan kau lebih manis, Nana-yah," balas Ryeowook. Nana terkikik mendengarnya.

"Annyeong Ryeowook-ah, Pak Hong," sapa Yesung lalu membungkuk sopan. Ryeowook mengangguk dan tersenyum tipis sebagai balasan, namun itu sudah membuat nafas Yesung sesak. Sesak yang menyenangkan.

Selanjutnya Pak Hong pamit dan mendorong kursi roda Ryeowook menuju kedua mempelai. Baru beberapa langkah saat seseorang menghentikan keduanya. Yesung masih berdiri di tempatnya untuk melihat eomma Sungmin berdiri angkuh di depan Ryeowook dengan segelas air putih di tangannya.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Nyonya Kim -eomma Sungmin- dengan nada tidak suka yang kentara.

"Kami datang kesini untuk mengucapkan selamat kepada Tuan Sungmin dan Tuan Kyuhyun. Kami turut bahagia dengan pernikahannya, Nyonya," jawab Pak Hong akhirnya saat Ryeowook diam saja dengan pertanyaan bibinya.

"Apa selain lumpuh, kau juga tuli, huh?" Nada keras kini terdengar dari mulut wanita itu, membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Nana juga kaget dibuatnya hingga bersembunyi di belakang tubuh ayahnya yang kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Kaget dan bingung menguasainya saat wanita yang juga dia hormati mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.

Ryeowook masih diam tanpa menatap wanita yang menghinanya. Dia hanya sedang menetralkan nafasnya yang mulai memburu.

"Tuan Ryeowook sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya." Pak Hong berbohong agar Nyonya Kim berhenti merecoki Ryeowook.

"Ah, benar. Kau memang sakit. Kakimu yang sakit kan? Sakit cacat. Kakimu cacat!" Nyonya Kim menyeringai mengejek saat bisikan-bisikan para tamu undangan mulai terdengar.

Percakapan ini tidak akan ada habisnya dan akan berakibat buruk. Itu yang ada di pikiran Pak Hong sehingga dia memilih mengabaikan sikap sopannya kepada Nyonya Kim dan kembali mendorong kursi roda Ryeowook. Namun harus kembali terhenti karena sepatu tinggi Nyonya Kim menahannya di pijakan kaki kursi roda, tepat di atas kaki Ryeowook yang hanya mengenakan sepatu kain. Ryeowook sontak mendongak ke arah Nyonya Kim yang kini dengan sengaja menekan kakinya dengan benda keras itu.

"Sakit?"

Ryeowook masih diam.

"Hah, sepertinya tidak."

Pak Hong menarik kursi roda itu supaya kaki Nyonya Kim terlepas.

"Kau pantas mendapatkannya, setelah apa yang kau lakukan pada ayah tirimu. Kaki cacatmu itu juga akibat dari sikap sok baik eommamu."

"Nyonya Kim!" gertak Pak Hong.

Nyonya Kim mendengus geli lalu berucap, "baiklah, baiklah...silahkan nikmati pestanya. Dan sebagai rasa terimakasihku atas kehadiranmu, dengan senang hati aku sudah mengambilkan minuman pertamamu Ryeowook-ah."

Mengayunkan gelas di tangannya dengan gerakan yang dibuat seanggun mungkin. Ryeowook masih terdiam saat gelas itu sampai di depan wajahnya.

"Waeyo?" tanya Nyonya Kim sambil membungkukkan badannya.

Ryeowook menghembuskan nafas pendek sebelum menerima gelas itu.

"Tenang saja, tidak ada racun di dalamnya," bisik Nyonya Kim.

BYUR!

Tepat saat kalimat itu selesai meluncur dari bibir merahnya, cairan dalam gelas itu menampar wajahnya dengan keras. Suasana di sekitar mereka hening sesaat hingga Nyonya Kim memekik marah.

"YAAK! Namja cacat!" Jari-jari kurusnya mencengkeram bahu Ryeowook. Pak Hong yang kaget segera menjauhkan tangan Nyonya Kim. Namun terlambat, kejadiannya begitu cepat. Tidak ada yang menyadari bahwa Ryeowook memukulkan gelas di tangannya ke kursi rodanya hingga membuat pinggiran gelas itu meruncing tajam dan mengarahkannya ke lengan si wanita.

"Aaaaarrgghh!" Nyonya Kim memegangi lengannya yang berdarah.

Suasana menjadi gaduh dan tidak terkendali. Sepertinya pestanya tidak akan berlanjut dengan baik setelahnya. Sementara itu, pecahan gelas di tangan Ryeowook terjatuh karena pegangannya mengendur. Dia sendiri mematung, kaget, tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilakukannya.

Pak Hong bergegas menarik kursi roda beserta Ryeowook yang memucat untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan Yesung, Kyuhyun, dan Sungmin yang masih sibuk mencerna kejadian gila ini. Tidak menyadari sosok kecil yang mengikuti langkah Pak Hong hingga memasuki mobil untuk membawa Ryeowook pulang.

Butuh beberapa saat hingga Yesung menyadari anaknya sudah tidak ada di sampingnya. Seperti otomatis, langkahnya bergerak cepat ke bagian depan rumah. Menuju ke jalan saat melihat sebuah mobil bergerak memutar keluar rumah. Tepat saat Yesung sampai di tepi jalan, sebuah sedan melintas di depannya. Samar-samar dia dapat melihat anaknya berada di bangku belakang.

Kakinya kembali bergerak cepat menuju mobilnya, menjalankannya untuk mengikuti jejak mobil sebelumnya. Sepanjang perjalanan, kepala Yesung dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Hatinya tidak tenang dan sakit setiap mengingat Ryeowook. Sesampainya, Yesung langsung berlari menyusuri liku rumah besar itu dan mendobrak pintu kamar Ryeowook. Yesung disambut dengan pemandangan Ryeowook yang tertidur dengan Nana di pelukannya yang juga ikut menghembuskan nafas teratur. Di samping Ryeowook, ada Pak Hong. Yesung mengambil tempat di samping anaknya lalu menyingkirkan helaian ikal yang jatuh diwajahnya. Pak Hong tersenyum sendiri melihatnya.

"Nana anak yang cantik, baik, dan enjadi teman yang menyenangkan untuk Tuan Ryeowook. Sedikit demi sedikit Nana bisa menghilangkan traumanya. Untuk itu, saya sangat berterimakasih Tuan Yesung," ucap Pak Hong.

"Terimakasih kembali Pak Hong. Ryeowook juga membawa sesuatu yang baru di keluarga kami."

"Tuan Yesung hanya perlu berusaha sedikit lebih keras untuk meyakinkan Tuan Ryeowook."

Yesung mengerutkan dahinya tak paham. 'Apa dia tahu perasaanku pada Ryeowook?' batin Yesung.

"Sangat jelas terlihat dari sikap dan tatapan anda pada Tuan Ryeowook," ucap Pak Hong menjawab pertanyaan tak terucap Yesung.

"Begitu ya." Yesung meringis sambil mengusap belakang kepalanya. "Ryeowook...aku tak tahu kenapa, tapi...dia...ah, entahlah Pak Hong, dia menerimaku dan juga menolakku."

"Hanya lakukan apa yang tadi saya katakan, dan Tuan Yesung akan mendapatkan kepercayaan Tuan Ryeowook," ucap Pak Hong.

Yesung mengangguk mantap. Jemarinya kini beralih mengusap surai cokelat Ryeowook. "Apa Ryeowook baik-baik saja?"

"Untuk saat ini baik-baik saja. Tapi, kondisinya memang naik turun," jawab Pak Hong.

"Aku tahu ini sedikit lancang, tapi bolehkah aku tahu apa yang terjadi antara Ryeowook dan eomma Sungmin?"

"Tentu." Pak Hong mengambil nafas sebelum bercerita. "Eomma Ryeowook dan Eomma Sungmin adalah kakak beradik. Keduanya akur, sama seperti hubungan saudara pada umumnya walaupun keduanya mempunyai sikap yang berlawanan. Eomma Ryeowook yang sederhana serta penurut dan Eomma Sungmin yang pembangkang dan berlebihan dalam segala hal termasuk menghabiskan uang pemberian orangtua mereka. Beberapa hari sebelum pernikahan Eomma Sungmin, orangtua mereka pergi untuk selamanya, meninggalkan Eomma Ryeowook yang menangis pilu dan Eomma Sungmin yang menanyakan harta warisan. Pengacara keluarga mengatakan bahwa surat warisan sudah di tangannya, namun baru akan diberitahukan setelah anak bungsu sudah menikah. Eomma Sungmin menunggu dengan sabar sampai Eomma Ryeowook mendapatkan pasangan hidupnya. Hingga hari itu tiba, Eomma Sungmin harus menelan kekecewaannya. Apa yang dia harapkan berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa semua harta warisan orangtuanya, termasuk bisnis restoran dan kafe, jatuh ke tangan Eomma Ryeowook. Sepertinya orangtua mereka ingin memberikan hukuman kepada anak sulungnya. Tapi tetap saja, itu terasa jahat dan tidak adil. Si sulung mengamuk seperti kesetanan dan hubungan saudara itu terputus. Walaupun Eomma Ryeowook bersikeras akan memberikan setengah dari warisan tersebut, kebencian sudah tertancap kuat di hati Eomma Sungmin. Menuduh sikap baik Eomma Ryeowook dari dulu sebagai topeng dan alat perayu untuk menarik perhatian orangtuanya."

Jeda sejenak sebelum melanjutkan kembali, "bahkan sikap suami Eomma Sungmin juga berubah, meskipun tidak ikut menyumpahi keluarga Ryeowook. Hanya bersikap dingin dan tidak peduli. Maaf, saya baru bisa bercerita sampai di sini saja." Suara Pak Hong terdengar melemah.

Hening menyelimuti saat Pak Hong mengakhiri ceritanya.

"Ryeowook-ah, ijinkan aku mendekatimu," lirih Yesung.

.

.

TBC

.

.

Big thanks to : etwina, YuliaCloudSomnia, Kim HyunWook.

.

.

Maaf ya...updatenya lama :D

Review please...review review review...huhuhuuu. Kim Ryeonggu jadi sedih lihat yang review sedikit. Kan jadi gak tahu, kalian suka atau nggak sama ceritanya...

Oke deh segitu aja, See you next chapter ya...bye bye.