Author : yoo! Saya balik lagi setelah internet menghilang selama seminggu XDD

Natsuki : author! Akito mulai meledekku sebagai perempuan! AKU NGGAK SUKA!

Author : Uhh… ya… emm…

Natsuki : *langsung kabur*

Author : tumben bukan Vocaloid yang nemenin ya? Ah sudahlah berarti saya bacain disclaimer sendiri

Disclaimer : semua Vocaloid atau nama yang ada di dalamnya milik masing-masing pihak, author Cuma minjem chara untuk dipakai cerita

Warning : nggak ada… mungkin?


Kiyoteru pada pagi hari dimana masuk sekolah menampakkan wajah kurang tidur. Ia tak menyangka apa yang dilakukannya berupa menangis, lalu ia mencoba membuat sibuk dengan persiapan mengajar atau membaca buku apapun itu. Jadi ada kantung di area bawah mata. Walaupun seperti biasa ia bertindak professional.

Menghela nafas panjang, Kiyoteru justru melamun memikirkan tentang hari lalu. Sejak kapan beberapa abnormal terjadi dalam hidupnya? Lalu bagaimana bisa Akito, sahabatnya sendiri merahasiakan tentang dirinya. Kenapa ayahnya tak pernah mengatakan tentang hal tersebut, apa yang dirahasiakan mereka?

"Hiyama-sensei!"

Lamunannya harus terpotong oleh panggilan siswanya sendiri. Ia paling terkenal dan rumor mengatakan gadis tersebut pernah berpacaran dengan banyak laki-laki. Memang harus diakui kalau si gadis memiliki wajah cantik. Kiyoteru hanya tersenyum.

"Iya?"

"Aku ada yang kurang mengerti, jadi kalau bisa… bolehkah aku minta waktu tambahan?"

"Ehh? Baiklah"

Si gadis dengan cepat berlari menuju ruang kelas. Kiyoteru menarik nafas panjang, jika Akito mengatakan ia akan mengetahuinya pada saat yang tepat, maka biarkanlah begitu. Ia tak ingin persahabatannya hancur hanya karena dirinya mulai mengalami kejadian abnormal. Harapannya hanya satu, keabnormalan tidak akan pernah terjadi lagi.

Dan seseorang dari balik pohon dekat Kiyoteru menampakkan wajah kesal .

Bel pulang sekolah berbunyi, Kiyoteru sebagai guru yang baik mengingat janjinya. Tepat setelah sekolah sepi, siswi yang memintanya untuk mengajar tambahan. Saat ke kelas, Kiyoteru mendapati siswi tersebut duduk di mejanya. Ia mengaku sedikit terganggu ditambah yang dilakukan adalah tidak sopan. Ia hanya berdehem sekaligus berharap si siswi mengerti.

"Ah, sensei! Kukira kau tak datang!"

"Turun dari mejaku dan duduk di kursi siswa"

"Baiklah!"

Kiyoteru hanya menggelengkan kepalanya. Siswi tersebut mengeluarkan catatannya.

"Kau bilang tadi pagi ada yang susah. Yang mana, akan kujelaskan sejelas-jelasnya"

"Ini"

"Mana?"

Kiyoteru mendekat ke siswinya dan berakhir ia didorong ke lantai. Sakit? Sudah pasti dan si siswi sekarang berada diatasnya dengan posisi yang bisa dikatakan tidak senonoh. Kiyoteru sebenarnya mencoba mendorongnya di bagian bahu tapi siswi diatasnya ternyata lebih kuat menahan.

"Tidak mungkin seorang perempuan… SISWI LAGI! Bisa lebih kuat dariku!"

DOR DOR!

Siswi tersebut sudah melompat ke meja guru, Kiyoteru terkejut bukan main. Suara pistol yang sangat kencang tentu membuat siapapun terkejut. Tapi bukan itu yang jadi masalah, pistol tersebut tidak mengeluarkan peluru biasa melainkan cahaya berwarna keperakan. Kiyoteru masih memproses kejadian tersebut dan mencari siapa pelakunya.

Lalu pandangan Kiyoteru langsung ke arah pintu, terlihat Kaito memegang pistol berwarna perak.

"Tch… Yōkai tak tahu diri menunjukkan diri pada siang hari, kau mau cari mati!?"

Dan siswi tersebut hanya tersenyum menyeringai dan makin lama memperlihatkan giginya yang tajam hingga tawa terbahak-bahak, suaranya juga mulai tidak seperti manusia.

"OH! SEORANG PEMBURU MAKHLUK MACAM KAMI! Tapi, kau tak pernah kuharapkan ada disini. Jadi, sebelum nyawamu terlepas dari badanmu, pergilah selagi bisa! Aku… hanya butuh orang yang ada disana" Yōkai tersebut menunjuk ke arah Kiyoteru dan orang yang ditunjuk hanya kebingungan

"Hah? A-aku?".

"Bukan kau, manusia! Tapi "dia" yang ada didalammu… seorang iblis yang paling kuat! Kau sendiri pasti sudah mengetahuinya, benar bukan tuan pemburu?"

Kiyoteru makin merasa orang asing diantara keduanya. Namun ia menyadari wajah Kaito mulai menunjukkan kekesalan yang tinggi.

"Aku tidak pernah tahu tentang iblis yang kau katakan itu! Aku datang kesini karena memang sudah mengetahui tentangmu yang ternyata seorang Yōkai! Apalagi kau mau membuat hidup orang lain dalam bahaya!?"

Siswi tersebut langsung melompat menuju Kaito, orang yang dituju hanya bisa menunjukkan wajah terkejut. Detik selanjutnya badannya terlempar ke belakang dan bertemu tembok. Langsung saja Kaito kehilangan kesadaran.

"SHION-KUN!"

Seperti tadi, Kiyoteru ditahan oleh tubuh si gadis namun kali ini ditambah rambutnya ditarik secara kasar sehingga wajahnya mendekat. Kiyoteru memerah mukanya karena memang terlalu dekat, namun tangan yang tidak menyentuh apa-apa berubah memiliki kuku panjang. Kiyoteru hanya bisa merinding tak karuan.

"Aku tahu kau disana, berpura-pura tak melihat atau… kau ingin leher anak ini putus?"

"Wha–?"

Tangan berkuku tajam nan panjang diangkat. Kiyoteru menutup mata dengan ketakutan, kenapa diantara semuanya harus dirinya yang mengalami kejadian langka nan berbahaya? Dalam hati ia sudah berdoa agar hidupnya tidak berakhir seperti ini. Ia masih single tak pernah punya pacar dan harus meninggal dalam keadaan JONES alias jomblo ngenes?

Sebelum tangan itu mengarah ke lehernya, Kiyoteru merasa seseorang menariknya ke bawah. Ia mendapati dirinya tak bisa menggerakkan badannya dan berada di sebuah tempat gelap, cahaya hanya ada di dekatnya. Saat matanya melihat kesana-kemari, ia mendapati seseorang berdiri dihadapannya. Ia membelakangi Kiyoteru dan tak menampakkan wajahnya.

"Maaf, tapi mulai saat ini semuanya… akan bertambah aneh bagimu. Aku, meminta maaf tapi… kau tak keberatan kalau kugunakan tubuhmu sekarang, kan?"

Kiyoteru hanya mengerutkan dahinya.

"Apa? aku tak mengerti!"

Si laki-laki menaruh jari telunjuk ke bibirnya, "ssstt… pertanyaanmu kujawab lain kali saja, ya… Kiyo"

Seketika kesadaran Kiyoteru menghilang.

"Ada apa kau mau menemuiku, nona Yōkai?"

Gadis tersebut yang tadinya ingin mencekik sekaligus memenggal leher Kiyoteru langsung berhenti. Ia lompat ke meja guru dan hanya terkekeh.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, oh tuan paling terkuat diantara kami…"

Kiyoteru berdiri dari posisinya dan berjalan pelan menuju jendela. Kacamata yang biasanya menggantung menghias wajah absen karena dipegang ditangan. Ia memandang lewat jendela lapangan yang kosong dan langit mulai kemerahan. Kiyoteru tersenyum melihat matahari tenggelam berwarna jingga menghiasi awan dengan cahayanya.

Ia membuka jendela dan membiarkan angin berhembus memasuki ruang kelas. Ia kemudian menghadap ke Yōkai tersebut, rambutnya ada yang bergerak karena angin.

"Lalu apa maumu?"

"Aku hanya ingin mengatakan kalau hari "itu" akan dekat, akan lebih baik jika laki-laki yang ada di tubuhmu kau bunuh. Ia hanya akan jadi pengganggu."

Kiyoteru yang mendengar hal tersebut langsung menyipitkan matanya. Kemudian warna irisnya berubah menjadi kuning dilanjutkan angin mulai berhembus kencang. Bahkan kursi serta meja ikut melayang.

"Jangan pernah mengatakan hal tersebut pada Kiyo, aku… punya alasan sendiri untuk tidak membunuhnya. Dan kau, jika berani mengatakan hal tersebut sekali lagi… hidupmu berakhir"

Yōkai tersebut hanya tertawa kecil.

"Kalau kau membunuhku, seisi ruangan kelas yang diajar si manusia akan membunuhnya. Tentu kau tak mau kejadian buruk terjadi bukan? Oh! Aku tahu, kau membunuh seorang vampire pureblood kemarin. Padahal tujuan vampire tersebut untuk membunuh yang tak tahu diri, Yuki Onna tapi malah memberi hati pada manusia"

"Mau itu Yuki Onna atau apapun makhluknya, jika memang apa yang mereka lakukan memang keinginan sendiri… apa salahnya?"

Yōkai itu melompat mendekati Kiyoteru. Ia mendorong tubuhnya sehingga mereka berdua berdempetan. Dasi milik Kiyoteru ditarik, jarak diantara keduanya sekarang sangat dekat.

"Untuk makhluk paling terkuat namun tersegel mengatakan hal tersebut… kau cukup berani"

Kiyoteru hanya tersenyum menyeringai, "memangnya kenapa? Kau mau bermain denganku? Tapi, tubuh ini sayangnya bukan milikku–"

Rambut si Yōkai ditarik oleh Kiyoteru, tentu ia meronta karena merasakan sakit.

"–Tapi kau juga harus tahu sopan santun, walaupun aku bukan gurumu… tunjukkanlah kesopanan. Hanya karena aku yang muncul ke permukaan, seenaknya saja mau menyentuhku."

Kiyoteru melepasnya dan sekaligus mendorongnya hingga terlempar jauh dan bertemu tembok. Ia melihat Kaito mulai sadar dan bersiap menembak si gadis. Kiyoteru yang menyadarinya mendekati papan tulis dan mengambil penghapus. Kemudian benda tersebut dilemparnya dan terkena tangan Kaito. Tentu saja pistol tersebut terlepas dari tangannya.

Kaito terkejut dan dia langsung melompat menghindari cakaran si Yōkai. Ia menggit bibir bawahnya, menyesal tidak menyadari kalau sang guru sudah berubah. Saat Yōkai tersebut mau melompat untuk menyerang kaito lagi, tangannya ditahan oleh seseorang. Kiyoteru hanya tersenyum lembut saat Yōkai tersebut mendongak mencari si pelaku.

Kiyoteru tak bicara, ia hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya kemudian tangannya diangkat setinggi-tingginya. Tangannya mulai bersinar warna merah, si Yōkai menatap horror Kiyoteru lalu menutup matanya dengan takut. Namun bukanlah tamparan atau tonjokan keras, melainkan kehangatan pada dahinya. Yōkai berjenis kelamin perempuan tersebut hanya menunjukkan tampang keheranan.

"Kau terlalu membuat banyak keributan! Kaito… jangan menyakiti seorang perempuan, ya? Oh, Megurine-chan… oyasumi."

Kiyoteru menahan tubuh Yōkai dan matanya tertutup, sekarang tangan si gadis berubah kembali ke bentuk manusia. Ia hanya tersenyum melihat wajah si perempuan. Kaito mendekati Kiyoteru dan mengacungkan pistol ke dahi. Kiyoteru hanya menghela nafas panjang.

"Kenapa anak muda zaman sekarang sifatnya menjadi dua kali lipat lebih menyebalkan, mau itu seorang Yōkai atau manusia sama saja" keluh Kiyoteru.

"Kau… kenapa bisa ada di dalam tubuh Hiyama-nii san! Aku tahu keluargaku memintaku memata-matainya tapi tak pernah kusangka iblis dengan lancangnya tinggal di dalam tubuh Hiyama-nii san! Cepat keluar dari sana!"

"Tunggu, kau pakai suffix –nii san! Memangnya apa hubunganmu dengan Kiyo?"

Tatapan tajam, Kiyoteru hanya menghela nafas pasrah.

"Dengar ya, keluar dari tubuh ini tidak semudah kau melakukan exorcist setan atau nyawa orang mati yang tak sengaja merasuki tubuh seseorang. Aku lebih sulit dari itu dan besar kemungkinan membunuh Kiyo, makanya pendeta tua menyebalkan tersebut memilih menyegel kekuatanku yang sebenarnya daripada mengusirku. Aku juga mengerti kalau keberadaanku seperti parasit bagi Kiyo. Hmm… sekedar pengingat juga jangan pernah membuat masalah dengan murid di kelas Kiyo karena kuharap kau mendengar perkataan Yōkai tadi kalau mereka bukan manusia. Kau tahu, besar kemungkinan yang manusia hanya kita berdu-maksudku Kiyo dan kau saja."

Kiyoteru kemudian merebut pistol tersebut dari tangan Kaito namun ada percikan listrik. Ia menatap pistol tersebut lebih dekat.

"Wah, Silver Maiden! Bisa membunuh segala makhluk supranatural… bahkan aku sendiri yang memegangnya sampai melawan, kalau tak kulepas pasti ada bekas terbakar di tangan Kiyo."

Kaito mengambil kasar pistol miliknya. Ia menaruh pistol tersebut ke dalam jas seragamnya. Kiyoteru kemudian menggendong badan Megurine.

"Hei, hampir malam dan karena keributan tadi aku takut ada makhluk lain yang menyerang. Lebih baik kita pulang bersama, mungkin kupanggil Akito untuk menjemput kita?"

Akito hanya menunggu dengan diselingi memainkan permainan An*ry Bird di telepon genggam. Jangan pernah membicarakan atau menyinggung soal ini karena dijamin Akito akan menyangkal. Sahabatnya memang hanya mengirimkan pesan singkat, tapi cukup membuatnya sedikit panik karena ia sebenarnya sedang melayani banyak pelanggan. Untung saja ayahnya mengerti dirinya.

Memang anggota band ICE MOUNTAIN bisa dibilang paling aneh, sudah punya profesi berpenghasilan tinggi tapi masih mempertahankan pekerjaan lama. Bahkan dua diantara mereka sudah diketahui public secara umum. Tapi Akito tak habis pikir, jarang sekali Kiyoteru memintanya mengantar.

Dari gerbang sekolah terlihat oleh Akito dua orang, salah satunya seperti menggendong seseorang. Matanya menyipit untuk memperjelas siapa mereka. Beberapa lama kemudian, kedua orang itu menampakkan penampilannya yang menunjukkan Kiyoteru serta seseorang berambut biru pendek. Seseorang yang digendong oleh Kiyoteru ternyata siswi sekolah tersebut.

"Ah! Hiyama-kun!"

Akito kebingungan mendengar Kiyoteru memanggilnya dengan nama belakang, tapi saat melihat kedua mata sahabatnya berwarna kuning raut wajahnya menjadi masam. Akito tak membalas, hanya melipat tangannya di dada.

"Kenapa kau tak membalasku?"

"Untuk apa aku membalas seseorang yang menggerogoti sahabatku."

Kiyoteru terdiam, Akito hanya membuka pintu mobilnya. Kaito menatap canggung dua orang dewasa didekatnya. Bicara tentang menggerogoti tubuh, ini pertama kalinya "dia" muncul dalam waktu cukup lama bertahan tanpa membuat mata serta tubuhnya merasa sakit. Tapi ia tahu, kalau lebih lama menahan pasti rasa tersebut akan muncul.

Sekarang Akito mengobrol tentang hal umum dengan Kaito dan terlihat hanya mendengarkan percakapan si laki-laki berambut merah. Karena nyatanya Kaito lebih banyak diam sedangkan Akito bercerita panjang lebar.

"Tidak baik bagi Kiyo untuk tidak tersadar dalam waktu lama kalau aku yang muncul"

Kiyoteru jadi teringat satu hal, "ahh… Hiyama-kun! Bolehkah aku meminta bantuan darimu?"

Percakapan antara Akito dan Kaito terhenti, raut muka si laki-laki berambut merah hanya terdiam. Tapi melihat dari mata serta gesturnya, Akito setuju dengan permintaan Kiyoteru.

"Tentunya kita harus mengantarkan Megurine-san ke rumahnya."

Entah kenapa Kaito langsung menatap ala pembunuh kepada Kiyoteru.


Author : Wah! Selesai! Oh, ada yang minta Bandnya sensei dijelasin! Berarti…

ICE MOUNTAIN special corner!

ICE MOUNTAIN aka band yang isinya orang-orang abnormal (Akito : OI! Gue normal!) terdiri dari Akito Hiyama sebagai gitaris, Touma Azuchi pemain bass, Natsuki Hokaze sang drummer dan terakhir Haruto Amane pemain keyboard/organ atau apapun namanya. Dan maaf, lupa ditulis terakhir adalah Kiyoteru Hiyama sendiri sebagai vokalis.

ICE MOUNTAIN berdiri sejak masa kuliah, paling susah direkrut adalah Touma Azuchi dan faktanya dia sebenarnya selalu di sewa oleh banyak band di Jepang (wow!) namun cepat dipecat karena mudah membuat masalah. Paling dewasa walaupun tidak sedewasa Haruto Amane.

Seperti yang dijelaskan author chapter kemarin, ICE MOUNTAIN masih mempertahankan pekerjaan utama masing-masing entah alasannya apa. Mereka punya background masa lalu masing-masing. Terus di toko dimana Akito kerja (dan keluarganya yang punya toko tersebut) sering sekali seorang gadis berambut panjang kuncir dua beli daun bawang dalam jumlah banyak.

Author : udah, segitu dulu dijelasinnya mungkin seharusnya bikin cerita sendiri kali ya?

Len : Author! Kenapa dibu- *Len keburu dibekep*

Author : udah segitu aja! Sampai jumpa dan Len, jangan bocorin cerita oke?