Minna! Salam kenal ya. Aku newbie disini. Ini first fic aku, jadi kalau ada kekurangan harap maklumin aja ya XD. Sebelumnya aku makasih banget sama aishanara87 yang udah baik hati mau nge-review fic gaje tingkat dewa ini.
Disini para reader sekalian akan melihat bagaimana reaksi Shiho lihat Shinichi dengan kelakuannya yang bakal ngecincang hati Shiho. Dan pairingnya kayaknya agak keluar dari target untuk chapter ini dan tiga chapther selanjutnya. Tapi tenang Endingnya Shiho bakal sama Shinichi koq.
WARNING! : Gaje tingkat dewa, OOC, Aneh, Abal, Typo, EYD patut dipertanyakan.
Only Hope
Detective Conan, Rate: T, Genre: Romance & Drama, Pairing: Shiho Miyano x Shinichi Kudo.
Desclaimer: Aoyama Gosho. Aku cuma minjem beberapa karakternya kok.
Chapter 4: Namanya Saguru
Shiho POV
Siang ini aku sedang berjalan di ruas-ruas jalan kota Beika, kegiatan yang tambah melelahkan sehabis menghabiskan waktu setengah hari di kampus.
Sepertinya aku harus berjalan lebih cepat, langit sudah teramat mendung dan begitu angkuh terlukis diantara bangunan-bangunan tinggi dikota ini.
Tik . . . tik . . . tik . . .
Ah, sepertinya titik-titik hujan sudah mulai turun. Sialnya, buku-buku yang kubawa ini malah memperlambat langkahku.
Tak ada pilihan lain, aku harus berteduh dipelataran supermarket itu.
Brak . . .
Aku menabrak punggung seseorang dan menjatuhkan semua bawaanku. "Maafkan saya, saya sedang menelepon tadi" kata orang itu seraya berbalik dan membantuku memunguti buku-bukuku yang sudah jatuh berserakan.
Saat hendak memungut bukuku yang terakhir tanganku dan tangannya bersentuhan tak sengaja akupun otomatis langsung memfokuskan penglihatanku kewajah yang siempunya tangan.
"Shiho?. . ." sontak kata itu keluar dari mulutnya dan membuatku terkejut saat menyadari siapa orang yang telah berbaik hati mau menjadi korban yang kutabrak untuk yang kedua kalinya, semenjak sebulan lalu aku tak pernah lagi bertemu dengannya ataupun dengan Kuroba juga... Shinichi.
"Hakuba-san, emmm... tanganmu itu... bisa... lepaskan..." kataku dengan malu "Oh, maaf" katanya yang langsung menjauhkan tangannya dari tanganku. Entah salah lihat atau memang benar, ku rasa ada semburat merah diwajahnya.
Dia membantuku berdiri. Aku yang sudah setengah basah karena terkena tempias hujan yang semakin lama semakin lebat terkejut mendengar suara gemuruh petir yang begitu mengerikan, dengan refleks buku-bukuku ku dekap di tangan kananku dan tangan kiri ku mencengkram kuat kerah baju Saguru otomatis jarak kami berdua semakin kecil.
"Kau tak apa?" tanya Saguru. Aku pun melepas cengkramanku dan mendekap kembali buku-bukuku "Ya, aku baik-baik saja. Maaf aku hanya sedikit terkejut" kataku "Oh" katanya datar.
Hening, suara kami bagaikan ditelan derasnya hujan, tak ada satupun kata yang keluar dari kami, kami hanya terjun dalam pikiran masing. Kenapa disaat seperti ini tak ada satupun taksi yang lewat? Sungguh mengesalkan aku harus terjebak dengan Saguru disini.
"Hatssssssy... hatssssssy" suara bersin ku membuyarkan lamunan kami berdua.
"Kau baik-baik saja?" tanya Saguru yang kemudian memperhatikan ku dengan lekat-lekat. Aku hanya menangguk pelan "Kau tak pintar berbohong" simpulnya sinis. Saguru melepaskan jasnya dan menyodorkannya kepadaku, aku yang masih bingung hanya berdiam tak merespon. "Haaaaaaatsssssssy!" bersinku kembali menggema "Kau kedinginan, bajumu basah" kata Saguru. Akupun menerima jasnya dan mengenakannya untuk menghangatkan tubuhku yang sudah mulai menggigil.
"Haaaaatssssssy!" kenapa bersin ini tak hilang-hilang. "Hangat?"tanya Saguru yang melingkarkan tangan kanannya di bahuku aku diam sesaat berpikir bagaimana aku harus bersikap disaat seperti ini, akhirnya akupun mengangguk.
Derai air hujan membungkam kami kembali dalam keheningan.
"Saguru!" teriak seorang wanita cantik yang sangat kukenal.
"Yukiko-san!Anda sudah pulang dari Amerika?" tanya Saguru.
"Ya, baru hari ini." Jawab ibu Kudo itu singkat.
"Mana Yusaku-san?" tanya Saguru lagi.
"Dia disana, Yusaku! Kemariiii !" kata Yukiko yang langsung dihampiri oleh Yusaku.
"Apa kabar Hakuba-san?" kata Yusaku yang menyalami tangan Saguru. Saguru membalas salamnya dan memindahkan rangkulannya ketangan kirinya "Selalu baik" jawab Saguru dengan tersenyum.
"Wah, kau ternyata sudah punya kekasih rupanya. Kenapa tak pernah cerita?" tanya Yukiko sambil mengedipkan sebelah matanya "Ah, maaf Yukiko-san aku bukan kekasihnya" jawabku dingin dan langsung melepas rangkulan Saguru.
"Hahahahahah, lelucon yang bagus. Hei! bagaimana kalau kalian mampir kerumah kami?" tanya Yukiko bersemangat "Ya, tentu" jawab Saguru yang lalu mengalihkan pandangannya kepada ku "Kau harus ikut, rumah Kudo dan rumahmu tak jauh jadi kau bisa langsung kuantar pulang" bisik Saguru yang langsung menarik tanganku masuk kemobil keluarga Kudo dengan seenaknya.
SKIP=SKIP=SKIP
"Aku mau pulang kerumahku, Saguru!" bentakku pelan seraya mencoba melepaskan genggaman eratnya dari tanganku. Dia sama sekali tidak merespon "Kau akan pulang setelah jamuan ini" jawabnya datar "Apa hakmu memerintahkan aku?" tanyaku "Ada pesan dari sesorang yang harus kau dengar".
Huh menyebalkan.
"Sepertinya Shinichi juga sudah pulang." Kata Yusaku.
Deg . . .
Jantungku berdebar. Aku tak mengharapkan hal ini. Aku tak mau bertemu dengannya. Mendengar namanya saja sudah sangat memuakkan dan menyesakkan.
Tak berapa lama setelah Yusaku membunyikan bel rumah, Shinichi membukakan pintu. Melihat penampilannya begitu kacau membuatku tersentak. Rambutnya yang agak berantakan, kemeja yang berantakan dan tanda merah yang membekas disekitar bibirnya membuatku begitu terpana, beragam pikiran buruk terlintas di kepalaku. Karena aku berusaha menahan tangis akupun melingkarkan salah satu tanganku ke tangan kanan Saguru. Saguru hanya terlihat datar tak ada satu ekspresi apapun yang terlintas diwajahnya.
"Shiho? . . ." kata Shinichi yang membuat aku tertunduk "Apa yang kaulakukan dengan Saguru disini?" tanya Shinichi dengan heran.
"Bukan urusanmu" kataku mencoba Sinis "Shin-chan, kau kenal dia?" tanya Yukiko sambil menunjuk-nunjuk kearahku "Itu bisa dijelaskan didalamkan?" kata Yusaku yang memotong pembicaraan dan mempersilahkan kami masuk kerumahnya.
Akupun masuk kerumah keluarga Kudo dengan mendekap erat tangan kanan Saguru yang tak diberikan respon apapun darinya. Alangkah terkejutnya aku, ketika melihat seorang wanita cantik berambut hitam panjak tengah duduk sofa sambil merapikan baju dan rambutnya. Ya, tak salah lagi dia Ran.
Kamipun duduk disofa "Aku ambilkan minum dulu ya, ayo Ran tolong Neechan" kata Yukiko yang langsung pergi kedapur diikuti Ran.
Aku mearuh buku, tas dan jas Saguru tadi di sebelahku. "Bisakah kau antarku pulang?" bisikku pada Saguru "Nanti" katanya datar. Aku mendekap tangannya lagi dan berharap aku masih sanggup melalui ini.
SKIP=SKIP=SKIP
"Oooh, kau berteman dekat dengan Shin-chan. Dasar, Shin-chan tak pernah cerita apapun tentang temannya. Kau tinggal dirumah Profesor kan Shiho?" tanya Yukiko "Ya" jawabku singkat. Untuk kesekian kalinya aku kembali menatap Saguru dengan tatapan memelas jujur saja deathglareku tak mempan untuknya, lagi-lagi dia hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Sepertinya jamuanku hanya mengganggu waktu kencan kalian" goda Yukiko "Oh, tidak . . . . tidak" bantahku "Memang ada apa dengan kau dan Saguru? Kalian tak pernah cerita apa-apa kepadaku" kata Shinichi dengan nada curiga.
Aku yang masih dalam keadaan shock berat berusaha menguatkan diriku "Apa kalian sepasang kekasih?" tanya Shinichi lagi "Memang apa urusanmu?" kata Saguru balik bertanya dan kurasa perkataan Saguru membuat Shinichi geram.
"Ya, aku pacarnya" jawabku menyela perkataan mereka.
"Maaf Yukiko-san, aku takut membuat Hakase khawatir. Aku akan segera pulang terimakasih atas jamuannya" kataku yang berdiri hendak pergi.
"Oh ya, Shiho. Tadi Profesor berpesan kepadaku untuk mengawasimu. Profesor sedang pergi menghadiri pemakaman teman penemunya di Hokkaido yang meninggal tadi pagi" kata Shinichi "Oh" jawabku.
"Kau ingin pulang juga atau kau ingin tetap bersama Kudo disini, Saguru?"
"Tentu aku pulang. Aku harus memastikan kekasihku pulang dengan selamat" katanya sambil memasang muka tak bersalahnya yang sebenarnya sangatlah memuakkan bagiku.
Saguru berdiri disampingku dan merangkulkan tangannya dipingganku. "Kami pulang dulu Yukiko-san"
SKIP=SKIP=SKIP
"Hakuba-san, berhentilah melakukan ini. Kita sudah keluar dari rumah Kudo" kataku mencoba melepaskan rangkulannya.
"Iya"
Sesampainya dirumah, aku mengambil kunci rumah duplikat milikku dan membukakan pintu.
"Kau tak usah mampir, ini jas mu. Terimakasih telah menolongku"
"Hah, ini semua juga harus ada harganya. Bukan sekedar ungkaapan terimakasih kau tau? Kau juga harus membantuku nanti" katanya tersenyum licik..
"Terserah" kata ku langsung menutup pintu.
Tuhan semoga engkau tidak memberiku masalah lagi dengan orang ini. Orang yang namanya Saguru ini.
Oh iya, seingatku dia hendak memberitahuku sebuah pesan. Sudahlah lupakan saja, hari ini aku sudah banyak membuat masalah.
SKIP=SKIP=SKIP
Saguru POV
Kurasa segalanya benar. Semua analisisku tentangnya nyaris seratus persen dibenarkan oleh dirinya sendiri dengan sikapnya.
Mungkin ini akan menjadi sebuah permainan yang menarik.
Maafkan aku Shinichi, aku akan merampasnya darimu. Aku tak mau ia menderita lebih lama karena mu.
Karena aku jatuh cinta kepadanya...
Baiklah mungkin perjalanan pulangku kali ini akan penuh dengan rencana permainan ini.
SKIP=SKIP=SKIP
Shinichi POV
Ada apa dengan mereka. Kenapa tak pernah menceritakan apapun kepadaku?. Akukan teman mereka berdua.
Dan kenapa Shiho mau-maunya menjalin hubungan dengan Saguru yang super arogan itu?.
Mungkin saja karena mereka sama-sama arogan jadi bisa dapat lebih mengerti satu sama lain, tapi tetap saja Saguru itu tidak cocok dengan nenek sihir satu itu. Lagipula Shiho orang yang sangat sulit tertarik dengan orang, orang itu mungkin ingin mengambil Dr. Watson ku.
Arrrrrrgggggggh, kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Memang apa urusanku jika mereka berdua adalah sepasang kekasih?. Aku tetap yakin Shiho akan tetap menjadi partenerku walaupun sekarang aku semakin jarang bertemu dengannya.
Tapi, aku tetap berharap dia tidak meninggalkan ku sendirian. Aku tidak mau dia meninggalkan ku hanya karena dia, dia yang namanya Saguru.
