Sulay Fanfiction Indonesia
Flying White Unicorn
Mirror Of Souls
(The Killers Series)
Kim Junmyeon
Zhang Yixing
e)(o
BxB
Yaoi
Many Typo(s)
Rate M
Various hell gates are open, demon are pouring out of them, we need your help!
…..
Junmyeon Prov
Terkadang aku rindu obrolan manis kita, kau meletakkan kepalamu di tanganku aku menciumi pucuk kepalamu. Masa dimana kita asyik bercerita tentang ragi dan tepung. Selalu ada cara untuk membuatku mendengar ceritamu, kau menceritakan bagaimana kismis ditemukan dan menjadi penyelamatmu di roti tawarmu.
Tidak pernah sedikitpun aku mendengar ceritamu tentang kesedihanmu. Hanya cerita tentang apa yang membuatmu bahagia. Entah bagaimana hal itu membuatku juga bahagia. Kau selalu tahu aku senang dengan manik-manik dimatamu. Dengan senyum yang membuat lubang dalam di pipimu. Bagaimana kau tahu segalanya tentangku.
Hari itu kau bangun lebih cepat, meninggalkanku di atas kasur kita. Walau aku tahu kau hanya turun kebawah untuk memasakkan makanan untukku. Aku sudah merindukanmu. Kugantikan kerinduanku dengan membayangkan wajahmu, senyummu dan cerita-ceritamu.
Jika saja suara ponsel tidak menggangguku, mungkin aku sudah mampu membuat kerajaan kita di pikiranku. Sebuah pesan tanpa nama pengirim. Sedikit pengecut kurasa Yixing, namun aku tetap membuka pesan itu.
Matilah sebagai saksi dan hiduplah sebagai saksi.
Bukan sesuatu yang dapat kupahami awalnya, siapapun pengirim pesan itu tampaknya sedang ingin bercanda denganku. Tanpa banyak berpikir lebih baik untuk mengetahui pasti siapa pengirim pesan itu lebih baik menghubunginya langsung secara gentleman.
" Siapa ini?."
" Junmyeon… Kim Junmyeon… Masih bermain dengan maut?."
" Siapa kau?!."
" Haha tidak setegar suaramu yang lama. Apa itu artinya kau mulai melemah?."
" Apa pedulimu pengecut!."
" Tidak ada selain memeriksa keadaanmu, menanyakan kesehatanmu, tapi kurasa beberapa menit tanpa oksigen membuat otakmu tidak secerdas dahulu lagi Junmyeon."
" Apa maksudmu?!."
" Apa kau tidak pernah belajar dari pengalaman? Apa kau melupakan adik perempuanmu? Yang menunggumu di taman dengan ice cream ditangannya? Dengan baju putihnya sebelum baju itu menjadi merah karena darahnya?."
" Siapa kau?!."
" Ingatlah Junmyeon siapapun yang berdekatan denganmu sama artinya dengan selangkah lebih dekat dengan maut. Perhatikan kekasihmu, atau kau akan mengulang sejarahmu.."
" Kau….Halo..Halo…Sial!."
Yixing mimpi buruk ku telah kembali, aku tidak mau lagi kehilangan seseorang yang kusayang. Walaupun aku harus rela kau menjauh dariku. Asal kau tetap selamat, semua perasaan rindu dan sakit akan kutahan.
Author Prov.
Suara sunyi seperti biasa, panas matahari yang mulai masuk kedalam ruangan itu, semua tidak lantas membuat pemilik kamar itu menjadi hidup. Ia masih terbaring dengan setengah telanjang, tidak ada keinginan untuk bangun jika saja gorden kamarnya tidak dibuka lebar-lebar.
" Silau…"
" Bangun! Hyung bangun!."
" Jeonghan.. Sudah berapa kali kukatakan kau jangan masuk seenaknya ke dalam kamarku."
" Masa surammu telah selesai. Ayo bangun mandi, ada sesuatu yang aku ingin katakan."
" Katakan sekarang saja."
" Tidak, karena aku memerlukan kalian bertiga."
" Bertiga?."
" Triple Kim."
Mau tidak mau Junmyeon memperhatikan wajah Jeonghan. Jika biasanya Jeonghan termasuk orang yang tidak ingin banyak terlalu ikut campur masalah mereka baru kali ini Jeonghan kelihatan ingin berbicara serius dengan triple Kim.
" Baiklah tunggu aku dibawah." Ucap Junmyeon
.
Baik Jongin dan Jongdae kini memperhatikan laki-laki dengan rambut panjang blonde yang tampat tersenyum memandang mereka. Jongin memutar kedua matanya, berharap tujuan Jeonghan memaksanya untuk duduk di sofa ini karena sesuatu hal yang benar-benar penting. Junmyeon mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang langsung berhadapan dengan Jeonghan.
" Ada apa?." Tanya Junmyeon
" Euforia ini yang kuharapkan." Ucap Jeonghan senang
" Jeonghan… Apa tujuanmu mengumpulkan kami bertiga?." Tanya Jongdae sabar
" Baiklah-baiklah, aku sudah menemukan seorang yang bisa mengembalikan kekuatan kalian." Ucap Jeonghan
" Haha, kau pikir kami ini seperti Superman yang kehilangan kekuatan? Atau Spiderman yang kehabisan jarring laba-labanya?." Dengus Jongin
" Jeonghan, ketahuilah kami tidak kehilangan kekuatan kami. Mungkin… Kemampuan lebih tepatnya." Ucap Junmyeon
" Atau rasa percaya diri kalian. Percayalah padaku, kali ini aku yakin akan berhasil." Ucap Jeonghan memohon
" Kalau kau paksa kami untuk perbanyak latihan, aku menyerah. Aku lebih suka menunggu kematian dengan perbanyak tidur di kamar." Ucap Jongin bersiap pergi
"Tidak-tidak! Tolong dengar dulu. Aku mohon…"
" Jongin duduklah. Kita dengarkan dulu apa mau Jeonghan. " Ucap Junmyeon sambil menatap Jeonghan tajam.
Jongin kembali duduk disebelah Jongdae dengan malas, apapun yang dikatakan Jeonghan dia tahu tidak akan berhasil.
" Aku telah menjumpai seseorang yang kurasa kekuatannya sama dengan ayah angkat kalian." Ucap Jeonghan
" Apa?." Jongdae mulai tertarik dengan topic Jeonghan
" Ya… Aku yakin dia mampu mengembalikan apapun itu di diri kalian yang hilang." Lanjut Jeonghan
" Siapa dia? Aku tidak yakin manusia itu ada." Sangsi Jongin
" Mungkin dulu dia tidak ada tapi sekarang ada." Ucap Jeonghan mulai senang dengan topiknya
" Kalaupun ada mungkin dia musuh ayah tentunya dia juga membenci kita." Ucap Junmyeon
" Hyung kau salah! Dia berada tepat di kubu kita."
" Hentikan bermain petak umpet Jeonghan. Tunjukkan siapa dia?." Ucap Jongin mulai kesal
" Aku.."
Triple Kim menatap suara yang tampaknya tidak asing lagi ditelinga mereka, memandang seorang pria dengan tubuh yang sangat jauh berbeda dengan apa yang terakhir kali mereka jumpai. Junmyeon menatap Yixing dengan was-was, setelah berbulan-bulan Yixing tidak kembali. Junmyeon mulai merasa Yixing aman, tapi kini Yixing kembali.
Yixing memandang ketiga orang yang cukup di rindunya, matanya terus memandang Junmyeon satu-satunya pemilik resmi kata rindu di dalam dirinya. Walau sedikit kecewa dengan pandangan Junmyeon yang tidak menatapnya dengan tatapan rindu melainkan dengan tatapan takut.
" Ya Yixing!.." Ucap Jeonghan seakan mengumumkan pemenang lomba kecantikan
" Yixing?." Ucap Jongdae memastikan penglihatannya
" Apa yang kau lakukan dengan tubuhmu? Berotot? Tidak itu menjijikan. Apa itu ditanganmu? Jaket kulit? Astaga apa yang kau lakukan selama ini Yixing?." Jongin menatap Yixing memandangnya dengan penuh keperihatinan.
" Maaf, hanya baju ini yang kupunya. Badanku? Aku juga tidak tahu kenapa jadi begini. Jangan mengatakan kau jijik denganku Jongin! Itu jahat sekali!." Ucap Yixing
" Kau urus… Aku juga bingung." Ucap Jongin kepada Junmyeon sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
" Jongin! Jongin! Tunggu belum selesai." Ucap Jeonghan
" Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku kecuali sudah waktunya makan malam." Ucap Jongin pergi
" Jeonghan jelaskan." Ucap Junmyeon
Bukan ini yang diharapkan Yixing, semula Yixing mungkin berharap akan ada pelukan rindu dari Junmyeon, ataupun sekedar menanyakan kabarnya. Namun Junmyeon sama sekali tidak menunjukkan kerinduan kepadanya. Mungkin benar, jika kepergian Yixing memang salah satu yang diharapkan Junmyeon.
" Jadi begini, Yixing sekarang adalah pembunuh burung tidak maksudku pembunuh bayaran. Lihat saja tampangnya, badannya, ja-jaketnya.." Ucap Jeonghan setengah hati.
Dalam hatinya dia berjanji suatu hari nanti akan menyembunyikan jaket kulit Yixing yang sangat-sangat mengganggu matanya.
" Pembunuh bayaran? Yixing?." Tuntut Jongdae meminta penjelasan.
" Aku tidak bisa menjelaskan kecuali aku menunjukkan kalian siapa aku sesungguhnya sekarang. Aku hanya ingin kalian mempercayaiku."
" Percaya? Bahkan kami tidak mengenal kau yang sekarang." Ucap Junmyeon dingin
" Junmyeon.." Tegur Jongdae
" Hyung.. Kumohon dengarkan Yixing." Ucap Jeonghan
Yixing menelan bulat-bulat kekecewaannya, memang benar Junmyeon bukanlah yang dahulu mencintainya dan lembut kepadanya. Kini ia telah menjadi sosoknya yang dingin, sama seperti dahulu pertama kali mereka berjumpa. Namun kini dalam versi yang lebih tidak ramah.
" Aku hanya meminta kalian mempercayaiku. Aku bisa mengembalikan kemampuan kalian kembali." Ucap Yixing menguatkan dirinya. Dia harus ingat untuk apa dia selama enam bulan berlatih.
" Baiklah Yixing, kurasa tidak ada salahnya kami memberimu kesempatan." Ucap Jongdae
" Sudahkan? Aku mau naik dulu." Ucap Junmyeon
" Hyung!."
" Junmyeon.." Ucap Yixing
Junmyeon menghentikan langkahnya, mengumpulkan tenaga untuk menatap wajah yang di rindukannya tanpa berlari memeluknya.
" Ada apa?."
" Apa kau merindukanku?."
Pertanyaan Yixing membuat beku suasana, Jongdae dan Jeonghan berupaya pergi dari ruangan itu tanpa membuat keduanya rishi. Sedangkan junmyeon diam tanpa ada satupun guratan emosi yang terpancar darinya.
" Tidak. Pergilah jika sudah selesai, besok kau bisa datang kembali lagi pagi untuk membuktikan apa yang mau kau buktikan." Ucap Junmyeon kemudian melanjutkan langkahnya
" Junmyeon… Apa kau tahu? Darimu aku belajar banyak."
" Belajar tentang apa?." Ucap Junmyeon menghentikan langkahnya tanpa menatap Yixing.
" Belajar bahwa cinta butuh keberanian dan rindu tidak terus harus didiamkan. Aku merindukanmu, karena itu aku kembali dalam sosok seperti ini." Ucap Yixing
" Percayalah Yixing, aku sama sekali tidak mengharapkan ini." Ucap Junmyeon
" Aku tidak peduli Junmyeon, walaupun seribu kali kau patahkan hatiku aku tetap tidak peduli. Aku juga laki-laki sama sepertimu. Suatu kebiasaan adalah berjuang dan memperjuangkan sama sepertimu. Kali ini biarkan aku yang melakukan keduanya itu."
" Terserahmu saja. Cuma aku tidak suka berjuang dalam sia-sia." Ucap Junmyeon meninggalkan Yixing
Yixing menahan airmatanya, jika Junmyeon ingin membuat luka dihatinya maka dia telah sukses melakukan hal itu. Seluruh perasaannya kini telah remuk. Tapi Yixing tidak mungkin menyerah. Ia yakin jika dia bisa mengembalikan kemampuan triple Kim akan banyak waktu untuk Junmyeon kembali mncintainya.
" Sttt… Jangan menangis, malu dengan jaket kulitnya." Ucap Jeonghan menatap iba Yixing.
Cause you play me like a symphony play me till your fingers bleed
Im your greatest masterpiece you ruin me
Jalan terseok-seok Jongin mengikuti kedua orang didepannya menuju hutan. Tidak perlu dipertanyakan untuk apa. Sudah pasti latihan yang memakan banyak waktu dan hasilnya percuma. Junmyeon memang meminta latihan mereka diperbanyak semenjak ia tidak lagi menghabiskan waktu dikamar bersama Yixing. Sejak Yixing pergi, otomatis waktu Junmyeon banyak terbuang dilatihan yang tidak ada kemajuannya itu.
" Aku bosan… Bukan lelah lagi tapi bosan." Ucap Jongin putus asa
" Kau tidak layak berkata begitu. Ini persoalan hidup matimu. Semua musuh tampaknya sudah mulai menjadikan kita bertiga target buruan mereka. Apa kau lupa peristiwa-peristiwa kemarin? Bahkan membeli ramen pun kau di iringi letusan peluru." Ucap Jongdae
" Tapi aku bosan kita tidak ada kemajuan. Kenapa semua keahlian kita seakan menghilang. Ini kutukan!."
" Aku lebih suka menyebutnya ini tumbal kita terhadap maut." Ucap Junmyeon
" Kehilangan semuanya untuk hidup kembali? Bagus, sungguh bagus seakan hidup kita damai." Ucap Jongin
" Berhenti mengomel, ayo ikuti aku." Ucap Yixing yang baru saja tiba membawah panah di tangannya.
" WHAT THE…."
" Jongin ikuti saja." Ucap Junmyeon
Junmyeon mengikuti langkah Yixing, berharap dengan semakin cepat dia berurusan dengan Yixing. Semakin cepat Yixing pergi dari kehidupan kelamnya.
" Kau tau? Tinggal tambahkan rambut berkepang saja. Dia mengingatkan ku pada Katnis Everdeen."
" Tumbuhan apa itu?." Tanya Jongdae
" Hell man! Kau tidak tahu Hunger games? Dan kau tahu parahnya filem itu?." Tanya Jongin
" Apa?."
" Banyak mayat."
" Itu kesukaan kita dulu."
" Haha. Ayo kita lakukan kembali."
.
Ditanah lapang yang lumayan jauh kini Yixing menghentikan langkahnya. Menatap ketiga laki-laki yang masih tangguh walau mata mereka tidak menyorot seperti dahulu lagi.
" Katakan apa yang kalian ingin aku panah." Ucap Yixing
" Tentu manusia." Ucap Jongin asal
" Tidak jangan. Apa saja yang kau dengar?." Tanya Junmyeon hati-hati
" Ada rusa… kelinci… Kelinci hutan kecil… tupai yang kakinya sudah pincang… burung… tunggu sepertinya aku mendengar ada sesuatu yang besar… "
" Tiger…" Sambung Junmyeon
" Ya.."
" Aku ingin tupai agar kutahu apa dia benar pincang atau tidak." Ucap jongin
" Aku rusa.. Kalau kau pintar kau tahu begitu tahu ada yang terjatuh rusa akan lari menjauhimu. Kau akan kesulitan Yixing." Ucap Jongdae
" Tembak Tiger itu."
Yixing tidak menyangka akan mendapat tiga permintaan berbeda, semula dia mengira ketiga Kim akan meminta satu buruan yang sama. Yixing tahu, ketiga Kim tidak hanya menginginkan bukti, mereka menginginkan kegagalan Yixing untuk sebagai alasan Yixing tidak mencampuri urusan mereka lagi.
" Baiklah. Jongin ini untukmu."
Yixing melepaskan panahnya yang pertama.
" Jongdae tangkap buruanmu."
Yixing melepaskan panahnya yang kedua.
Tidak ada suara, ketiga Kim hanya diam memandang Yixing, begitu juga Yixing. Dia kehilangan sosok tiger yang diminta Junmyeon. Yixing memejamkan mata, memusatkan pikiran dan penengarannya mencoba lebih jelas lagi. Di dalam pikirannya Yixing bisa melihat buruannya seperti berlari kencang menuju kearahnya.
Ketiga Kim melihat Yixing dengan was-was, melihat bahwa jarak antara Yixing dan tiger tidaklah jauh. Jongin ingin berteriak memperingati Yixing yang langsung ditahan oleh Junmyeon. Dia hafal gerakan ini, dia tahu lentur tangan ini.
Yixing melepaskan panahnya yang ketiga, tepat beberapa meter lagi tiger itu menerkamnya.
Buruan ketiga Yixing ambruk dengan panah tertancam di antara kedua matanya.
" Jun-Junmyeon… Dia…" Jongin menunjuk Yixing dengan perasaan bercampur aduk
" Ya… Dia renkernasi Jae Jin bahkan sebelum Jae Jin mati.." Sambung Junmyeon
Yixing membuka matanya menatap puas hasil buruannya, masih ada dua buruan yang harus diambil di dalam hutan. Yixing harus bisa membuktikan dia bisa. Yixing menatap ketiga Kim. Tidak ada tepuk tangan ataupun ucapan kagum. Yang Yixing terima hanya tatapan panik dan was-was dari ketiga Kim.
Don't play with my mind
Bruk
Jongin melemparkan hasil-hasil buruan Yixing di atas meja di belakang rumah mereka. Yixing memang meminta mereka membawa serta semua hasil bawaan. Jongin yang semula malas mengangkat, memaksa untuk meninggalkan semua buruan itu dengan alasan mereka tidak mungkin mengadakan jamuan barbeque untuk Yixing. Namun karena Yixing terus mendesak dan Junmyeon menyetujui. Mau tidak mau Jongin membawa semua buruan kecuali tupai yang dimintanya malah dibawa santai oleh Jongdae.
" Dari mana kau belajar memanah?." Tanya Junmyeon
" Kau mengajariku." Jawab Yixing
" Jangan membohongiku."
" Kenapa? Sedangkan kau boleh membohongiku."
" Aku tidak berbohong padamu tentang apapun."
" Junmyeon, aku tahu kau merindukanku. Kenapa kau tidak mengakuinya?."
" Berhentilah mengucapkan sesuatu omong kosong Yixing."
" Kau kira aku akan menyerah secepat itu Junmyeon?, meski kau telah membuat hubungan kita berakhir, tapi sampai detik ini mencintaimu aku belum menemukan kata sudah."
Yixing meninggalkan Junmyeon, membiarkan Junmyeon diam dengan jawaban Yixing. Sungguh Yixing sama sekali tidak peduli dengan elakan-elakan Junmyeon. Ia tahu Junmyeon bukan seorang yang dengan mudah membolak balik hatinya sendiri. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk saling membiasakan.
Yixing membuka tas di samping meja tempat Jongin meletakkan rusa dan tiger nya. Mengeluarkan setumpuk pisau. Jongin dan Jongdae menatap Yixing dengan heran. Sedangkan Junmyeon memilih untuk tidak memperdulikan apapun.
" Kita akan mulai dari binatang." Ucap Yixing
" Er Permisi Yixing… Jika kau menganggap bahwa tangkapanmu membuat kami ingin berguru denganmu sepertinya itu salah. Kami… Yak au lihat kan kami bertiga? Tidak mungkin berguru denganmu.." Ucap Jongin
" Karena?."
" Karena kau pernah dibawah Junmyeon kurasa." Ucap Jongdae
Yixing menghela napasnya, dia tidak bisa marah karena jawaban rekan-rekannya itu lucu menurut pikiran Yixing.
" Baiklah tuan-tuan dominan yang terhormat. Kurasa antara latihan dan posisi kita tidak ada sangkut pautnya. Kuminta kalian lebih professional."
" Kami bisa belajar sendiri." Ucap Junmyeon
" Sampai kapan? Tolonglah beri aku kesempatan untuk membantu kalian."
" Tidak perlu." Jawab Junmyeon
" Bagaimana jika tawarannya adalah aku mengembalikan kemampuan kalian dan aku akan pergi menjauh dari kalian selamanya." Ucap Yixing dengan hati terluka
Jongdae menatap Junmyeon dan Yixing, dia tahu hal itu tidak mungkin sesuai untuk kedua pasangan ini. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Semua orang tahu itu, Junmyeon tanpa Yixing pun sama kacau nya dengan Yixing yang tiba-tiba datang membawa banyak senjata dan tangan berotot.
" Aku setuju. Tepati janjimu." Ucap Junmyeon pergi meninggalkan Yixing.
" Junmyeon." Jongin dan Jongdae menegurnya
" Baiklah." Ucap Yixing lemah.
" Jongin.. Jongdae persiapkan diri kalian kita akan latihan dengan lebih keras."
.
.
Jika saja Jongin tidak mengatakan bahwa Yixing pulang, mungkin Kyungsoo tidak percaya dengan laki-laki di depannya. Sosok lemah lembut dan senang tertawa itu kini berubah menjadi sosok yang dekat dengan senjata. Kyungsoo duduk disebelah Yixing yang sibuk memeriksa senjata apinya. Ia mengatakan bahwa siang ini mereka akan berlatih menembak, Kyungsoo yang mulai paham dengan kegiatan itu ikut serta datang untuk berlatih bersama.
" Yixing! Aku merindukanmu, kemana saja kau selama ini? Tidak membalas pesan dariku."
" Kyung aku juga merindukanmu. Dimana Minseok? Aku belum menjumpainya hingga sekarang."
" Minseok sedang menjadi mata-mata Kris dan Sehun. Kalau dia kembali kerumah ini, tandanya Sehun dan Kris juga sudah mendekati rumah ini."
" Kita akan siap sebelum waktu itu tiba Kyung."
" Yixing… Aku iri dengan badanmu, bagaimana bisa kau membentuk badan seperti ini?."
" Aku yang iri denganmu, lihat badanmu Kyung imut. Tentu Jongin sangat beruntung memilikimu. "
" Yixing…"
" Aku tidak apa-apa Kyung.."
" Aku hanya sedih melihat hubunganmu dengan Junmyeon. Aku yakin bahwa Junmyeon sangat mencintaimu Yixing."
" Kyung, di dunia ini kita tidak mungkin selamanya diperjuangkan. Ada masa dimana kita bertukar peran, mungkin kini saatnya aku memperjuangkan perasaanku kepada Junmyeon."
" Apa kau akan tetap mencintainya?."
" Anggap saja aku bodoh, sudah tahu pasti diabaikan namun aku akan tetap selalu berusaha."
" Itu bukan kebodohan Yixing."
" Lucu ya cara kerja cinta. Aku masih bisa tersenyum dan bersikap seakan semua baik-baik saja, padahal di hatiku ada lubang yang penuh airmata."
" Yixing…" Kyungsoo memeluk Yixing erat
Kyungsoo salah, Yixing tidak pernah berubah. Yixing bukanlah seseorang yang datang dengan penuh ketegaran dan sifat kerasnya. Dia masih Yixing yang dahulu, dengan perasaannya yang lembut. Hanya saja Yixing yang sekarang mampu menyembunyikan segala perasaan yang dia rasakan. Perasaan sedih dan kecewanya. Untuk berpura-pura bersikap tegar.
.
.
" Kyungsoo! Pusatkan konsentrasimu!."
Kyungsoo menghela napas menatap Yixing tidak percaya. Bagaimana Yixing berharap dia dapat menembak sesuai target jika dia bukanlah seseorang yang professional. Menjual senjata ok, tapi menembakkannya. Tahu arah target saja sudah syukur.
" Jongin! Apa yang kau tunggu?."
" Shit! Bagaimana dia bisa jadi begitu galak?." Ucap Jongin
" Sejak Junmyeon setuju dengan rencananya." Ucap Jongdae
" Yixing!."
Semua senjata api kecuali di tangan Yixing mengarah kepada satu arah, laki-laki dengan rambut abu-abunya menatap mautnya di depan.
" Turunkan. Dia bersamaku." Ucap Yixing
" Siapa dia? Kenapa dia masuk area kita?." Tanya Jongdae was-was
" Jongin! Turunkan. Dia Taeyong. Dia rekanku."
" Maafkan aku mengganggu kalian. Aku hanya ingin mengingatkan Yixing bahwa dia tidak pergi sendirian."
" Taeyong sini." Yixing menarik Taeyong untuk menjauh dari triple Kim dan Kyungsoo. Junmyeon menatap dengan dingin.
" Kenapa kau kemari? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk diam."
" Aku tidak mau. Aku kan sudah katakan aku akan mengikutimu. Jadi kemana kau pergi aku akan ikut."
" Apa maumu?."
" Mungkin membantu mu mengajari playgroup ini."
" Tidak, mereka tidak akan percaya denganmu. Aku tidak mau kau menjadi latihan sasaran tembak mereka."
" Hmm Aku tidak yakin mereka mampu menembakku." Ucap Taeyong menatap Kyungsoo
" Apa kami harus menunggumu bernostalgia dengan dia?." Tanya Junmyeon tajam
" Tunggu!." Ucap Yixing
" Baiklah kau diam disini, jangan melakukan apapun ingat."
" Siap bos!."
" Ayo kita mulai. Dia tidak akan mengganggu latihan kita."
.
.
Latihan yang terus berlangsung hingga matahari mendekati senja, Yixing yang tampak tidak pernah lelah berteriak. Jongin yang seakan ingin mengarahkan tembakan ke telinganya agar dia tidak mendengar teriakan- teriakan Yixing. Jongdae yang mulai menembak dengan keinginan hatinya.
Taeyong yang menatap Yixing dengan bangga. Seakan tahu Yixing memang bisa dan pantas untuk mengajari ketiga orang yang sempat ada di pembicaraan para pembunuh bayaran dan Junmyeon yang pikirannya seakan terbagi dua. Berkonsentrasi agar tembakkannya tidak meleset dan setengah pikirannya lagi sibuk mengawasi laki-laki yang mengaku bersama Yixing, menatap Yixing dengan binary di matanya.
" Ok Junmyeon tembak sasaran ini."
" Menyingkirlah kalau begitu." Ucap Junmyeon dingin
" Tidak, kau harus berhasil melewatkan peluru itu dari tubuhku."
" Yixing!." Teriak Kyungsoo
" Yixing apa-apaan kau ini?. Jangan!." Ucap Taeyong
" Taeyong! Diam ditempatmu. Tembak Junmyeon. " Ucap Yixing
" Kau! Jangan kau mengenai tubuhnya! Sedikit saja jangan!." Teriak Taeyong
" Diamlah kau bocah." Ucap Junmyeon
Junmyeon memusatkan konsentrasinya, ini seperti tidak mungkin. Yixing menutup sasaran tembaknya dengan tubuhnya. Bagaimana dia bisa membelokkan peluru dari tubuh Yixing agar tetap terkena sasaran tembak.
Yixing berdiri dengan percaya diri, dia tahu Junmyeon mampu melakukannya. Junmyeon menarik senjatanya. Seharusnya ini tidaklah sulit seperti dahulu. Dia hanya perlu konsentrasi, dia tidak mungkin menyakiti Yixing. Tidak mungkin.
Door
Kyungsoo menutup matanya, Jongin dan Jongdae menatap tidak percaya Junmyeon mampu mengambil resiko itu. Taeyong segera berlari menuju arah Yixing. Tubuhnya tidak terjatuh. Yixing membuka matanya menatap Junmyeon dengan mata khawatirnya. Kemudian menggeserkan tubuhnya memperlihatkan sasaran yang sempurna terkena tembakan Junmyeon.
Kau bisa membohongiku Junmyeon dengan sikap dinginmu, tapi tidak dengan matamu. Aku tahu kau masih mencintaiku.
TBC
*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*
Hai readers! Senang banget baca review-review kalian..
Sumpah kalian itu moodboaster banget buat aku
Yuk kita sama-sama susun cerita ini
Kalau ada masukkan atau mau kasih pendapat silahkan-silahkan
Cuma ending tetap ya sesuai kerangka author hihihi ^^
