Yah langsungan aja deh! XD
BLEACH © Kubo Tite
You Are My Second Love © yuinayuki Hinariyoshi-chan
Sangat OOC, gaje, dll! Don't like don't read!
(masih sama, judulnya tetep gaje kayaknya juga gak nyambung XD)
Chapter : 4
Perasaan Apa ini?
Ichigo dan Rukia masuk ke dalam toko kecil itu. Bunyi bel kecil menyambut mereka masuk dan seorang penjaga kasir yang tersenyum ramah pada mereka. Mereka membalas senyuman itu lalu langsung berkeliling melihat ke toko kecil itu. Toko kecil bernuansa klasik yang ternyata bukan toko pernak-pernik melainkan sebuah café. Ichigo langsung saja duduk di salah satu bangku lalu melihat isi daftar menu yang ada di meja.
Seorang pelayan café mendekati mereka, "Permisi, mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Dua coklat panas saja," jawab Ichigo lalu menutup daftar menu dan meletakannya lagi di meja. "Hei, kenapa berdiri terus?" tanya Ichigo yang heran melihat Rukia berdiri sambil melihat ke luar jendela. Tak ada respon apa pun dari Rukia, akhirnya Ichigo membiarkan Rukia yang masih melihat ke luar jendela. Ichigo mengambil ponselnya dan terlihat asyik bermain-main. Ichigo membuka kotak masuk dan terlihat di layar ada sebuah pesan yang belum dia baca. Ichigo segera membuka pesan itu dan membacanya,
From: -
Ichigo-kun, aku.. ingin bicara sesuatu denganmu. Apa kau marah padaku? Aku merasa kau semakin jauh dariku, kau menjauhiku, ya? Aku mohon.. hari Senin aku akan menemuimu..
Ichigo menutup langsung ponselnya dan mendekati Rukia yang masih berdiri di dekat jendela. Ichigo berdiri di samping Rukia dan ikut melihat ke luar jendela. "Sepertinya sebentar lagi hujan salju." kata Ichigo.
"Hn."
"Coklat panasnya sudah datang, ayo ke sana!" kata Ichigo dan ingin menarik tangan Rukia tapi segera ditepis oleh Rukia.
"Tanganku sakit, jangan pegang." Rukia lalu berjalan mendahului Ichigo dan segera meminum coklat panasnya.
"Kau mau kuantar ke klinik?" tawar Ichigo sambil meminum coklat panasnya. Rukia menggeleng pelan, "Tanganmu sakit, kan?"
"Sudahlah, besok juga sembuh!" kata Rukia lalu meneguk habis coklat panasnya, Ichigo diam lalu menghabiskan juga coklat panasnya.
Setelah menghabiskan coklat panas dan membayar Ichigo dan Rukia keluar dan berjalan ke halte bus.
Udara dingin yang menusuk membuat telapak tangan Rukia merah dan dingin. Salahnya memang tidak membawa sarung tangan untuk melapisi tangannya dari udara dingin. Hujan salju menambah udara dingin yang menusuk membuat Rukia semakin memasukkan tangannya ke saku jaket tapi itu sama sekali tidak membuatnya hangat. Ichigo melirik Rukia yang sedang meniup-niupkan udara yang keluar dari mulutnya.
"Hei, tanganmu kedinginan, ya?" tanya Ichigo.
"Hn."
Rukia melihat ke arah lain sambil terus meniup-niupkan tangannya. Ichigo melepas jaket hitamnya lalu segera dipakaikan ke Rukia dan memasukan tangan Rukia yang kedinginan ke dalam kantong jaketnya yang besar. Rukia hanya diam, heran sekaligus terkejut.
"Hei, apa-apa ini?" tanya Rukia sambil menunjuk jaket hitam milik Ichigo.
"Hm? Bukannya tadi kau bilang kedinginan?" Ichigo balik bertanya dan berjalan mendahului Rukia. Rukia mendengus kesal. "Sudahlah, terima saja kenapa, sih!?" kata Ichigo, sedikit kesal lalu duduk di bangku besi panjang di halte. Rukia mengikuti dan duduk agak jauh dari Ichigo.
Tangannya sekarang memang hangat dan terlindung dari udara dingin tapi ada sedikit rasa tidak enak pada Ichigo. Akhirnya Rukia melepas jaket hitam tebal milik Ichigo lalu mendekati Ichigo yang melihat ke arah lain, "Kukembalikan jaketmu." Rukia meletakan jaket hitam itu di sebelah Ichigo lalu membalikan tubuhnya dan kembali ke tempatnya duduk tapi sebelum itu yang bisa Rukia lakukan Ichigo sudah memegang pergelangan tangannya kuat. Rukia meringis sakit. Tatapan Ichigo tajam.
Rukia berusaha melepas cengkraman Ichigo, Rukia mendorong tubuhnya ke belakang dan menarik tangannya.
Bruk!
Tangan Rukia memang bisa lepas dari cengkraman Ichigo tapi tangan kanannya dengan keras mengenai bangku panjang halte dan membuatnya kehilangan keseimbangan, Rukia jatuh terduduk. Tapi dengan segera Ichigo memegang tangan kanan Rukia dan membantu Rukia agar tidak terlalu sakit saat jatuh spontan menutup mata, saat dia membuka matanya kembali. Mata coklat itu terasa dekat dengannya. Mata yang menatapnya sendu dan perasaan bersalah ada dalam mata coklat itu. Mereka terdiam dalam posisi , tak bersuara, hanya membalas dengan tatapan mata.
Ichigo berjongkok dan melihat Rukia yang masih terduduk diam. Tak mengeluarkan reaksi apa pun. Ichigo melingkis lengan jaket Rukia sampai lengan memperlihatkan kulit putih bersih yang biru dan bengkak. Ichigo menyentuh perlahan luka memar di lengan Rukia. Rukia menggigit bibir bawahnya dan berusaha tidak merintih sakit.
Ichigo membuka bibirnya, "Ini luka yang kau dapat dari laki-laki besar itu, kan?"
"Iya, lepaskan tanganku." Kata Rukia. Ichigo menghela nafasnya.
"Kenapa, sih kau? Kalau dibiarkan bisa bahaya! Kenapa ti-" Rukia dengan cepat memotong kalimat Ichigo.
"Jangan kasiani aku!" teriak Rukia lalu berdiri.
"Aku tidak mengasianimu," kata Ichigo ikut berdiri. "Kau sendiri yang buat agar orang lain kasian padamu."
"Mengerti apa kamu!?" bentak Rukia keras. "Jangan sok tahu! Memangnya kau siapa bisa berkata seperti itu!?" teriak Rukia melampiaskan semuanya. Ichigo diam dan membiarkan Rukia membentak dirinya, bahkan berkata kasar padanya. Hening. Nafas Rukia memburu, lututnya lemas. Rukia kembali terduduk di bawah. Ichigo kemudian berlutut dan menatap lurus wajah Rukia. Rukia segera memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku," kata Ichigo. Tidak ada respon dari Rukia. "Kau mau sampai kapan di sini? Bus sudah dekat, lenganmu juga harus diobati."
Deru mesin bus terdengar, Ichigo melihat bus itu berjalan mendekati halte dan berhenti tepat di depan mereka dan membukakan pintunya. Ichigo memberi tanda pada sopir bus agar menunggu sebentar. "Rukia sampai mau kapan kau di sini? Kau tidak mau pulang? Sudah sore!" kata Ichigo, kesal. Sedikit kehilangan kesabaran, tapi Ichigo berusaha sabar untuk membujuk Rukia. "Baiklah." Ichigo memegang pergelangan tangan Rukia dan meletakan tangannya di bahunya. Ichigo lalu berdiri sambil memegang bahu kanan Rukia. Ichigo mendekati pintu bus, berjalan dengan pelan, hati-hati dan tertatih.
Ichigo berjalan masuk ke dalam bus, mencari tempat duduk dan membiarkan Rukia duduk. Ichigo menggerak-gerakan bahunya. Ichigo melihat ke Rukia yang masih diam dan melihat ke luar jendela. Ichigo duduk di sebelah Rukia dan diam.
Tak terasa sudah sampai di depan stasiun Soue. Ichigo segera membeli karcis dan memberikan satu pada Rukia. Mereka naik ke kereta dan duduk berhadapan. Masih dalam diam dan mengalihkan pandangan masing-masing. Rukia melihat ponselnya. Jam di ponselnya menunjukan 19.55. Rukia mengalihkan pandangannya lagi. Memperhatikan rumah-rumah yang berjejer rapi dan cahaya kecil bertabur seperti bintang. Rukia menutup matanya, mengistirahatkan sejenak semuanya. Tubuhnya, matanya dan semua penat yang menyarang di otaknya. Ichigo menyunggingkan senyum kecil melihat wajah polos Rukia saat tidur. Ichigo mengambil ponsel dan tidak berapa lama di layar ponselnya sudah ada wajah Rukia. Ichigo menyimpan foto itu lalu melihat ke luar jendela lagi.
"Sudah hampir sampai," gumam Ichigo lalu melihat ke Rukia. Menyentuh bahunya dan mengguncangnya pelan. Rukia tidak membuka matanya, Ichigo mengguncang lagi bahu Rukia. Tapi Rukia tak juga membuka matanya, Ichigo menghela nafasnya. Ichigo mengangkat kedua tangan Rukia dan meletakannya di bahunya. Ichigo menyelipkan kedua tangannya di antara lutut Rukia dan mengangkat tubuh Rukia perlahan. Kereta sudah benar-benar berhenti di stasiun Karakura, suara masinis yang meminta penumpang turun dengan hati-hati terdengar berulang-ulang. Ichigo menunggu dengan sabar sampai penumpang lainnya turun kemudian dia bisa turun tanpa membangunkan Rukia yang tertidur pulas.
"Ngh.." Rukia membuka matanya pelan. Kepalanya sedikit pusing. Sekelilingnya gelap. Rukia melihat walaupun samar, ada sebuah bantal dan selimut yang sedang menutupi sebagian tubuhnya. Rukia menyingkirkan selimut itu sehingga Rukia bisa tubuhnya. Bukan jaket ungu yang dia pakai tadi melainkan kaos longgar berwarna putih dan sebuah celana coklat selutut. Rukia melihat sekelilingnya ada sebuah lemari, meja belajar lalu Rukia melihat ada seseorang yang menelungkupkan kepalanya di meja belajar, Ichigo.
"AAAAAA!!" teriak Rukia keras.
BRUK!
Rukia menundukan kepalanya, wajahnya panas. Semburat merah samar terlihat di pipinya. Ichigo ada di depannya lalu seorang laki-laki dan dua anak perempuan. "Ah, nee-san minumlah dulu lemonnya, masih hangat." kata salah satu anak perempuan, berusaha mencairkan suasana.
"Ichi-nii kau melakukan sesuatu pada nee-san ya?" selidik anak perempuan yang berambut biru tua.
"Iya, Ichigo ayah akan memaafkanmu!" kata laki-laki itu merangkul bahu Ichigo sambil menangis.
"Diamlah tua bangka!" teriak Ichigo lalu memukul dagu laki-laki itu sampai dia terlempar dan tersungkur di lantai. Ichigo menghela nafasnya. "Kenapa kau tiba-tiba berteriak lalu memukulku?" tanya Ichigo. Rukia terus menunduk dan memegang erat ujung celananya. Ichigo akhirnya mengerti apa yang Rukia permasalahkan. "Kau salah paham, bukan aku yang mengganti bajumu. Yuzu dan Karin yang menggantinya. Aku membawamu ke rumahku karena kau tidak bangun saat aku membangunkanmu di kereta. Aku juga tidak tahu rumahmu."
Rukia tetap diam dan menundukan kepalanya. Ichigo menghela nafasnya, "I-iya, nee-san. Itu salah paham. Aku dan Karin-chan yang mengganti baju nee-san, bukan onii-chan."
"Sudahlah, Yuzu. Ayo kau kuantar pulang. Yuzu tolong ambilkan jaket," kata Ichigo. "Jaket dan bajumu kotor, nanti akan kukembalikan, sementara pakai itu saja. Pakailah jaket ini. Tunjukan aku di mana rumahmu." Ichigo menyodorkan sebuah jaket besar. Rukia mengambil ragu jaket itu. Ichigo berjalan mendekati pintu dan mengambil payung. Rukia segera mengikuti Ichigo. Sebelum benar-benar keluar dari rumah Ichigo, Rukia membungkukan tubuhnya.
"Terima kasih!"
Yuzu tersenyum. "Sama-sama nee-san. Hati-hati!"
Kembali dalam diam, tak ada yang membuka suara sampai di depan rumah Rukia pun mereka tak bicara hanya mengalihkan pandangan satu sama lain. Saat punggung Ichigo mulai menghilang perlahan, Rukia segera berteriak. "Hei! Maaf merepotkan, terima kasih!" Ichigo menoleh.
"Ya."
Rukia segera berlari masuk ke dalam rumah. Ichigo hanya tersenyum lalu berjalan pulang. Rukia menyenderkan tubuhnya ke pintu, jaket yang dipinjamkan Ichigo segera dibuka, Rukia melihat lengannya. Ada lilitan perban di lengannya. Rukia menyentuh perban itu lalu beridiri. "Ah, sudahlah!"
Ichigo berjalan santai di koridor kelas. Sepi. Ada seorang gadis yang berjalan berlawanan arah dengannya dan berhenti tepat di depannya. Ichigo melihat gadis itu datar. "Mau apa?" tanyannya.
"I-Ichigo-kun aku.." gadis itu menggenggam tangannya erat. "Kenapa kau menjauhiku!? Kau marah padaku? Aku minta maaf Ichigo-kun! Maafkan aku!" gadis itu membungkuk di depan Ichigo.
"Sudahlah, tidak penting!" Ichigo membalikan tubuhnya. Gadis itu segera memegang erat seragam Ichigo.
"Kenapa kau menjauhiku, Ichigo-kun? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melukaimu!" gadis itu mulai terisak.
"Lepas. Ketua kelas bisa mengamuk melihatku membuatmu menangis." kata Ichigo lalu berjalan lagi. "Aku tidak akan mengingat semua itu!"
"Maafkan aku, Ichigo-kun!" kata gadis itu pelan dan parau.
Rukia membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas lalu segera keluar dari kelas yang sudah sepi. Rukia berjalan pelan dan keluar dari sekolah. Di halaman sekolah ternyata masih banyak murid yang masih berkumpul.
"Ooi!"
"Hah!?" Rukia membalikan tubuhnya, suara itu suara yang Rukia rasa kenal, tidak asing dan sangat dikenalnya. Tapi saat membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang berteriak, tidak ada orang yang berteriak. Hanya ada murid-murid yang berlalu-lalang. Rukia membalikan tubuhnya lagi dan di depannya sudah ada Ichigo yang memegang pergelangan tangannya. "Apa?"
Ichigo hanya diam dan menarik tangan Rukia keluar dari sekolah dan berjalan berlawanan arah dari jalan rumah Rukia. Ichigo berhenti di sebuah tempat, sungai yang berkilau tertimpa sinar matahari sore. Ichigo duduk di rumput lalu menarik tangan Rukia agar duduk juga. Rukia mendengus kesal tapi tetap duduk juga. "Kenapa ke sini?" tanya rukia.
"Tidak apa-apa."
Hening. Rukia membalikan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. Tanpa disadari Rukia Ichigo juga membalikan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya ke punggung Rukia. "Hah!?" Rukia tersentak kaget lalu menoleh.
"Aku pinjam sebentar punggungmu, sebentar saja." suara Ichigo tak terdengar lagi dan Rukia merasa kepalanya berat. Ternyata Ichigo menyenderkan juga kepalanya ke kepala Rukia.
"Hah.." Rukia mengehela nafas lalu menekuk lututnya lalu memeluknya dan menelungkupkan kepalanya.
"Hei, Rukia." panggil Ichigo pelan.
"Hm?"
"Sepertinya aku.. mulai menyukai seseorang.."
To Be Continued..
Gyahahaha!! –ketawa setan-
Aku gak tau, fic ini gimana jadinya makin gaje aja T.T ya sudahlah.. mari bales review~ :D
aya-kuchiki chan: Ehehe.. iya, nah?! XD Uwa~ makasih aya-chan! :D
Ruki_ya: Hehe.. ^^ waha! Kayaknya lebih ke mainan ya? XD Iya, ini udah diupdate! ^^
Sagara Ryuuki: Hahaha.. XD iya ini udah diupdate! ^^
ichirukiluna gituloh: Ee.. benarkah? XD –halah- Ee.. tapi maaf udah ditetapin yang jadi flnya Kaien-san :) iya ini udah diupdate!
Neni Louph Hitsu: Hehe.. :) semoga ini lebih panjang ya? XD Hehe.. ini udah diupdate! ^^
shiNomori naOmi: Ee.. enggak apa-apa naomi-san!! ^^ Ehe.. iya ini udah diupdate! :D
ai_l0ver: Hehe.. Ichigo itu enggak punya mantan, lho~ :D hehe.. (kayaknya) chapter-chapter selanjutnya bakal dijelasin XD –dijambak- hehe.. iya ^^
Soraguene Akira: Hhe.. enggak apa-apa kok Akira-chan ^^ hehe..
Violet Murasaki: Hha.. tuh Rukia jangan ngambekan, deh! –digampar, Rukia: sapa yang bikin aku jadi ngambekan!?- Ichigo juga! XD –dijambak- iya ini udah diupdate! ^^
Jess Kuchiki: (Jess-san aku bales reviewnya jadiin satu yah? XD) Ee.. enggak apa-apa ^^ hha.. iya, selamat hari persahabatan –niup kerang- O.o haha.. iya Kaien-san jadinya, ^^ wkwkw.. iya ini udah diupdate! ^^
Selesai sudah, makin gaje, ooc, kan? Hehehe.. makasih yang udah baca review, semuanya juga~ ^^ -peluk-peluk- XD
Review? :D
